EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam pada awal September 2026. Setelah militer Amerika melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran di sepanjang kawasan strategis Selat Hormuz, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang bahkan menyinggung kemungkinan perlawanan rakyat Iran terhadap pemerintah mereka sendiri.
Pada 1 September 2026, Trump melalui Truth Social membantah laporan ABC News yang menyebut Washington berusaha menggunakan tekanan militer untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu memedulikan apakah Iran pada akhirnya bersedia menandatangani kesepakatan atau tidak. Menurutnya, posisi Amerika Serikat saat ini justru jauh lebih menguntungkan karena Washington mengklaim telah memperoleh kendali yang sangat besar atas jalur pelayaran di Selat Hormuz, sementara perekonomian Iran terus berada di bawah tekanan berat.
Namun, bagian yang paling menarik perhatian muncul pada akhir pernyataannya.
Trump secara terbuka mempertanyakan kapan rakyat Iran akan “bangkit dan melawan”.
Pernyataan tersebut segera memunculkan spekulasi bahwa isu perubahan politik atau bahkan pergantian pemerintahan di Teheran kembali masuk dalam wacana konflik Amerika Serikat-Iran. Meski demikian, pernyataan Trump sendiri belum berarti Washington secara resmi menetapkan perubahan rezim sebagai tujuan militernya.
Pernyataan itu muncul setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran pada Selasa, 1 September 2026.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengatakan operasi tersebut menargetkan sejumlah fasilitas yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Sasaran serangan mencakup sistem pertahanan udara, instalasi radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau laut, serta infrastruktur komunikasi.
Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan pesisir selatan Iran, termasuk Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Konarak dan Chabahar. Laporan lain juga menyebut Sirik, Jask dan Asaluyeh sebagai lokasi yang terdampak.
Wilayah tersebut memiliki arti strategis sangat besar karena membentang di sekitar Selat Hormuz hingga pesisir Teluk Oman.
Bagi Iran, kawasan ini merupakan salah satu garis pertahanan terpenting untuk mengawasi pergerakan kapal perang dan kapal komersial. Radar pantai, rudal antikapal, fasilitas komunikasi dan kemampuan penempatan ranjau menjadi bagian penting dari strategi Teheran untuk mempertahankan pengaruhnya di jalur laut tersebut.
Karena itulah, Washington tampaknya berusaha secara berkala menghancurkan kembali kemampuan militer Iran setiap kali fasilitas tersebut diperbaiki atau dibangun ulang.
Strategi semacam ini pada dasarnya bertujuan membuat Iran terus mengeluarkan sumber daya untuk memulihkan sistem yang sebelumnya telah dihancurkan.
Bagi Teheran, persoalannya bukan hanya kehilangan fasilitas militer. Di tengah sanksi ekonomi dan pembatasan akses terhadap teknologi, mengganti radar, perangkat elektronik, sistem komunikasi dan komponen militer berteknologi tinggi dapat menjadi proses yang mahal sekaligus sulit.
Tekanan terhadap Iran juga tidak hanya berlangsung dari udara dan laut.
Pada 30 Agustus 2026, pimpinan Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat Amerika Serikat menginformasikan kepada keluarga personel bahwa penempatan sejumlah unsur divisi tersebut di kawasan Timur Tengah diperpanjang hingga total 12 bulan karena kebutuhan operasional.
Sekitar 2.000 personel dari divisi tersebut sebelumnya dikerahkan ke kawasan CENTCOM sejak Maret. Perpanjangan itu membuat sejumlah unsur pasukan Amerika akan tetap berada di kawasan hingga 2027.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Washington tampaknya masih mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan.
Pada saat bersamaan, pemerintahan Trump meningkatkan tekanan dari sektor ekonomi.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, ketika menghadiri pertemuan tingkat menteri keuangan G20 di Asheville, North Carolina, pada 1 September 2026, mengeluarkan peringatan keras terhadap jaringan keuangan yang berkaitan dengan IRGC.
Bessent mengatakan Washington telah melacak rekening yang disimpan melalui perusahaan trust di British Virgin Islands serta properti mewah bernilai hingga sekitar 100 juta dolar AS yang dikaitkan dengan pihak-pihak dalam jaringan tersebut.
Ia bahkan secara terbuka memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan berusaha membekukan aset-aset tersebut.
Strategi Washington kini semakin jelas: tekanan militer diarahkan untuk mengurangi kemampuan tempur Iran, sementara tekanan finansial ditujukan untuk membatasi kemampuan Teheran membiayai dan membangun kembali kekuatan itu.
Muncul Klaim Rencana Operasi Iran di Asia
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, muncul pula laporan yang jauh lebih sensitif mengenai kemungkinan perluasan operasi Iran ke kawasan Asia.
Sejumlah laporan yang dikaitkan dengan media oposisi Iran menyebut Unit 400 Pasukan Quds IRGC diduga mempertimbangkan operasi dengan memanfaatkan jaringan personel non-Iran di sejumlah negara Asia, termasuk Thailand dan Indonesia.
Dalam klaim tersebut, beberapa jalur pelayaran strategis bahkan disebut sebagai kemungkinan sasaran, termasuk Selat Malaka, serta sejumlah pelabuhan besar di Asia.
Namun, informasi ini harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Hingga awal September 2026, klaim mengenai rencana operasi tersebut belum memperoleh konfirmasi independen yang memadai dari sumber resmi maupun sejumlah media internasional utama.
Karena itu, laporan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta bahwa Iran benar-benar telah memutuskan atau sedang menjalankan operasi terhadap Selat Malaka maupun pelabuhan-pelabuhan Asia.
Meski belum terverifikasi, munculnya isu tersebut tetap menjadi perhatian karena Selat Malaka merupakan salah satu jalur perdagangan dan energi terpenting dunia.
Gangguan terhadap Selat Hormuz saja telah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Apabila ketidakstabilan sampai meluas menuju jalur pelayaran Asia, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Dengan demikian, perkembangan pada 1 September 2026 memperlihatkan bahwa konflik Amerika Serikat-Iran memasuki fase yang kembali berbahaya.
Washington meningkatkan tekanan melalui serangan militer, pengerahan pasukan dan pembatasan finansial. Sementara Iran masih mempertahankan kemampuan untuk membalas kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Pernyataan Trump yang secara terbuka mempertanyakan kapan rakyat Iran akan bangkit semakin menambah dimensi politik dalam konflik tersebut.
Kini pertanyaan terbesarnya bukan lagi sekadar siapa yang menguasai Selat Hormuz, melainkan seberapa jauh kedua negara bersedia meningkatkan tekanan—dan apakah konflik yang telah berlangsung selama lebih dari enam bulan ini pada akhirnya akan tetap terkonsentrasi di Timur Tengah, atau justru berkembang menjadi krisis keamanan yang jauh lebih luas. (***)


