Bencana tanah longsor terjadi di perbatasan Tiongkok–Nepal. Tim penyelamat Nepal dan internasional telah melakukan operasi penyelamatan selama berhari-hari dan mengevakuasi lebih dari 10.000 orang. Sementara itu, pihak Partai Komunis Tiongkok (PKT) disebut hanya melakukan propaganda dan pencitraan.
EtIndonesia.com Baru-baru ini beredar video yang memperlihatkan tim penyelamat Nepal mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan seorang pekerja Tiongkok. Namun, setelah pekerja tersebut berhasil diselamatkan, Duta Besar PKT untuk Nepal datang ke rumah sakit dan dalam pernyataannya disebut-sebut berusaha mengambil kredit atas keberhasilan penyelamatan tersebut.
Setelah tanah longsor terjadi pada 26 Agustus, petugas penyelamat Nepal dan masyarakat internasional bekerja siang dan malam. Pihak berwenang terus memperbarui jumlah korban tewas dan hilang. Dalam proses tersebut, lebih dari 10.000 orang berhasil diselamatkan.
Berbagai video yang beredar di internet menunjukkan bahwa tim penyelamat bekerja tanpa mengenal lelah, menggali lumpur dan bangunan yang tertimbun, bahkan meledakkan bagian gunung untuk membuka jalan menuju terowongan yang tertutup. Mereka terus mencari tanda-tanda kehidupan meskipun menghadapi risiko besar.
Bahkan hingga hari ke-10 setelah bencana, pihak berwenang Nepal tidak menghentikan upaya penyelamatan. Sejumlah korban yang terjebak masih berhasil diselamatkan, termasuk pekerja Tiongkok bernama Lu Haitao, yang terperangkap di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air.
9月6日,韓國救援隊公布了前一天和尼泊爾軍方一起,爬入225米深的隧道,發現中國工人陸海濤的現場視頻。 pic.twitter.com/2s8FcUcwa5
— 世事觀心 (@shishiguanx) September 8, 2026
Pada 5 September, tim penyelamat gabungan yang terdiri dari militer Nepal dan Korean Disaster Relief Team (KDRT) menemukan Lu Haitao di dalam terowongan sepanjang sekitar 225 meter. Ia ditemukan berlindung di atas tiang-tiang baja.
Menurut laporan, pintu masuk terowongan telah tertutup lumpur. Para penyelamat hanya dapat merangkak masuk melalui celah sempit dan berjalan meraba-raba di dalam lumpur serta air yang mencapai setinggi dada untuk mencari pekerja yang masih hidup. Pada akhirnya, mereka menemukan Lu Haitao.
Pada 6 September, KDRT merilis video operasi penyelamatan dari dalam terowongan dan memperlihatkan seluruh prosesnya kepada publik.
Sementara itu, video yang dirilis media resmi PKT justru memperlihatkan Duta Besar PKT untuk Nepal datang ke rumah sakit setelah kejadian untuk menjenguk Lu Haitao.
Dalam pernyataannya di lokasi, sang duta besar disebut berulang kali memberikan kesan bahwa “pihak Tiongkok telah melakukan upaya tanpa henti untuk menyelamatkan Lu Haitao”.
Warganet menyindir bahwa pernyataan tersebut hanya ditujukan kepada masyarakat Tiongkok dengan tujuan “memetik buah orang lain” atau mengambil kredit atas keberhasilan yang sebenarnya dilakukan oleh tim penyelamat Nepal dan Korea Selatan.
Selain itu, pihak Nepal juga merilis video operasi penyelamatan lainnya yang memperlihatkan betapa sulit dan berbahayanya proses tersebut.
Menurut laporan, petugas penyelamat membutuhkan waktu enam hari untuk menyelamatkan dua pekerja yang terjebak di dalam terowongan. Selama operasi, mereka melakukan peledakan di lereng gunung, mengebor lubang pada dinding lumpur, dan terus menggali.
Lubang-lubang yang telah berhasil dibuat beberapa kali kembali tertutup oleh lumpur yang terbawa hujan deras. Bahkan, pada satu tahap, para petugas penyelamat sendiri sempat terjebak. (***)


