EtIndonesia.com Pertempuran di Timur Tengah semakin mendekati ibu kota Arab Saudi. Pada Jumat (18 September) dini hari waktu setempat, terdengar suara ledakan di Riyadh. Sebelumnya, pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan serangan udara kepada warga, memperingatkan bahwa wilayah tersebut sedang menghadapi “ancaman udara dari pihak musuh”.
Ini merupakan pertama kalinya sejak konflik di Yaman meningkat pada Juli, ibu kota Arab Saudi terkena dampak langsung. Belakangan ini, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi.
Saat ini, sumber pasti ancaman udara tersebut, lokasi ledakan, serta apakah terdapat korban jiwa atau luka-luka masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Bentrokan Arab Saudi dan Houthi Meningkat
Sementara itu, pertempuran di Yaman juga meningkat dengan cepat.
Kelompok Houthi pada Jumat (18 September) mengatakan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 26 serangan terhadap wilayah yang mereka kuasai dalam 24 jam terakhir. Dalam satu minggu terakhir, jumlah serangan telah mencapai 300 kali, dengan sasaran tersebar di berbagai wilayah Yaman yang dikuasai Houthi.
Arab Saudi selama ini membantu pasukan pemerintah Yaman merebut kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya kehilangan kendali. Bagi Arab Saudi, Selat Bab el-Mandeb memiliki arti strategis yang sangat penting karena sejumlah besar minyak diekspor melalui Laut Merah dan jalur pelayaran strategis tersebut.
Pekan lalu, setelah kelompok Houthi merebut kota pelabuhan strategis Mocha di Laut Merah, kehidupan warga setempat nyaris terhenti.
Seorang warga mengatakan kepada AFP bahwa dirinya sudah tidak pergi bekerja selama satu minggu dan hanya berani pergi ke toko kelontong jika benar-benar diperlukan. Setelah pukul 8 malam, jalan-jalan hampir sepenuhnya gelap.
Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan bahwa seiring meningkatnya pertempuran, hampir 3.000 orang telah meninggalkan rumah mereka dalam waktu kurang dari satu minggu. Lebih dari separuh di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, sementara ribuan lainnya masih menunggu untuk dievakuasi dari zona konflik. (***)


