Pertemuan Trump–Xi yang menjadi perhatian dunia berakhir pada 24 September. Secara umum, meskipun suasananya meriah dan penyambutan berlangsung sangat mewah, hasil substantifnya dinilai terbatas. Kedua pihak untuk sementara menghindari konflik, tetapi belum menyelesaikan perbedaan utama terkait perdagangan, Taiwan, teknologi, dan geopolitik.
Selama tiga hari kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat, suara-suara protes terus bergema. Setidaknya 39 kelompok menggelar aksi demonstrasi dengan berbagai cara, termasuk konvoi kendaraan, membawa peti mati, dan proyeksi gambar berukuran besar. Para tokoh dan kalangan elite Amerika Serikat berkumpul di Washington untuk memprotes pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan menuntut agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong.
EtIndonesia.com Pada 23 September, Presiden AS Donald Trump secara langsung dan tidak biasa datang ke Pangkalan Gabungan Andrews untuk menyambut kedatangan Xi Jinping.
Menurut pemberitaan media, Beijing secara aktif meminta agar kunjungan tersebut diberikan status seperti “kunjungan kenegaraan”. Setelah beberapa minggu perundingan, Washington menyetujuinya.
Namun, kemegahan diplomatik pada akhirnya tetap hanya bersifat seremonial. Komentator urusan terkini yang berbasis di AS, Tang Jingyuan, mengatakan bahwa sambutan tingkat tinggi yang diberikan kepada Xi Jinping dalam kunjungan kali ini hanyalah “bayangan bunga di cermin dan pantulan bulan di air”, yang menggambarkan sesuatu yang indah tetapi tidak nyata.
“Xi Jinping sebenarnya hanya membawa beberapa pejabat pemerintah untuk berkunjung ke Amerika Serikat. Hal itu sudah menentukan bahwa pertemuan Trump–Xi kali ini tidak mungkin menghasilkan pertukaran bisnis atau kesepakatan besar yang sangat penting dan menarik perhatian,” ujarnya.
“Xi Jinping ingin menggunakan cara ini untuk menunjukkan kepada internal partai bahwa dirinya tidak tergantikan dan merupakan orang yang dapat menstabilkan hubungan AS–Tiongkok. Itulah tujuan politik utamanya,” katanya.
Pertemuan Trump–Xi yang menjadi sorotan dunia hanya berlangsung sekitar 90 menit. Setelah pertemuan tersebut juga tidak digelar konferensi pers bersama.
Dalam jamuan makan malam kenegaraan pada malam 24 September, Presiden Trump menyebut dalam pidatonya bahwa Tiongkok memiliki ribuan tahun warisan budaya, tetapi tidak menyebut pemerintahan PKT yang berkuasa saat ini. Hal tersebut menarik perhatian dan memicu berbagai spekulasi.
Presiden AS Donald Trump: “Di satu sisi, Tiongkok menyerap ribuan tahun sejarah dan tradisi, dari Sun Tzu hingga Sun Yat-sen. Bagi rakyat Amerika, kami mewarisi warisan iman, dari Yerusalem hingga Roma, demokrasi Athena kuno, kemenangan Sparta, serta kebebasan yang diproklamasikan di Philadelphia 250 tahun lalu.”
Hadiah Trump kepada Xi Jinping adalah sebuah patung elang botak, burung nasional Amerika Serikat. Trump mengatakan bahwa ia berharap karya yang melambangkan semangat kebebasan Amerika tersebut dapat memperoleh tempat di Beijing.
Pada 25 September, rombongan Xi Jinping meninggalkan Amerika Serikat dari Pangkalan Gabungan Andrews.
Setelah itu, Trump mengisyaratkan bahwa pertemuan Trump–Xi telah menghasilkan kesepakatan tambahan terkait ekspor produk pertanian AS.
Trump: “Para petani akan sangat senang. Hal-hal baik akan terjadi. Rakyat Amerika akan puas dengan hasil kunjungan ini, dan rakyat Tiongkok juga akan puas.”
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer juga mengatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa AS dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan perdagangan yang lebih menguntungkan terkait produk pertanian Amerika dan peralatan medis serta barang-barang non-sensitif lainnya. Bahkan jika salah satu pihak kembali menaikkan tarif di kemudian hari, barang-barang tersebut tidak akan dikenai tarif tambahan.
Pemerintahan Trump berencana mengumumkan lebih banyak rincian mengenai perundingan perdagangan pada 28 September dan menjelaskan hasil yang dicapai dalam pertemuan tersebut.
Duta Besar AS untuk Tiongkok, David Perdue, juga mengungkapkan bahwa dalam pertemuannya dengan Xi Jinping, Presiden Trump dengan tegas menyatakan bahwa bantuan Beijing kepada Iran tidak dapat diterima.
Selama tiga hari kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat, berbagai aksi protes terus membayanginya. Sedikitnya 39 kelompok turun ke jalan-jalan Washington untuk menggelar demonstrasi, menggunakan berbagai cara seperti konvoi kendaraan, membawa peti mati, dan proyeksi gambar berukuran besar untuk menyampaikan tuntutan mereka. Skala aksi protes tersebut disebut memecahkan rekor sejarah.
Pada 24 September, ratusan praktisi Falun Gong bersama para pejabat dan tokoh elite Amerika Serikat menggelar aksi di Memorial Angkatan Laut, yang terletak di antara Gedung Putih dan Capitol. Mereka menuntut Xi Jinping segera menghentikan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok serta segera menghentikan penindasan lintas negara terhadap kelompok Falun Gong di Amerika Serikat.
Pada sore harinya, sejumlah praktisi Falun Gong menggelar aksi damai sambil membentangkan spanduk di seberang gedung markas Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA). Ketika praktisi bernama Xin Qin membantu mengambil foto para peserta yang membentangkan spanduk, ia dihalangi dan diserang oleh sejumlah orang pro-PKT, termasuk Li Huahong. Mereka disebut melakukan kekerasan dan bahkan menggigitnya.
Praktisi Falun Gong Xin Qin: “Saya berada di depan sebuah gedung untuk memotret orang-orang yang membentangkan spanduk. Mereka terus mendesak saya mundur selangkah demi selangkah. Kemudian dia tiba-tiba meraih saya dan menerjang ke arah saya. Pada saat yang sama, beberapa orang datang dan menindih kami berdua, memukul dan menggigit saya.”
Tangan dan kaki Xin Qin mengalami luka. Seorang polisi menjadi saksi kejadian tersebut di lokasi. Li Huahong ditangkap di tempat kejadian.
Menjelang dan setelah kedatangan Xi Jinping, sejumlah simpatisan pro-PKT juga disebut menyerang dan memukul peserta aksi lainnya di berbagai lokasi serta merebut spanduk mereka. Polisi turun tangan dalam sejumlah insiden tersebut.
Pada hari kedatangan Xi Jinping di Washington, ia juga menerima surat panggilan dari pengadilan federal AS. Seorang aktivis demokrasi Tiongkok menggugat Xi Jinping secara perdata dengan tuduhan penindasan lintas negara, dan pengadilan secara resmi menerima perkara tersebut.
Selama jamuan makan malam kenegaraan berlangsung, Gedung Putih dikelilingi oleh massa demonstran. Mereka meneriakkan slogan seperti “Xi Jinping turun!” dan “Xi Jinping, Anda tidak diterima di sini!” Teriakan tersebut terdengar sangat keras hingga dapat didengar oleh para tamu yang menghadiri jamuan makan malam.
Situasi memalukan serupa juga terjadi ketika Xi Jinping dan istrinya mengunjungi Arsip Nasional AS. Massa demonstran meneriakkan slogan seperti “Gulingkan Xi Jinping!” sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap PKT.
Laporan gabungan Liang Dong dan Chen Li, NTD News Weekly.


