Talkshow FESyar Jawa 2026 ungkap gap literasi dan inklusi, sekaligus kisah sukses dari bank, BMT, hingga pelaku usaha haji-umrah
Surabaya – Indonesia punya penduduk muslim terbesar di dunia. Namun, antusiasme terhadap keuangan syariah belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemahaman dan penggunaan. Data terbaru menunjukkan indeks literasi keuangan syariah baru mencapai 43,07%, sementara indeks inklusinya hanya 13,24%. Angka ini jauh di bawah keuangan konvensional yang literasinya 69,57% dan inklusinya 93,61%.
Fakta itu mengemuka dalam talkshow “Penguatan Literasi Keuangan Syariah” pada hari ketiga Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Convex, Surabaya. Acara ini menjadi ruang diskusi bagi regulator, pelaku industri, lembaga keuangan mikro, dan pelaku usaha untuk mencari solusi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Nur Nugroho, dalam sambutannya menyoroti potensi besar ekonomi syariah global. Aset keuangan syariah dunia tercatat US$5,99 triliun dan diproyeksikan menembus US$9,7 triliun pada 2029. “Indonesia berada di peringkat empat Global Islamic Economic Indicators. Kita punya modal besar, tapi masih ada gap literasi dan inklusi yang harus kita tutup bersama,” ujarnya.
Bank Indonesia, lanjutnya, menekankan tiga strategi: penguatan ekosistem produk halal, penguatan keuangan syariah, serta penguatan literasi, inklusi, dan halal lifestyle. “Literasi harus bermuara pada perubahan perilaku. Masyarakat memilih produk secara sadar, memahami risikonya, dan menjadikannya bagian dari perencanaan keuangan keluarga,” tegasnya.
OJK: Digitalisasi Itu Dua Sisi Mata Pedang
Dari sisi regulator, Deputi Direktur Pengawasan LJK 4 OJK Provinsi Jawa Timur, Maulana Yusuf, menjelaskan bahwa gap antara literasi dan inklusi terjadi karena masyarakat sudah paham, tetapi belum sepenuhnya percaya dan menggunakan layanan keuangan syariah. “Ibaratnya, orang tahu salat itu wajib, tapi belum melaksanakan salat,” analoginya.
OJK, kata Maulana, terus mendorong literasi dan perlindungan konsumen. Salah satunya melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang kemudahan akses keuangan bagi UMKM. “OJK juga punya roadmap pengembangan perbankan syariah, termasuk digitalisasi. Tapi digitalisasi tanpa literasi justru menambah risiko. Kejahatan keuangan bisa terjadi hanya dengan satu klik,” peringatnya.
BSI: Channel Banyak, Layanan Digital, dan Pembiayaan Super Mikro
Regional CEO BSI Regional Office 8 Surabaya, Jajang Abdul Karim, memaparkan strategi BSI memperluas akses. BSI memiliki 1.052 outlet di Indonesia, sekitar 40 di antaranya di Surabaya, plus ribuan BSI Agen. “Kami ingin masyarakat melihat bank syariah ada di mana-mana,” ujarnya.
BSI juga punya aplikasi Beyond by BSI dengan sekitar 6 juta pengguna. Layanan ini mencakup transaksi finansial, sosial (zakat, wakaf, kurban), hingga spiritual (jadwal salat, arah kiblat, juz ama). Untuk pembiayaan super mikro di bawah Rp10 juta, masyarakat bisa datang ke cabang, mengakses website salamdigital.bankbsi.co.id, atau melalui BSI Agen.
Menanggapi pertanyaan soal kenaikan suku bunga acuan, Jajang menjelaskan bahwa bank syariah tidak memakai instrumen bunga, melainkan bagi hasil. “Dampaknya tidak langsung. Nasabah lama yang sudah akad tidak berubah. Yang terkena hanya nasabah baru dengan akad baru,” jelasnya.
BMT NU: Jemput Bola, Akad Sesuai Kearifan Lokal
Kisah inspiratif datang dari Direktur Utama BMT Nuansa Umat Jawa Timur, Masudi Kanzilah. Berdiri 1 Juli 2004 dari modal kecil dan dua pengelola, kini BMT NU memiliki aset Rp1,56 triliun, 120 kantor cabang di 12 kabupaten, 246.000 anggota, dan 1.004 pengelola.
“Kami hadir karena praktik rentenir merajalela. Masyarakat tahu riba itu haram, tapi tidak punya solusi. Di situlah BMT hadir,” kenangnya. Strategi BMT NU sederhana namun menyentuh: layanan jemput antar. Petugas mendatangi anggota ke pasar, sawah, hingga pinggir pantai. Tabungan minimal Rp500 pun diterima.
BMT NU juga menerapkan akad sesuai kearifan lokal, tanpa biaya administrasi, dan tanpa denda keterlambatan. “Kami jaga kemurnian akad syariah. Kalau ada kerugian bukan karena kelalaian anggota, kami yang tanggung. Ini yang membangun kepercayaan,” tegas Masudi.
Pelaku Usaha: Keuangan Syariah Bagian dari Dakwah
CEO Persada Indonesia, Syarif Hidayatullah, berbagi pengalaman dari bisnis haji dan umrah. Ia mengakui 60–70% transaksi nasabahnya masih di bank konvensional. “Ini PR kita. Market kami sudah muslim, tapi transaksinya belum syariah. BSI bisa masuk lewat kolaborasi dengan travel dan komunitas,” ujarnya.
Syarif menekankan bahwa keuangan syariah bukan sekadar produk. “Ini bagian dari dakwah. Jangan jadikan umat hanya sebagai komoditas. Bisnis ini harus menjadi media mengembalikan masyarakat pada hukum agama,” pungkasnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Pertanyaan soal strategi regulator memperkuat BMT dijawab OJK dengan pentingnya digitalisasi dan kerja sama. Soal akses internet di daerah terpencil, BSI menegaskan BSI Agen memiliki fitur setara Beyond by BSI. BMT NU juga menegaskan komitmennya menjangkau hingga ke rumah.
Di akhir acara, para narasumber menyampaikan pesan penutup. Maulana mengajak meningkatkan sinergi dan kolaborasi. Jajang berkomitmen memenuhi kebutuhan nasabah syariah. Masudi berharap desa semakin berdaya. Syarif mengingatkan bahwa hidup sesuai hukum agama akan membawa kebaikan.
Talkshow ditutup dengan apresiasi dari M. Nur Nugroho kepada para narasumber, serta pengumuman pemenang post test literasi keuangan syariah: Rovika Febriani dan Febri Tri Romadona. Acara pun ditutup dengan pesan optimisme: literasi bukan sekadar tahu, tapi juga percaya, menggunakan, dan mengajak orang lain.


