Trump Tolak Tawaran Iran Buka Selat Hormuz, Ancaman Serangan Lanjutan Masih Membayangi

EtIndonesia.com The Wall Street Journal, mengutip pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan namanya, melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump pada Jumat (25 September) telah menolak proposal Iran yang sebelumnya diajukan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu minggu, dan menyatakan bahwa AS mungkin akan kembali membombardir Iran setelah pemilihan paruh waktu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada wartawan pada Jumat bahwa Iran telah mengajukan sebuah proposal kepada AS yang memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu tujuh hari.

Araghchi mengatakan kepada wartawan di markas besar PBB di New York bahwa tujuan tersebut dapat dicapai jika “syarat-syarat yang diperlukan” dipenuhi. Ia mengatakan bahwa persyaratan tersebut tercantum dalam nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani pada Juni.

“Sekarang pilihan ada di tangan Amerika Serikat,” katanya. Ia menambahkan bahwa proposal tersebut telah disampaikan kepada AS melalui Qatar.

Pada Jumat malam, The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang melaporkan bahwa Trump telah menolak proposal gencatan senjata tersebut dan mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan AS akan kembali membombardir Iran setelah pemilihan paruh waktu pada November.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC bahwa AS berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dalam mengendalikan Selat Hormuz, sehingga “kami tidak terburu-buru.” Sementara itu, Trump secara pribadi meragukan apakah Iran dapat memenuhi tuntutan yang diajukannya.

Menurut laporan The Wall Street Journal, proposal Iran adalah agar AS mencabut blokade maritim, mencairkan sebagian aset Iran yang dibekukan, dan melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan kembali perundingan nuklir.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa AS telah memberi tahu Iran dan para mediator bahwa Trump tidak berniat mencabut blokade maritim.

Besarnya serangan udara yang mungkin kembali dilancarkan AS saat ini belum diketahui. Para pejabat mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa sikap Trump masih dapat berubah seiring berlanjutnya perundingan.

MOU yang ditandatangani AS dan Iran pada 18 Juni bertujuan untuk mewujudkan gencatan senjata dan setidaknya membuka kembali sebagian jalur Selat Hormuz.

Perjanjian yang terdiri dari 14 pasal tersebut menetapkan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Perjanjian itu menyatakan bahwa AS, Iran, dan sekutu-sekutunya akan menghentikan tindakan militer di “semua front”, serta mencakup ketentuan mengenai penghentian blokade maritim AS dan pencabutan sanksi.

Perjanjian tersebut juga menyatakan bahwa Iran akan “melakukan upaya maksimal untuk mengatur agar kapal-kapal komersial dapat melintasi selat dengan aman” dan akan berunding dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di masa depan.

Namun, tidak lama kemudian, Iran menyerang kapal-kapal yang menurut klaimnya mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Kedua pihak kembali terlibat konflik dan perjanjian tersebut pun segera runtuh.

AS kemudian menyerang target-target Iran di dalam selat serta kapal tanker minyak di lepas pantai Iran, dan terus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, yang memberikan dampak besar terhadap perekonomian Iran.

Hingga 25 September, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pihaknya terus memberlakukan secara ketat perintah blokade terhadap Iran di Selat Hormuz dan telah mengalihkan rute 122 kapal komersial.

Diterjemahkan oleh reporter Jin Hong / Editor Li Quan

INSPIRASI ERABARU

Harmoni Langit dan Bumi: Bagaimana Lima Unsur Menghubungkan Alam, Musim, dan Kesehatan

Di Tiongkok kuno, filosofi “langit, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan” telah menjadi pedoman untuk menjaga kesehatan selama ribuan tahun. “Empat musim dan yin-yang...

Perlambat Makan, Nikmati Hidangan Anda Sebaik-baiknya

Shoba RajamaniAnda sibuk, terlalu banyak bekerja, dan mengalami stres. Terkadang Anda bahkan hampir tidak menyadari apa yang sedang Anda makan—atau siapa yang duduk di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine