Para pedagang yang berbasis di Yiwu, Tiongkok, mengurangi jumlah karyawan dan ruang gudang setelah pencabutan kebijakan de minimis mengubah perdagangan paket murah menjadi aktivitas yang merugikan
EtIndonesia. Tumpukan kaus kaki, sarung tangan, mainan, dan kotak penyimpanan yang tak terjual kini memenuhi lantai-lantai gudang di Yiwu—kota di Tiongkok yang dulunya mengirimkan pernak-pernik murah ke seluruh penjuru dunia.
Pesanan e-commerce lintas negara dari pusat komoditas kecil terbesar di dunia itu merosot sekitar 70 persen sejak konflik tarif AS–Tiongkok meningkat, menurut seorang eksekutif perusahaan ekspedisi lokal. Guncangan ini begitu besar hingga membuat banyak pedagang dan perusahaan logistik di Yiwu berada di ambang kehancuran.
Pada April lalu, Washington menaikkan tarif rata-rata untuk impor dari Tiongkok menjadi 145 persen, dan Beijing membalas dengan tarif sebesar 125 persen terhadap barang-barang dari AS.
Pukulan baru datang satu detik lewat tengah malam pada 2 Mei, ketika Washington mengakhiri pengecualian de minimis yang sebelumnya mengizinkan paket senilai $800 atau kurang masuk ke Amerika Serikat tanpa bea masuk. Pejabat AS menyatakan celah ini telah memungkinkan Tiongkok membanjiri pasar Amerika dengan barang murah, bahkan menyelundupkan obat-obatan terlarang.
Dengan paket-paket itu kini dikenakan pajak—dan ketegangan tarif antara Washington dan Beijing belum mereda—para eksportir di Yiwu menyatakan bahwa model bisnis mereka tak lagi berfungsi.
“Rasanya seperti langit runtuh,” kata Tuan Lin, seorang penjual lintas negara, kepada The Epoch Times. Lin memasok pasar AS melalui Temu, cabang luar negeri dari raksasa ritel Tiongkok Pinduoduo, namun kini tak lagi bisa menutupi biaya.
“Mereka memaksa kita menurunkan harga, atau mendenda jika barang lambat terjual. Pada akhirnya, kita kehilangan barang dan uang,” ujarnya.
Lin telah memangkas jumlah staf, akan mengosongkan gudangnya seluas ribuan meter persegi pada bulan Juni, dan pindah ke tempat yang jauh lebih kecil.
“Penjualan kami turun 50 hingga 60 persen. Saya tidak bisa tidur. Tidak ada jalan keluar, jadi kami terus berjalan dan berharap,” katanya.
Tuan Xu, pedagang lain yang berbasis di Yiwu asal Provinsi Henan, bahkan lebih lugas.
“Perdagangan luar negeri sekarang pekerjaan yang paling berat. Pasar AS sudah mati; tidak ada satu pun pesanan untuk paket kecil. Setiap hari penuh kebingungan, kecemasan, dan rasa sakit,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa ia bekerja lebih dari 12 jam sehari tanpa akhir pekan, tetapi tidak melihat jalan untuk kembali tumbuh.
Yiwu memiliki lebih dari 20.000 perusahaan ekspedisi yang dulunya mengalirkan produk pabrik lokal melalui Pelabuhan Ningbo ke Amerika Serikat, menurut Tuan Wang, pemilik perusahaan logistik internasional di Yiwu.
Sekitar separuh dari mereka telah menutup usahanya sejak pertarungan tarif dimulai, katanya kepada The Epoch Times.
“Kontainer mingguan kami turun dari 80 kontainer stabil menjadi kurang dari 40,” ujarnya. Kini, perusahaan ekspedisi meminta pembayaran tunai tambahan dari pelanggan di tengah perjalanan sebagai antisipasi jika tarif naik sebelum kapal mencapai pelabuhan AS, lanjut Wang.
“Jika tarif melonjak saat barang tiba di AS dan klien tidak mau membayar, kami bangkrut, tidak tahu harus membuang barang ke mana,” katanya.
Tekanan paling terasa bagi penjual yang bergantung pada program Fulfillment by Amazon, di mana biaya penyimpanan, ongkos kirim, dan kini tarif yang menghukum dapat menghapus margin keuntungan yang tipis, kata Wang.
Ia menyebutkan bahwa Washington kini memberlakukan bea sekitar 145 persen untuk pakaian dan hingga 245 persen untuk barang seperti jarum suntik. Untuk menyiasatinya, perusahaan ekspedisi hanya memasukkan sedikit barang dengan tarif tinggi—sekitar 16 meter kubik—ke dalam setiap kontainer dan sisanya diisi dengan barang bertarif rendah, dengan harapan mengurangi total tagihan pajak.
Taktik ini hanya memberi waktu, namun mengandung risiko besar: Satu kesalahan deklarasi dapat memicu denda “puluhan ribu dolar,” ujarnya memperingatkan.
Pabrik-pabrik di Yiwu menghentikan jalur produksi, memotong upah, atau bahkan menutup sepenuhnya karena inventaris yang tidak terjual menumpuk, menurut Lin. Ia memperkirakan tingkat kegagalan di kalangan penjual lintas negara mencapai “sekitar 99 persen,” dengan hanya segelintir yang masih menghasilkan untung.
Bahkan perusahaan logistik pun bisa tidak bertahan, tambah Wang. Jika kebuntuan tarif ini terus berlangsung selama tiga bulan lagi, ia memperkirakan sektor ekspedisi Yiwu akan menyusut menjadi sekitar 5.000 perusahaan.
Bagi sebuah kota yang kemakmurannya dibangun dari janji perdagangan global yang lancar, tembok tarif terasa seperti jalan buntu.
“Kami kelelahan,” kata Lin. “Tapi tak ada tempat lain untuk pergi.”
Laporan ini juga disusun oleh Fang Xiao dan Xiong Bin.
Sumber : Theepochtimes.com


