EtIndonesia. Sebuah serangan udara besar-besaran yang diduga dilakukan oleh Israel menghantam Penjara Evin di ibu kota Iran, Teheran, pada 23 Juni, menyebabkan setidaknya 71 orang tewas. Data tersebut disampaikan oleh juru bicara lembaga peradilan Iran, Asghar Jahangir, dalam konferensi pers pada 29 Juni. Serangan ini menambah daftar panjang eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang semakin mengkhawatirkan.
Rincian Korban dan Kerusakan
Menurut laporan resmi dan dikonfirmasi oleh Reuters, Penjara Evin mengalami kerusakan fisik yang sangat parah akibat serangan tersebut. Korban jiwa terdiri dari berbagai kelompok, antara lain pegawai administrasi penjara, tentara muda yang tengah bertugas, para tahanan, keluarga tahanan yang sedang membesuk, hingga warga sipil yang tinggal di sekitar penjara. Hingga kini, tim penyelamat masih melakukan evakuasi dan pencarian di puing-puing gedung yang runtuh.
Selain menimbulkan korban jiwa, serangan tersebut juga menyebabkan sejumlah bangunan kantor di kompleks penjara hancur total. Para tahanan yang berhasil selamat telah dipindahkan secara darurat ke beberapa lembaga pemasyarakatan lain di wilayah Teheran.
Penjara Evin: Simbol Represi dan Pelanggaran HAM
Penjara Evin selama ini dikenal sebagai pusat penahanan para tahanan politik di Iran dan menjadi sorotan tajam organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional. Lembaga ini kerap disebut sebagai tempat terjadinya penyiksaan, perlakuan kejam, bahkan eksekusi terhadap narapidana politik. Sejumlah warga negara asing, termasuk dua warga negara Prancis yang ditahan sejak 2022, juga tercatat masih mendekam di Evin saat serangan terjadi.
Sinyal Perang dan Ancaman Sebelum Serangan
Menurut laporan Fox News pada 29 Juni, menjelang serangan udara tersebut, kepala Penjara Evin, Hedayatollah Farzadi —yang namanya telah tercantum dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa karena dugaan pelanggaran HAM berat—dilaporkan telah melarikan diri. Sumber Fox News yang mengutip intelijen Israel mengungkapkan bahwa putra Farzadi, Amir, sebelumnya menerima pesan peringatan melalui aplikasi WhatsApp dari agen intelijen Israel.
Isi pesan tersebut sangat eksplisit: “Suruh ayahmu buka penjara, kalau tidak dalam beberapa menit lagi akan ada serangan.”
Pesan itu juga mengingatkan Amir bahwa jika dia mematuhi, “tidak akan terjadi apa-apa.” Namun, dalam waktu singkat setelah pesan itu diterima, paman Amir mendatangi penjara dan membawa Farzadi pergi dari lokasi. Tidak lama berselang, serangan besar-besaran terjadi, menghancurkan gerbang utama dan bagian besar fasilitas penjara.
Meski terdapat rumor bahwa sebagian tahanan berhasil melarikan diri akibat kerusakan penjara, hingga kini belum ada bukti atau data resmi yang mengonfirmasi jumlah tahanan yang kabur.
Profil Kepala Penjara Farzadi: Simbol Brutalitas Sistem
Farzadi merupakan sosok kontroversial di Iran. Ia dikenal sebagai pejabat brutal yang sering didakwa melakukan berbagai kejahatan terhadap tahanan politik, mulai dari penyiksaan, pelecehan seksual terhadap narapidana perempuan, hingga aksi pemukulan massal dan pembunuhan narapidana. Dia juga tercatat pernah memimpin aksi penculikan terbuka di Penjara Dizel Abad sebagai bentuk teror dan intimidasi kepada para pelaku pelanggaran ringan.
Karena berbagai pelanggaran berat tersebut, Farzadi masuk dalam daftar Specially Designated Nationals and Blocked Persons (SDN) yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS. Akibatnya, seluruh entitas atau warga negara AS dilarang melakukan bisnis atau berinteraksi dengannya. Uni Eropa pun menjatuhkan sanksi serupa. Dalam gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang terjadi di Iran beberapa waktu lalu, Farzadi dituding sebagai otak utama penindasan dan penyiksaan para demonstran yang dijebloskan ke Evin.
Hingga saat ini, keberadaan Farzadi setelah serangan masih belum diketahui. Pihak otoritas Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai status maupun lokasi terkini mantan kepala penjara tersebut.
Spekulasi: Serangan Presisi atau Operasi Penyelamatan?
Serangan terhadap Penjara Evin ini menuai spekulasi di berbagai kalangan. Seorang pengguna platform X (Twitter) menulis: “Apakah ini serangan presisi atau operasi penyelamatan berisiko tinggi?”
Komentar ini memperkuat dugaan bahwa serangan udara tersebut bukan hanya bermotif militer, melainkan juga mungkin menjadi bagian dari upaya menekan rezim Iran sekaligus membebaskan tahanan politik tertentu.
Namun hingga saat ini, pemerintah Iran memilih bungkam dan belum memberikan klarifikasi rinci mengenai motif serangan, jumlah pasti korban, maupun data tahanan yang kemungkinan melarikan diri. Misteri masih menyelimuti peristiwa besar ini, yang menambah daftar panjang drama dan konflik di kawasan.


