Trump Cabut Sanksi AS Terhadap Suriah: Apa Isi Perintah Eksekutif Tersebut dan Apa Artinya bagi Ahmed al-Sharaa?

EtIndonesia. Dalam perkembangan besar, Presiden AS, Donald Trump pada hari Senin (30/6) menandatangani perintah eksekutif yang mengakhiri program sanksi terhadap Suriah, dan Gedung Putih mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk mendukung negara tersebut untuk membangun kembali setelah perang saudara yang menghancurkan. Hal ini akan memungkinkan diakhirinya isolasi negara tersebut dari sistem keuangan internasional. 

Langkah tersebut juga akan memungkinkan AS untuk mempertahankan sanksi terhadap mantan presiden Suriah yang digulingkan Bashar al-Assad, rekan-rekannya, pelanggar hak asasi manusia, pengedar narkoba, orang-orang yang terkait dengan aktivitas senjata kimia, afiliasi ISIS dan Negara Islam serta proksi untuk Iran, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan dalam sebuah pengarahan. 

Presiden Trump telah bertemu dengan pemimpin baru Suriah Ahmed al-Sharaa, di Riyadh pada bulan Mei, dalam apa yang disebut sebagai perubahan kebijakan yang signifikan.

Bashar al-Assad digulingkan pada bulan Desember dalam serangan kilat oleh pemberontak yang dipimpin oleh Islamis dan Suriah sejak itu telah mengambil langkah-langkah untuk membangun kembali hubungan internasional. 

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shibani mengatakan penghentian program sanksi Suriah oleh Trump akan “membuka pintu rekonstruksi dan pembangunan yang telah lama ditunggu-tunggu,” menurut sebuah posting oleh menteri luar negeri di platform media sosial X. Dia mengatakan langkah itu akan “menghilangkan hambatan” terhadap pemulihan ekonomi dan membuka negara itu bagi masyarakat internasional. 

Pertemuan tak terduga Trump dengan Sharaa di Riyadh di hadapan Mohammad Bin Salman telah mengisyaratkan perubahan besar geopolitik terkait masa depan Suriah dan hubungannya dengan Barat.

Apa isi perintah eksekutif tersebut?

Gedung Putih dalam sebuah lembar fakta mengatakan perintah itu mengarahkan Menteri Luar Negeri untuk meninjau penunjukan teroris Hayat Tahrir al-Sham, sebuah kelompok pemberontak yang dipimpin Sharaa yang berakar pada al Qaeda, serta penunjukan Suriah sebagai negara sponsor terorisme. 

Dia juga menambahkan bahwa pemerintahan Trump akan terus memantau kemajuan Suriah pada prioritas utama, termasuk “mengambil langkah konkret menuju normalisasi hubungan dengan Israel, menangani teroris asing, mendeportasi teroris Palestina, dan melarang kelompok teroris Palestina.”

Dari teroris al-Qaeda menjadi ‘pria tangguh dan menarik’ Trump 

Pada bulan Mei, ketika Trump bertemu Sharaa, dia berjabat tangan dengannya dan berkata, “pria muda yang menarik. Pria tangguh. Masa lalu yang kuat. Masa lalu yang sangat kuat. Pejuang. Dia memiliki peluang nyata untuk bangkit.” 

Presiden AS juga mengumumkan pencabutan sanksi era Assad terhadap Suriah dan mendesak al-Sharaa untuk mengakui Israel, dengan maksud untuk memperluas Perjanjian Abraham miliknya. 

Amerika merangkul Ahmed al-Sharaa alias Abu Mohammad Al-Jolani – yang pernah ditetapkan AS sebagai teroris yang front Al-Nusra-nya merupakan cabang dari Al-Qaeda Osama Bin Laden – menjadi momen yang membuka jalan dalam sejarah kontemporer Asia Barat.

Ahmed al-Sharaa mendirikan Front al-Nusra, cabang al-Qaeda, yang memainkan peran utama dalam konflik Suriah. Namun pada tahun 2016, al-Sharaa secara terbuka memisahkan diri dari al-Qaeda, mengubah nama organisasinya menjadi Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), yang menandakan pergeseran ke arah agenda Suriah yang lebih lokal.

Naiknya Ahmed al-Sharaa ke tampuk kekuasaan di Suriah merupakan hasil dari kampanye militer yang cepat dan transisi politik yang dikelola dengan cermat. Pada akhir tahun 2024, pasukan yang setia kepada al-Sharaa, di bawah panji HTS, melancarkan serangan besar terhadap Tentara Arab Suriah. 

Kampanye ini berpuncak pada perebutan Damaskus pada tanggal 8 Desember, yang memaksa Presiden Bashar al-Assad saat itu untuk meninggalkan negara itu, mencari perlindungan di Rusia. 

Kemudian, al-Sharaa dipilih sebagai presiden sementara Suriah. Dia mulai menggunakan nama lahirnya – al-Sharaa – untuk menampilkan dirinya sebagai tokoh politik yang sah dan menjauhkan diri dari masa lalunya dengan organisasi teroris al-Qaeda.(yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine