Israel Gempur Sweida, Tentara Suriah Mundur atas Permintaan AS 

Pada Rabu (16 Juli), Israel membombardir markas militer Suriah yang berada di Damaskus. Sementara itu, Amerika Serikat menyerukan kepada tentara pemerintah Suriah untuk meninggalkan Kota Sweida, yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Druze.

EtIndonesia. Menurut laporan AFP, konflik pecah antara kelompok Druze dan suku Badui setempat. Pada 15 Juli, tentara pemerintah Suriah memasuki Sweida yang mayoritas dihuni oleh warga Druze, dengan alasan untuk mengawasi kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati bersama para pemimpin Druze.

Namun, menurut kesaksian warga, pasukan pemerintah justru bersekutu dengan klan Arab Badui dan melakukan pembantaian besar-besaran terhadap para pejuang Druze dan warga sipil di kota tersebut.

Menurut pemantau perang dari Syrian Observatory for Human Rights, kekerasan di Provinsi Sweida telah menewaskan lebih dari 350 orang, termasuk tentara pemerintah, pejuang lokal, dan 27 warga sipil Druze yang dieksekusi secara sembarangan.

Ini merupakan konflik paling mematikan yang terjadi di wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Pada April dan Mei tahun ini, bentrokan antara pasukan keamanan dan kelompok Druze juga pernah terjadi di Provinsi Sweida dan sekitar Damaskus, menewaskan lebih dari 100 orang.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyerukan kepada pemerintah Damaskus agar “tidak ikut campur dalam urusan warga Druze di Provinsi Sweida.”

Katz meminta pasukan Suriah mundur, dan memperingatkan bahwa jika “pesan ini tidak dipahami,” maka Israel akan “menaikkan tingkat respons terhadap rezim (Suriah) ini.”

Amerika Serikat, yang sedang mencoba menjalin kembali hubungan dengan Suriah, mendesak “semua pihak untuk memenuhi komitmen mereka.”

Kementerian Pertahanan Suriah dalam pernyataannya menyebutkan bahwa, “Setelah operasi untuk membersihkan organisasi ilegal di Kota Sweida selesai, pasukan Suriah telah mulai mundur dari kota tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.”

Kota Sweida, yang didominasi oleh warga Druze, kini menjadi tantangan terbaru bagi Presiden Sementara Suriah Ahmed al-Sharaa, setelah konflik dengan tentara pemerintah kembali memanas. Istana Kepresidenan Suriah menyatakan akan menyelidiki “tindakan brutal” di wilayah Sweida dan menghukum “semua pihak yang terbukti terlibat.”

Sejak tergulingnya mantan Presiden Bashar al-Assad pada Desember tahun lalu, pemerintahan Suriah yang kini dipimpin oleh kelompok Islamis terus menghadapi ketegangan dengan kelompok-kelompok agama dan etnis minoritas.

Suku Badui dan warga Druze memang telah lama memiliki konflik historis di Provinsi Sweida, yang sesekali meletus dalam bentuk bentrokan kekerasan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine