Etindonesia. Sejak Rabu (30/7/2025) malam, ibu kota Ukraina mengalami salah satu serangan udara paling mematikan sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina lebih dari tiga tahun lalu, menyebabkan ratusan korban luka dan tewas. Presiden AS Donald Trump mengecam keras aksi penyerangan Rusia tersebut. Saat ini, Amerika Serikat dan NATO sedang merancang skema bantuan baru, yaitu negara-negara anggota NATO akan menanggung biaya pembelian senjata buatan AS untuk membantu Ukraina.
Kantor berita Reuters mengutip tiga sumber yang mengetahui hal ini, bahwa AS, NATO, dan Ukraina sedang menyusun suatu mekanisme baru, yang intinya adalah memilih senjata buatan Amerika dari daftar prioritas kebutuhan Ukraina untuk disuplai secara bertahap.
Setiap tahap bantuan diperkirakan bernilai sekitar 500 juta dolar AS. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, akan berkoordinasi dengan negara-negara anggota untuk menentukan siapa saja yang akan membiayai atau menyumbang senjata tersebut.
Seorang pejabat Eropa yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa melalui cara ini, negara-negara anggota NATO berharap dapat memberikan bantuan militer senilai hingga 10 miliar dolar AS kepada Ukraina, meskipun waktu pengirimannya belum dapat dipastikan.
NATO juga akan membentuk sebuah akun khusus yang disetujui oleh Panglima Tertinggi Militer NATO, tempat para negara anggota mentransfer dana untuk pembelian senjata.
Skema ini berkaitan erat dengan sikap Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan bahwa AS bersedia menyediakan senjata bagi Ukraina, namun biayanya harus ditanggung oleh NATO.
Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Saya telah mencapai kesepakatan dengan NATO, NATO yang akan membayar semua yang kita berikan.”
Pada Kamis, Trump juga mengancam bahwa jika Rusia tidak menunjukkan itikad untuk gencatan senjata sebelum 8 Agustus, maka ia akan menjatuhkan tarif dan sanksi terhadap Moskow.
Trump menegaskan: “Rusia – saya pikir apa yang mereka lakukan sungguh menjijikkan. Benar-benar menjijikkan. Kita masih punya waktu sekitar delapan hari. (Jika tidak ada gencatan senjata) kita akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.”
Sebelumnya, Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, menulis di platform X bahwa agresi Rusia bukan hanya ancaman terhadap Ukraina, tapi juga ancaman global. Ia mengungkapkan: “Kami melihat bahwa Rusia tengah mentransfer teknologi drone bunuh diri Shahed-136 ke Korea Utara, membantu mendirikan lini produksi, serta melakukan kerja sama dalam pengembangan rudal.”
Saat ini, Korea Utara telah mengirim pasukan untuk membantu militer Rusia dalam perang melawan Ukraina. (Hui/asr)
oleh NTD – Tang Li dan Liu Fang


