EtIndonesia. Presiden Donald Trump pada hari Sabtu (1/11)mengancam akan mengirim pasukan AS ke Nigeria dengan “guns-a-blazing” jika negara terpadat di Afrika itu tidak menghentikan apa yang dia sebut sebagai pembunuhan umat Kristen oleh kelompok Islamis.
Dalam sebuah unggahan yang menggemparkan di platform Truth Social miliknya, pemimpin Partai Republik tersebut mengatakan dia meminta Pentagon untuk memetakan kemungkinan rencana serangan, sehari setelah memperingatkan bahwa agama Kristen “menghadapi ancaman eksistensial di Nigeria.”
“Jika Pemerintah Nigeria terus membiarkan pembunuhan umat Kristen, AS akan segera menghentikan semua bantuan dan asistensi ke Nigeria, dan mungkin akan masuk ke negara yang kini ternoda itu, ‘guns-a-blazing’, untuk sepenuhnya membasmi Teroris Islam yang melakukan kekejaman mengerikan ini,” katanya.
“Dengan ini saya menginstruksikan Departemen Perang kita untuk bersiap menghadapi kemungkinan tindakan. Jika kita menyerang, serangan itu akan cepat, ganas, dan manis, seperti para teroris preman menyerang umat Kristen kita yang kita sayangi,” tambahnya, memperingatkan pemerintah Nigeria bahwa mereka “LEBIH BAIK BERGERAK CEPAT!”
Nigeria terlibat dalam berbagai konflik yang menurut para ahli telah menewaskan baik umat Kristen maupun Muslim tanpa pandang bulu.
Trump pada hari Jumat, mengunggah pernyataan bahwa “ribuan umat Kristen dibunuh (dan) kaum Islamis Radikal bertanggung jawab atas pembantaian massal ini.”
Politisi konservatif telah memicu tuduhan tersebut.
Pada bulan Maret, anggota Kongres AS, Chris Smith menyerukan agar Nigeria didaftarkan oleh Departemen Luar Negeri sebagai “Negara yang Menjadi Perhatian Khusus” (CPC) — sebuah langkah yang diumumkan oleh Trump pada hari Jumat atas apa yang disebutnya sebagai “ancaman eksistensial” bagi populasi Kristen di negara Afrika tersebut.
Dan pada awal Oktober, Senator AS Ted Cruz dan anggota DPR dari Partai Republik Riley Moore menuduh pemerintah Nigeria menutup mata terhadap “pembunuhan massal” umat Kristen.
Klaim penganiayaan terhadap umat Kristen juga telah disuarakan oleh beberapa pihak di Nigeria, di mana perpecahan etnis, agama, dan regional telah berkobar dengan konsekuensi yang mematikan di masa lalu dan masih membentuk politik modern negara tersebut.
Beberapa pejabat AS berpendapat bahwa umat Kristen di Nigeria menghadapi “genosida” — sebuah klaim yang dibantah oleh Abuja.
“Karakterisasi Nigeria sebagai intoleran agama tidak mencerminkan realitas nasional kita,” tulis Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu pada hari Sabtu di X setelah Trump membuat pengumuman.
“Kebebasan beragama dan toleransi telah menjadi prinsip inti identitas kolektif kita dan akan selalu demikian,” tambah Tinubu.
Nigeria hampir terbagi rata antara wilayah utara yang mayoritas Muslim dan wilayah selatan yang mayoritas Kristen.
Negara ini disibukkan oleh masalah keamanan. Wilayah timur lautnya merupakan pusat pemberontakan jihadis Boko Haram, yang telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan membuat lebih dari dua juta orang mengungsi sejak 2009, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di Nigeria bagian tengah, para penggembala yang mayoritas Muslim telah berulang kali bentrok dengan para petani yang mayoritas Kristen. Konflik ini sering digambarkan sebagai konflik antar-agama, tetapi umumnya bermula dari perebutan akses lahan. (yn)


