EtIndonesia. Sauron baru saja kembali dari luar negeri. Suatu hari, dia diundang menghadiri sebuah jamuan makan dan dijadwalkan menjadi pembicara utama selama tiga puluh menit di tengah acara. Karena belum begitu mengenal jalan-jalan di Taipei, dia tiba terlalu awal dan turun dari kendaraan di sekitar lokasi acara, lalu berjalan-jalan santai di sekitarnya.
Ketika dia melewati sebuah kios yang menjual makanan kotak, dia berniat berhenti sejenak untuk melihat-lihat. Tiba-tiba, dari dalam toko berlari keluar seorang gadis bertubuh besar, berambut panjang, mengenakan celana jins, dan menabraknya dengan keras.
Kantong plastik yang dibawa gadis itu pun menghantam tubuh Sauron. Sebuah mangkuk plastik berisi sup di dalamnya terlepas, tutupnya terbuka, dan semangkuk sup asam pedas tumpah seluruhnya ke celana jas Sauron. Bukan hanya membuat kakinya tersiram panas, tetapi juga merusak celananya.
Kejadian itu begitu mendadak hingga Sauron benar-benar terkejut. Dia belum sempat bereaksi, hanya berdiri terpaku.
Namun ketika melihat celana jas barunya yang berwarna terang kini penuh noda, mau tak mau dia merasa sayang dan kecewa.
Gadis itu pun terdiam sejenak. Wajahnya memerah. Dia terus-menerus meminta maaf sambil tergesa-gesa mengeluarkan tisu dari tas selempangnya, hendak membersihkan celana Sauron.
Sauron mengangkat tangan menghentikannya sambil berkata : “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”
Gadis itu bertanya cemas: “Lalu bagaimana?”
Sauron menjawab: “Saya akan mengatasinya sendiri.”
Dengan wajah gelisah, gadis itu berkata : “Pak, tolong maafkan saya, ya? Saya harus mengejar ujian. Saya belum makan siang, jadi saya membeli makanan kotak untuk dimakan di luar ruang ujian. Sekarang tinggal kurang dari dua puluh menit, saya hampir terlambat. Bolehkah Bapak memberi saya kartu nama, supaya besok saya bisa mencari cara untuk mengganti kerugian? Untuk sekarang, bolehkah saya pergi dulu?”
Sauron berkata: “Kalau begitu, cepatlah pergi. Ujian itu penting.”
Gadis itu mengulurkan tangan: “Kartu nama Bapak?”
Sauron tersenyum dan berkata: “Sudahlah, sudahlah. Kamu cepat pergi saja.”
Gadis itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, lalu berlari pergi sambil membawa kantong plastik yang kini hanya berisi satu kotak makan. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin.
Sauron menepuk-nepuk sisa makanan yang menempel di celananya. Dengan celana yang masih basah, dia memanggil taksi, pulang untuk berganti pakaian, lalu kembali ke lokasi jamuan dan berhasil menyampaikan pidatonya dengan lancar.
Sebulan kemudian, Sauron hendak pergi ke Kaohsiung untuk menghadiri rapat. Karena terlalu sibuk, dia tidak sempat memesan tiket pesawat lebih awal dan berencana membelinya langsung di bandara. Namun setibanya di sana, dia mendapati bahwa penerbangan yang ingin ia naiki sudah penuh.
Dengan cemas, dia berkata kepada petugas loket maskapai—seorang wanita berseragam dengan rambut panjang: “Apa yang harus saya lakukan? Satu setengah jam lagi saya harus sudah berada di Kaohsiung untuk rapat.”
Petugas tiket itu berkata dengan tenang: “Bapak jangan khawatir. Saya akan membantu mencarikan jalan.”
Dia menelepon dua kali. Pada panggilan kedua, dia mengucapkan terima kasih ke arah telepon, lalu tersenyum kepada Sauron dan berkata: “Maskapai di seberang sana masih punya satu kursi kosong. Pesawatnya berangkat dua puluh menit lagi. Silakan ke sana untuk membeli tiket. Bapak pasti sempat.”
Sauron sangat berterima kasih. Dia menyampaikan terima kasih dengan sungguh-sungguh, lalu bercanda: “Kalau bukan karena bantuan Anda, saya harus terbang sendiri ke sana.”
Petugas tiket itu pun tertawa, lalu berdiri dan berkata: “Pak, mungkin Bapak sudah lupa dengan saya. Saya adalah gadis yang sebulan lalu menumpahkan semangkuk sup asam pedas ke seluruh celana Bapak. Kalau hari itu Bapak tidak bermurah hati membiarkan saya pergi, saya pasti akan terlambat dan gagal mengikuti ujian.”
Sauron terkejut sekaligus gembira : “Lalu, apakah kamu lulus ujian itu?”
Petugas tiket itu tersenyum dan menjawab: “Ujian yang saya ikuti adalah untuk menjadi petugas tiket di maskapai ini.”
Bisikan Hati – Memaafkan
Memaafkan kesalahan orang lain disebut “pengampunan”. Pengampunan bukanlah hal yang mudah; hanya orang yang berhati lapang yang mampu melakukannya.
Orang yang berhati lapang memahami bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah—termasuk dirinya sendiri.
Saat kita melakukan kesalahan, penyesalan dan rasa bersalah sering muncul di hati. Kita berharap orang lain mau memaafkan kita dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika kita menginginkan pengampunan seperti itu, bukankah orang lain pun memiliki harapan yang sama?
Bila kita mampu menempatkan diri pada perasaan orang lain—merasakan kerinduan mereka akan pengampunan—kita akan memahami makna dan nilai sejati dari memaafkan.
Pengampunan bukan hanya menghapus penyesalan dan kegelisahan di hati orang yang berbuat salah, tetapi juga membuka jalan bagi perbaikan.
Ada seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Suatu hari, dia tidak sengaja memecahkan sebuah patung Avalokitesvara dari batu giok putih setinggi belasan sentimeter di ruang kerja pamannya. Dia sangat ketakutan dan menyesal, karena dia tahu patung itu adalah benda kesayangan pamannya.
Sambil menangis dan dengan suara gemetar, dia meminta maaf.
Namun pamannya berkata dengan lembut: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Itu hanya sebuah patung. Nanti kita masih bisa menemukan yang lebih baik. Jangan bersedih.”
Anak itu sangat bersyukur atas pengampunan pamannya. Hatinya menjadi tenang, dan dia tetap bisa menjalani hari-harinya dengan gembira. Sejak saat itu, dia pun memiliki kebiasaan mengunjungi toko barang antik dan toko giok untuk mengagumi patung-patung Avalokitesvara.
Ketika dia berusia tiga puluh sembilan tahun, dia menghadiahkan sebuah patung Avalokitesvara yang sangat indah kepada pamannya yang genap berusia enam puluh tahun, sebagai hadiah ulang tahun.
Pengampunan lahir dari niat baik. Dan niat baik itulah yang membangun dunia yang indah dan penuh kebaikan.
Hikmah cerita:
Niat baik ibarat sebuah bola. Ketika kita melemparkannya keluar dari tangan kita, suatu hari dia akan memantul kembali dari dinding lain dan kembali kepada kita. Bersikap lapang dan penuh pengertian kepada orang lain sejatinya adalah cara kita menabung kebaikan bagi diri sendiri.(jhn/yn)


