Hakikat Keberanian Sejati

EtIndonesia. Seorang ayah merasa sangat cemas terhadap anak laki-lakinya. Usianya sudah menginjak lima belas atau enam belas tahun, namun menurut sang ayah, anak itu sama sekali tidak menunjukkan sikap kejantanan atau keteguhan sebagai seorang pria.

Karena kegelisahan itu, sang ayah mendatangi seorang guru Zen, memohon agar sang guru bersedia melatih anaknya.

Guru Zen itu berkata: “Tinggalkan anakmu di sini selama tiga bulan. Selama tiga bulan itu, kamu tidak boleh datang menjenguknya. Setelah tiga bulan, aku berjanji akan melatihnya menjadi seorang pria sejati.”

Tiga bulan kemudian, sang ayah kembali untuk menjemput anaknya.

Guru Zen pun mengatur sebuah pertandingan karate sebagai demonstrasi hasil latihan selama tiga bulan tersebut.

Lawan yang dihadapkan kepada anak itu adalah seorang instruktur karate.

Begitu sang instruktur melancarkan serangan pertama, anak itu langsung terjatuh ke lantai. Namun, baru saja tubuhnya menyentuh tanah, dia segera bangkit kembali dan siap menghadapi serangan berikutnya.

Dia jatuh, lalu bangkit lagi. Jatuh, lalu bangkit lagi…

Peristiwa itu terjadi enam belas kali berturut-turut.

Setelah itu, Guru Zen bertanya kepada sang ayah : “Menurutmu, apakah penampilan anakmu sudah menunjukkan sikap seorang pria sejati?”

Sang ayah menjawab dengan wajah tertunduk : “Aku benar-benar merasa malu. Aku tak menyangka setelah tiga bulan latihan, yang kulihat justru anakku begitu lemah. Sekali dipukul, langsung jatuh.”

Guru Zen menatapnya dengan tenang lalu berkata:  “Aku menyesal karena kamu hanya melihat kemenangan dan kekalahan di permukaan. Apakah kamu tidak melihat keberanian dan ketekunan anakmu—yang setiap kali jatuh langsung berdiri kembali? Itulah yang disebut kejantanan dan keberanian sejati.”

Selama jumlah bangkitnya satu kali lebih banyak daripada jumlah jatuhnya, itulah yang disebut jiwa yang benar-benar tangguh.

Renungan

Cerita hari ini memang singkat, tetapi memberikan guncangan batin yang mendalam bagi tim Erabaru.

Dari kisah sederhana ini, kita belajar bahwa keberanian sejati tidak diukur dari seberapa jarang seseorang jatuh, melainkan seberapa sering dia mau bangkit kembali.

Cerita ini juga mengingatkan kita untuk melihat orang dan peristiwa dengan sudut pandang yang lebih luas. Jangan hanya terpaku pada kekurangan atau kegagalan seseorang, lalu mengabaikan usaha, ketekunan, dan perjuangan yang telah ia lakukan.

Kadang, justru di situlah nilai sejati manusia berada. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine