Menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Beijing, sebuah kapal tanker Tiongkok diserang di dekat Selat Hormuz. Ini merupakan pertama kalinya kapal tanker Tiongkok menjadi sasaran sejak konflik Amerika Serikat dan Iran meningkat. Karena Partai Komunis Tiongkok selama ini dianggap sebagai pendukung penting Iran, serangan terhadap kapal Tiongkok kini memunculkan perhatian internasional mengenai kemungkinan perubahan hubungan antara Beijing dan Teheran.
EtIndonesia. Pada 7 Mei, media Tiongkok 《Caixin》 melaporkan bahwa sebuah kapal tanker besar produk minyak milik perusahaan Tiongkok diserang pada 4 Mei di pintu masuk Selat Hormuz, di perairan dekat Pelabuhan Al Jair, Uni Emirat Arab. Serangan tersebut menyebabkan dek kapal terbakar.
Saat kejadian, badan kapal secara khusus bertuliskan “CHINA OWNER & CREW” atau “Pemilik dan Awak Tiongkok”.
Sumber yang mengetahui situasi mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya kapal tanker Tiongkok diserang di Selat Hormuz dan secara psikologis “sulit diterima”.
Selat Hormuz menanggung sekitar 20% pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Sejak pecahnya perang AS-Iran pada 28 Februari, Iran memblokade jalur penting tersebut dan memasang ranjau laut. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak kapal dagang dari berbagai negara diserang, bahkan ada yang dihancurkan.
PKT sendiri merupakan mitra strategis penting Iran sekaligus pembeli utama minyak Iran. Karena itu, serangan terhadap kapal tanker Tiongkok menarik perhatian besar dari dunia internasional.
Para pakar menilai serangan terhadap kapal tanker Tiongkok kemungkinan berkaitan dengan kekacauan komando internal Iran.
“Korps Garda Revolusi Islam dan pemerintah Iran sendiri memiliki banyak konflik internal. Ditambah lagi dengan penerapan taktik mosaik yang memberi komandan tingkat bawah Garda Revolusi hak untuk melancarkan serangan. Akibatnya, banyak serangan pada dasarnya tidak terkendali,” ujar pembawa acara kanal militer “Mark Space”, Mark.
Mark mengatakan bahwa meskipun PKT selama ini dianggap sekutu penting sekaligus penyandang dana Iran, sebagian anggota Garda Revolusi justru memandang PKT sebagai musuh.
“PKT memanfaatkan situasi sanksi terhadap Iran untuk membeli minyak Iran dengan harga sangat murah. Garda Revolusi merasa pihak itu mengambil keuntungan dari kami, tetapi pada saat kritis tidak mendukung kami. Karena itu mereka sebenarnya sangat membenci PKT. Komandan tingkat bawah yang tidak memiliki pandangan geopolitik luas mungkin saja bertindak sesuai kehendak pribadi dan menyerang kapal tanker Tiongkok,” ujarnya.
Namun ada pula pakar yang berpendapat bahwa insiden ini mungkin merupakan salah sasaran, karena radar tidak dapat mengenali tulisan di badan kapal. Meski demikian, kemungkinan adanya sinyal politik untuk menekan Beijing juga tidak dapat dikesampingkan.
“Saat ini Menteri Luar Negeri Iran Araghchi sedang berkunjung ke Beijing dan pembicaraannya dengan Wang Yi tampaknya tidak berjalan lancar. Dalam situasi seperti ini, baik serangan itu terjadi karena kesalahan maupun disengaja, semuanya menunjukkan bahwa Beijing dan Iran mungkin mulai berpisah jalan. Sebelumnya sudah ada kapal kargo Tiongkok yang menyatakan bahwa pemilik dan awak kapal Tiongkok diusir oleh Garda Revolusi dan tidak diizinkan keluar,” kata Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya di Institute for National Defense and Security Research, Su Tzu-yun.
Pada 12 Maret lalu, sebuah kapal kontainer bertuliskan “semuanya awak Tiongkok” juga pernah diserang hingga terbakar.
Serangan terbaru terhadap kapal tanker Tiongkok ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada 4 Mei mengumumkan peluncuran “Operation Freedom”, yaitu pengerahan tambahan kapal perang AS untuk mengawal kapal dagang. Dua kapal berbendera Amerika dilaporkan telah berhasil melintasi jalur tersebut dengan aman.
Namun Garda Revolusi Iran terus menyerang kapal dagang berbagai negara. Kapal kontainer “San Antonio” milik grup pelayaran Prancis CMA CGM juga diserang saat melintasi selat pada 5 Mei, menyebabkan awak kapal terluka dan badan kapal rusak.
Pada 6 Mei, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi Beijing dan bertemu Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Pada kesempatan itu Wang Yi mendesak Iran agar segera membuka kembali Selat Hormuz.
Pengamat menilai tidak tertutup kemungkinan Iran sengaja memberi tekanan kepada kapal Tiongkok menjelang kunjungan Araghchi ke Beijing, dengan tujuan menaikkan harga minyak, memperbesar ancaman perang, dan sekaligus menekan Tiongkok maupun Amerika Serikat.
Su Tzu-yun mengatakan: “Kunjungan Araghchi ke Beijing kali ini pada dasarnya menunjukkan Beijing sudah memutus hubungan dengan Iran. Karena pernyataan Wang Yi adalah meminta perang segera diakhiri, yang berarti menyiratkan Iran harus menerima syarat Amerika.”
Su Tzu-yun menilai bahwa arah konflik Timur Tengah kini pada dasarnya sudah jelas. Jika Iran akhirnya menerima syarat AS dan menyerahkan uranium yang diperkaya, maka kubu Amerika akan memperoleh kemenangan besar dan Selat Hormuz akan kembali stabil.
Ia menambahkan: “Selat Hormuz kemungkinan akan stabil dalam jangka panjang setelah masa sulit singkat ini berlalu. Situasi dunia juga akan menjadi lebih tenang. Amerika Serikat kemudian bisa memusatkan kekuatan untuk menghadapi Beijing. Dalam jangka pendek, jika Trump bertemu Xi Jinping, Trump akan memiliki banyak kartu tawar. Artinya target Trump sebelum pemilu sudah tercapai sebagian besar, yaitu mengisolasi Tiongkok dari Timur Tengah dan Amerika Selatan untuk melemahkan rezim otoriter.”
Para ahli menilai PKT selama ini terlalu bertaruh pada Iran, namun kini justru menghadapi kerugian politik dan ekonomi sekaligus, sehingga dapat dikatakan “kehilangan dua-duanya”.
Sumber : NTDTV.com


