Kecelakaan pesawat China Eastern tahun 2022 yang menewaskan seluruh 132 orang di dalamnya kembali memunculkan detail baru. Data terbaru yang dipublikasikan oleh National Transportation Safety Board (NTSB) menunjukkan bahwa sebelum pesawat jatuh, aliran bahan bakar ke kedua mesin sengaja diputus, dan di dalam kokpit diduga terjadi perkelahian sengit.
EtIndonesia. Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah Boeing 737-800 milik China Eastern Airlines. Kantor berita Associated Press pada 7 Mei melaporkan bahwa penyelidik Tiongkok sebelumnya menyatakan tidak menemukan kerusakan pada pesawat, dan menduga kecelakaan disebabkan oleh awak pesawat.
Laporan yang dirilis NTSB menyebut para ahli keselamatan penerbangan meyakini tuas kontrol bahan bakar pesawat tidak mungkin tertutup sendiri secara tidak sengaja. Tuas tersebut harus digerakkan secara manual untuk memutus suplai bahan bakar ke mesin, sehingga kemungkinan kerusakan mekanis hampir dapat dikesampingkan.
Hal yang lebih menarik perhatian adalah data penerbangan menunjukkan bahwa saat pesawat kehilangan kendali, roda kendali tidak bergerak stabil ke satu arah, melainkan terus bergoyang ke kiri dan kanan.
Pakar Amerika yang terlibat dalam investigasi menilai situasi itu menyerupai adanya seseorang di kokpit yang berusaha mencegah pesawat jatuh. Meski penyebab pastinya belum dapat dipastikan, mereka mengatakan memang ada indikasi perkelahian di dalam kokpit.
Pakar keselamatan penerbangan AS menganalisis bahwa kecelakaan ini kemungkinan merupakan kasus “pilot bunuh diri dengan menjatuhkan pesawat”. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi, termasuk tragedi Germanwings Flight 9525 crash pada 2015 dan kecelakaan EgyptAir Flight 990 crash pada 1999.
Selama beberapa tahun terakhir, internet di Tiongkok juga ramai dengan dugaan bahwa kopilot mungkin memiliki motif balas dendam akibat penurunan jabatan dan pemotongan gaji, lalu sengaja menjatuhkan pesawat.
Saat kejadian, pesawat tersebut lepas landas dari Kunming dan tiba-tiba menukik tajam dari ketinggian sekitar 8.800 meter. Di tengah penurunan, pesawat tampak sempat terangkat kembali sesaat, namun akhirnya tetap menghantam lereng gunung, menciptakan kawah besar dan memicu kebakaran hutan.
Hal yang paling menimbulkan tanda tanya adalah sebelum kecelakaan terjadi, awak pesawat masih sempat berkomunikasi dengan menara pengawas dan menyatakan bahwa “semuanya normal”. Kini, setelah NTSB kembali menegaskan tidak ditemukan kerusakan pada pesawat, perhatian publik terhadap penyebab sebenarnya dari tragedi ini semakin besar.
Sumber : NTDTV.com


