EtIndonesia.com Kalimat “Falun Dafa Hao” atau “Falun Dafa baik” dapat diucapkan secara terbuka di negara-negara yang menjunjung kebebasan. Namun, di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mengucapkan kalimat tersebut dapat berujung pada penangkapan, hukuman penjara, bahkan perpisahan dengan keluarga.
Sejak PKT mulai menindas Falun Gong pada tahun 1999, Zhang Lihong dan keluarganya mengalami penangkapan, hukuman penjara, serta perpisahan selama bertahun-tahun.
Kini mereka telah memperoleh kebebasan berkeyakinan di Kanada dan terus menyuarakan kondisi para praktisi Falun Gong yang menurut mereka masih mengalami penganiayaan di Tiongkok.
Berikut adalah kisah Zhang Lihong :
Pada Calgary Stampede Parade, Kanada tahun ini, sebuah kelompok pemain genderang pinggang (waist drum) berwarna emas tampak mencolok di antara barisan peserta.
Di tengah dentuman genderang dan sinar matahari, Zhang Lihong berjalan sambil tersenyum. Namun, di balik senyuman itu tersimpan kisah penderitaan dan keteguhan yang telah berlangsung selama 27 tahun.

“Saya sangat, sangat terharu. Akhirnya saya bisa dengan bebas menyampaikan isi hati saya, dan akhirnya bisa berseru dengan lantang, ‘Falun Dafa baik!’ dan ‘Sejati, Baik, Sabar itu baik!,” katanya.
Pada akhir tahun 1997, Zhang mulai berlatih Falun Gong bersama kedua orang tuanya. Ia mengatakan bahwa latihan tersebut tidak hanya memperbaiki kesehatannya, tetapi juga mengajarkannya menjalani hidup berdasarkan prinsip “Sejati, Baik, dan Sabar”.
“Setelah mulai berlatih, setiap pagi saya mengikuti latihan. Tubuh saya terasa sangat ringan dan sangat nyaman,” kenangnya.
“Dengan mengikuti prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, saya belajar menjadi orang yang baik, memikirkan kepentingan orang lain, dan setiap hari terasa sangat bermakna,” katanya.
Kehidupan keluarga yang semula damai berubah total pada 20 Juli 1999, ketika PKT melancarkan penindasan terhadap Falun Gong. Zhang mengatakan bahwa propaganda yang disebarkan pemerintah sangat berbeda dengan pengalaman yang ia alami sendiri.
“Saat itu saya benar-benar sedih. Orang-orang di sekitar kami yang berlatih Falun Gong justru kesehatannya menjadi lebih baik.”
Untuk menyampaikan pengalamannya, Zhang terlebih dahulu pergi mengajukan petisi ke pemerintah provinsi di Harbin, kemudian melanjutkan ke Beijing.
“Saya merasa harus memberitahu pemerintah tentang pengalaman saya sendiri.”
Namun, yang menunggu mereka bukanlah dialog, melainkan penangkapan.
“Kami kembali ke Lapangan Tiananmen. Kami membentangkan spanduk bertuliskan ‘Falun Dafa Baik’ dan meneriakkan, ‘Falun Dafa Baik! Pulihkan nama baik Guru kami!’ Sekelompok polisi segera merebut spanduk itu, memasukkan kami ke mobil polisi, lalu membawa kami ke Kantor Polisi Qianmen,” kenangnya.
Tak lama kemudian, penganiayaan meluas ke seluruh keluarganya. Ayah dan ibunya ditangkap secara bergantian. Karena menolak menandatangani surat pernyataan untuk berhenti berlatih Falun Gong, ibunya melakukan mogok makan sebagai bentuk protes dan kemudian mengalami pemaksaan makan (force-feeding).
“Ibu saya pertama kali mogok makan selama tujuh hari, lalu sebelas hari pada mogok makan kedua. Ketika pulang ke rumah, kondisinya sudah sangat lemah. Saya benar-benar sedih melihatnya. Ibu bercerita bahwa di rumah tahanan, beberapa polisi menahannya dan memaksa memasukkan selang makanan hingga hidung dan mulutnya berdarah,” ceritanya.
Ia menambahkan: “Ibu merasa, ‘Apa salahnya saya berlatih Sejati, Baik, dan Sabar? Saya tidak bersalah. Saya tidak bisa berbohong dan mengatakan bahwa saya berhenti berlatih.'”
Pada tahun 2002, suami Zhang kembali ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Saat itu putra mereka, Wang Hao, baru berusia dua setengah tahun.
“Setelah suami saya dipenjara, ia mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Di penjara, praktisi Falun Gong sering menjalani pemeriksaan kesehatan. Saat itu para narapidana, termasuk suami saya, tidak mengerti alasannya,” ujarnya.
“Setelah muncul laporan mengenai dugaan pengambilan organ secara paksa, kami baru menyadari bahwa praktisi Falun Gong disebut-sebut menjadi sumber utama organ tersebut. Saat itu kami benar-benar merasa nyaris kehilangan dia. Jika ada kecocokan donor, mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi dengannya,” lanjutnya.
Ketika suaminya dipenjara, Zhang sendiri masuk dalam daftar buronan menurut penuturannya. Toko pakaian miliknya terpaksa ditutup, dan ia harus berpindah-pindah tempat tinggal bersama putranya yang masih kecil untuk menghindari penangkapan.
“Karena keyakinan saya, dalam semalam seluruh hidup saya berubah total. Saya hidup dalam ketakutan karena bisa ditangkap kapan saja. Secara ekonomi kami juga sangat kesulitan. Saya benar-benar merasa takut dan tidak berdaya.”
Ayahnya ditangkap, ibunya harus bersembunyi, sementara Wang Hao tumbuh dalam suasana penuh ketakutan.
Wang Hao mengatakan: “Saat saya masih kecil, ayah saya tidak ada, dan ibu saya juga sering tidak bersama saya. Berkat Falun Dafa, saya bisa bertahan dengan belajar ajarannya setiap hari.”
Di sekolah, ia juga menghadapi tekanan akibat materi yang menurutnya menjelekkan Falun Gong.
“Di sekolah kami terus menerima propaganda yang mendiskreditkan Falun Dafa. Selain itu, selalu ada risiko dikeluarkan dari sekolah. Ketika masih kecil, saya merasa sangat tertekan dan mengalami konflik batin.”
Bagi Zhang Lihong, ketika semua jalur pengaduan tertutup dan ia terus diburu aparat, muncul pilihan yang sulit: tetap diam atau terus menyuarakan keyakinannya meskipun berisiko ditangkap kembali.
Pada bagian berikutnya, akan diceritakan bagaimana Zhang Lihong dan keluarganya terus mempertahankan keyakinan mereka serta mencari kebenaran dan kebebasan di tengah berbagai tekanan.
Laporan NTD Television, Biro Vancouver, peliputan di Calgary, Kanada.


