Kelaparan dan Kurangnya Bantuan: Korban Banjir Mengungsi dari Rumah mereka di Guangxi, Tiongkok

Sejak awal Juli, banjir melanda berbagai wilayah di Tiongkok. Salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah adalah Hengzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok yang dilaporkan mengalami banyak korban jiwa dan kerusakan besar. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan banyak korban banjir kehabisan bahan makanan dan terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari makanan. Laporan ini juga menyatakan bahwa upaya bantuan yang dilakukan pemerintah dinilai tidak memadai oleh sebagian warga.

EtIndonesia.com Baru-baru ini, banjir besar yang dipicu oleh jebolnya tanggul dan bendungan di Guangxi menyebabkan korban jiwa serta kerusakan yang luas. Banyak penyintas kehilangan rumah dan harta benda mereka.

Seorang kreator konten lokal mengunggah video yang menunjukkan bahwa banyak warga harus berjalan melewati pegunungan untuk mencari makanan.

Seorang warga mengatakan: “Saya tidak pernah menyangka, di zaman sekarang kami masih harus menjalani kehidupan seperti pengungsi yang mencari makan dari satu tempat ke tempat lain. Warga dari belasan desa di belakang sana semuanya harus keluar karena seluruh persediaan makanan di desa sudah habis. Donasi jutaan yuan yang kalian kirim pun tidak pernah sampai kepada orang-orang di dalam. Jangan berharap bantuan bisa dikirim menggunakan drone atau teknologi canggih lainnya. Itu tidak mungkin.”

Warga lain berkata: “Di rumah sudah tidak ada makanan lagi. Kami tidak bisa keluar. Kalau tetap di sini, kami bisa mati kelaparan.”

Seorang warga lainnya menceritakan: “Kami hanya punya beras yang sebelumnya sudah terendam banjir. Kami mencucinya untuk membuang pasir dan kerikil, tetapi beras itu sudah berjamur. Bubur yang dimasak rasanya sudah asam.”

Ada pula seseorang yang mengaku mengunjungi langsung daerah terdampak. Menurutnya, ia tidak melihat pemandangan bantuan besar seperti yang diberitakan media pemerintah. Sebaliknya, ia melihat seorang perempuan lanjut usia memikul barang sambil memungut botol plastik dari tumpukan sampah untuk dijual.

Dalam video tersebut, warga mengatakan: “Jarak lurus ke bendungan hanya sekitar dua sampai tiga kilometer. Begitu banjir datang, kami langsung mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Kami sama sekali tidak memiliki persediaan makanan.”

Warga lain menambahkan:”Jalan baru bisa dilalui kemarin.”

Seorang warga berkata:”Dua hari pertama kami harus bertahan sendiri dan mencari jalan keluar sendiri.”

Warga lainnya mengatakan : “Kami minum air hujan.”

Laporan tersebut membandingkan tayangan media pemerintah yang memperlihatkan tumpukan besar bantuan dengan video yang direkam warga di lapangan. Menurut laporan ini, bantuan yang benar-benar diterima korban di lapangan disebut sangat terbatas, bahkan ada warga yang mengaku tidak menerima bantuan sama sekali.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa pemerintah PKT dituduh menutup informasi mengenai kondisi bencana dan jumlah korban. Menurut klaim sejumlah warga setempat, jumlah korban meninggal diperkirakan mencapai sedikitnya ribuan orang, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Seorang relawan yang mengaku pernah terlibat dalam operasi penyelamatan menulis di media sosial bahwa jumlah korban meninggal yang sebenarnya di Hengzhou kemungkinan akan menjadi “misteri sejarah.” Ada pula komentar yang menyebutkan bahwa banyak jenazah baru ditemukan setelah beberapa hari terendam banjir, sementara jumlah warga yang hilang disebut masih sangat banyak.

Seorang warga menggambarkan kondisi di lokasi : “Kedua sisi jalan dipenuhi tumpukan sampah dan mobil-mobil yang terbalik. Baunya sangat menyengat.”

Menurut laporan tersebut, lokasi yang mengalami kerusakan paling parah adalah kawasan Bendungan Liulan, yang mengalami kegagalan struktur. Disebutkan pula bahwa Southern Weekly (Nanfang Zhoumo) pernah menerbitkan laporan investigasi mengenai dugaan berbagai persoalan di balik jebolnya bendungan tersebut, namun artikel itu kemudian dihapus.

Laporan disusun oleh wartawan NTD Television, Guo Yuexi.

INSPIRASI ERABARU

Su Shi dalam Pengasingan: Makna “Meredakan Angin dan Gelombang”

Su Shi, salah satu penyair dan negarawan terkemuka Dinasti Song di Tiongkok, menulis beberapa karya paling abadi dalam hidupnya ketika menjalani pengasingan politik. Salah...

Bersyukur Tak Hanya Menenangkan Hati, tetapi Juga Membentuk Ulang Otak

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu otak mengembangkan rasa syukur yang bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik.Oleh Sarah Campise HallierKetika ayah Melissa meninggal secara tiba-tiba,...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine