oleh Xia Luoshan
Serangan berskala besar dengan menggunakan kendaraan lapis baja mekanis terhadap posisi musuh telah lama dianggap sebagai cara utama dalam berperang. Namun, Ukraina telah membuktikan bahwa model peperangan klasik ini sudah ketinggalan zaman. Upaya apa pun untuk memenangkan perang di Ukraina dengan mengulangi metode Perang Dunia II atau perang terakhir pada Perang Dingin hanya akan berujung pada proses trial and error. Sistem pertahanan drone Ukraina telah membuat sebagian besar teori peperangan lapis baja era 1980-an tidak layak pakai.
Serangan Lapis Baja Baru Angkatan Darat Rusia Mengalami Kekalahan Telak
Pada 22 Juli 2026, angkatan darat Rusia melancarkan serangan terbesarnya dalam beberapa bulan terakhir dengan mengumpulkan kendaraan perang unit-unit elit dari Korps Gabungan Senjata Garda ke-8 dan ke-41 serta Divisi Tank Garda ke-90, mengerahkan puluhan kendaraan lapis baja berat, kendaraan bergerak, dan peralatan teknik khusus, dalam upayanya untuk menerobos pertahanan Ukraina dari berbagai arah di dekat desa Shakhové, Donetsk. Untuk mendukung serangan ini, angkatan darat Rusia juga mengerahkan sistem peluncur roket ganda “Sarma” terbarunya dan sejumlah besar drone serang “Lancet” dan “Gerbera” untuk mendapatkan superioritas udara lokal.
Namun, serangan ini terdeteksi oleh jaringan pengintai Ukraina selama fase persiapannya. Angkatan Darat Azov ke-1 dari Garda Nasional Ukraina dan resimen sistem drone Phoenix yang terlibat dalam pertempuran sengit selama 4 jam, menggunakan ladang ranjau, artileri berpemandu presisi, dan drone FPV (First-person view, juga disebut video piloting) untuk menggagalkan serangan tersebut. Selain itu, Angkatan Udara Ukraina juga melakukan beberapa serangan udara untuk melumpuhkan upaya Rusia membangun jembatan ponton.
Pada akhirnya, tentara Rusia kehilangan 7 unit tank tempur utama, 6 unit kendaraan tempur infanteri, 47 unit kendaraan ringan, dan sistem peluncur roket multi-laras “Grad” dan “Sarma”. Operasi tersebut mengakibatkan sekitar 123 orang tentara Rusia kehilangan nyawa dan 29 orang mengalami luka-luka.
Gambar menunjukkan tank Rusia yang hancur di wilayah Kherson di Ukraina selatan pada 16 Februari 2023. (Oleksandr Gimanov/AFP/Getty Images)
Drone Ukraina Sedang Merombak Pola Medan Perang
Ini adalah contoh pertempuran klasik lain dari pasukan lapis baja yang menderita kekalahan telak di medan perang modern yang didominasi oleh drone. “Military Review” dari U.S. Army War College menunjukkan bahwa tercatat hingga pertengahan tahun 2025, drone telah menyumbang 70% hingga 80% kerusakan kendaraan lapis baja di medan perang.
Dalam lingkungan ini, area dalam radius sekitar 10 kilometer di kedua sisi garis kontak telah menjadi wilayah tak bertuan yang sesungguhnya, langit dipenuhi drone pengintai dan penyerang dari kedua belah pihak yang berkonfrontasi. Setiap target bergerak langsung dapat terdeteksi dan diserang oleh drone, sehingga tinggal sedikit kesempatan untuk bertahan hidup.
Dalam operasi ini, tentara Rusia mencoba menerobos pertahanan Ukraina dengan menggunakan taktik tradisional yaitu mengerahkan puluhan tank dan kendaraan tempur infanteri. Namun, pasukan lapis baja Rusia dapat dengan mudah terdeteksi oleh sistem intelijen, pengawasan, dan pengintaian Ukraina dari jarak puluhan kilometer dari garis kontak, masuk dalam jangkauan tembakan artileri dan kawanan drone bunuh diri, mengingat konteks jaringan sensor digital modern dan komunikasi satelit yang sudah semakin canggih.
Tentara Ukraina tidak perlu lagi mengambil risiko mengerahkan regu rudal anti-tank di front depan yang berbahaya, cukup dengan menempatkan beberapa orang operator drone di parit yang berjarak beberapa kilometer saja sudah mampu menimbulkan kerusakan fatal terhadap tank musuh yang bernilai jutaan dolar.
Medan perang yang dibuat sedemikian transparansi oleh drone Ukraina sehingga meningkatkan kemampuan serangan udara ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menyebabkan pasukan lapis baja Rusia kehilangan keunggulan taktis tradisional, unsur kejutan dan fleksibilitas taktis yang mereka miliki.
Gambar menunjukkan seorang tentara Ukraina sedang mengoperasikan drone di parit dekat garis depan. (Genya Savilov/AFP/Getty Images)
Jumlah Tank Menurun, Pilihan Militer Rusia Berkurang, Tentara Terpaksa Jadi Sasaran Tembak Hidup
Tentara Rusia tentu menyadari risiko melancarkan serangan lapis baja di medan perang modern yang didominasi drone. Tetapi mengapa mengambil risiko dengan mengetahui konsekuensinya? Hal ini terjadi selain tekanan internal dan kesulitan komando yang berasal dari kurangnya terobosan taktis yang signifikan oleh pasukan garis depan Rusia, berkurangnya pilihan taktis yang tersedia bagi militer Rusia juga merupakan faktor yang berkontribusi.
Pertama, meskipun senjata berpemandu jarak jauh seperti rudal balistik, rudal jelajah, bom luncur, dan drone ini mampu menghasilkan beberapa efek taktis, namun biayanya sangat mahal. Selain itu sebagian besar dari mereka dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara, bahkan jika mereka menyebabkan kerusakan pada fasilitas darat, mereka hanya berfungsi untuk mendukung serangan darat dan melemahkan perlawanan musuh. Mereka tidak sama dengan kemajuan darat di medan perang yang sesungguhnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, militer Rusia sering menggunakan taktik infiltrasi skala kecil, terkadang hanya melibatkan segelintir personel. Strategi mereka adalah merebut wilayah-wilayah kunci dengan memintasi benteng-benteng utama Ukraina, secara bertahap mengendalikan area yang luas, dan mencoba untuk mempertahankannya. Namun, serangan-serangan ini jauh lebih sering gagal daripada berhasil, mengakibatkan korban jiwa yang tinggi di pihak Rusia. Bahkan ketika unit-unit kecil berhasil menerobos garis depan, mereka seringkali mendapati diri mereka terjebak masuk daerah terisolasi yang tanpa dukungan.
Infiltrasi dengan pasukan yang tersebar sulit untuk mencapai terobosan taktis, sementara operasi dengan mengerahkan kendaraan lapis baja dalam jumlah besar rentan terhadap korban jiwa yang besar. Untuk mengatasi lingkungan medan perang yang ekstrem ini, militer Rusia terpaksa melakukan penyesuaian taktis. Mereka mulai secara drastis mengurangi frekuensi operasi lapis baja, dan sebagai gantinya mengandalkan kelompok penyerang infanteri kecil dan kendaraan ringan yang sangat mobile seperti sepeda motor dan kendaraan segala medan.
Namun, kompromi ini juga penuh dengan kelemahan fatal. Meskipun kendaraan off-road ringan, memiliki kecepatan tinggi, dan kurang terpantau oleh musuh, tetapi mereka nyaris tidak dilindungan oleh kendaraan lapis baja. Sehingga ketika para prajurit ini mencoba menyeberangi “zona kematian” sepanjang 5-15 kilometer, mereka tetap menjadi sasaran empuk bagi drone Ukraina.
Andriy Kovalenko, kepala Pusat Anti-Disinformasi Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, mengkonfirmasi hal ini. Ia mengatakan bahwa serangan dengan mengabaikan perlindungan lapis baja pada dasarnya sama dengan melemparkan para prajurit Rusia langsung ke dalam mesin penggiling daging.
Pergeseran taktis ini menunjukkan bahwa komando garis depan Rusia sangat menyadari biaya serangan dengan kendaraan lapis baja berbiaya tinggi, tetapi karena tekanan dari komando yang lebih tinggi, mereka tidak dapat menemukan alternatif yang lebih baik untuk mempertahankan momentum serangan, sehingga tidak punya pilihan selain menggunakan darah dan daging infanteri untuk menguras amunisi drone Ukraina.
Kegagalan operasi Rusia pada 22 Juli tahun ini adalah harga yang tak terhindarkan yang harus dibayar karena ingin segera memecah kebuntuan.
Biaya Persenjataan Asimetris antara Ukraina dan Rusia Membalikkan Logika Tradisional Perang Gesekan
Rekaman video menunjukkan bahwa pasukan drone Ukraina telah mulai secara luas melengkapi diri mereka dengan sistem intersepsi yang dilengkapi dengan kemampuan pelacakan otomatis, memungkinkan mereka untuk secara otomatis mengunci target lapis baja Rusia di lingkungan interferensi elektromagnetik yang kompleks. Bahkan sistem radar yang mahal pun kesulitan untuk secara efektif mendeteksi dan mencegat target kecil yang terbang rendah ini.
Operator drone Ukraina bahkan telah menguasai taktik terkoordinasi yang canggih: pertama, mengerahkan sebuah drone untuk menghancurkan rantai roda tank untuk mengurangi kemampuan bergeraknya, kemudian mengerahkan beberapa drone untuk menyerang area rentan di bagian atas kendaraan hingga target hancur sepenuhnya.
Analisis menunjukkan bahwa biaya pembuatan tank tempur utama modern biasanya bisa mencapai jutaan dolar, sementara drone serang yang mampu menghancurkan atau melumpuhkan tank lawan hanya berharga beberapa ribu dolar. Asimetri biaya yang mencolok ini membalikkan logika tradisional tentang perang gesekan. Target produksi Ukraina untuk tahun 2025 adalah 4,5 juta unit drone FPV, yang berarti bahwa setiap tank Rusia di garis depan bakal menghadapi ancaman ratusan atau ribuan unit drone yang memburunya. Hal ini membuat serangan berskala besar dengan kendaraan lapis baja menjadi bencana.
Namun, ini bukan berarti akhir dari pasukan lapis baja. Peperangan lapis baja di masa depan tidak dapat lagi kembali ke model era Perang Dingin yang mengandalkan terobosan tank dalam skala besar. Yang benar-benar menjadi usang bukanlah tank itu sendiri, melainkan kendaraan serbu lapis baja tradisional yang tidak memiliki drone, kemampuan peperangan elektronik, daya tembak pertahanan udara, dan dukungan intelijen.
Pasukan lapis baja di masa depan mungkin akan berevolusi menjadi sistem tempur yang sangat terintegrasi antara platform berawak dan tanpa awak, tetapi setidaknya pada tahap saat ini, pasukan lapis baja Rusia masih kurang mampu bertahan di medan perang yang transparan dan kemampuan untuk menembus pertahanan Ukraina.
Kegagalan ini Tidak Tepat Waktu, Putin Sedang Bersiap Memperluas Kekuatan Pasukan
Pada 27 Juli 2026, Putin menandatangani Dekrit Presiden No. 526 yang efektif mulai 1 Agustus, untuk meningkatkan kekuatan resmi Angkatan Bersenjata Rusia menjadi 2.426.130, termasuk 1.535.000 personel militer. Ekspansi ini melanjutkan model perekrutan beberapa tahun terakhir, yang terutama mengandalkan tentara kontrak, sukarelawan, dan insentif ekonomi, di antaranya personel militer akan bertambah sebanyak 25.000 orang.
Hal yang perlu dicatat bahwa pada saat yang sama perintah dikeluarkan, Presiden Ukraina Zelensky memperingatkan dalam sebuah wawancara media bahwa intelijen Ukraina meyakini bahwa Putin mungkin akan meluncurkan putaran baru mobilisasi personel besar-besaran setelah pemilihan Duma Negara pada bulan September tahun ini, yang berpotensi melibatkan 300.000 hingga 500.000 orang. Jika penilaian ini akurat, maka ekspansi organisasi militer Rusia yang tercermin dalam Perintah No. 526 dapat diinterpretasikan sebagai dukungan Moskow terhadap mobilisasi skala besar.
Namun, peningkatan jumlah pasukan tidak secara langsung berarti momentum maju bagi pasukan garis depan. Jika para rekrutan baru ini tidak dapat menerima perlindungan lapis baja yang efektif, dukungan artileri, dan pertahanan udara yang andal, mengirim mereka ke garis depan hanya akan meningkatkan jumlah korban jiwa. Serangan lapis baja tentara Rusia, yang melibatkan beberapa kelompok tentara, telah dihancurkan sepenuhnya oleh pasukan Ukraina dalam waktu 4 jam. Jadi hanya dengan meningkatkan jumlah infanteri hanya akan meningkatkan potensi jumlah korban jiwa.
Kegagalan menjelang perluasan pasukan merupakan kejadian yang tidak tepat waktu, dan menyoroti kesulitan yang dihadapi tentara Rusia saat ini. Setiap operasi darat yang berupaya merebut wilayah Ukraina telah berubah menjadi pembantaian berdarah, dan angka korban jiwa yang terus meningkat sangat merusak moral pasukan garis depan Rusia. Rencana wajib militer apa pun saat ini dapat memicu ketidakpuasan publik dan berpotensi menimbulkan kebencian terhadap rezim Putin.
Ketika Putin memanggil 300.000 pasukan cadangan pada musim gugur tahun 2022, protes meletus di seluruh Rusia, menyebabkan puluhan ribu orang warga Rusia kabur dari negara itu. Karena situasi perang saat ini lebih tidak populer daripada pada tahun 2022, dapat dipastikan bahwa reaksi publik Rusia lebih keras. (***)


