EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Pada Senin, 28 September 2026, laporan mengenai serangan baru Iran terhadap wilayah Kurdistan Irak mulai beredar, menambah panjang daftar titik konflik yang melibatkan Teheran di kawasan. Erbil dan Koya disebut menjadi dua lokasi yang berada dalam ancaman serangan rudal maupun pesawat nirawak.
Perkembangan tersebut terjadi ketika hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel masih berada dalam kondisi sangat tegang. Pada saat yang hampir bersamaan, pernyataan keras dari pejabat senior militer Iran terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga kembali menjadi perhatian.
Situasi ini memperlihatkan dua wajah yang berbeda dari pesan yang keluar dari Teheran. Di satu sisi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara mengenai diplomasi dan membantah bahwa pemerintahannya berniat membunuh Trump. Namun di sisi lain, pejabat militer Iran mengeluarkan ancaman bahwa Trump dan Netanyahu pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.
Serangan Baru Dilaporkan Mengarah ke Kurdistan Irak
Pada 28 September 2026, sejumlah laporan menyebut Iran kembali melancarkan serangan ke wilayah Kurdistan Irak. Erbil disebut menghadapi ancaman serangan rudal, sementara kawasan Koya dilaporkan menjadi sasaran pesawat nirawak, termasuk drone jenis Shahed.
Namun, hingga laporan ini disusun, rincian mengenai gelombang serangan pada 28 September tersebut—termasuk jumlah proyektil, sasaran persis, kerusakan, dan kemungkinan korban—belum terkonfirmasi secara lengkap melalui sumber independen. Karena itu, informasi mengenai serangan terbaru tersebut masih perlu diperlakukan sebagai perkembangan yang terus bergerak.
Yang jelas, Kurdistan Irak memang telah berulang kali menjadi sasaran operasi Iran.
Pada Februari dan Maret 2026, kelompok-kelompok oposisi Kurdi Iran yang bermarkas di Irak utara melaporkan serangkaian serangan rudal dan drone Iran terhadap posisi mereka. Pada awal Maret, serangan terhadap wilayah Erbil dan Sulaimaniyah dilaporkan meningkat dan menimbulkan korban.
Dengan demikian, laporan serangan pada 28 September bukan muncul tanpa konteks. Wilayah Kurdistan Irak telah menjadi salah satu titik sensitif dalam konflik antara Iran dan kelompok-kelompok oposisi Kurdi Iran yang beroperasi dari seberang perbatasan.
Mengapa Koya Begitu Penting?
Koya terletak sekitar 60 kilometer di sebelah timur Erbil dan sejak lama dikenal sebagai salah satu lokasi keberadaan kelompok oposisi Kurdi Iran.
Wilayah ini bahkan pernah mengalami serangan besar pada 28 September 2022, tepat empat tahun sebelum perkembangan terbaru. Ketika itu, Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah lokasi di Kurdistan Irak, termasuk Koya. Sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka.
Catatan Airwars mengenai serangan 28 September 2022 juga menyebut serangan berlangsung di sejumlah lokasi, termasuk Koya, wilayah Erbil, Zargwez dan Altun Kupri.
Iran selama bertahun-tahun menuduh kelompok oposisi Kurdi yang bermarkas di Irak utara menggunakan wilayah tersebut untuk melakukan kegiatan melawan pemerintah Iran. Sebaliknya, serangan lintas perbatasan Iran berulang kali menimbulkan persoalan mengenai kedaulatan Irak dan keselamatan warga sipil.
Karena latar belakang tersebut, setiap peningkatan aktivitas militer Iran di sekitar Koya dan Erbil langsung mendapatkan perhatian besar.
Pesawat Tempur Amerika Menjadi Lapisan Pertahanan Penting
Perkembangan lain yang menjadi perhatian adalah perubahan konfigurasi pertahanan udara Amerika Serikat di Kurdistan Irak.
Amerika sebelumnya memiliki sistem pertahanan udara berbasis darat, termasuk Patriot, untuk membantu melindungi pasukannya dari serangan rudal dan drone. Namun menjelang tenggat penarikan pasukan pada 30 September 2026, sistem Patriot Amerika dilaporkan telah direlokasi dari wilayah Kurdistan.
Situasi tersebut menciptakan tantangan baru.
Apabila serangan drone Iran kembali meningkat, pesawat tempur Amerika dapat memainkan peran lebih besar dalam menghadapi ancaman udara, terutama terhadap sasaran yang berpotensi membahayakan personel dan fasilitas Amerika.
Drone seperti Shahed menjadi ancaman serius karena dapat terbang dalam jarak jauh dan digunakan untuk menyerang sasaran tetap. Iran juga telah lama mengembangkan berbagai jenis pesawat nirawak sebagai bagian penting dari strategi militernya.
Karena itu, meningkatnya aktivitas drone di Irak utara berpotensi membuat ruang udara kawasan tersebut semakin berbahaya.
Pezeshkian: Iran Tidak Berniat Membunuh Trump
Di tengah perkembangan militer tersebut, perhatian juga tertuju pada pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama kunjungannya ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada Kamis, 24 September 2026, sehari setelah pidatonya di Majelis Umum PBB, Pezeshkian bertemu dengan sejumlah wartawan di Millennium Hilton, dekat markas besar PBB.
Dalam pertemuan itu, ia secara terbuka membantah tuduhan bahwa pemerintah Iran berniat membunuh Donald Trump.
Menurut Pezeshkian, upaya membunuh Trump atau anggota keluarganya tidak pernah menjadi posisi resmi maupun kebijakan tersembunyi pemerintah Iran.
Pernyataan tersebut penting karena Washington sebelumnya telah berulang kali menuduh Iran atau aktor yang terkait dengan Teheran merencanakan aksi balas dendam terhadap pejabat Amerika.
Pezeshkian pada saat yang sama berusaha menampilkan Iran sebagai pihak yang masih membuka pintu diplomasi. Dalam pidatonya di PBB pada 23 September 2026, ia mengatakan Iran siap melakukan dialog dan perundingan, tetapi menolak apa yang disebutnya sebagai tekanan melalui kekuatan militer.
Namun tidak lama kemudian, muncul pesan berbeda dari jajaran militer Iran.
Jenderal Iran Mengeluarkan Ancaman terhadap Trump dan Netanyahu
Juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, menyampaikan pernyataan keras terhadap Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Laporan mengenai pernyataan Shekarchi diterbitkan pada 26 September 2026. Ia mengatakan bahwa Iran tidak akan begitu saja melupakan Trump dan Netanyahu bahkan apabila perang berakhir. Ia menyebut keduanya akan menghadapi konsekuensi atas tindakan mereka.
Pernyataan itu segera mendapatkan perhatian karena muncul hanya beberapa hari setelah Pezeshkian mengatakan pemerintah Iran tidak memiliki kebijakan untuk membunuh Trump.
Meski demikian, kedua pernyataan tersebut tidak otomatis berarti kebijakan resmi Iran telah berubah. Pernyataan politik presiden dan retorika pejabat militer dapat memiliki konteks serta tujuan berbeda. Karena itu, ucapan Shekarchi lebih tepat dipahami sebagai ancaman terbuka dari seorang pejabat militer senior, bukan sebagai bukti bahwa operasi pembunuhan tertentu telah diperintahkan.
Tetapi dalam situasi perang, perbedaan nada semacam ini tetap memiliki konsekuensi serius.
Diplomasi Berjalan di Tengah Ancaman Militer
Semua perkembangan tersebut terjadi ketika Iran dan Amerika Serikat masih berusaha mencari kemungkinan jalan keluar diplomatik.
Pada 22 September 2026, Trump dalam pidatonya di Majelis Umum PBB mengeluarkan ancaman sangat keras terhadap Iran apabila kesepakatan tidak tercapai. Pada saat bersamaan, ia juga memberikan sinyal bahwa penyelesaian melalui perundingan masih mungkin dilakukan.
Iran sendiri telah menawarkan skema yang antara lain berkaitan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz. Teheran menyatakan bersedia mengambil langkah tersebut apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Artinya, situasi saat ini memperlihatkan kontradiksi yang sangat tajam.
Di meja diplomasi, kedua pihak masih membicarakan kemungkinan penyelesaian. Namun di lapangan, aktivitas militer dan retorika ancaman tetap berlangsung.
Irak Utara Bisa Menjadi Titik Konflik Berikutnya
Perhatian kini tertuju pada Kurdistan Irak.
Apabila laporan mengenai serangan baru Iran pada 28 September 2026 terkonfirmasi secara lebih lengkap dan operasi semacam itu berlanjut, Irak utara berisiko kembali menjadi salah satu arena penting dalam konflik regional.
Masalahnya bukan hanya hubungan antara Iran dan kelompok oposisi Kurdi.
Keberadaan kepentingan Amerika Serikat di Kurdistan Irak membuat setiap rudal atau drone yang melintas membawa risiko salah perhitungan. Apabila serangan mengancam pasukan atau fasilitas Amerika, Washington dapat menghadapi tekanan untuk merespons.
Pada saat yang sama, berkurangnya sistem pertahanan udara berbasis darat Amerika menjelang penarikan pasukan membuat pesawat tempur dapat memikul tanggung jawab lebih besar untuk menghadapi ancaman dari udara.
Karena itu, perkembangan di Erbil dan Koya tidak dapat dipandang sebagai insiden lokal semata.
Pada 28 September 2026, Timur Tengah kembali menghadapi situasi yang sangat rapuh: serangan lintas perbatasan dilaporkan terjadi di Kurdistan Irak, aktivitas drone menjadi perhatian, pesawat tempur Amerika berada dalam kesiagaan, sementara pejabat senior militer Iran secara terbuka mengeluarkan ancaman terhadap Trump dan Netanyahu.
Di tengah semuanya, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Namun selama operasi militer dan retorika ancaman terus berjalan bersamaan dengan negosiasi, risiko salah perhitungan tetap tinggi. Satu serangan yang mengenai sasaran sensitif, satu drone yang memasuki wilayah yang dijaga Amerika, atau satu keputusan pembalasan dapat mengubah ketegangan yang saat ini masih terbatas menjadi konfrontasi yang jauh lebih luas. (***)


