EtIndonesia.com Penurunan angka kelahiran secara drastis terus memberikan dampak terhadap daratan Tiongkok. Dahulu, para orangtua rela “berebut mati-matian” untuk mendapatkan tempat di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar yang dianggap unggulan. Namun kini, akibat jumlah anak usia sekolah yang terus menyusut, banyak TK dan sekolah dasar terpaksa ditutup atau digabungkan.
Menurut angka dalam Statistical Bulletin on the Development of National Education in 2025 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Partai Komunis Tiongkok, jumlah anak yang terdaftar di TK di seluruh Tiongkok pada 2025 mencapai 32,2552 juta, turun sekitar 10% dibandingkan 2024, atau berkurang sebanyak 3,5847 juta anak.
Sejak 2022, jumlah TK di seluruh Tiongkok juga terus menurun. Dalam periode 2022 hingga 2025, jumlahnya secara kumulatif berkurang sekitar 57.300 TK, atau turun sekitar 19,8%.
Pada 2025 saja, jumlah TK di seluruh Tiongkok berkurang 21.400 dibandingkan 2024. Artinya, rata-rata hampir 59 TK tutup setiap hari.
Zhu Lin (nama samaran), kepala TK: “Selama tiga tahun pandemi, saya berhasil bertahan. Tetapi saya tidak mampu bertahan menghadapi penurunan angka kelahiran yang begitu drastis. Jumlah anak turun dari beberapa ratus menjadi hanya beberapa puluh.”
Xiao Peng (nama samaran), seorang orang tua di Maoming, Guangdong, mengatakan bahwa sejumlah TK di daerah tersebut sudah tutup.
Xiao Peng (nama samaran), orang tua di Maoming, Guangdong: “Sekarang angka kelahiran sangat rendah. Banyak TK sudah tutup karena tidak mendapatkan murid. Orang-orang sudah tidak mau punya anak. Semakin banyak TK yang tutup, dan sekolah dasar juga mulai tutup.”
Gao Feng (nama samaran), warga Linyi, Shandong, berpendapat bahwa sedikitnya jumlah kelahiran anak merupakan penyebab langsung banyaknya TK dan sekolah yang ditutup atau digabungkan.
Gao Feng (nama samaran), warga Linyi, Shandong: “Di depan kompleks perumahan kami ada sebuah TK yang sudah tutup sejak dua tahun lalu. Dengan kondisi seperti sekarang, siapa yang masih mau punya anak? Kaum muda sudah memahami kenyataannya.”
“Banyak yang tidak memiliki pekerjaan yang baik, sehingga tidak ingin punya anak. Berikutnya mungkin sekolah menengah dan universitas. Secara bertahap, seperti efek domino, semuanya akan ikut ditutup.”
Pada saat yang sama, penerimaan murid baru di sekolah dasar juga menghadapi kesulitan. Jumlah sekolah yang digabungkan atau ditutup terus meningkat.
Menurut data Dinas Pendidikan Provinsi Jiangxi, pada awal tahun ajaran musim gugur 2024, Jiangxi telah melakukan restrukturisasi dan penggabungan terhadap 5.943 sekolah yang memiliki sekitar 100 siswa atau kurang. Sementara itu, Kabupaten Tongxin, Ningxia, juga menggabungkan 43 sekolah dasar pada 2025.
Sekolah negeri tempat anak Xiao Peng bersekolah tahun ini hanya menerima lebih dari 20 murid baru.
Xiao Peng (nama samaran), orang tua di Maoming, Guangdong: “Anak saya yang kecil masuk kelas satu dan hanya ada satu kelas. Anak saya yang lebih besar dulu ada dua kelas. Ketika anak saya yang besar masuk kelas satu, ada dua kelas dengan lebih dari 100 siswa.”
“Sekarang kelas satu hanya satu kelas, dengan lebih dari 30 siswa. Saya dengar tahun ini yang diterima hanya lebih dari 20 anak, bahkan belum cukup untuk satu kelas, tetapi kelasnya tetap harus dibuka.”
Gao Feng mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelahiran telah turun secara signifikan. Jumlah anak di kompleks perumahannya jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
“Dulu kalau keluar bermain, di kompleks perumahan selalu terlihat banyak orang yang mengasuh anak. Sekarang ketika keluar, hampir tidak terlihat anak-anak. Kalau melihat satu anak saja, rasanya sudah sangat langka,” pungkasnya.
Laporan NTDTV oleh wartawan Hong Ning dan Zhou Tian.


