Menkeu AS Scott Bessent: Jika Beijing dan Negara Lain Tidak Memutus Hubungan dengan Iran, Mereka Akan Menghadapi Konsekuensi

EtIndonesia.com  Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent pada Senin (24 Agustus), saat mengumumkan sanksi bersejarah AS terhadap Iran, mengatakan bahwa jika Beijing dan negara-negara lain tidak memutuskan hubungan dengan Iran, mereka akan menghadapi konsekuensi.

 “Setiap negara dan setiap entitas harus memahami bahwa mereka harus bersiap menghadapi sanksi Amerika Serikat. Tidak seorang pun berada di atas sanksi. Kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak. Ini akan menjadi pencekikan ekonomi terhadap rezim tersebut,” katanya. 

Ketika wartawan secara khusus menanyakan apakah Bank of China termasuk dalam sasaran sanksi kali ini, Bessent memberikan jawaban tegas.

Bessent:  “Jika mereka memfasilitasi transaksi atau berada dalam sistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, yang pada akhirnya digunakan untuk melakukan penindasan, mereka akan menjadi sasaran sanksi.”

Bessent juga mengatakan bahwa pada akhir pekan ini kemungkinan akan diumumkan sanksi besar terhadap lembaga-lembaga keuangan.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan jalur diplomatik untuk mengidentifikasi satu per satu negara yang selama ini memberikan dukungan finansial kepada Iran.

 “Kami tahu siapa mereka, dan mereka sendiri juga tahu. Jadi, ketika palu sanksi Departemen Keuangan AS jatuh kepada mereka, mereka hanya bisa menyalahkan diri sendiri,” ujarnya. 

Menghadapi sanksi Amerika Serikat, para pejabat tinggi Iran menunjukkan sikap yang sangat berbeda.

Menteri Ekonomi dan Keuangan Iran Ali Madanizadeh pada Senin mengatakan bahwa Iran telah menyusun rencana selama dua tahun dan telah melakukan persiapan yang memadai untuk menghadapi sanksi baru yang diumumkan AS. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci apa saja rencana tersebut.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini menyatakan dukungannya terhadap nota kesepahaman gencatan senjata yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat dua bulan lalu, meskipun nota tersebut kini telah berakhir masa berlakunya.

Menurut perkembangan terbaru, Menteri Dalam Negeri Pakistan pada Selasa (25 Agustus), setelah mengakhiri kunjungannya ke Teheran, mengatakan bahwa pembicaraan tersebut menghasilkan “kemajuan signifikan.” Kedua pihak masih menilai bahwa menghidupkan kembali nota kesepahaman tersebut dapat membantu membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang di kawasan.

Terlepas dari perbedaan sikap para pemimpin Iran, tingkat inflasi tahunan Iran pada Juli mencapai 88%. Mata uang Iran, rial, juga baru-baru ini merosot ke titik terendah sepanjang sejarah, dengan 2 juta rial hanya setara dengan 1 dolar AS.

Presiden Donald Trump pada Senin menulis bahwa “Iran berada di ambang keruntuhan ekonomi dan militer secara bersamaan.”

Laporan gabungan wartawan NTDTV Li Mei dan Chen Qian.

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine