Kamar Mayat di Nepal Penuh Akibat Banjir Bandang, Jenazah Membusuk, Petugas di Garis Depan Nyaris Kolaps 

EtIndonesia.com  Banjir dahsyat melanda kawasan perbatasan Tiongkok-Nepal dan sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 1.000 orang, sementara ribuan lainnya masih hilang. Pemerintah Nepal telah melancarkan operasi penyelamatan darurat sekaligus pencarian dan evakuasi jenazah.

Karena banyak korban telah terendam air selama berhari-hari, kondisi jenazah membusuk parah dan sulit dikenali. Kamar-kamar mayat di daerah terdampak sudah penuh, sehingga pihak berwenang berencana menerapkan prosedur pemakaman darurat untuk menangani jenazah yang belum teridentifikasi.

Menurut data yang diumumkan National Disaster Risk Reduction and Management Authority (NDRRMA) Nepal, hingga pukul 18.00 waktu setempat pada 31 Agustus, jumlah korban meninggal telah mencapai 939 orang, sebanyak 11.379 orang berhasil diselamatkan, sementara jumlah orang yang masih hilang mencapai 3.925 orang.

Setelah banjir terjadi, Nepal mengerahkan 21.008 personel, yang terdiri dari pasukan bersenjata, polisi, dan militer. Infrastruktur telekomunikasi juga pada dasarnya telah kembali beroperasi. Selain itu, 37 truk, 37 kendaraan van, dan 9 helikopter digunakan untuk mengirimkan makanan serta bantuan ke wilayah terdampak. Pemerintah Nepal menyatakan bahwa prioritas utama saat ini tetap menyelamatkan korban dan menyediakan tempat penampungan bagi para pengungsi.

Menurut laporan The Kathmandu Post pada 30 Agustus, banyak korban terseret dari pusat bencana di Rasuwa hingga puluhan kilometer ke hilir, mencapai Nuwakot. Sebagian korban terkubur di bawah lumpur, pasir, dan reruntuhan, sementara sebagian jenazah ditemukan dalam kondisi tidak utuh atau bahkan hancur.

Karena kamar mayat rumah sakit dan fasilitas penyimpanan jenazah sementara sudah penuh, jenazah mulai membusuk. Pihak berwenang kini berusaha mengumpulkan dan menyimpan DNA serta data identifikasi lainnya sebelum melakukan pemakaman darurat.

Menurut hukum Nepal, ketika kapasitas kamar mayat tidak mencukupi, jenazah yang belum teridentifikasi dapat diberi nomor dan dicatat sebelum dimakamkan. Namun, sebelumnya harus dilakukan pengambilan sampel DNA, sidik jari, serta dokumentasi wajah dan ciri-ciri fisik lainnya. Foto-foto tersebut disimpan agar nantinya dapat digunakan untuk mencocokkan identitas apabila keluarga datang untuk mencari anggota keluarganya yang hilang.

Wakil Inspektur Jenderal Polisi Nepal sekaligus juru bicara kepolisian, Abi Narayan Kafle, mengatakan bahwa jarak yang jauh dari lokasi awal akibat jenazah terseret banjir membuat proses identifikasi menjadi sangat sulit.

Kafle mengatakan, dari 669 jenazah yang telah ditemukan, 211 di antaranya tidak utuh, bahkan sebagian mengalami kerusakan parah. Kondisi tersebut membuat identifikasi berdasarkan penampilan fisik menjadi sangat sulit. Banyak jenazah juga terkubur di bawah lumpur tebal selama dua hingga tiga hari.

Saat ini, seluruh kamar mayat di berbagai wilayah sepanjang Sungai Narayani telah penuh. Seorang pejabat senior kepolisian Nepal mengatakan bahwa di sejumlah daerah, pihak berwenang terpaksa melakukan pemakaman untuk mencegah situasi berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa prioritas utama polisi adalah memastikan setiap korban dapat dikembalikan kepada keluarganya. Namun, jika identitas korban sudah tidak dapat dipastikan melalui pemeriksaan fisik dan jenazah mulai membusuk dengan cepat, sampel DNA harus terlebih dahulu diambil, kemudian jenazah akan dimakamkan secara layak dan bermartabat.

Menurut laporan Reuters, Rumah Sakit Bharatpur telah menerima begitu banyak jenazah sehingga bau busuk akibat pembusukan sudah tercium dari gerbang rumah sakit, sekitar 200 meter dari kamar mayat sementara. Kamar mayat rumah sakit tersebut awalnya hanya mampu menampung 50 jenazah, tetapi kini sekitar 125 jenazah terbaring di sana.

Setelah terendam banjir selama berhari-hari, sebagian besar jenazah mengalami pembusukan parah. Sekitar 50 polisi dan tenaga medis yang bekerja di lokasi sebagian besar hanya mengenakan masker bedah biasa.

Sebuah bangunan tua di samping pusat pameran juga diubah menjadi kamar mayat sementara. Di dalamnya, kantong-kantong jenazah memenuhi tempat tidur susun. Untuk memperlambat pembusukan akibat suhu panas, es kering ditumpuk di dekat pintu, sementara AC dan unit pendingin industri beroperasi selama 24 jam. Pos layanan Palang Merah dan kepolisian didirikan di luar. Meskipun dupa dibakar untuk berusaha mengurangi bau, hasilnya tetap terbatas.

Petugas kepolisian Anil Thapa, yang bertanggung jawab menangani jenazah, mengatakan bahwa jenazah membusuk dengan sangat cepat. Dari korban yang telah ditemukan sejauh ini, lebih dari separuh sudah tidak dapat diidentifikasi.

Jumlah korban yang sangat besar juga memberikan tekanan luar biasa kepada para petugas di garis depan. Thapa mengaku setiap hari harus menghadapi banyak jenazah yang telah mengalami pembusukan parah.

“Begitu saya datang ke sini untuk bekerja, saya sama sekali tidak bisa makan. Bukan hanya tidak bisa makan, bahkan saya tidak ingin minum air.”

Laporan tersebut menyebutkan bahwa sekitar 200 kilometer dari lembah di Distrik Rasuwa, pihak berwenang telah menggali ratusan liang kubur untuk mempersiapkan pemakaman massal jenazah.

“Kami tidak punya pilihan lain dan harus mengambil langkah ini. Pembusukan jenazah yang berlangsung cepat menimbulkan risiko besar bagi kesehatan masyarakat. Itulah pertimbangan terbesar kami,” kata Ganesh Aryal, Kepala Administrasi Distrik Chitwan.

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine