G20 Memanas! AS Disebut Bentuk ‘19 Lawan 1’, Tiongkok Terpojok Sendirian?

EtIndonesia.com  Pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 yang disebut berlangsung di Amerika Serikat pada akhir Agustus hingga awal September 2026 menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai perbedaan tajam antara Washington dan Beijing. Pertemuan tersebut diklaim bukan hanya membahas persoalan ekonomi global, tetapi juga berkembang menjadi arena pertarungan kepentingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam berbagai laporan yang beredar, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent digambarkan memainkan peran penting dalam menentukan arah pembicaraan. Washington disebut berusaha membawa G20 menuju pendekatan baru: tidak lagi semata-mata berfokus pada upaya mengisolasi Rusia akibat perang di Ukraina, tetapi juga memberikan perhatian lebih besar terhadap kebijakan perdagangan dan kapasitas industri Tiongkok.

Perubahan arah tersebut menjadi menarik karena berlangsung ketika hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih menghadapi tekanan besar.

Rusia Kembali Dilibatkan

Salah satu langkah yang paling menarik perhatian adalah laporan mengenai keterlibatan kembali perwakilan Rusia dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022, hubungan Moskow dengan Amerika Serikat dan sebagian besar negara Eropa mengalami kemerosotan drastis. Rusia menghadapi berbagai sanksi ekonomi, pembatasan finansial, serta tekanan diplomatik.

Karena itu, apabila benar Washington membuka kembali ruang yang lebih besar bagi Rusia dalam forum ekonomi tersebut, keputusan itu akan mempunyai arti politik yang cukup penting.

Sejumlah negara Eropa disebut menyampaikan keberatan. Namun, menurut narasi yang berkembang, pemerintahan Amerika Serikat tetap mempertahankan pendekatannya.

Strateginya dapat dibaca dari dua sisi.

Di satu sisi, Amerika Serikat masih mempunyai kepentingan dalam perang Rusia-Ukraina dan masa depan keamanan Eropa. Di sisi lain, Washington juga berkepentingan membuka jalur diplomatik yang dapat membantu mendorong terciptanya penyelesaian konflik.

Dalam konteks yang lebih luas, Amerika Serikat pada saat bersamaan memandang persaingan dengan Tiongkok sebagai persoalan strategis jangka panjang yang jauh melampaui satu konflik regional.

Persaingan tersebut mencakup perdagangan, teknologi, semikonduktor, rantai pasokan, energi, kecerdasan buatan, hingga pengaruh geopolitik.

Dengan latar belakang itulah muncul penilaian bahwa Washington sedang berusaha mengubah prioritas pembicaraan di G20.

Tiga Persoalan Memicu Perdebatan

Ketegangan kemudian disebut semakin meningkat ketika sejumlah isu sensitif dimasukkan ke dalam pembahasan.

Setidaknya terdapat tiga persoalan yang diklaim menjadi sumber perbedaan besar.

Pertama adalah keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Persoalan Hormuz menjadi sangat sensitif karena jalur tersebut merupakan salah satu koridor energi terpenting dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat memengaruhi pasokan minyak, biaya pengiriman, premi asuransi kapal, hingga harga energi internasional.

Isu kedua adalah ketidakseimbangan perdagangan global.

Washington sejak lama menyoroti besarnya surplus perdagangan Tiongkok dan menilai struktur perdagangan semacam itu dapat menciptakan tekanan terhadap industri negara lain.

Isu ketiga adalah persoalan kelebihan kapasitas produksi atau overcapacity.

Amerika Serikat berpendapat bahwa kemampuan produksi Tiongkok yang sangat besar dalam sejumlah sektor dapat menghasilkan barang dalam jumlah jauh melampaui kebutuhan domestiknya. Barang tersebut kemudian memasuki pasar internasional dengan harga yang sangat kompetitif.

Dari sudut pandang Beijing, kemampuan menghasilkan barang dengan harga rendah dapat dilihat sebagai hasil efisiensi industri dan daya saing manufaktur.

Namun bagi Washington dan sejumlah negara lain, masuknya produk murah dalam jumlah sangat besar dapat memberikan tekanan serius terhadap industri domestik mereka.

Pertemuan Disebut Gagal Menghasilkan Komunike

Perbedaan mengenai sejumlah persoalan tersebut diklaim akhirnya membuat para peserta tidak mencapai kesepakatan untuk menerbitkan komunike bersama.

Dalam forum internasional seperti G20, komunike bersama mempunyai arti penting karena menunjukkan adanya titik temu di antara para peserta.

Ketika konsensus tidak tercapai, biasanya pertemuan berakhir dengan pernyataan yang lebih terbatas.

Namun kali ini, menurut informasi dalam bahan yang beredar, Amerika Serikat mengambil langkah berbeda.

Bessent disebut menerbitkan sebuah “Pernyataan Ketua” atau Chair’s Statement.

Yang membuat dokumen tersebut menjadi kontroversial adalah klaim bahwa sebanyak 19 anggota lainnya mendukung substansi pernyataan tersebut, sementara Tiongkok berada pada posisi berbeda.

Apabila klaim tersebut benar, gambaran politik yang muncul tentu sangat kuat: Beijing seolah ditempatkan sendirian menghadapi anggota lainnya.

Namun, klaim mengenai konfigurasi “19 melawan 1” tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati karena belum dapat diverifikasi melalui sumber resmi dan laporan media internasional tepercaya yang tersedia.

Bessent Disebut Soroti Surplus Perdagangan Tiongkok

Ketegangan diklaim tidak berhenti setelah pertemuan selesai.

Bessent disebut menyampaikan kritik keras terhadap model ekonomi Tiongkok dan memperingatkan mengenai dampak membanjirnya produk murah ke pasar internasional.

Ia dikutip mengatakan bahwa ekonomi nonpasar yang terus membanjiri dunia dengan barang ekspor murah tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Bessent juga disebut menyinggung surplus perdagangan Tiongkok yang mencapai sekitar 1,2 triliun dolar AS.

Pesan utama Washington dalam narasi tersebut cukup jelas: persoalan perdagangan dengan Tiongkok tidak lagi ingin diperlakukan semata-mata sebagai konflik bilateral antara Washington dan Beijing.

Amerika Serikat justru ingin negara-negara lain melihat persoalan tersebut sebagai tantangan bersama.

Hal ini menjadi semakin penting setelah Washington memperketat hambatan perdagangan terhadap produk Tiongkok.

Apabila barang-barang tersebut semakin sulit memasuki pasar Amerika Serikat, produsen Tiongkok secara logis akan mencari pasar alternatif.

Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika dan berbagai negara berkembang dapat menjadi tujuan berikutnya.

Di sinilah kekhawatiran mengenai pengalihan perdagangan atau trade diversion muncul.

Washington disebut memperingatkan bahwa negara-negara lain dapat menghadapi lonjakan produk Tiongkok apabila tidak mengambil tindakan perlindungan terhadap industri masing-masing.

Strategi AS Memasuki Babak Baru?

Jika laporan mengenai strategi tersebut benar, maka terdapat perubahan penting dalam pendekatan Amerika Serikat.

Pada tahap sebelumnya, tarif dan pembatasan perdagangan sering digunakan sebagai alat untuk menekan Beijing agar memberikan konsesi.

Namun pendekatan yang digambarkan dalam pertemuan kali ini tampaknya berbeda.

Washington seolah mulai mempersiapkan kemungkinan bahwa Tiongkok tidak akan memberikan konsesi besar.

Karena itu, sasaran berikutnya bukan sekadar memaksa Beijing mengubah kebijakannya, melainkan membangun kesamaan kepentingan dengan negara-negara lain.

Dengan kata lain, pembatasan terhadap produk Tiongkok berusaha diubah dari kebijakan unilateral Amerika Serikat menjadi pendekatan yang lebih luas.

Apabila strategi tersebut berhasil, dampaknya bagi Beijing bisa jauh lebih serius dibandingkan perang tarif bilateral.

Tiongkok mempunyai basis manufaktur yang sangat besar. Ketika konsumsi domestik tidak mampu menyerap seluruh kapasitas tersebut, pasar ekspor memainkan peranan penting dalam menjaga aktivitas industri.

Selama masih tersedia banyak pasar internasional yang terbuka, tekanan dari tarif Amerika Serikat masih dapat diredam dengan mengalihkan sebagian ekspor ke negara lain.

Tetapi situasinya akan berubah apabila semakin banyak negara secara bersamaan menaikkan tarif, menerapkan kebijakan antidumping, memperketat aturan asal barang, atau membatasi produk tertentu.

Tiongkok kemudian berpotensi menghadapi semakin sedikit pasar yang mampu menyerap kelebihan produksinya.

Inilah yang membuat perkembangan di G20 tersebut—jika laporan mengenai pertemuan itu terkonfirmasi—lebih penting daripada sekadar perselisihan diplomatik.

Pertarungan sesungguhnya bukan hanya mengenai siapa yang memenangkan perdebatan di ruang pertemuan.

Persoalan yang jauh lebih besar adalah apakah Amerika Serikat mampu meyakinkan negara-negara lain bahwa kelebihan kapasitas industri Tiongkok merupakan masalah global yang membutuhkan respons bersama.

Jika Washington berhasil, tekanan terhadap Beijing dapat berkembang dari perang dagang antara dua negara menjadi persoalan perdagangan multilateral.

Namun apabila negara-negara lain memilih mempertahankan akses terhadap barang murah dan hubungan ekonomi dengan Tiongkok, upaya membangun front perdagangan bersama akan jauh lebih sulit.

Karena itu, pertarungan berikutnya kemungkinan tidak hanya berlangsung antara Washington dan Beijing.

Arena sesungguhnya justru berada di negara-negara lain yang kini harus menentukan kepentingannya masing-masing: mempertahankan akses terhadap produk Tiongkok yang kompetitif, atau memperketat perlindungan terhadap industri domestik.

Dan keputusan negara-negara tersebut pada akhirnya dapat menentukan apakah tekanan perdagangan terhadap Tiongkok hanya menjadi babak baru perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok, atau berubah menjadi pergeseran besar dalam struktur perdagangan dunia. (***)

INSPIRASI ERABARU

Jangan Sembarangan Bersihkan Telinga! Serumen Ternyata Punya Manfaat Penting bagi Kesehatan

Serumen telinga ternyata memiliki peran yang jauh lebih penting dalam melindungi telinga daripada yang mungkin Anda sadari.Emma SuttieSerumen telinga memang lengket dan sedikit menjijikkan—kebanyakan...

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila BonczekIla meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine