EtIndonesia. com Piramida Mesir merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Misteri yang menyelimutinya selama ini terus membingungkan para arkeolog dan ilmuwan. Pada akhir Agustus tahun ini, sebuah makalah penelitian menunjukkan bahwa beberapa ukuran tertentu pada piramida ternyata mengarah pada suatu sistem angka yang selaras dengan kalender serta periode pergerakan Bulan dan planet.
Platform pracetak penelitian ilmu sosial terkemuka dunia yang dapat diakses secara terbuka, Social Science Research Network (SSRN), pada 26 Agustus mempublikasikan sebuah makalah yang ditulis oleh peneliti independen Sefy Levy.
Dalam makalah tersebut, ia menyatakan bahwa ukuran-ukuran tertentu pada bagian luar Piramida Agung, seperti tinggi, panjang dasar, sisi miring, dan bentuknya, berkaitan dengan kalender dan astronomi, yang disebutnya sebagai kode arsitektur sistem kosmik.
Menurutnya, semua itu dibuat untuk melestarikan pemahaman bangsa Mesir mengenai matematika dan waktu. Dalam makalah penelitiannya yang diterbitkan pada Agustus berjudul The Pyramid as Memory Hypothesis (Hipotesis Piramida sebagai Memori), ia menulis, “Piramida tidak bertahan selamanya karena menyimpan harta karun, melainkan karena piramida itu sendiri sangat berharga.”
Ia menyebut piramida sebagai pengetahuan yang dicetak dalam batu. Ia menulis, “Pengetahuan yang dirasakan oleh generasi demi generasi pengunjung di ruang-ruang piramida yang kosong sebenarnya tidak tersembunyi di dalamnya, melainkan berada pada bentuk yang mereka tempati itu sendiri. Piramida bukanlah wadah pengetahuan; piramida itu sendiri adalah pengetahuan, pengetahuan yang ditulis dalam batu.”
Daily Mail melaporkan bahwa Levy meneliti ukuran-ukuran utama Piramida Agung dan menggunakan pecahan yang digunakan oleh bangsa Mesir kuno dalam perhitungannya, lalu menemukan apa yang disebutnya sebagai “kode”.
Ia mengatakan bahwa hasil perhitungan menghasilkan sejumlah angka yang sangat penting. Misalnya, salah satu perhitungan menghasilkan angka 27,5, yang sangat dekat dengan periode 27,55 hari, yaitu waktu yang dibutuhkan Bulan ketika berada di titik terdekat dengan Bumi (perigee).
Perhitungan lainnya menghasilkan 364,840 hari, yang selisihnya dengan satu tahun yang terdiri dari 365 hari hanya sekitar 0,044%. Levy memperkirakan bahwa angka 70 lainnya mungkin merujuk pada periode ketika Sirius tidak terlihat.
Ia juga mengatakan bahwa hasil perhitungan lainnya sangat sesuai dengan perubahan periodik planet-planet lain, seperti Venus dan Jupiter. Selain itu, perbandingan proporsi piramida itu sendiri juga disebut memiliki kemiripan dengan angka-angka seperti π (pi) dan rasio emas (golden ratio).
Levy menyatakan bahwa menurutnya piramida mungkin berkaitan dengan suatu teori penciptaan. Ia juga mengemukakan bahwa piramida mungkin dibangun dengan meniru tempat tinggal para leluhur bangsa Mesir kuno.
Situs Zhengjian pernah menerbitkan pada 2013 sebuah serial artikel panjang berjudul “Perjalanan Takdir Suci: Kerajaan Langit dan Piramida” (一路聖緣:摩天國與金字塔). Artikel tersebut secara rinci menceritakan sebuah kisah mengenai pembangunan piramida pada zaman kuno, sekaligus menawarkan sudut pandang penelitian lain yang berbeda bagi para ilmuwan.
Reporter Kim Hong, diterjemahkan dan dilaporkan / Editor Li Quan


