Surabaya, 26 September 2026 – Semangat membangun ekonomi syariah yang lebih kuat dan berkelanjutan bergema di Grand City Convex Surabaya. Dalam rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026, sebuah talkshow bertema “Penguatan Model Bisnis dan Linkage Usaha Syariah yang Mendukung Sustainable and Halal Lifestyle, GIPS, dan Digitalisasi” sukses menyedot perhatian para pelaku usaha, akademisi, dan penggiat ekonomi syariah.
Acara yang dibuka oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rizki Prihadi Cahyanto, ini menghadirkan empat narasumber istimewa dari berbagai latar belakang. Diskusi panel yang dinamis menghasilkan sebuah kesimpulan kuat: kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat ekonomi syariah dunia.
Potensi Besar dan Tantangan Nyata
Dalam sambutannya, Rizki Prihadi Cahyanto memaparkan data global yang menggembirakan. Ekonomi syariah dunia diproyeksikan tumbuh dari US$2,6 triliun pada 2024 menjadi US$3,56 triliun pada 2029. Indonesia sendiri menempati posisi keempat dalam Global Islamic Indicator, dengan pencapaian gemilang di sektor modest fashion (peringkat 1) dan pariwisata ramah muslim (peringkat 2).
“UMKM menyumbang 60% terhadap pertumbuhan ekonomi dan menyerap 97% tenaga kerja. Ini adalah denyut nadi ekonomi rakyat yang harus kita perkuat,” ujar Rizki. Ia juga menyoroti potensi besar dari lebih 42.000 pesantren dengan hampir 3 juta santri yang dapat menjadi penggerak ekonomi syariah.
Pemerintah Daerah sebagai Katalisator
Prof. Dr. Abdul Muhyid, perwakilan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jawa Timur, mengakui bahwa praktik ekonomi syariah di daerah masih berjalan secara parsial. “Tantangan terbesarnya adalah ego sektoral. Semua berjalan sendiri-sendiri. Tugas KDEKS adalah mensinkronkan dan mengintegrasikan upaya-upaya ini,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya dukungan regulasi. “Saat ini, Perda tentang keuangan syariah ada 27, industri halal hanya 6, dan keuangan mikro syariah 4. Ini tidak seimbang. Kita perlu memperbanyak regulasi yang mendukung industri halal,” tegasnya.
Kewirausahaan sebagai Motor Penggerak
Dari kacamata pelaku usaha, Ketua BPD HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf, melihat potensi besar pasar Jawa Timur dengan 42 juta penduduk dan lebih dari 7.300 pesantren aktif. HIPMI Jatim telah membentuk HIPMI Jatim Syariah sebagai rumah bagi para pengusaha UMKM berbasis syariah.
“Paradigma baru ekonomi syariah harus dibangun sebagai rantai nilai ekosistem yang utuh, dari hulu ke hilir. Kita harus fokus pada permintaan pasar, membangun jaringan offtaker, dan konsolidasi kluster,” papar Ahmad Salim. Ia menekankan bahwa bisnis syariah harus tumbuh, terhubung, dan naik kelas, bukan sekadar memperbanyak jumlah pelaku usaha.
Kisah Sukses dari Pesantren
Sesi talkshow semakin menarik dengan pemaparan dari praktisi pesantren. Dr. Muhammad Lutfilah Habibi, Direktur Utama PT Sidogiri Pandu Utama, membagikan kisah transformasi Pondok Pesantren Sidogiri. Dari koperasi sederhana pada 1961, kini Sidogiri memiliki empat perusahaan dengan 337 gerai ritel Basmalah, pabrik AMDK Santri, perusahaan pelatihan IT, dan dompet digital EMAL.
“Lima tahapan yang kami lakukan: memiliki pasar internal, formalisasi badan hukum, korporatisasi, menjaring kemitraan, dan integrasi digital,” jelas Gus Lutfi. Sidogiri juga menerapkan model pemberdayaan dengan target setiap toko Basmalah membina 10 UMKM dengan brand Hamdalah. “Kemandirian bukan tujuan akhir, tetapi jalan agar pesantren terus mendidik dan memberdayakan,” tambahnya.
Pendidikan Gratis Berbasis Kewirausahaan Sosial
Cerita inspiratif juga datang dari Dr. Hajah Umi Wahida, Co-Founder Al-Asyriah Nurul Iman Islamic Boarding School, Bogor. Dari seorang warga negara Singapura yang menikah dengan Habib Saggaf, ia membangun pesantren dengan prinsip “free and quality education supported by social entrepreneurship.”
“Kami memulai dengan modal dari daur ulang sampah. Tagline kami: there’s no trash but cash,” kenangnya. Kini, pesantrennya memiliki 73 unit bisnis yang membiayai pendidikan gratis untuk lebih dari 10.000 santri. “Santri wajib punya usaha dan wajib menjadi pendidik. Mereka harus menjadi pemimpin yang fatanah, amanah, siddiq, untuk tabligh,” tegasnya.
Kolaborasi adalah Kunci
Di akhir sesi, para narasumber memberikan pesan penutup. Prof. Abdul Muhyid menekankan perlunya regulasi yang mendukung. Ahmad Salim mengajak untuk memulai dari diri sendiri dengan konsisten dan jujur. Gus Lutfi mengingatkan parameter kemandirian: aman dan kenyang. Sementara Dr. Umi Wahida berpesan agar pesantren tidak terus menaikkan biaya pendidikan sehingga hanya orang kaya yang bisa mengaksesnya.
Talkshow ini menjadi bukti nyata bahwa ekonomi syariah bukan sekadar wacana. Dari pesantren di pelosok hingga panggung global, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Kuncinya adalah kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, pesantren, dan masyarakat, dengan semangat tumbuh, terhubung, dan naik kelas bersama-sama.


