Iran Tinggal Punya Waktu 2 Minggu? Trump Bicara “Kemenangan Besar”, Teheran Mulai Terjepit!

EtIndonesia.com Situasi konflik Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang semakin menentukan. Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal terbaru yang diajukan Teheran mengenai penghentian pertempuran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Pada Senin, 28 September 2026, mediator regional kembali bergerak untuk mencari formula kompromi yang dapat diterima Washington dan Teheran. Qatar menjadi salah satu pihak utama dalam upaya tersebut, sementara laporan lain menyebut Pakistan ikut mendorong Iran mempertimbangkan konsesi mengenai program nuklirnya.

Menurut laporan Associated Press, pembicaraan tidak langsung masih berlangsung di belakang layar. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terlibat dalam komunikasi dengan mediator Qatar, sementara Washington menempatkan persoalan nuklir—termasuk inspeksi terhadap fasilitas Iran—sebagai salah satu isu penting yang harus diselesaikan sebelum tercapai kesepakatan yang lebih luas.

Sebelumnya, Iran mengajukan rencana tujuh hari yang pada prinsipnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan kembalinya kedua pihak ke meja perundingan apabila sejumlah persyaratan Teheran dipenuhi. Trump kemudian menolak proposal tersebut. Reuters melaporkan penolakan itu pada 25 September.

Namun pada 28 September, Trump kembali berbicara mengenai Iran dan menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat akan mencapai kemenangan dengan cepat. Pernyataan tersebut muncul ketika komunikasi melalui mediator masih berjalan, meskipun posisi kedua pihak tetap berjauhan.

Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa Washington terlihat begitu percaya diri?

Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam strategi tekanan ekonomi yang sedang diterapkan terhadap Teheran.

Pada Minggu, 27 September 2026, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan bahwa Iran menghadapi tekanan yang semakin berat akibat menyusutnya kemampuan negara tersebut menjual minyak dan memperoleh pemasukan dari perdagangan internasional.

Dalam wawancara dengan Fox News, Bessent memperkirakan hanya sekitar 15 juta barel minyak Iran yang masih berada dalam proses pengiriman, terutama menuju Tiongkok. Menurut perkiraannya, setelah pengiriman tersebut selesai, kemampuan Iran menggunakan minyak sebagai sumber pemasukan dan alat perdagangan akan semakin terbatas. Pernyataan itu merupakan penilaian pemerintah AS dan belum berarti perekonomian Iran secara keseluruhan akan berhenti dalam dua pekan.

Tekanan tersebut semakin terasa melalui pelemahan mata uang Iran.

Pada 28 September, nilai tukar dolar AS di pasar terbuka Iran mencapai sekitar 2,44 juta rial per dolar, sebuah rekor terendah baru bagi mata uang Iran. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya hambatan perdagangan, tekanan terhadap sektor minyak, serta ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik.

Bagi Teheran, persoalannya bukan sekadar angka di pasar valuta asing. Pelemahan rial berarti harga barang impor semakin mahal, biaya produksi meningkat, dan daya beli masyarakat semakin tertekan.

Tekanan ekonomi inilah yang menjadi salah satu kartu utama Washington dalam perundingan.

Namun Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan menerima seluruh tuntutan Amerika Serikat.

Di dalam negeri Iran sendiri terdapat perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan berikutnya. Sejumlah pejabat dan mantan pejabat garis keras bahkan menyerukan agar Iran menghentikan kerja sama berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT. Media garis keras Kayhan juga mengkritik pendekatan diplomatik pemerintah Iran dan menilai Teheran terlalu antusias mengejar perundingan.

Dengan demikian, pemerintah Iran menghadapi tekanan dari dua arah. Dari luar, Washington meningkatkan tekanan ekonomi dan militer. Dari dalam, kelompok garis keras memperingatkan pemerintah agar tidak memberikan terlalu banyak konsesi.

Situasi di Selat Hormuz juga tetap berbahaya.

Pada 28 September, pejabat militer Iran kembali menyatakan bahwa pasukan Iran mempertahankan tekanan di kawasan perairan sekitar Hormuz. Sebaliknya, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menolak klaim Iran bahwa Teheran menguasai selat strategis tersebut.

Ketegangan di kawasan itu bukan sekadar persoalan militer. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Karena itu, setiap serangan terhadap kapal atau gangguan pelayaran dapat memberikan dampak langsung terhadap harga minyak dan perekonomian global.

Laporan pada 28 September juga menyebut delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat mengalami cedera akibat menghirup asap dalam sebuah insiden serangan Iran terhadap kapal di dekat Hormuz pada Agustus. Laporan mengenai insiden tersebut baru muncul ke publik beberapa pekan setelah kejadian.

Di tengah tekanan terhadap Iran, kawasan lain di Timur Tengah juga terus bergerak.

Di Lebanon selatan, militer Israel pada 28 September mengumumkan telah menyelesaikan operasi besar di Mansouri yang ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah. Operasi tersebut melibatkan pasukan cadangan Israel dan unit zeni, menurut pernyataan militer Israel yang dilaporkan media setempat.

Sementara itu, perkembangan penting juga terjadi antara Israel dan Uni Emirat Arab.

Pada 27 September 2026, media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan yang tidak diumumkan sebelumnya ke Abu Dhabi untuk bertemu Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Iran dilaporkan menjadi salah satu isu yang dibicarakan, meskipun rincian lengkap pertemuan tidak dipublikasikan.

Front Yaman juga semakin panas.

Pada 28 September, pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi di kawasan Al-Rubaie, sebelah barat Taiz. Pertempuran di wilayah tersebut merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas antara Houthi dan pasukan yang didukung pemerintah Yaman.

Arab Saudi pada beberapa hari sebelumnya juga menghadapi serangan rudal dan drone Houthi. Pada 24 September, Riyadh mengatakan berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi menuju Taif dan Yanbu. Houthi juga mengklaim menyerang sejumlah sasaran lain, termasuk fasilitas Saudi Aramco, meskipun sebagian klaim tersebut tidak dikonfirmasi secara independen.

Semua perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa krisis Iran kini tidak lagi berdiri sendiri. Ketegangan di Hormuz, pertempuran di Yaman, hubungan Israel dengan negara-negara Teluk, hingga aktivitas Hizbullah di Lebanon saling berhubungan dalam lingkungan keamanan regional yang semakin kompleks.

Bagi Washington, tekanan ekonomi tampaknya menjadi instrumen utama untuk memaksa Teheran kembali berunding dengan persyaratan yang lebih menguntungkan Amerika Serikat.

Bagi Iran, persoalannya jauh lebih sulit.

Teheran harus mempertahankan posisi militernya, menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, menghadapi tekanan terhadap nilai rial, mempertahankan pendapatan energi, sekaligus menentukan seberapa jauh konsesi nuklir dapat diberikan tanpa memicu perlawanan dari kelompok garis keras.

Itulah sebabnya beberapa hari ke depan menjadi sangat penting.

Upaya mediasi masih berlangsung dan pintu diplomasi belum tertutup. Namun laporan yang tersedia hingga 28 September 2026 menunjukkan masih terdapat perbedaan besar mengenai program nuklir, sanksi, keamanan Selat Hormuz, dan urutan pelaksanaan setiap kesepakatan.

Trump percaya tekanan terhadap Iran mulai memberikan hasil. Teheran, sebaliknya, masih berusaha menunjukkan bahwa negara itu memiliki kemampuan untuk bertahan dan membalas.

Kini pertanyaan terbesarnya bukan hanya apakah Iran dan Amerika Serikat akan kembali ke meja perundingan.

Pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah: siapa yang akan lebih dahulu menilai bahwa biaya untuk melanjutkan konflik sudah lebih besar daripada harga yang harus dibayar untuk berkompromi?

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine