oleh Yu Ting
Ketika gelombang epidemi kembali melanda berbagai tempat di Tiongkok, langkah pencegahan dan pengendalian epidemi PKT sedikit demi sedikit terus diperketat. Selain muncul himbauan agar warga mempersiapkan makanan secukupnya. Hal ini menyebabkan kepanikan masyarakat.
Pada 12 Juli, otoritas Shanghai mengeluarkan peringatan gelombang panas berwarna oranye (>37°C), sedangkan pada hari itu juga merupakan hari pertama Shanghai meluncurkan uji asam nukleat berskala besar selama 3 hari untuk seluruh warga masyarakat.
Epidemi di Shanghai telah menyebar di semua 16 wilayah pemerintahan, dan dokumen internal pemerintah yang bocor menunjukkan bahwa pihak berwenang memprediksikan gelombang epidemi baru ini tidak akan kalah “ganasnya” dengan wabah yang menyerang Shanghai pada bulan Maret tahun ini”.
Kedua komite lingkungan di Distrik Putuo dan Distrik Hongkou sama-sama mengeluarkan saran kepada masyarakat agar menyiapkan cadangan makanan selama 14 hari. Hal ini menyebabkan warga panik tentang kemungkinan penutupan kota lagi.
Ms. Li, warga Shanghai mengatakan : “Terjadi panic buying, tapi saya sudah merasa lelah”.
Mr. Huang, penduduk Shanghai mengungkapkan : “Sebagaimana dikatakan oleh seorang pekerja asal pedesaan di Shanghai, bahwa para pekerja migran saat ini sudah tidak lagi tertarik untuk menerima upah harian RMB.100,- , mereka semua memilih pulang kampung”.
“Saya merasa bahwa usaha toko fisik di Shanghai tahun ini sangat sulit. Dapat dikatakan bahwa tidak ada pembeli yang memasuki toko sepanjang hari, selain itu menghadapi risiko diblokir kapan saja dan di mana saja, hal itu sangat mempengaruhi kelangsungan hidup orang, bukan lagi pada masalah nafkah pencaharian saja”, kata seorang warga Shanghai.
Gelombang baru epidemi sedang melanda dengan cepat ke seluruh wilayah di Tiongkok, sehingga langkah pengendaliannya secara nasional juga terus meningkat.
Kota-kota seperti Xi’an, Lanzhou, Haikou, dan lain telah mengadopsi langkah-langkah menyerupai penutupan kota. Pusat permainan dan perjudian di Makau telah ditutup untuk kedua kalinya.
Pusat kekuatan ekonomi Tiongkok yakni Delta Sungai Yangtze dan Delta Sungai Mutiara, bahkan berulang kali mengalami penutupan dan pengendalian yang ketat.
Penduduk Guangzhou mengatakan : “Setengah tahun sudah berlalu, datang lagi gelombang yang lebih besar. Ya apa boleh buat, tahun ini, saya terpaksa bekerja tanpa hasil”.
Dampak paling terasa dari kebijakan “Nol kasus” yang diterapkan pihak berwenang adalah Omicron varian BA.5 menyebar ke mana-mana meskipun gejala terhadap orang yang terinfeksi cukup ringan, tetapi daya transmisinya berlipat ganda, dan karena memiliki pelarian imun yang lebih kuat, sehingga pasien yang sudah sembuh mudah terinfeksi kembali, dan efektivitas vaksin jadi sangat menurun.
Namun, vaksin buatan domestik Tiongkok yang kontroversial masih diandalkan oleh pihak berwenang. Beijing dan Shanghai dan tempat-tempat lain bahkan dengan penuh semangat mendorong warga berusia di atas 60 tahun untuk menerima vaksin tersebut.
Ms. Chen, seorang warga Beijing mengatakan : “Saya tidak akan memaksa (vaksin), bukan ? Tidak mau main-main dengan nyawa. Misalnya mengenai uji asam nukleat, apakah mau dilakukan setiap hari atau bagaimana yang dikehendaki, kita mungkin ikut saja. Kita sesuaikan dengan kehendak kalian. Tapi soal hal ini, saya pikir kurang manusiawi”.
“Saya merasa bahwa pertanyaan inti bukanlah soal apakah divaksinasi atau tidak, tetapi soal keraguan tentang seluruh kebijakan pencegahan epidemi yang diterapkan pemerintah, karena epidemi sudah berlangsung selama 3 tahun, bukan ? Pada kenyataannya, mempengaruhi mentalitas, terutama terhadap perubahan intensif yang terjadi baru-baru ini, yang dapat memperburuk kecemasan semua orang”, kata Mr. Zhang, seorang warga Beijing.
Saat ini, komunitas internasional sangat memperhatikan berapa lama tindakan pencegahan epidemi ekstrem Tiongkok ini masih akan terus berlanjut. (sin)


