Trump Mengeluarkan Pernyataan, Umumkan Pengenaan Tarif Global 10%

Pada 20 Februari 2026, sesaat setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa kebijakan tarif Presiden Donald Trump melanggar hukum, Trump segera mengeluarkan pernyataan yang menyatakan akan menggunakan dasar hukum lain untuk memberlakukan tarif baru sebesar 10% terhadap seluruh dunia.

EtIndonesia. Pada hari yang sama, Mahkamah Agung memutuskan bahwa tarif yang diberlakukan Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) adalah ilegal. Enam hakim agung menyatakan bahwa kewenangan darurat yang coba digunakan presiden “tidak memiliki dasar yang cukup”.

Namun, tiga hakim agung lainnya—Clarence Thomas, Samuel Alito, dan Brett Kavanaugh—menyatakan tidak setuju. Mereka menilai bahwa, baik dari teks hukum, sejarah, maupun preseden Mahkamah Agung sebelumnya, seharusnya keputusan tersebut mendukung Trump.

Begitu putusan diumumkan, Trump langsung mempublikasikan pernyataan di platform Truth Social.

Ia mengatakan: “Putusan Mahkamah Agung mengenai tarif ini sangat mengecewakan! Saya merasa malu terhadap beberapa hakim agung yang ternyata tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal yang benar demi kepentingan negara kita.”

Selanjutnya, ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada tiga hakim agung yang mendukungnya, seraya berkata: “Terima kasih atas keberanian, kebijaksanaan, dan kecintaan kalian terhadap negara kita. Bangsa ini saat ini juga merasa sangat bangga kepada kalian.”

Bagian terpenting ada di sini. Trump menyatakan bahwa ia kini akan mengambil jalur lain—dan menurutnya, jalur ini bahkan lebih kuat daripada pilihan sebelumnya.

Ia secara langsung mengumumkan: “Hari ini, saya akan menandatangani sebuah perintah eksekutif untuk memberlakukan tarif global sebesar 10% berdasarkan Pasal 122.”

Saat ini, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada mulai mencermati dengan serius dampak lanjutan dari kebijakan tersebut.

Menurut laporan AFP, juru bicara perdagangan Uni Eropa Olof Gill menyatakan bahwa Uni Eropa sedang menganalisis putusan ini dan tetap menjalin komunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat untuk memahami bagaimana langkah selanjutnya dari pihak AS. Ia menegaskan bahwa dunia usaha di kedua sisi Atlantik membutuhkan hubungan dagang yang stabil dan dapat diprediksi.

Komite Perdagangan Parlemen Eropa awalnya dijadwalkan pada 24 Februari untuk menyetujui perjanjian antara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Namun, dengan keluarnya putusan ini, pelaksanaan perjanjian tersebut dipastikan akan terdampak. Ketua komite, Bernd Lange, menyambut baik putusan pengadilan, tetapi juga menyatakan bahwa rapat darurat akan digelar pada tanggal 23 untuk mengevaluasi dampaknya.

Juru bicara pemerintah Inggris mengatakan bahwa Inggris akan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memahami dampak putusan ini terhadap perjanjian perdagangan kedua negara. Meski demikian, Inggris tetap berharap status perdagangan preferensial antara Inggris dan AS dapat terus dipertahankan.

Sementara itu, Menteri Kanada yang bertanggung jawab atas perdagangan AS–Kanada, Dominic LeBlanc, menyatakan bahwa tarif-tarif yang paling berdampak bagi Kanada—seperti tarif terhadap baja, aluminium, dan industri otomotif—tetap berlaku setelah putusan tersebut. Ia berjanji Kanada akan terus bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menciptakan pertumbuhan dan peluang bagi kedua pihak. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Warga Tionghoa Perantauan yang Kembali ke Daratan Tiongkok Terkejut: Jalanan Sepi dan Harga-harga Sangat Murah

Baru-baru ini, dua warga Tionghoa yang telah lama tinggal di luar negeri kembali ke Tiongkok dan merekam berbagai pengalaman mereka. Yang satu melakukan perjalanan dinas selama beberapa minggu di Shanghai, Beijing, dan Jinan; yang lainnya, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, pulang ke Nanning untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Kesan yang sama mereka rasakan: jalanan kota terasa kosong dan lengang.

EtIndonesia. Seorang konten kreator yang kerap bolak-balik Tiongkok–Amerika Serikat dengan nama samaran “Mei Dashi” mengatakan bahwa pada Januari–Februari tahun ini, karena pekerjaan, ia tinggal beberapa waktu di Shanghai, Beijing, dan Jinan. Saat berjalan di jalanan Shanghai—makan mi di restoran atau berbelanja di supermarket—kesan terkuatnya adalah hampir tidak terlihat orang. Kondisi serupa juga ia temukan di Jinan.

Sebagai contoh, area sekitar Jembatan Jalan Zhejiang dan Jembatan Jalan Fujian di Shanghai—yang hanya berjarak kurang dari 10 menit berjalan kaki dari Jalan Pejalan Kaki Nanjing—dulunya merupakan pusat kota lama. Kini, banyak bangunan kosong dan banyak warga telah pindah.

Kawasan kuliner Jalan Yunnan di Shanghai juga masuk dalam rencana relokasi pemerintah kota. Banyak merek lama satu per satu pergi; warga pindah, dan nuansa keramaian pun menghilang.

Ia mengamati bahwa di pusat kota yang “kosong” tersebut dibangun banyak pusat perbelanjaan baru. Namun, penduduk asli telah direlokasi ke pinggiran kota, sehingga yang tersisa hanyalah wisatawan dan influencer yang datang untuk berfoto. Akibatnya, pusat perbelanjaan ramai hanya beberapa hari setelah dibuka, lalu cepat sepi karena basis konsumen sesungguhnya tidak lagi tinggal di sekitar sana.

Sementara itu, seorang blogger yang bermigrasi ke Kanada dengan nama samaran “Feng Jie” mengatakan dalam video pada 18 Februari bahwa tahun ini adalah pertama kalinya dalam 40 tahun ia pulang ke kampung halaman di Nanning untuk merayakan malam Tahun Baru Imlek. Ia mengaku tertegun saat berjalan-jalan di siang hari: jalan besar yang dulu ramai kini nyaris tanpa orang dan kendaraan. Kota itu terasa seperti kota kosong. Ia merasakan kekosongan di mana-mana, bahkan di dalam hatinya, dengan perasaan yang sulit diungkapkan.

“Feng Jie” menambahkan, hanya lentera merah yang tergantung di tiang lampu jalan yang mengingatkan bahwa itu adalah masa perayaan Tahun Baru, sementara sekelilingnya tetap lengang—kontrasnya sangat kuat. Orang yang sesekali terlihat pun kebanyakan wisatawan.

Selain sepinya orang, kesan kuat lainnya adalah harga barang yang sangat murah hingga terasa tak masuk akal.

“Mei Dashi” memberi beberapa contoh: makan prasmanan di hotel bintang lima Hyatt di Shanghai, dua orang hanya membayar 136 yuan (sekitar 68 yuan per orang); menikmati dim sum pagi di restoran Kanton kelas atas di Jinan, hanya 9,9 yuan sudah mendapat satu meja kudapan lengkap dengan teh; di lobi bar Sheraton, 38 yuan sudah termasuk kopi dan pencuci mulut, bahkan bisa duduk berlama-lama sepanjang sore.

Menurutnya, bagi orang yang lama tinggal di Eropa atau Amerika, harga semurah ini justru membuat orang meragukan kualitasnya.

Ia menganalisis bahwa penyebabnya adalah kompetisi berlebihan yang menekan harga. Konsumen kini menganggap layanan kelas lima bintang seharusnya murah; jika tidak, mereka enggan berbelanja. Para pelaku usaha, demi merebut pasar yang terbatas, terpaksa terus menurunkan harga. Ketika harga ditekan hingga batasnya, margin keuntungan menyusut, investasi berkurang, kenaikan gaji sulit, bahkan berujung pada pemutusan hubungan kerja.

Ia juga menyinggung masalah kualitas udara. Pertengahan Januari, saat terbang dari Amerika Serikat ke Shanghai, ia langsung melihat kabut polusi yang jelas. Indeks kualitas udara (AQI) melampaui 200, tergolong polusi berat. Teman-teman setempat mengatakan bahwa jumlah hari dengan udara buruk meningkat pada musim dingin ini.

Selama empat hari tinggal di Jinan, cuaca juga terus berkabut. Dari lantai 47, ia memotret panorama kota yang diselimuti kabut abu-abu. (Hui)

Putusan Mahkamah Agung AS Pada Jumat Memicu Gelombang Reaksi Besar di Seluruh Dunia

Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Jumat 20 Februari 2026, bersamaan dengan pengumuman Presiden Donald Trump tentang penerapan tarif tambahan sebesar 10%, menjadi dua kabar paling berdampak di dunia. Menanggapi hal ini, reaksi di Amerika Serikat maupun di berbagai negara di dunia sangat beragam.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan: “Kami akan mempelajari putusan tersebut dengan saksama dan dengan senang hati akan menyampaikan pandangan kami setelahnya.

EtIndonesia. Amerika Serikat adalah mitra dagang terbesar Meksiko. Dalam setahun terakhir, kebijakan tarif Trump telah memaksa Meksiko untuk meningkatkan pemberantasan kartel narkoba, dan juga berhasil mendorong banyak perusahaan memindahkan kembali lini produksi mereka dari Meksiko ke Amerika Serikat.

Pejabat tertinggi Kanada yang bertanggung jawab atas perdagangan AS–Kanada, Dominic LeBlanc, menulis di media sosial bahwa putusan Mahkamah Agung AS tersebut sejalan dengan kepentingan Kanada.

Amerika Serikat juga merupakan mitra dagang terbesar Kanada. Dalam setahun terakhir, Kanada bersikap keras menentang tarif Trump, dan perundingan dagang antara kedua negara beberapa kali mengalami kebuntuan.

Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menandatangani perjanjian perdagangan trilateral pada tahun 2020. Saat ini, perjanjian tersebut memasuki masa peninjauan bersama setelah enam tahun pelaksanaan. 

Pada Desember tahun lalu, Perwakilan Dagang AS mengusulkan kemungkinan mengganti perjanjian tiga pihak tersebut dengan kesepakatan bilateral.

Juru bicara perdagangan Uni Eropa, Olof Gill, menyatakan bahwa pihaknya tetap menjaga komunikasi erat dengan para pejabat Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa dunia usaha di kedua sisi Atlantik sama-sama bergantung pada hubungan dagang AS–Eropa yang stabil dan dapat diprediksi.

Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa sekaligus anggota parlemen Jerman, Bernd Lange, mengatakan bahwa tim perunding perdagangan Parlemen Eropa akan menggelar rapat pada Senin depan untuk membahas kerangka perdagangan AS–Eropa, yakni Perjanjian Turnberry.

Di dalam Amerika Serikat sendiri, respons terhadap putusan Mahkamah Agung dan kebijakan terbaru Trump juga terbelah tajam.

Partai Demokrat hampir secara bulat mendukung Mahkamah Agung, sementara sebagian besar anggota Partai Republik mendukung presiden.

Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan bahwa tarif telah membawa pendapatan puluhan miliar dolar bagi Amerika Serikat, dan menjadi alat tawar-menawar yang besar untuk mencapai kesepakatan perdagangan “America First” dengan negara lain.

Ia menambahkan bahwa dalam beberapa pekan ke depan, Kongres akan bekerja sama dengan pemerintah federal untuk menentukan arah terbaik bagi Amerika Serikat.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent berpidato di Dallas Economic Club, menyatakan dukungan kuat kepada presiden.

“Perkiraan Departemen Keuangan menunjukkan bahwa dengan menggunakan kewenangan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan, dikombinasikan dengan tarif berdasarkan Pasal 232 dan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan, pendapatan tarif Amerika Serikat pada tahun 2026 hampir akan tetap tidak berubah,” katanya. 

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Ren Hao, dari Washington DC, Amerika Serikat.

BI Siapkan Rp24,6 Triliun Uang Layak Edar di Jatim Jelang Ramadan–Idulfitri 2026

Surabaya — Bank Indonesia menyiapkan uang layak edar (ULE) sebesar Rp24,6 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Timur selama periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Nilai tersebut meningkat 5,69% dibanding realisasi tahun lalu sebesar Rp23,3 triliun, mencerminkan proyeksi kenaikan mobilitas dan konsumsi musiman.

Peluncuran program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 dilakukan pada 19 Februari di Gedung De Javasche Bank, Surabaya, oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim. Kegiatan ini menjadi bagian strategi otoritas moneter untuk menjaga kelancaran sistem pembayaran sekaligus memastikan ketersediaan uang tunai berkualitas selama periode puncak transaksi.

Dalam rilis resminya, BI menyatakan peningkatan pasokan uang tunai mempertimbangkan pertumbuhan aktivitas ekonomi daerah serta pola konsumsi masyarakat yang biasanya melonjak saat Ramadan dan Lebaran. Momentum hari besar keagamaan secara historis menjadi salah satu motor penggerak peredaran uang kartal di daerah.

240 Titik Penukaran

Untuk distribusi, BI membuka layanan penukaran uang mulai 19 Februari hingga 15 Maret 2026 melalui tiga kanal utama. Pertama, mobil kas keliling yang beroperasi di lokasi strategis seperti tempat ibadah, pusat keramaian, dan jalur mudik hingga 13 Maret. Kedua, kerja sama dengan perbankan menyediakan 240 titik penukaran di 38 kabupaten/kota wilayah kerja BI Jawa Timur, termasuk kantor perwakilan Malang, Kediri, dan Jember.

Ketiga, layanan penukaran terpusat diselenggarakan pada 7 Maret di Ciputra World Surabaya dan 8 Maret di Grand City Convention and Exhibition. Masyarakat diwajibkan mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi PINTAR untuk memastikan kepastian layanan dan menghindari antrean.

Dorong Transaksi Non-Tunai

Sejalan dengan agenda digitalisasi sistem pembayaran, BI juga mendorong penggunaan instrumen nontunai seperti QRIS, uang elektronik, layanan transfer cepat BI-FAST, dan mobile banking. Otoritas menilai pemanfaatan kanal digital dapat meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus menekan kebutuhan uang tunai fisik.

Selain itu, masyarakat diimbau berbelanja secara bijak dan mewaspadai uang palsu dengan prinsip 3D—dilihat, diraba, diterawang—serta memperkuat kampanye Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

BI menegaskan sinergi dengan perbankan dan lembaga terkait akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas sistem pembayaran regional. Langkah ini diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tetap solid selama periode hari raya, ketika konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama aktivitas ekonomi daerah.

Menjadi Pribadi yang Jujur

EtIndonesia. Seorang pria Amerika memanfaatkan akhir pekan untuk mengajak anaknya yang berusia sembilan tahun memancing. 

Di tepi sungai terpampang sebuah papan peringatan bertuliskan:  “Waktu memancing dari pukul 09.00 hingga 16.00.”

Sesampainya di sungai, sang ayah mengingatkan anaknya agar membaca dengan saksama tulisan pada papan peringatan itu. Anak tersebut memahami dengan jelas bahwa memancing hanya diperbolehkan sampai pukul empat sore.

Mereka mulai memancing sejak pukul 10.30. Sekitar pukul 15.47, tiba-tiba anak itu melihat ujung jorannya melengkung hampir menyentuh permukaan air. Tarikan dari bawah air sangat kuat. Dia segera memanggil ayahnya untuk membantu—tanda bahwa mereka kemungkinan besar mendapatkan ikan besar.

Sang ayah membantu menarik senar sambil memanfaatkan momen itu untuk mengajari anaknya cara “bertarung” dengan ikan besar. Setelah beberapa kali tarik dan ulur, akhirnya mereka berhasil mengangkat seekor ikan besar: panjang sekitar 65 cm, lebar 22 cm, dan berat sekitar 3–4 kilogram.

Sang ayah memegang ikan itu dengan kedua tangan, menikmatinya bersama sang anak. Anak itu tampak sangat gembira dan bangga.

Namun tiba-tiba, sang ayah melirik jam tangannya. Senyumnya menghilang.

Dengan wajah serius dia berkata:  “Sayang, coba lihat jam. Sekarang sudah pukul 16.12. Menurut aturan, kita hanya boleh memancing sampai pukul empat.  Artinya, kita harus melepaskan ikan ini kembali ke sungai.”

Anak itu segera melihat jam di pergelangan tangannya—benar, pukul 16.12.

Namun dia tidak setuju dan berkata:  “Kan waktu ikan ini menyambar umpan belum jam empat. Seharusnya ikan ini boleh kita bawa pulang.”

Sambil berkata demikian,  anak itu menatap ayahnya dengan wajah penuh harap dan nada memohon.

Namun sang ayah menjawab tegas : “Aturannya hanya sampai pukul empat. Kita tidak boleh melanggarnya. Terlepas dari kapan ikan ini menggigit umpan, faktanya kita mengangkatnya setelah lewat pukul empat.  Karena itu, ikan ini harus kita lepaskan.”

Anak itu kembali memohon : “Ayah, kali ini saja ya. Ini pertama kalinya aku mendapat ikan sebesar ini. Ibu pasti senang. Lagi pula, tidak ada orang yang melihat. Bolehlah kita bawa pulang.”

Sang ayah menjawab dengan tegas :  “Tidak boleh hanya karena tidak ada yang melihat lalu kita melanggar aturan.Jangan lupa, Tuhan melihat. Dia tahu apa yang kita lakukan.”

Sambil berkata demikian, ayah dan anak itu bersama-sama melepaskan ikan tersebut kembali ke sungai.

Dengan mata berkaca-kaca, anak itu memandang ikan besar itu berenang menjauh. Dia tidak berkata apa-apa lagi, hanya diam-diam membereskan peralatan pancing bersama ayahnya dan pulang.

Lebih dari sepuluh tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi seorang pengacara yang sangat bereputasi.

Di ruang tamu kantornya tergantung sebuah papan bertuliskan : “Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Selebihnya berasal dari si jahat.”
(Bible, Injil Matius 5:37)

Setiap klien yang datang kepadanya, dia minta untuk membaca kalimat tersebut terlebih dahulu.

Lalu dia berkata:  “Jika saya menemukan bahwa Anda menyembunyikan fakta atau tidak jujur, saya akan langsung menolak membela Anda. Karena saya tidak bisa membela orang yang tidak jujur. Itu bertentangan dengan iman dan suara hati saya.”

Pengacara itu bernama George Hamilton, berpraktik di Kota New York. 

Kalimatnya yang paling terkenal adalah: “Saya tidak pernah memutarbalikkan fakta. Saya hanya mengatakan kebenaran apa adanya, karena Tuhan mengetahui setiap kata yang saya ucapkan.”

Kisah ini diambil dari United Daily News, dan berdasarkan pengalaman penulis, bukan cerita fiktif.

Suatu kali, ketika berwisata ke Pulau Vancouver di pantai barat Kanada, penulis berhenti di tepi laut untuk menikmati pemandangan. Tak jauh dari situ, beberapa remaja sedang memancing.

Tampak seorang remaja berhasil menangkap seekor kepiting. Namun dia tidak langsung memasukkannya ke wadah tangkapan. Dia justru mengeluarkan penggaris, mengukurnya, lalu—di luar dugaan—melemparkan kepiting itu kembali ke laut.

Karena penasaran, penulis mendekat. Dia melihat sebuah papan peringatan di tepi pantai bertuliskan: “Hanya kepiting dengan panjang di atas 15 cm yang boleh ditangkap.”

Tanpa perlu bertanya, jelaslah bahwa remaja itu mendapati kepiting yang dia tangkap tidak mencapai ukuran minimum, sehingga dia dengan sadar melepaskannya kembali ke laut.

Dari dua kisah ini, kita dapat melihat teladan masyarakat negara maju Barat dalam hal ketaatan hukum dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Hal ini mencerminkan kualitas pendidikan dan moral publik yang—jujur diakui—masih jauh tertinggal dibandingkan kita di Indonesia.

Jika Anda adalah ayah dari anak yang menangkap ikan besar itu, apakah Anda akan meminta anak Anda melepaskannya kembali ke sungai?

Ataukah justru akan terjadi sebaliknya— ketika anak, karena ajaran di sekolah tentang menaati hukum, berniat melepaskan ikan itu, Anda malah berkata : “Tidak apa-apa. Kita menangkapnya sebelum jam empat,  dan toh tidak ada yang melihat. Ikan ini seharusnya milik kita.”

Dengan pemahaman saya tentang masyarakat kita, saya percaya kebanyakan orangtua akan memilih cara kedua.

Jika Anda adalah pengacara George Hamilton,  apakah Anda sanggup menolak klien yang datang membawa uang, demi menuntut kejujuran dan membela perkara sesuai nurani?

Bukankah itu berarti melepaskan banyak peluang bisnis dan “bermusuhan” dengan dompet sendiri?

Sebagai orangtua, teladanilah ayah dalam kisah ini— mendidik anak dengan memberi contoh nyata.

Sebagai pelaku usaha, teladanilah George Hamilton— bertransaksi dengan prinsip kejujuran dan mencari rezeki yang benar.

Sebagai atasan, teladanilah pula George Hamilton— mendidik bawahan bukan hanya soal keterampilan kerja, tetapi juga akhlak dan integritas dalam hidup.

Renungan

Mendidik anak harus dimulai sejak usia dini, dan pendidik harus memberi teladan lebih dulu. Dengan begitu, anak akan tumbuh dengan kebiasaan taat aturan.

Ingatlah, orang tua dan orang dewasa adalah contoh hidup yang paling sering ditiru anak-anak.

Sebelum menegur anak karena perilaku atau kebiasaan buruk, ada baiknya kita bercermin terlebih dahulu— jangan-jangan, kebiasaan itu justru mereka pelajari dari kita sendiri. (jhn/yn)

Video: Truk Pengangkut Gas Cair Terbalik dan Meledak di Chili, 4 Tewas

EtIndonesia. Setidaknya empat orang tewas ketika sebuah truk pengangkut gas cair di ibu kota Chili, Santiago, terbalik dan meledak, kata pihak berwenang pada hari Kamis (20/2).

Sebanyak 17 orang lainnya terluka, kata seorang kepala polisi kepada wartawan dalam konferensi pers, mengatakan bahwa pengemudi truk kehilangan kendali dan menabrak.

Pihak berwenang mengatakan pengemudi truk termasuk di antara mereka yang tewas dalam insiden tersebut.

Kantor kejaksaan sedang menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut. Truk tersebut berafiliasi dengan perusahaan gas lokal Gasco.

Gasco tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Video di media sosial menunjukkan kobaran api di lokasi ledakan. Kecelakaan itu terjadi di komune Renca, Santiago utara, dekat jalan raya utama dan kawasan industri.

Ledakan tersebut terasa dalam radius sekitar 150 hingga 200 meter dan merusak setidaknya 50 kendaraan, menurut petugas pemadam kebakaran.

Presiden Gabriel Boric mengatakan beberapa puing beterbangan ke tiga bisnis, tetapi sejauh ini belum ada laporan kerusakan lebih lanjut yang meluas.

Lima orang dilaporkan dalam kondisi serius, menurut Claudio Orrego, gubernur wilayah metropolitan Santiago.

“Satu orang mengalami luka bakar yang meliputi 100% tubuhnya dengan risiko kematian yang sangat tinggi,” kata Orrego. (yn)

Gagak dan Burung Kucica

EtIndonesia. Pada zaman yang sangat lampau, di Istana Langit Lingxiao—kediaman Kaisar Langit—tinggal dua ekor burung kecil yang cerdas dan lincah. Keduanya hidup di alam surgawi yang jauh dari hiruk-pikuk dunia manusia. Karena telah lama mendampingi Kaisar Langit, hati mereka pun tumbuh penuh welas asih.

Dua burung itu adalah gagak dan burung kucica. Keduanya diperlakukan secara adil, hidup tanpa kekhawatiran, dan menjalani hari-hari yang bahagia bersama, hingga akhirnya menjadi sahabat yang sangat akrab.

Apa pun makanan enak yang didapat gagak, selalu dia ingat untuk dibagi dengan kucica. Apa pun hal menarik yang ditemukan kucica, selalu dia ajak gagak untuk menikmatinya bersama.

Namun di dalam hati mereka, tersimpan sebuah keinginan yang sama: mereka ingin menyempurnakan diri dan terlahir kembali sebagai manusia. Gagak ingin menjadi seorang pria berbakat dan berjiwa bebas, sementara kucica ingin menjadi seorang wanita cantik yang cerdas dan anggun.

Mereka pun memberanikan diri menyampaikan harapan ini kepada Kaisar Langit.

Kaisar Langit sangat menyayangi kedua burung itu, tetapi dia juga tidak tega melihat mereka turun ke dunia fana dan menanggung penderitaan manusia.

Akhirnya, dia mengajukan sebuah syarat: Gagak dan kucica harus menyelesaikan beberapa tugas, yakni membawa kebahagiaan dan peringatan bagi manusia di dunia, barulah keinginan mereka dapat dikabulkan.

Keduanya dengan gembira menyetujui syarat itu dan turun ke dunia manusia untuk menjalankan misi mereka.

Setelah berdiskusi, mereka membagi tugas:

  • Gagak memilih untuk muncul saat manusia akan menghadapi bencana, guna memperingatkan mereka.
  • Kucica memilih untuk hadir saat manusia akan mengalami peristiwa bahagia, untuk menyampaikan kabar baik.

Sejak saat itu, mereka menjalankan misi masing-masing.

Setiap kali sebuah keluarga akan tertimpa musibah besar, gagak akan terbang ke atap rumah itu dan berteriak:  “A! A! A! A!”

Begitu pula kucica, setiap kali sebuah keluarga akan kedatangan kabar gembira, dia akan terbang ke jendela rumah itu dan berkicau riang.

Namun lama-kelamaan, manusia mulai menyadari satu hal: setiap kali gagak datang, bencana pun menyusul.

Akibatnya, manusia menjadi membenci gagak. Mereka melemparinya dengan batu dan mengusirnya.

Sebaliknya, manusia juga menyadari bahwa setiap kali kucica muncul, keberuntungan akan datang. Maka mereka menyukai kucica, bahkan dengan senang hati membiarkannya bersarang di atap rumah.

Namun meski demikian, keinginan kedua burung itu tetap tidak terwujud.

Mengapa?

Karena setiap kali gagak muncul, manusia ingin membunuhnya, hingga gagak akhirnya bersembunyi di pegunungan yang dalam.

Sementara kucica, meski disambut dengan hangat oleh manusia, namun dunia manusia penuh dengan keserakahan dan pertikaian. Dan di mana ada pertikaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan sejati?

Akibatnya, jejak kucica pun perlahan-lahan menghilang dari dunia manusia.

Renungan 

Dalam budaya masyarakat Tionghoa, gagak sering dianggap sebagai pertanda kesialan. Begitu mendengar suaranya, orang langsung mengira akan ada musibah, hingga orang yang sering berkata buruk pun dijuluki “mulut gagak”.

Namun di Inggris, gagak justru dianggap burung pembawa keberuntungan. Bahkan, jika gagak pergi, itu dipercaya sebagai tanda bahwa bencana akan segera datang.

Burung yang sama— namun perlakuannya sangat berbeda, hanya karena lingkungan dan sudut pandang yang berbeda.

Sesungguhnya, baik atau buruknya sebuah pertanda bukan terletak pada gagak, melainkan pada cara manusia memaknainya.

Orang yang menganggap gagak sebagai pembawa sial, berpikir dengan hati yang pesimis dan suka menyalahkan keadaan.

Namun bila sudut pandang diubah— jika mendengar gagak berarti bencana akan datang, maka manusia bisa menjadi lebih waspada dan berhati-hati.

Dengan kewaspadaan itu, bukan tidak mungkin musibah justru bisa dihindari.

Bila dilihat dari sudut pandang ini, gagak bukan lagi burung pembawa sial, melainkan penjaga yang membantu manusia menjauh dari bahaya.(jhn/yn)

Ukraina Tuduh Rusia Merencanakan Pembunuhan Pejabat Tingginya dengan Bayaran 100.000 Dolar Per Orang

EtIndonesia. Kyiv mengatakan pada hari Jumat (21/2)  bahwa 10 orang ditangkap di Ukraina dan Moldova karena dicurigai merencanakan pembunuhan tokoh politik senior Ukraina atas perintah Moskow, dengan bayaran hingga 100.000 dolar.

Kyiv sebelumnya menuduh Rusia, yang menginvasi Ukraina empat tahun lalu, merencanakan pembunuhan beberapa pejabat senior, termasuk Presiden Volodymyr Zelenskyy dan kepala dinas intelijen Ukraina.

“Sebagai bagian dari kerja tim investigasi gabungan petugas penegak hukum Ukraina dan Moldova, sebuah kelompok terorganisir telah terungkap yang sedang mempersiapkan pembunuhan berencana terhadap warga negara Ukraina dan warga asing yang terkenal,” kata Jaksa Agung Ukraina Ruslan Kravchenko dalam sebuah pernyataan.

Kravchenko mengatakan penegak hukum telah melakukan 20 penggeledahan di seluruh negeri dan menyita uang, senjata, bahan peledak, dan komunikasi dengan para penangan Rusia.

Tujuh orang ditangkap di Ukraina selama penggerebekan dan tiga orang lainnya—termasuk penyelenggara kampanye—ditangkap di Moldova, menurut pernyataan tersebut.

Moldova mengkonfirmasi penyelidikan bersama dalam pernyataan sebelumnya mengenai rencana yang bertujuan untuk “pembunuhan beberapa tokoh publik di Ukraina.” Tidak ada komentar langsung dari Moskow mengenai klaim tersebut.

Kyiv hanya menyebutkan satu pejabat yang menjadi target tersangka, Andriy Yusov, yang bekerja di bidang komunikasi strategis untuk militer Ukraina dan mengoordinasikan pertukaran tahanan dengan Rusia.

“Pihak Rusia menjanjikan para pelaku hingga 100.000 dolar—jumlahnya bergantung pada ketenaran dan pengaruh calon korban,” tambah Kravchenko.

Moskow menuduh Ukraina mengatur pembunuhan beberapa tokoh militer dan politik terkemuka baik di dalam Rusia maupun di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia.

Ukraina secara terbuka mengklaim berada di balik beberapa pembunuhan tersebut, menyebutnya sebagai pembalasan bagi mereka yang mempromosikan, mendukung, dan memfasilitasi invasi Rusia. (yn)

Antara Sederhana dan Rumit

EtIndonesia. Di atas meja ada setumpuk apel. Orang-orang tidak terlalu peduli berapa banyak apel di situ, yang mereka pedulikan hanyalah berapa banyak yang jatuh ke tangan mereka sendiri.

Dalam sebuah perusahaan ada segudang urusan. Orang-orang juga tidak terlalu peduli berapa banyak urusan itu secara keseluruhan, yang mereka perhatikan hanyalah berapa banyak pekerjaan tambahan yang harus mereka tanggung sendiri.

Manusia sebenarnya memiliki kebijaksanaan besar, namun karena terlalu perhitungan terhadap untung dan rugi, pada akhirnya kebijaksanaan besar itu menyusut menjadi kepintaran kecil yang licik.

Hubungan antarmanusia sejatinya sangat sederhana, namun karena pembagian kepentingan menjadi rumit, muncullah tipu daya, kecurigaan, dan intrik satu sama lain.

Kesederhanaan hidup bagaikan beberapa guratan ringan dalam lukisan besar kehidupan— jarang namun lapang, tenang dan lepas. Dia seperti bulan tipis dalam lanskap batin, menyimpan kesejukan dan ketenteraman.

Kerumitan hidup ibarat tinta yang terciprat di atas kertas kehidupan, mewarnai siasat, kepura-puraan, dan kelicikan duniawi; seperti gesekan biola yang merengek di kedalaman jiwa, mengusir ketenangan dan menimbulkan kegelisahan tanpa henti.

Alam semesta itu sempurna—karena kesederhanaannya. Sementara kelelahan hidup manusia, justru tersembunyi di dalam kerumitan.

Saat manusia hidup sederhana, dia bahagia— namun orang yang benar-benar bahagia jumlahnya sedikit. Saat hidup menjadi rumit, penderitaan pun muncul— dan orang yang menderita justru berdesakan memenuhi dunia.

Kenyataan ini menunjukkan: hidup sederhana itu sulit, hidup rumit justru sangat mudah.

Manusia— ketika kecil itu sederhana, ketika dewasa menjadi rumit; saat miskin sederhana, saat kaya menjadi rumit; ketika terpuruk sederhana, saat berkuasa menjadi rumit; orang bijak itu sederhana, orang picik justru rumit; melihat diri sendiri terasa sederhana, melihat orang lain terasa rumit.

Hal ini mengingatkanku pada puisi Gu Cheng: “Kamu sesekali memandangku, sesekali memandang awan.”

Aku merasa, saat kamu memandangku, jaraknya sangat jauh; saat kamu memandang awan, jaraknya justru sangat dekat.

Antara sederhana dan rumit, ternyata ada hubungan yang samar dan mengaburkan batas.

Sesuatu yang bisa dilihat sekilas hingga tembus ke dalam, tampak sangat sederhana. Seperti sebuah sumur tua—dalam dan jernih— sekali pandang seolah terlihat dasarnya, namun sumur itu sendiri sejatinya tidak sederhana.

Manusia pun demikian. Kadang seseorang bisa “terbaca” hanya dengan sekali lihat, bukan karena dia dangkal atau tidak berisi, melainkan karena jiwanya terlalu bersih dan murni.

Memiliki jiwa yang murni, sejatinya adalah kedalaman yang mengguncang hati. Kesederhanaan semacam ini, justru layak untuk dihormati.

Ada pula orang yang tampak penuh kabut, seolah rumit dan sangat dalam. Namun sering kali, kedalaman itu bukanlah kedalaman jiwa, melainkan kedalaman siasat dan kelicikan.

Kerumitan semacam ini adalah pertemuan sifat manusia yang licik dan berbahaya, bukan tumpukan kebijaksanaan yang indah dan elegan.

Jika disederhanakan, hidup ini sebenarnya hanya tentang dua kata: hidup dan mati. Namun karena ada pasang surut nasib, karena ada dingin dan hangatnya dunia manusia, proses yang sederhana itu berubah menjadi berliku, terjatuh, dan penuh kerumitan.

Kesederhanaan adalah bentuk indah yang ditinggalkan kehidupan bagi dunia. Sedangkan kerumitan, adalah mimpi kelam yang tak pernah benar-benar bisa diselami oleh kehidupan.

Hikmah Cerita

Tulisan yang tampak sederhana ini sesungguhnya menelanjangi keserakahan dan keegoisan manusia.

Dalam melakukan apa pun, manusia kerap menempatkan kepentingan diri sendiri sebagai yang utama.  Mungkin itu bisa mendatangkan kenikmatan sesaat, namun tanpa disadari, dia sedang menanam benih bencana bagi zamannya sendiri. (jhn/yn)

Serangan Tanpa Jeda! Energi Rusia Disasar, Pertahanan Udara Diuji Maksimal

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang jauh lebih dinamis dan intens. Dalam perkembangan terbaru, Pemerintah Ukraina mengumumkan keberhasilan merebut kembali sekitar 130 kilometer persegi wilayah dalam operasi serangan balasan terkini.

Namun laporan kantor berita AFP menyebutkan bahwa dalam kurun lima hari saja, pasukan Ukraina bahkan berhasil menguasai sekitar 200 kilometer persegi wilayah, yang disebut sebagai kemajuan paling signifikan dalam dua setengah tahun terakhir sejak perang memasuki fase stagnasi panjang.

Perkembangan Medan Tempur: Zaporizhzhia, Dnipro, dan Tekanan di Pokrovsk

Operasi militer Ukraina terkonsentrasi di beberapa sektor penting. Di wilayah Zaporizhzhia dan sepanjang garis Sungai Dnipro, sejumlah permukiman berhasil direbut kembali dari kendali pasukan Rusia.

Meski demikian, situasi di arah Pokrovsk tetap menjadi titik tekanan berat. Rusia dilaporkan meningkatkan intensitas serangan artileri dan manuver darat di sektor tersebut. Sementara itu, aktivitas militer Moskow di perbatasan wilayah Sumy juga meningkat, memunculkan kekhawatiran akan pembukaan front tekanan baru di utara.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada 13 Februari 2026 menegaskan bahwa Kyiv tidak akan menyerahkan wilayah Donbas dalam perundingan apa pun. Dia menuduh Moskow berupaya meraih melalui diplomasi apa yang gagal dicapai di medan perang.

Serangan 2.000 Kilometer: Operasi Jarak Terjauh Sejak Perang Dimulai

Salah satu perkembangan paling mengejutkan terjadi pada 12 Februari 2026, ketika Ukraina melancarkan serangan terhadap sebuah kilang minyak di wilayah Rusia yang berjarak lebih dari 2.000 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Serangan ini diperkirakan menjadi operasi udara jarak terjauh yang dilakukan Kyiv sejak perang dimulai pada 2022. Target infrastruktur energi tersebut dinilai memiliki nilai strategis tinggi dalam mendukung logistik militer Rusia.

Analis militer menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi “perang kedalaman” (deep strike warfare), yaitu menghantam pusat-pusat logistik dan industri pertahanan jauh di belakang garis depan.

Ledakan di Wilayah Leningrad dan Gelombang Serangan Drone

Sekitar 17 Februari 2026, ledakan dilaporkan terjadi di wilayah Leningrad, Rusia. Sebuah bangunan yang dikaitkan dengan fasilitas militer runtuh akibat insiden tersebut.

Beredar laporan tidak resmi yang menyebut dua perwira tinggi tewas dalam insiden tersebut, meskipun otoritas Rusia tidak memberikan rincian yang jelas.

Di saat bersamaan, Krimea kembali mengalami gelombang serangan drone besar-besaran. Beberapa pangkalan militer dan fasilitas pertahanan udara menjadi sasaran. Kilang minyak di wilayah Krasnodar Krai juga dilaporkan terbakar.

Data militer menunjukkan bahwa dalam 48 hari pertama tahun 2026 saja, Ukraina telah menyerang lebih dari 240 target militer Rusia. Dalam satu bulan terakhir, tercatat 32 gelombang serangan terhadap sistem energi Rusia, termasuk:

  • 5 kilang minyak
  • 8 depot bahan bakar
  • 3 pembangkit listrik

Strateginya dinilai jelas: melumpuhkan rantai logistik, memperlemah produksi militer, serta meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow.

Isu “Skuadron F-16 Internasional” dan Peran Pilot Asing

Muncul pula kabar mengenai pembentukan skuadron tempur Ukraina yang melibatkan pilot asing, termasuk mantan penerbang dari Amerika Serikat dan Belanda. Skuadron ini disebut-sebut dengan julukan “Macan Terbang F-16 Internasional”.

Meski juru bicara Angkatan Udara Ukraina membantah pembentukan resmi unit tersebut, sejumlah analis menilai keterlibatan pilot asing secara terbatas bukan hal yang mustahil dilakukan secara tertutup.

Jet tempur F-16 memiliki keunggulan dalam patroli malam serta intersepsi drone dan rudal jelajah. Pada 12 Februari 2026, sistem pertahanan udara Patriot Ukraina dilaporkan berhasil mencegat dua rudal balistik Iskander-M Rusia—sebuah capaian penting di tengah meningkatnya intensitas serangan udara.

Tekanan Energi dan Sanksi Ekonomi

Selain tekanan militer, faktor ekonomi juga semakin mempersempit ruang gerak Rusia. Pada pertengahan Februari 2026, Kroasia mengumumkan penghentian pengiriman minyak Rusia melalui pelabuhannya ke Hongaria, kecuali jika minyak tersebut bukan berasal dari Rusia.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari konsolidasi sanksi energi Eropa yang semakin ketat.

Kini, Moskow menghadapi tekanan ganda:

  1. Serangan presisi jarak jauh yang menggerus infrastruktur vital.
  2. Tekanan ekonomi dan energi yang mempersempit akses pasar dan jalur distribusi.

Fase Baru Perang: Dari Garis Depan ke Perang Sistemik

Konflik Rusia–Ukraina kini tidak lagi sekadar perebutan garis depan. Perang telah bergeser ke fase yang lebih kompleks—menggabungkan serangan kedalaman, sabotase infrastruktur, pertahanan udara berlapis, serta tekanan ekonomi internasional.

Jika sebelumnya pertempuran identik dengan perang posisi yang stagnan, perkembangan Februari 2026 menunjukkan dinamika baru yang lebih agresif dan terkoordinasi.

Pertanyaan besar kini muncul: Apakah tekanan dua arah—militer dan ekonomi—akan memicu eskalasi yang lebih luas? Atau justru mendorong kedua pihak menuju keseimbangan baru yang membuka ruang negosiasi?

Situasi terus berkembang dengan cepat, dan dunia kini menyaksikan babak baru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini.

Setetes Minyak

EtIndonesia. Ada seorang kakek tua, tipikal petani desa. Sepanjang hidupnya, dia memiliki satu kegelisahan—tidak besar, tapi juga sama sekali tidak kecil—yaitu pintu kayu rumahnya selalu berbunyi nyaring setiap kali dibuka dan ditutup.

Bunyinya tajam, kering, dan menusuk telinga, sering membuat hatinya gelisah dan seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.

Sejak kapan bunyi itu muncul, tak seorang pun tahu pasti. Sebelum menikah, dia hanya perlu menahan suara pintu yang dia buat sendiri. Namun setelah istrinya masuk ke rumah, dia mulai harus menahan bunyi yang dibuat orang lain.

Yang paling menyebalkan adalah, dia tidak pernah tahu kapan pintu itu akan dibuka atau ditutup, seberapa cepat atau seberapa keras. Kadang tiba-tiba terdengar bunyi aneh—panjang atau pendek, ringan atau berat—yang membuat kakek itu butuh waktu lama untuk kembali tenang.

Anak demi anak lahir, dan bunyi pintu pun semakin sering terdengar dari tahun ke tahun.

Ketika cucu-cucu mulai lahir, suara itu meningkat berlipat-lipat, dan kegelisahan sang kakek pun ikut berlipat-lipat.

Perlahan-lahan, wataknya menjadi pemarah. Dia sering meledak hanya karena hal-hal kecil, hingga anak dan cucunya takut mendekatinya.

Bagi dirinya, di satu sisi, bunyi itu sangat menjengkelkan; namun di sisi lain, hidup tanpa kegelisahan seolah justru tak terbayangkan.

Setetes Minyak

Suatu hari, sang kakek jatuh sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur sepanjang hari.

Suatu ketika, cucunya yang masih duduk di bangku SMP masuk ke kamar.

Begitu suara pintu berhenti, sang kakek menghela napas dan berkata : “Setiap kali mendengar pintu itu berbunyi, aku langsung merasa tidak enak.”

Mendengar itu, sang cucu pergi ke dapur, mengambil sebotol minyak, lalu meneteskan masing-masing satu tetes minyak pada engsel pintu.

Setelah beberapa kali pintu dibuka dan ditutup, bunyi itu lenyap tanpa jejak.

Sebulan kemudian, sang kakek meninggal dunia.

Baru menjelang akhir hidupnya, dia menyadari apa yang sebenarnya membawa kegelisahan sepanjang hidupnya, dan betapa mudahnya menghilangkan kegelisahan itu sejak awal.

Kegelisahan yang Kita Pelihara Sendiri

Cerita yang terdengar absurd ini benar-benar pernah terjadi, dan dalam bentuk lain, terjadi di sekitar kita setiap saat.

Misalnya, pernah terlihat seorang wanita muda berpakaian modis dan cantik berjalan di jalanan kota, namun di hidungnya terdapat tahi lalat hitam yang menonjol, sedikit lebih besar dari biji kedelai.Itu jelas bukan tahi lalat pemanis wajah.

Bisa dipastikan, dia telah bercermin ribuan kali, dan ribuan kali pula merasa terganggu olehnya. Namun entah mengapa, dia tidak pernah benar-benar melakukan sesuatu untuk menghilangkannya.

Padahal, di rumah sakit biasa pun, menghilangkan tahi lalat seperti itu hanyalah perkara sepele bagi dokter—  beberapa menit saja sudah selesai, bahkan mungkin tanpa meninggalkan bekas luka.

Lalu bagaimana dengan “kebisingan” dalam batin kita dan “tahi lalat” dalam kepribadian kita sendiri?

Rasanya, setiap orang pasti memilikinya.

Jika kita tidak berusaha menanganinya secara langsung,  kegelisahan itu akan menemani kita seumur hidup.

Renungan

Saat pertama membaca cerita ini, aku sempat berpikir: Kalau memang sangat terganggu oleh bunyi pintu, mengapa tidak memperbaikinya saja? Atau setidaknya dipukul, disetel, atau diperbaiki sedikit?

Mengapa harus membiarkan diri sendiri hidup dalam ketidaknyamanan?

Namun setelah merenung lebih dalam, barulah kusadari: banyak orang dalam hidup sebenarnya tahu persis sumber penderitaannya, namun memilih mengabaikannya, seperti kakek dalam cerita ini.

Misalnya, kita tahu begadang merusak kesehatan, tetapi tetap melakukannya— lalu ketika tubuh mulai “protes”, kita malah mengeluh.

Kita tahu seseorang tidak mencintai kita, namun tetap memaksakan diri, menyakiti diri sendiri dan menyusahkan orang lain.

Bahkan lebih banyak penderitaan yang berasal dari keinginan dalam hati— karena tidak mampu memenuhinya kita menderita, namun juga tidak rela melepaskannya.

Padahal, pintu yang berisik hanya butuh setetes minyak untuk kembali tenang. Dan setetes minyak untuk meredam keinginan batin adalah: rasa cukup, rasa syukur, dan kemampuan menghargai apa yang dimiliki.

Tambahan Renungan: Selembar Kertas

Lahir selembar kertas, memulai hidup seumur hidup;
Lulus selembar kertas, berjuang seumur hidup;
Pernikahan selembar kertas, tersiksa seumur hidup;
Jabatan selembar kertas, bertarung seumur hidup;
Uang selembar kertas, bersusah payah seumur hidup;
Kehormatan selembar kertas, mengejar nama seumur hidup;
Berobat selembar kertas, menderita seumur hidup;
Surat duka selembar kertas, mengakhiri beban hidup selamanya;

Memudarkan kertas-kertas itu, tercerahkan seumur hidup;  

Melupakan kertas-kertas itu, bahagia seumur hidup.(jhn/yn)

Langit Inggris Dipenuhi F-22! AS Kirim Sinyal Perang ke Iran, Hitung Mundur Dimulai?


EtIndonesia
.  Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kembali mengerahkan tambahan jet tempur siluman F-22 Raptor ke Pangkalan Udara RAF Mildenhall. Di bawah langit malam yang gelap, lampu landasan berwarna biru berkelip kontras dengan siluet tajam pesawat generasi kelima tersebut.

Rekaman yang beredar pada 19 Februari memperlihatkan satu per satu F-22 mendarat dengan formasi rapi. Saluran masuk udara berbentuk persegi panjang—ciri khas Raptor—tampak jelas dalam sorotan lampu. Lampu merah di bagian ekor berkedip selaras dengan sistem pandu landasan. Setelah mendarat, jet-jet itu bergerak perlahan membentuk barisan di apron pangkalan.

Sehari sebelumnya, 18 Februari 2026, gelombang pertama F-22 telah dilaporkan lepas landas dari Langley Air Force Base di Negara Bagian Virginia dan tiba di Inggris. Rekaman terbaru diyakini sebagai gelombang kedua. Seluruh pesawat tersebut disebut-sebut akan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.

F-22: Mahal, Jarang Dikerahkan, Sarat Pesan Strategis

F-22 Raptor dikenal sebagai salah satu jet tempur superioritas udara paling canggih di dunia. Pesawat ini unggul dalam kemampuan siluman (stealth), manuver ekstrem, serta sistem avionik canggih untuk dominasi udara dan penindasan pertahanan lawan.

Namun, pengerahan F-22 dalam jumlah besar bukan keputusan ringan. Setiap satu jam terbang membutuhkan sekitar 40 jam perawatan intensif. Biaya operasionalnya diperkirakan mencapai sekitar 84.000 dolar AS per jam terbang. Karena itu, analis pertahanan menilai bahwa kehadiran Raptor dalam konteks saat ini mencerminkan tujuan strategis yang jelas—bukan sekadar latihan rutin.

Sejumlah pengamat militer menafsirkan pengerahan ini sebagai indikasi bahwa opsi militer terhadap Teheran telah dipersiapkan secara serius, terutama setelah negosiasi diplomatik menunjukkan kemajuan terbatas.

E-3 Sentry, F-35, hingga Tanker KC-135 Dikerahkan

Masih pada 19 Februari 2026, rekaman lain menunjukkan pesawat peringatan dini E-3 Sentry terbang di atas Tel Aviv, Israel, menuju Arab Saudi. Sebelumnya dilaporkan bahwa enam unit E-3 telah dikerahkan untuk memantau potensi peluncuran rudal balistik, rudal jelajah, maupun drone dari Iran. Dua unit telah tiba di Arab Saudi, sementara dua lainnya yang terpantau di Israel diduga berasal dari pangkalan di Jerman dengan tujuan akhir Pangkalan Udara Pangeran Sultan.

Citra satelit terbaru juga menunjukkan konsentrasi signifikan pesawat tempur AS di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania. Dalam satu citra terlihat sedikitnya 18 jet F-35 dan enam pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler.

Sementara itu, di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, teridentifikasi satu unit E-3, dua pesawat komunikasi medan tempur E-11, serta 13 pesawat tanker KC-135 Stratotanker. Kehadiran tanker dalam jumlah besar mengindikasikan kesiapan operasi jarak jauh yang berkelanjutan.

Dalam beberapa hari terakhir, komunitas intelijen sumber terbuka (OSINT) mencatat intensitas penerbangan militer AS dari Eropa ke Timur Tengah meningkat tajam—terutama menuju Yordania dan Arab Saudi. Pola ini dinilai sebagai tanda bahwa Washington telah menyiapkan skenario kontinjensi terhadap Teheran.

Ultimatum 10–15 Hari dari Gedung Putih

Pada 19 Februari 2026, Presiden Donald Trump, dalam wawancara di Air Force One, menyatakan akan memberi Iran waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut dipandang banyak pihak sebagai ultimatum terakhir.

Dua putaran perundingan sebelumnya disebut menghasilkan kemajuan terbatas. Iran dilaporkan menolak tuntutan inti AS, termasuk pembatasan program nuklir dan pengendalian pengembangan rudal balistik.

Situasi Dalam Negeri Iran Memanas

Pada 18 Februari 2026, warga Teheran merekam ledakan besar yang memunculkan asap tebal. Lokasi tersebut diduga merupakan gudang amunisi milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), meski belum ada konfirmasi resmi.

Sehari kemudian, 19 Februari, beredar video lain yang menunjukkan bangunan terbakar di ibu kota pada malam hari. Belum dapat dipastikan apakah kedua insiden tersebut saling terkait atau berkaitan dengan operasi intelijen asing.

Di Provinsi Fars, tepatnya di kota Mamasani, ribuan warga berkumpul memperingati 40 hari (Arba’in) wafatnya demonstran dalam gelombang protes sebelumnya. Tradisi Syiah memperingati hari ke-40 setelah kematian, namun momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Di kota Noor, poster dan spanduk bergambar korban terpampang di berbagai sudut jalan. Warga menyebut ratusan demonstran tewas, meski angka tersebut belum diverifikasi secara independen.

Insiden Salah Tembak: Jet F-4 Jatuh

Pada 19 Februari 2026, terjadi insiden lain yang memicu perhatian publik. Sistem pertahanan udara yang berada di bawah kendali IRGC dilaporkan menembak jatuh jet tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II milik Angkatan Udara reguler Iran.

Pilot sempat berusaha kembali ke pangkalan, namun roda pendarat tidak sepenuhnya terbuka. Pesawat tergelincir keluar landasan saat pendaratan darurat, dan pilot dilaporkan meninggal dunia.

Perlu dicatat, Angkatan Bersenjata reguler Iran dan IRGC merupakan dua institusi berbeda dengan struktur komando terpisah. Jet tempur seperti F-4 dan F-14 berada di bawah kendali Angkatan Udara reguler, sedangkan sebagian sistem pertahanan udara strategis dikendalikan IRGC—relasi keduanya tidak selalu harmonis.

Eskalasi 19–20 Februari: Kawasan di Ambang Titik Kritis

Dari 19 hingga 20 Februari 2026, rangkaian peristiwa ini memperlihatkan eskalasi signifikan. Amerika Serikat memusatkan berbagai aset tempur di Timur Tengah—mulai dari F-35, F-15, F-16, pesawat tanker, pesawat peringatan dini, hingga sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD.

Di sisi lain, negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan alot. Iran menolak penghentian penuh program nuklir dan pembatasan rudal balistik. Dengan kombinasi tekanan militer eksternal dan ketegangan domestik internal, risiko konflik terbuka dalam waktu dekat dinilai semakin meningkat.

Kawasan Timur Tengah kini berada dalam situasi rapuh—seperti bara dalam sekam. Setiap insiden baru berpotensi menjadi pemicu ledakan besar yang dampaknya meluas secara regional maupun global. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan.

Kamu Talenta atau Sekadar Tenaga Kerja?

EtIndonesia. Aku punya seorang teman pengacara yang juga mengajar paruh waktu di sebuah kampus. Dia sering merekrut mahasiswa untuk kerja paruh waktu, atau ketika mendapat proyek riset dari instansi pemerintah, dia akan mencari asisten penelitian untuk membantunya.

Beberapa asisten muda telah bekerja bersamanya selama dua hingga tiga tahun. Dari situlah kami saling mengenal.

Di antara mereka ada seorang gadis bernama Aya. Pertama kali aku bertemu dengannya, dia membawa banyak map dokumen—seimbang di tangannya seperti sedang melakukan atraksi—turun naik tangga dengan cekatan.

Wajahnya selalu tersenyum, tutur katanya manis.

 Teman pengacaraku berkata: “Aya itu anaknya baik.”

Aku selalu mengira dia sangat puas dengan Aya, dan bahkan berpikir Aya akan tetap bekerja di kantor itu setelah lulus. 

Namun tak disangka, suatu hari aku justru melihat Aya berteriak menjajakan barang di sebuah stan pameran komputer: “Kesempatan terakhir! Harga banting! Nggak beli bakal nyesel!”

“Sejak kapan kamu keluar dari kantor?” tanyaku dengan suara keras di tengah keramaian.

Mata Aya langsung memerah: “Sudah tiga bulan. Bapak bilang saya tidak cocok di bidang ini, jadi saya harus pergi…”

Hatiku terasa perih mendengarnya. Aku tak tahu harus menghiburnya bagaimana, lalu bertanya lagi: “Kerja di sini gimana?”

“Ya… namanya juga kerja,” katanya sambil memaksakan senyum. “Tidak apa-apa kok.”

Talenta Itu Ditentukan oleh Diri Sendiri

Beberapa waktu kemudian, aku bertemu lagi dengan teman pengacaraku. Jumlah asistennya tampak berkurang, dan tidak ada lagi sosok ramah dengan senyum cerah seperti Aya.

“Lagi pengurangan pegawai?” tanyaku sambil bercanda. “Sudah jarang lihat senyum manis.”

Dia tersenyum tipis: “Aya? Aku yang memintanya pergi. Dia tidak cocok untuk pekerjaan ini.”

“Benarkah? Menurutku dia cukup bekerja keras.”

“Bekerja keras itu tidak cukup,” jawabnya tenang. “Aku butuh talenta, bukan sekadar tenaga kerja.”

Kata-kata itu mengguncang pikiranku. Selama ini aku selalu percaya bahwa selama seseorang cukup berdedikasi, dia pasti bisa mengerjakan sesuatu dengan baik. Aku lupa bahwa profesionalisme dan ketepatan adalah inti dari seorang talenta.

Jika caranya salah, semua usaha hanya menjadi tenaga yang terbuang. Jika seseorang tidak terus meningkatkan profesionalismenya, dia tidak akan menjadi talenta— dia hanya akan menjadi tenaga kerja.

Tenaga kerja mudah ditemukan. Talenta perlu ditemukan—dan perlu dibina.

“Apa kamu tidak bisa membimbingnya agar menjadi talenta?” tanyaku, masih mencoba membela.

Temanku menatapku lelah:  “Ada orang yang sudah menetapkan dirinya sebagai talenta, ada pula yang tidak peduli. Kalau dia sendiri saja tidak peduli, mau dibimbing bagaimana?”

Saat itu aku teringat kalimat Aya di stan pameran: “Namanya juga kerja. Tidak apa-apa.”

Mungkin justru karena sikap ‘tidak apa-apa’ itulah, daya saingnya perlahan menghilang.

Aku pun terdiam.

Renungan

Dalam masyarakat yang penuh persaingan ini, kemampuan apa sebenarnya yang kita butuhkan untuk bertahan di dunia kerja?

Banyak orang akan menjawab:
“kemampuan komputer”,
“kemampuan penjualan”,
“paham produk perusahaan”,
“kreatif dan inovatif”,
“menguasai pemasaran”.

Semua jawaban itu benar.

Namun jawabanku justru sederhana: memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh atasan.

Sebab seseorang bisa saja bergelar doktor, menguasai pemasaran, teknologi, dan segudang keahlian lain— tetapi jika ia tidak memahami kebutuhan pimpinannya, semua itu bisa menjadi sia-sia.

Seperti cerita ini: perbedaan antara talenta dan tenaga kerja tidak ditentukan oleh ijazah, pengalaman, atau keterampilan semata, melainkan oleh satu hal: apakah kemampuan kita benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Hanya ketika kemampuan itu dibutuhkan, kita disebut talenta. Jika tidak, maka kita hanyalah tenaga kerja— bahkan meski bergelar tinggi dan berpengalaman panjang.

Karena pengalaman bisa dikalahkan oleh pengalaman yang lebih luas. Gelar bisa digantikan oleh gelar yang lebih tinggi. Talenta pun bisa digantikan oleh talenta yang lebih baik.

Inilah realitas, inilah masyarakat.

Namun perlu diingat: dalam sebuah perusahaan, talenta dan tenaga kerja sama-sama dibutuhkan.

Seperti perusahaan besar: mereka membutuhkan talenta untuk mengembangkan produk, tetapi juga membutuhkan tenaga kerja untuk memproduksi dan merakitnya.

Tugas perusahaan adalah menempatkan talenta dan tenaga kerja secara tepat.
Jika penempatannya benar, tenaga kerja pun bisa menjadi talenta perusahaan.

Setelah membaca cerita ini, selain mencari arah yang tepat agar menjadi talenta yang dibutuhkan, kita juga perlu terus memperbaiki diri.

Bahkan lebih jauh lagi— saat berusaha menjadi kuda unggul, kita juga sebaiknya berupaya menjadi penilai kuda unggul.

Karena pada akhirnya, status “talenta” juga sangat dipengaruhi oleh kebutuhan perusahaan dan perubahan zaman. Kadang talenta tersingkir bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena perubahan strategi, restrukturisasi, atau kondisi ekonomi.

Maka daripada membiarkan orang lain menentukan apakah kita talenta atau tenaga kerja,
lebih baik memperkuat diri hingga menjadi penentu.

Kamu ingin menjadi tenaga kerja? Atau talenta? Atau justru—penentu talenta?

Aku memilih yang terakhir.

Dan jalan menuju ke sana dimulai dengan: melepaskan kerangka lama dan sudut pandang yang diwariskan orang lain, serta membiasakan diri melihat setiap hal dari perspektif yang berbeda.(jhn/yn)

Ledakan Gas di Pakistan Runtuhkan Gedung,  13 Orang Tewas dan Banyak Orang  yang Terjebak

EtIndonesia. Sebuah bangunan tempat tinggal di kota pelabuhan selatan Karachi runtuh pada Kamis (19 Februari) setelah terjadi ledakan tabung gas. Insiden ini menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. 

Menurut pihak kepolisian, dari jumlah korban tewas tersebut, 7 orang adalah anak-anak, termasuk seorang balita berusia 2 tahun.

Menurut laporan Reuters, polisi menyatakan bahwa ledakan terjadi di lantai dasar sebuah bangunan bertingkat yang terletak di kawasan Soldier Bazaar. 

Soldier Bazaar merupakan kawasan permukiman di bagian timur Karachi, sebuah kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Petugas penyelamat darurat mengatakan bahwa lebih dari sepuluh korban luka telah berhasil dievakuasi dari dalam gedung. Namun, masih ada kemungkinan sejumlah orang lainnya tertimbun di bawah puing-puing bangunan.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa penyebab ledakan masih dalam penyelidikan. (hui)

Sumber : NTDTV.com

Saat Trump Perintahkan Pembukaan Arsip Pemerintah Terkait Alien dan UFO

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (19 Februari) malam mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan berbagai lembaga pemerintah untuk membuka seluruh dokumen pemerintah yang berkaitan dengan kehidupan luar angkasa dan benda terbang tak dikenal (UFO).

Trump menulis di media sosial Truth Social: “Berdasarkan besarnya minat publik, saya akan menginstruksikan Menteri Pertahanan serta departemen dan lembaga terkait lainnya untuk mulai mengidentifikasi dan merilis arsip pemerintah yang berkaitan dengan kehidupan luar angkasa, fenomena udara tak dikenal (UAP), dan benda terbang tak dikenal (UFO), serta informasi lain apa pun yang berhubungan dengan isu-isu yang sangat kompleks, namun sangat menarik dan penting ini. Tuhan memberkati Amerika Serikat!”

Perintah ini dipicu oleh sebuah episode podcast No Lie with Brian Tyler Cohen yang ditayangkan pada 14 Februari. 

Dalam acara tersebut, sang pembawa acara, Brian Tyler Cohen, bertanya kepada Barack Obama: “Apakah benar ada alien?”

Obama menjawab: “Mereka nyata, tapi saya belum pernah melihat mereka, dan mereka juga tidak dikurung di… Area 51. Tidak ada fasilitas bawah tanah di sana, kecuali memang ada konspirasi besar yang bahkan berhasil menipu Presiden Amerika Serikat.”

Ketika Cohen bertanya, saat Obama menjabat sebagai presiden pada 2009, pertanyaan apa yang paling ingin ia ketahui, Obama menjawab:
“Di mana alien berada?”

Setelah cuplikan wawancara ini memicu perbincangan hangat di internet, Obama pada 15 Februari mengunggah klarifikasi di Instagram. Ia mengatakan bahwa pernyataannya saat itu disesuaikan dengan suasana tanya jawab singkat, serta menjelaskan:
“Dari sudut pandang statistik, alam semesta begitu luas sehingga kemungkinan adanya kehidupan luar angkasa cukup tinggi.”

Namun, ia juga menegaskan bahwa jarak antarbintang sangat jauh, sehingga kemungkinan alien mengunjungi Bumi sangat kecil, dan selama masa kepresidenannya ia tidak pernah melihat bukti bahwa makhluk luar angkasa pernah melakukan kontak dengan manusia.

Pada Kamis yang sama, Trump menanggapi isu tersebut saat diwawancarai media di atas Air Force One, dengan menuduh Obama telah membocorkan “informasi rahasia”.

Trump berkata: “Yah, saya tidak tahu apakah mereka benar-benar ada atau tidak. Tapi saya bisa mengatakan bahwa dia telah membocorkan informasi rahasia. Seharusnya dia tidak melakukan itu.”

Trump menambahkan bahwa ia sendiri tidak memiliki pandangan khusus soal keberadaan alien, tetapi banyak orang “percaya bahwa alien itu ada”. Ia kemudian balik bertanya kepada pewawancara, Peter Doocy, apakah ia percaya alien benar-benar ada.

Doocy menjawab: “Yah, mengingat presiden memiliki kewenangan untuk mendeklasifikasi apa pun yang ia inginkan, jika Anda ingin membuat pengumuman tentang hal ini—”

Trump memotong ucapannya dan berkata: “Mungkin saya bisa mendeklasifikasikannya, untuk membantu (Obama) keluar dari masalah.”

Gugus Tugas Fenomena Udara Tak Dikenal

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah AS terhadap fenomena udara tak dikenal (UAP) terus meningkat. Pada masa jabatan pertama Trump, pemerintah AS membentuk Gugus Tugas UAP (UAPTF) untuk mendeteksi dan menganalisis fenomena udara yang berpotensi mengancam keamanan nasional.

Departemen Pertahanan AS saat itu menegaskan: “Setiap pelanggaran wilayah udara latihan atau wilayah udara yang ditetapkan oleh pesawat yang tidak berwenang akan ditanggapi dengan sangat serius oleh Departemen Pertahanan dan seluruh cabang militer, serta setiap laporan akan ditinjau.”

Namun, dalam laporan yang diserahkan UAPTF kepada Kongres AS pada 2021, disebutkan bahwa karena kurangnya “informasi berkualitas tinggi”, mereka tidak dapat memastikan sifat UAP maupun apakah fenomena tersebut berasal dari kehidupan luar angkasa. Meski sebagian menunjukkan “karakteristik penerbangan yang tidak biasa”, laporan itu menilai kemungkinan penyebabnya adalah kesalahan sensor, teknik penyesatan, atau salah tafsir pengamat.

Pada 2023, di bawah pemerintahan Biden, isu UFO kembali menjadi sorotan. Sejumlah anggota Kongres AS menuduh pemerintah menyembunyikan informasi dari Kongres dan publik. Ketua Subkomite Keamanan Nasional, Perbatasan, dan Urusan Luar Negeri DPR AS saat itu, Glenn Grothman, mengatakan dalam sidang Juli 2023: “Selama puluhan tahun, kurangnya transparansi terkait UAP telah memicu spekulasi dan perdebatan, serta menggerogoti kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga yang seharusnya melayani dan melindungi rakyat.”

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih saat itu, John Kirby, juga mengakui bahwa fenomena tak dikenal yang dilaporkan oleh pilot serta angkatan laut dan udara memang ada, dan telah mempengaruhi pelatihan serta kesiapan militer.

Kirby menyatakan: “Hanya berdasarkan hal itu saja, ini sudah merupakan masalah keamanan nasional yang patut diperhatikan. Kami tidak tahu apa sebenarnya fenomena ini, dan kami belum memiliki jawabannya.”

Menurut laporan terbaru Kantor Resolusi Anomali Seluruh Domain (AARO) Departemen Pertahanan yang dirilis pada November 2024, lembaga tersebut menerima 757 laporan UAP antara Mei 2023 hingga Juni 2024.

Meski jumlah kasusnya besar, Direktur AARO Jon Kosloski dalam sidang Senat AS pada November 2024 menegaskan: “Perlu ditekankan bahwa hingga saat ini, AARO belum menemukan bukti yang dapat diverifikasi mengenai keberadaan makhluk luar angkasa, aktivitas, atau teknologi non-Bumi.”

Ia menambahkan bahwa seluruh kasus yang ditangani AARO “tidak menunjukkan kemampuan maju atau teknologi terobosan”. Walaupun ada sangat sedikit kasus yang menunjukkan karakteristik anomali, kasus-kasus tersebut memerlukan waktu, sumber daya, serta investigasi ilmiah yang terarah dari AARO dan mitra-mitranya.

Kosloski juga menyampaikan kepada Senat bahwa untuk sebagian kasus yang belum terselesaikan, Departemen Pertahanan masih belum dapat memberikan penjelasan. (Hui)

Artikel ini sebagian merujuk pada laporan Epoch Times versi bahasa Inggris.