Tahukah Anda Cara Berkomunikasi?

EtIndonesia. Ada seorang ibu mertua yang sangat pandai bersikap dan berinteraksi dengan orang lain. Setelah menikah, anak dan menantunya pergi ke Amerika untuk melanjutkan studi. Suatu hari, sang ibu mertua datang berkunjung ke Amerika untuk menjenguk mereka. Dia mendapati putranya terlihat gemuk, sementara menantunya justru tampak kurus. 

Hatinya pun terasa perih melihat menantunya, lalu dia berkata penuh keprihatinan: “Kenapa kamu bisa kurus sampai seperti ini?”

Menantu yang masih muda itu tak kuasa menahan perasaan. Dia pun mencurahkan keluh kesahnya kepada sang ibu mertua, mengeluhkan suaminya yang malas mengurus pekerjaan rumah, tidak cekatan dalam urusan sehari-hari, bahkan saat di luar rumah pun sering tersesat. Apa pun yang dikerjakannya selalu saja salah.

Padahal, di dunia ini hampir tidak ada ibu mertua yang ingin mendengar menantunya mengeluhkan anaknya sendiri.

Sebagian besar ibu mertua biasanya akan langsung membela sang anak. Namun ibu mertua modern ini sangat cerdas. 

Setelah mendengarkan keluhan menantunya, dia hanya tersenyum dan berkata pelan : “Tapi ada satu hal yang dia lakukan dengan sangat benar.”

“Apa itu?” tanya sang menantu.

 “Yaitu menikah denganmu.”

 Mendengar itu, sang menantu pun terdiam, tak mampu berkata apa-apa.

Ada pula seorang suami yang sangat tahu cara bersikap. Dia bekerja dengan sepenuh tenaga. Setelah menikah, karena perusahaan menerapkan pembekuan perekrutan karyawan—posisi kosong tidak diisi—beban kerjanya pun semakin berat. Setiap hari dia harus lembur.

Sang istri yang baru menikah memahami bahwa suaminya bekerja keras, tetapi tetap saja muncul keraguan di dalam hatinya:  “Benarkah pekerjaannya sebanyak itu? Selalu pulang larut, bahkan setelah sampai rumah masih harus rapat daring sampai tengah malam. Hidup seperti ini sama sekali tidak berkualitas.”

Suatu hari, sang suami sudah berjanji akan makan malam bersama istrinya, tetapi karena lembur mendadak, janji itu kembali dibatalkan.

Istri yang sendirian di rumah merasa kesal. Begitu suaminya membuka pintu dan pulang, fia tak kuasa meluapkan kekesalannya: “Memangnya kalau hari ini tidak lembur, perusahaan akan bangkrut? Kenapa harus menyiksa diri sendiri seperti ini? Tidak bisakah kamu bilang pada atasan bahwa kamu tidak bisa lembur setiap hari?”

Tidak ada suami yang sanggup menahan disiram omelan ketika tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah.

Namun, dalam kondisi letih itu, sang suami justru berkata dengan lembut : “Kamu tahu tidak? Saat aku lembur, memikirkanmu adalah satu-satunya penghiburanku.”

Sang istri pun tersenyum cerah seperti bunga persik yang bermekaran tertiup angin musim semi. Dia tak lagi mempermasalahkan makan malam yang batal itu.

Semua ini adalah bentuk kebijaksanaan yang lahir dari humor.

Humor tingkat tertinggi adalah ketika, pada saat yang secara logis seseorang seharusnya marah, dia justru mampu membalikkan suasana, dengan ringan memadamkan sumbu amarah yang sudah terlanjur menyala.

Banyak orang keliru mengira bahwa ketika orang lain marah, diam dan menahan diri adalah satu-satunya jalan.

Padahal, diam dan menahan diri sering kali justru membuat pihak yang marah semakin tersulut emosinya. Akan jauh lebih baik jika kita belajar seni berbicara yang mampu “mengangkat beban besar dengan kekuatan kecil” — sebuah keahlian hidup yang luar biasa dalam bersikap sebagai manusia.

Hikmah Cerita

Saya telah membaca banyak kisah dan artikel tentang seni berbicara. Yang paling membekas bagi saya adalah satu hal: orang-orang yang pandai berbicara belum tentu adalah orang yang sangat cerdas, tetapi hampir pasti mereka memiliki EQ yang sangat baik.

Hanya mereka yang mampu mengelola emosinya sendiri dengan baik, yang bisa menjaga tutur kata dan sikapnya.

Karena itu, sebelum mempelajari humor dan teknik berbicara, yang paling utama adalah belajar mengelola EQ. Tanpa EQ yang baik, sehebat apa pun kemampuan berbicara seseorang, ia tetap berisiko kehilangan kendali emosi dan mengucapkan kata-kata yang bisa disesali seumur hidup. (jhn/yn)

Badai Menerjang Spanyol, Transportasi Lumpuh, Kota Kecil Terancam Longsor

Badai ketujuh musim dingin ini di Semenanjung Iberia, Leonardo, pada 5 Februari menghantam Spanyol dengan keras. Curah hujan yang melebihi 40 sentimeter menyebabkan bencana parah di wilayah selatan Andalusia, melumpuhkan transportasi dan memaksa sekolah-sekolah ditutup. Hujan deras memicu banjir besar, dan kota putih Grazalema menghadapi risiko longsor, sehingga seluruh kota harus dievaluasi secara darurat.

EtIndonesia. Mengutip laporan RTVE (Radio Televisi Spanyol), Kantor Berita Pusat (CNA) menyebutkan bahwa badai Leonardo menyapu Semenanjung Iberia, membawa cuaca ekstrem ke berbagai wilayah Spanyol. Hujan deras yang terus-menerus menyebabkan banjir meluas dan longsor di daerah pegunungan, mengakibatkan sekitar 150 ruas jalan di seluruh negeri ditutup, sementara transportasi kereta api di wilayah selatan hampir lumpuh total.

Wilayah otonom Andalusia menjadi salah satu yang paling terdampak. Selain waduk-waduk yang terus melakukan pelepasan air dan permukaan sungai yang melonjak tajam, tanah di kawasan ini telah jenuh air, membuat banyak kota dan desa terendam banjir.

Di seluruh wilayah otonom tersebut, hampir 8.000 orang dievakuasi secara darurat, termasuk 3.400 orang di kota Jerez, Provinsi Cádiz. Kota putih Grazalema, yang masuk daftar “kota terindah di Spanyol”, menghadapi risiko longsor yang sangat tinggi. Pemerintah daerah memerintahkan evakuasi sekitar 2.000 penduduk, menjadikannya evakuasi terbesar dalam sejarah kota tersebut.

Presiden Pemerintah Daerah Andalusia, Juan Manuel Moreno, menyatakan bahwa Grazalema terletak di bawah tebing curam vertikal, dengan pegunungan di sekitarnya yang memiliki ketinggian lebih dari 1.500 meter. Tanah di kawasan pegunungan telah mencapai kondisi “jenuh sepenuhnya”. Jika hujan tidak berhenti, longsor, aliran lumpur, dan bencana geologi lainnya dapat terjadi kapan saja, dengan konsekuensi yang tak terbayangkan.

Moreno menegaskan bahwa para ahli geologi telah diminta untuk segera menguji kondisi tanah dan akuifer di kawasan pegunungan sekitar Grazalema. Namun, karena badai berikutnya, Marta, diperkirakan akan segera datang, hujan diprediksi baru akan berhenti paling cepat pada tanggal 11. Semua tanda menunjukkan bahwa penduduk kota tersebut setidaknya harus menunggu 6 hingga 7 hari sebelum dapat kembali ke rumah mereka.

Menghadapi bencana banjir parah di wilayah selatan, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez hari ini mengubah agenda secara mendadak dan segera menuju daerah terdampak untuk meninjau langsung kondisi bencana.

Meskipun kekuatan badai Leonardo mulai mereda, Badan Meteorologi Nasional Spanyol (AEMET) masih mengeluarkan peringatan kuning (risiko rendah) untuk 11 wilayah otonom, dengan potensi angin kencang, hujan lebat, salju, dan sambaran petir. Sementara itu, wilayah pesisir barat laut Galicia masih berada dalam peringatan oranye (risiko tinggi) akibat angin laut yang sangat kuat dan gelombang setinggi hingga 7 meter. (Hui)

Dialihbahasakan dari CNA / Editor Lu Yongxin

Putus Sinyal, Putus Komando: Mesin Perang Rusia Dihantam dari Luar Angkasa

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina kini resmi memasuki tahun keempat sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada 24 Februari 2022. Namun, wajah perang yang berlangsung hari ini telah berubah drastis. Pertempuran tidak lagi semata ditentukan oleh jumlah tank, artileri, atau rudal, melainkan oleh siapa yang menguasai jalur informasi digital di medan tempur.

Perubahan ini terlihat jelas dalam peristiwa penting yang terungkap pada awal Februari 2026, ketika Ukraina—dalam koordinasi teknis dengan SpaceX—melancarkan pemblokiran menyeluruh terhadap penggunaan ilegal sistem komunikasi satelit Starlink oleh militer Rusia.

Langkah ini menandai eskalasi baru: perang teknologi tanpa asap mesiu, yang dampaknya sama destruktifnya dengan serangan senjata konvensional.

Starlink, “Sistem Saraf” Medan Tempur Ukraina

Dalam beberapa bulan terakhir, sebuah wawancara video dengan prajurit Ukraina beredar luas di media sosial. Video tersebut secara gamblang menggambarkan realitas perang modern yang sepenuhnya terdigitalisasi.

Di unit tempur Ukraina, hampir setiap tank dilengkapi terminal Starlink, dengan harga sekitar 35.000 hryvnia per unit. Melalui jaringan satelit berkecepatan tinggi ini:

  • Citra pengintaian drone Mavic ditransmisikan secara real-time ke tablet dan ponsel awak tank
  • Penembak artileri mengoreksi lintasan tembakan dalam hitungan detik
  • Komandan unit memberi perintah melalui sistem suara terenkripsi
  • Drone serangan dikendalikan secara presisi dari jarak jauh

Seluruh proses—dari pengintaian hingga serangan—terjalin dalam satu rantai operasi digital yang nyaris tanpa jeda.

Bagi militer Ukraina, Starlink telah berkembang menjadi “sistem saraf pusat”: menghubungkan tank, parit, pos komando, hingga kawanan drone di garis depan. Tanpa konektivitas ini, efektivitas tempur akan langsung merosot tajam.

Ketergantungan Rusia dan Titik Balik Strategis

Namun, fakta yang paling mengguncang bukanlah ketergantungan Ukraina—melainkan ketergantungan militer Rusia terhadap sistem yang sama.

Seiring perang berkepanjangan, Rusia secara bertahap memperoleh ribuan terminal Starlink melalui jalur abu-abu dan penyelundupan internasional. Terminal tersebut dipasang di unit garis depan, sistem drone, bahkan diintegrasikan langsung ke drone bunuh diri untuk meningkatkan jangkauan dan akurasi serangan.

Akibatnya, dalam beberapa periode, fasilitas energi dan target belakang Ukraina menjadi sasaran serangan presisi berulang.

Situasi ini mendorong Kyiv bertindak.

Pada awal Februari 2026, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, secara resmi mengonfirmasi bahwa pemerintah Ukraina telah berkoordinasi langsung dengan SpaceX untuk menghentikan penggunaan Starlink oleh militer Rusia.

Tak lama kemudian, Elon Musk mengonfirmasi secara terbuka bahwa pemblokiran terhadap terminal ilegal telah dimulai, dan menegaskan bahwa pembatasan masih dapat diperketat bila diperlukan.

Whitelist dan Batas Kecepatan: Senjata Digital Baru

Inti dari operasi ini adalah sistem whitelist yang sangat ketat. Sejak Februari 2026:

  • Semua terminal Starlink wajib terdaftar dan diverifikasi oleh pemerintah Ukraina
  • Terminal tanpa izin resmi langsung kehilangan akses sinyal
  • Diterapkan pembatasan kecepatan dinamis:
    • Jika perangkat bergerak di atas 75 km/jam, koneksi otomatis terputus

Kebijakan ini secara langsung menghantam taktik Rusia yang memasang Starlink pada drone cepat, kendaraan militer, dan platform senjata bergerak.

Dampaknya terasa seketika.

Penasihat teknis Kementerian Pertahanan Ukraina melaporkan bahwa komunikasi garis depan Rusia sempat jatuh ke dalam kekacauan:

  • Kendali drone terputus
  • Sinkronisasi data artileri gagal
  • Operasi lintas unit lumpuh
  • Sejumlah rencana ofensif terpaksa dibatalkan

Beberapa blogger militer Rusia bahkan mengakui bahwa pemutusan Starlink membuat kemampuan komunikasi Rusia mundur bertahun-tahun, memaksa mereka kembali mengandalkan radio analog, kabel lapangan, dan jaringan darurat.

Krisis Alternatif dan Kritik Internal Rusia

Hingga kini, Rusia belum memiliki alternatif satelit tempur yang matang dan andal. Meski badan antariksa Rusia mengumumkan rencana pengembangan sistem komunikasi nasional, proyek tersebut tidak mampu menjawab kebutuhan medan perang dalam jangka pendek.

Anggota Komite Pertahanan parlemen Rusia secara terbuka menyebut ketergantungan pada teknologi Barat sebagai kesalahan strategis, bahkan melabeli Elon Musk sebagai pihak yang “tidak bersahabat”.

Korban Perang dan Biaya Manusia yang Terus Membengkak

Di tengah eskalasi teknologi ini, biaya manusia perang terus meningkat.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyatakan pada akhir Januari 2026 bahwa jumlah korban tewas resmi prajurit Ukraina sekitar 55.000 orang. Namun berbagai lembaga riset Barat memperkirakan total korban—termasuk luka dan hilang—mencapai 500.000–600.000 orang, dengan korban tewas 100.000–140.000.

Di pihak Rusia, berbagai estimasi menyebut total korban telah melampaui satu juta orang, dengan korban tewas lebih dari 300.000.

Senjata Nirawak “Marichka” dan Ancaman Baru di Laut Hitam

Di tengah perang yang semakin berbasis teknologi, Ukraina juga memperkenalkan sistem senjata nirawak jarak jauh berat bernama sandi Marichka, yang diumumkan secara resmi oleh Angkatan Laut Ukraina pada awal 2026.

Meski informasi teknis masih terbatas, data awal menunjukkan:

  • Jangkauan operasi hingga 1.000 km
  • Kecepatan sekitar 10 km/jam
  • Daya angkut 500–800 kg hulu ledak, versi lanjutan mendekati 1 ton

Marichka bukan sekadar perahu nirawak. Ia menggabungkan:

  • Kendali otonom drone
  • Karakteristik serangan rudal jelajah
  • Kemampuan pelayaran laut tersembunyi

Membentuk sistem serangan hibrida yang sulit dicegat.

Target potensialnya meliputi pelabuhan, pangkalan laut, hingga simbol strategis paling sensitif: Jembatan Krimea.

Jembatan Krimea: Simbol, Logistik, dan Titik Rawan Eskalasi

Jembatan sepanjang ±19 km yang dibuka pada 2018 ini bukan hanya infrastruktur, melainkan urat nadi logistik dan simbol politik Rusia di Krimea. Sejak perang pecah, Ukraina telah beberapa kali menyerangnya, memicu siklus serang–perbaiki–serang yang terus berulang.

Menghancurkan jembatan lintas laut secara permanen membutuhkan:

  • Daya ledak besar
  • Presisi tinggi
  • Serangan berlapis

Di sinilah Marichka dipandang sebagai ancaman baru—meski kehancuran total jembatan tetap menjadi isu politik dan strategis yang sangat sensitif.

Medan Perang Masa Depan: Siapa Menguasai Data, Menguasai Perang

Pertarungan seputar Starlink dan kemunculan Marichka memperjelas satu hal:
perang modern tidak lagi ditentukan oleh senjata berat semata, melainkan oleh penguasaan jalur informasi.

Tank dan rudal tetap penting, tetapi inisiatif perang kini berada di orbit, dalam sinyal satelit dan jaringan digital tak kasatmata.

Para pengamat militer global menilai perang Rusia–Ukraina sebagai laboratorium perang masa depan—tempat aturan lama runtuh dan paradigma baru dibentuk.

Dan pertarungan teknologi yang dipicu Starlink ini, kemungkinan besar, baru permulaan.

Senat AS Blak-blakan: Partai Komunis Tiongkok Ancaman Nyata, Taiwan Didesak Segera Kunci Anggaran Pertahanan

EtIndonesia. Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat baru-baru ini menyatakan bahwa di bawah ancaman Partai Komunis Tiongkok (PKT), kegagalan Taiwan meloloskan anggaran khusus pertahanan sangat “mengecewakan”. Komite tersebut menyerukan agar seluruh partai politik di Taiwan dapat bekerja sama menjaga keamanan Taiwan dan menyediakan pendanaan yang memadai bagi pertahanan negara.

Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS Jim Risch, bersama senator senior dari Partai Demokrat Jeanne Shaheen, mengeluarkan pernyataan lintas partai mengenai belanja pertahanan Taiwan. Mereka menyatakan kekecewaan mendalam karena anggaran khusus pertahanan yang diajukan Presiden Lai hingga kini belum disetujui oleh Yuan Legislatif. Mereka mendesak semua partai di Taiwan untuk melampaui perbedaan politik demi menyediakan dana yang cukup bagi pertahanan diri Taiwan.

Pernyataan tersebut juga menekankan bahwa latihan militer PKT pada bulan Desember yang secara terang-terangan mensimulasikan blokade terhadap Taiwan telah mengingatkan dunia akan ambisi Beijing terhadap Taiwan serta ancamannya terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

Mereka menegaskan, “Daripada berpose untuk foto dengan Partai Komunis Tiongkok, para pemimpin partai politik Taiwan seharusnya memusatkan perhatian pada persetujuan pendanaan penting bagi pertahanan dan ketahanan sosial.”

Mereka juga “mendesak para pemimpin partai Taiwan agar secepat mungkin menyetujui investasi penting bagi keamanan Taiwan dan kemitraan Taiwan–AS.”

Sementara itu, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Roger Wicker pekan ini menulis di media sosial bahwa ia merasa kecewa dengan partai oposisi Taiwan yang menghalangi anggaran pertahanan Presiden Lai, terutama di tengah meningkatnya ancaman dari PKT. 

Senator Partai Republik Dan Sullivan, yang lama mendukung Taiwan, juga mengkritik partai oposisi Taiwan karena di satu sisi menghambat anggaran pertahanan, namun di sisi lain memperluas pertukaran dengan PKT. Sullivan memperingatkan bahwa memotong anggaran pertahanan Taiwan demi mengalah kepada PKT sama saja dengan bermain api.

Selain itu, pada 6 Februari, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif “Strategi Transfer Persenjataan Amerika First” (America First Arms Transfer Strategy). Kebijakan ini akan mengakhiri prinsip lama “siapa cepat dia dapat”, dan memprioritaskan penjualan senjata kepada negara mitra yang secara aktif berinvestasi besar dalam pertahanan, memiliki posisi geografis penting bagi AS, serta berperan berpengaruh atau strategis. Pemerintah AS juga akan menyederhanakan prosedur dan meningkatkan efisiensi guna mengurangi penumpukan pesanan.

Diterjemahkan oleh Jiang Ziyang, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.

Atap Rumah Sang Hartawan

EtIndonesia. Ada seorang hartawan berhati mulia yang membangun sebuah rumah besar. Ia secara khusus meminta para tukang bangunan agar membuat atap rumahnya menjulur sangat panjang ke sekeliling bangunan, supaya orang-orang miskin yang tidak memiliki tempat tinggal dapat berteduh sementara dari hujan dan salju.

Setelah rumah itu selesai dibangun, benar saja—banyak orang miskin berkumpul di bawah atap tersebut. Bahkan ada yang membuka lapak kecil untuk berdagang, ada pula yang menyalakan api untuk memasak.

Keramaian, kebisingan, dan asap minyak membuat sang hartawan merasa terganggu. Keluarganya pun sering bertengkar dengan orang-orang yang tinggal di bawah atap itu.

Pada suatu musim dingin, seorang pria tua meninggal kedinginan di bawah atap tersebut. Orang-orang pun ramai-ramai mencaci sang hartawan karena dianggap tidak berperikemanusiaan.

Pada musim panas, badai besar melanda. Rumah-rumah lain tidak mengalami kerusakan, tetapi rumah sang hartawan justru kehilangan atapnya—karena atapnya terlalu panjang dan akhirnya terangkat oleh angin. Warga desa pun berkata bahwa itu adalah balasan atas perbuatannya.

Saat memperbaiki rumahnya, kali ini sang hartawan hanya meminta atap yang kecil. Uang yang dihemat dari pembangunan itu dia sumbangkan ke lembaga amal, dan dia juga membangun sebuah rumah kecil terpisah.

Rumah kecil ini memang hanya bisa melindungi sedikit orang, tetapi dia memiliki dinding di keempat sisinya—sebuah rumah yang layak dan utuh.

Banyak orang yang kehilangan tempat tinggal memperoleh perlindungan sementara di rumah itu. Saat hendak pergi, mereka bertanya: siapakah dermawan yang telah menyumbangkan rumah ini?

Tak lama kemudian, sang hartawan menjadi orang yang paling dihormati dan dicintai. Bahkan setelah dia wafat, orang-orang masih merasakan manfaat dari kebaikannya dan mengenangnya dengan penuh rasa syukur.

Mengapa niat baik yang sama bisa menghasilkan dampak yang begitu berbeda?

Dalam kisah ini, niat baik sang hartawan berubah dari dianggap “orang kaya yang tidak berperikemanusiaan” dan “mendapat balasan buruk”, menjadi sosok yang paling dicintai. Faktor apa yang menyebabkan perubahan ini?

Apakah perbedaannya terletak pada atap yang panjang dan rumah kecil?

Ataukah cara dan ketulusan di balik niat itulah yang berbeda?

Mengapa sang hartawan sempat dicela dan dianggap tidak bermoral?

Dan mengapa akhirnya fia justru dihormati dan dikenang?

Jawabannya adalah—

Perasaan hidup “menumpang di bawah atap orang lain” berbeda dengan hidup di sebuah rumah yang berdiri sendiri.

Bayangkan perasaan orang-orang miskin yang hidup di bawah atap besar sang hartawan. Bandingkan dengan perasaan mereka saat tinggal di rumah kecil yang mandiri, terhormat, dan tanpa perbandingan.

Dalam sebuah organisasi atau tim, kondisi apa yang setara dengan “menumpang di bawah atap orang lain”?

  • Segala hal harus bergantung padamu?
  • Tidak percaya rekan kerja menyelesaikan tugas sendiri? 
  • Selalu bekerja dengan melihat ekspresi atasan?
  • Sistem kerja dibangun atas dasar ketidakpercayaan dan pencegahan kesalahan?

Atau…?

Lalu, kondisi seperti apa yang memberi “ruang mandiri”?

  • Memberi tujuan yang jelas?
    –  Memberi kebebasan bertindak dalam batas aturan?
    –  Menyerahkan tanggung jawab berdasarkan nilai inti dan mendorong pertumbuhan kemampuan?
    – Atau menggerakkan kesadaran dan tanggung jawab lewat visi dan misi?

Atau…?

  • Seorang ibu yang mengatur segalanya akan membuat anaknya sulit mandiri.
    –  Seorang atasan yang bisa melakukan segalanya justru membuat bawahannya tidak bertanggung jawab.

Ketika “atap” menjulur terlalu panjang, niat baik berubah menjadi tuduhan tidak berperikemanusiaan. Namun sebuah “rumah kecil yang mandiri” justru membuat seseorang menjadi yang paling dicintai.

Perbedaan ini layak kita renungkan.

  • Apa hakikat sejati dari perbuatan baik?
    –  Apa tujuan akhir dari kepemimpinan?
    – Di mana titik temu antara berbuat baik dan memimpin?

Apakah sekadar menyelesaikan masalah di depan mata? Ataukah membantu orang lain berdiri sendiri dan mengembalikan martabatnya sebagai manusia seutuhnya?

Karena itu, kepemimpinan tidak cukup hanya menuntaskan pekerjaan atau memecahkan masalah. Tanggung jawab yang lebih penting adalah membangkitkan kemampuan rekan dan anggota tim, mengembalikan kemandirian mereka sebagai manusia seutuhnya—menjadi pelatih, bukan sekadar atasan.

Hikmah Cerita

Kisah ini mengingatkan pada pepatah: “berbuat baiklah sampai tuntas.” 

Terkadang, kebaikan yang setengah-setengah justru lebih buruk daripada tidak berbuat sama sekali.

Seperti sebuah kegiatan amal yang niatnya baik, tetapi karena perencanaan yang kurang matang, justru menimbulkan kekacauan dan keluhan. Dari satu sisi, ini adalah pelajaran penting. Namun dari sisi lain, niat baik tetap layak dihargai dan diberi dorongan.

Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Jika yang ada hanya kritik dan keluhan, orang akan berpikir: lebih baik tidak berbuat apa-apa agar tidak disalahkan. Jika itu terjadi, jumlah orang yang mau berbuat baik di dunia ini akan semakin sedikit.

Karena itu, selain mengkritisi, marilah juga belajar memahami, menghargai niat baik, dan membantu agar kebaikan itu bisa dilakukan dengan lebih bijaksana dan tuntas.(jhn/yn)

Kunjungan Xi Jinping ke Para Perwira Militer Veteran Berlangsung Tegang, Para Pengawal Mengawasi Setiap Orang dengan Ketat

Setelah tokoh nomor dua di Komisi Militer Pusat (KMP), Wakil Ketua KMP Zhang Youxia, tiba-tiba tumbang, suasana politik di tingkat atas terus diliputi ketegangan. Beberapa hari lalu, pemimpin PKT Xi Jinping menghadiri pertunjukan seni penyambutan Tahun Baru Imlek untuk para veteran militer yang ditempatkan di Beijing. Terlihat banyak petugas keamanan muda bercampur di antara para veteran, memantau dengan ketat dinamika di lokasi serta setiap orang yang berjabat tangan dengan Xi.

EtIndonesia. Pada 6 Februari sore, Komisi Militer Pusat menggelar pertunjukan seni penyambutan Tahun Baru Imlek untuk para veteran militer yang ditempatkan di Beijing. Ketua KMP Xi Jinping menyaksikan pertunjukan tersebut dan memberikan penghormatan kepada para veteran militer.

Rekaman yang disiarkan CCTV Tiongkok menunjukkan bahwa ketika Xi Jinping memasuki lokasi acara, langkah kakinya tampak jelas pincang, dan kondisinya terlihat lebih parah dibandingkan sebelumnya. Di belakangnya hanya ada Wakil Ketua KMP Zhang Shengmin yang mendampingi. Sementara para petinggi militer yang dalam dua tahun sebelumnya sering tampil mendampingi Xi—termasuk Zhang Youxia, He Weidong, Liu Zhenli, Zhang Shengmin, dan Miao Hua—kini seluruhnya telah tumbang.

Dari gambar di lokasi terlihat beberapa pria bertubuh besar mengenakan seragam militer bercampur di antara para veteran yang telah pensiun. Meski mereka ikut bertepuk tangan bersama para lansia, kehadiran para pria muda ini sangat mencolok. Wajah mereka tegang, mengenakan earphone, dan pandangan mata mereka terus menyapu seluruh area acara.

Terutama saat Xi Jinping berjabat tangan dengan para veteran, seorang pria bertubuh besar tampak sangat gugup, dengan tatapan mata yang terus mengawasi setiap orang yang berjabat tangan dengan Xi.

Seorang warganet yang jeli menemukan bahwa bukan hanya satu orang seperti itu di lokasi. “Dua prajurit muda yang berjalan di barisan paling belakang, sekali lihat saja sudah jelas mereka juga petugas keamanan,” tulisnya.

Di lokasi pertunjukan juga ditempatkan banyak personel keamanan lainnya. Para petugas muda ini duduk di bagian tengah dan di kedua sisi, bercampur di antara para veteran militer.

Saat menyaksikan pertunjukan, yang duduk satu baris dengan Xi Jinping dan Zhang Shengmin adalah enam mantan petinggi militer, termasuk mantan Wakil Ketua KMP Cao Gangchuan dan Fan Changlong, serta mantan anggota KMP Chen Bingde, Li Jinnai, Zhao Keshi, dan Wu Shengli.

Dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, jumlah anggota KMP aktif dan mantan petinggi militer yang mendampingi Xi saat menonton pertunjukan kali ini berkurang drastis.

Pada pertunjukan seni 17 Januari 2025, sebanyak 10 anggota KMP dan mantan petinggi militer mendampingi Xi menonton pertunjukan, termasuk Wakil Ketua KMP Zhang Youxia dan He Weidong, serta anggota KMP Liu Zhenli dan Miao Hua.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun pada acara penghormatan tersebut hanya berdiri di antara para veteran yang telah pensiun, sambil bertepuk tangan dan mengatupkan bibir, menatap setiap gerak-gerik Xi. Saat menonton pertunjukan, posisi duduk Dong Jun juga tidak menonjol, hanya berada di baris ketiga dari belakang.

Pengamat politik independen Cai Shenkun pernah mengungkapkan pada 25 Desember 2025 bahwa Dong Jun sebenarnya telah dicopot dari jabatan Menteri Pertahanan, namun masih dipertahankan dengan perlakuan setingkat jenderal penuh. Adapun apakah ia akan diselidiki lebih lanjut, masih tergantung pada perkembangan berikutnya; bahkan pangkat jenderalnya pada akhirnya bisa saja dicabut.

Pada 24 Januari tahun ini, Wakil Ketua KMP Zhang Youxia dan anggota KMP Liu Zhenli secara tiba-tiba diumumkan sedang diselidiki. Dari tujuh anggota KMP, kini hanya tersisa Xi Jinping dan Zhang Shengmin. Xi bukan berasal dari latar belakang militer, sementara Zhang Shengmin naik karier melalui Komisi Inspeksi Disiplin Militer.

Banyak pengamat menilai bahwa KMP saat ini tidak memiliki satu pun anggota yang benar-benar memahami komando dan peperangan. Konflik internal dan pembersihan besar-besaran di tubuh militer yang digencarkan Xi Jinping dalam beberapa tahun terakhir telah menghancurkan keseluruhan sistem militer Tiongkok.

Mantan pejabat Kementerian Luar Negeri PKT Han Lianchao baru-baru ini menulis di platform X bahwa tumbangnya Zhang Youxia menandai bahwa Xi Jinping kini benar-benar menjadi sosok yang terisolasi. Ia terjebak dalam “spiral kematian: semakin membersihkan, semakin takut; semakin takut, semakin membersihkan”. Akumulasi perpecahan dan kebencian internal ini pada akhirnya akan menjadi jerami terakhir yang meruntuhkan sistem totaliter tersebut.

Editor tanggung jawab: Wen Bin

FBI Ungkap Ribuan Sampel Patogen Mematikan, Jejak Jaringan Tiongkok Kembali Muncul

EtIndonesia. Dunia yang kian terasa surealis kembali dikejutkan oleh sebuah temuan yang lebih mirip skenario film horor sains, namun benar-benar terjadi di dunia nyata. Di tengah permukiman biasa di Kota Las Vegas, aparat federal Amerika Serikat membongkar sebuah laboratorium biologi ilegal yang menyimpan ribuan sampel patogen berbahaya—ancaman yang oleh para ahli dinilai dapat menimbulkan bencana kemanusiaan tanpa perlu satu pun senjata nuklir.

Pada 31 Januari 2026, Federal Bureau of Investigation (FBI) melakukan penggerebekan terhadap sebuah rumah tinggal di kawasan permukiman yang lokasinya tidak jauh dari pusat kasino terkenal Las Vegas Strip. Target penggerebekan kali ini bukan jaringan narkoba, teroris, maupun mata-mata, melainkan sebuah fasilitas penelitian biologi ilegal yang beroperasi secara diam-diam di dalam garasi rumah.

Penggerebekan Berisiko Tinggi: Agen FBI Kenakan Pakaian Pelindung Lengkap

Menurut sumber penegak hukum, sebelum memasuki lokasi, para agen FBI terlebih dahulu mengenakan pakaian pelindung biologis tingkat tinggi. Kekhawatiran akan adanya kebocoran zat berbahaya membuat tim penyelidik memasukkan kamera mikro ke dalam garasi untuk pemeriksaan awal.

Hasil pengamatan awal membuat para agen yang telah berpengalaman bertahun-tahun di lapangan terdiam.

Di dalam garasi tersebut, petugas menemukan lebih dari 1.000 sampel biologis, termasuk:

  • Tabung reaksi berisi cairan tak dikenal
  • Lemari pendingin terkunci berisi sampel patogen
  • Mesin sentrifugal berkecepatan tinggi
  • Berbagai bahan kimia dan peralatan laboratorium canggih

Namun yang paling mengejutkan adalah label pada tabung-tabung sampel.

Label Patogen Mematikan: Dari HIV hingga Ebola

Berdasarkan informasi resmi yang diungkapkan penyidik, sejumlah tabung diberi label nama penyakit menular paling berbahaya di dunia, antara lain:

  • HIV/AIDS
  • COVID-19
  • Tuberkulosis
  • Malaria
  • Ebola, virus dengan tingkat kematian sangat tinggi dan klasifikasi keamanan biologis tertinggi

Para pakar biologi menegaskan bahwa Ebola termasuk patogen yang seharusnya hanya ditangani di laboratorium dengan standar keamanan ekstrem, bukan disimpan di lemari es biasa di sebuah garasi rumah warga.

Jika sampel-sampel ini bocor—baik secara tidak sengaja maupun disengaja—dampaknya bisa meniru skenario film wabah global, seperti film Outbreak yang dibintangi Dustin Hoffman. Bedanya, kali ini bukan fiksi.

Bukan Kasus Tunggal: Jejak ke Laboratorium Ilegal California 2023

Penyelidikan FBI kemudian mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan. Kasus Las Vegas bukan insiden terisolasi.

Pada tahun 2023, Amerika Serikat pernah diguncang oleh penemuan laboratorium biologi ilegal di negara bagian California. Laboratorium tersebut beroperasi di sebuah bangunan terbengkalai yang disamarkan sebagai gudang.

Seorang petugas inspeksi bangunan kala itu mencurigai aktivitas tidak wajar. Ketika masuk ke dalam, ia menemukan:

  • Sejumlah warga negara Tiongkok mengenakan jas laboratorium
  • Ribuan tabung sampel biologis berlabel patogen
  • Sekitar 1.000 ekor tikus transgenik, hasil rekayasa genetika

Menurut laporan investigasi, tikus-tikus tersebut bukan hewan percobaan biasa, melainkan diduga direkayasa untuk meneliti dan berpotensi menyebarkan virus, termasuk COVID-19. Bahkan, pada lokasi itu juga ditemukan tabung dengan label Ebola.

Perusahaan Sama, Orang Sama, Pola Sama

FBI kini memastikan bahwa:

  • Laboratorium California (2023)
  • Laboratorium Las Vegas (2026)

Dioperasikan oleh perusahaan terbatas yang sama, dengan kelompok individu yang sama, dan seluruhnya adalah warga negara Tiongkok.

Artinya, setelah laboratorium di California ditutup, jaringan ini tidak berhenti, melainkan berpindah lokasi ke Nevada dan melanjutkan aktivitasnya dengan menyamar sebagai rumah tinggal biasa.

Sosok Kunci: Zhu Jiabei Alias David He

Semua jejak penyelidikan mengarah pada satu nama utama: Zhu Jiabei.

Riwayat hidup Zhu Jiabei disebut aparat sebagai rekam jejak penipuan dan spionase ekonomi lintas negara. Dia pernah menjabat sebagai eksekutif senior di perusahaan milik negara Tiongkok sebelum pindah ke Kanada.

Di Kanada, dia mendirikan puluhan perusahaan cangkang untuk mencuri kekayaan intelektual Amerika Serikat dan mengirimkannya ke Tiongkok. Pengadilan Kanada menjatuhkan denda sebesar 330 juta dolar Kanada atas penipuan berskala besar tersebut.

Zhu kemudian melarikan diri ke Amerika Serikat, mengganti identitas menjadi David He, dan kembali mendirikan sejumlah perusahaan bioteknologi. Dia sempat ditahan dan dituntut pada tahun 2023, namun banyak rekannya masih bebas hingga kini.

Motif Bisnis Tak Masuk Akal, Dana Diduga dari Negara

Secara resmi, perusahaan ini mengklaim bergerak di bidang penjualan alat uji medis. Namun penyelidikan menunjukkan:

  • Produk yang dijual adalah kit uji murah dari Tiongkok
  • Keuntungan sangat kecil
  • Sama sekali tidak sebanding dengan biaya operasional ribuan sampel patogen, peralatan mahal, dan tikus transgenik

Pertanyaan besar pun muncul: dari mana dana itu berasal?

Laporan Komite Khusus DPR AS menemukan bahwa organisasi Zhu Jiabei menerima transfer dana misterius dari bank-bank milik negara Tiongkok. Fakta ini memicu kecurigaan kuat adanya dukungan tingkat negara.

Kritik terhadap Pemerintah AS dan Perubahan Arah 2026

Kasus ini juga menyoroti kelalaian serius di tubuh pemerintah AS sebelumnya. Pada 2022–2023, pejabat lokal yang menemukan laboratorium California berulang kali meminta bantuan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), namun tidak mendapat respons memadai.

Situasi berubah pada 2026, setelah Direktur FBI baru menjabat dan menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap ancaman biologis. Di bawah pemerintahan Donald Trump, jaringan ini kini diperlakukan sebagai ancaman keamanan nasional, bukan sekadar kasus kriminal.

Perang Tanpa Batas dan Ancaman Global

Para analis menilai praktik ini sebagai bentuk “perang tanpa batas” (unrestricted warfare)—di mana laboratorium tersembunyi dapat digunakan untuk menciptakan kekacauan sosial, politik, dan kesehatan publik tanpa perlu serangan militer konvensional.

Jika penyelidikan akhir membuktikan bahwa sampel tersebut mengandung Ebola aktif, antraks, atau varian mutasi COVID-19, dunia diperkirakan akan menghadapi krisis diplomatik dan keamanan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peringatan Keras bagi Dunia

Kasus ini bukan hanya alarm bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi komunitas internasional dan diaspora Tionghoa di luar negeri. Tokoh seperti Zhu Jiabei dinilai tidak hanya membahayakan dunia, tetapi juga menyeret komunitas etnis ke dalam risiko dan stigma besar.

Kini, DPR AS tengah menyusun undang-undang darurat untuk menutup celah keamanan biologis yang selama ini terabaikan.

Pertanyaan yang tersisa:
– Berapa banyak laboratorium bayangan yang belum terungkap?
– Berapa banyak “Zhu Jiabei” lain yang masih bersembunyi?

Di dunia yang semakin absurd, ancaman paling mematikan sering kali bersembunyi di tempat yang paling tidak mencolok.

Dua Petualang Berjalan Kaki Selama 518 Hari, Melintasi 16 Negara dari Prancis ke Shanghai

EtIndonesia. Dua petualang asal Prancis tiba di Shanghai pada Jumat (6/2/2026), menuntaskan perjalanan epik yang dimulai dari kampung halaman mereka dan berlangsung hampir satu setengah tahun. Mereka melintasi 16 negara dan hampir seluruh perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki.

Dalam keadaan lelah namun penuh kebahagiaan, Loïc Voisot dan Benjamin Humblot berpelukan di tepi Sungai Huangpu, dengan latar belakang cakrawala Shanghai yang gemerlap—ikon pusat keuangan Tiongkok.

Voisot yang berusia 26 tahun dan Humblot 27 tahun berangkat pada September 2024 dari kota Annecy, di tenggara Prancis. Didorong oleh kerinduan akan “sebuah petualangan besar”, mereka ingin menuju Tiongkok, namun memilih tidak menggunakan pesawat demi menghindari dampak lingkungan dari industri penerbangan.

Dengan wajah yang dipahat angin dan cuaca, Voisot mengatakan kepada AFP: “Kami benar-benar sulit percaya bahwa ini nyata—bahwa kami menyelesaikan semuanya hanya dengan berjalan kaki. Kami telah lama memimpikan Shanghai, dan akhirnya sekarang kami berdiri di sini.”

Ia menambahkan: “Pertama-tama, kami merasa sangat bangga, terutama karena berani mewujudkan hal ini… Awalnya kami juga tidak yakin bisa berhasil, tapi kami mengatakan pada diri sendiri untuk setidaknya mencoba.”

Keduanya menempuh perjalanan selama 518 hari, menempuh jarak sekitar 12.850 kilometer. Setiap 5 hingga 7 hari mereka beristirahat sekali. Demi keselamatan dan urusan logistik, mereka sempat sebentar naik bus saat memasuki Rusia, namun di luar itu mereka berjalan kaki sekitar 45 kilometer per hari.

Di titik awal 10 kilometer terakhir, sekitar 50 orang berkumpul untuk menyambut mereka, termasuk warga setempat yang sejak musim gugur mengikuti perjalanan mereka di Tiongkok melalui media sosial. Seiring rombongan bergerak maju, jumlah orang terus bertambah—media, warga Prancis yang tinggal di Shanghai, serta masyarakat lainnya ikut bergabung.

Saat kedua petualang itu mengumumkan bahwa perjalanan berjalan kaki mereka telah resmi berakhir, sorak-sorai meriah pun pecah di lokasi.

“Tanggung jawab terhadap bumi”

Kedua pria ini telah saling mengenal sejak usia 10 tahun, dan bersama-sama menempuh pendidikan dari sekolah menengah hingga universitas. Suatu malam setelah pulang kerja di Paris, mereka mengobrol santai dan saling bertanya, “Jika kamu bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan, apa yang akan kamu lakukan?”

Humblot berkata: “Ketika kami membicarakan petualangan, (Tiongkok) langsung terlintas di benak kami, lalu muncullah ide yang agak gila ini: pergi ke sana dengan berjalan kaki.”

Voisot, yang sehari-hari bekerja sebagai konsultan iklim, mengatakan: “Kami sangat memahami perubahan iklim dan tanggung jawab yang harus dipikul manusia… ada beberapa tindakan yang bisa kami lakukan secara pribadi.”

“Kami berusaha sebisa mungkin tidak naik pesawat—dan dalam hal ini, kami melakukannya dengan cukup baik!”

Biaya perjalanan ini sebagian berasal dari penggalangan dana publik dan sponsor perusahaan. Sepanjang perjalanan, jumlah pengikut mereka terus bertambah.

Seorang perempuan Tiongkok bermarga Gao, berusia 28 tahun, mengatakan bahwa ia ikut bergabung dalam etape terakhir perjalanan dan meminta tanda tangan mereka.

“Saya rasa mereka sangat mengagumkan—bukan hanya punya ide ini, tapi benar-benar mewujudkannya.”

Seorang perempuan bermarga Luo mengatakan bahwa ia mengenal pasangan petualang Prancis ini melalui platform media sosial Xiaohongshu.

Perempuan berusia 57 tahun itu berkata: “Saya sangat tersentuh, karena saya juga suka berjalan kaki. Bisa berjalan dari Prancis sampai ke sini benar-benar luar biasa.”

Ia menambahkan bahwa demi menyambut mereka, ia berjalan kaki dua jam dari rumahnya.

“Terus berjalan”

Seperti yang bisa dibayangkan, pasangan petualang ini juga menghadapi berbagai tantangan di sepanjang perjalanan.

Voisot mengatakan: “Musim dingin sangat berat, dan kami juga harus menyeberangi gurun di Uzbekistan.”
Ia merasa bangga karena dirinya “selalu memiliki tekad untuk terus melangkah”.

Humblot mengatakan bahwa secara umum mereka cukup baik soal makanan di sepanjang perjalanan, tetapi ada satu hal yang sangat mereka rindukan—keju Prancis.

Voisot tertawa sambil berkata: “Kedengarannya klise, tapi keju itu memang luar biasa enak.”

Keduanya mengaku belum sepenuhnya mencerna betapa besarnya pencapaian ini, dan mulai berpikir bahwa mereka “mungkin akan melanjutkan petualangan”.

Humblot berkata: “Kami sudah berjalan sampai ke laut ini, lalu muncul pikiran—mengapa tidak naik kapal dan terus ke timur, menuju Amerika Serikat?”

Dalam skenario itu, mereka bisa berjalan kaki melintasi Amerika Utara, lalu menyeberangi samudra kembali ke Prancis, dan akhirnya berjalan pulang ke Annecy, “menyelesaikan satu putaran penuh”.

Namun sebelum itu, masih ada rencana yang lebih mendesak dan juga lebih sederhana.

Ketika ditanya apa yang paling ingin ia lakukan setelah perjalanan berakhir, Voisot menjawab singkat: “Tidur nyenyak!” (Hui)

Dialihbahasakan dari CNA / Editor Lu Yongxin

Kuba di Ambang Kolaps Energi: Cari Jalan Selamat, Lobi AS Dibuka

Di bawah sanksi minyak Amerika Serikat, rezim diktator Kuba kini berada dalam tekanan berat dari dalam dan luar negeri. Di satu sisi, pemerintah meluncurkan rencana untuk “bertahan hidup dan menyelamatkan diri”, sementara di sisi lain juga menunjukkan niat untuk bernegosiasi dengan Washington.

EtIndonesia. Di bawah tekanan AS, Kuba pada Jumat (6 Februari) mengumumkan sebuah rencana untuk menjamin pasokan bahan bakar bagi sektor-sektor penting, termasuk pertanian, penyediaan air, layanan kesehatan, pertahanan, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

“Kita harus mengalokasikan kembali tenaga kerja agar mereka terus berkontribusi bagi kegiatan ekonomi dan sosial negara, terutama dalam layanan dasar masyarakat, produksi pangan, pekerjaan pertanian, dan bidang lain yang mendukung pembangunan ekonomi dan sosial nasional,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Kuba, Jesús Otamendi Campos. 

Namun, masyarakat tidak puas dengan kebijakan pemerintah. Sejak Jumat, pilihan transportasi di ibu kota Kuba, Havana, menjadi sangat terbatas, dan banyak bus terpaksa berhenti beroperasi. Sebagian besar warga menghadapi pemadaman listrik serta kekurangan pangan dan obat-obatan.

Warga Kuba, Emilio Padrón, mengatakan: “Pengorbanan? Benarkah masih harus ada pengorbanan lagi? Apa lagi yang bisa dikorbankan? Tidak ada lagi yang tersisa untuk dikorbankan.”

Setelah diktator Venezuela Nicolás Maduro ditangkap, Trump menyatakan bahwa Kuba merupakan ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Pemerintahan Trump menerapkan pendekatan yang menggabungkan bantuan kemanusiaan dan sanksi. Pada Kamis (5 Februari), AS mengumumkan bantuan sebesar 6 juta dolar AS untuk Kuba guna membantu pemulihan wilayah yang terdampak badai tahun lalu.

Juru bicara Gedung Putih pada Kamis mengungkapkan bahwa “rezim Kuba berada di ambang kehancuran” dan sedang menghadapi kemungkinan “runtuhnya kekuasaan”, serta bahwa kedua pihak saat ini sedang melakukan perundingan.

Juru bicara Gedung Putih, Leavitt, mengatakan: “Mereka seharusnya berhati-hati dalam menyikapi pernyataan Presiden Amerika Serikat. Namun saya kembali menegaskan, presiden selalu bersedia melakukan dialog diplomatik. Faktanya, hal ini memang sedang dibahas dengan pemerintah Kuba.”

Pada saat yang sama, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran juga terus berlanjut. Delegasi AS dan Iran mengadakan pembicaraan pada Jumat di ibu kota Oman, Muscat. Trump menyatakan pada hari yang sama bahwa sejauh ini perkembangannya “sangat baik”.

Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Saya rasa hari ini kami telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Kami akan bertemu lagi awal minggu depan. Mereka ingin mencapai sebuah kesepakatan, dan itulah yang seharusnya mereka inginkan.”

Trump memperingatkan bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan nuklir, konsekuensinya akan sangat serius.

Laporan gabungan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, An Qi dan Tian Yuan.

Rahasia Hidup Hanya Enam Kata

EtIndonesia. Tiga puluh tahun lalu, seorang pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk membangun masa depan sendiri. Perhentian pertamanya adalah menemui tetua klannya, untuk meminta nasihat hidup.

Saat itu, sang tetua sedang berlatih menulis kaligrafi. Mendengar bahwa ada seorang generasi muda yang akan memulai perjalanan hidupnya, dia menuliskan dua kata: “Jangan Takut.”

Lalu dia mengangkat kepala, menatap pemuda itu, dan berkata: “Anakku, rahasia hidup sebenarnya hanya enam kata. Hari ini aku beritahu tiga kata saja. Ini cukup untuk kamu pegang sepanjang setengah hidupmu.”

Tiga puluh tahun kemudian, pemuda itu telah menjadi pria paruh baya. Dia telah meraih beberapa keberhasilan, tetapi juga mengumpulkan banyak kepedihan hidup.

Dalam perjalanan pulang yang panjang ke kampung halaman, dia kembali mengunjungi rumah sang tetua.

Namun setibanya di sana, dia baru tahu bahwa tetua itu telah wafat beberapa tahun sebelumnya. 

Keluarganya lalu menyerahkan sebuah amplop tertutup sambil berkata: “Ini ditinggalkan khusus untukmu. Beliau berpesan, suatu hari kamu pasti akan kembali.”

Barulah saat itu sang perantau teringat— tiga puluh tahun lalu, dia baru menerima setengah dari rahasia hidup.

Dia membuka amplop itu.

Di dalamnya tertulis dua kata : “Jangan Menyesal.”

Rahasia Hidup

Sebelum paruh baya: Jangan Takut.
Setelah paruh baya: Jangan Menyesal.

Enam Nasihat untuk Sahabat yang Memasuki Masa Pensiun

1. Keluar dari Pasar Saham

  • Saham naik → tekanan darah naik, mau beli tak kebagian
  • Saham turun → hati gelisah, mau jual tak laku

Uang tak akan pernah habis dicari. Berikan kesempatan kepada generasi muda.

(Pengecualian bagi yang main saham tanpa naik tensi dan tanpa cemas.)

2. Nikmati Hidup Tepat Waktu

Selama tenaga masih ada, tempat yang ingin dikunjungi—pergilah sekarang.

Jangan menunggu sampai tak sanggup berjalan lalu menyesal. Sering-seringlah berkumpul dengan teman lama, sahabat lama, rekan lama.

Yang penting bukan makanannya, yang menakutkan adalah waktu yang semakin sedikit.

Uang di bank belum tentu milik kita selamanya. Gunakan saat perlu, dan perlakukan diri dengan baik di usia senja.

3. Ingin Makan Apa, Makanlah — Bahagia Itu Utama

Makanan yang kita suka terbagi dua:

  • Yang baik untuk kesehatan → sering dimakan, tapi jangan berlebihan
  • Yang kurang baik → sedikit saja, sesekali, tapi bukan pantangan total

Makanan yang tidak disukai pun sesekali cicipi sedikit—  demi keseimbangan nutrisi.

4. Hadapi Sakit dan Kematian dengan Lapang

Kaya atau miskin, berkuasa atau tidak, semua pasti melewati lahir, tua, sakit, dan mati.

Saat sakit, tidak perlu takut. Urusan dunia ditata rapi, kapan pergi pun tak menyesal.

Serahkan tubuh pada dokter, hidup pada Tuhan, dan perasaan pada diri sendiri.

  • Jika khawatir bisa sembuh—silakan khawatir.
  • Jika khawatir bisa panjang umur—silakan. –
  • Jika khawatir bisa membuatmu bahagia—itulah kekhawatiran yang layak.

5. Anak dan Cucu Punya Rezekinya Sendiri

Urusan anak-cucu:

  • Telinga boleh dengar
  • Mata boleh lihat
  • Mulut sebaiknya diam

Prinsipnya:

  • Hal yang bicara pun tak ada gunanya → tak usah bicara
  • Hal yang tak bisa dilakukan → jangan dipaksakan
  • Hal pasif → lihat situasi

Anak dan cucu mandiri, itulah keberkahan hidupmu.

6. Rawat Empat “Yang Tua”

  • Tubuh tua → jaga kesehatan, tak ada yang bisa menggantikan
  • Modal tua → uang sendiri, simpan dan kelola sendiri
  • Pasangan tua → hargai sepenuh hati, salah satu pasti pergi lebih dulu
  • Sahabat lama → manfaatkan waktu bertemu, karena makin lama makin jarang

Hikmah Cerita

Modal terbesar anak muda adalah usia dan keberanian. Apa pun rintangannya, selama masih muda, kegagalan masih bisa diperbaiki—dan justru menjadi fondasi masa depan.

Bagi saya pribadi, hidup adalah: merasa cukup, hidup tenang, berjuang untuk pilihan sendiri, dan bertanggung jawab atas keputusan sendiri.

Jangan Takut – Jangan Menyesal. Mari saling menguatkan.(jn/yn)

Perundingan atau Tipuan? AS–Iran Bicara Damai Saat Persiapan Perang Jalan Terus

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah kedua negara menggelar perundingan tidak langsung di Oman pada Jumat 6 Februari 2026. Menurut laporan Associated Press, pembahasan perundingan ini pada dasarnya kembali ke isu lama yang tak kunjung tuntas, yakni program nuklir Iran.

Namun, terdapat perbedaan krusial dibandingkan putaran-putaran sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Amerika Serikat mengirim komandan militer tertinggi di kawasan Timur Tengah untuk terlibat langsung dalam proses diplomatik tersebut, yakni Brad Cooper, Komandan US Central Command (CENTCOM). Langkah ini dipandang luas sebagai sinyal bahwa jalur diplomasi kali ini berjalan beriringan langsung dengan tekanan militer.

Israel Gelar Rapat Darurat, Rencana Operasi Militer Disiapkan

Pada hari yang sama, situasi regional turut memanas. Israel menggelar rapat darurat tingkat tinggi, melibatkan pimpinan militer senior. Komandan Angkatan Udara Israel, Tomer Bar, bersama Kepala Intelijen Militer, Shlomi Binder, dilaporkan telah merampungkan rencana darurat operasi militer.

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa rencana tersebut disiapkan sebagai respons terhadap kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran, terutama jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil langkah militer secara langsung.

Militer AS Perkuat Posisi di Sekitar Iran

Di saat perundingan berlangsung, Amerika Serikat secara nyata memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran. Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dikerahkan ke kawasan Timur Tengah, beroperasi di sekitar pesisir selatan Iran, lengkap dengan kapal pendukung.

Selain itu, jet tempur, kapal perusak, sistem pertahanan udara, dan persenjataan rudal dilaporkan berada dalam status siaga tinggi. Pejabat AS mengonfirmasi bahwa sekitar 40.000 personel militer Amerika Serikat saat ini ditempatkan di wilayah tanggung jawab CENTCOM, menjadikan kawasan tersebut salah satu titik konsentrasi militer AS terbesar di dunia.

Peringatan Keamanan dan Potensi Evakuasi Warga Asing

Masih pada 6 Februari 2026, Kedutaan Besar Virtual AS untuk Iran kembali mengeluarkan peringatan keamanan. Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa Iran tengah menerapkan langkah-langkah keamanan yang semakin ketat, termasuk penutupan jalan utama, gangguan transportasi umum, serta pemblokiran internet secara luas.

Sejumlah maskapai internasional mulai mengurangi atau membatalkan penerbangan dari dan menuju Iran. Warga negara Amerika Serikat diimbau untuk bersiap menghadapi gangguan komunikasi jangka panjang, menyiapkan metode komunikasi alternatif, serta—jika kondisi memungkinkan—mempertimbangkan evakuasi darat melalui Armenia atau Turki.

Kementerian Luar Negeri Jerman juga mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa situasi berpotensi memburuk hingga konflik militer terbuka. Pemerintah Jerman memperingatkan bahwa Iran dapat menutup wilayah udaranya sewaktu-waktu dan menyerukan agar warganya segera meninggalkan negara tersebut demi menghindari risiko penahanan sewenang-wenang atau bahaya serius lainnya.

Dampak Strategis bagi Tiongkok

Bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), ketidakstabilan berkepanjangan di Iran dipandang sebagai pukulan strategis besar, meskipun belum bersifat fatal. Selama ini, Iran merupakan poros penting dalam strategi Beijing di Timur Tengah, mencakup pasokan energi, narasi anti-Amerika, serta simpul keamanan dalam proyek Belt and Road Initiative.

Para analis menilai bahwa jika Iran mengalami tekanan berat atau konflik berkepanjangan, maka ruang manuver strategis Tiongkok di Timur Tengah akan menyempit, sekaligus melemahkan pengaruh politik dan daya tawar energi Beijing di kawasan tersebut.

Sinyal Pesimistis dari Dalam Negeri Iran

Di dalam Iran, sinyal pesimistis terhadap diplomasi semakin menguat. Pada 6 Februari, para pemimpin doa di berbagai wilayah secara hampir serempak menyampaikan pandangan negatif terhadap perundingan dengan Amerika Serikat.

Perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Kota Mashhad menyatakan kepada jamaah bahwa perundingan berlangsung “dengan senjata dan pesawat tempur menggantung di atas meja”, serta menyebutnya sebagai permainan politik Amerika Serikat yang sia-sia.

Naskah khutbah tersebut diketahui disusun oleh markas pusat Iran yang berada langsung di bawah pengawasan kantor Khamenei. Banyak analis menilai ini sebagai indikasi bahwa elite politik Iran tengah bersiap menghadapi kegagalan perundingan atau bahkan konfrontasi militer lanjutan.

Peringatan Eropa dan Ancaman Perang Regional

Pada Jumat, 6 Februari, Menteri Luar Negeri Prancis memperingatkan bahwa jika konflik AS–Iran meningkat secara regional, maka kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di Timur Tengah harus menunjukkan penahanan diri maksimum guna mencegah destabilisasi kawasan.

Kekhawatiran lama kembali mengemuka bahwa jika Amerika Serikat menyerang Iran, maka kelompok pro-Iran di Irak, Yaman, dan Lebanon berpotensi terlibat langsung, sehingga memperluas konflik menjadi perang regional berskala besar.

Trump Teken Perintah Eksekutif Baru

Pada sore hari 6 Februari 2026, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang diumumkan Gedung Putih. Dokumen tersebut menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif tambahan terhadap produk impor dari negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran setelah 7 Februari 2026.

Gedung Putih menegaskan bahwa kebijakan ini tidak berlaku otomatis dan belum menetapkan besaran tarif tertentu. Evaluasi lanjutan akan dilakukan. Dalam pernyataannya, Gedung Putih kembali menyebut Iran sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia, serta menegaskan bahwa Presiden Trump tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.

Manuver Diplomatik Terakhir dan Insiden Misterius di Teheran

Tak lama setelah pertemuan di Oman, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi terbang ke Doha, Qatar, untuk menghadiri Forum Al Jazeera ke-17. Sejumlah analis menilai langkah ini sebagai upaya diplomatik terakhir yang penuh risiko guna mencegah situasi meluncur ke titik tak dapat diperbaiki. Sumber lain menyebutkan bahwa pesawat Araghchi hanya singgah beberapa jam sebelum kembali ke Teheran.

Sementara itu, pada sore 6 Februari, sebuah kebakaran mendadak dilaporkan terjadi di bengkel kayu dalam kompleks fasilitas militer milik Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran di Teheran Timur. Asap tebal terlihat membumbung di atas ibu kota. Pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api dengan cepat. Media resmi Iran menyatakan tidak ada korban luka, namun hingga kini penyebab kebakaran belum diumumkan.

Lokasi Terpencil di Guangdong, Tiongkok, Ambulans Medis Mengantar Orang ke Helikopter

EtIndonesia. Sebuah video yang direkam di lokasi terpencil di Provinsi Guangdong, Tiongkok memperlihatkan sebuah helikopter menjemput seseorang dari kendaraan medis. Rekaman tersebut memicu berbagai pertanyaan dan keraguan di kalangan warganet.

Video yang beredar di platform Douyin menunjukkan sebuah helikopter berwarna biru tua dan sebuah kendaraan medis berhenti di area tanah berwarna kuning dengan vegetasi yang jarang. Di sekitarnya tampak sebuah area parkir dan jalan kecil, menciptakan kesan wilayah yang relatif sepi dan terpencil.

Pada kendaraan medis terlihat tulisan “Guangdong Civil Aviation Medical Express”, sementara pada badan helikopter tertera tulisan “Tanggap Darurat Kesehatan”.

Dalam video tersebut, tampak petugas di lokasi menurunkan sebuah tandu dari ambulans, lalu mengangkat orang yang berada di atas tandu tersebut ke dalam kabin helikopter.

Disebutkan bahwa video ini direkam oleh warganet di Guangdong, namun lokasi dan waktu pengambilan gambar tidak diketahui secara pasti. Berdasarkan rekaman video saja, sulit memastikan siapa sebenarnya yang dipindahkan dalam proses evakuasi medis tersebut. Sebagian orang menduga bahwa ini merupakan pemindahan pasien. Namun, banyak pula yang mempertanyakan mengapa proses serah terima evakuasi medis dilakukan di lokasi yang begitu terpencil.

Cuplikan layar dari kolom komentar video tersebut menunjukkan bahwa warganet di Tiongkok daratan hampir secara bulat menyatakan kecurigaan, dengan komentar seperti, “Apakah sedang melakukan sesuatu yang ilegal?”, “Ada apa lagi di balik ini?”, “Untung besar tanpa modal”, “Di tempat terpencil seperti itu… sebenarnya apa yang dipindahkan?”, “Anak siapa lagi ini?”, “Ambil kapan saja, kirim kapan saja—sekarang setelah diambil langsung dipasang”, serta “Helikopter itu seperti lalat, ke mana ambulans pergi, ke situ ia terbang”.

Dalam beberapa tahun terakhir, rumah sakit dan institusi medis di berbagai wilayah Tiongkok mulai memperkenalkan layanan yang disebut “evakuasi medis menggunakan helikopter”. Beberapa helipad dibangun di permukaan tanah, sementara di lokasi tanpa lahan kosong, helipad didirikan di atap gedung. Belakangan ini, di sejumlah daerah bahkan terjadi penutupan jalan oleh polisi untuk mendaratkan helikopter di jalan raya.

Banyak warganet menilai bahwa helikopter di Tiongkok daratan tergolong langka dan biaya penggunaannya sangat mahal. Oleh karena itu, layanan evakuasi semacam ini diduga lebih banyak melayani kalangan elite, atau bahkan dicurigai terkait dengan pemindahan cepat “organ” atau “donor”. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Perebutan Kekuasaan di Zhongnanhai Meningkat, Pakar Peringatkan Taiwan Tetap Harus Waspada

Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli diselidiki dan tersingkir, sistem komando militer Tiongkok mengalami kekosongan kekuasaan yang jarang terjadi. Banyak posisi kunci perlu segera diisi, yang secara langsung mempengaruhi kemampuan koordinasi operasional Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). 

Meski Zhongnanhai tengah melakukan penataan ulang personel militer, para pakar memperingatkan bahwa pemimpin PKT Xi Jinping kemungkinan tidak akan mengurangi ambisinya untuk menyerang Taiwan. Tidak hanya Taiwan, Amerika Serikat dan Jepang juga tidak boleh menganggap masa restrukturisasi ini sebagai “periode aman”.

EtIndonesia. Setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli diselidiki, media militer PKT baru-baru ini menerbitkan artikel komentar yang mengecam keduanya sebagai “penghalang” dan “batu sandungan”, serta menyerukan penguatan penuh pelatihan dan kesiapan tempur.

Seorang sumber internal militer bermarga Shen mengungkapkan kepada Epoch Times bahwa konflik antara Zhang Youxia dan Xi Jinping bukanlah peristiwa mendadak, melainkan hasil akumulasi ketegangan jangka panjang. Inti perselisihan berfokus pada isu Taiwan. 

Zhang Youxia dan sebagian besar perwira senior menentang penggunaan kekuatan untuk menyerang Taiwan, karena menilai langkah tersebut akan menimbulkan korban besar serta kerugian signifikan pada perlengkapan militer, bahkan berpotensi “menghabiskan” satu cabang angkatan. Namun, Xi Jinping disebut bertekad untuk melancarkan serangan terhadap Taiwan.

Editor senior urusan internasional Tang Hao menyatakan bahwa Xi Jinping ingin melancarkan operasi militer sebelum 2027 untuk merebut Taiwan demi mengukuhkan posisi historisnya dan mengamankan masa jabatan berikutnya. Sebaliknya, Zhang Youxia menilai waktu yang lebih realistis adalah setelah 2035, karena ia paling memahami kemampuan tempur riil pasukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang pembersihan besar di tubuh militer telah menjatuhkan banyak jenderal berpangkat tinggi—sebagian di antaranya justru dipromosikan langsung oleh Xi Jinping.

Pengamat politik Lan Shu mengatakan bahwa pejabat tinggi di partai, pemerintahan, dan militer umumnya naik ke puncak kekuasaan selama 40–50 tahun pertumbuhan ekonomi pasar Tiongkok, sehingga banyak dari mereka memiliki resistensi terhadap pendekatan Xi Jinping.

Sejak Kongres Nasional PKT ke-20, jumlah jenderal aktif yang secara resmi diumumkan “jatuh” telah mencapai 15 orang, sementara sekitar 20 jenderal lainnya “menghilang” dari publik. Saat ini, puluhan posisi penting di militer Tiongkok kosong, menciptakan apa yang disebut sebagai “kekosongan kepemimpinan”.

Ahli hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, menyatakan bahwa dari Stalin, Mao Zedong hingga Xi Jinping, terdapat pola politik yang serupa untuk mengendalikan militer secara personal. Mao mengandalkan sistem intelijennya, sementara Xi mengembangkan sistem intelijen PKT ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kondisi ini, setiap posisi militer yang berpotensi mengancam “kaisar Partai Komunis” menjadi sasaran penertiban, terutama mulai dari tingkat anggota CMC.

Belakangan ini, tidak hanya posisi Komandan Garnisun Beijing yang kosong hampir setahun akhirnya terisi, tetapi juga terjadi pergantian pimpinan di Garnisun Shanghai, serta di wilayah militer provinsi Anhui, Shanxi, Shaanxi, Hainan, Jilin, dan Sichuan. Menurut media resmi PKT, perombakan personel ini terjadi sebelum Zhang Youxia dan Liu Zhenli dijatuhkan.

Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya, Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, Su Tzu-yun, menyatakan bahwa selain penunjukan Chen Yuan di Garnisun Beijing, pergantian juga terjadi di Garnisun Shanghai, Pasukan Polisi Bersenjata, dan sejumlah komando militer tingkat provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa Xi Jinping sedang menyusun strategi besar.

Para pakar menilai, meskipun konflik internal PKT dan pembersihan elite militer telah menimbulkan guncangan serius, ambisi pemimpin PKT untuk menyerang Taiwan tidak surut. Xi Jinping justru tengah menyusun ulang kekuatan dan loyalisnya. Oleh karena itu, tidak hanya Taiwan, tetapi juga Amerika Serikat dan Jepang tidak boleh menganggap periode restrukturisasi Beijing ini sebagai “masa aman”, melainkan harus dipandang sebagai “masa persiapan”. (Hui)

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui, dan reporter lepas Luo Ya.

Laboratorium Biologi Ilegal Ditemukan di AS, Diduga Terkait dengan Tiongkok, Picu Kekhawatiran

Baru-baru ini, aparat penegak hukum Amerika Serikat menemukan sebuah laboratorium biologi ilegal yang tersembunyi di sebuah rumah tinggal di Negara Bagian Nevada. Di lokasi tersebut, petugas mendapati lemari pendingin dan berbagai wadah yang menyimpan cairan tidak dikenal. Penyelidikan awal menunjukkan kasus ini sangat mirip dengan insiden yang terjadi di California tiga tahun lalu, bahkan diduga melibatkan orang Tionghoa yang sama.

EtIndonesia. Pada 31 Januari, Departemen Kepolisian Metropolitan Las Vegas (LVMPD) menemukan sebuah laboratorium biologi ilegal di dalam garasi sebuah rumah tinggal. Di lokasi itu terdapat beberapa lemari pendingin, wadah berisi cairan tak dikenal, serta berbagai peralatan laboratorium lainnya. Seorang pria berusia 55 tahun bernama Ori Solomon ditangkap dan didakwa atas pembuangan serta pelepasan limbah berbahaya secara ilegal.

Tim taktis kepolisian mengumpulkan lebih dari 1.000 barang bukti yang kemudian dikirim ke laboratorium FBI untuk dilakukan pengujian.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa pemilik rumah tersebut adalah Zhu Jiabei, orang yang sama yang ditangkap pada tahun 2023 terkait kasus laboratorium di Reedley, California, dan juga merupakan buronan Kanada.

Pihak berwenang menyatakan bahwa barang-barang yang ditemukan di rumah di Las Vegas “memiliki tampilan yang konsisten dengan barang-barang yang ditemukan dan dijelaskan dalam penyelidikan laboratorium Reedley di California.” Dalam kasus tersebut, penyidik sebelumnya menyita bahan-bahan yang diduga berkaitan dengan penyakit menular yang berpotensi berbahaya, termasuk hepatitis, COVID-19, HIV, dan malaria.

Wartawan investigasi senior Epoch Times edisi Inggris, Joshua Philipp, mengatakan bahwa kasus ini sangat tidak biasa.

 “Ini adalah kasus yang sangat aneh. Otoritas California sempat turun tangan menyelidiki. Publik mungkin pernah mendengar bahwa virus Ebola ditemukan di sebuah laboratorium milik warga Tionghoa di California. Namun kenyataannya, tidak satu pun sampel tersebut pernah diuji. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tidak pernah menguji sampel apa pun yang diminta oleh pejabat setempat,” ujarnya. 

“Kasus ini akhirnya menguap begitu saja, dan semua sampel dimusnahkan. Mereka mengklaim menggunakan lebih dari 1.000 tikus ‘humanized’ untuk eksperimen, sebagai bagian dari proses pembuatan alat uji COVID-19 palsu,” katanya.

Zhu Jiabei sebelumnya ditangkap atas dugaan memberikan pernyataan palsu serta melakukan produksi dan penjualan perangkat medis palsu secara ilegal. Laporan investigasi dari Komite Khusus DPR AS untuk Masalah Partai Komunis Tiongkok (Select Committee on the Chinese Communist Party) menyebutkan bahwa Zhu memiliki hubungan keuangan dengan entitas yang terkait dengan pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Joshua Philipp menambahkan,  “Tidak diragukan lagi, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa individu-individu yang memiliki keterkaitan dengan PKT telah mendirikan laboratorium di Amerika Serikat dengan standar keamanan yang sangat rendah, kualitas yang buruk, dan kemungkinan mengandung patogen berbahaya. Mereka melakukan eksperimen pada tikus humanized, yang berarti mereka sedang mengembangkan sesuatu yang berpotensi menular ke manusia.”

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi, dari Amerika Serikat.