[Liputan Terlarang] Hampir Separuh Perusahaan Tercatat di Tiongkok Merugi, Vanke Jadi “Raja Rugi” Saham A

Baru-baru ini, seluruh perusahaan tercatat di pasar saham A Tiongkok (A-share) telah merampungkan pengungkapan prakiraan kinerja tahunan mereka. Data menunjukkan bahwa dari hampir 3.000 perusahaan tercatat, hampir separuh diperkirakan mengalami kerugian. Sektor properti menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan Vanke mencatat kerugian terbesar dan menjadi “raja rugi” di pasar saham A. Para ekonom menilai kondisi ini bukan sekadar persoalan manajemen perusahaan, melainkan cerminan dari perlambatan ekonomi Tiongkok dan menumpuknya persoalan struktural.

EtIndonesia. Hingga 6 Februari, sebanyak 2.957 perusahaan A-share telah merilis laporan prakiraan kinerja tahunan. Dari jumlah tersebut, 1.442 perusahaan diperkirakan merugi, atau sekitar 49 persen. Jika digabungkan dengan perusahaan yang memprediksi penurunan laba, total perusahaan dengan kinerja menurun atau merugi mencapai 1.863, atau sekitar 63 persen.

Dilihat dari distribusi sektoral, industri properti, layanan TI, dan pengembangan perangkat lunak menjadi sektor dengan konsentrasi kerugian tertinggi. 

Berdasarkan data penyedia layanan keuangan Wind, jumlah perusahaan yang diperkirakan merugi di sektor layanan TI dan pengembangan perangkat lunak masing-masing mencapai 60 perusahaan; sektor properti 54 perusahaan; dan sektor semikonduktor 50 perusahaan.

Profesor Xie Tian dari Darla Moore School of Business, University of South Carolina, Amerika Serikat, mengatakan bahwa kerugian ini terutama disebabkan oleh resesi ekonomi Tiongkok yang serius, bahkan berpotensi menuju depresi besar.

 “Dalam kondisi resesi dan depresi yang berkelanjutan seperti ini, buruknya kinerja perusahaan hingga terjadinya kerugian atau kebangkrutan merupakan fenomena yang sangat umum,” ujarnya.

Di antara seluruh sektor yang merugi, properti menjadi yang paling parah, dengan nilai kerugian masuk lima besar tertinggi di antara perusahaan tercatat. Vanke diperkirakan merugi sekitar 820 miliar yuan, menempati posisi pertama. Sementara itu, China Fortune Land Development dan Greenland Holdings berada di posisi kedua dan ketiga, dengan estimasi kerugian masing-masing sekitar 160–240 miliar yuan dan 160–190 miliar yuan.

Para akademisi menilai, kerugian besar-besaran pada perusahaan tercatat mencerminkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang bersamaan dengan memburuknya persoalan struktural.

Profesor Sun Guoxiang dari Departemen Urusan Internasional dan Bisnis, Universitas Nanhua, Taiwan, menyatakan bahwa hampir separuh perusahaan tercatat diperkirakan merugi pada 2025, menunjukkan penurunan kemampuan laba secara menyeluruh.

 “Ini bukan hanya akibat lemahnya permintaan makro, tetapi juga dampak struktural dari deleveraging sektor properti, pembersihan kapasitas di sektor manufaktur, serta tertundanya imbal hasil investasi teknologi,” jelasnya.

Sun Guoxiang menambahkan bahwa sifat kerugian berbeda antar industri.

 “Kerugian terkonsentrasi di sektor properti, layanan TI, semikonduktor, dan farmasi kimia. Properti menghadapi tantangan struktural jangka panjang, sementara sektor teknologi merupakan campuran antara penyesuaian siklus dan transformasi struktural,” katanya. 

“Penjualan properti telah anjlok selama bertahun-tahun, dan investasi turun hampir 20 persen. Perusahaan besar seperti Vanke yang merugi ratusan miliar yuan pada dasarnya mencerminkan runtuhnya model bisnis berbasis utang tinggi,” tambahnya.

Ia juga menilai bahwa perubahan struktur demografi Tiongkok serta kebijakan “perumahan untuk dihuni, bukan untuk spekulasi” telah menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, sehingga sektor properti sulit kembali ke pertumbuhan tinggi dan hanya dapat bergerak menuju konsolidasi serta transformasi fungsional.

Sebaliknya, menurut Sun, sektor layanan TI, semikonduktor, dan farmasi kimia menghadapi masalah akibat ekspansi berlebihan pada fase awal substitusi impor yang didorong modal, sementara permintaan aktual tidak sesuai harapan, ditambah sanksi luar negeri dan tekanan harga dari kebijakan pengadaan terpusat.

 “Dalam jangka pendek, ini merupakan pembersihan siklus. Dalam jangka panjang, sektor ini masih mendapat dukungan kebijakan, namun model keuntungan harus beralih dari pertumbuhan kasar ke pengelolaan yang lebih presisi. Perbedaannya, sektor properti menghadapi puncak permintaan, sedangkan sektor teknologi menghadapi kelebihan pasokan serta tantangan peningkatan teknologi,” katanya.

Vanke, sebagai salah satu perusahaan properti terbesar di Tiongkok, dinilai oleh kalangan industri sebagai contoh paling representatif dari fase penyesuaian mendalam sektor properti. Kerugian besar Vanke dianggap sebagai simbol runtuhnya model lama industri properti.

Xie Tian menjelaskan bahwa kerugian di sektor properti terjadi karena anjloknya penjualan rumah.

“Ketika tidak ada orang yang membeli rumah, harga properti pun turun, dan keuntungan perusahaan properti ikut merosot. Kerugian di sektor teknologi, baik teknologi tinggi maupun rendah, pada akhirnya juga terkait dengan permintaan konsumen. Jika konsumen tidak membeli, seluruh rantai pasok akan menghadapi kerugian,” ujarnya.

Para pakar menilai bahwa kerugian besar-besaran perusahaan tercatat merupakan dampak dari resesi ekonomi Tiongkok secara menyeluruh, sehingga hampir semua perusahaan terdampak.

Xie Tian menambahkan,  “Faktor kuncinya adalah penurunan jumlah penduduk dan melemahnya permintaan, ditambah memburuknya lingkungan ekonomi dan perdagangan global. Karena itu, kerugian besar-besaran pada perusahaan Tiongkok kemungkinan masih akan berlanjut untuk beberapa waktu.”

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus melemah. Arus modal domestik keluar dan penarikan investasi asing telah menjadi tren, disertai gelombang penutupan perusahaan yang terus berulang. Pada paruh pertama tahun lalu saja, lebih dari 6.000 perusahaan semikonduktor dilaporkan tutup.

Analisis menyebutkan bahwa rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga, menurunnya efektivitas marjinal investasi, lemahnya permintaan domestik, serta melemahnya permintaan eksternal telah mengguncang fondasi ekonomi Tiongkok, sehingga prospeknya dinilai suram.

Editor/Wawancara: Li Yun, Pascaproduksi: Tony

Bagian Dalam Taman Penipuan Kamboja Terbongkar, Sebuah Mikrokosmos Aktivitas Penipuan Global

EtIndonesia. Setelah pemerintah Thailand membombardir kawasan kamp penipuan di Kamboja, struktur bagian dalam bangunan tersebut baru-baru ini terungkap. Untuk pertama kalinya, publik dapat melihat gambaran paling jelas sejauh ini tentang keseluruhan kamp penipuan dan memahami cara kerja operasi penipuan tersebut. Di dalam kompleks besar yang digunakan untuk menahan para korban ini, bahkan terdapat kantor polisi palsu dari berbagai negara.

Saat memasuki kamp penipuan terbengkalai di Kamboja, terlihat papan nama bertuliskan “Biro Keamanan Publik Kota Shanghai, Subdirektorat Pudong”, serta latar kantor polisi palsu dari Singapura, Vietnam, dan negara-negara lain.

Di atas meja kerja berserakan dokumen dan materi yang berisi panduan bagi pelaku penipuan tentang cara melakukan penipuan berbasis hubungan emosional (romance scam).

Di antara dokumen yang tercecer terdapat data pribadi seorang pensiunan Jepang berusia 73 tahun, lengkap dengan nomor telepon dan saldo rekening banknya; juga data seorang perempuan Amerika Serikat yang mengungkapkan bahwa dirinya adalah korban kekerasan dalam rumah tangga.

Di lantai juga berserakan uang tunai yang ditinggalkan orang-orang saat mereka melarikan diri dengan tergesa-gesa.

Kompleks terbengkalai ini terletak di kota perbatasan Kamboja bernama O’Smach, dan kini telah disegel oleh militer Thailand.

 “Ya, menurut saya ini (kamp penipuan) sangat besar. Ini adalah kamp penipuan terbesar yang pernah kami lihat dan dari mana kami berhasil memperoleh bukti,” kata Direktur Pusat Anti-Perdagangan Manusia Kepolisian Nasional Thailand, Jenderal Polisi Thatchai. 

Di balik deretan jendela, terpasang jeruji besi rapat untuk mencegah orang melarikan diri. Militer Thailand mengungkapkan bahwa kamp ini pernah menampung ribuan orang, banyak di antaranya merupakan korban perdagangan manusia.

Seorang penyintas asal Madagaskar mengatakan bahwa para korban memanfaatkan kekacauan akibat pengeboman Thailand untuk melarikan diri.

Penyintas kamp penipuan Kamboja (anonim) berkata:  “Karena pecah perang antara Thailand dan Kamboja, kami akhirnya bisa pergi dan menyelamatkan nyawa. Saat itu ada bom dan perang, jadi semua orang berlarian dan melarikan diri dari kamp penipuan.”

Kamp penipuan ini hampir merupakan miniatur dari aktivitas penipuan global.

 “Yang benar-benar menarik adalah cara tata letak bangunan ini. Sebenarnya dibagi berdasarkan lantai, dan setiap lantai menargetkan pasar kejahatan tertentu di negara tertentu. Jadi Anda akan melihat banyak gambar palsu dan kantor polisi palsu yang ditujukan untuk negara tertentu—misalnya kantor polisi Brasil, Australia, Vietnam, Indonesia. Jelas terlihat bahwa setiap lantai memiliki pembagian yang sangat jelas, menunjukkan bahwa mereka benar-benar menginvestasikan banyak usaha,” kata Perwakilan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, Delphine Schantz.

Menurut laporan Reuters, kamp-kamp semacam ini umumnya dioperasikan oleh warga Tiongkok.

Zhang Jianhua, seorang pria asal Guizhou yang nyaris kehilangan nyawa setelah terjebak di kamp penipuan Kamboja, baru-baru ini mengatakan kepada Epoch Times bahwa ia diperkenalkan pada sebuah “pekerjaan bergaji tinggi” oleh seseorang yang dikenalnya di warnet. 

Saat hendak pergi wawancara kerja, ia dibius dan dikirim ke Kamboja. Di dalam kamp, ia menyaksikan kematian yang terjadi dari waktu ke waktu. Akhirnya, setelah dipukuli hingga sekujur tubuhnya penuh luka, Zhang Jianhua memutuskan melompat dari gedung untuk melarikan diri.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, An Qi dan Liu Fang.

Ledakan Misterius di Teheran, Kapal Induk AS Siaga Serang Iran

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran luas bahwa kawasan Timur Tengah tengah memasuki fase krisis paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan Russian Expert Weekly, Amerika Serikat disebut memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran “kapan saja”, seiring meningkatnya tekanan militer dan diplomatik secara bersamaan.

Situasi ini berkembang di tengah berlangsungnya putaran pertama perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Muscat, ibu kota Oman. Perundingan tersebut digelar dengan latar belakang gelombang aksi protes besar-besaran di Iran pada Januari 2026, yang kembali mengguncang stabilitas domestik negara itu dan meningkatkan tensi keamanan regional.

Gugus Tempur AS Masuk Posisi Serang

Menurut laporan NBC pada 6 Februari 2026, gugus tempur Angkatan Laut Amerika Serikat yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln telah memasuki posisi operasional di kawasan Timur Tengah. Gugus tempur ini dilaporkan membawa sekitar 450 unit rudal jelajah Tomahawk, yang secara luas dipandang sebagai kesiapan nyata untuk opsi serangan militer terhadap Iran.

Secara paralel, militer Amerika Serikat terus memperkuat kehadirannya di kawasan dengan mengerahkan pesawat tempur tambahan, sistem pertahanan udara berbasis darat, serta dukungan logistik skala besar, mempertegas bahwa tekanan terhadap Teheran tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga militer.

Diplomasi “Dari Titik Nol” di Tengah Ancaman Perang

Sukhof, peneliti utama Pusat Studi Timur Tengah di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional Primakov di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, menilai bahwa dialog AS–Iran di Oman bukanlah kelanjutan normal dari jalur diplomasi sebelumnya.

Menurutnya, perundingan kali ini merupakan upaya memulai kembali dari titik nol dalam situasi yang jauh lebih berbahaya. Dia menggambarkan proses tersebut sebagai langkah “menekan tombol jeda”, semata-mata untuk menguji apakah masih tersisa ruang kompromi, meskipun peluang keberhasilannya dinilai sangat kecil.

Peringatan Langsung dari Trump

Masih pada 6 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan pernyataan keras kepada wartawan di atas Air Force One. Trump mengonfirmasi bahwa timnya akan kembali bertemu dengan perwakilan Iran pada pekan berikutnya, namun dia juga menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi yang “sangat serius”.

Pada hari yang sama, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberikan wewenang kepada pemerintah AS untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 25 persen terhadap barang-barang dari negara mana pun yang masih melakukan perdagangan dengan Iran. Kebijakan ini berpotensi berdampak luas terhadap perdagangan global, termasuk terhadap negara-negara seperti Tiongkok, Jerman, dan Uni Emirat Arab.

Ledakan Misterius Mengguncang Teheran

Ketegangan semakin meningkat pada 7 Februari 2026, ketika ibu kota Iran, Teheran, diguncang kabar ledakan di kawasan Heshmatiyeh. Informasi awal yang beredar menyebutkan bahwa lokasi ledakan kemungkinan berkaitan dengan fasilitas Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, bahkan memicu spekulasi mengenai keterkaitannya dengan sistem komando pusat Garda Revolusi Iran.

Namun hingga kini, otoritas Iran belum memberikan konfirmasi resmi atas dugaan tersebut. Pemerintah setempat menyatakan bahwa insiden itu berasal dari kebakaran sebuah bengkel kayu yang disebut telah berhasil dipadamkan. Pernyataan ini diragukan oleh warga setempat, karena pada saat pengumuman disampaikan api masih terus menyebar, dan di kawasan tersebut tidak ditemukan bangunan bengkel kayu. Sebaliknya, lokasi kebakaran diketahui berkaitan dengan fasilitas yang berhubungan langsung dengan struktur rezim Iran.

Rudal Iran Siap Tempur

Sehari sebelum insiden ledakan tersebut, Iran secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menempatkan sebuah rudal balistik jarak jauh dalam status siap tempur. Langkah ini secara luas ditafsirkan sebagai respons langsung terhadap tekanan militer Amerika Serikat dan sinyal bahwa Teheran tidak akan mundur di bawah ancaman.

Negosiasi di Bawah Tekanan Ganda

Jika dicermati secara keseluruhan, Amerika Serikat dan Iran kini berada dalam fase “jendela krisis” yang sangat berbahaya. Di satu sisi, perundingan masih berlangsung, dan Trump mengirimkan sinyal bahwa ini adalah “kesempatan terakhir” bagi Iran. Di sisi lain, gugus tempur kapal induk AS telah bersiaga penuh, rudal Tomahawk siap diluncurkan, sementara Iran juga menempatkan rudalnya dalam kondisi siaga tempur.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kedua pihak berunding sambil saling menekan. Negosiasi berfungsi untuk membeli waktu, sementara penentu akhir bukanlah meja perundingan, melainkan siapa yang lebih dahulu kehilangan kesabaran.

Ledakan di Teheran, aksi protes internal yang belum sepenuhnya mereda, serta tekanan ekonomi melalui tarif tambahan AS, semuanya menumpuk menjadi tekanan ganda bagi rezim Iran: intimidasi militer dari luar dan instabilitas dari dalam negeri. Sementara itu, pemerintahan Trump secara terbuka mengandalkan kombinasi “tekanan maksimum” dan ancaman perang terbuka untuk memaksa Iran segera membuat konsesi.

Menuju Titik Balik Timur Tengah

Periode mendatang akan menjadi masa pengamatan yang sangat krusial. Dunia kini menanti apakah Iran akan memberikan konsesi substantif terkait isu nuklir, atau justru situasi akan lepas kendali dan memicu konflik regional berskala besar.

Satu hal menjadi semakin jelas: Timur Tengah sedang bergerak menuju titik balik baru, dan keputusan yang diambil dalam beberapa hari ke depan dapat menentukan arah kawasan tersebut untuk tahun-tahun mendatang.

Pemilu Jepang 2026 : Koalisi PM Sanae Takaichi Menang Telak 

Dalam parlemen dua kamar Jepang, majelis rendah memiliki kekuasaan lebih besar, sehingga memegang kendali utama atas arah kebijakan pemerintahan.

EtIndonesia. Koalisi pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diproyeksikan meraih kemenangan telak hingga mayoritas mutlak satu partai dalam pemilu parlemen krusial pada 8 Februari 2026. Kemenangan ini membuka jalan bagi kepala pemerintahan perempuan pertama Jepang untuk menjalankan agenda pemotongan pajak besar-besaran dan peningkatan belanja militer guna menahan pengaruh Beijing.

Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi diproyeksikan meraih hingga 328 dari 465 kursi di majelis rendah—perolehan supermayoritas —berdasarkan hasil exit poll yang dikutip televisi publik NHK dan jaringan besar lainnya.

Koalisi pemerintah bersama mitranya, Partai Inovasi Jepang (Ishin), diperkirakan menguasai hingga 366 kursi di majelis rendah, kamar yang paling berkuasa dalam sistem parlemen dua kamar Jepang.

LDP Takaichi sendiri telah mengamankan 233 kursi—ambang batas mayoritas—sekitar 90 menit setelah TPS ditutup pada Minggu. Raihan 328 kursi ini menjadi perolehan terbesar sepanjang sejarah LDP di majelis rendah.

Kemenangan koalisi ini memberi Takaichi—yang mengaku terinspirasi “Iron Lady” Inggris Margaret Thatcher—mandat kuat untuk mendorong agenda konservatif demi memperbaiki ekonomi dan kesiapan militer Jepang. Langkah tersebut di tengah ketegangan berkelanjutan dengan Tiongkok serta upaya Tokyo mempererat hubungan dengan Washington.

Sebagai pemimpin perempuan pertama Jepang, Takaichi (64) telah menjabat sejak Oktober 2025. Ia berjanji memangkas pajak, menekankan keamanan nasional di tengah meningkatnya ketegangan dengan tetangga kuat Jepang, Tiongkok, dan memperoleh dukungan luas berkat citra tegas serta pekerja keras.

Namun, janji Takaichi untuk menangguhkan pajak penjualan 8 persen atas bahan pangan guna meredam lonjakan harga telah mengguncang pasar dan investor, yang mempertanyakan bagaimana negara dengan beban utang terbesar di antara ekonomi maju akan membiayai kebijakan tersebut.

“Rencana pemotongan pajak konsumsi itu menyisakan tanda tanya besar soal pendanaan dan bagaimana hitungannya bisa masuk akal,” kata Chris Scicluna, kepala riset Daiwa Capital Markets Europe di London.

Ketua organisasi lobi bisnis terbesar Jepang, Keidanren, Yoshinobu Tsutsui, mengatakan ekonomi Jepang “kini berada di persimpangan kritis untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan kuat.”

Rekor badai salju di sejumlah wilayah memaksa sebagian pemilih menerjang salju untuk mencoblos, sementara beberapa TPS ditutup lebih awal akibat cuaca buruk. Pemilu biasanya digelar pada saat cuaca yang lebih bersahabat, menjadikan ini pemilu pascaperang ketiga Jepang yang berlangsung pada Februari.

Meski LDP berkuasa hampir sepanjang sejarah pascaperang Jepang, partai ini sempat kehilangan kendali atas kedua kamar parlemen dalam pemilu 15 bulan terakhir, saat Shigeru Ishiba—pendahulu Takaichi—masih berkuasa.

Takaichi menyerukan pemilu musim dingin yang jarang terjadi ini untuk menggenjot peluang koalisi, setelah menikmati tingkat persetujuan tinggi pasca naik ke puncak LDP akhir tahun lalu.

Ia juga berhasil membangun basis pendukung besar di media sosial, populer di kalangan pemilih muda, bahkan memicu tren “sanakatsu”—kependekan dari “Sanae-mania”—yang membuat barang-barang kesehariannya populer, termasuk tas tangan dan pena merah muda yang digunakannya di parlemen.

Presiden AS Donald Trump memberikan “dukungan penuh” kepada Takaichi pekan lalu. Sang perdana menteri menjamu Trump di Tokyo tak lama setelah menjabat pada Oktober 2025.

Beberapa pekan setelah mulai menjabat, Takaichi secara terbuka membahas kemungkinan respons Tokyo jika Beijing menyerang Taiwan—memicu ketegangan terbesar dengan Tiongkok dalam lebih dari satu dekade.

Tiongkok membalas dengan langkah-langkah ekonomi, termasuk menyerukan warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang.

Kemenangan telak di majelis rendah ini berpotensi memberi Takaichi mandat kuat untuk memperkuat kesiapan dan pertahanan militer Jepang, yang kian memicu kegusaran Beijing. Tiongkok menuduh perdana menteri perempuan pertama Jepang itu berupaya menghidupkan kembali era militeristik Jepang pada Perang Dunia II.

Saat hasil pemilu mulai masuk, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan kepada stasiun televisi bahwa ia berharap dapat melanjutkan kebijakan penguatan pertahanan Tokyo sambil tetap membuka dialog dengan Beijing.

Laporan ini disusun dengan kontribusi Associated Press dan Reuters.

Pembersihan Politik Zhongnanhai : Ambisi “Negara Keluarga” Xi Jinping dan Permainan Kekuasaan

EtIndonesia – Pada 24 Januari 2026, berita penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli mengejutkan seluruh negeri. Meskipun alasan resmi sering kali dikaitkan dengan korupsi atau kelalaian militer, menurut analisis komentator senior Jiang Feng, ini sebenarnya merupakan pertarungan hidup-mati di internal Zhongnanhai antara konsep “Negara Keluarga” dan “Negara Partai”, sebuah pembersihan akhir terkait hak suksesi “takhta naga”.

“Jika Anda memutar kembali jarum jam ke dua atau tiga tahun lalu, Anda akan menyadari bahwa semua ini sudah tertulis dalam naskah,” ujar Jiang Feng dalam programnya.

 Ia menilai Zhang Youxia sempat dianggap sebagai sekutu terdekat dari kalangan “generasi merah kedua” bagi Xi Jinping, namun kepercayaan di antara keduanya mencapai titik nol selama Sidang Pleno Ketiga pada Juli 2024. 

Saat itu, Xi Jinping dilaporkan menderita stroke mendadak yang menyebabkan kekosongan kekuasaan sementara, dan Zhang Youxia yang memegang kendali militer tidak menunjukkan loyalitas absolut, melainkan justru berkomunikasi dengan para tetua partai dan membiarkan intensitas propaganda menurun.

Di mata Xi Jinping, tindakan Zhang Youxia tak ubahnya versi modern dari “Sima Yi” pada masa Tiga Kerajaan, yang berencana merebut kekuasaan saat sang penguasa tengah sakit parah. Xi Jinping sangat menyadari bahwa jika ia jatuh lagi, militer tidak akan lagi melindungi pengaturan pasca-kekuasaannya, dan bahkan mungkin memperlakukan keluarganya seperti saat penghancuran “Geng Empat” di masa lalu. Oleh karena itu, pembersihan ini adalah serangan balik habis-habisan yang dilancarkan Xi demi keamanan keluarganya.

Untuk mewujudkan impian “Negara Keluarga”, Xi Jinping sangat mendambakan seorang ahli waris laki-laki. Sumber menyebutkan bahwa meskipun ia memiliki putri bernama Xi Mingze, dalam pemikiran otoritas kekaisaran feodalnya, anak perempuan pada akhirnya dianggap sebagai “orang luar”. 

Hal ini memicu rumor mengenai putra tidak sah, di mana sosok yang paling disorot adalah Jiang Renzheng yang lahir pada tahun 1990. 

Rekam jejak Jiang Renzheng sangat tidak lazim: sebagai mahasiswa jurusan filologi klasik, ia justru dikirim ke Universitas Harvard pada 2013 untuk studi lanjut, dan sekembalinya ke Tiongkok, ia dengan cepat menduduki jabatan penting di Shaanxi dan Fujian—dua wilayah yang menjadi “tempat awal kejayaan” Xi Jinping.

Jiang Feng lebih lanjut menganalisis bahwa perebutan kekuasaan ini juga melibatkan Menteri Keamanan Publik Wang Xiaohong. 

Wang Xiaohong dituduh pernah merawat putra tidak sah Xi Jinping yang lain selama bertugas di Fujian, dan menganggapnya sebagai kartu as politik layaknya sosok “Lu Buwei”. Namun, jika penerus yang diinginkan Xi Jinping adalah Jiang Renzheng, maka “kartu” di tangan Wang Xiaohong justru menjadi ancaman potensial. Hal ini menjelaskan mengapa terdapat rumor bahwa Wang Xiaohong akan menjadi target pembersihan berikutnya setelah Zhang Youxia.

Logika pembersihan ini serupa dengan tindakan Kim Il-sung di Korea Utara saat membersihkan berbagai faksi demi memastikan suksesi Kim Jong-il. 

Penghapusan batasan masa jabatan oleh Xi Jinping, pengusiran birokrat teknokrat faksi Tuanpai, hingga tindakan membersihkan abdi lama di militer saat ini, semuanya bertujuan untuk “pembersihan lapangan” demi memastikan hanya keturunan darah keluarga Xi yang tersisa di tanah merah tersebut. 

Jiang Feng menyimpulkan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun krusial bagi kapal retak PKT ini untuk menabrak gunung es, di mana aroma pertumpahan darah dan ambisi “Negara Keluarga” tengah membawa negara menuju letusan gunung berapi yang tak terduga.

Sumber Berita: Kanal YouTube 江峰时刻 (Jiang Feng Shimei), video berjudul “私生子浮現,習近平家天下與中共黨天下之爭招致“儲君”之戰…” unggahan 28 Januari 2026.


Pertarungan Berdarah di Puncak Kekuasaan Partai Komunis Tiongkok : Penangkapan Zhang Youxia 2026 Vs Insiden Lin Biao 1971

EtIndonesia. Malam tanggal 18 Januari di Beijing diwarnai angin yang menusuk tulang, namun Hotel Jingxi di pinggiran barat tetap terang benderang. Bangunan bergaya Soviet yang telah menjadi saksi bisu berbagai pergantian kekuasaan ini, malam itu kembali menjadi pusat badai politik. 

Menurut analisis mendalam dari kanal YouTube “新闻最嘲点 Mr.姜光宇” (News Most Mocking Point Mr. Jiang Guangyu), Jenderal Zhang Youxia, Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat PKT, ditangkap di tempat tersebut, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai tanda sejarah dimulainya hitung mundur keruntuhan Partai Komunis Tiongkok.

Titik Awal Keretakan: Dari Teman Masa Kecil Menjadi Musuh Politik

Zhang Youxia dan Xi Jinping sebenarnya memiliki hubungan keluarga yang sangat dekat; ayah mereka berasal dari sistem tentara merah Shaanxi utara yang sama dan lama berjuang berdampingan,. Namun, hubungan yang disebut “setia kawan” ini mulai retak setelah Kongres Nasional ke-20 PKT pada tahun 2022. 

Seiring dengan kekuasaan Xi yang mencapai puncaknya dan niatnya untuk memicu perang di Selat Taiwan, Zhang Youxia, yang memiliki pengalaman tempur nyata, menyatakan ketidaksenangan yang kuat,. Jiang Guangyu dalam programnya mengungkap detail dramatis: dalam pertemuan skala kecil sekitar sebulan yang lalu, Zhang Youxia pernah bertanya dengan keras kepada Xi Jinping: “Ketua, selama bertahun-tahun Anda terus membersihkan militer, ke mana Anda ingin membawa Partai dan negara ini? Citra militer kita telah rusak parah, ini adalah tindakan menghancurkan benteng kita sendiri!”.

Trio Rahasia dan Suara Tembakan di “Malam Jingxi”

Untuk menyingkirkan Zhang Youxia, Xi Jinping membentuk “kelompok rahasia” yang dikomandoi oleh Cai Qi, dibantu oleh Wang Xiaohong dan Zhou Hongxu,. Mereka melakukan pengawasan yang sangat ketat, bahkan secara diam-diam mengganti pengawal pribadi Zhang Youxia. 

Pada malam 18 Januari, saat Zhang Youxia baru saja tiba di lobi Hotel Jingxi, sekelompok personel bersenjata lengkap tiba-tiba menyerbu masuk dari pintu belakang. Konflik bersenjata sengit segera pecah, dengan suara tembakan yang membelah keheningan malam di Beijing. 

Jiang Guangyu mengutip informasi dari internet yang menyatakan: “Sembilan orang dari pihak Xi Jinping tewas, sementara di pihak Jenderal Zhang ada puluhan orang yang gugur; Zhang akhirnya kalah jumlah dan ditangkap hidup-hidup.”. Di saat yang sama, seluruh kota Beijing dalam keadaan siaga tempur, dan dikabarkan lebih dari 5.000 perwira terkait beserta keluarga mereka telah diincar dan ditangkap.

Keheningan yang Aneh: Perpecahan Militer dan Krisis Rezim

Berbeda dengan “gelombang pernyataan sikap” yang biasanya terjadi setelah jatuhnya pejabat tinggi, kali ini, setelah jatuhnya Zhang Youxia, tidak ada satu pun kepala wilayah militer atau pejabat tinggi tingkat provinsi yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keputusan pusat,. Keheningan yang aneh ini menunjukkan bahwa tindakan Xi Jinping sangat tidak populer. 

Jiang Guangyu menganalisis: “Saat ini tidak ada satu pun pejabat militer senior yang bersedia menjadi yang pertama menyatakan sikap, karena semua orang ketakutan—siapa yang akan menjadi target berikutnya?”. Selain itu, karena Zhang Youxia dipandang secara internasional (terutama oleh pihak AS) sebagai salah satu dari sedikit jenderal profesional yang dapat melihat risiko militer secara objektif, jatuhnya Zhang dianggap akan semakin menyebabkan kekacauan dalam sistem komando tentara PKT dan hilangnya kemampuan tempur.

Gema Sejarah: Insiden Lin Biao Versi 2.0?

Jiang Guangyu dalam akhir programnya menegaskan bahwa insiden Zhang Youxia menandai sistem PKT telah memasuki tahap akhir keruntuhan, dengan dampak yang sebanding dengan “Insiden Lin Biao” di masa lalu. Ketika kekuasaan seorang diktator terlalu terpusat sementara wibawanya merosot hingga titik beku, efektivitas operasional institusi akan menurun drastis. 

Sebagaimana ia katakan: “Meskipun Zhang Youxia telah ditangkap, wibawa Xi Jinping juga telah hilang sepenuhnya; para pejabat memilih untuk tidak melakukan apa-apa (lying flat), dan ini adalah awal dari kehancuran sebuah dinasti.” Saat ini, jalan tol menuju Beijing telah mengalami penutupan sementara yang tidak dapat dijelaskan, masyarakat merasa cemas, dan badai politik yang lebih besar mungkin baru saja dimulai.

Penanganan Mao Zedong terhadap Lin Biao merupakan contoh klasik konflik politik internal di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT). Strateginya—memotong cakar terlebih dahulu, lalu mengambil kepala—kini terlihat kembali diterapkan secara cermat oleh para penguasa di Zhongnanhai saat ini. 

Menyebut Zhang Youxia sebagai “Lin Biao kedua” bukan sekadar retorika. Julukan itu mencerminkan kemiripan mencolok dalam posisi kelembagaan mereka, hubungan yang terus berubah dengan pemimpin tertinggi, serta rasa keniscayaan politik yang suram menyelimuti kejatuhan mereka masing-masing.

Nasib Lin Biao berakhir secara tragis dalam Insiden 13 September 1971, ketika ia tewas dalam kecelakaan pesawat yang misterius saat melarikan diri dari Tiongkok. Sebaliknya, pencopotan Zhang Youxia yang diumumkan secara resmi menunjukkan bahwa Xi Jinping telah menyerap pelajaran Mao dan memilih ledakan yang terencana serta bersifat pencegahan. 

Namun ironi sejarah kejam adanya: setelah kejatuhan Lin Biao, kesehatan dan wibawa Mao runtuh dengan cepat. Kini, dengan Zhang Youxia dan 17 jenderal senior disingkirkan, pusat komando Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah dikosongkan. Ketika tak satu pun komandan berpengalaman tempur berani berbicara jujur, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Dari “orang kepercayaan baja” menjadi “jasa yang mengancam takhta”

Lin Biao secara pribadi ditunjuk oleh Mao Zedong sebagai penerusnya, bahkan namanya ditulis ke dalam Konstitusi Partai. Mao pernah menyatakan, “Siapa pun yang menentang Wakil Ketua Lin, hancurkan kepala anjingnya.”

Zhang Youxia, di sisi lain, selama bertahun-tahun merupakan “kakak tertua” paling tepercaya bagi Xi Jinping di dalam militer. Kedua keluarga memiliki ikatan revolusioner: ayah Zhang, Zhang Zongxun, dan ayah Xi, Xi Zhongxun, adalah rekan seperjuangan di Tentara Medan Barat Laut. 

Selama dua masa jabatan pertama Xi, Zhang berperan penting dalam menstabilkan PLA dan membersihkan sisa-sisa pengaruh Xu Caihou dan Guo Boxiong—keduanya mantan wakil ketua Komisi Militer Pusat (KMP) yang jatuh karena korupsi.

Keduanya berawal sebagai sekutu terdekat pemimpin tertinggi. Namun pada akhirnya, keduanya mengumpulkan prestise sedemikian besar di dalam angkatan bersenjata hingga membentuk pusat kekuasaan yang independen dari pemimpin puncak—memicu naluri terdalam seorang diktator: kecurigaan.

“Veteran tempur” versus klik keamanan sipil

Lin Biao adalah komandan medan perang legendaris, tetapi pada fase akhir Revolusi Kebudayaan ia secara terbuka meremehkan Jiang Qing, Zhang Chunqiao, dan kaum radikal sipil lainnya. Sikap ini meyakinkan Mao bahwa Lin berniat menggunakan kekuatan militer untuk campur tangan langsung dalam politik.

Zhang Youxia, bersama Kepala Staf Umum PLA Liu Zhenli, mewakili faksi serupa yang berpengalaman tempur. Mereka dilaporkan gusar terhadap meningkatnya campur tangan tokoh-tokoh sipil dan aparat keamanan internal seperti Cai Qi dan Wang Xiaohong—kepala Kementerian Keamanan Publik—dalam pengambilan keputusan militer.

Menurut catatan rapat internal yang beredar di kalangan Partai, Zhang Youxia menentang sebagian “petualangan militer” Xi Jinping yang dinilai tidak realistis, termasuk skenario tekanan ekstrem di Selat Taiwan. Rombongan sipil Xi menafsirkan hal ini bukan sebagai kehati-hatian profesional, melainkan sebagai upaya menimbun pasukan dan membangkang perintah.

Pola pembersihan yang identik: memotong sayap

Sebelum bergerak melawan Lin Biao, Mao terlebih dahulu menyerang lingkaran dalam Lin—yang dikenal sebagai “Empat Marsekal”: Huang Yongsheng, Wu Faxian, Li Zuopeng, dan Qiu Huizuo.

Xi Jinping mengikuti naskah yang sama. Pertama, penangkapan Menteri Pertahanan Li Shangfu—yang dianggap sebagai penerus Zhang. Lalu muncul laporan penahanan 17 jenderal dari Kantor Umum CMC dan Departemen Pengembangan Peralatan.

Manuver ini dalam istilah internal Partai disebut “memotong kelim pakaian.” Saat Zhang menyadari semua orang di sekelilingnya telah disingkirkan, ia tetap menyandang gelar wakil ketua hanya secara nominal—pada praktiknya berada dalam tahanan rumah. Paralelnya dengan isolasi terakhir Lin Biao tak terbantahkan.

Penghancuran Mao terhadap “Empat Marsekal” Lin—

  • Huang Yongsheng, Kepala Staf Umum
  • Wu Faxian, Panglima Angkatan Udara
  • Li Zuopeng, Komisaris Politik Angkatan Laut
  • Qiu Huizuo, Kepala Departemen Logistik Umum

—Dilakukan melalui tiga langkah kejam.

1. Menguji air: “melempar batu”

Pada Konferensi Lushan 1970 (Pleno Kedua Komite Sentral ke-9), kubu Lin Biao mendorong pemulihan jabatan Ketua Negara dan melontarkan pujian berlebihan kepada Mao sebagai “jenius”—melampaui garis merah politik Mao.

Mao tidak menghadapi Lin secara langsung. Ia justru menerbitkan Pendapat Kecil Saya, yang menyerang habis-habisan penasihat Lin, Chen Boda.

Dampaknya: Mao memaksa Wu Faxian, Qiu Huizuo, dan lainnya menulis kritik diri. “Peledakan batu” ini dimaksudkan untuk meretakkan aliansi baja Lin dan menanamkan rasa takut.

2. Mengencerkan kendali: “mencampur pasir”

Mao tahu Lin menguasai Staf Umum, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan logistik melalui keempat orang ini. Tanggapan Mao adalah “mencampur pasir ke dalam mesin”: menyisipkan perwira di luar faksi Lin—seperti Li Desheng—ke dalam Kelompok Urusan Militer dan komando regional kunci.

Tujuan politiknya: mirip dengan Xi Jinping saat ini yang menempatkan tokoh seperti Zhang Shengmin atau mengerahkan Biro Keamanan Pusat untuk memantau CMC, langkah ini memastikan orang-orang Lin tidak pernah sendirian—bahkan di wilayah kekuasaan mereka sendiri.

3. Menggerogoti loyalitas: tur selatan dan vonis politik

Pada Agustus 1971, Mao memulai tur inspeksi selatan, secara diam-diam memberi sinyal kepada para pemimpin daerah dan komandan militer bahwa “seseorang sedang berupaya memecah Partai—dan Lin Biao bertanggung jawab.”

Mao secara terbuka melabeli Huang, Wu, Li, dan Qiu sebagai “klik militer,” yang pada hakikatnya menjatuhkan hukuman politik kepada mereka. Perwira lain segera memutus hubungan, mengisolasi basis militer Lin tanpa kemungkinan pemulihan.

Setelah Lin Biao: bagaimana PKT membeli waktu—dan mengapa Xi tidak bisa

Insiden 13 September merupakan keruntuhan kredibilitas politik terbesar PKT sejak 1949. Lin Biao adalah penerus pilihan Mao, tertulis dalam Konstitusi Partai. Upaya pelariannya dan kematiannya berarti penolakan total terhadap klaim Mao sebagai “Pemimpin Besar.” Jika bahkan ahli waris pilihan Anda sendiri ingin membunuh Anda, legitimasi apa yang tersisa?

Menurut kesaksian orang dalam dari tim medis Zhongnanhai, Mao mengalami kemerosotan fisik parah setelah kejatuhan Lin, termasuk gangguan neurologis dan kegagalan jantung. Lalu bagaimana PKT bertahan?

Pertama, Mao beralih ke Amerika Serikat. Kunjungan Nixon dan normalisasi hubungan Tiongkok–AS memberikan kemenangan diplomatik besar yang mengalihkan perhatian dari bencana domestik. Kedua, Zhou Enlai berjuang menstabilkan birokrasi dan hubungan luar negeri yang porak-poranda. Ketiga—dan yang paling menentukan—rezim mengandalkan represi brutal: kampanye Mengkritik Lin Biao dan pembersihan nasional menegakkan kepatuhan melalui rasa takut.

Kemudian Mao beralih kepada Deng Xiaoping. Deng menyelamatkan Partai dengan menggeser fondasinya dari pemujaan pemimpin menuju insentif material. Ketika pendewaan gagal, Deng menyatakan bahwa pembangunan adalah kebenaran yang keras. Pertumbuhan ekonomi menjadi harga yang dibayar untuk kepatuhan publik. PKT berubah dari gerakan revolusioner menjadi kartel berbasis kepentingan.

Pada periode inilah kepemimpinan kolektif muncul. Belajar dari bencana Lin Biao, Deng menghapus masa jabatan seumur hidup dan mengurangi risiko runtuhnya seluruh sistem akibat jatuhnya satu orang kuat.

Jalan buntu Xi Jinping

Di sinilah letak pertanyaan intinya: apakah Xi Jinping saat ini memiliki satu pun dari syarat-syarat tersebut?

Xi kini menghadapi krisis yang secara mengerikan mirip dengan tahun-tahun terakhir Mao—namun tanpa keunggulan yang dimiliki Deng. Tidak ada lagi surplus keuntungan yang bisa dibagikan. Era pertumbuhan bersama telah berakhir. Pemerintah daerah tenggelam dalam utang; sektor properti runtuh; modal asing hengkang. Sejumlah provinsi bahkan kesulitan membayar gaji pegawai negeri. Tanpa “rampasan” ekonomi, Xi tidak dapat membeli loyalitas.

Ia juga tidak dapat meniru jalan keluar diplomatik Mao. Jika Mao memecah isolasi dengan merapat ke Amerika Serikat, Xi kini justru menghadapi semacam Perang Dingin baru dengan dunia Barat. Diplomasi tidak lagi menawarkan penguatan positif bagi kekuasaan domestik.

Yang tersisa hanyalah pemerintahan berbasis ketakutan. Namun cara Xi menangani Zhang Youxia dan 17 jenderal lainnya mencerminkan buku pedoman Mao—tanpa otoritas Mao, dan tanpa “dompet” Deng. Dengan jatuhnya Zhang, seorang jenderal princeling, Xi telah menjadi benar-benar 孤家寡人 (seorang penguasa yang kesepian)—pemimpin yang terisolasi di dalam PLA.

Saat ini, satu-satunya pilar kendali PKT adalah politik polisi rahasia berteknologi tinggi: aparat keamanan Wang Xiaohong yang dipadukan dengan pengawasan data massal.

Xi Jinping sedang mencoba membangun model kekuasaan totaliter tanpa pertumbuhan ekonomi—sebuah jalur yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah PKT. Dengan militer yang tidak stabil, ekonomi properti yang runtuh, dan tanpa pelonggaran diplomatik, kartu terakhirnya adalah pengalihan melalui perang, seperti operasi terhadap Taiwan. Namun, dengan terbentuknya poros global anti-komunis dan meningkatnya posisi internasional Taiwan, bukankah PKT justru berlari kencang menuju kehancurannya sendiri?


Tiga Tahun Bertahan Setelah Dibuka, Lalu Ditutup: Propaganda vs Realitas, Kegagalan Proyek Kereta Pintar Shaanxi, Tiongkok

Dibangun untuk memamerkan inovasi, jalur Shaanxi ini terpuruk akibat minim penumpang dan kerugian sebelum akhirnya ditutup diam-diam.

EtIndonesia. Sebuah jalur kereta pintar yang pernah digembar-gemborkan dengan propaganda media corong partai Komunis Tiongkok Tiongkok sebagai terobosan transportasi perkotaan kini diam-diam berhenti beroperasi di Provinsi Shaanxi, Tiongkok. Yang tersisa hanyalah peron kosong, penghalang yang dibongkar, serta pertanyaan yang kian menguat tentang logika politik di balik proyek infrastruktur mahal yang minim kebutuhan publik.

Jalur Demonstrasi Kereta Pintar Kawasan Baru Xixian Lini 1—yang oleh pejabat dilabeli sebagai “kereta pintar pertama di Tiongkok barat laut”—dibangun dengan biaya sekitar 700 juta yuan (sekitar  Rp1,54 triliun). Setelah bertahun-tahun merugi, jalur ini berhenti beroperasi pada pertengahan Januari, hanya tiga tahun setelah resmi dibuka.

Media Tiongkok melaporkan bahwa tidak ada satu pun kereta yang kini beroperasi. Listrik diputus di sejumlah stasiun, gerbang masuk dicopot, dan jalur khusus kereta dibuka kembali untuk lalu lintas umum. Akun media sosial resmi proyek tersebut sudah tidak dapat diakses, dan hampir tidak ada lagi tanda visual bahwa jalur ini pernah beroperasi.

Propaganda vs Realitas

Berdasarkan catatan publik, proyek kereta pintar ini disetujui oleh Dewan Negara Tiongkok dan membutuhkan hampir satu dekade sejak perencanaan hingga rampung. Jalur demonstrasi tersebut resmi dibuka pada Maret 2023, menghubungkan kota Xi’an dan Xianyang, melintasi tujuh distrik dan kabupaten.

Saat peluncuran, pejabat rezim mempromosikannya sebagai proyek percontohan yang menggabungkan transportasi regional dan pariwisata, dengan menonjolkan klaim keunggulan—biaya lebih murah dibanding kereta bawah tanah, pembangunan lebih cepat, serta “keseimbangan kapasitas dan efisiensi.”

Media pemerintah Tiongkok berulang kali menekankan bahwa proyek ini mengisi “kekosongan teknologi” di wilayah barat laut.

Namun setelah beroperasi, realitasnya bertolak belakang dengan narasi promosi. Jumlah penumpang tetap rendah, kerugian terus membengkak, dan kondisi operasional tak pernah membaik.

“Proyek Prestasi Politik”

Bagi Liu Yu, jurnalis asal Shaanxi, penutupan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi.

“Sejak awal, proyek ini menunjukkan semua ciri khas proyek prestasi politik,” ujarnya kepada The Epoch Times, merujuk pada infrastruktur yang dibangun terutama untuk mendongkrak catatan kinerja pejabat. “Penekanannya adalah menjadi yang ‘pertama’ dan ‘mengisi kekosongan,’ bukan pada apakah masyarakat benar-benar membutuhkannya.”

Liu menambahkan, di wilayah yang keuangan pemerintah daerahnya sudah tertekan, menggelontorkan dana besar ke jalur transportasi dengan posisi fungsi yang kabur dan permintaan lemah adalah langkah yang secara inheren berisiko.

“Banyak masalah sebenarnya sudah terlihat sejak tahap persetujuan,” katanya. “Namun dalam logika politik yang mengutamakan pencapaian yang kasat mata, keraguan seperti itu jarang dipertimbangkan secara serius.”

Setelah dibangun, lanjutnya, proyek semacam ini biasanya hanya bisa bertahan dengan subsidi pemerintah yang terus-menerus, sampai akhirnya subsidi itu sendiri tak lagi sanggup dipertahankan.

Peringatan yang Diabaikan dan Cacat Struktural

Dong, seorang pengusaha swasta di Shaanxi yang hanya bersedia disebutkan nama keluarganya karena khawatir akan pembalasan, mengatakan bahwa penolakan sudah muncul sejak 2014, saat proyek ini pertama kali disetujui. Para akademisi dan praktisi industri telah memperingatkan bahwa kepadatan penduduk di sepanjang rute rendah, sementara bus dan jalur metro sudah menyediakan alternatif yang memadai.

“Keberatan itu ada,” katanya. “Tetapi tidak pernah benar-benar masuk ke dalam proses pengambilan keputusan.”

Catatan publik menunjukkan bahwa sejumlah stasiun kunci—termasuk yang dirancang untuk melayani tujuan wisata besar seperti taman hiburan di dekatnya—tidak pernah dibuka akibat sengketa kompensasi lahan yang belum terselesaikan. Akibatnya, jalur tersebut gagal menjangkau wilayah yang justru dijadikan alasan utama pembangunannya. Tanpa arus penumpang yang stabil, pendapatan tiket tak mampu menutup biaya operasional, mendorong proyek semakin dalam ke jurang defisit.

“Proyek-proyek seperti ini berfokus pada tampilan inovatif dan efek demonstrasi,” ujar Dong. “Tetapi hampir tidak ada pemikiran serius soal operasi jangka panjang. Diluncurkan dengan gegap gempita, dan ketika gagal, tak seorang pun menjelaskan apa yang salah.”

Ia menambahkan, karena pemerintah daerah menanamkan dana besar pada proyek-proyek berskala raksasa dengan imbal hasil ekonomi yang tidak pasti, ketika subsidi mengering, penutupan menjadi satu-satunya pilihan.

“Beban keuangan itu,” kata Dong, “pada akhirnya jatuh ke pundak pemerintah daerah dan pembayar pajak biasa.”

Laporan ini juga disumbangkan oleh Xin Ling.

Uni Eropa Perintahkan TikTok Perbaiki “Desain Adiktif” Aplikasinya

Regulator Uni Eropa memperingatkan TikTok agar mengekang fitur-fitur adiktif seperti infinite scroll dan autoplay yang dinilai dapat “membahayakan kesehatan fisik dan mental penggunanya.”

EtIndonesia. Komisi Eropa telah memperingatkan TikTok untuk merombak apa yang disebut sebagai “desain adiktif” platform tersebut, atau menghadapi potensi denda besar berdasarkan Undang-Undang Layanan Digital (Digital Services Act/DSA).

Dalam temuan awalnya, Komisi Eropa menyatakan pada 6 Februari bahwa TikTok tidak “menilai secara memadai” fitur-fitur adiktif yang berpotensi “membahayakan kesehatan fisik dan mental penggunanya, termasuk anak di bawah umur dan orang dewasa rentan.”

Komisi secara awal menyimpulkan bahwa TikTok telah melanggar DSA melalui desain aplikasinya yang adiktif. Fitur-fitur yang dipersoalkan meliputi gulir tanpa akhir (infinite scroll), pemutaran otomatis (autoplay), notifikasi dorong, serta sistem rekomendasi yang sangat dipersonalisasi.

Menurut Komisi, TikTok secara terus-menerus “memberi ‘hadiah’” kepada pengguna dengan konten baru melalui desain yang mendorong keinginan untuk terus menggulir, sekaligus menempatkan otak pengguna ke dalam “mode autopilot.”

Temuan ini dibuat berdasarkan DSA, undang-undang Uni Eropa yang berfokus pada moderasi konten, keselamatan pengguna, dan akuntabilitas platform digital. Aturan ini berlaku bagi perusahaan yang beroperasi di Uni Eropa, terlepas dari lokasi kantor pusatnya. Jika terbukti melanggar, perusahaan dapat didenda hingga 6 persen dari omzet global tahunan.

Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi, Henna Virkkunen, menyatakan bahwa “kecanduan media sosial dapat berdampak merugikan bagi perkembangan mental anak-anak dan remaja.”

“Digital Services Act menjadikan platform bertanggung jawab atas dampak yang mereka timbulkan terhadap pengguna. Di Eropa, kami menegakkan hukum untuk melindungi anak-anak dan warga kami di dunia daring,” tambahnya.

“Kini kami menuntut TikTok untuk bertindak dan mengubah desain layanannya di Eropa demi melindungi anak di bawah umur,” ujar Virkkunen kepada wartawan.

Ia juga mengatakan penyelidikan terhadap platform daring lainnya berjalan dengan baik, dan keputusan lanjutan diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, tanpa menyebutkan nama perusahaan.

Komisi menyatakan TikTok harus mengubah desain dasar layanannya, termasuk menerapkan jeda waktu layar saat pengguna mengakses aplikasi pada malam hari, serta memodifikasi algoritme yang menyajikan konten personal kepada pengguna.

Perusahaan induk global TikTok adalah ByteDance, perusahaan yang didirikan dan berkantor pusat di Tiongkok, tunduk pada hukum Tiongkok, dan berada di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Pada Januari, TikTok membentuk usaha patungan dengan kepemilikan mayoritas Amerika Serikat untuk mengawasi keamanan data dan operasi konten di AS. Meski demikian, ByteDance tetap memegang saham minoritas dan masih menjadi perusahaan induk global TikTok.

TikTok mengkritik tuduhan Uni Eropa tersebut.

“Temuan awal Komisi menyajikan gambaran yang sepenuhnya keliru dan tidak berdasar tentang platform kami, dan kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menentang temuan ini,” ujar juru bicara TikTok.

Raksasa teknologi Silicon Valley dalam beberapa tahun terakhir kerap dijatuhi sanksi di Eropa. Apple, Microsoft, Meta, dan Google semuanya pernah didenda oleh Uni Eropa atau negara-negara anggotanya.

Komisi Eropa juga menjatuhkan denda 120 juta euro (sekitar US$140 juta) kepada perusahaan media sosial X milik miliarder Elon Musk pada 5 Desember 2025, setelah penyelidikan selama dua tahun di bawah DSA—putusan ketidakpatuhan pertama berdasarkan undang-undang tersebut.

Komisi menyatakan X melanggar sejumlah kewajiban transparansi, termasuk “desain menyesatkan” tanda centang biru, kurangnya transparansi dalam arsip iklan, serta kegagalan memberikan akses data publik bagi peneliti.

Menurut Komisi, lencana verifikasi di platform tersebut diubah menjadi fitur berbayar tanpa pemeriksaan identitas yang memadai. Regulator menilai hal ini menyesatkan pengguna hingga mengira akun-akun tersebut autentik, sehingga meningkatkan risiko peniruan identitas, manipulasi, dan penipuan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut denda tersebut sebagai serangan terhadap seluruh platform teknologi Amerika.

“Denda US$140 juta oleh Komisi Eropa bukan hanya serangan terhadap @X, tetapi serangan terhadap semua platform teknologi Amerika dan rakyat Amerika oleh pemerintah asing,” kata Rubio pada 5 Desember melalui X. “Era penyensoran warga Amerika di dunia daring telah berakhir.”

The Epoch Times telah menghubungi TikTok untuk meminta tanggapan.

Laporan ini disusun dengan kontribusi Andrew Moran, Guy Birchall, dan Reuters.

Tersangka Kunci Serangan Fasilitas Diplomatik AS Benghazi 2012 Berhasil Ditangkap

Empat warga Amerika tewas dalam serangan terhadap pos diplomatik AS di Benghazi, Libya, pada 11 September 2012.

EtIndonesia. WASHINGTON—Pemerintah Amerika Serikat telah menangkap seorang tersangka kunci dalam serangan terhadap fasilitas diplomatik AS di Benghazi, Libya, pada 11 September 2012. Pengumuman ini disampaikan Jaksa Agung Pam Bondi pada 6 Februari 2026.

Berbicara kepada wartawan pada Jumat, Bondi mengidentifikasi tersangka yang ditangkap sebagai Zubayar al-Bakoush. Ia menyatakan bahwa Bakoush ditangkap oleh FBI, namun tidak merinci lokasi penangkapannya.

“Individu tersebut ditangkap dan dipindahkan semalam, lalu diamankan ke dalam tahanan pada dini hari ini di sebuah landasan udara. Itu saja yang bisa kami sampaikan saat ini,” ujar Direktur FBI Kash Patel.

Bondi mengatakan Bakoush tiba di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, Maryland, sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada Jumat 6 Februari 2026.

Empat warga Amerika tewas dalam serangan Benghazi 2012, yakni Duta Besar AS Christopher Stevens, pegawai Departemen Luar Negeri Sean Smith, serta dua kontraktor CIA Tyrone Woods dan Glen Doherty.

Serangan tersebut menyasar kompleks diplomatik yang juga menjadi kediaman Stevens, serta sebuah aneks CIA di dekatnya.

Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Pirro menyatakan bahwa Bakoush menghadapi dakwaan pidana delapan pasal, termasuk tuduhan pembunuhan terhadap Stevens dan Smith, serta percobaan pembunuhan terhadap Agen Khusus Departemen Luar Negeri Scott Wicklund. Ia juga didakwa bersekongkol memberikan dukungan material bagi terorisme serta satu dakwaan terkait pembakaran.

“Biarlah kasus ini menjadi pengingat: jika Anda melakukan kejahatan terhadap rakyat Amerika, di mana pun Anda berada di dunia ini, Departemen Kehakiman Presiden Trump akan menemukan Anda,” kata Bondi. “Mungkin tidak terjadi dalam semalam, tetapi pasti akan terjadi.”

Pirro mengatakan dirinya telah menghubungi keluarga keempat warga Amerika yang tewas dalam serangan tersebut.

“Waktu tidak akan menghentikan kami untuk memburu para predator ini, berapa pun lamanya, demi menunaikan kewajiban kami kepada keluarga-keluarga yang menanggung penderitaan luar biasa akibat teroris brutal ini,” ujarnya.

Pemerintah AS menyebut Ansar al-Sharia di Benghazi sebagai salah satu kelompok utama yang bertanggung jawab atas serangan 2012 tersebut. Departemen Luar Negeri AS menetapkan Ansar al-Sharia di Benghazi sebagai organisasi teroris asing pada 2014.

Bakoush merupakan orang ketiga yang menghadapi tuntutan pidana terkait serangan Benghazi 2012.

Sebelumnya, pemerintah AS telah mengadili Ahmed Abu Khatallah dan Mustafa al-Imam dalam kasus yang sama. Pada 2018, Khatallah dijatuhi hukuman 22 tahun penjara dan disebut sebagai pemimpin senior Ansar al-Sharia di Benghazi. Sementara itu, al-Imam dijatuhi hukuman sekitar 20 tahun penjara pada 2020.

Seorang tokoh lain yang terkait dengan serangan tersebut, Ali Awni al-Harzi, tewas dalam serangan udara AS di Mosul, Irak, pada Juni 2015. Saat itu, Pentagon menyatakan Harzi sebagai operator ISIS yang dikenal.

Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

SMARTFREN Resmi Hadirkan Layanan 5G di Surabaya, Dorong Transformasi Digital dan Ekonomi Lokal

Surabaya – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) melalui brand SMARTFREN resmi meluncurkan layanan jaringan generasi kelima (5G) di Surabaya. Kehadiran layanan ini menegaskan langkah strategis perusahaan dalam memperluas konektivitas digital di kota metropolitan sekaligus pusat ekonomi terbesar kedua di Indonesia.

Kawasan Kota Lama Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran, mencerminkan perpaduan antara nilai sejarah, gaya hidup urban, dan kemajuan teknologi digital. Dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, Surabaya dinilai memiliki potensi ekonomi dan ekosistem digital yang kuat untuk mendukung pemanfaatan jaringan 5G secara luas.

Peluncuran SMARTFREN 5G ini menjadi bagian dari komitmen XLSMART dalam mendukung aktivitas masyarakat perkotaan, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas kreatif, pelajar, hingga kalangan profesional. Layanan 5G diharapkan mampu memberikan akses internet yang lebih cepat, stabil, dan andal untuk menunjang produktivitas serta gaya hidup digital masyarakat.

Kehadiran layanan tersebut juga sejalan dengan kampanye SMARTFREN 5G bertajuk #BebasWorryMakinHappy, yang mengedepankan pengalaman digital tanpa hambatan, khususnya bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.

Pemerintah Kota Surabaya menyambut positif kehadiran jaringan 5G SMARTFREN sebagai bagian dari upaya percepatan transformasi digital kota, pengembangan kawasan heritage, serta penguatan ekonomi lokal berbasis komunitas dan UMKM.

Regional Group Head XLSMART East Region, Dodik Ariyanto, mengatakan bahwa Surabaya merupakan kota dengan dinamika ekonomi dan kreativitas masyarakat yang tinggi. “Dengan menghadirkan jaringan 5G di Surabaya, khususnya di kawasan Kota Lama, kami ingin mendukung aktivitas digital masyarakat, baik untuk usaha, pendidikan, hiburan, maupun kreasi konten, melalui koneksi yang cepat dan stabil,” ujarnya.

Dari sisi infrastruktur, layanan SMARTFREN 5G di Surabaya didukung oleh jaringan XLSMART dengan pendekatan blanket coverage agar konektivitas dapat dinikmati secara lebih merata. Saat ini, lebih dari 600 Base Transceiver Station (BTS) 5G telah beroperasi untuk menjaga kualitas layanan yang optimal dan berkelanjutan.

Untuk mendukung kebutuhan pelanggan, SMARTFREN menghadirkan beragam pilihan paket data, mulai dari paket Unlimited hingga paket berbasis kuota, yang dilengkapi layanan VoLTE berkualitas tinggi. Pelanggan juga memperoleh fasilitas panggilan gratis ke sesama pengguna XL, AXIS, dan SMARTFREN selama paket aktif, seiring integrasi layanan dalam ekosistem XLSMART.

Sebagai bagian dari perayaan peluncuran, SMARTFREN menggelar SMARTFREN Fun Run 2026 di kawasan Kota Lama Surabaya pada Minggu (8/2). Acara ini diikuti lebih dari 1.000 peserta yang berasal dari komunitas lari, pelanggan, karyawan XLSMART, serta masyarakat umum. Kegiatan tersebut turut diramaikan dengan bazar UMKM lokal, hiburan, dan berbagai aktivasi mitra strategis.

Rute lari yang melintasi kawasan heritage Kota Lama menghadirkan pengalaman unik yang memadukan olahraga, wisata sejarah, dan gaya hidup digital. Kehadiran bazar UMKM dalam acara ini dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi lokal dan memperkuat keterlibatan komunitas.

Group Head Marketing Segment SMARTFREN XLSMART, Astiyanto Tri Muktiwibowo, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi sarana interaksi langsung dengan masyarakat. “Melalui SMARTFREN Fun Run di Kota Lama Surabaya, kami ingin menghadirkan ruang interaksi yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mendukung UMKM dan komunitas lokal. Pada kesempatan ini, kami juga memperkenalkan Super Frenzy, karakter visual SMARTFREN 5G yang mencerminkan semangat energik, optimis, dan bebas berekspresi,” jelasnya.

SMARTFREN juga memperkenalkan paket data 5G terbaru dengan berbagai keuntungan, seperti akses Unlimited, kuota anti hangus, serta gratis layanan WhatsApp Video, Call, dan Chat. Paket ini dirancang fleksibel untuk berbagai segmen, mulai dari pelajar, pekerja, hingga pelaku UMKM. Saat ini, layanan SMARTFREN 5G dapat diakses melalui lebih dari 50 tipe perangkat smartphone 5G dari berbagai merek, termasuk melalui program bundling dengan penawaran khusus.

Melalui peluncuran layanan 5G di Surabaya dan rangkaian aktivitas berbasis komunitas di Kota Lama, XLSMART menegaskan komitmennya untuk mempercepat transformasi digital, memperkuat ekonomi lokal, serta menghadirkan layanan telekomunikasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.

Bukan Rudal, Bukan Tank—Starlink yang Melumpuhkan Rusia dari Dalam

EtIndonesia. Situasi perang Rusia–Ukraina memasuki babak baru yang semakin kompleks. Di tengah kebuntuan pertempuran darat, serangkaian peristiwa besar terjadi hampir bersamaan: gangguan massal jaringan Starlink di wilayah pendudukan Rusia, ledakan misterius di jalur logistik Rusia, intensifikasi serangan drone lintas wilayah, serta tekanan ekonomi yang kian mencekik Moskow.

Starlink Terputus Massal, Sistem Komando Rusia Terguncang

Pada 5 Februari 2026, jaringan satelit Starlink yang selama ini digunakan oleh pasukan Rusia di wilayah pendudukan Ukraina tiba-tiba terputus secara luas dan serentak. Saluran Telegram dan media sosial berbahasa Rusia dipenuhi keluhan dari unit-unit militer yang melaporkan hilangnya koneksi hampir di seluruh garis depan.

Gangguan ini segera memicu kekacauan besar dalam sistem komando, pengendalian drone, serta koordinasi artileri Rusia. Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Sergei Beskrestnov, penasihat teknis Kementerian Pertahanan Ukraina, yang secara terbuka menyebut insiden ini sebagai “bencana nyata” bagi pasukan Rusia.

Menurut Beskrestnov, ribuan terminal Starlink milik Rusia mendadak tidak dapat terhubung ke jaringan, bahkan setelah dilakukan restart berulang kali. Kondisi ini secara drastis menurunkan kemampuan Rusia dalam pengintaian real-time dan pengambilan keputusan di medan tempur.

Tekanan Kiev ke SpaceX dan Langkah Pengamanan Baru

Meski Moskow menyangkal terjadinya keruntuhan rantai komando, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Rusia memang secara resmi dilarang menggunakan Starlink. Terminal-terminal tersebut diperoleh melalui negara ketiga dan jalur pasar gelap.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kiev secara aktif menekan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, agar memutus akses ilegal tersebut. Akibatnya, diperkirakan lebih dari 500.000 terminal Starlink di zona pendudukan Rusia kini tidak lagi aktif.

Sebagai langkah lanjutan, Ukraina mengumumkan akan menerapkan sistem whitelist, di mana hanya terminal Starlink yang terverifikasi dan terdaftar secara resmi yang dapat mengakses jaringan. Kebijakan ini bertujuan mencegah penyalahgunaan teknologi sipil oleh pihak militer Rusia di masa depan.

Dukungan Barat Berlanjut: Drone dan Infrastruktur

Sejalan dengan insiden Starlink, Pentagon pada awal Februari mengundang sejumlah perusahaan teknologi Ukraina untuk berpartisipasi dalam program pengembangan drone generasi baru. Program ini dipandang sebagai upaya memperkuat kemampuan asimetris Ukraina di tengah keterbatasan sumber daya.

Sementara itu, Prancis mengumumkan tambahan bantuan sebesar 71 juta dolar AS yang difokuskan pada perbaikan dan penguatan infrastruktur vital Ukraina, terutama sektor energi yang terus menjadi sasaran serangan Rusia.

Ledakan di Tambov: Jalur Logistik Rusia Terpukul

Di dalam wilayah Rusia sendiri, situasi keamanan juga memburuk. Pada 4 Februari 2026, sebuah kereta tanker bahan bakar militer anjlok dan meledak hebat di wilayah Tambov, sekitar ratusan kilometer dari Moskow. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat logistik utama bagi pasukan Rusia yang bertempur di Ukraina.

Ledakan tersebut menyebabkan kerusakan serius pada jalur transportasi dan memicu spekulasi luas tentang aksi sabotase. Gangguan di Tambov dinilai dapat berdampak langsung pada rantai suplai bahan bakar dan amunisi menuju garis depan Rusia.

Serangan Drone Saling Balas dan Perubahan Medan Tempur

Pada 5 Februari 2026, perang Rusia–Ukraina resmi memasuki hari ke-1443. Di hari yang sama, Rusia melancarkan 183 serangan drone dan dua rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh 156 drone, namun 16 lokasi tetap terdampak, termasuk fasilitas energi dan permukiman.

Sebagai balasan, Ukraina meluncurkan serangan drone berskala besar ke wilayah Rusia, Krimea, dan kawasan timur. Target serangan kini diarahkan secara sistematis ke simpul transportasi, fasilitas energi, dan industri militer, menandai perubahan strategi dari sekadar pertahanan menuju pelemahan struktural Rusia.

Di medan darat, meskipun sebagian besar sektor masih buntu akibat cuaca musim dingin ekstrem, Ukraina mencatat keberhasilan taktis langka dengan merebut kembali wilayah luas di barat daya Pokrovsk. Kemenangan ini dinilai penting secara moral dan operasional, meski belum mengubah peta perang secara keseluruhan.

Tekanan Ekonomi Rusia Kian Menggila

Di luar medan tempur, tekanan paling berat justru kini menumpuk di sektor ekonomi Rusia. Data awal Januari 2026 menunjukkan bahwa pendapatan minyak dan gas Rusia anjlok hampir 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga minyak mentah Ural turun ke sekitar 35 dolar AS per barel, jauh di bawah harga keseimbangan anggaran negara. Kondisi ini memaksa pemerintah Rusia mulai membahas langkah-langkah ekstrem untuk menutup defisit, termasuk pemangkasan anggaran dan penggunaan cadangan nasional.

Sebaliknya, Ukraina menerima dorongan signifikan dari luar negeri. Uni Eropa menyetujui pinjaman hingga 90 miliar euro untuk membantu stabilisasi ekonomi dan pemulihan energi Ukraina, memperkuat daya tahannya dalam perang jangka panjang.

Kesimpulan: Tekanan Terbesar Kini di Belakang Rusia

Meski pertempuran di garis depan masih berlangsung tarik-menarik, rangkaian peristiwa awal Februari 2026 menunjukkan satu pola jelas: tekanan terbesar kini tidak lagi berada di parit, melainkan di belakang Rusia—pada sistem komando, logistik, teknologi, dan fondasi ekonominya.

Insiden Starlink menjadi peringatan keras bahwa ketergantungan pada sistem satelit dan teknologi eksternal membawa risiko strategis besar, sementara serangan terhadap logistik dan ekonomi berpotensi menentukan arah perang lebih dari sekadar perebutan wilayah.

Reaksi Para Biarawati

EtIndonesia. Ada dua orang biarawati—yang satu adalah Biarawati Matematika, dan yang lain Biarawati Logika. Hari sudah hampir gelap, sementara jarak mereka ke biara masih cukup jauh.

Matematika: “Apakah kamu menyadari bahwa ada seorang pria di belakang kita yang sudah mengikuti kita selama tiga puluh delapan menit tiga puluh detik? Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.”

Logika: “Kesimpulan yang masuk akal: dia berniat menyerang kita.”

Matematika: “Ya Tuhan! Dengan kecepatan seperti ini, dia akan menangkap kita dalam lima belas menit. Apa yang harus kita lakukan?”

Logika: “Satu-satunya cara yang masuk akal tentu saja berjalan lebih cepat.”

Matematika: “Tapi dengan kecepatan sekarang, dia bahkan bisa menangkap kita dalam satu menit!”

Logika: “Kalau begitu, satu-satunya cara yang masuk akal adalah kita berpisah. Kamu lari ke arah sana, aku ke arah sini. Dia tidak mungkin menangkap kita berdua.”

Akhirnya, pria itu memilih untuk terus mengikuti Biarawati Logika…

Biarawati Matematika tiba dengan selamat di biara, namun sangat khawatir dengan keadaan Biarawati Logika. Tak lama kemudian, dia melihat Biarawati Logika masuk ke gerbang biara.

Matematika: “Puji Tuhan! Kamu akhirnya kembali! Cepat ceritakan, apa yang terjadi?”

Logika: “Setelah dia terus mengikutiku, terjadilah satu-satunya hal yang masuk akal.”

Matematika:“Apa hal yang masuk akal itu?”

Logika: “Dia berhasil menangkapku.”

Matematika: “Ya Tuhan! Lalu apa yang kamu lakukan?”

Logika: “Aku melakukan satu-satunya hal yang masuk akal—aku mengangkat rokku.”

Matematika: “Ya Tuhan… lalu pria itu?”

Logika: “Dia juga melakukan satu-satunya hal yang masuk akal—menurunkan celananya.”

Matematika: “Ya ampun! Lalu bagaimana akhirnya?”

Logika: “Hasilnya tentu sangat masuk akal. Seorang biarawati yang mengangkat roknya pasti bisa berlari jauh lebih cepat daripada seorang pria yang menurunkan celananya, bukan begitu?”

Kamu yang tadi sempat berpikir ke mana-mana… cepat ucapkan dua kali: “Amin!”

Hikmah Cerita 

Ternyata, yang dimaksud Biarawati Logika sejak awal hanyalah: saat tertangkap, mengangkat rok panjang agar lebih mudah berlari dan melarikan diri. Amin… Amin… aku akui, tadi sempat salah paham sedikit.

Logika membantu segala sesuatu berjalan sesuai alur yang wajar. Namun, imajinasi yang “melompat-lompat” tanpa logika juga sering menjadi bahan bakar kreativitas dan kemajuan. Justru dari pergantian antara logika dan non-logika, manusia belajar, berpikir, dan berkembang. (jhn/yn)

Kopi dengan Garam

EtIndonesia. Dia hanyalah seorang pria yang sangat biasa. Saat pesta malam itu usai, ketika dia mengajaknya minum kopi bersama, wanita itu terkejut. Namun demi sopan santun, dia tetap menerimanya.

Duduk di sebuah kafe, suasana di antara mereka terasa canggung. Hampir tidak ada topik pembicaraan. Dia hanya ingin segera mengakhiri pertemuan itu dan pulang.

Namun ketika pelayan mengantarkan kopi, pria itu tiba-tiba berkata: “Maaf, bisa tolong ambilkan sedikit garam? Saya terbiasa minum kopi dengan garam.”

Wanita itu terdiam. Pelayan pun ikut terkejut. Tatapan semua orang tertuju padanya, sampai-sampai wajah pria itu memerah.

Pelayan pun mengambilkan garam. 

Dia menaburkannya sedikit ke dalam kopi, lalu meminumnya perlahan.

Wanita itu adalah sosok yang penuh rasa ingin tahu. Dia pun bertanya: “Mengapa kamu menambahkan garam ke dalam kopi?”


Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan pelan, hampir satu kata demi satu kata: “Waktu kecil, rumahku berada di tepi laut. Aku sering bermain di laut. Ombak datang, air laut masuk ke mulut—rasanya pahit dan asin. Sudah lama aku tidak pulang ke rumah. Menambahkan garam ke kopi adalah caraku merindukan kampung halaman, seolah-olah bisa memperpendek jarak.”

Jawaban itu langsung menyentuh hatinya. Itu adalah pertama kalinya dia mendengar seorang pria mengungkapkan rasa rindu pada rumah di hadapannya. Dia percaya, pria yang merindukan rumah pasti pria yang peduli pada keluarga, dan pria yang peduli pada keluarga pasti pria yang mencintai rumah tangganya.

Tiba-tiba dia pun ingin berbagi cerita. Dia menceritakan kampung halamannya yang jauh ribuan kilometer. Suasana yang dingin perlahan mencair. Mereka berbincang lama, dan kali ini dia tidak menolak ketika pria itu mengantarnya pulang.

Sejak saat itu, mereka sering bertemu.  Dia semakin mengenalnya dan menyadari bahwa pria itu sebenarnya sangat baik—lapang dada, teliti, penuh perhatian—semua sifat yang dia anggap sebagai ciri pria ideal.

Dalam hati, dia bersyukur. Andai saja saat itu dia tidak menjaga sopan santun, mungkin mereka hanya akan saling berpapasan tanpa pernah benar-benar bertemu.

Dia itu membawanya berkeliling dari satu kafe ke kafe lain. Setiap kali, dia selalu berkata: “Tolong ambilkan sedikit garam, ya? Pacar saya suka kopi dengan garam.”

Lalu, seperti yang tertulis dalam buku dongeng : “Pangeran dan putri pun menikah dan hidup bahagia selamanya.”

Dan mereka memang hidup bahagia—selama lebih dari empat puluh tahun, hingga suatu hari pria itu jatuh sakit dan meninggal dunia.

Seolah cerita ini sudah berakhir… jika saja tidak ada sepucuk surat itu.

Surat yang ditulisnya menjelang ajal, ditujukan kepadanya:

“Maafkan aku karena telah menipumu sepanjang hidup. Masih ingat pertemuan pertama kita di kafe? Saat itu suasananya sangat buruk. Aku gugup dan tidak tahu harus berkata apa. Entah kenapa, aku malah meminta garam. Sebenarnya aku tidak pernah minum kopi dengan garam. Tapi karena sudah terlanjur mengatakannya, aku terpaksa meneruskannya.

Tak kusangka hal itu justru membangkitkan rasa ingin tahumu, dan sejak saat itu aku pun minum kopi dengan garam selama setengah hidupku. Berkali-kali aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi aku takut kamu marah, dan lebih takut lagi jika kamu meninggalkanku.

Sekarang aku tidak takut lagi, karena aku akan meninggal. Orang mati biasanya mudah dimaafkan, bukan?

Memilikimu dalam hidup ini adalah kebahagiaan terbesarku. Jika ada kehidupan berikutnya, aku masih ingin menikahimu—hanya saja, aku tidak ingin lagi minum kopi dengan garam…

Kamu tidak tahu betapa tidak enaknya kopi yang diberi garam. Sampai sekarang aku sendiri heran, bagaimana dulu aku bisa terpikir untuk meminta garam itu!”

Isi surat itu membuatnya terkejut. Dia merasa tertipu, tetapi di saat yang sama hatinya dipenuhi perasaan yang tak terlukiskan.

Namun pria itu tak pernah tahu— betapa bahagianya dia memiliki seseorang yang bersedia melakukan sebuah kebohongan seumur hidup demi dirinya.

Kisah ini memberi tahu kita bahwa… pria yang pandai “merangkai cerita” memang sering kali lebih memikat!

Hikmah Cerita 

Kebohongan memiliki dua wajah: ada yang jahat, ada pula yang lahir dari niat baik. Ketika sebuah kebohongan berakar pada ketulusan dan cinta, dia justru menjadi bentuk kasih sayang.

Tak seorang pun menyukai dibohongi. Namun jika sebuah “kebohongan” dijaga dengan konsistensi, ketulusan, dan kesetiaan hingga akhir hayat, maka kebohongan itu perlahan berubah menjadi kebenaran.

Kopi dengan garam memang pahit dan sulit ditelan, tetapi perhatian pasangan terasa manis di hati— manis hingga mampu menghapus seluruh rasa pahit di lidah.

Awalnya, kisah ini adalah cerita cinta yang menyentuh. Namun satu kalimat terakhir membuatnya berbelok 180 derajat menjadi kisah yang jenaka. (jhn/yn)

Kolonel Angkatan Udara Yunani Ditangkap, Diduga Membocorkan Rahasia NATO kepada Tiongkok

EtIndonesia. Pihak Yunani baru-baru ini mengumumkan sebuah kasus internal militer yang menarik perhatian luas. Markas Besar Pertahanan Nasional Yunani (GEETHA) pada 5 Februari menyatakan bahwa Kementerian Pertahanan telah menangkap seorang prajurit aktif karena diduga membocorkan informasi militer yang sangat sensitif kepada “pihak ketiga”, tindakan yang berpotensi merugikan kepentingan nasional.

Menurut pengumuman resmi militer Yunani, operasi penangkapan dilakukan pada pagi hari itu di dalam kawasan militer terbatas. Tindakan ini dipimpin oleh otoritas peradilan militer, dilakukan dengan koordinasi bersama lembaga dari beberapa negara, dan sepenuhnya berada di bawah pengawasan kejaksaan. 

Pihak militer menyatakan telah ditemukan indikasi kuat bahwa perwira tersebut melanggar hukum pidana militer dengan secara ilegal mengumpulkan dan menyebarkan informasi rahasia yang berkaitan erat dengan keamanan militer.

Sejumlah media Yunani kemudian mengungkapkan bahwa tersangka adalah seorang perwira Angkatan Udara dengan pangkat kolonel. Beberapa laporan menyebutkan bahwa perwira tersebut telah mengakui pernah melakukan aktivitas spionase untuk Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Informasi yang beredar menunjukkan bahwa otoritas Yunani sebenarnya telah mulai menyelidiki kasus ini secara diam-diam sekitar dua bulan lalu, setelah menerima pemberitahuan dari lembaga keamanan negara sekutu. 

Selama periode tersebut, Badan Intelijen Nasional Yunani (NIS) melakukan pengawasan jangka panjang terhadap perwira tersebut untuk mengumpulkan bukti.

Baru-baru ini, aparat keamanan menilai bahwa jumlah dan tingkat sensitivitas data yang dibocorkan semakin meningkat dan berpotensi menimbulkan risiko yang lebih besar, sehingga diputuskan untuk segera mengambil tindakan. Saat ini, pihak berwenang juga sedang menyelidiki apakah ia terlibat dalam kasus serupa lainnya.

Karena jabatannya yang tinggi sebagai kolonel, ia memiliki akses ke sejumlah besar informasi militer tingkat atas, termasuk dokumen internal dan data penting NATO. Para penyelidik menemukan perilaku mencurigakan tersebut melalui catatan digital yang ditinggalkan saat ia mengakses dokumen rahasia, yang dikenal sebagai “jejak elektronik”. Disebutkan bahwa ia diduga menggunakan metode seperti pemindaian kode QR untuk mengirimkan data yang sangat rahasia ke Beijing.

Media Greek City Times melaporkan bahwa identitas lengkap tersangka belum diumumkan ke publik. Namun, ia diketahui bertanggung jawab atas bidang komunikasi dan sistem elektronik di Angkatan Udara—sebuah posisi yang sangat krusial.

Penyelidikan awal juga menunjukkan bahwa perwira tersebut menggunakan perangkat lunak khusus untuk transmisi terenkripsi guna mengirimkan data yang berkaitan dengan Angkatan Udara, keseluruhan angkatan bersenjata, bahkan NATO, ke Tiongkok. Hingga saat ini, pihak Tiongkok belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.

Pejabat Yunani secara khusus menegaskan bahwa pihak penerima informasi dalam kasus ini bukanlah negara tetangga Yunani maupun musuh keamanan tradisionalnya. Sumber-sumber menyebutkan bahwa pihak yang diuntungkan adalah Tiongkok komunis.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Yunani mengungkap kasus semacam itu. Pada Juli 2025, empat warga negara Tiongkok pernah ditahan di dekat Pangkalan Udara Tanagra karena diduga memotret jet tempur “Rafale” serta fasilitas industri pertahanan di sekitarnya. Mereka beraktivitas dengan kedok wisatawan, termasuk seorang di antaranya yang masih di bawah umur.

Polisi menemukan sejumlah besar materi visual terkait operasi pangkalan tersebut, yang memicu kewaspadaan tinggi dari otoritas Yunani. Pemerintah kemudian meluncurkan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan apakah kejadian ini merupakan bagian dari operasi pengumpulan intelijen yang lebih besar, serta menimbulkan kekhawatiran bahwa Beijing tengah mengincar teknologi militer canggih Eropa.

Bukan hanya Yunani, sejumlah negara Eropa lainnya juga baru-baru ini menangani kasus serupa. Kejaksaan Prancis pada 4 Februari menyatakan bahwa empat orang telah ditangkap karena diduga melakukan aktivitas spionase untuk PKT di wilayah Prancis, termasuk dua warga negara Tiongkok. Mereka dituduh mencoba memanfaatkan sistem “Starlink” untuk mencuri data sensitif pemerintah dan militer Prancis. Penyelidikan terkait kasus ini masih berlangsung. (Hui)