Jenderal Rusia Vladimir Alekseyev Ditembak Berkali-kali di Moskow

Seorang jenderal Rusia ditembak berkali-kali di Moskow dalam insiden yang oleh otoritas setempat disebut sebagai upaya pembunuhan pada 6 Februari.

EtIndonesia. Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev, seorang petinggi Kementerian Pertahanan Rusia diserang di sebuah gedung perumahan di Jalan Raya Volokolamskoe, di wilayah barat laut ibu kota Rusia.

Menurut Svetlana Petrenko, juru bicara Komite Investigasi Rusia, Alekseyev dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Rusia, TASS.

Petrenko menambahkan bahwa Komite Investigasi Rusia telah membuka perkara pidana untuk menyelidiki dugaan percobaan pembunuhan dan perdagangan senjata api ilegal. Ia mengatakan bahwa berdasarkan temuan penyelidik, seorang individu yang hingga kini belum teridentifikasi menembak seorang pria beberapa kali lalu melarikan diri dari lokasi kejadian.

Para penyelidik dan ahli forensik dari Komite Investigasi Moskow saat ini bekerja di tempat kejadian perkara, meninjau rekaman kamera pengawas (CCTV), serta mewawancarai para saksi mata sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi pelaku atau para pelaku, ujar Petrenko.

Kantor Kejaksaan Moskow kini mengambil alih kendali atas penyelidikan pidana tersebut, demikian dikutip dari  TASS.

Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah diberitahu mengenai insiden penembakan Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev .

Menurut media pemerintah Rusia, Kommersant, Alekseyev lahir di Ukraina pada tahun 1961 dan telah mengabdi di dinas intelijen militer Rusia selama beberapa dekade. Sepanjang kariernya, ia pernah bertugas di Suriah, menerima berbagai penghargaan militer, dan dikenai sanksi oleh Amerika Serikat atas dugaan “aktivitas siber berbahaya.”

Hingga saat ini, belum ada kelompok atau negara yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Penembakan ini merupakan yang terbaru dalam rangkaian serangan terhadap tokoh militer Rusia di Moskow dalam beberapa waktu terakhir.

Letnan Jenderal Fanil Sarvarov tewas akibat bom yang dipasang di bawah mobilnya di Moskow pada 22 Desember 2025.

Pada saat itu, Petrenko mengatakan bahwa para penyelidik sedang mengejar beberapa teori terkait pembunuhan tersebut, termasuk dugaan bahwa “kejahatan itu diorganisasi oleh badan keamanan Ukraina.”

Sarvarov, 56 tahun, adalah kepala Direktorat Pelatihan Operasional di Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia. Sepanjang kariernya, ia banyak bertugas di lingkungan militer Moskow dan dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk Orde Keberanian, Medali Suvorov, serta Orde Jasa kepada Tanah Air kelas satu dan dua.

Pusat komunikasi strategis Spravdi milik Ukraina, yang beroperasi di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Ukraina, mencatat kematian Sarvarov dalam sebuah unggahan di platform X.

“Para jenderal Rusia terus meledak di kampung halaman mereka sendiri di Rusia, dengan satu lagi hari ini di Moskow,” tulisnya.

 “Mayor Jenderal Fanil Sarvarov meninggal pagi ini pukul 07.00 ketika mobilnya meledak. Bertanggung jawab atas banyak kekejaman, Sarvarov terlibat dalam operasi selama invasi ke Georgia, Chechnya, Suriah, dan Ukraina. Ia tidak akan melakukan semua itu lagi.”

Pada April 2025, seorang perwira tinggi militer Rusia lainnya, Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik—wakil kepala departemen operasional utama di Staf Umum—juga tewas akibat bom mobil di dekat gedung apartemennya di pinggiran Moskow.

Pada 17 Desember 2024, Letnan Jenderal Igor Kirillov, kepala pasukan perlindungan nuklir, biologis, dan kimia militer Rusia, tewas akibat bom yang disembunyikan di sebuah skuter listrik di luar gedung apartemennya. Serangan tersebut juga menewaskan asistennya.

Dinas keamanan Ukraina mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Seorang pria asal Uzbekistan ditangkap dan didakwa atas pembunuhan Kirillov atas nama dinas keamanan Ukraina.

Upaya pembunuhan terbaru ini terjadi sehari setelah utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengumumkan adanya kesepakatan antara Kyiv dan Moskow untuk menukar 314 tahanan—pertukaran pertama dalam lima bulan—menyusul perundingan yang dimediasi AS di Abu Dhabi.

Baik Moskow maupun Kyiv menggambarkan pembicaraan yang berlangsung di Uni Emirat Arab tersebut sebagai hal yang positif.

Perwakilan presiden Rusia sekaligus kepala Dana Investasi Langsung Rusia, Kirill Dmitriev, yang hadir dalam pembicaraan itu, mengatakan kepada TASS bahwa “ada kemajuan” dan bahwa terdapat “pergerakan maju yang baik dan positif.”

Negosiator utama Kyiv, Rustem Umerov, menyampaikan penilaiannya atas pembicaraan tersebut dalam unggahan Telegram pada 4 Februari, dengan mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai.

“Setelah pertemuan trilateral di Abu Dhabi, proses negosiasi berlanjut hari ini dalam format kerja kelompok,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa pekerjaan tersebut “bersifat substantif dan produktif, dengan fokus pada langkah-langkah konkret dan solusi praktis.”

Situasi Gawat: AS Tarik Warganya dari Iran, AS dan Israel Bersiap, Iran Terancam Digempur

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali mengalami eskalasi tajam. Pada Rabu, 4 Februari 2026, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi mengeluarkan peringatan keamanan darurat yang mendesak seluruh warga negara Amerika Serikat yang berada di Iran segera meninggalkan wilayah tersebut.

Peringatan ini disampaikan melalui Kedutaan Besar Virtual Amerika Serikat untuk Iran, sebuah kanal resmi yang selama ini digunakan Washington untuk menyampaikan imbauan konsuler mengingat tidak adanya hubungan diplomatik langsung antara kedua negara.

Dalam pernyataan tersebut, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa situasi dapat memburuk tanpa peringatan, termasuk kemungkinan pembatalan mendadak penerbangan internasional, penutupan wilayah, hingga penguncian akses transportasi. Pemerintah AS bahkan secara eksplisit memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, bantuan konsuler atau operasi evakuasi mungkin tidak dapat diberikan.

“Warga negara Amerika harus segera menyusun rencana evakuasi mandiri yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah Amerika Serikat,” tegas pernyataan resmi tersebut.

Imbauan Bertahan Hidup Jika Tak Bisa Evakuasi

Bagi warga AS yang tidak dapat segera meninggalkan Iran, Departemen Luar Negeri memberikan panduan rinci langkah-langkah darurat. Warga diminta untuk:

  • Tetap berada di rumah atau bangunan yang aman
  • Menyimpan persediaan makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya
  • Menghindari kerumunan dan aksi demonstrasi
  • Menjaga profil rendah dan meningkatkan kewaspadaan
  • Memastikan perangkat komunikasi selalu terisi daya
  • Menjaga komunikasi rutin dengan keluarga dan kerabat, serta melaporkan kondisi terkini

Hingga kini, Iran tetap diklasifikasikan oleh Amerika Serikat sebagai Level 4: Do Not Travel (Jangan Bepergian)—tingkat risiko tertinggi dalam sistem peringatan perjalanan AS.

Latar Belakang: Gejolak Internal Iran Tak Pernah Padam

Peringatan keras ini muncul di tengah ketidakstabilan internal Iran yang belum pernah benar-benar mereda dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang protes anti-pemerintah terus muncul, sering kali berujung pada bentrokan berdarah dengan aparat keamanan.

Nilai mata uang rial Iran terus merosot, inflasi meroket, dan tekanan ekonomi memicu kemarahan publik. Organisasi HAM internasional mencatat bahwa puluhan ribu warga Iran telah ditangkap, sementara ribuan lainnya dilaporkan tewas atau menghilang akibat tindakan represif rezim.

Meski beberapa gelombang protes berhasil ditekan, para pengamat menilai ledakan sosial baru dapat terjadi kapan saja, terutama jika tekanan eksternal meningkat.

Washington Tegaskan Garis Merah: Opsi Militer Tetap Terbuka

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS,  Marco Rubio menegaskan bahwa perundingan dengan Iran tidak akan bermakna jika hanya membahas isu nuklir semata.

Menurut Rubio, pembicaraan harus mencakup empat poin utama:

  1. Program nuklir Iran
  2. Pengembangan rudal balistik
  3. Dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional
  4. Perlakuan rezim terhadap rakyatnya sendiri

Pernyataan ini memperjelas bahwa garis merah Washington tidak berubah, dan jalur diplomasi berjalan berdampingan dengan opsi militer yang tetap berada di atas meja.

Presiden AS, Donald Trump bahkan melontarkan peringatan yang lebih keras. Dalam wawancara dengan NBC, Trump secara terbuka memperingatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

“Dia seharusnya sangat khawatir—sangat khawatir,” ujar Trump.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan armada militer paling kuat di dunia ke kawasan Timur Tengah dan kembali menegaskan satu prinsip mutlak: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

“Jika tidak tercapai kesepakatan, maka kita akan melihat akibatnya,” tegasnya.

Trump juga mengungkapkan bahwa elite Iran disebut sedang mengalirkan uang ke luar negeri dalam jumlah besar, sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan AS—indikasi kepanikan internal rezim.

Israel Siap Pukul Lebih Keras

Sinyal eskalasi juga datang dari Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam rapat keamanan khusus menyatakan bahwa momentum untuk menggulingkan rezim Iran sedang terbentuk.

Netanyahu menegaskan Israel siap melancarkan serangan berskala sangat besar, jauh melampaui operasi terhadap target militer Iran pada Juni 2025. Dia juga menekankan bahwa Israel akan berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat.

Para analis menyoroti bahwa peringatan evakuasi AS semacam ini terakhir kali dikeluarkan tepat sebelum Trump hampir memerintahkan serangan militer, yang kala itu dibatalkan pada detik terakhir. Namun kali ini, kondisi dinilai sangat berbeda:

  • Kapal induk AS telah berada di posisi strategis
  • Trump berulang kali menegaskan serangan berikutnya akan “jauh lebih dahsyat”
  • Israel secara terbuka menyatakan kesiapan tempur

Gabungan sinyal ini dinilai sebagai peringatan paling serius dalam beberapa dekade terakhir.

Perundingan 6 Februari: Risiko Gagal Sangat Tinggi

Perundingan tingkat tinggi AS–Iran dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026. Namun jarak posisi kedua pihak dinilai sangat lebar.

Amerika Serikat menuntut pembahasan komprehensif mencakup nuklir, rudal, dan jaringan proksi, sementara Iran menolak keras agenda di luar isu nuklir. Banyak analis memperkirakan risiko kegagalan perundingan sangat tinggi, dan jika negosiasi runtuh, konfrontasi militer nyaris tak terhindarkan.

Gedung Putih Dorong Agenda Pergantian Rezim

Menjelang perundingan tersebut, kebijakan Washington tampak memasuki fase baru. Pemerintahan Trump dilaporkan telah mendorong isu pergantian rezim Iran dari balik layar ke panggung depan.

Menurut laporan media Uni Emirat Arab The National, Gedung Putih tengah menyusun rencana transisi kekuasaan Iran, termasuk rencana pertemuan tertutup tokoh-tokoh oposisi Iran di Florida akhir pekan ini.

Laporan tersebut menyebut Jared Kushner, menantu Trump, terlibat aktif dalam pembentukan dewan penasihat pengusaha AS keturunan Iran untuk membahas:

  • Pengisian kekosongan kekuasaan pasca-runtuhnya rezim Khamenei
  • Struktur pemerintahan sementara
  • Pengalihan kendali militer

Langkah ini menandai eskalasi kebijakan AS dari tekanan maksimum menuju persiapan pergantian rezim secara nyata.

72 Jam Penentuan

Apa pun hasil perundingan 6 Februari, para analis sepakat bahwa badai ini hampir tak dapat dibendung. Sorotan dunia kini tertuju ke Florida, yang dinilai berpotensi menjadi tempat lahirnya cetak biru era pasca-Khamenei.

Nasib Iran, tekad Amerika Serikat, dan masa depan stabilitas Timur Tengah mungkin akan ditentukan dalam 72 jam ke depan—saat dunia menahan napas menunggu apakah diplomasi masih memiliki ruang, atau senjata akan benar-benar berbicara.

Ikan Mas Ajaib Bertahan Hidup Selama Dua Minggu Meskipun Kehilangan Kepalanya

EtIndonesia. Dengan kemampuan AI untuk menghasilkan berbagai macam video gila saat ini, tidak sulit untuk memahami mengapa kebanyakan orang akan menganggap klip ikan mas yang berenang tanpa kepala sebagai palsu. Tetapi meskipun premis itu terdengar gila, video tersebut tidak hanya nyata, tetapi juga didukung oleh sains dan anatomi.

Pada akhir Januari, seorang pemilik ikan mas di Tiongkok mengunggah video salah satu ikannya yang berenang di akuarium dengan lubang besar di tempat seharusnya kepalanya berada. Mereka menyebutkan bahwa ikan tersebut telah berada dalam kondisi mengerikan itu selama beberapa hari tetapi terus berenang tanpa peduli apa pun, meskipun kehilangan mata, mulut, dan sebagian otaknya.

Ketika ditanya bagaimana ikan mas tersebut bisa berada dalam kondisi seperti itu, pemiliknya menulis bahwa jaringan di kepalanya telah mengalami nekrosis, kemungkinan besar karena infeksi atau kualitas air yang buruk. Saat potongan-potongan jaringan mulai mati, ikan lain mulai mematuk ikan yang sakit, mengekspos lebih banyak jaringan dan menyebabkannya mati, menghasilkan siklus ganas yang akhirnya membuat hewan malang itu kehilangan kepalanya.

Jadi bagaimana ikan mas bisa bertahan hidup tanpa sebagian besar kepalanya, apalagi terus berenang di dalam akuarium? Ternyata, itu sangat berkaitan dengan struktur anatomi ikan tersebut. Tidak seperti manusia dan sebagian besar mamalia lainnya, yang memiliki otak berbentuk massa terkonsentrasi, otak ikan mas memiliki struktur yang lebih linier, memanjang dari kepala hingga ke tubuhnya.

Bagian depan otak ikan menangani fungsi tingkat tinggi seperti penciuman, ingatan, dan pemrosesan visual, sementara batang otak, bagian terpenting untuk mempertahankan hidup, terletak di dalam tubuh, dekat dengan sambungan ke sumsum tulang belakang. Selama batang otak tetap utuh, ikan dapat terus bernapas melalui insangnya dan menjaga sirkulasi darah.

Bertahan hidup adalah satu hal, tetapi ikan dalam video tersebut berenang normal dan tampaknya menghindari tabrakan dengan dinding akuarium. Ternyata, berenang tidak memerlukan perintah terus-menerus dari otak; sebaliknya, kemampuan ini dihasilkan oleh jaringan saraf otomatis di sumsum tulang belakang, sehingga kemampuan ini tidak terpengaruh oleh hilangnya kepala.

Ikan juga memiliki jaringan sensor tekanan di sepanjang kedua sisi tubuhnya, yang bertindak sebagai sonar biologis, memungkinkan mereka untuk menghindari rintangan di jalan mereka bahkan tanpa mata.

Menurut pemiliknya, ikan tanpa kepala itu bertahan hidup selama sekitar dua minggu sebelum akhirnya mati karena luka-luka mengerikannya, meskipun secara teknis, dia mati karena kegagalan organ yang disebabkan oleh air tawar di dalam akuarium. Ikan air tawar terus-menerus menghadapi tekanan osmotik karena konsentrasi garam di dalam tubuh mereka lebih tinggi daripada air di lingkungannya.

Biasanya, kulit dan sisik membantu membatasi masuknya air, sementara ginjal mereka membuang kelebihan air. Namun, dengan luka besar di kepalanya, air tawar terus-menerus membanjiri aliran darah, mengencerkan cairan dan mengganggu keseimbangan elektrolit. Akhirnya, ikan tersebut mati karena ketidakseimbangan elektrolit yang parah.

Media berita Tiongkok yang meliput kisah yang tidak biasa ini menggambarkannya sebagai demonstrasi yang jelas tentang ketahanan mekanisme bertahan hidup dasar pada ikan.(yn)

Ini Bukan Kebetulan: Mengapa NPC Mendadak “Membelot” dari Xi Jinping


EtIndonesia.  Awalnya, banyak pihak menilai kasus yang menimpa Zhang Youxia hanyalah satu lagi badai politik internal yang pada akhirnya akan mereda di bawah kendali kuat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Namun menjelang periode yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai masa kekacauan “Kuda Merah dan Kambing Merah”, realitas justru bergerak ke arah sebaliknya. Arus bawah politik elite PKT tidak hanya bergolak, tetapi menunjukkan tanda-tanda perlawanan serius.

Politik internal PKT yang selama ini tampak solid bak “satu bongkahan besi” mendadak menampilkan drama langka: upaya “menyelamatkan orang dari ujung pedang”. Xi Jinping secara tiba-tiba mendorong digelarnya sidang darurat Kongres Rakyat Nasional (NPC), namun langkah ini justru berujung pada kebuntuan politik yang tak terduga. Nasib Zhang Youxia, yang sebelumnya diyakini telah ditentukan, kini menunjukkan pembalikan arah yang mencolok.

Sidang Darurat yang Tak Lazim

Pada 4 Februari 2026, Beijing menjadi pusat perhatian dunia. Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, lembaga legislatif tertinggi Tiongkok, secara mendadak menggelar sidang darurat di bawah pimpinan Zhao Leji. Keputusan ini mengejutkan banyak pengamat, karena secara konvensi Komite Tetap NPC hanya bersidang sekali setiap dua bulan. Sidang rutin berikutnya sejatinya baru dijadwalkan berlangsung pada akhir Februari.

Bagi siapa pun yang memahami mekanisme kekuasaan PKT, percepatan sidang semacam ini hampir selalu berkaitan dengan agenda politik tingkat tinggi dan mendesak.

Target Sesungguhnya: Dua Tokoh Militer Puncak

Tujuan utama sidang darurat tersebut pada dasarnya hanya satu: menyelesaikan prosedur hukum terakhir untuk mencabut kekebalan hukum dua petinggi militer—Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat,  Liu Zhenli.

Dalam sistem PKT, anggota Kongres Rakyat Nasional memiliki kekebalan hukum selama masa jabatannya. Penangkapan, penahanan, atau penuntutan terhadap seorang anggota NPC hanya dapat dilakukan setelah Komite Tetap NPC secara resmi mencabut status keanggotaannya. Hingga awal Februari, baik Zhang maupun Liu masih tercatat sebagai anggota aktif NPC—sebuah rintangan hukum yang tidak dapat diabaikan, bahkan oleh Xi Jinping.

Banyak pihak semula menganggap pencabutan status ini hanyalah formalitas. Selama puluhan tahun, NPC kerap dipersepsikan sebagai “stempel karet”: partai memerintahkan, NPC mengesahkan;  partai menentukan waktu, NPC mengikuti.

Namun kali ini, asumsi tersebut runtuh.

Pengumuman Mengejutkan: “Hiu Besar” Lolos, “Udang Kecil” Tertangkap

Ketika pengumuman resmi sidang darurat akhirnya dirilis, reaksi dunia luar berubah dari antisipasi menjadi keterkejutan. Komite Tetap NPC memang mengumumkan pencabutan status keanggotaan terhadap beberapa individu, tetapi nama yang muncul justru Zhou Xinmin, Luo Qi, dan Liu Cangli—tiga figur yang relatif tidak dikenal, masing-masing berasal dari Shanghai, Shandong, dan Sichuan.

Nama Zhang Youxia dan Liu Zhenli sama sekali tidak tercantum.

Situasi ini ibarat semua orang menunggu dua “hiu besar” diseret ke permukaan, namun yang tertangkap justru tiga “udang kecil”. Artinya jelas: dua jenderal kunci tersebut masih mempertahankan status mereka sebagai anggota NPC, lengkap dengan perlindungan hukum yang melekat.

Sinyal Politik Tingkat Tinggi

Makna politik dari peristiwa ini sangat besar. Ini bukan lagi soal prosedur administratif, melainkan sinyal nyata adanya hambatan serius di tingkat elite PKT.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Tiongkok telah mengumumkan penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Lebih dari sepuluh hari berlalu sejak pengumuman itu, dan secara de facto keduanya diyakini telah berada di bawah pengawasan ketat. Namun, di titik krusial legalisasi melalui NPC, proses justru terhenti.

Dalam lebih dari satu dekade kekuasaan Xi Jinping—bahkan dalam sejarah panjang PKT—situasi semacam ini hampir tak pernah terjadi.

Dua Kemungkinan Besar di Balik Kebuntuan

Para pengamat kini menyoroti dua skenario utama.

Pertama, perubahan sikap Zhao Leji. Sebagai pejabat nomor tiga dalam hierarki kekuasaan PKT dan Ketua NPC, Zhao justru tidak menjalankan langkah prosedural yang dianggap “wajib” untuk membuka jalan bagi tindakan terhadap dua jenderal tersebut. Jika ini disengaja, maka bisa jadi Zhao sedang memainkan peran politik independen, menciptakan versi legislatif dari drama “menyelamatkan orang dari ujung pedang”.

Kedua, adanya tekanan besar dari dalam tubuh militer. Sejak penyelidikan diumumkan, institusi militer Tiongkok justru menunjukkan keheningan yang tidak biasa. Di luar pemberitaan sepihak media militer resmi, seluruh komando teater dan matra tampak memilih diam total. Keheningan semacam ini—sunyi yang nyaris mematikan—sering kali menjadi indikator resistensi yang lebih berbahaya dibanding perlawanan terbuka.

Xi Jinping dalam Posisi Canggung

Karena NPC tidak mencabut status keanggotaan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, maka secara hukum internal PKT, setiap bentuk pembatasan kebebasan pribadi terhadap mereka kini berada dalam wilayah abu-abu legalitas. Ini menciptakan situasi yang sangat memalukan bagi kepemimpinan pusat.

Xi Jinping sejatinya ingin menggunakan sidang darurat ini untuk memberi lapisan legal pada pembersihan politik yang tengah berlangsung. Namun hasil akhirnya justru sebaliknya: bukan hanya gagal “memakaikan baju hukum”, langkah tersebut malah memperlihatkan keterbatasan kekuasaannya di depan publik elite.

Akhir atau Awal Babak Baru?

Apakah ini berarti Zhang Youxia dan Liu Zhenli kini benar-benar aman? Sejumlah analis menilai jawabannya belum tentu.

Dalam sejarah politik PKT yang keras dan tanpa ampun, tersendatnya prosedur hukum bisa menjadi tanda awal pembalikan keadaan. Namun, hal itu juga bisa menandai dimulainya babak baru pertarungan politik yang jauh lebih brutal—versi 2.0, dengan konsekuensi yang mungkin lebih dalam dan lebih berbahaya bagi stabilitas internal Tiongkok.

Satu hal yang pasti: peristiwa 4 Februari 2026 telah membuka retakan yang sulit disembunyikan di jantung kekuasaan PKT.

Seorang Wanita di Tiongkok Menyebabkan Beberapa Kecelakaan Mobil dengan Mengubah Posisi Cermin Lalu Lintas demi Feng Shui yang Lebih Baik

EtIndonesia. Seorang wanita di Shanghai, Tiongkok, diduga telah menyebabkan beberapa kecelakaan mobil dengan berulang kali mengubah posisi cermin lalu lintas karena dianggap merusak feng shui-nya.

Seorang wanita yang percaya takhayul dan meyakini bahwa nasib buruk dan kesehatannya disebabkan oleh feng shui yang buruk dituduh telah menyebabkan beberapa kecelakaan mobil di lingkungannya di Shanghai dengan mengubah posisi cermin lalu lintas.

Menurut suami wanita yang tidak disebutkan namanya itu, istrinya telah mengalami “nasib buruk dan kesehatan yang buruk” akhir-akhir ini, sehingga dia memanggil seorang ahli feng shui untuk melihat apakah ada sesuatu yang dapat diperbaiki.

Ahli feng shui tersebut mengatakan bahwa cermin lalu lintas yang telah dipasang di seberang rumah wanita itu lebih dari satu dekade sebelumnya adalah penyebab masalahnya. Wanita dan suaminya merasa bahwa cermin itu seperti “cermin pengungkap setan”, sebuah benda dalam mitologi Tiongkok yang dapat mengungkapkan identitas asli setan yang menyamar sebagai manusia.

“Kami bukan setan. Kami tidak senang ada cermin yang mengungkap keberadaan setan mengarah ke kami,” kata suami wanita itu, menambahkan bahwa istrinya telah berulang kali mengatur cermin tersebut agar tidak lagi menghadap rumah mereka.

Meskipun wanita yang terobsesi dengan feng shui itu bersikeras bahwa tidak ada yang menggunakan cermin lalu lintas tersebut, para tetangga tidak setuju, sehingga perusahaan pengelola properti memutuskan untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memasang cermin lain di sisi jalan yang berlawanan. Dengan cara ini, pengemudi dapat melihat tikungan jalan dan feng shui wanita itu tidak terpengaruh.

Awalnya wanita itu setuju dengan kompromi ini, tetapi begitu dia merasa keberuntungannya berubah menjadi lebih buruk, dia mulai mengutak-atik cermin lagi. Komite lingkungan mencoba membujuknya, tetapi dia bersikeras bahwa cermin tersebut memengaruhi feng shui-nya, membawa nasib buruk baginya. Pada akhirnya, polisi diberitahu, dan petugas memperingatkan wanita itu bahwa dia dapat dimintai pertanggungjawaban atas kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pemindahan cermin tersebut.

Feng shui, yang berarti angin dan air, adalah bentuk geomansi tradisional yang berfokus pada pengaturan dan orientasi ruang dalam kaitannya dengan aliran energi (chi). Para penganut feng shui yakin bahwa cara seseorang mengatur objek memengaruhi kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaannya.(yn)

Pencerahan Mandela

EtIndonesia. Nelson Mandela adalah pejuang nasional Afrika Selatan. Karena memimpin perlawanan terhadap kebijakan apartheid (pemisahan ras kulit putih), dia dipenjara oleh rezim kulit putih dan diasingkan selama 27 tahun di Pulau Robben—sebuah pulau terpencil di Samudra Atlantik.

Saat itu, meskipun Mandela sudah berusia lanjut, para penguasa kulit putih tetap memperlakukannya dengan kejam, sama seperti tahanan muda lainnya.

Pulau Robben terletak sekitar tujuh mil di barat laut Cape Town, di Teluk Table. Pulau itu dipenuhi bebatuan, dengan lingkungan keras yang dihuni anjing laut, ular, dan berbagai satwa liar.

Mandela ditahan di sebuah kamp utama, tinggal di barak beratap seng. Pada siang hari dia dipaksa memecah batu—menghancurkan bongkahan besar dari tambang menjadi kerikil. Kadang dia harus menyelam di air laut yang dingin untuk mengambil rumput laut, atau bekerja di tambang kapur.

Setiap pagi, dia berbaris menuju lokasi tambang. Setelah belenggu kakinya dilepas, dia turun ke ladang batu kapur yang luas, menggali dengan cangkul dan sekop besi.

Karena Mandela dianggap sebagai tahanan penting, dia dijaga khusus oleh tiga orang sipir. Mereka tidak ramah dan kerap mencari-cari alasan untuk menyiksanya.

Namun, pada tahun 1991, setelah Mandela dibebaskan dan terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan, sebuah tindakan pada upacara pelantikannya mengguncang dunia.

Saat upacara dimulai, Mandela berdiri menyampaikan pidato sambutan. Dia terlebih dahulu memperkenalkan para tamu kehormatan dari berbagai negara. Lalu dia berkata, meskipun dia merasa sangat terhormat menyambut begitu banyak tokoh penting, hal yang paling membuatnya bahagia adalah kehadiran tiga mantan sipir penjara Pulau Robben yang dulu mengawasinya.

Dia meminta ketiganya berdiri agar dapat diperkenalkan kepada seluruh hadirin.

Kebesaran jiwa dan kelapangan hati Mandela membuat para mantan penguasa kulit putih—yang telah menyiksanya selama 27 tahun—terdiam tanpa kata. Seluruh hadirin pun berdiri dengan rasa hormat yang mendalam.

Ketika Mandela yang telah lanjut usia itu berdiri perlahan dan dengan penuh hormat memberi salam kepada tiga orang yang pernah memenjarakannya, seisi ruangan—bahkan dunia—seakan hening seketika.

Kelak, Mandela menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya bahwa di masa mudanya dia memiliki watak keras dan mudah marah. Justru di dalam penjara itulah dia belajar mengendalikan emosi—dan itulah yang membuatnya mampu bertahan hidup.

Tahun-tahun di balik jeruji memberinya waktu dan dorongan untuk belajar mengelola rasa sakit akibat penderitaan yang dialaminya.

Dia berkata bahwa rasa syukur dan kelapangan hati sering kali lahir dari penderitaan dan ujian, dan keduanya hanya bisa dibentuk melalui latihan keteguhan yang luar biasa.

Mengenang hari pembebasannya, Mandela berkata: “Ketika aku melangkah keluar dari sel dan melewati gerbang penjara menuju kebebasan, aku sudah tahu—jika aku tidak meninggalkan kepedihan dan kebencian di belakang, maka sesungguhnya aku masih berada di dalam penjara.”

Nelson Rolihlahla Mandela

Pejuang kebebasan Afrika Selatan yang dipenjara selama 27 tahun karena melawan apartheid, dan akhirnya memimpin negaranya mengakhiri sistem pemisahan ras menuju demokrasi multiras.

  • Lahir: 18 Juli 1918
  • Wafat: 5 Desember 2013

Renungan (Hikmah Cerita)

Cinta terbesar manusia adalah memaafkan kesalahan orang lain—terutama ketika dia berada dalam posisi kekuasaan yang sangat besar. Mampu mengampuni mereka yang pernah menyiksa dan menyakiti dirinya bukanlah perkara mudah. Namun justru di sanalah letak keagungan seorang manusia.(jhn/yn)

Menjelang Meja Damai di Oman, Iran Justru Menyita Kapal dan Pamer Rudal: Perang Tinggal Selangkah?

EtIndonesia. Di saat perhatian internasional tertuju pada rencana perundingan Amerika Serikat dan Iran di Oman yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Februari 2026, Teheran justru mengambil langkah keras di lapangan yang kembali meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.

Iran Menyita Dua Kapal Asing, 15 Awak Ditahan

Pada 5 Februari 2026, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC Navy) menaiki dan menyita dua kapal di Teluk Persia. Teheran menuduh kapal-kapal tersebut mengangkut lebih dari satu juta liter bahan bakar secara ilegal. Dalam operasi tersebut, 15 awak kapal asing turut ditahan.

Langkah ini langsung memicu kekhawatiran luas bahwa peluang keberhasilan perundingan AS–Iran semakin menipis, bahkan sebelum dialog resmi dimulai. Sejumlah analis menilai tindakan ini sebagai sinyal tekanan politik Iran menjelang negosiasi, sekaligus pesan bahwa Teheran tidak akan berunding dari posisi lemah.

Diplomasi di Oman Dibayangi Ancaman Perang

Pada hari yang sama, Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, dikonfirmasi telah tiba di Oman dan dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan delegasi Amerika Serikat pada 6 Februari.

Namun, pernyataan resmi dari Teheran mempertegas sikap konfrontatif: “Jika musuh memilih perang, Iran telah siap sepenuhnya.”

Sementara itu, Gedung Putih mengungkap bahwa pada 4 Februari 2026, Amerika Serikat telah menyampaikan peringatan tegas kepada Iran. Washington menuntut agar:

  • Jangkauan rudal Iran dibatasi hingga 500 kilometer, dan
  • Iran menghentikan segala ancaman terhadap Israel, sebagai prasyarat menuju kesepakatan.

Teheran dengan cepat menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa isu pertahanan nasional tidak dapat dinegosiasikan. Para pengamat menilai rudal balistik merupakan “garis merah” Iran. Jika Iran dipaksa menyerahkan kemampuan ini, stabilitas internal rezim Ayatollah Ali Khamenei dinilai bisa runtuh.

Israel Siap Serang Lebih Keras, Koordinasi dengan AS Diperketat

Pada 5 Februari, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa semakin banyak kekuatan regional dan internasional yang menginginkan runtuhnya rezim Iran, meski belum dapat dipastikan apakah kekuatan tersebut cukup menentukan.

Netanyahu menegaskan bahwa:

  • Israel siap melancarkan serangan yang jauh lebih keras terhadap Iran, melampaui seluruh operasi sebelumnya.
  • Meski keputusan akhir Presiden AS, Donald Trump belum sepenuhnya jelas, koordinasi Israel–Amerika Serikat berlangsung sangat erat di semua level militer dan intelijen.

Seorang sekutu dekat Netanyahu mengungkap bahwa Israel telah menegaskan kepada Washington bahwa setiap perundingan dengan Iran harus menyelesaikan dua isu utama:

  1. Program rudal balistik, dan
  2. Jaringan proksi Iran di Timur Tengah.

Trump sendiri sebelumnya pernah menyatakan bahwa jika Israel bertindak untuk menghilangkan ancaman rudal Iran, Amerika Serikat tidak akan menghalangi, sebuah pernyataan yang ditafsirkan sebagai lampu hijau diam-diam bagi aksi sepihak Israel.

Draf Kesepakatan Bocor, Tuntutan AS Sangat Berat

Seiring meningkatnya ketegangan, beredar draf kesepakatan awal yang disebut-sebut menjadi dasar pembicaraan AS–Iran. Draf tersebut mencakup poin-poin krusial:

  1. Iran menghentikan pengayaan uranium dalam waktu tiga tahun, dengan tingkat pengayaan di bawah 1,5%.
  2. Seluruh stok uranium Iran dipindahkan ke negara ketiga.
  3. Iran menghentikan transfer senjata dan teknologi ke aktor non-negara.
  4. Iran berkomitmen tidak menggunakan rudal balistik secara ofensif.
  5. AS dan Iran menandatangani perjanjian non-agresi.

Selain itu, Washington juga menuntut Iran menghentikan ekspor minyak ke Tiongkok, langkah yang berpotensi memukul keras ekonomi Iran.

Sebelumnya, beredar laporan bahwa Iran mempertimbangkan untuk memindahkan sekitar 400 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian mendekati senjata ke Rusia. Sejumlah analis berspekulasi bahwa AS mendorong Iran menyerahkan uranium tersebut secara sukarela sebagai upaya terakhir sebelum opsi militer diambil.

Iran Pamer Pangkalan Rudal Bawah Tanah

Di tengah tekanan internasional, Iran pada 5 Februari 2026 merilis video resmi pangkalan bawah tanah rudal balistik Khorramshahr-4. Untuk pertama kalinya, Teheran secara terbuka memperlihatkan penempatan rudal balistik di fasilitas bawah tanah nasional.

Iran mengklaim rudal tersebut mampu mencapai Israel dalam waktu 10–12 menit, sebuah pernyataan yang secara luas dipandang sebagai ancaman langsung dan simbol kesiapan militer.

AS: Tekanan Tidak Lagi Cukup, Opsi Militer Terbuka

Wakil Presiden AS, JD Vance pada 4 Februari menyatakan bahwa Iran kini menjadi satu-satunya negara yang tidak dapat dihubungi langsung oleh Presiden AS. Menurut Vance, Trump masih dapat berbicara dengan Vladimir Putin, Xi Jinping, atau Kim Jong Un, tetapi tidak dengan Teheran.

Dia menilai situasi ini menunjukkan bahwa:

  • Tekanan dan sanksi tidak lagi efektif, dan
  • Keseimbangan kekuatan global tengah berubah secara signifikan.

Peringatan serupa disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang menegaskan bahwa Presiden AS, sebagai panglima tertinggi militer terkuat di dunia, memiliki banyak opsi selain diplomasi.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengungkap bahwa elit Iran mulai memindahkan dana besar ke luar negeri, seraya menyatakan: “Tikus-tikus mulai melompat dari kapal.”

Pernyataan ini ditafsirkan sebagai indikasi bahwa lingkaran kekuasaan Iran sendiri menyadari kemungkinan akhir rezim semakin dekat.

Rusia Ambil Jarak, Siap Bantu Jika Kesepakatan Tercapai

Dari Moskow, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyatakan bahwa Rusia memandang situasi Iran semakin berbahaya, namun tidak berniat menjadi mediator langsung.

Meski demikian, Lavrov menegaskan bahwa Rusia siap membantu pelaksanaan kesepakatan AS–Iran, apabila perundingan benar-benar menghasilkan hasil konkret.

Kesimpulan

Rangkaian peristiwa pada 5–6 Februari 2026 menunjukkan bahwa perundingan AS–Iran di Oman berlangsung di bawah bayang-bayang konflik terbuka. Penyitaan kapal, ancaman rudal, tuntutan keras Washington, serta kesiapan Israel untuk bertindak militer, menjadikan jalur diplomasi sangat rapuh.

Dalam kondisi ini, setiap kesalahan perhitungan kecil berpotensi mengubah krisis menjadi konflik bersenjata berskala besar di Timur Tengah—sebuah risiko yang kini menjadi perhatian utama dunia internasional.

Catat Jadwal Sekolah Selama Bulan Ramadhan 2026, Jadwal Pembelajaran Tatap Muka dan Libur Pasca Ramadhan

EtIndonesia. Menjelang tibanya Bulan Ramadhan 2026, pemerintah resmi menetapkan pengaturan jadwal sekolah. Hal demikian ditetapkan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang dipimpin oleh Menko PMK Pratikno di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, pada Kamis (5/2/2026).

Dikutip dari situs PMK, Pratikno menegaskan bahwa pembelajaran selama Bulan Ramadan tidak hanya diarahkan pada aspek akademik, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat iman, takwa, akhlak mulia, serta karakter sosial anak-anak Indonesia.

“Ramadan adalah momentum pendidikan karakter. Karena itu, pembelajaran kita arahkan untuk memperkuat nilai keagamaan sesuai agama dan keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan positif,” ujar Menko PMK.

Dalam pengaturannya, pemerintah mendorong penguatan materi keagamaan yang disesuaikan dengan agama masing-masing peserta didik. Bagi murid beragama Islam, kegiatan dapat berupa tadarus Alquran, pesantren kilat, kajian keislaman, serta aktivitas lain yang mendukung penguatan iman, takwa, dan akhlak mulia. Sementara itu, murid beragama non-Islam difasilitasi melalui bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan lain sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Selain penguatan keagamaan, pembelajaran selama Ramadan juga diarahkan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui berbagai kegiatan sosial dan edukatif. 

Kegiatan tersebut antara lain berbagi takjil, penyaluran zakat dan santunan, kompetisi keagamaan seperti lomba adzan, musabaqah tilawatil quran (MTQ), cerdas cermat keagamaan, serta berbagai kegiatan positif lainnya.

“Kita ingin anak-anak belajar empati, gotong royong, dan kepedulian sosial. Ramadan ramah anak harus diisi dengan aktivitas yang membangun karakter, termasuk gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, gerakan satu jam tanpa gawai, dan kegiatan positif lainnya,” tegas Pratikno.

Adapun hasil rapat menyepakati skema pembelajaran selama Bulan Ramadan 2026 sebagai berikut: 

1- Pembelajaran di luar satuan pendidikan pada 18 hingga 20 Februari 2026; 

2- Pembelajaran tatap muka pada 23 Februari hingga 16 Maret 2026; 

3-  Libur pasca-Ramadan pada 23 hingga 27 Maret 2026.

Menko PMK mendorong pemerintah daerah dan satuan pendidikan untuk menindaklanjuti kebijakan ini dengan pengaturan teknis yang adaptif dan kontekstual, tanpa mengurangi substansi kebijakan nasional yang telah ditetapkan.

Turut hadir dalam agenda tersebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta pimpinan tinggi madya dan pratama dari kementerian/lembaga terkait lainnya.

Tidak Ragu dan Tidak Menyesal

EtIndonesia. Di India, ada seorang filsuf terkenal yang sejak lahir memiliki aura intelektual yang khas—pesona yang membuat banyak perempuan terpikat.

Suatu hari, seorang perempuan datang mengetuk pintunya dan berkata: “Jadikan aku istrimu. Jika kamu melewatkanku, kamu tidak akan pernah menemukan perempuan yang mencintaimu lebih dari aku.”

Sang filsuf sebenarnya juga menyukainya, tetapi dia menjawab: “Biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu.”

Setelah itu, dengan sikapnya yang biasa dalam meneliti ilmu, dia mulai mencatat secara rinci kelebihan dan kekurangan antara menikah dan tidak menikah. Namun setelah disusun, dia mendapati bahwa sisi baik dan buruknya ternyata seimbang. Dia pun semakin bimbang dan tidak tahu harus memilih yang mana.

Dia terjebak dalam kebingungan yang berkepanjangan. Setiap alasan baru yang dia temukan justru menambah rumit pilihannya.

Akhirnya, dia sampai pada satu kesimpulan: ketika seseorang dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tak mampu menentukan keputusan, maka sebaiknya dia memilih hal yang belum pernah dia alami.

“Aku sudah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa menikah, tetapi aku belum tahu seperti apa kehidupan setelah menikah. Ya, aku harus menerima permintaannya.”

Sang filsuf pun mendatangi rumah perempuan itu dan bertanya kepada ayahnya: “Di mana putri Anda? Tolong sampaikan kepadanya bahwa aku sudah mempertimbangkannya dengan matang dan memutuskan untuk menikahinya.”

Ayah perempuan itu menjawab dengan dingin: “Kamu datang terlambat sepuluh tahun. Putriku sekarang sudah menjadi ibu dari tiga anak.”

Mendengar itu, sang filsuf hampir runtuh sepenuhnya. Dia tak pernah menyangka bahwa kecerdasan filsafat yang selama ini dia banggakan justru berujung pada penyesalan yang mendalam.

Dua tahun kemudian, karena depresi yang berkepanjangan, sang filsuf jatuh sakit dan menjelang ajal. 

Dia membakar seluruh karyanya, hanya meninggalkan satu catatan tentang hidup: “Jika hidup dibagi menjadi dua bagian, maka filsafat hidup pada paruh pertama adalah ‘tidak ragu’, dan filsafat hidup pada paruh kedua adalah ‘tidak menyesal’.”

Mungkin kamu pernah membeli pakaian yang sangat kamu sukai, tetapi terlalu sayang untuk memakainya. Kamu menyimpannya rapi di lemari. Bertahun-tahun kemudian, ketika kamu melihatnya lagi, pakaian itu sudah ketinggalan zaman.

Maka tanpa sadar, kamu pun melewatkannya.

Atau mungkin kamu pernah membeli kue yang cantik dan lezat, tetapi terlalu sayang untuk memakannya. Kamu menyimpannya rapi di dalam kulkas. Beberapa waktu kemudian, saat kamu hendak menikmatinya, kue itu sudah kedaluwarsa.

Sekali lagi, kamu pun melewatkannya.

Pakaian yang tidak dipakai saat paling ingin dikenakan, kue yang tidak dimakan saat paling nikmat, sama seperti hal-hal yang tidak dilakukan saat paling ingin dilakukan—semuanya berujung pada penyesalan.

Hidup juga memiliki masa berlaku. Hal-hal yang ingin dilakukan seharusnya dilakukan sedini mungkin. Jika keinginan hanya disimpan dengan khidmat di dalam hati tanpa pernah diwujudkan, maka satu-satunya hasil adalah melewatkannya—seperti pakaian yang sudah usang, seperti kue yang telah kedaluwarsa.

Hikmah Cerita 

Dalam kisah ini disebutkan bahwa “menikah dan tidak menikah memiliki sisi baik dan buruk yang seimbang”. Namun sesungguhnya, baik dan buruk bukanlah hukum yang mutlak. Semuanya bergantung pada bagaimana dua orang mengelola dan menjalani pernikahan tersebut.

Jika dikelola dengan sungguh-sungguh, pernikahan dapat menghadirkan kebahagiaan yang berlipat ganda dibandingkan hidup sendiri. Namun jika dijalani dengan sembarangan, pernikahan pun bisa membawa penderitaan yang berlipat ganda.(jhn/yn)

Iran Membara! Tank IRGC Lindas Demonstran, Trump Ancam Serangan, Perang Teluk di Ambang Ledakan?

EtIndonesia. Situasi keamanan dan politik di Iran kembali memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Rentetan peristiwa berdarah di dalam negeri, peringatan keras dari Teheran, serta manuver militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya, kini saling bertaut dalam satu krisis yang berpotensi meluas ke tingkat regional.

Penindasan Demonstrasi di Ardabil

Pada 4 Februari 2026, di Kota Ardabil, Iran barat laut, sejumlah kendaraan lapis baja Garda Revolusi Iran (IRGC) menerobos kerumunan massa yang tengah menggelar aksi protes. Menurut laporan warga setempat yang beredar luas di media sosial, kendaraan tersebut bahkan melindas para demonstran, memicu korban jiwa dalam jumlah signifikan.

Usai insiden itu, seruan darurat bermunculan dari dalam Iran. Pesan singkat bertuliskan “Tolong bantu kami” menyebar cepat, mencerminkan kepanikan sekaligus keputusasaan publik menghadapi eskalasi kekerasan aparat.

Perintah Eksekusi dan Penyanderaan

Sehari berselang, 5 Februari, warga Iran kembali melaporkan kabar mengejutkan: Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut telah memerintahkan eksekusi terhadap 15 orang, serta menyandera kembali 15 awak kapal patroli. Informasi ini belum dikonfirmasi secara independen, namun menambah ketegangan dan ketakutan di tengah masyarakat.

Peringatan Keras dari Donald Trump

Dalam wawancara dengan NBC yang disiarkan 5 Februari, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat menemukan indikasi Iran sedang mempertimbangkan pembangunan fasilitas nuklir baru di lokasi lain. Trump menegaskan, bila langkah tersebut benar-benar diambil, AS tidak akan tinggal diam.

Dia bahkan menyebut bahwa Khamenei “seharusnya sangat khawatir saat ini”, sebuah pernyataan yang ditafsirkan luas sebagai sinyal ancaman serius.

Manuver Militer AS dan Respons Iran

Pada saat yang hampir bersamaan, Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis video yang memperlihatkan kapal induk USS Abraham Lincoln (USS Abraham Lincoln) sedang bergerak mendekati kawasan perairan sekitar Iran.

Di sisi lain, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Mousavi, muncul dari sebuah pangkalan rudal bawah tanah IRGC dan menyampaikan pernyataan keras. Dia menegaskan bahwa seluruh arsenal rudal balistik Iran telah dimodernisasi—mulai dari akurasi, jangkauan, kecepatan, daya hancur, hingga kemampuan siluman dan sistem pemandu.

Menurut Mousavi, daya gentar Iran kini berada pada tingkat maksimum, dan Teheran siap melancarkan pembalasan yang menghancurkan bila diserang.

Perundingan Nuklir Kembali ke Meja

Di tengah eskalasi ini, jalur diplomasi sempat hampir runtuh. Namun menurut dua pejabat AS, pada sore 4 Februari, sejumlah pemimpin Timur Tengah melakukan lobi darurat agar pemerintahan Trump tidak menarik diri dari perundingan. Hasilnya, perundingan nuklir AS–Iran yang semula terancam batal kembali dimasukkan ke agenda, dengan jadwal sementara pada Jumat ini.

Pada Kamis, dalam Acara Doa Nasional, Trump menyatakan bahwa AS dan Iran sedang berunding, dan menurutnya Iran tidak ingin diserang. Dia juga menegaskan bahwa armada militer AS dalam jumlah besar sedang menuju kawasan tersebut.

Kritik Keras dari Publik Iran

Namun, di dalam negeri Iran, wacana perundingan justru menuai kecaman. Sejumlah warga menulis di media sosial: “Bagaimana mungkin berunding dengan pihak seperti ini? Mereka tidak pernah menepati janji. Di masa depan, kalian akan dikritik karena ikut perundingan semacam ini. Berunding dengan kaum ekstremis tidak ada gunanya.”

Sentimen ini memperlihatkan ketidakpercayaan mendalam publik terhadap proses diplomasi, baik terhadap AS maupun elite Iran sendiri.

Kekhawatiran Regional dan Upaya Mediasi

Konfrontasi yang meningkat cepat ini memicu kekhawatiran luas di Timur Tengah, karena banyak pihak menilai Trump bisa saja memilih opsi militer. Sebelumnya, sedikitnya sembilan negara kawasan telah mengajukan permohonan langsung ke Gedung Putih agar pertemuan nuklir tidak dibatalkan.

Turki, Mesir, dan Qatar bahkan mengusulkan kerangka mediasi:

  • Iran menghentikan pengayaan uranium selama tiga tahun,
  • mempertahankan tingkat pengayaan di bawah 1,5%,
  • serta memindahkan stok uranium ke negara ketiga.

Tekanan dari Eropa dan Sikap AS

Di Eropa, Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyatakan bahwa Berlin berkoordinasi erat dengan Washington, dan menegaskan Iran harus menghentikan program nuklirnya serta menghindari ancaman militer terhadap Israel dan negara-negara kawasan.

Sementara itu, pada Rabu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menegaskan bahwa agar perundingan bermakna, pembahasan harus mencakup rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok ekstrem, program nuklir, serta perlakuan rezim terhadap rakyatnya sendiri.

Posisi Iran dan Peran Tiongkok

Menurut Reuters, sumber Iran menyebutkan bahwa tuntutan AS untuk membatasi program rudal balistik dianggap sebagai hambatan terbesar dalam perundingan. Namun seorang pejabat Iran juga mengakui bahwa Teheran bersedia menunjukkan fleksibilitas dalam isu pengayaan uranium.

Isu Iran turut dibahas dalam pembicaraan telepon antara Trump dan Xi Jinping pada awal Februari. Pemerintah AS kini mendorong Beijing dan negara lain untuk semakin mengisolasi Teheran.

Data World Trade Organization mencatat, hingga 2024, nilai perdagangan internasional Iran mendekati 125 miliar dolar AS, termasuk sekitar 32 miliar dolar AS dengan Tiongkok, mitra dagang terbesarnya. Pada Januari 2026, AS mengumumkan tarif 25% bagi negara-negara yang masih berdagang dengan Iran.

Analisis Militer: Risiko Perang Singkat tapi Intens

Sejumlah analis militer menilai bahwa kehadiran kapal perang Tiongkok di sekitar Iran membuat AS cenderung menempatkan USS Abraham Lincoln di Teluk Oman atau Laut Arab, lebih dekat ke India, demi meningkatkan keamanan. Posisi ini dinilai mempersempit sudut serang Iran dan memerlukan tiga hingga empat lapis sistem pertahanan, termasuk menghadapi ancaman kelompok Houthi.

Kolonel Purnawirawan Angkatan Darat AS, Douglas Macgregor, menganalisis bahwa dalam beberapa pekan terakhir Tiongkok memasok Iran dengan senjata, amunisi, dan citra satelit, sementara Rusia membantu integrasi sistem pertahanan udara. Akibatnya, Iran tidak lagi mudah diserang secara mendadak.

Macgregor juga menyebut kemungkinan keterlibatan rudal buatan Tiongkok, seperti DF-21 atau DF-23, yang dirancang untuk menargetkan sasaran maritim. Menurut perhitungannya, bila perang pecah, konflik kemungkinan berlangsung 10 hari hingga dua minggu, karena cadangan rudal AS akan mendekati batas—terutama jika Tiongkok dan Rusia ikut campur. Meski demikian, ia menilai senjata nuklir tidak akan digunakan.

Kesimpulan

Rentetan peristiwa sejak 4 Februari 2026 memperlihatkan bahwa krisis Iran kini bergerak cepat dari penindasan internal menuju konfrontasi internasional. Di satu sisi, diplomasi masih berusaha bertahan; di sisi lain, opsi militer semakin nyata. Timur Tengah pun kembali berada di persimpangan paling berbahaya, dengan konsekuensi yang bisa meluas jauh melampaui kawasan.

Faktor-faktor Kesuksesan

EtIndonesia. Seorang tokoh terkenal dari luar negeri pernah mengatakan sebuah kalimat yang maknanya kira-kira seperti ini: faktor yang menentukan kesuksesan seseorang, pengetahuan profesional hanya menyumbang sekitar 15%, sedangkan 85% sisanya berasal dari kualitas diri, hubungan antar manusia, cara bersikap, serta kemampuan beradaptasi dan menghadapi situasi.

Ucapan ini sangat menyentuh hati saya.

Mari kita simak sebuah kisah berikut ini.

Seorang wali kelas tingkat akhir membawa lebih dari lima puluh muridnya mengunjungi sebuah perusahaan besar. Karena direktur utama perusahaan tersebut adalah teman sekelas sang wali, maka sang direktur menyambut mereka secara langsung. Para sekretaris dan staf pun melayani rombongan itu dengan sangat ramah.

Para siswa dipersilakan duduk di sebuah ruang rapat besar ber-AC. Staf perusahaan menuangkan segelas air untuk setiap siswa. Para siswa duduk dengan santai tanpa banyak basa-basi. Bahkan ada seorang siswi yang bertanya kepada staf apakah tersedia teh hitam, dengan alasan dia hanya biasa minum teh hitam.

Di antara semua siswa itu, hanya satu orang yang berdiri, menerima minuman dengan kedua tangan, lalu dengan sopan berkata:  “Terima kasih, Anda sudah repot-repot.”

Tak lama kemudian, direktur utama datang tergesa-gesa setelah menyelesaikan urusannya. Dia berulang kali meminta maaf:  “Maaf, maaf, membuat kalian menunggu lama.”

Namun tidak ada satu pun siswa yang menanggapi. Hanya sang guru dan siswa yang tadi itulah yang memulai tepuk tangan, itupun dengan suara yang jarang dan lemah.

Direktur kemudian mulai berbicara. Dia memperhatikan bahwa para siswa duduk rapi, tetapi tak seorang pun mencatat. Maka dia berbalik kepada sekretaris dan meminta agar disiapkan buku catatan serta pulpen perusahaan.

Dengan senyum di wajahnya, direktur itu menyerahkan buku dan pulpen kepada setiap siswa dengan kedua tangan. Namun, semakin lama senyumnya pun menghilang.

Sebab para siswa hanya menjulurkan satu tangan untuk menerima, bahkan ada yang sama sekali tidak berdiri. Tidak satu pun dari mereka mengucapkan: “Terima kasih.”

Sekali lagi, hanya siswa yang sama itu yang berdiri dengan sikap hormat, menerima buku dan pulpen dengan kedua tangan, serta mengucapkan: “Terima kasih, terima kasih.”

Ketika tiba masa penempatan kerja setelah kelulusan, siswa tersebut menerima surat penerimaan dari perusahaan besar itu.

Siswa-siswa lain merasa tidak terima dan protes: “ Nilainya tidak lebih baik dari saya. Mengapa dia yang diterima, bukan saya?”

Sang guru menghela napas panjang lalu berkata: “Saya membawa kalian berkunjung sebenarnya ingin memberi kalian sebuah kesempatan. Tapi kalian semua telah menyia-nyiakannya. Perusahaan itu secara khusus meminta siswa ini. Apa lagi yang bisa saya lakukan?”

Hikmah Cerita 

Kesuksesan adalah sesuatu yang dikejar oleh setiap orang. Namun, banyak yang hanya fokus pada syarat-syarat lahiriah, sementara melupakan daya saing paling mendasar dari seorang manusia—sikap dalam memperlakukan orang lain dan cara bersikap dalam kehidupan.

Seiring kemajuan zaman dan kemudahan teknologi, interaksi langsung antar manusia semakin berkurang. Akibatnya, semakin banyak orang yang tidak memahami tata krama dan etika pergaulan. Ada pula yang dengan cepat melihat celah ini lalu membuka berbagai pelatihan hubungan antar manusia, mengajarkan keterampilan bersosialisasi kepada mereka yang kurang mampu berkomunikasi dengan baik.

Ironisnya, sesuatu yang seharusnya merupakan etika paling dasar kini justru berubah menjadi “keahlian profesional”. Ini adalah sebuah sindiran bagi masyarakat modern, sekaligus sebuah peringatan.

Bahwa selain memiliki kemampuan teknis dan pengetahuan profesional, manusia juga perlu memiliki kerendahan hati dan sikap yang baik.(jhn/yn)

Spanyol Akan Melarang Anak di Bawah 16 Tahun Mengakses Media Sosial

 Perdana Menteri Pedro Sánchez mengumumkan pembatasan usia baru serta sanksi pidana bagi eksekutif platform, dengan alasan bahaya daring terhadap anak-anak.

EtIndonesia. Spanyol akan melarang akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, kata Perdana Menteri Pedro Sánchez pada 3 Februari 2026. Ia juga menguraikan apa yang ia sebut sebagai langkah-langkah besar demi melindungi anak-anak dari konten daring yang berbahaya.

Berbicara di World Governments Summit di Dubai, Sánchez mengatakan Spanyol akan mewajibkan berbagai platform digital untuk menerapkan sistem verifikasi usia yang kuat.

“Hari ini, anak-anak kita terpapar pada sebuah ruang yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan untuk mereka jelajahi sendirian—ruang kecanduan, pelecehan, pornografi, manipulasi, dan kekerasan. Kami tidak akan lagi menerima hal itu. Kami akan melindungi mereka dari ‘Wild West’ digital,” ujarnya.

Usulan tersebut menempatkan Spanyol di antara semakin banyak negara yang berupaya membatasi akses anak di bawah umur ke media sosial, di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait kesehatan mental, eksploitasi daring, dan disinformasi.

Dalam unggahan di platform X pada 3 Februari, Sánchez menggambarkan media sosial sebagai sebuah “negara gagal.”

“Jika kita ingin melindungi anak-anak kita, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan: mengambil kembali kendali,” tambahnya.

Pengumuman Sánchez disampaikan setelah larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun di Australia mulai berlaku pada 10 Desember 2025. Prancis sedang membahas undang-undang yang akan melarang anak di bawah 15 tahun menggunakan media sosial serta melarang ponsel di sekolah menengah atas mulai September.

Di Inggris, para pejabat mempertimbangkan sejumlah angkah seperti jam malam penggunaan gawai pada malam hari dan jeda wajib untuk mencegah apa yang disebut para pembuat kebijakan sebagai “doom-scrolling,” di samping kemungkinan penerapan larangan ala Australia.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, pada Oktober 2025 mengatakan pemerintahnya akan melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 15 tahun. Undang-undang serupa tengah disiapkan di Norwegia, sementara Malaysia telah mengumumkan rencana untuk memberlakukan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun mulai 2026 sebagai bagian dari langkah perlindungan kaum muda yang lebih luas.

Tanggung Jawab Pidana

Sánchez juga mengatakan bahwa Spanyol akan meminta pertanggungjawaban pribadi para eksekutif platform atas pelanggaran tertentu.

Menurut usulan tersebut, “para CEO platform teknologi ini akan menghadapi tanggung jawab pidana jika gagal menghapus konten ilegal atau bermuatan kebencian,” katanya.

Sánchez menegaskan bahwa pemerintah harus berhenti mengabaikan materi berbahaya yang beredar secara daring.

“Saya berada di Dubai untuk mengatakan dan menjelaskan kepada Anda bahwa Spanyol tidak hanya berbicara, tetapi bertindak. Kami melawan, dan kami akan terus melakukannya. Mulai minggu depan, pemerintah saya akan menerapkan tindakan-tindakan berikut,” katanya dalam pertemuan tersebut.

Selain itu, Spanyol berencana mengklasifikasikan manipulasi algoritma dan penguatan (amplifikasi) konten ilegal sebagai tindak pidana baru.

“Disinformasi tidak muncul dengan sendirinya. Ia diciptakan, dipromosikan, dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu. Kami akan mengejar mereka, serta platform-platform yang algoritmanya memperbesar disinformasi ini demi keuntungan. Tidak ada lagi bersembunyi di balik kode. Tidak ada lagi berpura-pura bahwa teknologi itu netral,” ujarnya.

Sánchez juga mengumumkan apa yang ia sebut sebagai “jejak kebencian dan polarisasi,” yakni sebuah sistem pelacakan yang dirancang untuk mengukur dan mengungkap bagaimana platform digital berkontribusi pada perpecahan serta memperkuat konten kebencian.

Menurut perdana menteri Spanyol, alat tersebut akan menjadi dasar bagi sanksi di masa depan.

Sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas, Sánchez mengatakan pemerintahnya akan bekerja sama dengan jaksa publik Spanyol untuk menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Roku, TikTok, dan Instagram.

“Kami akan menerapkan toleransi nol dalam hal ini, dan kami akan mempertahankan kedaulatan digital kami terhadap segala bentuk pemaksaan dari luar,” katanya.

The Epoch Times menghubungi Roku, TikTok, dan Meta, namun tidak menerima tanggapan hingga berita ini diterbitkan.

Komisi Eropa (EC) saat ini meningkatkan tekanan regulasi terhadap perusahaan teknologi besar yang beroperasi di Uni Eropa.

Pada 26 Januari, EC membuka penyelidikan formal baru terhadap platform media sosial X milik Elon Musk, dengan meningkatkan pengawasan terhadap alat kecerdasan buatannya, Grok, di tengah kekhawatiran bahwa alat tersebut telah digunakan untuk membuat gambar seksual dari orang-orang nyata.

Menurut pengumuman EC pada 26 Januari, penyelidikan tersebut akan menilai apakah X telah mengevaluasi dan memitigasi risiko secara memadai terkait peluncuran fitur-fitur Grok di Uni Eropa.

AS dan Tiongkok Menolak Menandatangani Deklarasi tentang Penggunaan AI untuk Militer

EtIndonesia. Pada hari Kamis, 5 Februari, Spanyol menjadi tuan rumah KTT tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk tujuan militer. Namun, Amerika Serikat dan Tiongkok memilih untuk tidak menandatangani deklarasi yang menguraikan prinsip-prinsip penerapannya, lapor Reuters.

Apa yang diketahui tentang deklarasi tersebut dan siapa yang menandatanganinya

Menurut Reuters, hanya 35 dari 85 negara yang berpartisipasi dalam KTT tersebut yang menandatangani deklarasi tentang penggunaan AI untuk militer.

Para penandatangan utama termasuk Kanada, Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, Korea Selatan, dan Ukraina. Kekuatan besar seperti Tiongkok dan AS tidak menandatangani dokumen tersebut.

Deklarasi tersebut menegaskan tanggung jawab manusia atas senjata yang menggunakan kecerdasan buatan. Deklarasi ini juga mendorong pembentukan rantai komando dan kendali yang jelas, serta berbagi informasi tentang mekanisme pengawasan nasional, jika sesuai dengan keamanan nasional.

Dokumen tersebut selanjutnya menekankan pentingnya penilaian risiko, pengujian menyeluruh, dan pelatihan serta peningkatan keterampilan personel yang bekerja dengan sistem AI militer.

Mengapa penandatanganan deklarasi tersebut terbukti bermasalah dan kekhawatiran Barat

Menurut beberapa peserta dan delegasi, ketegangan antara AS dan sekutu-sekutu Eropanya, serta ketidakpastian tentang bagaimana hubungan transatlantik akan terlihat dalam beberapa bulan dan tahun mendatang, telah membuat beberapa negara ragu untuk menandatangani perjanjian bersama.

Pada saat yang sama, deklarasi tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin meningkat di antara beberapa pemerintah bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan dapat melampaui aturan yang mengatur penggunaan militernya, meningkatkan risiko kecelakaan, kesalahan perhitungan, atau eskalasi yang tidak disengaja.

Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah menghadapi dilema tahanan, terjebak antara kebutuhan untuk memperkenalkan pembatasan yang bertanggung jawab dan keengganan untuk membatasi diri dibandingkan dengan lawan mereka.

“Rusia dan Tiongkok bergerak sangat cepat. Itu menciptakan urgensi untuk membuat kemajuan dalam pengembangan AI. Tetapi melihatnya berjalan cepat juga meningkatkan urgensi untuk terus berupaya pada penggunaannya yang bertanggung jawab. Keduanya berjalan beriringan,” kata Brekelmans.

Pada dua KTT AI militer sebelumnya, yang diadakan di Den Haag dan Seoul pada tahun 2023 dan 2024, sekitar 60 negara, tidak termasuk Tiongkok tetapi termasuk AS, mendukung rencana aksi yang tidak mengikat.

Yasmin Afina, seorang peneliti di Institut Penelitian Perlucutan Senjata PBB yang memberikan saran dalam proses tersebut, mencatat bahwa dokumen tahun ini juga tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Meskipun demikian, beberapa peserta merasa tidak nyaman dengan gagasan untuk mendukung langkah-langkah kebijakan yang lebih spesifik.(yn)

Ganti Piring, Jual Telur Jadi Laris

EtIndonesia. Pendiri Morgan Group di Amerika, Morgan, pada masa mudanya merantau dari Eropa ke Amerika dalam keadaan sangat miskin—dia bahkan nyaris tak memiliki apa pun selain pakaian di badan.

Setelah menikah, dengan susah payah pasangan ini akhirnya membuka sebuah toko kelontong kecil yang menjual telur. Namun ada satu hal yang aneh: Morgan yang bertubuh tinggi dan besar justru menjual telur jauh lebih sedikit dibanding istrinya yang bertubuh kecil dan ramping.

Morgan merasa heran. Setelah mengamati dengan saksama, dia akhirnya menemukan penyebabnya. Ketika dia menjual telur dengan menaruh telur di telapak tangannya, karena ukuran tangannya besar, mata pembeli secara visual merasa telur tersebut terlihat kecil.

Sebaliknya, saat istrinya yang bertangan kecil dan ramping menyerahkan telur kepada pelanggan, telur itu justru tampak lebih besar karena kontras dengan ukuran tangannya.

Menyadari hal ini, Morgan segera mengubah cara menjual telur.

Dia tidak lagi memegang telur dengan tangan, melainkan meletakkannya di atas sebuah nampan yang kecil dan dangkal. Dengan perbandingan visual seperti itu, telur-telur tampak lebih besar di mata pembeli. Benar saja, penjualan telur pun langsung meningkat.

Namun Morgan tidak berhenti sampai di situ. Dia berpikir, jika persepsi visual saja bisa memengaruhi penjualan, maka ilmu berdagang tentu jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Sejak saat itu, dia mulai mendalami psikologi, ilmu bisnis, dan manajemen secara serius—hingga akhirnya berhasil membangun Morgan Group yang besar.

Sementara itu, di Tokyo, Jepang, seorang pemilik kedai kopi juga memanfaatkan persepsi visual manusia terhadap warna untuk meningkatkan keuntungan.

Dia menyuguhkan kopi dengan tingkat kepekatan yang sama kepada lebih dari tiga puluh temannya. Masing-masing diberi empat cangkir kopi, namun warna cangkirnya berbeda: cokelat kopi, merah, hijau kebiruan, dan kuning.

Hasilnya sangat menarik. Padahal kopi yang diminum sama persis, penilaian mereka berbeda-beda. Kopi dalam cangkir hijau kebiruan dianggap “terlalu encer”; cangkir kuning dinilai “tidak terlalu kental, pas”; sedangkan kopi dalam cangkir cokelat dan merah dianggap “terlalu kental”. Bahkan, sekitar 90% responden mengatakan kopi dalam cangkir merah terasa “sangat pekat”.

Sejak saat itu, pemilik kedai tersebut mengganti semua cangkir di tokonya menjadi berwarna merah. Dengan cara ini, dia bisa mengurangi takaran kopi tanpa mengurangi kepuasan pelanggan, sekaligus meninggalkan kesan yang sangat baik.

Akibatnya, jumlah pelanggan terus bertambah dan usahanya berkembang pesat.

Kesuksesan selalu berpihak pada mereka yang terus menemukan masalah, lalu menganalisis dan memecahkannya.

Perbedaan ukuran telapak tangan yang sangat kecil mampu melahirkan Morgan Group. Perbedaan warna merah dan hijau kebiruan mampu membuat sebuah kedai kopi berkembang pesat. Hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kebanyakan orang justru sering memegang peranan yang sangat menentukan.

Cobalah lebih peka terhadap detail-detail kecil di sekitar kita. Mungkin, Morgan berikutnya adalah dirimu sendiri.

Hikmah Cerita 

Kisah hari ini mengingatkan pada sebuah kalimat: tidak ada barang yang tidak bisa dijual, yang ada hanyalah orang yang belum menemukan cara menjualnya.

Orang yang bijaksana akan menemukan letak masalah, lalu menganalisis perbedaan yang ada untuk menemukan solusi. Setiap orang sukses memiliki kemampuan mengamati perbedaan kecil dan mengubahnya menjadi peluang.

Seperti Morgan dalam kisah ini—dia menyadari bahwa perbedaan antara dirinya dan istrinya bukan pada kualitas telur, melainkan pada ukuran tangan yang membuat telur tampak kecil atau besar. Karena ukuran tangan tidak bisa diubah, ia pun mengalihkan fokus pelanggan dengan menggunakan nampan kecil dan dangkal, sehingga persepsi visual berubah dan penjualan pun melonjak.(jhn/yn)