Badai Musim Dingin yang Menerjang AS Menelan Korban Jiwa, 879.000 Rumah Gelap Gulita dan 11.400 Penerbangan Dibatalkan

Kondisi es diperkirakan akan bertahan di beberapa bagian Amerika Serikat selama beberapa hari ke depan

Jacki Thrapp dan Joseph Lord

EtIndonesia. NASHVILLE — Saat badai musim dingin besar terus melintasi wilayah timur Amerika Serikat, berbagai kota mulai melaporkan kematian karena ratusan ribu orang masih tanpa listrik, dan ribuan lainnya terjebak di bandara di seluruh negeri.

Di New York City, Walikota Zohran Mamdani mengatakan bahwa setidaknya lima orang ditemukan tewas di luar rumah ketika suhu turun hingga serendah 9 derajat Fahrenheit (−12,8 °C) pada 24 Januari. Ia mencatat bahwa penyebab kematian mereka masih dalam penyelidikan. Mamdani mendesak masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah dan menjauhi jalan, karena negara bagian New York masih dalam keadaan darurat.

Dua pria juga meninggal dunia akibat hipotermia yang terkait dengan badai di Caddo Parish, Louisiana, menurut departemen kesehatan negara bagian Louisiana.

Sementara itu, banyak jalan masih tidak dapat dilalui di sebagian besar wilayah negara karena ratusan ribu warga Amerika mengalami pemadaman listrik akibat salju, es, dan angin yang menyertai badai.

Suasana New York (Tangkapan Layar)

Hingga pukul 22.00 ET pada Minggu (25/12026) waktu setempat, PowerOutage.com melaporkan bahwa lebih dari 879.000 orang Amerika masih tanpa listrik, menurun dari puncak lebih dari 1 juta pada dini hari sebelumnya.

Banyak warga Amerika dan pelancong internasional terjebak setelah maskapai AS terpaksa membatalkan lebih dari 11.400 penerbangan.

Gedung Capitol di Washington (tangkapan Layar)

Menurut pelacak penerbangan FlyAware, bandara yang paling terdampak adalah Charlotte Douglas International Airport di North Carolina, Hartsfield-Jackson International Airport di Atlanta, serta ketiga bandara di wilayah New York — LaGuardia, Newark Liberty, dan John F. Kennedy International Airport.

American Airlines, Delta Air Lines, dan Southwest Airlines menjadi maskapai dengan jumlah penerbangan yang dibatalkan terbanyak, masing-masing lebih dari 1.200 penerbangan pada hari Minggu saja. Delta Air Lines mengumumkan pada hari Minggu bahwa mereka akan mengoperasikan jadwal penerbangan terbatas karena suhu yang membeku.

Gedung Putih di Washington (tangkapan Layar)

Badai akhir pekan ini menumpahkan salju dan menutupi saluran listrik dengan es dari Pegunungan Rocky Selatan hingga New England.

Jaringan listrik Tennessee menjadi yang paling parah terdampak, dengan lebih dari 336.000 rumah mengalami pemadaman listrik.

Nashville menjadi kota yang paling terdampak di negara bagian dan nasional, dengan lebih dari 200.000 warga terbangun tanpa listrik, sementara lapisan es tebal menutupi jalan, trotoar, dan mobil.

“Kombinasi hujan beku dan es menghantam komunitas kami dengan keras hari ini,” tulis Nashville Electric Service di X pada hari Minggu.

 “Karena tertimbun es, pohon-pohon patah dan menumbangkan saluran listrik di seluruh wilayah.”

Hingga pukul 14.45 ET, Mississippi mengalami lebih dari 174.000 pemadaman listrik, sedangkan Louisiana hampir 150.000 pemadaman.

Departemen Transportasi Texas mendesak pengemudi untuk tetap di rumah sementara petugas membersihkan salju dari jalan. “Pesan untuk pelancong: TINGGAL DI RUMAH! Dan jika tidak bisa, JAUHI JALAN!” tulis Departemen Transportasi Texas di X pada Minggu pagi.

Listrik mulai dipulihkan di Texas, tetapi puluhan ribu orang masih tanpa penerangan.

Di Georgia, Kentucky, West Virginia, dan Alabama, puluhan ribu orang juga mengalami pemadaman listrik pada Minggu sore.

Presiden AS Donald Trump menyetujui deklarasi darurat bencana federal pada Sabtu untuk South Carolina, Virginia, Tennessee, Georgia, North Carolina, Maryland, Arkansas, Kentucky, Louisiana, Mississippi, Indiana, dan West Virginia.

“Saat cuaca ekstrem melintasi Volunteer State akhir pekan ini, kami berterima kasih atas upaya pemerintahan Trump untuk melindungi dan mendukung warga Tennessee,” tulis Senator AS Marsha Blackburn (R-Tenn.) di X pada 24 Januari.

National Weather Service (NWS) memperingatkan bahwa badai akan terus berlangsung dengan kombinasi cuaca musim dingin hingga hari Senin.

“Hingga 18 inci salju akan turun di New England, dan 0,50 inci hujan beku di beberapa bagian Mid-Atlantic serta Lembah Ohio/Tennessee,” prediksi NWS.

NWS juga memperingatkan bahwa negara bagian di Pantai Teluk Timur mungkin mengalami badai petir parah yang menghasilkan angin kencang dan tornado pada hari Minggu.

Laporan ini turut disusun oleh Associated Press.

Hikmah di Balik Sebuah Lelucon

Juara Pertama

Pada acara wisuda, kepala sekolah mengumumkan nama siswa peraih peringkat pertama dan memintanya naik ke panggung untuk menerima penghargaan. Namun setelah dipanggil berkali-kali, barulah siswa itu perlahan naik ke panggung.

Seusai acara, guru bertanya kepadanya: “Ada apa? Kamu sakit? Atau tadi tidak mendengar namamu dipanggil?”

Siswa itu menjawab :  “Bukan begitu. Saya hanya khawatir teman-teman yang lain belum mendengarnya dengan jelas.”

Hikmah:

Nama dan keuntungan pribadi telah mengikat begitu banyak orang, menjadi beban di hati banyak manusia. Kita dididik untuk berprestasi dan menonjol, tetapi kenyataannya, hanya sedikit orang yang bisa berada di puncak. Mayoritas tetaplah orang-orang biasa yang diam.

Jika dipikirkan kembali, bukankah menyadari bahwa begitu banyak orang hidup sama seperti kita—tanpa harus selalu menjadi yang pertama—justru sesuatu yang patut disyukuri?

Alasan yang Sangat Kuat

Sebuah bus penuh penumpang melaju kencang menuruni jalan menurun. Di belakangnya, seseorang berlari sekuat tenaga mengejar bus itu.

Seorang penumpang menjulurkan kepala dari jendela dan berkata :  “Mas, sudahlah! Kamu tidak akan bisa mengejarnya!”

Orang yang berlari sambil terengah-engah menjawab: “Aku harus mengejarnya… karena akulah sopir bus itu!”

Hikmah:
Ada orang-orang yang harus berusaha mati-matian, karena jika tidak, akibatnya bisa sangat fatal. Namun justru karena harus mengerahkan seluruh kemampuan, potensi tersembunyi dan kemampuan yang tak disadari akan muncul sepenuhnya.

Oh, Ternyata Begitu

A: “Tetangga baru itu benar-benar menyebalkan. Tadi malam, saat tengah malam dan suasana sudah sangat sepi, dia tiba-tiba datang menekan bel rumahku berkali-kali!”

B: “Benar-benar keterlaluan! Kamu lapor polisi, tidak?”

A: “Tidak. Aku menganggap mereka orang gila, lalu aku terus meniup terompet kecilku.”

Hikmah:

Setiap kejadian pasti ada sebabnya. Jika kita mau lebih dulu melihat kesalahan diri sendiri, jawabannya bisa menjadi sangat berbeda.

Saat menghadapi konflik dan pertengkaran, cobalah bertanya pada diri sendiri apakah ada kesalahan di hati kita—mungkin dengan begitu, kita bisa lebih cepat berdamai.

Salah Paham

Suatu hari, Zhang San sedang mengemudi di jalan pegunungan sambil menikmati pemandangan indah. Tiba-tiba, sebuah truk datang dari arah berlawanan. 

Sopirnya menurunkan kaca jendela dan berteriak:  “Babi!”

Zhang San makin heran dan makin kesal. Dia pun menurunkan kaca jendela dan membalas : “Kamulah yang babi!”

Belum lama setelah itu, mobil Zhang San menabrak segerombolan babi yang sedang menyeberang jalan.

Hikmah:
Jangan salah menafsirkan niat baik orang lain. Itu hanya akan merugikan diri sendiri dan melukai orang lain.

Sebelum memahami situasi yang sebenarnya, belajarlah menahan emosi dan mengamati dengan sabar, agar tidak menyesal di kemudian hari.

Generasi Muda Patut Diperhitungkan

Seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya :  “Apakah ayah selalu lebih tahu daripada anak?”

Ayah menjawab:  “Tentu saja.”

Anak itu bertanya lagi :  “Siapa yang menemukan lampu listrik?”

Ayah menjawab : “Edison.”

Anak itu kembali bertanya :  “Kalau begitu, kenapa ayahnya Edison tidak menemukan lampu listrik?”

Hikmah:
Aneh tapi nyata—orang yang suka merasa paling senior justru sering terjatuh. Otoritas sering kali hanyalah cangkang kosong yang rapuh, apalagi di zaman yang terbuka dan beragam seperti sekarang.

Tak Perlu Tegang

Xiao Ming tidak sengaja menelan sedikit sabun saat mandi. Ibunya panik dan segera menelepon dokter keluarga.

Dokter berkata: “Saya masih menangani beberapa pasien. Mungkin baru bisa datang setengah jam lagi.”

Ibu Xiao Ming bertanya : “Sebelum dokter datang, apa yang harus saya lakukan?”

Dokter menjawab:  “Beri Xiao Ming segelas air putih, lalu suruh dia melompat-lompat. Dengan begitu, dia bisa meniup gelembung sabun dari mulutnya untuk mengisi waktu.”

Hikmah:
Take it easy! Santai saja—hidup tidak perlu terlalu tegang. Jika sesuatu sudah terjadi, hadapilah dengan tenang. Mengkhawatirkan tidak ada gunanya, tegang terus lebih buruk daripada bersikap ceria.

Kunci

Sebuah gembok besar dan kokoh tergantung di pintu. Sebatang besi mencoba mencongkelnya dengan sekuat tenaga, tetapi tetap tidak bisa membukanya.

Datanglah sebuah kunci kecil. Tubuhnya ramping, masuk ke lubang kunci, diputar pelan, dan klik!—gembok pun terbuka.

Besi bertanya heran:  “Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tetap tidak bisa membukanya. Mengapa kamu bisa begitu mudah?”

Kunci menjawab: “Karena aku paling memahami hatinya.”

Hikmah:
Hati setiap orang ibarat pintu yang terkunci. Besi sekuat apa pun tidak akan mampu membukanya. Hanya kepedulian yang bisa menjadikan kita sebuah kunci halus—mampu masuk ke hati orang lain dan memahami mereka.

Renungan

Di dalam lelucon sering tersembunyi kebijaksanaan hidup. Jika kita mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, kita akan menemukan makna dan kesenangan yang berbeda pula.(jhn/yn)

“Kudeta Tahun Yisi Beijing” : Mesin Kekuasaan Partai Komunis Tiongkok Menerima Pukulan Berat, Membubarkan PKT Satu-satunya Jalan Keluar

Komentar Khusus oleh Pusat Layanan Global untuk Pengunduran Diri dari PKT

Akhir pekan ini, Beijing mengeluarkan pengumuman resmi yang tidak biasa—sebuah pukulan telak tepat di jantung kekuasaan PKT. Sejarah terkadang menyingkap kebohongan sebuah era hanya dengan satu nama, satu momen; atau melalui sebuah “pengumuman resmi” yang tiba-tiba memperlihatkan pada dunia: apa sebenarnya yang menopang sebuah rezim, dan apa yang bisa meruntuhkannya.

Pada 24 Januari 2026, sekitar pukul 15.00 waktu Beijing, PKT secara resmi dan dengan kecepatan luar biasa mengumumkan: Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, serta anggota Komisi Militer Pusat sekaligus Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli, tengah diperiksa karena “diduga melakukan pelanggaran serius.”

Ini bukan sekadar pengumuman “anti-korupsi” biasa, melainkan guncangan dahsyat yang menembus inti kekuasaan militer. Rumus kekuasaan PKT selalu: “Kekuatan senjata melahirkan kekuasaan.” Namun sinyal paling berbahaya hari ini adalah: “senjata itu sendiri kehilangan kendali,” rantai kontrol Partai atas militer terputus, dan mesin pemerintahan yang rumit itu mulai retak secara struktural.

Sebuah rezim yang hanya bertahan dengan ketakutan sangat rentan: jika senjatanya tiba-tiba tidak lagi tunduk, semua runtuh. Saat ini, Beijing sedang memamerkan ketakutan itu ke dunia: senjata kehilangan kendali, rumus kekuasaan gagal, mesin mulai merobek dirinya sendiri.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sebelum dan bersamaan dengan pengumuman resmi, muncul banyak rumor mengerikan dari jalur luar tembok: “Seluruh perwira militer dilarang pulang akhir pekan, pasukan berada dalam status siaga tinggi, keluarga sulit dihubungi,” dibandingkan dengan status militer sebelum dan sesudah peristiwa 4 Juni 1989. Sulit diverifikasi, tapi penyebaran cepatnya sendiri menegaskan satu hal: Beijing sedang beroperasi lebih seperti sindikat kriminal daripada pemerintah—mengandalkan jebakan, pemutusan komunikasi, menyerang lebih dulu, lalu menegaskan hasilnya lewat pengumuman resmi.

Beberapa versi lain menyebut Zhang Youxia dan Liu Zhenli diserang atau terluka parah dalam pertemuan tertutup, atau bahwa kelompok Xi Jinping menggunakan media luar untuk memanipulasi opini publik tentang korupsi, lalu mengebut pengumuman resmi demi memaksa militer menerima kenyataan. Detail ini belum dapat dikonfirmasi, tetapi semua menunjuk pada satu kesimpulan: ini bukan kasus disiplin biasa, melainkan aksi perebutan kekuasaan melalui ketakutan dan kontrol opini—sebuah kudeta militer.

Di dunia bebas, pergantian kekuasaan butuh hukum, transparansi, dan mandat rakyat. Dalam rezim totaliter, pergantian kekuasaan hanya butuh dua hal: ketakutan dan mulut tertutup. Saat mulut tertutup menjadi norma, ketakutan menjadi aturan; saat ketakutan menjadi aturan, rezim bukan lagi pengelola negara, tapi perampok rakyat.


1. Ini Bukan “Anti-Korupsi,” Tapi “Menulis Ulang Legitimasi Militer”

PKT menangani elite bukan dengan pasukan besar, tapi lewat “desain” cermat. Semakin inti posisi seseorang, semakin mustahil menanganinya secara terbuka, karena akan memicu reaksi berantai.

Cara efektif hanya satu: mengendalikan target dalam situasi tanpa kecurigaan—rapat tertutup mendadak, pertemuan kecil yang bisa dikontrol, atau ruang di mana “masuk, serahkan senjata, keluar.”

Kecepatan pengumuman resmi dibuat begitu cepat sehingga militer tak sempat berpihak, dunia luar tak sempat bertanya, dan semua pihak hanya menghadapi hasil. Ini bukan ritme kasus disiplin, tapi ritme kudeta.

Lebih fatal lagi, yang terganggu bukan karier individu, tapi “interface Partai-Militer” yang menjadi tulang punggung PKT. Saat kekuasaan militer harus ditulis ulang melalui intrik dan serangan mendadak, artinya prosedur gagal, konsensus hancur, saling percaya lenyap. Beijing memasuki era tanpa aturan: siapa cepat dia menang.

Ingat: totaliter tak takut kritik, tapi takut kehilangan kendali; dan titik awal kehilangan kendali biasanya adalah: menggantikan prosedur dengan serangan mendadak, menutupi fakta dengan pengumuman resmi. Ini bukan pemerintahan, ini pintu maut.


2. “Kosongnya” Komisi Militer: Ketika Laras Senjata Lepas Kendali, Ledakan Internal Terburuk Partai Komunis Tiongkok

Stabilitas rezim PKT bergantung pada kenyataan brutal: ia tidak memerlukan mandat rakyat, hanya ketaatan militer. Namun, jika Komisi Militer Pusat sendiri menjadi kosong, jika perwira komando yang mengawasi urusan militer dicabut, meninggalkan hanya pejabat sipil dan sistem kerja politik yang mengeluarkan perintah dari atas dalam kekosongan—siapa yang harus dipatuhi oleh tentara? Siapa yang harus dipatuhi oleh komando teater? Siapa yang harus dipatuhi oleh pasukan? Jawaban akan menjadi kebenaran tak terucap yang dipahami semua orang: siapa pun yang bertahan hidup menjadi otoritas.

Ini menjelaskan mengapa rumor tentang “perintah karantina akhir pekan,” “tingkat siaga yang ditingkatkan,” dan “kesulitan menghubungi anggota keluarga” begitu mendalam—karena orang secara intuitif memahami bahwa Beijing mengadopsi modus operandi sindikat kriminal: memasang jebakan, memotong komunikasi, menyerang terlebih dahulu, lalu mengukuhkan hasil melalui pengumuman resmi.

Beijing mengantisipasi potensi perlawanan, pemberontakan, atau bahkan risiko perang saudara di dalam militer. Begitu mindset “tidak ada perlawanan berarti tidak ada kelangsungan hidup” mengakar, pembersihan tidak lagi bersifat satu dimensi, dan situasi berisiko meledak menjadi kekacauan total.

Tragedi terbesar suatu bangsa adalah ketika rakyatnya dibungkam oleh ketakutan; bahaya terbesarnya adalah ketika militernya dipaksa untuk sejalan melalui ketakutan. Ketika setiap prajurit hidup dalam ketakutan konstan, perintah tidak lagi berasal dari otoritas institusional tetapi dari insting untuk bertahan hidup. Keadaan seperti itu bukan “stabilitas” tetapi malam sebelum keruntuhan.

3. Kudeta “Mengambil Pintu Kekuasaan” oleh Xi Jinping

Dalam setahun terakhir, banyak kabar dari balik tembok merah menyebut bahwa Xi Jinping kehilangan kekuasaan karena masalah kesehatan mendadak—hilang kendali atas militer dan partai, memasuki yang disebut “momen Hua Guofeng” PKT.

Dilaporkan, selama Sidang Pleno Ketiga PKT Juli 2024, Xi Jinping mengalami stroke dan koma. Saat itu, militer PKT tengah berada dalam fase perebutan kekuasaan: anggota Komisi Militer Pusat Miao Hua dan Wakil Ketua He Weidong berupaya menyingkirkan Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat Zhang Youxia. Zhang segera menghubungi tokoh PKT senior seperti Hu Jintao dan Wen Jiabao, menangkap Miao Hua, dan merebut kekuasaan militer Xi. Saat Xi sadar, kekuasaan militer telah hilang; dominasi Xi di militer sirna.

Sidang Pleno Ketiga membuat Xi kehilangan kendali militer, Sidang Pleno Keempat membuat Xi kehilangan kekuasaan partai—“momen Hua Guofeng” Xi telah tiba. Ia terpaksa mengikuti keputusan badan penasihat yang dibentuk oleh tokoh PKT senior, menyiapkan pengganti untuk Kongres ke-21.

Secara publik, PKT tetap mempromosikan “Pemikiran Xi Jinping” demi menjaga stabilitas rezim, memastikan transisi kekuasaan tertinggi berjalan mulus, dan mencegah kehancuran ala Uni Soviet. Karena Xi adalah pemimpin generasi kelima PKT, partai tak bisa begitu saja menyingkirkan dia. Jika Xi digulingkan, PKT tak bisa menjelaskannya kepada rakyat, dan partai berisiko terpecah dan runtuh. Oleh karena itu, secara internal, PKT mengkritik Xi, mencabut kekuasaan militer dan partai, tetapi tetap mempertahankan posisinya di permukaan dan mempromosikan pemikirannya, agar pengganti yang ditunjuk bisa mengambil alih dengan lancar.

Namun, Xi Jinping bukanlah Hua Guofeng. Mengoperasikan penipuan semacam ini—baik secara internasional maupun domestik—di dalam aparatur Partai menimbulkan bahaya besar bagi mereka yang mengorkestrasikannya.

Inti masalahnya terletak pada apakah sistem dapat menahan tekanan jangka panjang dari dualitas kekuasaan ini—sebuah fasad kontinuitas yang menyembunyikan disintegrasi internal. Ketika suatu rezim bertahan hidup melalui dua skenario, setiap pembalikan berisiko mendorong seluruh aparatur menuju fragmentasi yang lebih ekstrem dan berdarah.

4. Sinyal Politik: Akhir “Kepemimpinan Bersama Generasi Merah”

Signifikansi tambahan Zhang Youxia terletak pada identitas simbolisnya. Dia adalah figur inti terakhir dalam kepemimpinan PKT saat ini yang benar-benar memiliki dua atribut: sebagai “generasi merah kedua ” dan memegang komando militer yang substansial. Selama bertahun-tahun, konsensus informal namun stabil telah berlaku dalam operasional rezim PKT: keluarga merah berbagi kekuasaan, tetapi satu orang memimpin.

Pembersihan Zhang Youxia secara efektif memotong struktur pemerintahan bersama ini. Hal ini menandakan bahwa kekuasaan PKT secara resmi memasuki fase baru—bukan lagi pemerintahan kolektif merah, tetapi model totaliter yang personal dan familial.

Dalam paradigma ini, garis keturunan politik, kredensial revolusioner, dan koneksi keluarga menjadi sepenuhnya usang, memberikan pukulan mematikan bagi aparatur pemerintahan Partai Komunis Tiongkok.

Ketika totalitarianisme mencapai puncaknya, ia tidak lagi mempercayai bentuk apa pun dari “ko-pemerintahan,” karena ko-pemerintahan mengimplikasikan checks and balances; ia tidak lagi menghormati “senioritas,” karena senioritas menandakan batas-batas; ia hanya percaya pada satu hal: kekuasaan harus dimonopoli, dan senjata harus kembali ke tangan “satu-satunya.”

5. Mesin Ekstrem PKT Terpukul Berat, Retakan Struktural Rezim Kian Membesar

Mesin kekuasaan PKT yang sangat piawai mengendalikan manusia selama ini bekerja melalui dua mekanisme utama: “partai mengendalikan senjata” dan “partai mengendalikan manusia”, sehingga tercipta kontrol dan saling mengunci. Kudeta “menerobos pintu kekuasaan” yang dilakukan Xi Jinping kali ini memutus kendali partai atas dirinya sendiri.

Dengan menyingkirkan tokoh militer Zhang Youxia dan Liu Zhenli—yang penempatannya sebelumnya disepakati secara internal oleh mekanisme koordinasi dalam partai—Xi secara langsung menggunakan Kementerian Pertahanan untuk mengumumkan penyelidikan terhadap keduanya. Ini menandai lepas totalnya Xi dari kendali PKT, dan untuk pertama kalinya mesin PKT gagal mengendalikan militer. Kekuasaan PKT mulai jatuh ke tangan keluarga Xi Jinping—bukan lagi partai. Inilah pukulan paling menghancurkan yang pernah dialami mesin kekuasaan PKT.

Bagi rakyat Tiongkok, skenario paling gelap bukanlah siapa naik atau siapa turun, melainkan jika Xi Jinping berhasil merebut kembali kendali senjata. Jika ia terus memakai mesin PKT yang rusak ini, seluruh negeri akan diseret ke mode mobilisasi total yang lebih kiri-ekstrem, lebih tertutup, dan lebih mengerikan.

Ketika legitimasi internal runtuh, krisis ekonomi buntu, dan perebutan kekuasaan berubah berdarah, pilihan klasik penguasa totaliter adalah menciptakan krisis eksternal untuk mengalihkan konflik dan perhatian. Selat Taiwan berpotensi menjadi tong mesiu paling berbahaya.

Perbedaan antara “menolak menyerang Taiwan” dan “mendukung menyerang Taiwan” sering kali hanyalah soal tempo dan timing: yang satu berkata “belum siap”, yang lain “tak bisa menunggu”. Begitu kekuasaan kembali ke jalur ekstrem, petualangan eksternal bukan hanya mungkin—bahkan bisa dijadikan perpanjangan pembersihan internal: perang luar untuk melegitimasi represi dalam, narasi perang untuk menutup ruang perlawanan.

Dan, ketika perbatasan dikunci rapat, sensor makin mencekik, kalimat “yang bisa mengungsi, segeralah pergi” tak lagi sekadar emosi—melainkan akan menjadi penyesalan paling pahit bagi banyak orang di kemudian hari.

Masalah terpenting bukanlah kekuasaan itu sendiri, melainkan apakah kekuasaan dibatasi moral. Bahaya terbesar bukan konflik, melainkan konflik yang dipakai untuk menutupi tirani. Ketika sebuah rezim hanya bisa hidup dari narasi perang, ia akan mendorong rakyat ke bencana—karena bencana adalah bahan bakar umur panjangnya.


6. Logika “Menyelamatkan Partai” Para Sesepuh dan Generasi Kedua Merah Berbalik Menjadi Bumerang

Tragedi terdalam dari “kudeta Beijing” ini adalah terbongkarnya akhir dari kelompok “penyelamat partai”. Mereka mengira menjaga legitimasi semu partai akan memastikan transisi damai; mengira terus mempromosikan “pemikiran seorang pemimpin” bisa menipu rakyat dan mencegah perpecahan; mengira menutup perubahan kekuasaan bisa menghindari pertanggungjawaban publik dan kehancuran total. Hasilnya justru sebaliknya.

Ketika sebuah sistem sudah busuk dan hanya bisa bertahan dengan kekerasan dan kebohongan, maka “menyelamatkan partai” berarti menyuntikkan darah ke kejahatan. Menutup kebenaran membuka peluang pembalikan; mempertahankan simbol menyediakan alat perebutan; tak berani memutus secara tegas mendorong semua orang ke pembersihan yang lebih brutal. Mereka yang ingin “demi stabilitas” justru sering menjadi batu loncatan pertama yang dihancurkan.

Guncangan di Beijing menandai bahwa PKT tak lagi bergantung pada aturan atau prosedur minimum, melainkan meluncur ke politik ala dunia hitam: sabotase, jebakan, pembungkaman opini, dan pengumuman kilat untuk menentukan hidup-mati.

Pelajarannya kejam: Anda mengira menyelamatkan “kepentingan besar”, padahal menyelamatkan kejahatan; Anda mengira menjaga “stabilitas”, padahal memperpanjang bencana. Saat tirani bernapas dengan kebohongan, siapa pun yang menutupinya berarti menggadaikan masa depannya pada kehancuran rezim itu sendiri.


7. Kembali ke Buku Sembilan Komentar: Kekerasan dan Kebohongan adalah Gen PKT

Untuk memahami hakikat “kudeta Tahun Yisi Beijing”, kita harus melampaui tokoh dan faksi, kembali ke pertanyaan mendasar: apa sebenarnya Partai Komunis itu?

Komentar Pertama menyatakan: sejak 1840, Tiongkok mengalami guncangan beruntun—dari adopsi teknologi hingga reformasi sistem, Revolusi Xinhai, lalu pasca-Perang Dunia I ketika kepentingan Tiongkok diabaikan, memicu Gerakan 4 Mei dan reaksi budaya ekstrem yang bermuara pada komunisme. Setelah lebih dari 160 tahun turbulensi, hampir 100 juta kematian tak wajar dan kehancuran peradaban tradisional, hasil yang dipaksakan atas Tiongkok adalah partai yang berintikan kekerasan dan kebohongan.

Sembilan Komentar menegaskan: merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan teror kekerasan adalah gen pertama yang tertanam dalam darah Partai Komunis. Manifesto Komunis secara terbuka menyatakan tujuan hanya bisa dicapai dengan kekerasan. PK Soviet bertahan lewat pembersihan musuh kelas dan internal; PKT sebagai cabang Internasional Ketiga mewarisi tradisi ini dan bahkan pada masa damai tetap menggemari kekerasan—menggunakan kampanye politik untuk menciptakan ketakutan. Ucapan Mao “delapan ratus juta orang, tanpa berjuang bisa?” dan “Revolusi Kebudayaan diulang tujuh–delapan tahun sekali” adalah pengakuan telanjang logika ini.

Saat kekerasan perlu ditutup, kebohongan menjadi pelumasnya. Dari jebakan “seratus bunga” 1957 hingga kampanye politik berulang, dari pemalsuan sejarah hingga penipuan lintas generasi—kebohongan bukan teknik propaganda, melainkan syarat hidup kekerasan. Tanpa kebohongan, kekerasan kehilangan penutup malu; tanpa penutup, ketakutan harus digandakan.

Lebih jauh, PKT terus mengubah prinsip bukan demi kebenaran, melainkan karena krisis legitimasi dan kelangsungan hidup. Prinsip bisa dibuang kapan saja; tujuan tetap satu: monopoli kekuasaan.

Kejujuran paling gelap: partai menggantikan kemanusiaan. Ketaatan absolut menindas nurani dan ikatan keluarga, melahirkan saling lapor dan saling hancur. Ini bukan kebetulan sejarah, melainkan hasil pelatihan organisasi jangka panjang. Siapa pun yang mengancam partai atau pemimpin—bahkan di puncak—akan disingkirkan.

Intinya: kekerasan untuk merebut, kebohongan untuk bertahan; ketakutan untuk menguasai, pembersihan untuk menjaga kursi.  “Kudeta Yisi Beijing” hanyalah ledakan gen ini di level tertinggi.


8. Kudeta Yisi Beijing: RefleksiTerakhir Roh Jahat Komunis yang Sekarat

Buku Sembilan Komentar menggambarkan Partai Komunis sebagai struktur parasit anti-alam dan anti-kemanusiaan: ia tidak mencipta, hanya menempel. Setelah berkuasa, ia melekat pada negara dan rakyat, menembus setiap kapiler sosial, mengendalikan unit terkecil, memonopoli sumber kekayaan, dan mencapai kontrol absolut melalui monopoli kekerasan, kekayaan, dan pengetahuan (ucapan). Anggaran partai tak terlihat, tetapi aparatnya merajalela; administrasi tunduk pada partai; pikiran dikekang dengan perampasan kebebasan berekspresi.

Dalam kerangka ini, “kudeta Yisi Beijing” mudah dipahami: saat parasit merasakan kehancuran mendekat, ia akan menggenggam kekuasaan lebih gila, menciptakan ketakutan, dan membersihkan ancaman.

Inilah sebabnya “menyelamatkan partai” pasti gagal: yang diselamatkan bukan negara, melainkan parasit. Semakin diberi energi, semakin ia menggigit balik. Inilah takdir totalitarianisme: dibangun oleh ketakutan, ditelan ketakutan; dipelihara kebohongan, dimakan kebohongan; diperpanjang pembersihan, hancur oleh pembersihan.


9. Jalan Terakhir: Hancurkan Mesin PKT, Lepaskan Parasit

“Kudeta Yisi Beijing” memaksa realitas pahit: kereta PKT telah keluar rel—kehancuran hanya soal waktu. Jika Xi merebut kembali senjata dan terus memakai mesin jahat ini, negara menuju “Korea Utara versi raksasa”: perbatasan makin tertutup, risiko perang meningkat, rakyat tanpa jalan keluar. Jika militer melawan hingga perang saudara, biayanya sama-sama mengerikan. Selama masih terikat pada mesin PKT, tak ada jalan lolos dari teror.

Karena itu, pilihan paling mendasar hari ini bukan menebak faksi pemenang, melainkan memutus total dengan PKT—memutus struktur jahat yang merebut kekuasaan dengan teror, melumasi kekerasan dengan kebohongan, mematikan kemanusiaan dengan “partai”, dan menguasai masyarakat dengan parasit.

Setiap ilusi terhadapnya adalah transfusi untuk bencana berikutnya; setiap upaya “menyelamatkan partai” adalah arus balik melawan nurani dan akan ditelan balasannya.

Di tengah krisis yang lebih besar, satu-satunya jalan menyelamatkan diri adalah: amnesti umum, meninggalkan PKT, menghancurkan mesin PKT.

Siapa berani lebih dulu melepaskan diri di titik balik sejarah, dialah yang bebas dari kendali parasit; siapa berhenti memberi energi pada kejahatan, dialah yang mungkin memperoleh perlindungan sejati—bagi diri, keluarga, dan masa depan peradaban Tionghoa.

Langit pasti memusnahkan PKT.  Mundur dari Partai, Liga, dan Pionir muda demi keselamatan.

“Kudeta Tahun Yisi Beijing” (北京乙巳政变) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut pengambilalihan kekuasaan mendadak di Beijing, pusat pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang terjadi pada tahun Yisi dalam penanggalan Tionghoa—setara dengan tahun 2026 dalam kalender modern

Tulisan ini awalnya terbit dengan versi bahasa Mandarin : 北京乙巳政变 中共机器遭重创 解体中共是唯一出路

AS–Iran Tegang: AS Siap Tempur, Khamenei Berlindung di Bunker, Timur Tengah di Ambang Krisis Besar

EtIndonesia. Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, mendorong kawasan Timur Tengah ke titik rawan eskalasi konflik berskala besar. Pengerahan militer Amerika Serikat yang berfokus pada Iran kini dinilai telah memasuki tahap kesiapan penuh, sementara Iran meningkatkan status siaga nasional dan memperketat kontrol keamanan di dalam negeri.

Pengerahan Militer AS Capai Tahap Siap Operasi

Menurut berbagai laporan militer dan media internasional, kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat yang dipimpin USS Abraham Lincoln telah tiba di Samudra Hindia dan bergerak ke arah barat menuju kawasan Timur Tengah. Armada ini sebelumnya ditempatkan di Laut Cina Selatan dan dipindahkan secara cepat sebagai respons atas memburuknya situasi Iran.

Selain pengerahan armada laut, dalam 48 jam terakhir hingga 25 Januari 2026, citra satelit dan data penerbangan menunjukkan sedikitnya 45 pesawat angkut militer C-17 Globemaster III milik Angkatan Udara AS telah mendarat atau melintas menuju berbagai pangkalan di Timur Tengah. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh media NewsStar pada 25 Januari, dan dipandang luas sebagai indikasi percepatan pengiriman pasukan serta logistik tempur.

Sejumlah analis militer menilai bahwa pola pengerahan udara dan laut yang berlangsung bersamaan ini bukanlah latihan rutin, melainkan konfigurasi khas menjelang operasi militer skala besar.

Israel Tingkatkan Kesiapan ke Level Tertinggi

Sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan, Israel telah menaikkan status kesiapan militernya ke tingkat tertinggi. Militer Israel bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi, termasuk skenario serangan balasan Iran yang melibatkan rudal balistik jarak menengah dan jauh.

Media Israel melaporkan bahwa sistem pertahanan udara nasional berada dalam kondisi siaga penuh, sementara koordinasi intelijen dengan Amerika Serikat dan sekutu regional terus ditingkatkan.

Khamenei Berlindung di Bunker, Pengamanan Diperketat

Di tengah tekanan militer dan politik yang terus meningkat, muncul laporan signifikan terkait keselamatan pimpinan tertinggi Iran. Sejumlah sumber media oposisi Iran menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah dipindahkan ke bunker bawah tanah dan berada dalam perlindungan keamanan maksimum.

Khamenei dilaporkan secara drastis mengurangi kemunculan publik dan bahkan membatalkan kegiatan keagamaan akhir pekan. Untuk menghindari pelacakan elektronik, dia memerintahkan pembatasan ketat komunikasi digital bagi pejabat tinggi dan pengawalnya.

Salah satu indikasi yang paling mencolok adalah berhentinya aktivitas Khamenei di platform X (Twitter) sejak 17 Januari 2026, padahal sebelumnya akun tersebut cukup aktif. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa dia telah memasuki status perlindungan tingkat tinggi.

Dalam struktur kekuasaan Iran, Khamenei bukan sekadar kepala negara formal, melainkan pemimpin tertinggi agama dan politik. Posisi ini membuatnya dinilai sebagai target strategis bernilai tinggi dalam skenario konflik langsung, berbeda dari presiden Iran yang memiliki peran administratif.

Putra ketiga Khamenei, Masoud Khamenei, disebut mulai mengambil alih sebagian urusan harian dan berperan sebagai penghubung utama antara kantor Pemimpin Tertinggi dengan berbagai lembaga pemerintahan.

Risiko Operasi “Pemenggalan Kepemimpinan”

Para analis militer menilai bahwa jika Amerika Serikat memilih opsi ekstrem berupa operasi pemenggalan kepemimpinan, maka penggunaan pembom siluman B-2 dengan bom penghancur bunker dapat menjadi instrumen utama. Dalam skenario ini, bahkan bunker bawah tanah dengan kedalaman ekstrem dinilai tidak sepenuhnya aman dari serangan presisi berdaya hancur tinggi.

Pengalaman Israel dalam konflik regional sebelumnya telah memperlihatkan efektivitas serangan presisi terhadap target bernilai tinggi, terutama ketika lokasi target berhasil diidentifikasi secara akurat.

Karena itu, risiko terbesar bagi keselamatan Khamenei bukan terletak pada sistem pertahanan udara Iran, melainkan pada apakah lokasi keberadaannya dapat terdeteksi atau tidak.

Pernyataan Trump: “Mari Kita Lihat Apa yang Terjadi”

Pada 23 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi bahwa militer AS tengah memantau Iran dengan sangat ketat dan telah mengerahkan armada besar ke kawasan Teluk Persia. Ini menjadi pengakuan publik pertama Trump terkait pemindahan aset militer strategis ke Timur Tengah.

Trump menyebut bahwa langkah tersebut merupakan respons atas penindasan keras Iran terhadap aksi protes domestik. Dia juga mengklaim bahwa Iran telah membatalkan rencana eksekusi tertentu, yang disebutnya sebagai sinyal positif, namun memperingatkan bahwa jika tindakan represif berlanjut, AS akan merespons dengan langkah yang “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Terkait pengerahan armada besar, Trump mengatakan: “Mungkin kita tidak perlu menggunakannya. Mari kita lihat apa yang terjadi.”

Iran Perketat Represi, Internet Diputus

Di dalam negeri, Iran terus memperketat kontrol untuk menekan gelombang protes yang telah berlangsung hampir satu bulan. NetBlocks, lembaga pemantau internet berbasis di London, melaporkan bahwa pemadaman internet nasional Iran telah memasuki minggu ketiga hingga Jumat, 25 Januari 2026.

Meskipun sebagian warga berhasil menggunakan VPN untuk mengakses aplikasi pesan instan, tingkat konektivitas internasional secara keseluruhan tetap sangat rendah. Iran dinilai menerapkan sistem penyaringan tingkat lanjut, termasuk daftar putih layanan daring yang hanya mengizinkan akses ke platform yang disetujui pemerintah.

Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi, dan kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim.

Sanksi Baru AS dan Sorotan Internasional

Sebagai respons tambahan, Departemen Keuangan AS pada Jumat, 24 Januari 2026, mengumumkan sanksi baru terhadap “armada bayangan” Iran, yang mencakup sembilan kapal serta perusahaan pemilik dan pengelolanya. Armada ini dituduh mengekspor minyak Iran secara ilegal dengan nilai ratusan juta dolar.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menegaskan bahwa sanksi tersebut menargetkan jalur pendanaan utama rezim Iran yang digunakan untuk menekan rakyatnya.

Situasi Iran juga menjadi perhatian Dewan HAM PBB, yang menggelar sidang khusus pada hari yang sama. Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk menyatakan bahwa meskipun kekerasan jalanan mungkin menurun, pelanggaran HAM masih terus berlangsung dan mendesak Iran menghentikan penindasan berlebihan.

Israel dan Kawasan: Efek Domino Tak Terhindarkan

Para analis sepakat bahwa jika konflik AS–Iran benar-benar pecah, Israel hampir pasti akan terseret langsung. Dalam konflik sebelumnya, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Inggris telah berperan membantu pertahanan udara regional. Mesir sejauh ini memilih sikap hati-hati dan ambigu.

Dalam wawancara dengan CNN, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran di pengasingan, menyebut bahwa jumlah korban tewas akibat represi kemungkinan telah melampaui 20.000 orang, serta mengklaim adanya retakan serius di tubuh pemerintahan dan militer Iran, dengan sekitar 150.000 orang berniat keluar dari sistem rezim.

Pahlavi menegaskan bahwa protes kali ini berbeda dari sebelumnya dan menyebutnya sebagai revolusi sejati.

Penerbangan Dialihkan, Radar Menyala, Armada Berkumpul: Dunia Bersiap Menyambut Perang Timur Tengah


EtIndonesia.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam dalam beberapa jam terakhir, menyusul pengerahan militer besar-besaran oleh AS di sekitar wilayah Iran. Sejumlah kapal induk, pesawat tempur, hingga sistem pendukung tempur tingkat tinggi dilaporkan telah berada di posisi strategis, memicu kekhawatiran luas bahwa konflik bersenjata dapat meletus sewaktu-waktu.

Di dalam negeri, Iran juga tetap berada dalam status siaga tinggi, terutama setelah gelombang penindasan internal yang terjadi sepanjang awal Januari. Kombinasi tekanan eksternal dan gejolak domestik ini membuat situasi keamanan Iran berada pada titik paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir.

Dentuman Misterius di Langit Teheran

Pada 25 Januari, warga di kawasan Niavaran, Teheran timur laut, melaporkan terdengarnya dentuman besar yang tidak biasa dari udara. Selain itu, sistem pemantauan juga mendeteksi keberadaan objek tak dikenal melintas di langit kawasan tersebut. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan resmi terkait insiden tersebut.

Tak lama berselang, Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump mengunggah pernyataan singkat namun provokatif di media sosial, dengan menulis: “Besok malam akan ada ledakan besar. Saya hanya bisa mengatakan sejauh ini.”

Unggahan tersebut langsung memicu spekulasi luas di dunia maya. Banyak warganet menilai pernyataan itu mengarah langsung pada Iran, mengingat eskalasi militer AS yang tengah berlangsung. 

“Jika bukan Iran, lalu di mana lagi ledakan besar itu akan terjadi?” tulis sejumlah komentar yang ramai beredar.

Aktivitas Militer Intensif di Udara dan Laut

Masih pada hari yang sama, jet tempur Angkatan Udara Iran terpantau melakukan patroli intensif di atas wilayah Niavaran dan sekitarnya. Di laut, Iran dilaporkan mengerahkan kapal perang dan kapal cepat untuk memantau pergerakan armada AS, khususnya di sekitar posisi kapal induk USS Abraham Lincoln.

Seorang analis militer yang dikenal dengan nama akun Mario mengungkapkan bahwa dua pesawat tanker Angkatan Udara AS baru saja terbang melintasi Teluk Persia, dekat wilayah udara Iran. Dalam praktik militer, pergerakan tanker udara biasanya mengindikasikan dukungan langsung terhadap misi pengintaian jarak jauh atau persiapan operasi tempur.

Pada saat yang sama, pesawat angkut strategis C-5M Super Galaxy milik AS, yang sebelumnya mendarat di kawasan Timur Tengah, dilaporkan telah lepas landas kembali menuju Inggris. Langkah ini diduga berkaitan dengan pengiriman atau penarikan perlengkapan pertahanan udara tambahan.

Israel: Operasi Militer AS “Siap Sepenuhnya”

Media Israel melaporkan bahwa rencana operasi militer potensial Amerika Serikat terhadap Iran telah sepenuhnya siap. Pengerahan pasukan dan persiapan tempur di berbagai titik kawasan disebut telah memasuki tahap akhir.

Di dunia maya, beredar pula informasi bahwa intelijen Israel (Mossad) tengah menyerahkan kepada pihak Amerika Serikat daftar perwira Garda Revolusi Iran. Para perwira tersebut dituduh terlibat langsung dalam perintah dan pelaksanaan penindasan massal terhadap warga sipil Iran dalam gelombang protes domestik awal Januari lalu.

Seorang analis pertahanan menyebutkan bahwa Iran juga telah mengerahkan kapal induk drone tipe Shahed ke sekitar Selat Hormuz, sebuah langkah yang dinilai sebagai persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi langsung dengan kapal perang AS.

Armada AS Berkumpul, Kerja Sama Regional Menguat

Sementara itu, USS Abraham Lincoln dilaporkan telah tiba di perairan Timur Tengah. Media internasional menggambarkan pemandangan tidak biasa: armada besar militer AS sedang berkumpul di sekitar Iran, mencakup kapal perusak rudal, penataan ulang sistem pertahanan udara regional, serta kehadiran pejabat tinggi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) di Israel.

Pengamat militer Israel menekankan bahwa pengerahan ini jauh melampaui satu kapal induk semata, dan menunjukkan kesiapan menghadapi berbagai skenario, termasuk konflik skala besar.

Kehadiran Militer Mesir di Israel Terungkap

Perhatian publik juga tertuju pada laporan mengenai kehadiran personel militer Mesir di Pusat Komando Kiryat Gat, selatan Tel Aviv. Militer AS sempat merilis foto dan video dari pusat komando tersebut yang memperlihatkan keberadaan personel Mesir, namun materi itu kemudian dihapus.

Menurut laporan Channel 11 Israel, penghapusan dilakukan atas permintaan Pemerintah Mesir, karena gambar-gambar tersebut dianggap sebagai bukti sensitif kehadiran pasukan Mesir di wilayah Israel. Meski secara politik hubungan Kairo dan Tel Aviv kerap diwarnai ketegangan, kerja sama militer kedua negara dilaporkan tetap berjalan erat.

Saat ini, Pusat Komando Kiryat Gat juga berperan dalam pengawasan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.

Iran Siaga Penuh, Ancaman Perang Total Menguat

Pada 25 Januari, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Sani, menyatakan bahwa menghadapi pengerahan militer pihak asing, angkatan bersenjata Iran telah memasuki status siaga penuh.

Dia menegaskan bahwa pasukan Iran siap bertempur kapan saja jika terjadi serangan. Peringatan keras juga datang dari Teheran, yang menyebut setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan perang total, sebuah pernyataan yang semakin meningkatkan kecemasan global.

Penindasan Internal dan Tuduhan Pembantaian Massal

Di dalam negeri, Kementerian Intelijen Iran melaporkan telah melakukan operasi besar di Provinsi Yazd, menangkap lebih dari 150 tokoh inti yang dituduh memimpin kerusuhan baru-baru ini. Jaksa Agung Iran memperingatkan bahwa para dalang protes anti-pemerintah akan menghadapi hukuman berat tanpa kompromi.

Namun, media oposisi dan platform Iran International mengungkapkan klaim yang jauh lebih mengerikan. Mereka menyebut bahwa selama penindasan nasional pada 8–9 Januari 2026, rezim Iran diduga membantai lebih dari 36.000 orang hanya dalam dua hari, menjadikannya salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah protes jalanan Iran.

Sejumlah pengamat membandingkan situasi saat ini dengan periode menjelang Revolusi Iran 1979, menilai negara tersebut telah memasuki fase krisis yang “tanpa jalan kembali”.

Dampak Langsung ke Penerbangan Sipil

Ketegangan AS–Iran juga berdampak langsung pada sektor penerbangan. Singapore Airlines dan Scoot mengumumkan pengalihan rute untuk menghindari wilayah udara Iran, Irak, dan kawasan Teluk, karena dinilai berisiko tinggi.

Israel bahkan memperingatkan maskapai internasional bahwa jalur udara menuju Bandara Ben Gurion berpotensi ditutup pada akhir pekan mendatang jika situasi terus memburuk—sebuah langkah yang pernah dilakukan sebelumnya dalam kondisi darurat.

Analisis: Skala Pengerahan Militer yang Tidak Biasa

Analis militer Afriaht menyebut bahwa Amerika Serikat kini telah mengerahkan kombinasi kekuatan yang sangat besar, mencakup jet tempur, pesawat tanker, pesawat angkut, pesawat peringatan dini, pesawat komando, serta tiga gugus tempur kapal induk yang tersebar di Timur Tengah dan Eropa.

Menurutnya, skala pengerahan ini menunjukkan bahwa Washington tengah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, sementara dunia menahan napas menunggu apakah ketegangan ini akan berakhir pada tekanan diplomatik—atau justru meledak menjadi konflik terbuka.

Jenderal Zhang Youxia Ditangkap Diduga Terkait Gejolak Militer, Jenderal Atasan Lamanya Meninggal Dunia Bersamaan Picu Spekulasi

EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat Liu Zhenli secara tiba-tiba diumumkan resmi “jatuh” oleh otoritas. Pengamat politik independen Cai Shenkun, yang pertama kali membocorkan kejatuhan Zhang Youxia, mengatakan bahwa penangkapan Zhang berpotensi mengguncang kelompok hong er dai (keturunan elit merah) dan jun er dai (keturunan elite militer), serta bisa memicu perubahan besar dalam politik Tiongkok.

Sehari sebelum Zhang Youxia dan Liu Zhenli diumumkan jatuh, Cai Shenkun menulis di media sosial X dan membocorkan bahwa 17 jenderal senior—termasuk Zhang Youxia, Jenderal Liu Zhenli, Jenderal Xiao Tianliang, Letnan Jenderal Zhong Shaojun, dan lainnya—telah ditangkap. Selanjutnya, akan ada gelombang besar penangkapan terhadap jenderal mayor, jenderal muda, bahkan perwira setingkat komandan divisi.

Pada 24 Januari, dalam wawancaranya dengan “Fangfei Podcast”, Cai Shenkun mengungkap lebih banyak detail di balik peristiwa ini.

Pengamat politik independen Cai Shenkun

“Saya selalu mengatakan, semua pertarungan internal di tingkat atas PKT—siapa pun yang dijatuhkan—bahkan jika suatu hari Xi Jinping dijatuhkan, kita hanya akan menjadi penonton, seperti menonton pertunjukan sirkus,” katanya. 

“Hari ini Xi Jinping tampak unggul, tetapi suatu hari bisa saja tiba-tiba diumumkan ia jatuh, atau dicap sebagai kepala kelompok anti-Partai. Itu semua mungkin terjadi. Karena itu, dalam melihat politik PKT, kita perlu analisis rasional untuk membuat penilaian dasar,” tambahnya. 

Cai Shenkun menyatakan bahwa sebagai bagian dari hong er dai dan jun er dai, penangkapan Zhang Youxia bisa mengguncang fondasi PKT dan memicu gejolak politik besar.

“Menangkap Zhang Youxia berarti Xi Jinping sepenuhnya berbalik melawan kelompok hong er dai atau jun er dai. Ini adalah perubahan politik yang sangat besar. Jelas, akan ada banyak jenderal aktif, juga sejumlah jenderal yang sudah pensiun, bahkan tidak menutup kemungkinan sebagian hong er dai atau jun er dai akan menerima dampak yang lebih besar,” jelasnya. 

“Bagi Xi Jinping, tidak ada jalan mundur. Jika dia mundur satu langkah lagi, dia sendiri akan hancur berkeping-keping. Ini ditentukan oleh sifat sistem otoriter,” tambahnya.

Setelah Zhang Youxia dijatuhkan, media militer PKT secara langka dan cepat menerbitkan artikel untuk menetapkan sifat kasus tersebut, menyebutkan frasa seperti “meluruskan sumber dari sisi politik, membersihkan racun dan keburukan dari sisi ideologi.” 

Cai Shenkun sebelumnya mengungkap bahwa sebelum kejatuhannya diumumkan secara resmi, seluruh pengawal dan sekretaris Zhang Youxia telah diganti oleh pihak berwenang.

Cai Shenkun berkata: “Jadi, setelah orang-orang di sekelilingnya diganti, apakah dia kemudian berniat berjudi habis-habisan? Apakah dia ingin menggunakan cara lain—misalnya melalui Jenderal Liu Zhenli—untuk menggerakkan militer, mungkin melakukan kudeta atau gejolak militer terhadap Xi Jinping? Namun informasi ini dengan cepat ditangkap oleh Xi, karena Xi telah menempatkan terlalu banyak mata-mata di dalam militer dan partai untuk memantau setiap gerak-gerik mereka.”

Yang patut dicermati, sehari sebelum Zhang dan Liu diumumkan jatuh, pada 23 Januari, “atasan lama” Zhang Youxia, Jenderal PKT Liao Xilong, meninggal dunia di Beijing. Namun hingga kini, pihak berwenang PKT belum mengeluarkan pengumuman resmi terkait hal tersebut.

Liao Xilong pernah lama menduduki posisi inti di militer, termasuk menjabat sebagai Menteri Departemen Logistik Umum. Ia merupakan figur penting yang berjasa besar dalam karier militer Zhang Youxia. Wafatnya Liao yang bertepatan dengan kejatuhan Zhang Youxia telah memicu perhatian dan berbagai spekulasi dari luar. (Hui)

Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television Zhao Fenghua.

Jenderal Zhang Youxia dan Liu Zhenli Diselidiki, Pakar: Kekacauan Internal Militer Tak Terelakkan

Otoritas PKT (Partai Komunis Tiongkok) secara resmi mengumumkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan CMC Liu Zhenli diduga terlibat “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”. Dengan demikian, dari tujuh anggota pimpinan CMC periode ke-20 yang dibentuk pada 2022, kini sudah lima orang tumbang. Yang tersisa hanya Xi Jinping dan Zhang Shengmin. Para pengamat menilai, kekacauan internal di tubuh militer PKT sudah tidak terelakkan.

Kementerian Pertahanan PKT pada 24 Januari mengumumkan:  “Anggota Politbiro dan Wakil Ketua CMC Zhang Youxia, serta anggota CMC sekaligus Kepala Staf Gabungan CMC Liu Zhenli, diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum yang serius. Setelah dipelajari oleh Komite Pusat Partai, diputuskan untuk membuka penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli.”

EtIndonesia. Zhang Youxia yang kini berusia 75 tahun merupakan jenderal dengan peringkat de facto tertinggi di militer PKT setelah Xi Jinping. Penyelidikan terhadap Zhang terjadi hanya tiga bulan setelah kejatuhan He Weidong, menjadikannya Wakil Ketua CMC kedua yang tumbang dalam waktu singkat, serta Wakil Ketua CMC keempat yang dijatuhkan sejak Xi Jinping berkuasa pada 2012.

Hingga kini, dari tujuh anggota pimpinan CMC ke-20 yang dibentuk pada 23 Oktober 2022, setelah lebih dari dua tahun hanya tersisa Ketua Xi Jinping dan Wakil Ketua Zhang Shengmin. Menurut statistik tidak lengkap, selama periode ini sedikitnya 28 jenderal berpangkat penuh (jenderal bintang empat) telah tumbang atau menghilang.

Pengamat isu aktual Lan Shu menyatakan bahwa seiring runtuhnya perekonomian PKT, kontradiksi sosial di Tiongkok terus menumpuk dan meledak dalam skala besar.

 Xi Jinping dinilai tengah berupaya keras mengangkat sekelompok jenderal yang secara ideologis sepenuhnya setia dan bersedia melaksanakan strategi pemikirannya, guna menguasai militer dan mempersiapkan ekspansi ke luar negeri. Dalam konteks ini, Zhang Youxia dan Liu Zhenli pun menjadi bagian dari sekitar 7,2 juta pejabat PKT yang disingkirkan.

 “Di mata Xi Jinping, mereka semua adalah penghalang bagi kembalinya Xi pada ideologi dasar Marxisme–Leninisme–Maoisme. Dengan tumbangnya jenderal senior PKT yang relatif moderat secara ideologis seperti Zhang Youxia, maka jadwal Xi Jinping untuk menggunakan kekuatan militer ke luar negeri—terutama penyatuan Taiwan dengan kekerasan—akan sangat dipercepat,” kata Lan Shu. 

Pada malam yang sama, surat kabar militer PKT menerbitkan editorial berjudul “Dengan Teguh Memenangkan Pertempuran Penentuan, Pertempuran Berkepanjangan, dan Pertempuran Menyeluruh dalam Perang Antikorupsi Militer.”

Editorial tersebut menyebut bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli “secara serius mengkhianati kepercayaan dan amanat Komite Pusat Partai serta CMC, secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua CMC, memperparah masalah politik dan korupsi yang merusak kepemimpinan mutlak Partai atas militer dan mengancam fondasi kekuasaan Partai, merusak citra dan wibawa pimpinan CMC, serta menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap Partai, negara, dan militer.”

Mengenai tuduhan “secara serius merusak sistem tanggung jawab ketua CMC”, kalangan masyarakat menilai hal ini mungkin terkait dengan pembersihan besar-besaran tahun lalu terhadap sembilan jenderal kubu Xi, termasuk mantan Wakil Ketua CMC He Weidong dan Direktur Departemen Pekerjaan Politik Miao Hua—yang kala itu ramai dikabarkan dilakukan oleh Zhang Youxia.

Pengamat isu aktual Li Linyi menyatakan bahwa Zhang Youxia sebenarnya pernah memiliki peluang untuk menjatuhkan Xi Jinping. Namun karena ia dan para tetua yang mendukungnya masih ragu soal masalah penerus, kesempatan itu terlewatkan. Kini justru Zhang Youxia yang disingkirkan oleh Xi, menjadi pelajaran pahit bagi pihak lain.

 “Jika di masa depan masih ada yang berani melawan Xi Jinping, mereka akan belajar dari pelajaran kejatuhan Zhang Youxia ini—yaitu segera menyingkirkan pemimpin partai tersebut. Artinya, konflik internal PKT ke depan akan jauh lebih brutal. Begitu meletus, kemungkinan langsung berakhir, bahkan bisa sampai pada penghilangan nyawa. Tidak akan lagi ada keraguan seperti yang terjadi sebelumnya pada para tetua dan Zhang Youxia,” ujarnya. 

Setelah penangkapan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, berbagai rumor pun bermunculan di internet.

Sebagian orang bahkan membandingkan kejatuhan Zhang Youxia dengan “Insiden Tianjing” dalam sejarah Pemberontakan Taiping. Setelah Insiden Tianjing, Taiping terpecah-belah dan akhirnya runtuh.

Li Linyi juga menekankan bahwa selama menjabat, Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah mengangkat ribuan perwira. Setelah mereka tumbang, para perwira tersebut terancam akan diselidiki dan disingkirkan, sehingga masa depan militer menjadi penuh ketidakpastian.

 “Terlepas dari apakah dalam pertarungan politik ini Xi Jinping menang, atau apakah nantinya ada faktor lain yang mempengaruhi hasilnya, bagi PKT, kekacauan internal ini entah terjadi sekarang atau di masa depan, sudah tidak bisa dihindari lagi,” katanya. 

Li Linyi menilai bahwa ini merupakan peristiwa politik besar yang cukup untuk mengguncang struktur politik, sosial, dan kekuasaan militer Tiongkok, serta akan membawa dampak yang sangat besar bagi rezim PKT. (hui)

(Video) Jenderal Zhang Youxia Tiba-tiba Diselidiki, Pengumuman Resmi Beijing Bocorkan Banyak Kejanggalan

Baru-baru ini, PKT (Partai Komunis Tiongkok) secara tiba-tiba mengumumkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan CMC Liu Zhenli telah tumbang. Proses pengumuman resmi oleh otoritas penuh dengan kejanggalan, menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi secara mendesak, situasi di internal PKT tidak stabil, dan pertarungan kekuasaan yang sengit semakin terbuka ke permukaan.

EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Partai Komunis Tiongkok (PKT) merilis pernyataan bahwa anggota Politbiro dan Wakil Ketua CMC Zhang Youxia, serta anggota CMC sekaligus Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli, diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum berat, sehingga keduanya resmi diselidiki.

Sebelumnya, mereka tidak hadir dalam pembukaan kelas pelatihan khusus bagi pejabat utama tingkat provinsi dan kementerian pada  20 Januari. Mereka juga absen dalam acara penutupan pada 23 Januari. Hal ini memicu spekulasi bahwa keduanya telah ditangkap.

Pengamat luar mencatat, pada kasus-kasus sebelumnya seperti mantan Menteri Pertahanan Wei Fenghe, Li Shangfu, serta mantan Wakil Ketua CMC He Weidong, pengumuman resmi kejatuhan mereka baru dilakukan setelah mereka “menghilang” cukup lama. Namun kali ini, Zhang Youxia dan Liu Zhenli diumumkan secara resmi dengan sangat cepat dan tidak lazim. Hal ini kemungkinan besar karena situasi yang mendesak, kondisi yang sulit diprediksi, dan penuh dengan variabel.

 “Dapat dibayangkan bahwa ini terutama berkaitan dengan krisis rasa tidak aman atas melemahnya kekuasaan Xi Jinping sendiri, atau untuk mencegah Zhang Youxia dan Liu Zhenli melancarkan pemberontakan militer. Setelah penangkapan, tentu dikhawatirkan dampaknya meluas, atau muncul unit militer lain maupun penempatan kekuatan lain yang ikut merespons. Karena itu, pengumuman resmi dilakukan dengan sangat cepat,” ujar peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi. 

Penulis yang bermukim di AS sekaligus komentator independen Chen Pokong menyatakan: “Pengumuman yang begitu cepat dan begitu terang-terangan, tanpa melibatkan Komisi Inspeksi Disiplin Pusat (CCDI) maupun Komisi Inspeksi Disiplin Militer, melainkan mengatasnamakan ‘keputusan setelah diteliti oleh Komite Pusat Partai’, pada dasarnya ini adalah sebuah kudeta.”

Pada 25 Januari, surat kabar militer PKT menerbitkan editorial yang menuduh Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua CMC”, mempengaruhi kepemimpinan mutlak Partai atas militer, serta merusak wibawa CMC. Tuduhan ini sangat jarang muncul dan hampir secara langsung mengonfirmasi rumor lama bahwa faksi Zhang Youxia berseteru dengan Xi Jinping dan bahwa konflik internal PKT sangat sengit.

Shen Mingshi mengatakan: “Dari editorial PLA Daily dapat terlihat bahwa masalah utamanya bukan korupsi, melainkan pelanggaran prinsip ‘Partai mengendalikan senjata’ dan sistem tanggung jawab ketua CMC. Ini secara implisit menyiratkan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli mungkin telah bertindak bertentangan dengan kehendak Xi Jinping atau Ketua CMC, melakukan sesuatu tanpa melapor, atau bahkan merencanakan hal-hal yang berpotensi menggulingkan Xi Jinping.”

Berbeda dengan praktik sebelumnya, setelah pengumuman resmi Beijing kali ini, hingga berita ini ditulis belum terlihat pernyataan kesetiaan besar-besaran dari elite nasional maupun petinggi militer. Shen Mingshi menilai bahwa arah perkembangan situasi selanjutnya masih dipenuhi ketidakpastian.

Shen Mingshi berkata:  “Setelah pengumuman ini, opini publik tidak menunjukkan pembelaan besar-besaran terhadap ‘satu pemimpin tertinggi’ atau pernyataan sikap ala pilih kubu. Hal ini terutama karena situasi masih belum jelas.” 

“Mungkin Wang Huning atau Cai Qi sendiri juga merasakan bahwa posisi mereka tidak aman, sehingga dalam kondisi seperti ini, mereka tidak terlalu aktif menggunakan propaganda atau opini publik untuk membentuk citra Xi Jinping sebagai satu-satunya otoritas tertinggi.”

Chen Pokong menambahkan:  “Mereka tentu ingin mengumpulkan lima lembaga utama—Dewan Negara, Kongres Rakyat Nasional, dan Konferensi Permusyawaratan Politik—untuk mengadakan pertemuan dan menyatakan sikap, lalu diikuti pernyataan dari tingkat provinsi dan kementerian. Namun sekarang tampaknya Xi Jinping mulai berada dalam posisi canggung. Mereka mungkin perlu melakukan banyak pekerjaan terlebih dahulu sebelum hal itu bisa digerakkan.”

Chen Pokong juga menunjukkan bahwa dalam pengumuman resmi PKT kali ini, tidak digunakan istilah “jabatan sebelumnya”, melainkan langsung menyebut jabatan saat ini dan mengumumkan penyelidikan. 

Selain itu, pihak yang mengeluarkan pengumuman bukan CCDI maupun Komisi Disiplin Militer, melainkan keputusan atas nama “Komite Pusat Partai”. Hal ini sangat tidak biasa. Ini mencerminkan bahwa pertarungan kekuasaan di tingkat tertinggi PKT telah menjadi terbuka dan mendesak, serta mekanisme operasional kekuasaan berada dalam kondisi tegang.

Chen Pokong berkata:  “Hampir semua orang hidup dalam ketakutan. Bukan hanya pejabat tinggi lainnya yang takut, bahkan orang-orang dari kubu Xi sendiri juga sangat takut. Dari suasana rapat saja bisa terlihat, ekspresi mereka penuh kecemasan dan kegelisahan—itulah rasa takut dan ketidaknyamanan. Karena semua orang merasa terancam; tidak ada yang tahu kapan giliran dirinya akan jatuh.”

Chen Pokong menilai bahwa pengumuman resmi kali ini bukan sekadar tindakan antikorupsi atau penyelidikan disiplin, melainkan sebuah penyesuaian besar dan keras terhadap struktur kekuasaan PKT. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada apakah akan muncul perlawanan di dalam militer, serta apakah PKT masih mampu mempertahankan stabilitas semu di internal partai. (***)

Bak Drama Istana! Video Mantan Perwira Bongkar Penangkapan Jenderal Zhang Youxia, Elite Militer Bungkam, Gelombang Pengunduran Diri Guncang PLA

Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat (CMC) Liu Zhenli ditangkap, berbagai bocoran detail bermunculan, bak drama istana versi modern. Seorang perwira purnawirawan dari Grup Angkatan Darat ke-31 PKT mengungkapkan bahwa saat ini militer PKT sudah kacau. Para perwira setingkat resimen ke atas ramai-ramai mengajukan laporan pengunduran diri dan alih tugas. Para petinggi militer juga enggan menyatakan dukungan kepada Xi Jinping. Dalam waktu dekat dikhawatirkan akan terjadi peristiwa besar.

EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan PKT secara tiba-tiba mengumumkan bahwa Wakil Ketua CMC Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan CMC Liu Zhenli “diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum berat”, dan keduanya resmi diselidiki. Meski rumor telah beredar beberapa hari sebelumnya, kecepatan pengumuman resmi ini tetap mengejutkan opini publik.

Pada 26 Januari, YouTuber “Zhen Guandian” melalui pembawa acara Zhen Fei merilis sebuah video, mengaku memperoleh informasi dari seorang mantan perwira Grup Angkatan Darat ke-31 PKT mengenai detail penangkapan Zhang Youxia serta kondisi terkini militer PKT. Grup Angkatan Darat ini pernah menjadi tempat dinas Miao Hua dan He Weidong, dan perwira tersebut pernah bekerja bersama mereka.

Menurut penuturan perwira senior yang dikutip oleh “Zhen Guandian”, setelah Zhang Youxia ditangkap, semua orang terkejut dan tidak menyangka seorang mantan komandan senior seperti Zhang bisa “ditangkap dengan begitu mudah”. 

Kini, para perwira setingkat resimen dan distrik militer ke atas ramai-ramai mengajukan pengunduran diri dan alih status, pada dasarnya melepaskan tanggung jawab. Tidak ada yang tahu kapan “api” akan menjalar ke diri mereka. Akibatnya, departemen organisasi kewalahan dan hanya bisa meneruskan laporan “berlapis-lapis ke atas”.

Yang lebih serius, Xi Jinping meminta para komandan grup angkatan darat menyatakan sikap mendukungnya, namun para komandan umumnya memilih diam. Perwira senior tersebut mengatakan bahwa setelah menjatuhkan Zhang Youxia, Xi meminta pernyataan sikap dari para komandan, tetapi tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang mau menjadi orang pertama yang menentang Zhang Youxia, karena di militer sangat menjunjung senioritas dan Zhang memiliki wibawa tinggi. Tidak ada yang mau menyatakan dukungan kepada Xi Jinping. Menurutnya, “Xi sama sekali tidak punya wibawa di militer, caranya terlalu licik.”

Ia menyebutkan bahwa saat ini militer melakukan perlawanan pasif. Jika berlanjut, pasukan akan lumpuh—tidak ada yang mau bekerja, semua memilih “rebahan” sebagai bentuk protes. Hal ini diperkirakan akan membuat Xi Jinping frustrasi. 

Selanjutnya, Xi mungkin akan kembali mengangkat orang-orang baru, memunculkan “gelombang baru” figur seperti He Weidong dan Miao Hua. Namun semua orang sudah ketakutan dan tidak ada yang mau bekerja sama dengannya.

Mengenai proses penangkapan Zhang Youxia, perwira tersebut menilai hampir pasti terjadi bentrokan bersenjata. Dengan jabatan Zhang, pengawalan dekatnya kemungkinan berasal dari kekuatan khusus tingkat tertinggi dalam sistem militer, yakni Unit 82—Korps Polisi Bersenjata, Resimen Mobil Kedua—salah satu dari lima pasukan khusus elit teratas di seluruh sistem militer. Pengawal Zhang diperkirakan adalah anggota Pasukan Komando Snow Leopard.

Soal siapa yang bertindak, ia menilai pasukan yang terlibat adalah pasukan kepolisian di bawah Menteri Keamanan Publik Wang Xiaohong. Sistem ini merupakan versi peningkatan kekuatan kepolisian daerah, dengan keunggulan dalam penegakan hukum perkotaan dan respons cepat. Pasukan kepolisian Zhongnanhai, khususnya pengawal pribadi pemimpin, mendapat pelatihan khusus seperti anti-pembunuhan dan anti-penembak jitu, sehingga bukan polisi biasa, melainkan setara pasukan khusus militer.

Ia menyatakan bahwa pasukan elit Snow Leopard “bahkan sampai dikalahkan oleh pasukan kepolisian Wang Xiaohong”. Karena itu, militer, menurutnya, tidak akan menelan ini begitu saja. “Cepat atau lambat mereka akan membalas dendam, bahkan melakukan pembalasan berdarah terhadap Kementerian Keamanan Publik.”

Terkait penangkapan Zhang, beredar dua versi di internet. Pertama, Xi Jinping telah lama merencanakan penangkapan Zhang Youxia, berpura-pura bekerja sama dengan Zhang dan para tetua, menunggu waktu yang tepat untuk “menjatuhkan dalam satu serangan”. Versi kedua menyebutkan Zhang Youxia dan Liu Zhenli merencanakan kudeta militer, namun rencana itu dibocorkan dua jam sebelum terjadi, sehingga Xi berhasil melakukan serangan balik dan menangkap 17 perwira militer.

Perwira senior tersebut mengatakan dirinya lebih condong pada versi pertama: bahwa ini adalah serangan mematikan yang telah lama direncanakan Xi Jinping, dengan menggandeng Wang Xiaohong dan pihak lain untuk melatih pasukan polisi secara rahasia, lalu menekan pasukan Snow Leopard saat penangkapan berlangsung.

Ia juga menyebut Liu Yuan, namun menilai “kemungkinan besar juga sudah dikendalikan”. Menurutnya, jika ada tokoh berwibawa tinggi di militer yang memimpin, “seluruh Tentara Pembebasan Rakyat sangat mungkin akan terlibat perang besar dengan kepolisian”.

Mengenai perkembangan selanjutnya, ia memperkirakan dalam sepuluh hingga lima belas hari ke depan, militer PKT akan menghadapi peristiwa besar. Xi Jinping dinilai sama sekali tidak mampu memimpin militer; moral pasukan telah runtuh. Seluruh militer kini berada dalam keadaan diam—protes tanpa suara. 

Meski perintah Xi turun berlapis-lapis, tidak ada respons di tingkat bawah. Para komandan grup angkatan darat tidak menyatakan sikap—itu sendiri sudah merupakan sebuah sikap. Pada akhirnya, “yang kemungkinan akan menjadi gila adalah Xi Jinping sendiri”, dan “seluruh dunia sedang menunggu untuk menertawakan dia”.

Namun, untuk informasi di atas, New Tang Dynasty saat ini belum dapat memastikan kebenarannya. (***)

Aksi Protes di Brasil Berubah Menakutkan Saat Petir Melukai Lebih dari 70 Orang

EtIndonesia. Di ibu kota Brasil, Brasília, selama badai petir hebat, petir menyambar di dekat orang-orang yang menunggu dimulainya aksi protes untuk mendukung mantan Presiden Jair Bolsonaro yang dipenjara. Setidaknya 72 orang terluka, menurut Daily Star.

Sumber melaporkan bahwa petir menyambar area tempat pendukung Bolsonaro berkumpul selama badai hujan, sementara ribuan orang berdiri di alun-alun. Tim penyelamat membawa puluhan korban luka ke rumah sakit, dengan setidaknya delapan orang dalam kondisi serius.

Ahli meteorologi mengatakan Brasil adalah salah satu negara dengan frekuensi sambaran petir tertinggi di dunia, terutama selama badai petir musiman. Daily Star mencatat bahwa ini meningkatkan risiko cedera publik selama peristiwa cuaca ekstrem.

Insiden tersebut terjadi selama periode badai petir yang sering dan intens di wilayah tersebut, disertai hujan lebat dan petir. Layanan keamanan Brasil telah mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mengikuti aturan keselamatan selama badai untuk menghindari cedera akibat fenomena alam.

Pada September tahun lalu, Mahkamah Agung Brasil menjatuhkan hukuman 27 tahun penjara kepada mantan Presiden Jair Bolsonaro karena mencoba membatalkan hasil pemilihan presiden 2022 dan percobaan pembunuhan terhadap presiden terpilih, Luiz Inácio Lula da Silva.

Bolsonaro yang berusia 70 tahun, bersama dengan terdakwa lainnya, menolak semua tuduhan dan menyebut persidangan itu sebagai penganiayaan yang bermotivasi politik.

Seminggu setelah putusan, dilaporkan bahwa Bolsonaro didiagnosis menderita kanker kulit stadium awal. Para profesional medis mencatat bahwa mantan presiden tersebut membutuhkan pemantauan kesehatan berkelanjutan.

Bulan ini, Bolsonaro untuk sementara meninggalkan sel penjara untuk pemeriksaan medis dan operasi hernia di sebuah rumah sakit di ibu kota, setelah itu ia dikembalikan di bawah pengawasan ke fasilitas polisi federal di Brasília. (yn)

2.129 Potensi SAR Dikerahkan dalam Operasi Pencarian Longsor di Cisarua Bandung Barat 

EtIndonesia. Sebanyak  2.129 potensi SAR dikerahkan dalam operasi pencarian tanah longsor di Dusun Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Operasi kali ini dilakukan tak terkendala dengan kondisi cuaca.  

“Hari ini cuaca mendukung sehingga pencarian dapat berjalan secara maksimal hingga sore hari, karena cuaca sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi SAR. Adapun Potensi SAR yang terlibat sebanyak 2.129 potensi SAR,” kata Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, Senin (26/1/2026) dalam keterangannya. 

Potensi SAR dikerahkan dalam operasi pencarian di Dusun Pasirkuning Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Basarnas)

Ia juga mengatakan, tim pada Senin  melaksanakan pencarian terhadap kurang lebih 80 warga yang masih hilang pasca bencana tanah longsor di Dusun Pasir kuning, Desa Pasirlangu.

Adapun, fokus pencarian fokus Tim SAR Gabungan berada di 2 sektor area pencarian yakni sektor A dan Sektor B di Desa Pasirlangu. 

Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI/POLRI, Kementrian PU, BNPB, Kementrian Kesehatan, BUMN, BUMD, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Relawan dan Komunitas SAR bersinergi melaksanakan pencarian dengan berbagai metode, mulai dari manual, alkon, hingga penggunaan alat berat. 

Potensi SAR dikerahkan dalam operasi pencarian di Dusun Pasirkuning Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Basarnas)

“Hari ini Kita fokuskan membagi tim menjadi 2 sektor, yakni sektor A di bagian Timur dan sektor B di bagian barat Ds. Pasirlangu, hari ini kami memiliki penambahan kekuatan personel dari Kantor SAR Semarang, Kantor SAR Jogja, Kantor SAR Cilacap dan juga potensi SAR dan relawan dari berbagai organisasi” ujarnya.

“Untuk pencarian menggunakan alat berat, hari ini ada 9 excavator yang akan digerakkan untuk melaksanakan pencarian” lanjutnya. 

Data korban sementara hingga saat ini, sudah dievakuasi 25 bodypack atau kantung jenazah dan kurang lebih 80 orang masih dalam pencarian. Terkait data korban masih dalam proses identifikasi pihak DVI. 

“Setiap kantung jenazah kami serahkan ke pihak DVI untuk dilaksanakan identifikasi, selanjutnya tim DVI yang akan merilis data data data korban tersebut,” katanya. (asr)

Tiga Puluh Lima Kali Panggilan Darurat

EtIndonesia. Suatu sore, di Tobu Department Store di Tokyo, Jepang, seorang pramuniaga dengan sopan melayani seorang pelanggan wanita yang ingin membeli pemutar CD portabel. Saat itu, pramuniaga tersebut memilihkan sebuah CD Sony yang tampak masih tersegel dan baru.

Namun, setelah transaksi selesai dan dilakukan pengecekan barang, barulah disadari bahwa yang terjual ternyata hanyalah unit contoh (dummy)—hanya tampilan luar tanpa fungsi apa pun. Menyadari kesalahan serius ini, pramuniaga tersebut segera melapor kepada petugas keamanan toko. Para petugas langsung mencari pelanggan wanita itu ke berbagai sudut pusat perbelanjaan, tetapi tidak berhasil menemukannya.

Manajer Tobu Department Store segera mengumpulkan staf terkait untuk membahas masalah ini. Informasi yang mereka miliki sangat terbatas: pelanggan tersebut adalah seorang wartawan asal Amerika bernama Kitais, dan dia hanya meninggalkan satu kartu nama dari American Express, tanpa alamat atau nomor kontak lain.

Departemen hubungan masyarakat pun langsung bekerja sepanjang malam. Mereka menelepon berbagai hotel besar di Tokyo, namun tidak memperoleh hasil. Selanjutnya, mereka menelepon kantor pusat American Express di Osaka. Larut malam barulah mereka mendapatkan balasan berupa nomor telepon orangtua Kitais di Amerika Serikat.

Tim kemudian melakukan panggilan internasional, menghubungi orangtua Kitais, dan dari sana berhasil memperoleh alamat serta nomor telepon Kitais selama berada di Tokyo. Seluruh proses pencarian ini melibatkan total tiga puluh lima panggilan darurat.

Keesokan paginya, Tobu Department Store segera menghubungi Kitais untuk menyampaikan permohonan maaf. Wakil manajer bersama staf humas mendatangi langsung tempat tinggal Kitais. Setibanya di sana, mereka membungkuk dalam-dalam sebagai tanda permintaan maaf.

Mereka menyerahkan sebuah pemutar CD Sony yang baru, ditambah satu keping CD, sebuah kotak kue, dan satu set handuk sebagai tanda penyesalan. Wakil manajer bahkan mengeluarkan buku catatan dan membacakan secara rinci seluruh proses pencarian alamat dan nomor telepon Kitais, lengkap dengan langkah-langkah koreksi yang dilakukan segera setelah kesalahan ditemukan.

Kitais sangat tersentuh oleh sikap ini. Sebenarnya, dia berniat memberikan pemutar CD tersebut sebagai hadiah perkenalan untuk kerabatnya di Jepang. Namun ketika tiba di rumah dan mendapati alat itu tidak bisa digunakan, dia sangat marah. Dia pun langsung menulis sebuah artikel kritik berjudul “Wajah Asli di Balik Senyum”, dan berencana keesokan harinya mendatangi Tobu Department Store untuk menuntut pertanggungjawaban.

Tak disangka, sebelum semua itu terjadi, Tobu Department Store telah lebih dulu memperbaiki kesalahan tersebut dengan kesungguhan dan upaya yang luar biasa.

Akibatnya, Kitais merobek artikel kritik itu dan menggantinya dengan sebuah laporan khusus berjudul “Tiga Puluh Lima Panggilan Darurat”.

Artikel tersebut kemudian dipublikasikan dan menimbulkan resonansi besar di masyarakat. Nama Tobu Department Store pun melambung, pengunjung membludak, dan kisah ini bahkan direkomendasikan oleh American Public Relations Association sebagai contoh klasik praktik hubungan masyarakat berskala dunia.

Pesan Cerita

Jangan pernah menganggap kesalahan kecil sebagai sesuatu yang sepele, dan jangan mengira memperbaiki kesalahan kecil adalah hal yang merepotkan. Sebaliknya, kita harus selalu memiliki kesadaran akan krisis.

Krisis tidak hanya muncul dari peristiwa besar. Banyak kegagalan besar justru berawal dari hal-hal kecil yang diabaikan.

Renungan

Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Namun, jika saat melakukan kesalahan kita mau mengakuinya dan segera memperbaikinya, hal itu justru akan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi orang lain—tanpa disadari, nilai diri kita di mata mereka pun meningkat.

Sebaliknya, ada orang yang jelas-jelas bersalah tetapi menolak mengakuinya. Walaupun secara argumen dia mungkin menang, sesungguhnya dia telah kalah dalam harga dirinya di mata orang lain.

Tentu, ada pula tipe orang lain yang disebut “merasa benar tanpa memberi ampun”—meskipun pihak lawan sudah mengakui kesalahan, mereka tetap mengejar dan menghujani kritik tanpa mempertimbangkan perasaan dan posisi orang lain.(jhn/yn)

Kabasarnas dan Jajaran Pemerintah Mendampingi Wapres Gibran Tinjau Longsor Cisarua Bandung Barat 

EtIndonesia. Bandung Barat — Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Mohammad Syafii meninjau langsung lokasi bencana tanah longsor di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026).

Dalam peninjauan tersebut, Kabasarnas mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka, bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto, Menko PMK Pratikno, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, serta Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung Ade Dian Permana.

Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan secara langsung pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) pascabencana tanah longsor, sekaligus meninjau kesiapan personel, peralatan, serta koordinasi lintas instansi di lapangan.

Dikutip dari Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Wakil Presiden, Wapres menekankan agar proses pencarian dan pertolongan korban berjalan maksimal serta kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Kunjungan ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah hadir cepat di tengah masyarakat terdampak bencana, mengutamakan keselamatan warga, serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak.

Usai meninjau lokasi longsor, Wapres melanjutkan kunjungan ke Posko Pengungsian di Balai Desa Pasirlangu untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal serta memberikan dukungan langsung kepada para pengungsi. Pada kesempatan ini, ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang terjadi.

Wapres juga menginstruksikan agar pemerintah daerah memastikan bantuan tepat sasaran, termasuk penanganan rumah-rumah yang rusak serta rencana relokasi dan perbaikan hunian, dengan tetap memperhatikan agar lokasi baru tidak terlalu jauh dari mata pencaharian warga.

“Rumah-rumah yang rusak akan diperbaiki. Jika perlu relokasi, mohon disosialisasikan dengan baik dan tidak terlalu jauh dari tempat asal serta sumber penghidupan warga,” kata Wapres.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Mohammad Syafii meninjau langsung lokasi bencana tanah longsor di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/1/2026) – Dok BASARNAS

Kabasarnas menegaskan bahwa operasi SAR dilaksanakan secara maksimal dengan tetap mengedepankan keselamatan personel dan masyarakat, mengingat kondisi cuaca yang tidak bersahabat serta masih adanya potensi longsor susulan.

“Kami mengingatkan seluruh unsur SAR untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap tahapan operasi. Cuaca ekstrem dan kondisi medan yang berat mengharuskan kita bekerja lebih waspada dan terkoordinasi,” ujar Kabasarnas di sela-sela peninjauan.

Memasuki hari kedua Operasi SAR, tim SAR gabungan kembali melaksanakan pencarian terhadap sekitar 80 warga yang masih berstatus dalam pencarian. Pencarian difokuskan pada dua sektor, yakni Sektor Alpha dan Sektor Bravo, menggunakan metode pencarian manual dengan dukungan drone UAV. Penggunaan alat berat belum memungkinkan karena kondisi tanah yang masih labil dan berisiko.

Total personel yang terlibat dalam operasi ini berjumlah 504 personel, terdiri dari unsur Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PLN Indonesia, serta potensi SAR, organisasi masyarakat, dan relawan.

“Sejak pukul 06.00 WIB, tim melaksanakan asesmen menggunakan drone UAV untuk pemetaan potensi bahaya, penentuan area kerja, penempatan safety officer, serta jalur evakuasi darurat,” ujar Ade Dian Permana selaku SAR Mission Coordinator (SMC) di lapangan. Operasi dilanjutkan setelah area kerja dinyatakan aman.

Apabila kondisi memungkinkan, tim SAR gabungan juga akan mengerahkan dua ekor K9 Ditsamapta Polda Jawa Barat untuk melakukan asesmen pada titik-titik potensial keberadaan korban. (asr)