Menakar Malam Tahun Baru yang Membuat Partai Komunis Tiongkok Siaga Tinggi: Warga yang Menyalakan Kembang Api Dikejar Polisi

Menjelang datangnya tahun 2026, pemerintah di berbagai daerah di Tiongkok mengeluarkan pemberitahuan yang menyatakan bahwa, dengan alasan seperti “force majeure”, kegiatan perayaan malam tahun baru di tempat-tempat besar dibatalkan. Namun pada malam pergantian tahun, tetap ada warga yang secara spontan berkumpul untuk merayakan datangnya tahun baru. Sejumlah anak muda yang menyalakan kembang api bahkan dikejar oleh polisi.

EtIndonesia. Pada 31 Desember 2025 malam,  Partai Komunis Tiongkok (PKT) bersikap seolah menghadapi musuh besar. Banyak daerah melarang penyelenggaraan kegiatan perayaan, sekaligus mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata untuk berjaga ketat.

Video yang beredar menunjukkan bahwa di Hangzhou, aparat kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar, membentuk barisan manusia di pusat perbelanjaan dan alun-alun kota, menutup sebagian pintu keluar stasiun metro, serta mematikan layar hitung mundur di pusat perbelanjaan.

Meski demikian, di kawasan komersial Hubin, orang-orang tetap berkumpul dan menyambut tahun baru bersama-sama dengan hitung mundur.

Di kawasan wisata Shilaoren, Qingdao, sepanjang garis pantai sepanjang 1,7 kilometer dipasangi pagar pembatas, sejumlah pos pemeriksaan melakukan pemeriksaan badan, dan polisi khusus bersenjata dikerahkan untuk berpatroli.

Namun banyak warga tetap berkumpul secara spontan di Alun-alun 4 Mei (May Fourth Square), menghitung mundur bersama, menerbangkan balon, dan merayakan datangnya tahun baru.

 “(Di kalangan masyarakat) ada psikologi berharap akan terjadi perubahan besar. Dari sudut pandang PKT, ketegangan ini berlebihan. Ini menunjukkan bahwa para penguasa PKT memiliki ketakutan yang lebih dalam di hati mereka, khawatir akan terjadinya sesuatu,” kata Profesor Xie Tian dari Aiken School of Business, Universitas South Carolina, Amerika Serikat. 

Video juga menunjukkan bahwa di Ningbo dan daerah lain, sejumlah anak muda mengabaikan larangan pemerintah dan tetap menyalakan kembang api pada malam tahun baru, namun akhirnya dikejar polisi dan beberapa orang dibawa pergi.

Ada pula warga yang, untuk menghindari pencegahan polisi, menyalakan kembang api dari atas perahu di tengah danau.

 “Jika prospek kerja anak muda suram—banyak yang menganggur setelah lulus atau baru saja kehilangan pekerjaan—maka tekanan dan kemarahan yang meluas ini dapat diperkirakan. Setelah lama ditekan dan tertekan, anak muda pasti akan mencari jalan untuk meluapkan emosi,” tambahnya. 

Gong Kai, Wakil Ketua Aliansi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Tiongkok wilayah New York, mengatakan:  “Pengendalian semacam ini pada akhirnya akan gagal. Jika saluran pelampiasan ini sepenuhnya ditutup dan orang tidak diizinkan menyalakan kembang api, maka seluruh masyarakat akan seperti panci bertekanan tinggi. Cepat atau lambat, hal itu akan meledakkan rezim sentralistis PKT.” (hui)

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yu Liang, dari New York.

Ibu di Tiongkok Dipenjara Karena Secara Tidak Sengaja Membunuh Putrinya Saat Melakukan ‘Pengusiran Setan’ dengan Menekan Dadanya

EtIndonesia. Seorang ibu di Tiongkok selatan dijatuhi hukuman setelah secara tidak sengaja membunuh putrinya saat melakukan ritual “pengusiran setan” padanya.

Menurut laporan terbaru dari Kejaksaan Kota Shenzhen, pengadilan di Shenzhen, Provinsi Guangdong, menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun yang ditangguhkan selama empat tahun kepada ibu tersebut, yang bernama Li, pada bulan Juli.

Li dan kedua putrinya terobsesi dengan praktik takhayul yang melibatkan telepati dan pengobatan.

Mereka terus-menerus memiliki gagasan bahwa mereka diserang dan dirasuki setan dan bahwa “jiwa mereka dijual”.

Pada bulan Desember tahun lalu, putri bungsu Li, yang bernama Xie, tiba-tiba mengklaim bahwa dia dirasuki setan dan meminta Li dan putri sulungnya, yang juga bernama Xie, untuk melakukan ritual pengusiran setan padanya.

Ritual tersebut termasuk tindakan seperti menekan keras dadanya dan menuangkan air ke tenggorokannya untuk menyebabkan muntah.

Li dan Xie senior melakukan ritual tersebut tanpa ragu-ragu. Di tengah-tengah kejadian itu, Xie junior juga mengatakan bahwa pengobatan itu efektif dan meminta ibu dan saudara perempuannya untuk melanjutkan.

Keesokan paginya, anggota keluarga lainnya menemukan bahwa mulut Xie junior berdarah dan memanggil polisi.

Petugas medis tiba dan menyatakan dia meninggal di tempat kejadian.

Pengadilan menjatuhkan hukuman berdasarkan kejahatan pembunuhan karena kelalaian, dengan mempertimbangkan fakta bahwa Li dan putrinya bermaksud membantu Xie junior.

Xie senior dijatuhi hukuman yang sama dengan ibunya.

“Ini kasus yang mengerikan dan konyol,” kata seorang pengamat daring.

“Sekte macam apa ini? Apakah kita hidup di tahun 2025?” yang lain mengungkapkan keterkejutannya.

“Para pengikut sekte biasanya cukup keras kepala. Mereka membayangkan mereka dapat menyalahkan kematiannya pada ‘iblis yang begitu kuat’,” kata yang ketiga.

“Kita benar-benar perlu memperkuat pendidikan tentang ilmu pengetahuan populer,” kata yang lain.

Tragedi serupa terjadi di Taiwan pada tahun 2023 ketika seorang pria berusia 56 tahun dan istrinya melakukan ritual pengusiran setan pada putra mereka yang berusia 28 tahun di rumah karena ia tidak makan selama berhari-hari.

Ayah dan adik laki-laki pria itu menahannya dan sang ibu memasukkan tangannya ke tenggorokannya dalam upaya untuk membuatnya muntah agar setan itu pergi, tetapi malah membunuhnya.

Dalam kasus lain, seorang wanita Tiongkok mentransfer total 80.000 yuan kepada pacarnya yang diyakininya dirasuki roh jahat.

Dia mentransfer uang kepadanya 400 kali selama periode dua tahun sebelum menyadari bahwa pacarnya menipunya.(yn)

Video Ekonomi Tiongkok Timur Laut Sedang Ambruk, Sejumlah Wilayah Menjadi “Kota Hantu” Hingga Kematian Menyebabkan Setiap Rumah Tangga Dikurung 

Perekonomian Tiongkok terus memburuk, berbagai sektor lesu, dan konsumsi masyarakat menurun. Selama lebih dari 20 tahun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus meneriakkan slogan “Revitalisasi Timur Laut”. Namun demikian, bagaimana kondisi ekonomi setempat sebenarnya? 

Warga di tiga provinsi timur laut secara tegas menyatakan bahwa itu hanyalah slogan. Kini ekonomi Timur Laut telah runtuh, banyak daerah berubah menjadi “kota hantu”. Jalanan yang dulu ramai kini nyaris tanpa manusia, banyak toko tutup, dan kaum muda memilih pergi. Warga menggambarkan bahwa Tiga Provinsi Timur Laut sedang menghilang, seperti “Beidahuang” (Tanah Perawan Utara) di masa lalu.

EtIndonesia. Kemerosotan ekonomi di wilayah timur laut Tiongkok dikenal sebagai “fenomena Timur Laut”. Istilah ini merujuk pada serangkaian masalah di bidang ekonomi, demografi, dan struktur sosial, termasuk sulitnya transformasi industri berat, arus keluar talenta dalam jumlah besar, memburuknya struktur penduduk, serta kejatuhan ekonomi secara drastis. 

Para pengamat menilai, kondisi ini terutama disebabkan oleh penerapan sistem PKT yang paling menyeluruh di tiga provinsi tersebut. Situasi Timur Laut hari ini bisa jadi merupakan gambaran masa depan seluruh Tiongkok.

Pada 31 Desember 2025, seorang blogger di platform X luar negeri dengan nama akun “Canghai Yisu” menulis bahwa ekonomi Timur Laut telah runtuh, depresi besar datang lebih awal dibanding wilayah lain. Di Shenyang, Harbin, dan Changchun, sekitar 27 juta orang tidak lagi berbelanja. Tanpa konsumsi, tanpa pekerjaan—“satu orang meninggal, satu rumah dikunci”. Tiga provinsi timur laut sedang menghilang dan berubah menjadi Beidahuang. Jangan lagi membanggakan revitalisasi; rakyat sudah muak dengan janji kosong PKT.

Video yang diunggah blogger tersebut merangkum keluhan dan ketidakpuasan warga dari berbagai lapisan masyarakat di tiga provinsi timur laut, yang lebih banyak mencerminkan keputusasaan mereka. Teks dalam video menyebutkan bahwa slogan “Revitalisasi Timur Laut” telah diteriakkan selama 22 tahun, dan rakyat akhirnya sadar bahwa itu hanyalah slogan belaka.

Tuan  A dengan emosional berkata, lihatlah jalanan Shenyang—ada orangkah? “Saya muak mendengar kata ‘revitalisasi Timur Laut’. Kesalahan kebijakan mereka membuat seluruh Timur Laut menanggung akibatnya. Teruskan saja begini, hancur sekalian.”

Nyonya B mengatakan, ini adalah kawasan permukiman lama di Qiqihar. Hampir semua rumah di seberang kosong, satu kompleks tinggal beberapa keluarga. Sekarang kalau dijual, satu unit hanya 40–50 ribu yuan pun tak ada yang mau. Orang-orang sudah pergi semua. Timur Laut benar-benar tidak bisa mempertahankan penduduk. Bahkan jika anak muda bertahan, mereka enggan menikah dan punya anak karena ekonomi terlalu buruk.

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana Timur Laut berubah dari makmur menjadi merosot. Ke depan, penduduk akan semakin sedikit. Mungkin beberapa dekade lagi, yang tersisa hanya tanah,” keluh Nyonya B.

Tuan C berkata, “Hari ini 28 Desember 2025, hari Minggu. Lihat pusat perbelanjaan Shenyang—tak satupun orang. Ekonomi riil Shenyang benar-benar tamat, bahkan seluruh ekonomi Timur Laut sudah tamat. Mau revitalisasi apa kalau orang saja tidak ada?”

Teks video menyebutkan: “Banyak desa dan permukiman di Timur Laut mengalami pengosongan, sangat mirip dengan Beidahuang dulu.”

Nyonya D mengatakan, hampir semua orang di desanya telah pindah. Rumah-rumah kosong tanpa penghuni. Kondisinya mirip Beidahuang dulu. Timur Laut seperti ini sangat banyak; desa-desa hampir tak berpenghuni. Timur Laut benar-benar merosot—ekonomi lemah, tak ada perkembangan. Sekarang kota-kota kecil tingkat empat dan lima hampir tak berpenduduk; hanya beberapa kota besar yang masih tersisa orang. Jika terus begini, apakah Timur Laut akan menghilang?

“Anak kerabat saya bekerja di Shenyang selama dua tahun, sekarang juga pindah ke selatan. Katanya, ‘bahkan kota tingkat satu di Timur Laut sekarang sangat lesu’. Pekerjaan sulit dicari, tingkat kelahiran rendah, tak ada yang mau punya anak. Siapa pun yang keluar dari Timur Laut tak mau kembali. Timur Laut benar-benar sudah tidak bisa diandalkan,” katanya dengan putus asa.

Tuan E mengatakan, kota-kota kecil di Timur Laut kelak akan menjadi “kota hantu”. Bahkan ibu kota provinsi pun kini sangat lesu. Banyak warga lokal pergi ke selatan, apalagi kota kecil seperti ini. Dari pagi sampai malam, orang di jalan cuma segelintir. Gaji hanya dua sampai tiga ribu yuan, pekerjaan pun sangat sulit dicari. Selain bertani dan membuka toko kecil, hampir tak ada industri penopang.

“Beberapa tahun lagi, kota-kota kecil di Timur Laut akan semuanya jadi kota hantu. Ini bukan berlebihan—memang separah itu,” ujarnya.

Nyonya F mengatakan, kawasan komersial Beishi Lama di Shenyang dulu sangat ramai, sekarang kosong melompong. Semua toko disewakan, tak ada orang.

Nyonya G menggambarkan kondisi pedesaan Timur Laut saat ini: rumah-rumah bagus tak berpenghuni, penduduk makin sedikit. “Ini jalan utama desa kami, lihat berapa rumah yang lampunya menyala. Lampu jalan terang, tapi hampir tak ada manusia.”

Nyonya H mengeluh bahwa mencari kerja di Harbin sangat sulit. Ada yang menyuruh uji coba kerja tiga atau tujuh hari, lalu mengatakan “tidak cocok” tanpa dibayar. Atau jam kerja berat—24 jam kerja, 24 jam istirahat, dan bahkan tengah malam pun tak bisa istirahat.

Nyonya I juga ingin meninggalkan Timur Laut. “Dulu jalan ini di Harbin sangat ramai. Lihat sekarang berapa banyak toko tutup. Gaji rendah, orang tak keluar belanja. Saya juga berencana ke selatan pada 2026. Tinggal di sini seperti hidup yang bisa ditebak sampai akhir,” katanya.

J, seorang pemuda dengan koper di sampingnya, bercanda di depan kamera: “Keluarga, cari kerja di Changchun terlalu sulit. Saya mau pulang kampung dan mulai hidup ‘rebahan’ lebih awal.”

Tuan K mengatakan, inilah kondisi kota kecil Timur Laut—begitu malam tiba, jalanan kosong. Siang pun tak banyak orang. Lampu jalan mati setelah pukul 9 malam karena tak ada orang. Anak muda sudah pergi, yang tersisa hanya orang tua. Antar makanan pun bisa mati kelaparan.

Tuan L dengan emosional berkata, “Mengapa Changchun tak bisa mempertahankan penduduk? Akar masalahnya adalah minimnya lapangan kerja dan penghasilan rendah. Pekerjaan yang lumayan hampir mustahil didapat tanpa koneksi. Nepotisme sangat parah. Mau wirausaha atau industri baru, rantai industrinya tak lengkap. Industri tradisional pun kacau. Kota kelas tiga, konsumsi kelas dua. Tanpa jaringan, tanpa relasi, mengurus apa pun sangat sulit.”

Nyonya M berkata, “Siang bolong di Harbin kok tak ada orang? Sepi sekali. Tak heran toko fisik mati. Konsumsi benar-benar turun. Grosir bilang tak ada pembeli, ritel juga sama, toko pakaian sepi, bahkan salon pun sepi—orang tak potong rambut lagi?”

Tuan N mengemudi melewati deretan vila dan terkejut: “Dari luar terlihat baru, tapi dari dekat rusak—kaca jendela hilang, pintu copot. Jelas tak pernah dihuni. Area seluas ini.”

Warga: “Satu Orang Meninggal Dunia, Satu Rumah Dikunci—Siapa Berani Punya Anak?”

Menurut statistik terbaru Tiongkok 2025, Heilongjiang, Jilin, dan Liaoning menempati tiga terbawah dalam tingkat kelahiran nasional, sementara tingkat perceraian dan kematian termasuk tiga tertinggi.

Banyak lansia setempat berkata, “Belakangan ini pengeras suara sering berbunyi—acara pemakaman.” “Mati 30 orang, lahir cuma 3.” “Bukan penuaan penduduk—anak muda sudah pergi.” “Sudah tiga-empat tahun tak ada yang menikah.” “Satu orang meninggal, satu rumah dikunci—anak-anak tak di rumah, rumah jadi kosong.”

Nyonya O mengeluh, “Satu generasi demi generasi hilang, semuanya pergi. Saya sudah lama tak melihat bayi baru lahir di sini, di Yilan, Heilongjiang—mungkin satu dua tahun tak melihat sama sekali.”

“Bahkan membesarkan satu anak saja sulit, bagaimana berani punya anak? Harga-harga melonjak, beli apa pun mahal, jual apa pun murah. Tekanan ekonomi begitu besar sampai sulit bernapas,” kata Nyonya P. Kondisi keluarga seperti ini tidaklah sedikit. (Hui)

Konfirmasi Serangan ke Venezuela, Trump : Maduro dan Istrinya Telah Ditangkap

Beberapa ledakan terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu, 3 Januari 2026 bahwa Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan terhadap Venezuela dan Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores telah ditangkap hidup-hidup.

“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut,” kata Trump dalam unggahan dini hari di Truth Social.

Ia menambahkan bahwa  konferensi pers akan digelar pukul 11.00 di resor miliknya, Mar-a-Lago.

Setidaknya  tujuh ledakan dan suara pesawat terbang rendah terdengar sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Sabtu di ibu kota Caracas. Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian.

Pentagon merujuk pertanyaan kepada Gedung Putih, yang menolak memberikan komentar.

Sementara itu, Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) telah melarang penerbangan komersial Amerika Serikat di wilayah udara Venezuela karena adanya “aktivitas militer yang sedang berlangsung”, menyusul ledakan di Caracas.

Panggilan ke Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command), yang mengawasi operasi militer di kawasan tersebut, tidak mendapat jawaban.

Peringatan FAA, yang dikenal sebagai “Notice to Airmen”, dikeluarkan tak lama setelah pukul 01.00 dini hari waktu Pantai Timur Amerika Serikat. Peringatan itu memperingatkan seluruh pilot komersial dan pribadi AS bahwa wilayah udara di atas Venezuela dan negara pulau kecil Curaçao, yang terletak di lepas pantai utara Venezuela, dinyatakan terlarang “karena risiko keselamatan penerbangan yang terkait dengan aktivitas militer yang sedang berlangsung.”

Peringatan tersebut dirancang untuk memberi tahu para pilot mengenai berbagai macam bahaya.

Asap terlihat membubung dari hanggar sebuah pangkalan militer di Caracas. Instalasi militer lain di ibu kota dilaporkan mengalami pemadaman listrik.

Warga di berbagai lingkungan berhamburan ke jalan. Sejumlah orang terlihat dari kejauhan di berbagai wilayah Caracas.

Dalam pernyataannya, pemerintah Venezuela menyerukan para pendukungnya untuk turun ke jalan.

“Rakyat ke jalan!” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Pemerintah Bolivarian menyerukan kepada seluruh kekuatan sosial dan politik di negara ini untuk mengaktifkan rencana mobilisasi dan mengecam serangan imperialis ini.”

Pernyataan itu menambahkan bahwa Presiden Nicolás Maduro telah “memerintahkan agar seluruh rencana pertahanan nasional dijalankan” dan menetapkan “keadaan gangguan eksternal.” Status darurat tersebut memberinya kewenangan untuk menangguhkan hak-hak warga dan memperluas peran angkatan bersenjata.

Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Kisah Inspiratif: Jawaban yang Berhembus di Dalam Angin

EtIndonesia. Setiap orang hidup di dunia ini dengan caranya masing-masing. Mereka memiliki mimpi dan tujuan yang berbeda, bergegas menuju arah yang mereka pilih. Mereka berusaha sekuat tenaga menjalani hidup, dan dengan tindakan mereka seolah berkata: demi hal yang kita cintai, demi masa depan, entah di depan sana menanti kepahitan atau manisnya hasil, entah jalannya dipenuhi duri atau penuh kicau burung dan bunga bermekaran, kita tetap akan melangkah tanpa ragu dan maju tanpa menoleh ke belakang.

Suatu hari pada bulan Maret 1976, di sebuah kota kecil di Anhui, terdengar tangisan bayi—sebuah kehidupan baru telah lahir. Namun takdir berkata lain. Tak lama kemudian, bayi itu didiagnosis menderita polio. Dia tumbuh sebagai penyandang disabilitas: sulit bergerak dan berbicara dengan jelas. Sejak itu, dia menjadi bahan ejekan teman-teman sebayanya—diejek, ditindas, bahkan dihina. Luka-luka itu menanamkan rasa rendah diri dan ketakutan di dalam hatinya.

Padahal, dia adalah anak yang cerdas. Namun karena terus dibayangi rasa minder akibat keterbatasan fisik, dia tidak pernah berani mendaftar ke universitas favorit. Saat hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, dia diterima di Universitas Shihezi, Xinjiang.

Memasuki dunia kampus, dia bertekad mengubah dirinya. Dia mulai belajar bergaul, membuka hati yang telah lama tertutup, dan perlahan melangkah ke tengah masyarakat. Dari sanalah dia menemukan minatnya di bidang bisnis. Dia menyadari memiliki bakat berdagang. Di kampus, dia mulai berjualan tiket film, menjual CD, dan berbagai usaha kecil lainnya—bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga untuk mengumpulkan pengalaman.

Setelah lulus kuliah, karena kondisi keluarga yang miskin dan statusnya sebagai penyandang disabilitas, sangat sedikit perusahaan yang mau menerimanya. Bahkan ada yang terang-terangan meremehkan dan mendiskriminasi kekurangan fisiknya. Dia mengikuti wawancara berkali-kali, namun semuanya berakhir dengan penolakan. Meski begitu, dia tidak menyerah.

Demi bisa makan, dia mulai berjualan kaki lima—menjual kartu-kartu kecil dengan keuntungan yang sangat tipis.

Di hari-hari yang dingin, dia sering menahan lapar. Mengenakan mantel tentara hijau, dia berjongkok di pinggir jalan, menjaga dagangannya yang belum laku. Dia menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, tanpa satu pun menoleh. Namun, masa itu belumlah yang paling pahit dalam hidupnya.

Seperti yang pernah dia katakan sendiri: “Aku pernah berjualan kartu di kaki lima, membuka toko buku, membuka warnet. Tokoku pernah dibakar, warnetku pernah ditutup. Tapi aku tidak pernah menyerah, dan tidak lagi mengeluh—karena mengeluh tidak ada gunanya. Satu-satunya jalan hanyalah mengandalkan diri sendiri.”

Setelah menempuh jalan yang tak terhitung jumlahnya, mengalami kegagalan demi kegagalan, dengan ketekunan dan perjuangan yang tak kenal lelah, dia akhirnya mendirikan perusahaan garmen miliknya sendiri. Dengan kualitas terbaik, harga terjangkau, dan kejujuran sebagai fondasi, dia meraih kepercayaan para pelanggan. Perusahaannya terus berkembang, produknya dipasarkan secara daring hingga ke mancanegara, dan dia pun menjadi salah satu dari sepuluh pedagang online terbesar di dunia.

Tokoh luar biasa itu adalah Cui Wanzhi, CEO Hefei Diezhilian Clothing Company.

Saat memperkenalkan dirinya, dia pernah berkata: “Ayahku menanamkan sebuah pohon untukku, dan aku menanamkan sebuah mimpi untuk diriku sendiri. Tuhan mencintaiku, maka Dia menggigitku satu kali. Dengan luka yang masih berdarah, aku terus berjalan—tanpa menoleh ke belakang.”

Tak ada kesuksesan yang datang begitu saja. Sebelum meraih keberhasilan, segala penderitaan, kegagalan, dan kesulitan yang dia alami sejatinya adalah hadiah. Hingga suatu hari, jawaban yang berhembus di dalam angin akan menyapanya—seperti sebutir benih di musim semi yang terbawa angin, jatuh ke setiap sudut bumi, menyebar dan mengisahkan semangat perjuangan manusia.(jhn/yn)

Kisah Inspiratif: Mengukur Lebar Sungai

EtIndonesia. Suatu ketika, dalam sebuah ekspedisi militer, Napoleon Bonaparte memimpin pasukan bersama seorang insinyur untuk melakukan pengintaian medan. Mereka tiba di tepi sebuah sungai. Di sungai itu tidak ada jembatan, sementara pasukan harus segera menyeberanginya.

Napoleon pun bertanya kepada sang insinyur : “Katakan padaku, seberapa lebar sungai ini?”

“Maaf, Yang Mulia, semua alat ukur saya tertinggal bersama pasukan di belakang. Mereka masih sekitar sepuluh mil dari sini,” jawab insinyur itu.

“Aku ingin kau segera mengukurnya,” kata Napoleon.

“Itu tidak mungkin dilakukan, Yang Mulia,” jawab insinyur

“Aku memerintahkanmu sekarang juga mengukur lebar sungai ini. Jika tidak, aku akan menghukummu!” Kata Napoleon.

Insinyur itu segera berpikir keras dan menemukan sebuah cara. Dia melepaskan helm baja yang dikenakannya, lalu mengatur posisi sehingga tepi helm, matanya, dan satu titik di seberang sungai berada tepat dalam satu garis lurus. Setelah itu, dia menjaga tubuhnya tetap tegak dan perlahan-lahan mundur ke belakang.

Ketika posisi matanya, tepi helm, dan satu titik di sisi sungai tempat dia berdiri kembali berada pada satu garis lurus, dia berhenti. Dia menandai titik tempatnya berdiri, lalu mengukur jarak antara dua titik tersebut dengan langkah kakinya.

Setelah itu, dia berkata kepada Napoleon : “Jarak inilah yang kira-kira sama dengan lebar sungai.”

Napoleon sangat gembira. Dia segera memberikan promosi jabatan kepada insinyur tersebut.

Renungan

Metode selalu lebih banyak daripada masalah. Untuk persoalan-persoalan yang tampak sulit, sering kali bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena kita belum menemukannya.

Kebijaksanaan sejatinya sudah tersembunyi di dalam pikiran kita sendiri. Mereka yang mampu menyingkirkan kemalasan, berani melampaui batas diri, dan mau berpikir kreatif, akan membuat kecerdasannya benar-benar bersinar—dan pada akhirnya meraih keberhasilan.(jhn/yn)

Kisah Inspiratif: Satu Huruf, Satu Kehidupan

EtIndonesia. Huruf mencerminkan kehidupan. Setiap kali menulis satu huruf, seolah kita sedang menafsirkan hidup itu sendiri. Setiap goresan dan tarikan membentuk keindahan hidup; setiap jeda dan langkah menggambarkan lika-liku perjalanan; setiap menahan dan melepaskan menghadirkan ritme tegang dan rileks dalam kehidupan. Dan aku, melalui penulisan satu demi satu huruf Han, telah melewati badai dan akhirnya menyambut pelangi.

Suatu malam, aku menggenggam kuas dan menirukan tulisan dari buku contoh. Ujung kuas meluncur di atas kertas, meninggalkan jejak tinta hitam satu per satu. Entah mengapa, biasanya saat berlatih menulis aku selalu tenang, tetapi malam itu hatiku terasa gelisah. Kegelisahan itu seperti seekor serangga yang buruk rupa, merayap canggung di depan mataku, sesekali mengangkat kepalanya yang jelek dan mengibaskan kaki-kakinya dengan liar, membuat hatiku terus-menerus tidak tenang dan sulit berkonsentrasi.

Aku menghela napas pelan. Tanganku bergerak, pergelangan kuas diputar dengan lembut, sebuah huruf pun terbentuk di atas kertas. Namun saat kuperhatikan dengan saksama, selalu terasa ada yang janggal—sesuatu yang sulit dijelaskan.

Saat itu, ayah masuk ke kamarku karena suatu keperluan. 

Dia berdiri di belakangku, memperhatikan sejenak, lalu berkata :  “Huruf-huruf ini belum ditulis dengan baik. Lihat, bagian vertikal ini seharusnya tebal, sedangkan garis horizontalnya seharusnya tipis. Tapi justru kamu menebalkan bagian yang tidak perlu dan menipiskan bagian yang seharusnya kuat. Hasilnya jadi terlihat lemah dan tidak bertenaga.”

Setelah mendengar nasihat ayah, aku menulis beberapa lembar lagi. Namun hasilnya tetap terasa hambar—tidak ada kekuatan, bentuknya pun tidak tepat. Melihat huruf-huruf yang kehilangan irama itu, kegelisahan di dalam hatiku seperti serangga yang melekat di tulang, merayap tanpa henti. Setiap kali aku berusaha menenangkan diri, dia muncul kembali, mencakar-cakar hatiku.

Akhirnya aku meletakkan kuas, duduk di kursi untuk beristirahat, berusaha menekan kegelisahan itu.

 “Kalau kondisinya sedang tidak baik, latihan saja lain kali,” pikirku.

Aku membersihkan kuas, keluar dari ruang kerja, meninggalkan beberapa lembar tulisan yang gagal. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari bahwa masa kemacetan pertama dalam perjalanan menulisku telah diam-diam datang. Aku juga tidak tahu, demi melewati masa itu, betapa banyak badai yang harus kuhadapi.

Pada akhir pekan, aku pergi ke rumah guru untuk berlatih kaligrafi. Aku membentangkan kertas di atas meja, mengambil kuas, dan mulai menulis satu demi satu. Namun kegelisahan itu kembali muncul, seperti hewan kecil yang terus menggeram di dalam hatiku. Menatap kertas di atas meja, rasa tidak sabar mulai muncul. Perasaan mengalir yang dulu begitu alami kini menghilang entah ke mana. Setiap goresan terasa kering dan membosankan.

Huruf-huruf di bawah kuasku seperti udang berkaki lunak—mengambang di atas kertas tanpa tenaga. Melihat hasil itu, rasa kesal pun muncul, dan kegelisahan semakin menjadi-jadi. Dalam luapan emosi, aku menarik kuas dengan kuat di atas kertas, hingga sebuah “serangga” yang berat dan kikuk tercetak di sana.

Saat itu juga, guru kebetulan lewat.

 Dia melihat tulisanku, mengerutkan kening, lalu berkata :  “Kurangi tinta. Huruf ini sudah terlalu basah. Saat menulis, perhatikan baik-baik. Setelah selesai, bandingkan, cari bagian yang kurang baik, lalu segera perbaiki. Perhatikan perubahan tebal-tipisnya. Sudah, lanjutkan menulis.”

Aku menundukkan kepala dengan malu dan berusaha mengikuti instruksi guru. Namun huruf-huruf yang lahir dari kuasku seakan mengejek ketidakmampuanku.

Sore berlalu. Dengan perasaan cemas, aku menyerahkan hasil latihan kepada guru. Setelah melihatnya, ada kilatan kekecewaan di matanya. 

Dia membetulkan beberapa kesalahan dan berpesan :  “Pulanglah dan lebih banyak berlatih. Tulisan hari ini belum baik. Kamu harus terus berusaha.”

Dalam perjalanan pulang, aku masih berpikir polos bahwa ini hanya masalah sementara—asal lebih rajin berlatih, semuanya akan membaik. Namun kenyataan yang kejam menghancurkan harapanku. Selama beberapa minggu berturut-turut, tulisanku tetap seperti itu. Tatapan kecewa dan teguran guru membuatku sesak napas, sementara keraguan di mata orang tua semakin menambah penderitaanku.

Perlahan, aku mulai merasa enggan menulis. Aku tidak ingin lagi memegang kuas. Orangtuaku melihat semuanya dengan cemas.

Suatu hari, ayah akhirnya tak tahan melihat aku menyerah begitu saja. 

Dia menghampiriku, tanpa memberi ceramah panjang, hanya menceritakan sebuah kisah: “Wang Xizhi, sang Mahaguru Kaligrafi, sejak kecil sudah berlatih menulis. Hari demi hari dia menulis tanpa henti, merusak satu demi satu ujung kuas, menghabiskan satu demi satu pena. Setelah selesai menulis, dia mencuci kuas-kuas itu di sebuah kolam. Lama-kelamaan, air kolam pun menjadi hitam. Itulah sebabnya dia bisa menjadi ‘Sang Mahaguru’. Kesuksesannya bukan hanya karena cintanya pada kaligrafi, tetapi juga karena ketekunannya.”

Kata-kata ayah mengguncang hatiku. Wang Xizhi pasti juga pernah menulis dengan buruk. Namun dia tetap bertahan, menulis kisah hidupnya yang gemilang. Kalau begitu, aku pun pasti bisa melewati lika-liku hidup dan menjadi versi diriku yang lebih baik.

Sejak saat itu, aku mulai belajar menenangkan diri. Saat merasa tertekan, aku mengajak ibu berjalan-jalan. Aku kembali mengangkat kuas, berlatih hari demi hari, berusaha menahan kegelisahan di dalam hati, menulis setiap goresan dengan perlahan dan penuh kesadaran. Kuas bergesekan dengan kertas, terus-menerus kubandingkan dengan buku contoh, berusaha mencapai hasil terbaik.

Tanganku jatuh perlahan, tinta hitam meresap ke kertas, dan huruf-huruf pun mulai memiliki kekuatan. Banyak malam berlalu. Tulisan di atas kertas akhirnya menunjukkan kemajuan yang nyata. Tatapan kecewa di mata orang tua dan guru pun perlahan berubah menjadi kelegaan dan kepuasan.

Satu huruf adalah satu kehidupan. Hidup pun seperti menulis: selama kita mau bertahan dan terus berusaha tanpa menyerah, kita pasti bisa melewati rintangan, menembus badai, dan menyambut pelangi.(jhn/yn)

Kisah Inspiratif: Rintangan Adalah Kebaikan Terbesar yang Diberikan Hidup

EtIndonesia. Saya punya seorang teman yang berwirausaha. Dia sangat sibuk. Hampir setiap hari selalu ada orang yang menghubunginya—entah untuk membahas kerja sama, bertukar pengalaman, atau sekadar ingin bertemu dan berbincang. Akibatnya, dia kelelahan, kewalahan, dan merasa sangat terganggu.

Suatu hari, dia menemukan sebuah cara yang cukup cerdik. Setiap kali ada orang menelepon dan meminta bertemu, dia sengaja memilih lokasi yang sangat terpencil—aksesnya sulit, jauh dari pusat kota, dan membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama pulang-pergi.

Hasilnya sungguh mengejutkan.

Begitu mendengar nama tempat tersebut, banyak orang langsung meminta maaf dan mengatakan waktu mereka tidak cukup, sehingga kemungkinan besar tidak bisa datang. Ada juga yang menghilang begitu saja dan tak pernah menghubunginya lagi. Namun, selalu ada beberapa orang yang—meski harus bersusah payah dan menempuh perjalanan panjang—tetap datang menemuinya.

Dan orang-orang inilah yang benar-benar berbeda.

Mereka yang tidak takut kesulitan dan tetap bersikeras ingin bertemu, hampir selalu datang dengan urusan yang penting dan sikap yang penuh ketulusan. Benar juga—kalau urusannya tidak penting, kalau niatnya tidak sungguh-sungguh, siapa yang rela menempuh perjalanan sejauh itu hanya untuk bertemu seseorang?

Sejak menerapkan cara ini, teman saya tidak lagi sesibuk dulu. Dan setiap kali dia bertemu orang, tingkat keberhasilan kerja samanya justru sangat tinggi.

Saya juga punya seorang teman sekelas yang dulu sangat ingin belajar menulis. Setelah tahu bahwa saya pernah mempublikasikan beberapa artikel, dia datang meminta saya mengajarinya. Tentu saja saya tidak keberatan. Masalahnya adalah, dia tipe orang yang sangat menyukai keramaian. Setiap kali duduk di depan komputer kurang dari setengah jam, dia sudah merasa pusing, tubuh tidak nyaman, dan harus keluar berjalan-jalan.

Selain itu, dia juga tidak sanggup menerima kenyataan bahwa setidaknya selama enam bulan pertama menulis tidak akan menghasilkan uang. Dia juga tidak bisa menerima kemungkinan terkena penyakit akibat pekerjaan, seperti gangguan kesehatan karena duduk terlalu lama.

Jalan menulis, yang terlihat seperti jalan pintas menuju kesuksesan, sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Di sepanjang perjalanan, ada begitu banyak rintangan. Misalnya, kamu harus sanggup menghadapi kesepian; kamu harus siap tidak memiliki penghasilan setidaknya selama enam bulan—dan setelah enam bulan pun, belum tentu ada hasil; duduk terlalu lama di depan komputer juga bisa menyebabkan masalah pada bahu, leher, dan pinggang.

Di hadapan semua rintangan ini, semangat teman saya hanya bertahan kurang dari sebulan. Karena tidak melihat hasil apa pun, perlahan-lahan dia pun menyerah.

Sebenarnya, ada rintangan yang memang diciptakan untuk menyaring orang-orang yang tidak cocok. Jika kamu memang tidak sesuai menempuh jalan ini, jika keinginanmu tidak cukup kuat, maka pilihan terbaik bukanlah memaksa diri—melainkan berbalik arah dan mencari jalan yang lebih sesuai dengan dirimu.

Di dunia ini, tidak ada orang yang menyukai rintangan. Namun, sejujurnya, kita patut berterima kasih pada rintangan-rintangan itu. Dia seperti hukum seleksi alam—secara otomatis menyingkirkan orang dan hal-hal yang tidak penting, membantu kita menghemat waktu dan tenaga, dan memaksa kita menggunakan sumber daya paling berharga kita untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Inilah kebaikan terbesar yang diberikan kehidupan kepada kita—agar kita tidak terlalu banyak menempuh jalan berliku.(jhn/yn)

Kucing Tertua di Dunia Berusia 30 Tahun, Setara dengan Lebih dari 140 Tahun Usia Manusia

0

EtIndonesia. Baru-baru ini, seekor kucing asal Inggris bernama Flossie merayakan ulang tahunnya yang ke-30, sekaligus terus mempertahankan gelar sebagai kucing “tertua” di dunia menurut Guinness World Records. Jika dikonversikan ke usia manusia, usianya setara dengan sekitar 140 hingga 150 tahun.

Flossie adalah seekor kucing British Shorthair bercorak tortoiseshell, lahir pada 29 Desember 1995. Pada tahun 2022, sebuah lembaga perlindungan kucing berdasarkan catatan riwayat dokter hewan mengkonfirmasi tanggal kelahirannya, lalu secara resmi mengajukan permohonan dan memperoleh sertifikasi Rekor Dunia Guinness untuk Flossie.

Meski kini Flossie telah mengalami gangguan pendengaran dan penglihatannya menurun, perempuan Inggris yang merawatnya, Victoria Green, mengatakan bahwa kucing tersebut masih tergolong sehat, dan kepribadiannya tetap seperti anak kucing—“penuh kasih sayang dan suka bermain”.

Pengalaman hidup Flossie sungguh menakjubkan. Ia hidup lebih lama dari dua orang pemiliknya. Ia menemani pemilik pertamanya selama sepuluh tahun hingga pemilik tersebut meninggal dunia; kemudian diadopsi oleh saudari pemiliknya dan hidup bersama selama empat belas tahun, hingga pemilik kedua itu juga wafat. Kini, Flossie diasuh oleh Victoria, seorang asisten administrasi yang menyukai kucing dan berpengalaman merawat kucing lanjut usia.

“Sejak awal saya sudah tahu Flossie itu istimewa, tapi saya tidak pernah menyangka akan hidup bersama seekor pemegang rekor dunia,” ujar Vicky sambil tersenyum.

Namun, Flossie bukanlah kucing paling panjang umur sepanjang sejarah. Menurut Guinness World Records, seekor kucing campuran tabby bernama “Creme Puff” dari Austin, Texas, Amerika Serikat, pernah hidup hingga usia 38 tahun—rekor yang hingga kini belum terpecahkan. (Hui)

Dilaporkan dan diterjemahkan oleh reporter Jin Jing / Penyunting Lin Qing

Sumber : NTDTV.com

Ledakan Keras dan Pesawat Terbang Rendah Terdengar di Ibu Kota Venezuela Setelah Trump Memperingatkan Serangan Darat

EtIndonesia. Ledakan keras, disertai suara yang menyerupai pesawat terbang melintas, terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 pagi (waktu setempat ) Sabtu, menurut laporan seorang jurnalis AFP.

Ledakan tersebut terjadi ketika Presiden AS, Donald Trump, yang telah mengerahkan gugus tugas angkatan laut ke Karibia, meningkatkan kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela.

Suara ledakan masih terdengar sekitar pukul 02.15 pagi, meskipun lokasi pastinya tidak jelas.

Trump pada hari Senin (29/12) mengatakan Amerika Serikat telah menyerang dan menghancurkan area dermaga untuk kapal-kapal yang diduga membawa narkoba Venezuela.

Pemimpin Partai Republik itu tidak mengatakan apakah itu operasi militer atau CIA atau di mana serangan itu terjadi, hanya mencatat bahwa itu “di sepanjang pantai.”

Serangan itu akan menjadi serangan darat pertama yang diketahui di tanah Venezuela.

Presiden Nicolas Maduro belum mengkonfirmasi atau membantah serangan hari Senin, tetapi mengatakan pada hari Kamis bahwa dia terbuka untuk kerja sama dengan Washington setelah berminggu-minggu tekanan militer AS.

Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan mengatakan sedang menindak tegas perdagangan narkoba, tetapi pemimpin sayap kiri itu membantah keterlibatannya dalam perdagangan narkoba, dengan mengatakan Washington berupaya menggulingkannya karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar yang diketahui di dunia.

Washington telah meningkatkan tekanan pada Caracas dengan secara tidak resmi menutup wilayah udara Venezuela, memberlakukan lebih banyak sanksi, dan memerintahkan penyitaan kapal tanker yang bermuatan minyak Venezuela.

Selama berminggu-minggu Trump telah mengancam serangan darat terhadap kartel narkoba di wilayah tersebut, dengan mengatakan serangan akan dimulai “segera,” dan Senin menjadi contoh pertama yang terlihat.

Pasukan AS juga telah melakukan banyak serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak September, menargetkan apa yang Washington sebut sebagai penyelundup narkoba.

Namun, pemerintah belum memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang ditargetkan terlibat dalam perdagangan narkoba, sehingga memicu perdebatan tentang legalitas operasi ini.

Kampanye maritim yang mematikan ini telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam setidaknya 30 serangan, menurut informasi yang dirilis oleh militer AS.(yn)

Kisah Inspiratif: Daun Kaktus

EtIndonesia. Pada pelajaran sains di Sekolah Hewan, Pak Guru Kuda Nil memberi para murid sebuah tugas rumah yang istimewa.

“Anak-anak, besok saat datang ke sekolah, ingatlah untuk membawa satu pot tanaman—boleh bunga atau rumput—yang kalian tanam di rumah.”

Begitu Pak Guru selesai berbicara, kelas langsung ramai oleh obrolan gembira. Sebab setiap murid di Sekolah Hewan pasti memiliki setidaknya satu pot tanaman di rumah. Ini kesempatan bagus untuk membawa tanaman masing-masing ke sekolah dan membandingkan siapa yang tanamannya tumbuh paling indah.

Keesokan harinya, setiap murid datang sambil memeluk pot tanaman.

Anak Beruang membawa anggrek dengan daun hijau ramping yang sangat cantik. Kelinci Abu-abu membawa bunga pacar air dengan bunga merah cerah—indah dan bisa dipakai untuk mewarnai kuku.  Anak Sapi membawa poinsettia, dengan daun-daun merah di ujung rantingnya seperti api yang sedang menyala. Anak Tikus kecil membawa kaktus—belum berbunga, hanya dipenuhi duri-duri yang tegak.

“Anak-anak, tujuan kalian membawa tanaman hari ini bukan untuk membandingkan bunganya, melainkan mengamati bentuk daun dari berbagai tanaman. Sekarang, sebutkan bentuk daun tanaman kalian satu per satu. Kita mulai dari kelompok pertama, baris depan,” kata Pak Guru Kuda Nil.

“Daun anggrekku panjang dan ramping,” kata Anak Beruang sambil berdiri.

“Daun poinsettiaku berbentuk lonjong,” sambung Anak Sapi yang duduk di sebelahnya.

“Daun bunga pacar airku berbentuk lonjong memanjang,” kata Kelinci Abu-abu dari baris kedua.

“Pak Guru… kaktusku tidak punya daun,” kata Anak Tikus sambil menundukkan kepala.

Seluruh kelas langsung tertawa.

“Anak-anak,” tanya Pak Guru Kuda Nil. “Menurut kalian, apakah kaktus benar-benar tidak punya daun?”

“Tentu saja tidak punya!” jawab murid-murid serempak. “Kaktus yang belum berbunga, selain duri tajam, tidak punya apa-apa!”

“Sebetulnya, kaktus punya daun,” kata Pak Guru sambil mengangkat pot kaktus ke meja depan.

“Kalau begitu, daunnya ada di mana?” tanya Trenggiling dengan heran.

“Daun kaktus, “adalah duri-duri tajam itu sendiri,”  jelas Pak Guru Kuda Nil.

Barulah semua murid mengerti—ternyata kaktus juga memiliki daun.

“Tapi kenapa daun kaktus bentuknya duri? Jelek sekali,” tanya Zebra Kecil.

“Karena kaktus berasal dari daerah gurun yang kering dan jarang hujan,” jawab Pak Guru.
“Daunnya berubah menjadi duri agar mengurangi penguapan air di dalam tubuhnya. Hanya dengan cara itu, kaktus bisa bertahan hidup di gurun.”

Mendengar penjelasan itu, murid-murid tak lagi menganggap daun kaktus jelek. Sebaliknya, mereka justru mengagumi ketangguhan kaktus.

Kartu Pengetahuan

Daun kaktus adalah duri-duri tajam dan keras yang tumbuh di tubuhnya. Setiap tanaman membutuhkan air untuk hidup. Sebagian air akan menguap melalui pori-pori di permukaan daun. Namun kaktus hidup di gurun yang panas dan kering, hampir tanpa hujan. Jika kaktus masih memiliki daun lebar seperti tanaman lain, air di dalam tubuhnya akan cepat menguap dan kaktus akan mati kehausan.

Selama waktu yang sangat panjang, daun kaktus perlahan berubah menjadi duri seperti sekarang. Dengan bentuk ini, air sulit menguap, sehingga kaktus mampu bertahan dan hidup turun-temurun di gurun yang gersang.

Pesan kehidupan: Apa yang tampak sebagai kekurangan, bisa jadi adalah kekuatan untuk bertahan hidup. Seperti kaktus—dia tidak cantik dengan cara biasa, tetapi dia kuat, tangguh, dan mampu hidup di tempat yang paling sulit.(jhn/yn)

 Kisah Inspiratif: Sepersepuluh Napas

EtIndonesia. Tom Dolan adalah perenang ternama Amerika Serikat. Saat kecil, pada suatu sesi latihan renang, fia tiba-tiba merasa sangat sulit bernapas. Orang tuanya segera membawanya ke dokter. 

Setelah pemeriksaan, dokter berkata dengan serius: “Saluran pernapasanmu menyempit. Kamu menderita asma berat. Oksigen yang masuk ke kedua paru-parumu hanya sepersepuluh dari orang normal. Semakin keras kamu berlatih, semakin berbahaya kondisimu. Kamu harus selalu membawa tabung oksigen.”

Tom terbaring di tempat tidur, diliputi pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya: “ Apakah karierku akan berakhir karena asma? Apakah aku masih bisa berenang?”

Keesokan harinya, dia kembali ke kolam renang—kali ini dengan tabung oksigen di sisinya.

Pada Olimpiade Atlanta 1996, aturan melarangnya membawa tabung oksigen ke kamar di kampung atlet. Dia hanya boleh menghirup oksigen di dalam trailer yang panas dan pengap. Satu jam menjelang lomba, setiap lima menit dia harus mengompres tubuhnya dengan es untuk meredakan ketidaknyamanan akibat kekurangan oksigen. Namun semua itu tak menghalangi tekadnya.

Dia akhirnya melaju ke final 400 meter gaya ganti perorangan. Meski napas terasa berat dan dada sesak, Tom terus memacu diri. Dia berenang dengan segenap daya—dan meraih medali emas.

Usai lomba, seorang wartawan bertanya:  “Jika Anda tidak menderita asma, kira-kira berapa banyak medali yang bisa Anda menangkan?”

Tom menjawab tenang :  “Mungkin tidak satu pun. Bisa jadi saya tak pernah belajar mengatasi kelemahan saya sendiri.”

Meski memiliki keterbatasan fisik, Tom Dolan tidak menyerah. Dia memanggul tabung oksigen, menundukkan kepala ke air, dan mengejar mimpinya dengan keras kepala yang berani. Pergulatan di tengah keterbatasan itulah yang membuatnya mengubah yang mustahil menjadi mungkin—dengan sepersepuluh kekuatan, dia menciptakan prestasi yang utuh.

Dalam keadaan serba mudah, manusia sering tak menyadari seberapa besar kemampuannya. Justru ketika kesulitan datang, potensi yang tersembunyi kerap meledak tanpa batas.(jhn/yn)

Iran Masuk Minggu Penentuan: Trump Ancam Terbuka, Rezim Mulai Retak

EtIndonesia. Memasuki awal tahun 2026, dunia kembali dihadapkan pada dua titik krisis global yang paling mencolok. Jika Ukraina masih terjerembap dalam perang berkepanjangan yang nyaris tanpa jeda, maka di luar zona konflik terbuka, Iran muncul sebagai wilayah paling bergejolak dan paling tersiksa secara politik, ekonomi, dan sosial.

Situasi ini kian memanas pada 2 Januari 2026, ketika sebuah pernyataan singkat namun sangat tajam dari Donald Trump memicu reaksi berantai—bukan hanya di Teheran, tetapi juga di Washington, Tel Aviv, dan pusat-pusat intelijen dunia.

Pernyataan Dini Hari Trump: “Locked and Loaded”

Pada pukul 02.58 dini hari waktu AS, Trump mengunggah sebuah pernyataan di media sosial dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Waktu unggahan yang tidak lazim menandakan urgensi pesan tersebut.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa: Jika rezim Iran kembali menembaki dan melakukan penindasan brutal terhadap demonstran damai, Amerika Serikat akan berdiri membantu. Pasukan kami siap siaga dan siap bertindak kapan saja.

Kalimat yang paling menyita perhatian adalah frasa “locked and loaded”—ungkapan khas militer yang secara harfiah berarti senjata telah terkokang dan siap ditembakkan. Ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sinyal ancaman militer langsung.

Bagi pengamat internasional, bobot pernyataan ini sangat berat. Trump secara terang-terangan memberi pesan kepada Ali Khamenei bahwa Amerika Serikat tidak lagi sekadar menjadi penonton jika kekerasan negara terhadap rakyat Iran kembali meningkat.

Bayang-bayang Serangan Sebelumnya Masih Membekas

Ancaman tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Beberapa bulan sebelumnya, militer AS diketahui telah mengerahkan pembom siluman B-2 dan menggunakan bom penghancur bunker dalam operasi terhadap target strategis Iran. Asap mesiu dari operasi itu bahkan belum sepenuhnya hilang dari ingatan kawasan Timur Tengah.

Karena itu, pernyataan Trump kali ini tidak dianggap sebagai gertakan kosong—kecuali oleh sebagian kecil buzzer propaganda internasional.

Respons Cepat Teheran: Pergerakan Rudal dan Retorika Kasar

Berdasarkan informasi intelijen yang beredar pada 2 Januari, tak lama setelah unggahan Trump muncul, unit-unit rudal Iran dilaporkan melakukan pergerakan intensif sebagai langkah kesiapsiagaan darurat.

Meski Trump mungkin telah kembali beristirahat, unggahan singkat itu langsung mendorong hubungan AS–Iran ke titik ketegangan ekstrem, bagaikan busur yang telah ditarik penuh dan siap dilepaskan.

Pejabat pro-rezim Iran dan buzzer pemerintah segera melontarkan balasan keras: Trump, jangan campuri urusan dalam negeri kami, atau Timur Tengah akan menjadi lebih kacau.

Nada ancaman tersebut justru memperlihatkan kepanikan internal, alih-alih kepercayaan diri.

Reaksi Jalanan: Nama Reza Pahlavi Menggema

Di sisi lain, reaksi rakyat Iran sangat kontras. Di berbagai kota, massa demonstran justru menyerukan agar Trump bertemu dengan Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang kini hidup di pengasingan.

Di jalan-jalan Teheran, Shiraz, Isfahan, hingga kota-kota kecil, terdengar teriakan lantang: “Ini tahun penagihan darah! Diktator harus tumbang! Pahlavi harus kembali!”

Dalam beberapa hari terakhir, Reza Pahlavi semakin aktif tampil di ruang publik internasional, menyatakan bahwa Republik Islam Iran telah mencapai ujung jalannya.

Israel Masuk ke Panggung: Dukungan Politik dan Aksi Nyata

Situasi kian rumit ketika Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa penderitaan rakyat Iran bersumber dari rezim teokratis yang brutal dan korup.

Dia menegaskan bahwa dana negara Iran telah disedot untuk:

  • Program nuklir,
  • Pendanaan kelompok ekstremis,
  • Ekspansi militer regional,

sementara rakyatnya justru hidup dalam kelangkaan listrik, air, dan pangan.

Pernyataan ini terasa semakin kuat karena datang dari Israel—negara kecil dengan populasi sekitar 10 juta jiwa, namun memiliki PDB yang lebih tinggi dibanding Iran, yang berpenduduk hampir 100 juta orang dan kaya sumber daya.

Lebih dari sekadar pernyataan, dalam beberapa hari terakhir Israel melancarkan serangan siber terkoordinasi yang melumpuhkan jaringan kamera pengawas di berbagai wilayah Iran. Langkah ini secara langsung melemahkan kemampuan rezim dalam mengidentifikasi dan menindak demonstran.

Pidato Putus Asa dari Dalam Istana

Pada malam 1 Januari 2026, Presiden Iran menyampaikan pidato yang mengejutkan, mengakui bahwa:

  • Ketidakpuasan rakyat adalah tanggung jawab pemerintah,
  • Para pejabat harus siap “berkorban hingga mati”.

Nada pidato tersebut dinilai luas sebagai tanda keputusasaan, bukan ketegasan. Kepercayaan publik telah runtuh.

Media internasional juga melaporkan bahwa Ali Khamenei diduga telah meninggalkan Teheran, berpindah ke lokasi yang dirahasiakan. Sejumlah ulama pro-rezim bahkan terlihat melepas atribut keagamaan dan meninggalkan kota-kota besar—sebuah pemandangan yang nyaris tak terbayangkan sebelumnya.

Hari Keenam Demonstrasi Nasional: Iran Terbakar

Memasuki hari keenam protes nasional, demonstrasi telah meluas ke lebih dari 70 kota di seluruh Iran.

  • Garda Revolusi mulai menggunakan peluru tajam,
  • Kendaraan sipil dan pejalan kaki diserang,
  • Kantor polisi dan simbol-simbol rezim dibakar,
  • Di Qom, pusat keagamaan Syiah paling konservatif, kaum muda turun ke jalan—sebuah momen simbolis yang mengguncang fondasi teokrasi.

Penangkapan brutal mahasiswi di asrama Universitas Teheran Utara memicu kemarahan internasional dan gelombang perlawanan baru. Markas Garda Revolusi diserbu, tahanan dibebaskan, dan potret Khamenei dibakar—tindakan yang sebelumnya dapat berujung hukuman mati.

Menuju Titik Balik Sejarah?

Rakyat Iran telah menyerukan demonstrasi besar pada Jumat berikutnya, dengan target simbol kekuasaan tertinggi. Jalan-jalan utama Teheran mulai dikuasai massa.

Banyak pengamat menilai, gelombang protes kali ini memiliki tiga ciri pembeda utama:

  1. Peleburan kelas sosial – pedagang, buruh, mahasiswa, hingga sebagian aparatur negara bergerak bersama.
  2. Goyangnya basis ideologis inti – kota-kota simbol teokrasi ikut bergolak.
  3. Krisis suksesi kekuasaan – usia Khamenei yang renta memicu kekacauan komando internal.

Iran hari ini menjadi cermin keras bagi seluruh rezim otoriter dunia:

Anda bisa menekan mata uang, memutus internet, dan mengerahkan senjata—tetapi Anda tidak akan pernah bisa memadamkan rakyat yang menuntut kebebasan, martabat, dan kehidupan yang layak.

Hari ini Iran. Besok, bisa jadi negara lain.

AS Bongkar Jaringan Bawah Tanah yang Menyelundupkan Chip Nvidia Senilai Rp 2,512 Triliun ke Tiongkok

Jaksa federal Amerika Serikat di negara bagian Texas baru-baru ini mengumumkan hasil penyelidikan besar-besaran terhadap jaringan penyelundupan yang beroperasi lintas Amerika Serikat hingga ke berbagai negara di dunia. Otoritas AS menyatakan bahwa sebuah jaringan bawah tanah penyelundupan chip yang terkait dengan Tiongkok telah menyelundupkan chip AI Nvidia senilai sedikitnya 160 juta dolar AS atau Rp 2,512 triliun dalam kurun waktu delapan bulan.

EtIndonesia. Pada 8 Desember 2025, jaksa federal Texas mengungkapkan bahwa dalam penyelidikan bertajuk “Operation Gatekeeper”, ditemukan sebuah kelompok penyelundupan rahasia yang melanggar Undang-Undang Pengendalian Ekspor Keamanan Nasional AS, dengan mengekspor chip ke Tiongkok.

Menurut dokumen pengadilan yang telah dibuka segelnya, antara Oktober 2024 hingga Mei 2025, seorang pria asal Houston beserta perusahaannya secara sengaja mengekspor atau mencoba mengekspor prosesor grafis (GPU) Nvidia H100 dan H200 ke Tiongkok dan wilayah lain, dengan nilai total sedikitnya 160 juta dolar AS. Disebutkan pula bahwa mereka menerima transfer dana dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) lebih dari 50 juta dolar AS.

Dalam putusan yang dijadwalkan pada 18 Februari, terdakwa terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara, sementara perusahaannya dapat dikenai denda hingga dua kali lipat dari keuntungan ilegal serta masa percobaan.

Jaksa federal Distrik Selatan Texas, Nicholas J. Ganjei, menyatakan bahwa chip semacam ini merupakan fondasi utama dalam persaingan kecerdasan buatan dan komponen yang tak terpisahkan dari militer modern. Menurutnya, jaringan penyelundupan tersebut menyalurkan teknologi mutakhir kepada pihak-pihak yang berniat menggunakannya untuk merugikan kepentingan Amerika Serikat, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional.

Namun demikian, pada hari yang sama ketika jaksa federal mengumumkan penyelidikan tersebut, Presiden Donald Trump menulis di platform media sosial Truth Social bahwa ia akan mengizinkan ekspor GPU Nvidia H200 ke Tiongkok, asalkan Amerika Serikat memperoleh 25% dari pendapatan penjualan.

Selain itu, dalam rangkaian Operation Gatekeeper, dua pengusaha berkewarganegaraan Tiongkok juga ditangkap—masing-masing pada 28 November di Virginia dan 3 Desember di New York. Mereka menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda hingga 1 juta dolar AS, sementara seorang tersangka lainnya terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Menurut surat dakwaan, kedua tersangka tersebut bersekongkol dengan sebuah perusahaan logistik di Hong Kong dan karyawan sebuah perusahaan teknologi kecerdasan buatan di Tiongkok untuk menghindari pengawasan ekspor Amerika Serikat.

Dalam proses pengumpulan bukti, seorang agen rahasia memasuki sebuah gudang di Secaucus, New Jersey. Ia melihat para tersangka mengganti label GPU Nvidia dengan label palsu milik perusahaan fiktif bernama Sandkayan.

Pada dokumen pengiriman dan ekspor, barang-barang tersebut secara keliru diklasifikasikan sebagai aksesori komputer umum.

Faktanya, dalam beberapa bulan terakhir, kasus penangkapan terkait ekspor ilegal produk Nvidia semakin sering terjadi. Lembaga pemikir Amerika Center for a New American Security (CNAS) memperkirakan bahwa sepanjang tahun 2024 saja, antara 10.000 hingga ratusan ribu chip AI telah diselundupkan ke Tiongkok. (hui)

Laporan oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi, dari Amerika Serikat.

Kawasan Tambang Emas Peru Diserang Saat Malam Tahun Baru, 3 Orang Tewas dan 7 Dilaporkan Hilang

EtIndonesia. Pada malam Tahun Baru, 31 Desember 2025, di wilayah Pataz—salah satu kawasan utama penghasil emas di Peru bagian utara—terjadi serangan terhadap penambang ilegal. Sedikitnya 3 orang tewas, dan dilaporkan 7 orang lainnya hilang.

Menurut laporan Reuters, perusahaan tambang Poderosa menyatakan bahwa petugas keamanan perusahaan mendengar suara tembakan dan segera menuju lokasi. Di tempat kejadian, mereka menemukan tiga orang tewas akibat luka tembak, yang diduga merupakan penambang yang memasuki area tambang secara ilegal. Polisi telah menangkap dua orang terkait insiden tersebut.

Pihak kepolisian menyebutkan bahwa tidak ada laporan penculikan atau orang hilang. Namun, Wali Kota Pataz, Aldo Marino, sebelumnya mengatakan kepada media bahwa polisi telah melaporkan adanya tujuh orang yang hilang.

Kejaksaan setempat menyampaikan melalui media sosial bahwa mereka menemukan 11 selongsong peluru di lokasi kejadian dan telah memulai penyelidikan.

Wilayah Pataz merupakan salah satu daerah penghasil emas utama di Peru, yang sebagian besar bergantung pada pertambangan skala kecil, tradisional, atau sektor informal. Tambang-tambang ini beroperasi di bawah sistem izin sementara dari pemerintah.

Namun, ribuan izin tersebut telah disalahgunakan oleh penambang ilegal. Sumber dari kepolisian dan industri menyebutkan bahwa para penambang ilegal ini berkolusi dengan kelompok kriminal untuk mencuri hasil tambang.

Pada tahun 2024, nilai ekspor emas Peru mencapai 15,5 miliar dolar AS, meningkat tajam dibandingkan 11 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Sekitar 40% dari total produksi emas tersebut berasal dari pertambangan ilegal. (Hui)