EtIndonesia. Kyiv mengatakan pada hari Jumat (21/2) bahwa 10 orang ditangkap di Ukraina dan Moldova karena dicurigai merencanakan pembunuhan tokoh politik senior Ukraina atas perintah Moskow, dengan bayaran hingga 100.000 dolar.
Kyiv sebelumnya menuduh Rusia, yang menginvasi Ukraina empat tahun lalu, merencanakan pembunuhan beberapa pejabat senior, termasuk Presiden Volodymyr Zelenskyy dan kepala dinas intelijen Ukraina.
“Sebagai bagian dari kerja tim investigasi gabungan petugas penegak hukum Ukraina dan Moldova, sebuah kelompok terorganisir telah terungkap yang sedang mempersiapkan pembunuhan berencana terhadap warga negara Ukraina dan warga asing yang terkenal,” kata Jaksa Agung Ukraina Ruslan Kravchenko dalam sebuah pernyataan.
Kravchenko mengatakan penegak hukum telah melakukan 20 penggeledahan di seluruh negeri dan menyita uang, senjata, bahan peledak, dan komunikasi dengan para penangan Rusia.
Tujuh orang ditangkap di Ukraina selama penggerebekan dan tiga orang lainnya—termasuk penyelenggara kampanye—ditangkap di Moldova, menurut pernyataan tersebut.
Moldova mengkonfirmasi penyelidikan bersama dalam pernyataan sebelumnya mengenai rencana yang bertujuan untuk “pembunuhan beberapa tokoh publik di Ukraina.” Tidak ada komentar langsung dari Moskow mengenai klaim tersebut.
Kyiv hanya menyebutkan satu pejabat yang menjadi target tersangka, Andriy Yusov, yang bekerja di bidang komunikasi strategis untuk militer Ukraina dan mengoordinasikan pertukaran tahanan dengan Rusia.
“Pihak Rusia menjanjikan para pelaku hingga 100.000 dolar—jumlahnya bergantung pada ketenaran dan pengaruh calon korban,” tambah Kravchenko.
Moskow menuduh Ukraina mengatur pembunuhan beberapa tokoh militer dan politik terkemuka baik di dalam Rusia maupun di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia.
Ukraina secara terbuka mengklaim berada di balik beberapa pembunuhan tersebut, menyebutnya sebagai pembalasan bagi mereka yang mempromosikan, mendukung, dan memfasilitasi invasi Rusia. (yn)
EtIndonesia. Di atas meja ada setumpuk apel. Orang-orang tidak terlalu peduli berapa banyak apel di situ, yang mereka pedulikan hanyalah berapa banyak yang jatuh ke tangan mereka sendiri.
Dalam sebuah perusahaan ada segudang urusan. Orang-orang juga tidak terlalu peduli berapa banyak urusan itu secara keseluruhan, yang mereka perhatikan hanyalah berapa banyak pekerjaan tambahan yang harus mereka tanggung sendiri.
Manusia sebenarnya memiliki kebijaksanaan besar, namun karena terlalu perhitungan terhadap untung dan rugi, pada akhirnya kebijaksanaan besar itu menyusut menjadi kepintaran kecil yang licik.
Hubungan antarmanusia sejatinya sangat sederhana, namun karena pembagian kepentingan menjadi rumit, muncullah tipu daya, kecurigaan, dan intrik satu sama lain.
Kesederhanaan hidup bagaikan beberapa guratan ringan dalam lukisan besar kehidupan— jarang namun lapang, tenang dan lepas. Dia seperti bulan tipis dalam lanskap batin, menyimpan kesejukan dan ketenteraman.
Kerumitan hidup ibarat tinta yang terciprat di atas kertas kehidupan, mewarnai siasat, kepura-puraan, dan kelicikan duniawi; seperti gesekan biola yang merengek di kedalaman jiwa, mengusir ketenangan dan menimbulkan kegelisahan tanpa henti.
Alam semesta itu sempurna—karena kesederhanaannya. Sementara kelelahan hidup manusia, justru tersembunyi di dalam kerumitan.
Saat manusia hidup sederhana, dia bahagia— namun orang yang benar-benar bahagia jumlahnya sedikit. Saat hidup menjadi rumit, penderitaan pun muncul— dan orang yang menderita justru berdesakan memenuhi dunia.
Kenyataan ini menunjukkan: hidup sederhana itu sulit, hidup rumit justru sangat mudah.
Manusia— ketika kecil itu sederhana, ketika dewasa menjadi rumit; saat miskin sederhana, saat kaya menjadi rumit; ketika terpuruk sederhana, saat berkuasa menjadi rumit; orang bijak itu sederhana, orang picik justru rumit; melihat diri sendiri terasa sederhana, melihat orang lain terasa rumit.
Hal ini mengingatkanku pada puisi Gu Cheng: “Kamu sesekali memandangku, sesekali memandang awan.”
Aku merasa, saat kamu memandangku, jaraknya sangat jauh; saat kamu memandang awan, jaraknya justru sangat dekat.
Antara sederhana dan rumit, ternyata ada hubungan yang samar dan mengaburkan batas.
Sesuatu yang bisa dilihat sekilas hingga tembus ke dalam, tampak sangat sederhana. Seperti sebuah sumur tua—dalam dan jernih— sekali pandang seolah terlihat dasarnya, namun sumur itu sendiri sejatinya tidak sederhana.
Manusia pun demikian. Kadang seseorang bisa “terbaca” hanya dengan sekali lihat, bukan karena dia dangkal atau tidak berisi, melainkan karena jiwanya terlalu bersih dan murni.
Memiliki jiwa yang murni, sejatinya adalah kedalaman yang mengguncang hati. Kesederhanaan semacam ini, justru layak untuk dihormati.
Ada pula orang yang tampak penuh kabut, seolah rumit dan sangat dalam. Namun sering kali, kedalaman itu bukanlah kedalaman jiwa, melainkan kedalaman siasat dan kelicikan.
Kerumitan semacam ini adalah pertemuan sifat manusia yang licik dan berbahaya, bukan tumpukan kebijaksanaan yang indah dan elegan.
Jika disederhanakan, hidup ini sebenarnya hanya tentang dua kata: hidup dan mati. Namun karena ada pasang surut nasib, karena ada dingin dan hangatnya dunia manusia, proses yang sederhana itu berubah menjadi berliku, terjatuh, dan penuh kerumitan.
Kesederhanaan adalah bentuk indah yang ditinggalkan kehidupan bagi dunia. Sedangkan kerumitan, adalah mimpi kelam yang tak pernah benar-benar bisa diselami oleh kehidupan.
Hikmah Cerita
Tulisan yang tampak sederhana ini sesungguhnya menelanjangi keserakahan dan keegoisan manusia.
Dalam melakukan apa pun, manusia kerap menempatkan kepentingan diri sendiri sebagai yang utama. Mungkin itu bisa mendatangkan kenikmatan sesaat, namun tanpa disadari, dia sedang menanam benih bencana bagi zamannya sendiri. (jhn/yn)
EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang jauh lebih dinamis dan intens. Dalam perkembangan terbaru, Pemerintah Ukraina mengumumkan keberhasilan merebut kembali sekitar 130 kilometer persegi wilayah dalam operasi serangan balasan terkini.
Namun laporan kantor berita AFP menyebutkan bahwa dalam kurun lima hari saja, pasukan Ukraina bahkan berhasil menguasai sekitar 200 kilometer persegi wilayah, yang disebut sebagai kemajuan paling signifikan dalam dua setengah tahun terakhir sejak perang memasuki fase stagnasi panjang.
Perkembangan Medan Tempur: Zaporizhzhia, Dnipro, dan Tekanan di Pokrovsk
Operasi militer Ukraina terkonsentrasi di beberapa sektor penting. Di wilayah Zaporizhzhia dan sepanjang garis Sungai Dnipro, sejumlah permukiman berhasil direbut kembali dari kendali pasukan Rusia.
Meski demikian, situasi di arah Pokrovsk tetap menjadi titik tekanan berat. Rusia dilaporkan meningkatkan intensitas serangan artileri dan manuver darat di sektor tersebut. Sementara itu, aktivitas militer Moskow di perbatasan wilayah Sumy juga meningkat, memunculkan kekhawatiran akan pembukaan front tekanan baru di utara.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada 13 Februari 2026 menegaskan bahwa Kyiv tidak akan menyerahkan wilayah Donbas dalam perundingan apa pun. Dia menuduh Moskow berupaya meraih melalui diplomasi apa yang gagal dicapai di medan perang.
Serangan 2.000 Kilometer: Operasi Jarak Terjauh Sejak Perang Dimulai
Salah satu perkembangan paling mengejutkan terjadi pada 12 Februari 2026, ketika Ukraina melancarkan serangan terhadap sebuah kilang minyak di wilayah Rusia yang berjarak lebih dari 2.000 kilometer dari perbatasan Ukraina.
Serangan ini diperkirakan menjadi operasi udara jarak terjauh yang dilakukan Kyiv sejak perang dimulai pada 2022. Target infrastruktur energi tersebut dinilai memiliki nilai strategis tinggi dalam mendukung logistik militer Rusia.
Analis militer menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi “perang kedalaman” (deep strike warfare), yaitu menghantam pusat-pusat logistik dan industri pertahanan jauh di belakang garis depan.
Ledakan di Wilayah Leningrad dan Gelombang Serangan Drone
Sekitar 17 Februari 2026, ledakan dilaporkan terjadi di wilayah Leningrad, Rusia. Sebuah bangunan yang dikaitkan dengan fasilitas militer runtuh akibat insiden tersebut.
Beredar laporan tidak resmi yang menyebut dua perwira tinggi tewas dalam insiden tersebut, meskipun otoritas Rusia tidak memberikan rincian yang jelas.
Di saat bersamaan, Krimea kembali mengalami gelombang serangan drone besar-besaran. Beberapa pangkalan militer dan fasilitas pertahanan udara menjadi sasaran. Kilang minyak di wilayah Krasnodar Krai juga dilaporkan terbakar.
Data militer menunjukkan bahwa dalam 48 hari pertama tahun 2026 saja, Ukraina telah menyerang lebih dari 240 target militer Rusia. Dalam satu bulan terakhir, tercatat 32 gelombang serangan terhadap sistem energi Rusia, termasuk:
5 kilang minyak
8 depot bahan bakar
3 pembangkit listrik
Strateginya dinilai jelas: melumpuhkan rantai logistik, memperlemah produksi militer, serta meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow.
Isu “Skuadron F-16 Internasional” dan Peran Pilot Asing
Muncul pula kabar mengenai pembentukan skuadron tempur Ukraina yang melibatkan pilot asing, termasuk mantan penerbang dari Amerika Serikat dan Belanda. Skuadron ini disebut-sebut dengan julukan “Macan Terbang F-16 Internasional”.
Meski juru bicara Angkatan Udara Ukraina membantah pembentukan resmi unit tersebut, sejumlah analis menilai keterlibatan pilot asing secara terbatas bukan hal yang mustahil dilakukan secara tertutup.
Jet tempur F-16 memiliki keunggulan dalam patroli malam serta intersepsi drone dan rudal jelajah. Pada 12 Februari 2026, sistem pertahanan udara Patriot Ukraina dilaporkan berhasil mencegat dua rudal balistik Iskander-M Rusia—sebuah capaian penting di tengah meningkatnya intensitas serangan udara.
Tekanan Energi dan Sanksi Ekonomi
Selain tekanan militer, faktor ekonomi juga semakin mempersempit ruang gerak Rusia. Pada pertengahan Februari 2026, Kroasia mengumumkan penghentian pengiriman minyak Rusia melalui pelabuhannya ke Hongaria, kecuali jika minyak tersebut bukan berasal dari Rusia.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari konsolidasi sanksi energi Eropa yang semakin ketat.
Kini, Moskow menghadapi tekanan ganda:
Serangan presisi jarak jauh yang menggerus infrastruktur vital.
Tekanan ekonomi dan energi yang mempersempit akses pasar dan jalur distribusi.
Fase Baru Perang: Dari Garis Depan ke Perang Sistemik
Konflik Rusia–Ukraina kini tidak lagi sekadar perebutan garis depan. Perang telah bergeser ke fase yang lebih kompleks—menggabungkan serangan kedalaman, sabotase infrastruktur, pertahanan udara berlapis, serta tekanan ekonomi internasional.
Jika sebelumnya pertempuran identik dengan perang posisi yang stagnan, perkembangan Februari 2026 menunjukkan dinamika baru yang lebih agresif dan terkoordinasi.
Pertanyaan besar kini muncul: Apakah tekanan dua arah—militer dan ekonomi—akan memicu eskalasi yang lebih luas? Atau justru mendorong kedua pihak menuju keseimbangan baru yang membuka ruang negosiasi?
Situasi terus berkembang dengan cepat, dan dunia kini menyaksikan babak baru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini.
EtIndonesia. Ada seorang kakek tua, tipikal petani desa. Sepanjang hidupnya, dia memiliki satu kegelisahan—tidak besar, tapi juga sama sekali tidak kecil—yaitu pintu kayu rumahnya selalu berbunyi nyaring setiap kali dibuka dan ditutup.
Bunyinya tajam, kering, dan menusuk telinga, sering membuat hatinya gelisah dan seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.
Sejak kapan bunyi itu muncul, tak seorang pun tahu pasti. Sebelum menikah, dia hanya perlu menahan suara pintu yang dia buat sendiri. Namun setelah istrinya masuk ke rumah, dia mulai harus menahan bunyi yang dibuat orang lain.
Yang paling menyebalkan adalah, dia tidak pernah tahu kapan pintu itu akan dibuka atau ditutup, seberapa cepat atau seberapa keras. Kadang tiba-tiba terdengar bunyi aneh—panjang atau pendek, ringan atau berat—yang membuat kakek itu butuh waktu lama untuk kembali tenang.
Anak demi anak lahir, dan bunyi pintu pun semakin sering terdengar dari tahun ke tahun.
Ketika cucu-cucu mulai lahir, suara itu meningkat berlipat-lipat, dan kegelisahan sang kakek pun ikut berlipat-lipat.
Perlahan-lahan, wataknya menjadi pemarah. Dia sering meledak hanya karena hal-hal kecil, hingga anak dan cucunya takut mendekatinya.
Bagi dirinya, di satu sisi, bunyi itu sangat menjengkelkan; namun di sisi lain, hidup tanpa kegelisahan seolah justru tak terbayangkan.
Setetes Minyak
Suatu hari, sang kakek jatuh sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur sepanjang hari.
Suatu ketika, cucunya yang masih duduk di bangku SMP masuk ke kamar.
Begitu suara pintu berhenti, sang kakek menghela napas dan berkata : “Setiap kali mendengar pintu itu berbunyi, aku langsung merasa tidak enak.”
Mendengar itu, sang cucu pergi ke dapur, mengambil sebotol minyak, lalu meneteskan masing-masing satu tetes minyak pada engsel pintu.
Setelah beberapa kali pintu dibuka dan ditutup, bunyi itu lenyap tanpa jejak.
Sebulan kemudian, sang kakek meninggal dunia.
Baru menjelang akhir hidupnya, dia menyadari apa yang sebenarnya membawa kegelisahan sepanjang hidupnya, dan betapa mudahnya menghilangkan kegelisahan itu sejak awal.
Kegelisahan yang Kita Pelihara Sendiri
Cerita yang terdengar absurd ini benar-benar pernah terjadi, dan dalam bentuk lain, terjadi di sekitar kita setiap saat.
Misalnya, pernah terlihat seorang wanita muda berpakaian modis dan cantik berjalan di jalanan kota, namun di hidungnya terdapat tahi lalat hitam yang menonjol, sedikit lebih besar dari biji kedelai.Itu jelas bukan tahi lalat pemanis wajah.
Bisa dipastikan, dia telah bercermin ribuan kali, dan ribuan kali pula merasa terganggu olehnya. Namun entah mengapa, dia tidak pernah benar-benar melakukan sesuatu untuk menghilangkannya.
Padahal, di rumah sakit biasa pun, menghilangkan tahi lalat seperti itu hanyalah perkara sepele bagi dokter— beberapa menit saja sudah selesai, bahkan mungkin tanpa meninggalkan bekas luka.
Lalu bagaimana dengan “kebisingan” dalam batin kita dan “tahi lalat” dalam kepribadian kita sendiri?
Rasanya, setiap orang pasti memilikinya.
Jika kita tidak berusaha menanganinya secara langsung, kegelisahan itu akan menemani kita seumur hidup.
Renungan
Saat pertama membaca cerita ini, aku sempat berpikir: Kalau memang sangat terganggu oleh bunyi pintu, mengapa tidak memperbaikinya saja? Atau setidaknya dipukul, disetel, atau diperbaiki sedikit?
Mengapa harus membiarkan diri sendiri hidup dalam ketidaknyamanan?
Namun setelah merenung lebih dalam, barulah kusadari: banyak orang dalam hidup sebenarnya tahu persis sumber penderitaannya, namun memilih mengabaikannya, seperti kakek dalam cerita ini.
Misalnya, kita tahu begadang merusak kesehatan, tetapi tetap melakukannya— lalu ketika tubuh mulai “protes”, kita malah mengeluh.
Kita tahu seseorang tidak mencintai kita, namun tetap memaksakan diri, menyakiti diri sendiri dan menyusahkan orang lain.
Bahkan lebih banyak penderitaan yang berasal dari keinginan dalam hati— karena tidak mampu memenuhinya kita menderita, namun juga tidak rela melepaskannya.
Padahal, pintu yang berisik hanya butuh setetes minyak untuk kembali tenang. Dan setetes minyak untuk meredam keinginan batin adalah: rasa cukup, rasa syukur, dan kemampuan menghargai apa yang dimiliki.
Tambahan Renungan: Selembar Kertas
Lahir selembar kertas, memulai hidup seumur hidup; Lulus selembar kertas, berjuang seumur hidup; Pernikahan selembar kertas, tersiksa seumur hidup; Jabatan selembar kertas, bertarung seumur hidup; Uang selembar kertas, bersusah payah seumur hidup; Kehormatan selembar kertas, mengejar nama seumur hidup; Berobat selembar kertas, menderita seumur hidup; Surat duka selembar kertas, mengakhiri beban hidup selamanya;
Memudarkan kertas-kertas itu, tercerahkan seumur hidup;
Melupakan kertas-kertas itu, bahagia seumur hidup.(jhn/yn)
EtIndonesia. Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kembali mengerahkan tambahan jet tempur siluman F-22 Raptor ke Pangkalan Udara RAF Mildenhall. Di bawah langit malam yang gelap, lampu landasan berwarna biru berkelip kontras dengan siluet tajam pesawat generasi kelima tersebut.
Rekaman yang beredar pada 19 Februari memperlihatkan satu per satu F-22 mendarat dengan formasi rapi. Saluran masuk udara berbentuk persegi panjang—ciri khas Raptor—tampak jelas dalam sorotan lampu. Lampu merah di bagian ekor berkedip selaras dengan sistem pandu landasan. Setelah mendarat, jet-jet itu bergerak perlahan membentuk barisan di apron pangkalan.
Sehari sebelumnya, 18 Februari 2026, gelombang pertama F-22 telah dilaporkan lepas landas dari Langley Air Force Base di Negara Bagian Virginia dan tiba di Inggris. Rekaman terbaru diyakini sebagai gelombang kedua. Seluruh pesawat tersebut disebut-sebut akan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.
F-22 Raptor dikenal sebagai salah satu jet tempur superioritas udara paling canggih di dunia. Pesawat ini unggul dalam kemampuan siluman (stealth), manuver ekstrem, serta sistem avionik canggih untuk dominasi udara dan penindasan pertahanan lawan.
Namun, pengerahan F-22 dalam jumlah besar bukan keputusan ringan. Setiap satu jam terbang membutuhkan sekitar 40 jam perawatan intensif. Biaya operasionalnya diperkirakan mencapai sekitar 84.000 dolar AS per jam terbang. Karena itu, analis pertahanan menilai bahwa kehadiran Raptor dalam konteks saat ini mencerminkan tujuan strategis yang jelas—bukan sekadar latihan rutin.
Sejumlah pengamat militer menafsirkan pengerahan ini sebagai indikasi bahwa opsi militer terhadap Teheran telah dipersiapkan secara serius, terutama setelah negosiasi diplomatik menunjukkan kemajuan terbatas.
E-3 Sentry, F-35, hingga Tanker KC-135 Dikerahkan
Masih pada 19 Februari 2026, rekaman lain menunjukkan pesawat peringatan dini E-3 Sentry terbang di atas Tel Aviv, Israel, menuju Arab Saudi. Sebelumnya dilaporkan bahwa enam unit E-3 telah dikerahkan untuk memantau potensi peluncuran rudal balistik, rudal jelajah, maupun drone dari Iran. Dua unit telah tiba di Arab Saudi, sementara dua lainnya yang terpantau di Israel diduga berasal dari pangkalan di Jerman dengan tujuan akhir Pangkalan Udara Pangeran Sultan.
Citra satelit terbaru juga menunjukkan konsentrasi signifikan pesawat tempur AS di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania. Dalam satu citra terlihat sedikitnya 18 jet F-35 dan enam pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler.
Sementara itu, di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, teridentifikasi satu unit E-3, dua pesawat komunikasi medan tempur E-11, serta 13 pesawat tanker KC-135 Stratotanker. Kehadiran tanker dalam jumlah besar mengindikasikan kesiapan operasi jarak jauh yang berkelanjutan.
Dalam beberapa hari terakhir, komunitas intelijen sumber terbuka (OSINT) mencatat intensitas penerbangan militer AS dari Eropa ke Timur Tengah meningkat tajam—terutama menuju Yordania dan Arab Saudi. Pola ini dinilai sebagai tanda bahwa Washington telah menyiapkan skenario kontinjensi terhadap Teheran.
Ultimatum 10–15 Hari dari Gedung Putih
Pada 19 Februari 2026, Presiden Donald Trump, dalam wawancara di Air Force One, menyatakan akan memberi Iran waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut dipandang banyak pihak sebagai ultimatum terakhir.
Dua putaran perundingan sebelumnya disebut menghasilkan kemajuan terbatas. Iran dilaporkan menolak tuntutan inti AS, termasuk pembatasan program nuklir dan pengendalian pengembangan rudal balistik.
Situasi Dalam Negeri Iran Memanas
Pada 18 Februari 2026, warga Teheran merekam ledakan besar yang memunculkan asap tebal. Lokasi tersebut diduga merupakan gudang amunisi milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), meski belum ada konfirmasi resmi.
Sehari kemudian, 19 Februari, beredar video lain yang menunjukkan bangunan terbakar di ibu kota pada malam hari. Belum dapat dipastikan apakah kedua insiden tersebut saling terkait atau berkaitan dengan operasi intelijen asing.
Di Provinsi Fars, tepatnya di kota Mamasani, ribuan warga berkumpul memperingati 40 hari (Arba’in) wafatnya demonstran dalam gelombang protes sebelumnya. Tradisi Syiah memperingati hari ke-40 setelah kematian, namun momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Di kota Noor, poster dan spanduk bergambar korban terpampang di berbagai sudut jalan. Warga menyebut ratusan demonstran tewas, meski angka tersebut belum diverifikasi secara independen.
Insiden Salah Tembak: Jet F-4 Jatuh
Pada 19 Februari 2026, terjadi insiden lain yang memicu perhatian publik. Sistem pertahanan udara yang berada di bawah kendali IRGC dilaporkan menembak jatuh jet tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II milik Angkatan Udara reguler Iran.
Pilot sempat berusaha kembali ke pangkalan, namun roda pendarat tidak sepenuhnya terbuka. Pesawat tergelincir keluar landasan saat pendaratan darurat, dan pilot dilaporkan meninggal dunia.
Perlu dicatat, Angkatan Bersenjata reguler Iran dan IRGC merupakan dua institusi berbeda dengan struktur komando terpisah. Jet tempur seperti F-4 dan F-14 berada di bawah kendali Angkatan Udara reguler, sedangkan sebagian sistem pertahanan udara strategis dikendalikan IRGC—relasi keduanya tidak selalu harmonis.
Eskalasi 19–20 Februari: Kawasan di Ambang Titik Kritis
Dari 19 hingga 20 Februari 2026, rangkaian peristiwa ini memperlihatkan eskalasi signifikan. Amerika Serikat memusatkan berbagai aset tempur di Timur Tengah—mulai dari F-35, F-15, F-16, pesawat tanker, pesawat peringatan dini, hingga sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD.
Di sisi lain, negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan alot. Iran menolak penghentian penuh program nuklir dan pembatasan rudal balistik. Dengan kombinasi tekanan militer eksternal dan ketegangan domestik internal, risiko konflik terbuka dalam waktu dekat dinilai semakin meningkat.
Kawasan Timur Tengah kini berada dalam situasi rapuh—seperti bara dalam sekam. Setiap insiden baru berpotensi menjadi pemicu ledakan besar yang dampaknya meluas secara regional maupun global. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan.
EtIndonesia. Aku punya seorang teman pengacara yang juga mengajar paruh waktu di sebuah kampus. Dia sering merekrut mahasiswa untuk kerja paruh waktu, atau ketika mendapat proyek riset dari instansi pemerintah, dia akan mencari asisten penelitian untuk membantunya.
Beberapa asisten muda telah bekerja bersamanya selama dua hingga tiga tahun. Dari situlah kami saling mengenal.
Di antara mereka ada seorang gadis bernama Aya. Pertama kali aku bertemu dengannya, dia membawa banyak map dokumen—seimbang di tangannya seperti sedang melakukan atraksi—turun naik tangga dengan cekatan.
Wajahnya selalu tersenyum, tutur katanya manis.
Teman pengacaraku berkata: “Aya itu anaknya baik.”
Aku selalu mengira dia sangat puas dengan Aya, dan bahkan berpikir Aya akan tetap bekerja di kantor itu setelah lulus.
Namun tak disangka, suatu hari aku justru melihat Aya berteriak menjajakan barang di sebuah stan pameran komputer: “Kesempatan terakhir! Harga banting! Nggak beli bakal nyesel!”
“Sejak kapan kamu keluar dari kantor?” tanyaku dengan suara keras di tengah keramaian.
Mata Aya langsung memerah: “Sudah tiga bulan. Bapak bilang saya tidak cocok di bidang ini, jadi saya harus pergi…”
Hatiku terasa perih mendengarnya. Aku tak tahu harus menghiburnya bagaimana, lalu bertanya lagi: “Kerja di sini gimana?”
“Ya… namanya juga kerja,” katanya sambil memaksakan senyum. “Tidak apa-apa kok.”
Talenta Itu Ditentukan oleh Diri Sendiri
Beberapa waktu kemudian, aku bertemu lagi dengan teman pengacaraku. Jumlah asistennya tampak berkurang, dan tidak ada lagi sosok ramah dengan senyum cerah seperti Aya.
Dia tersenyum tipis: “Aya? Aku yang memintanya pergi. Dia tidak cocok untuk pekerjaan ini.”
“Benarkah? Menurutku dia cukup bekerja keras.”
“Bekerja keras itu tidak cukup,” jawabnya tenang. “Aku butuh talenta, bukan sekadar tenaga kerja.”
Kata-kata itu mengguncang pikiranku. Selama ini aku selalu percaya bahwa selama seseorang cukup berdedikasi, dia pasti bisa mengerjakan sesuatu dengan baik. Aku lupa bahwa profesionalisme dan ketepatan adalah inti dari seorang talenta.
Jika caranya salah, semua usaha hanya menjadi tenaga yang terbuang. Jika seseorang tidak terus meningkatkan profesionalismenya, dia tidak akan menjadi talenta— dia hanya akan menjadi tenaga kerja.
Tenaga kerja mudah ditemukan. Talenta perlu ditemukan—dan perlu dibina.
“Apa kamu tidak bisa membimbingnya agar menjadi talenta?” tanyaku, masih mencoba membela.
Temanku menatapku lelah: “Ada orang yang sudah menetapkan dirinya sebagai talenta, ada pula yang tidak peduli. Kalau dia sendiri saja tidak peduli, mau dibimbing bagaimana?”
Saat itu aku teringat kalimat Aya di stan pameran: “Namanya juga kerja. Tidak apa-apa.”
Mungkin justru karena sikap ‘tidak apa-apa’ itulah, daya saingnya perlahan menghilang.
Aku pun terdiam.
Renungan
Dalam masyarakat yang penuh persaingan ini, kemampuan apa sebenarnya yang kita butuhkan untuk bertahan di dunia kerja?
Banyak orang akan menjawab: “kemampuan komputer”, “kemampuan penjualan”, “paham produk perusahaan”, “kreatif dan inovatif”, “menguasai pemasaran”.
Semua jawaban itu benar.
Namun jawabanku justru sederhana: memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh atasan.
Sebab seseorang bisa saja bergelar doktor, menguasai pemasaran, teknologi, dan segudang keahlian lain— tetapi jika ia tidak memahami kebutuhan pimpinannya, semua itu bisa menjadi sia-sia.
Seperti cerita ini: perbedaan antara talenta dan tenaga kerja tidak ditentukan oleh ijazah, pengalaman, atau keterampilan semata, melainkan oleh satu hal: apakah kemampuan kita benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Hanya ketika kemampuan itu dibutuhkan, kita disebut talenta. Jika tidak, maka kita hanyalah tenaga kerja— bahkan meski bergelar tinggi dan berpengalaman panjang.
Karena pengalaman bisa dikalahkan oleh pengalaman yang lebih luas. Gelar bisa digantikan oleh gelar yang lebih tinggi. Talenta pun bisa digantikan oleh talenta yang lebih baik.
Inilah realitas, inilah masyarakat.
Namun perlu diingat: dalam sebuah perusahaan, talenta dan tenaga kerja sama-sama dibutuhkan.
Seperti perusahaan besar: mereka membutuhkan talenta untuk mengembangkan produk, tetapi juga membutuhkan tenaga kerja untuk memproduksi dan merakitnya.
Tugas perusahaan adalah menempatkan talenta dan tenaga kerja secara tepat. Jika penempatannya benar, tenaga kerja pun bisa menjadi talenta perusahaan.
Setelah membaca cerita ini, selain mencari arah yang tepat agar menjadi talenta yang dibutuhkan, kita juga perlu terus memperbaiki diri.
Bahkan lebih jauh lagi— saat berusaha menjadi kuda unggul, kita juga sebaiknya berupaya menjadi penilai kuda unggul.
Karena pada akhirnya, status “talenta” juga sangat dipengaruhi oleh kebutuhan perusahaan dan perubahan zaman. Kadang talenta tersingkir bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena perubahan strategi, restrukturisasi, atau kondisi ekonomi.
Maka daripada membiarkan orang lain menentukan apakah kita talenta atau tenaga kerja, lebih baik memperkuat diri hingga menjadi penentu.
Kamu ingin menjadi tenaga kerja? Atau talenta? Atau justru—penentu talenta?
Aku memilih yang terakhir.
Dan jalan menuju ke sana dimulai dengan: melepaskan kerangka lama dan sudut pandang yang diwariskan orang lain, serta membiasakan diri melihat setiap hal dari perspektif yang berbeda.(jhn/yn)
EtIndonesia. Sebuah bangunan tempat tinggal di kota pelabuhan selatan Karachi runtuh pada Kamis (19 Februari) setelah terjadi ledakan tabung gas. Insiden ini menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Menurut pihak kepolisian, dari jumlah korban tewas tersebut, 7 orang adalah anak-anak, termasuk seorang balita berusia 2 tahun.
Menurut laporan Reuters, polisi menyatakan bahwa ledakan terjadi di lantai dasar sebuah bangunan bertingkat yang terletak di kawasan Soldier Bazaar.
Soldier Bazaar merupakan kawasan permukiman di bagian timur Karachi, sebuah kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi.
Petugas penyelamat darurat mengatakan bahwa lebih dari sepuluh korban luka telah berhasil dievakuasi dari dalam gedung. Namun, masih ada kemungkinan sejumlah orang lainnya tertimbun di bawah puing-puing bangunan.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa penyebab ledakan masih dalam penyelidikan. (hui)
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (19 Februari) malam mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan berbagai lembaga pemerintah untuk membuka seluruh dokumen pemerintah yang berkaitan dengan kehidupan luar angkasa dan benda terbang tak dikenal (UFO).
Trump menulis di media sosial Truth Social: “Berdasarkan besarnya minat publik, saya akan menginstruksikan Menteri Pertahanan serta departemen dan lembaga terkait lainnya untuk mulai mengidentifikasi dan merilis arsip pemerintah yang berkaitan dengan kehidupan luar angkasa, fenomena udara tak dikenal (UAP), dan benda terbang tak dikenal (UFO), serta informasi lain apa pun yang berhubungan dengan isu-isu yang sangat kompleks, namun sangat menarik dan penting ini. Tuhan memberkati Amerika Serikat!”
Perintah ini dipicu oleh sebuah episode podcast No Lie with Brian Tyler Cohen yang ditayangkan pada 14 Februari.
Dalam acara tersebut, sang pembawa acara, Brian Tyler Cohen, bertanya kepada Barack Obama: “Apakah benar ada alien?”
Obama menjawab: “Mereka nyata, tapi saya belum pernah melihat mereka, dan mereka juga tidak dikurung di… Area 51. Tidak ada fasilitas bawah tanah di sana, kecuali memang ada konspirasi besar yang bahkan berhasil menipu Presiden Amerika Serikat.”
Ketika Cohen bertanya, saat Obama menjabat sebagai presiden pada 2009, pertanyaan apa yang paling ingin ia ketahui, Obama menjawab: “Di mana alien berada?”
Setelah cuplikan wawancara ini memicu perbincangan hangat di internet, Obama pada 15 Februari mengunggah klarifikasi di Instagram. Ia mengatakan bahwa pernyataannya saat itu disesuaikan dengan suasana tanya jawab singkat, serta menjelaskan: “Dari sudut pandang statistik, alam semesta begitu luas sehingga kemungkinan adanya kehidupan luar angkasa cukup tinggi.”
Namun, ia juga menegaskan bahwa jarak antarbintang sangat jauh, sehingga kemungkinan alien mengunjungi Bumi sangat kecil, dan selama masa kepresidenannya ia tidak pernah melihat bukti bahwa makhluk luar angkasa pernah melakukan kontak dengan manusia.
Pada Kamis yang sama, Trump menanggapi isu tersebut saat diwawancarai media di atas Air Force One, dengan menuduh Obama telah membocorkan “informasi rahasia”.
Trump berkata: “Yah, saya tidak tahu apakah mereka benar-benar ada atau tidak. Tapi saya bisa mengatakan bahwa dia telah membocorkan informasi rahasia. Seharusnya dia tidak melakukan itu.”
Trump menambahkan bahwa ia sendiri tidak memiliki pandangan khusus soal keberadaan alien, tetapi banyak orang “percaya bahwa alien itu ada”. Ia kemudian balik bertanya kepada pewawancara, Peter Doocy, apakah ia percaya alien benar-benar ada.
Doocy menjawab: “Yah, mengingat presiden memiliki kewenangan untuk mendeklasifikasi apa pun yang ia inginkan, jika Anda ingin membuat pengumuman tentang hal ini—”
Trump memotong ucapannya dan berkata: “Mungkin saya bisa mendeklasifikasikannya, untuk membantu (Obama) keluar dari masalah.”
Gugus Tugas Fenomena Udara Tak Dikenal
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah AS terhadap fenomena udara tak dikenal (UAP) terus meningkat. Pada masa jabatan pertama Trump, pemerintah AS membentuk Gugus Tugas UAP (UAPTF) untuk mendeteksi dan menganalisis fenomena udara yang berpotensi mengancam keamanan nasional.
Departemen Pertahanan AS saat itu menegaskan: “Setiap pelanggaran wilayah udara latihan atau wilayah udara yang ditetapkan oleh pesawat yang tidak berwenang akan ditanggapi dengan sangat serius oleh Departemen Pertahanan dan seluruh cabang militer, serta setiap laporan akan ditinjau.”
Namun, dalam laporan yang diserahkan UAPTF kepada Kongres AS pada 2021, disebutkan bahwa karena kurangnya “informasi berkualitas tinggi”, mereka tidak dapat memastikan sifat UAP maupun apakah fenomena tersebut berasal dari kehidupan luar angkasa. Meski sebagian menunjukkan “karakteristik penerbangan yang tidak biasa”, laporan itu menilai kemungkinan penyebabnya adalah kesalahan sensor, teknik penyesatan, atau salah tafsir pengamat.
Pada 2023, di bawah pemerintahan Biden, isu UFO kembali menjadi sorotan. Sejumlah anggota Kongres AS menuduh pemerintah menyembunyikan informasi dari Kongres dan publik. Ketua Subkomite Keamanan Nasional, Perbatasan, dan Urusan Luar Negeri DPR AS saat itu, Glenn Grothman, mengatakan dalam sidang Juli 2023: “Selama puluhan tahun, kurangnya transparansi terkait UAP telah memicu spekulasi dan perdebatan, serta menggerogoti kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga yang seharusnya melayani dan melindungi rakyat.”
Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih saat itu, John Kirby, juga mengakui bahwa fenomena tak dikenal yang dilaporkan oleh pilot serta angkatan laut dan udara memang ada, dan telah mempengaruhi pelatihan serta kesiapan militer.
Kirby menyatakan: “Hanya berdasarkan hal itu saja, ini sudah merupakan masalah keamanan nasional yang patut diperhatikan. Kami tidak tahu apa sebenarnya fenomena ini, dan kami belum memiliki jawabannya.”
Menurut laporan terbaru Kantor Resolusi Anomali Seluruh Domain (AARO) Departemen Pertahanan yang dirilis pada November 2024, lembaga tersebut menerima 757 laporan UAP antara Mei 2023 hingga Juni 2024.
Meski jumlah kasusnya besar, Direktur AARO Jon Kosloski dalam sidang Senat AS pada November 2024 menegaskan: “Perlu ditekankan bahwa hingga saat ini, AARO belum menemukan bukti yang dapat diverifikasi mengenai keberadaan makhluk luar angkasa, aktivitas, atau teknologi non-Bumi.”
Ia menambahkan bahwa seluruh kasus yang ditangani AARO “tidak menunjukkan kemampuan maju atau teknologi terobosan”. Walaupun ada sangat sedikit kasus yang menunjukkan karakteristik anomali, kasus-kasus tersebut memerlukan waktu, sumber daya, serta investigasi ilmiah yang terarah dari AARO dan mitra-mitranya.
Kosloski juga menyampaikan kepada Senat bahwa untuk sebagian kasus yang belum terselesaikan, Departemen Pertahanan masih belum dapat memberikan penjelasan. (Hui)
Artikel ini sebagian merujuk pada laporan Epoch Times versi bahasa Inggris.
Baru-baru ini, tiga warga negara Tiongkok didakwa di pengadilan tingkat pertama Australia karena diduga bertindak atas perintah Partai Komunis Tiongkok (PKT), menyamar dengan identitas palsu, dan menyusup ke sebuah kelompok Buddhis di Canberra. Ketiganya menghadapi dakwaan berat berupa “campur tangan secara ceroboh terhadap urusan luar negeri”, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
EtIndonesia. Otoritas Australia menegaskan bahwa mereka tidak akan menoleransi gangguan apa pun dari rezim asing terhadap komunitas diaspora di Australia, dan bahwa tindakan penindasan lintas negara harus dihukum berat.
Jurnalis Australia Liam Mendes mengatakan: “Ini adalah salah satu orang yang baru-baru ini ditangkap di Canberra. Ia dituduh terlibat dalam aktivitas mata-mata untuk PKT.”
Perempuan tersebut adalah Zheng Siru, warga negara Tiongkok berusia 31 tahun, yang bekerja sebagai pegawai di sebuah toko roti di pusat kota Canberra. Baru-baru ini, ia bersama seorang pria Tiongkok berusia 25 tahun serta seorang perempuan Tiongkok berusia 37 tahun yang menggunakan nama samaran “Thomas Taylor”, muncul di pengadilan wilayah ibu kota Australia (ACT).
Ketiganya didakwa atas tuduhan “campur tangan ceroboh terhadap urusan luar negeri”, yang jika terbukti bersalah dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 15 tahun.
Menurut laporan jurnalis The Australian, Liam Mendes, pada Agustus tahun lalu ia pernah berbincang langsung dengan Zheng di toko roti tempatnya bekerja. Mendes mengatakan bahwa pernyataan Zheng tentang “ingin menjalani hidup yang tenang” hanyalah kedok, sementara sebenarnya ia sedang diselidiki oleh otoritas Australia karena diduga mengumpulkan intelijen untuk PKT.
Berdasarkan dokumen pengadilan, ketiga warga negara Tiongkok tersebut dituduh menerima instruksi dari pejabat PKT untuk menyusup ke sebuah kelompok Buddhis di Canberra. Menurut catatan percakapan yang diungkap polisi, pejabat PKT tersebut mendorong mereka untuk menyusup ke lingkaran inti kelompok itu dan berusaha naik ke posisi yang lebih tinggi. Ia bahkan menyatakan bahwa jika mereka berhasil naik cukup tinggi, mereka akan langsung mendapat pujian dari pimpinan Beijing.
Polisi menyebutkan bahwa para tersangka, sesuai instruksi, mengumpulkan informasi terkait kelompok tersebut dari media sosial dan sumber terbuka lainnya, lalu menyusun dan membagikan data tersebut kepada pihak PKT.
Saat ini, ketiganya telah dibebaskan dengan jaminan dan menyatakan tidak mengaku bersalah.
Menanggapi kasus ini, Direktur Jenderal Australian Security Intelligence Organisation (ASIO), Mike Burgess, menegaskan bahwa campur tangan asing merupakan salah satu ancaman keamanan utama Australia.
Ia mengatakan bahwa sejumlah rezim asing sedang memantau, mengganggu, dan mengintimidasi anggota komunitas diaspora di Australia. Perilaku semacam ini sama sekali tidak dapat diterima dan tidak akan ditoleransi.
Sementara itu, Wakil Komisaris Australian Federal Police (AFP), Nat, menyatakan bahwa anggota komunitas dengan latar belakang budaya dan bahasa yang beragam lebih rentan menjadi korban campur tangan asing atau penindasan lintas negara. (Hui)
Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television, Fu Yu.
EtIndonesia. Saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras, angkatan laut Iran dan Rusia pada Kamis menggelar latihan militer gabungan dan meluncurkan rudal anti-kapal. Di Teluk Persia, awan perang kian menebal. Seiring meningkatnya ketegangan AS–Iran, pemerintah Polandia juga mendesak warganya untuk segera meninggalkan Iran.
Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato di hadapan para perwira militer, menegaskan posisi Israel dalam perundingan antara AS dan Iran. Ia sekaligus memperingatkan Iran agar tidak bertindak gegabah.
Netanyahu menyatakan: “Kaum ekstremis menolak untuk menyerah. Mereka sedang berkonsolidasi kembali dan bersiap menantang kami sekali lagi.”
Ia menambahkan: “Jika para Ali Khamenei melakukan kesalahan dengan menyerang kami, mereka akan menghadapi serangan balasan yang tak terbayangkan.”
Menurut kantor berita resmi Iran, pada Kamis (19 Februari) angkatan laut Iran dan Rusia menggelar latihan gabungan di Teluk Oman dan Samudra Hindia. Iran juga mengeluarkan peringatan penembakan roket kepada pilot di kawasan tersebut, mengisyaratkan bahwa latihan itu mencakup peluncuran rudal anti-kapal.
Sementara itu, Amerika Serikat terus menambah pengerahan pasukan ke Timur Tengah. Berdasarkan data situs pelacak, kapal induk USS Gerald R. Ford tiba di lepas pantai Maroko pada Rabu (18 Februari) siang. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tempur kapal induk Ford kemungkinan sedang melintasi Selat Gibraltar menuju Mediterania Timur. Pada saat yang sama, skuadron pesawat tempur AS juga dikerahkan secara intensif ke Timur Tengah.
Dengan meningkatnya ketegangan AS–Iran, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mendesak warga Polandia untuk segera meninggalkan Iran, dengan peringatan bahwa jika terlambat, evakuasi yang aman mungkin tidak lagi memungkinkan.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa pemerintahan Trump sedang membahas berbagai opsi terkait Iran. Ia memperingatkan rezim diktator Iran bahwa mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat adalah pilihan yang paling bijak.
Leavitt menyatakan: “Alasan dan dasar untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran memang ada. Seperti yang Anda ketahui, Presiden sebagai Panglima Tertinggi pernah berhasil melaksanakan Operasi ‘Midnight Hammer’ yang menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Namun Presiden selalu menegaskan bahwa, baik terhadap Iran maupun negara mana pun di dunia, diplomasi tetap menjadi pilihan utamanya.” (Hui)
Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.
EtIndonesia. Pada Kamis (19 Februari), Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam acara pembukaan Board of Peace bahwa Amerika Serikat siap menyediakan dana bagi PBB dengan tujuan memperkuat fungsinya, agar lembaga tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Ia menggunakan istilah “menghidupkan kembali” untuk menggambarkan arah kebijakan ke depan, seraya mengatakan bahwa PBB memiliki potensi besar, namun selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Trump menyebut bahwa Komite Perdamaian, sampai batas tertentu, akan mengawasi PBB guna memastikan organisasi itu berfungsi dengan semestinya. Amerika Serikat akan memberikan dukungan finansial untuk menjamin kelengkapan fasilitasnya.
Trump juga memuji sumber daya manusia di internal PBB, mengatakan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Ia menilai PBB pada akhirnya harus menjalankan peran yang semestinya, dan hari itu akan menjadi hari yang besar.
Perlu dijelaskan latar belakangnya. Amerika Serikat selama ini merupakan penyumbang terbesar anggaran PBB. Namun, selama masa pemerintahan Trump, AS menolak membayar iuran wajib untuk anggaran reguler dan anggaran misi penjaga perdamaian PBB, serta secara signifikan mengurangi sumbangan sukarela kepada berbagai badan PBB.
Pada 11 Februari 2026, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengungkapkan di Jenewa bahwa Amerika Serikat akan membayarkan sejumlah dana dalam beberapa minggu ke depan, namun sekaligus menuntut reformasi PBB.
Ia mengatakan kepada media bahwa AS akan terus memberikan tekanan agar PBB meningkatkan efisiensi, dan menuntut lembaga-lembaga tersebut untuk menyelesaikan setidaknya jumlah pekerjaan yang sama dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Trump juga menyampaikan pernyataan serupa bulan lalu, dengan mengatakan bahwa PBB seharusnya bertanggung jawab dalam menyelesaikan konflik dan perang, namun kenyataannya belum demikian. (hui)
EtIndonesia. Seorang pria duduk di dek kapal sambil membaca koran. Tiba-tiba, hembusan angin kencang menerbangkan topi barunya ke laut. Dia hanya menyentuh kepalanya sebentar, melirik topi yang jatuh ke air, lalu melanjutkan membaca koran.
Orang lain yang melihat kejadian itu merasa heran dan berkata: “Tuan, topi Anda jatuh ke laut!”
“Ya, saya tahu. Terima kasih,” jawabnya singkat, sambil tetap membaca.
“Padahal topi itu harganya puluhan dolar!”
“Benar,” katanya tenang. “Saya sedang memikirkan bagaimana caranya berhemat untuk membeli topi yang baru. Topi itu memang membuat saya sayang, tapi… apakah dia masih bisa kembali?”
Setelah berkata demikian, dia kembali membaca koran.
Memang benar—yang sudah hilang, tetaplah hilang. Mengapa harus panik berlebihan atau terus-menerus memikirkannya?
Mengapa Kehilangan Menyiksa Kita?
Banyak orang pernah mengalami kehilangan sesuatu yang penting atau sangat disayangi. Misalnya, gaji yang baru diterima tiba-tiba hilang, sepeda kesayangan dicuri, atau pasangan yang telah bersama bertahun-tahun tiba-tiba pergi begitu saja.
Semua itu sering kali meninggalkan bayangan gelap dalam hati, bahkan membuat seseorang menderita cukup lama.
Akar masalahnya sering kali bukan pada kehilangan itu sendiri,melainkan karena kita tidak menyesuaikan sikap batin untuk menerimanya.
Kita tidak mau mengakui kehilangan secara psikologis, terus tenggelam dalam sesuatu yang sudah tidak ada, tanpa berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Orang sering menghibur mereka yang kehilangan dengan berkata : “Kalau yang lama tidak pergi, yang baru tidak akan datang.”
Dan memang, itulah kenyataannya.
Daripada menyesali sepeda yang hilang, lebih baik memikirkan bagaimana cara membeli yang baru. Daripada terpuruk karena pasangan berpamitan dan pergi, lebih baik bangkit kembali, memulai ulang, dan membuka diri untuk cinta yang baru.
Dua Sikap, Dua Hasil
Dua orang temanku pernah bepergian bersama. Menjelang pulang, mereka menyadari bahwa dompet mereka hilang.
Salah satu dari mereka kembali ke semua tempat yang pernah dikunjungi, bertanya ke banyak orang, bahkan melapor ke kantor polisi— namun hasilnya nihil.
Temanku yang lain bersikap berbeda. Setelah menyadari dompetnya hilang, dia tidak larut dalam penyesalan, melainkan aktif mencari solusi: bagaimana caranya mendapatkan ongkos untuk pulang.
Dia masuk ke sebuah restoran dan menjelaskan kondisinya kepada pemilik restoran. Akhirnya, dia bekerja mencuci sayuran di dapur restoran itu, dan dari situlah dia mendapatkan ongkos pulang— bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk temannya.
Sejak saat itu, dia bahkan menjalin persahabatan dengan pemilik restoran tersebut dan masih saling berkirim surat hingga kini.
Sampai sekarang, setiap kali mengingat kejadian itu, dia selalu berkata: “Waktu liburan itu singkat, hal-hal menariknya begitu banyak. Terus-menerus merisaukan dompet yang hilang sungguh tidak sepadan.”
Temanku ini memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi ucapannya sarat dengan kebijaksanaan hidup.
Kehilangan dan Sikap Hidup
Dalam hidup, setiap orang pasti pernah kehilangan. Namun cara menghadapi kehilangan itulah yang membedakan seseorang dengan yang lain.
Ada orang yang terus-menerus menceritakan kepada siapa pun betapa berharganya barang yang hilang itu. Namun ada pula yang bersikap berbeda.
Misalnya, ketika kehilangan pekerjaan, mereka tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan aktif mencari pekerjaan baru.
Mereka percaya bahwa kehilangan bukan berarti gagal, karena setelah kehilangan, kita masih bisa memiliki kembali.
Inilah sikap mental yang dimiliki oleh orang-orang yang berhasil.
Renungan
Kehilangan sesuatu yang berbeda akan memunculkan reaksi yang berbeda pula. Tingkat kesedihan seseorang sangat bergantung pada nilai dan tingkat “ketergantian” dari orang, benda, atau peristiwa yang hilang itu.
Menurut saya, menghadapi kehilangan dengan optimisme adalah sebuah kelapangan jiwa. Namun sebelum benar-benar melepaskan, setidaknya kita perlu berusaha.
Misalnya kehilangan seorang kekasih — bisa jadi dengan usaha dan perubahan diri, hubungan itu masih bisa diperbaiki dan kebahagiaan kembali diraih.
Jika bahkan usaha sekecil itu pun tidak mau dilakukan, mungkin hubungan tersebut tidak pernah benar-benar bernilai istimewa di hati.
Begitu pula dengan dompet yang hilang. Bisa saja dompet itu jatuh di dekat kaki atau di bawah kursi. Jika bahkan mencari di sekitar pun tidak mau dilakukan, maka kehilangan itu memang seolah sudah “ditakdirkan”.
Namun menurut saya, sebelum berusaha, sebaiknya tetapkan batas kerugian (stop loss). Ketika usaha yang dilakukan sudah melampaui batas itu, berhentilah tepat waktu, agar kita tidak kehilangan lebih banyak lagi.(jhn/yn)
Saudara raja Inggris itu ditangkap pada ulang tahunnya yang ke-66 atas dugaan pelanggaran jabatan publik setelah dirilisnya email Epstein.
EtIndonesia. Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor, saudara dari Raja Inggris Charles III, dibebaskan pada Kamis (19/2/2026) malam setelah ditahan selama 11 jam di rumahnya, menurut Kepolisian Thames Valley.
Mountbatten-Windsor ditangkap atas dugaan pelanggaran jabatan publik.
Kepolisian Thames Valley mengonfirmasi penangkapan pada 19 Februari terhadap seorang pria berusia 60-an dari Norfolk di Inggris timur, menyusul tuduhan terhadap mantan pangeran dan Duke of York itu setelah dirilisnya jutaan halaman berkas terkait pelaku kejahatan seks Jeffrey Epstein.
Kepolisian, yang mengawasi wilayah di barat London—termasuk area bekas kediaman Mountbatten-Windsor—menolak menyebutkan nama tersangka sesuai praktik standar di Inggris, tetapi merujuk pada pernyataan sebelumnya ketika diminta oleh The Associated Press untuk mengonfirmasi apakah mantan pangeran tersebut telah ditangkap.
Foto-foto yang beredar secara daring tampak menunjukkan mobil polisi tanpa tanda mendatangi Wood Farm di Sandringham Estate, Norfolk, dan petugas berpakaian sipil terlihat berkumpul di luar rumah mantan duke tersebut pada ulang tahunnya yang ke-66.
Kepolisian Thames Valley sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya sedang meninjau tuduhan bahwa seorang wanita dewasa diperdagangkan ke Inggris oleh Epstein untuk melakukan hubungan seksual dengan Mountbatten-Windsor, serta klaim bahwa ia membagikan informasi sensitif kepada pelaku kejahatan seks itu saat menjabat sebagai utusan perdagangan Inggris.
Penggeledahan sedang dilakukan di alamat-alamat di Berkshire dan Norfolk, kata polisi.
Mantan duke itu tinggal di Sandringham setelah diusir oleh kakaknya, Raja Charles, dari kediaman sebelumnya di Royal Lodge di Windsor awal bulan ini.
Polisi mengatakan dalam sebuah pernyataan sebelum Mountbatten-Windsor dibebaskan bahwa pada 19 Februari mereka “menangkap seorang pria berusia 60-an dari Norfolk atas dugaan pelanggaran jabatan publik dan sedang melakukan penggeledahan di alamat-alamat di Berkshire dan Norfolk.”
Polisi memperingatkan, “Harap diingat bahwa kasus ini sekarang aktif sehingga harus berhati-hati dalam setiap publikasi agar tidak dianggap menghina pengadilan.”
‘Kepentingan Publik yang Signifikan’
Asisten Kepala Polisi Oliver Wright mengatakan, “Setelah penilaian menyeluruh, kami kini telah membuka penyelidikan atas dugaan pelanggaran jabatan publik ini.”
Tidak lagi menjadi anggota resmi keluarga kerajaan dan secara efektif berstatus warga biasa, mantan duke itu dilaporkan kepada polisi oleh kelompok kampanye anti-monarki Republic setelah dirilisnya berkas terbaru terkait Epstein, yang divonis pada 2008 atas tuduhan meminta layanan prostitusi dari seorang anak di bawah umur.
Gelombang terbaru berkas yang dirilis pada 30 Januari oleh Departemen Kehakiman AS menunjukkan bahwa Mountbatten-Windsor pada 2010 meneruskan kepada Epstein laporan tentang Singapura, Vietnam, dan tempat lain yang ia kunjungi dalam perjalanan resmi sebagai utusan perdagangan.
Raja: ‘Hukum Harus Berjalan’
Raja mengatakan bahwa “hukum harus berjalan sebagaimana mestinya” setelah ia menyampaikan “keprihatinan mendalam” atas penangkapan saudaranya.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan melalui Istana Buckingham, raja mengakui penangkapan saudaranya dan mengatakan, “Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, [polisi] mendapat dukungan dan kerja sama penuh serta sepenuh hati dari kami.”
Istana sebelumnya mengatakan akan “siap mendukung” polisi jika diminta terkait tuduhan terhadap mantan duke tersebut, dan bahwa “pikiran dan simpati terdalam” Raja Charles dan istrinya, Queen Camilla, “telah dan akan tetap bersama para korban dan penyintas dari segala bentuk pelecehan.”
Pengungkapan dan Tuduhan
Mantan duke itu dicabut gelarnya oleh raja setelah pengungkapan tentang luasnya persahabatan dan komunikasinya dengan pelaku kejahatan seks tersebut, menyusul penerbitan anumerta sebuah buku oleh Virginia Giuffre, yang menuduh dirinya diperdagangkan oleh Epstein dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell, saat ia masih remaja.
Pada 2022, mantan duke itu mencapai penyelesaian gugatan dengan Giuffre, yang menuduhnya berhubungan seksual dengannya saat ia berusia 17 tahun setelah diperkenalkan oleh Epstein. Mountbatten-Windsor mengatakan ia tidak mengingat pernah bertemu Giuffre, yang merupakan aktivis paling menonjol bagi para korban Epstein sebelum ia meninggal karena bunuh diri di Australia Barat pada April 2025.
Mantan duke tersebut adalah anggota senior keluarga kerajaan Inggris pertama dalam sejarah modern yang pernah ditangkap.
Mendiang Queen Elizabeth II bersikeras agar mantan duke itu mundur dari kehidupan publik setelah skandal yang mengikutinya terkait tuduhan Giuffre dan penampilannya di BBC Newsnight pada November 2019.
Jacki Thrapp dan The Associated Press berkontribusi pada laporan ini.
Gelombang dokumen terakhir mengungkap sempit dan rapuhnya jaringan elite—serta peringatan sejarah tentang bahaya yang tak boleh diabaikan.
Tamuz Itai
Ketika Departemen Kehakiman AS merilis apa yang disebut sebagai gelombang terakhir dokumen Jeffrey Epstein berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein pada 30 Januari—hampir 3,5 juta halaman secara total—narasi hukum hampir tidak berubah. Tidak muncul dakwaan besar baru. Yang berubah adalah kisah sosialnya.
Berkas-berkas itu kembali menyingkap dunia yang jarang dilihat kebanyakan orang: jaringan yang sangat erat di puncak politik, keuangan, kerajaan, akademisi, dan selebritas. Bukan putusan pengadilan atau bukti yang menentukan—melainkan kedekatan.
Nama-nama muncul bersama, kontak tercatat, serta ruangan dan penerbangan yang dibagi bersama. Reaksinya bersifat emosional, bukan hanya di Amerika tetapi juga di seberang Atlantik.
Di Inggris, misalnya, hubungan yang kembali terungkap—khususnya yang melibatkan Peter Mandelson dan koneksi terdokumentasinya dengan Epstein—memicu krisis baru di kalangan Partai Buruh.
Surat kabar mempertanyakan proses pemeriksaan kelayakan, para menteri kabinet menjauhkan diri dari penunjukan yang sebelumnya dianggap rutin, dan pemberontakan internal mulai muncul. Para pemimpin dipaksa menjelaskan bukan kejahatan, tetapi hubungan yang terus berlanjut. The Telegraph menangkap suasana tersebut: sebuah pemerintahan di bawah tekanan ketika kepercayaan publik berbenturan dengan jaringan sosial elite, memicu pemberontakan terbuka di dalam partai yang berkuasa.
Tiba-tiba, publik dapat melihat betapa kecilnya dunia kekuasaan sebenarnya—betapa sering nama-nama yang sama muncul kembali, betapa saling terhubungnya lingkaran elite, dan betapa cepat kedekatan berubah menjadi racun politik ketika kepercayaan retak.
Sebagian besar nama yang muncul dalam diskusi publik belum menghadapi dakwaan. Kemunculan bukanlah bukti kesalahan. Hubungan bukanlah vonis. Namun reaksi publik jarang mengikuti logika ruang sidang. Ia berfungsi seperti uji tekanan: sebuah foto, hubungan sosial, dan keputusan pemeriksaan kelayakan semuanya menjadi referendum atas penilaian seseorang.
Pertanyaan intinya tampak sederhana: Bagaimana seseorang seperti Epstein dapat tertanam begitu dalam dalam jaringan elite tanpa memicu alarm? Pertanyaan itu melampaui satu skandal, karena sejarah menunjukkan hal ini sama sekali bukan hal baru.
Kebanyakan orang membayangkan korupsi elite sebagai konspirasi. Kenyataannya biasanya lebih biasa—dan mungkin lebih berbahaya. Masyarakat elite beroperasi seperti ekosistem sosial. Undangan, patronase, konferensi, yayasan, dewan penasihat, makan malam pribadi—itulah mekanismenya.
Kehadiran menjadi mata uang, akses menjadi reputasi, dan reputasi menjadi kekuasaan. Anda tidak harus menyukai semua orang dalam lingkaran itu. Anda hanya harus terus beredar di dalamnya. Secara alami, seseorang dalam lingkaran seperti itu akan memiliki banyak foto dirinya tersenyum bersama orang lain di berbagai acara publik dan pribadi. Ini tidak menyiratkan kesalahan.
Perputaran ini menciptakan paradoks: kepercayaan, keakraban, dan kontak berulang yang membuat jaringan elite berfungsi justru melindungi mereka. Orang-orang berasumsi bahwa mereka yang berada di sekitar mereka telah diperiksa sebelumnya. Reputasi menjadi memperkuat dirinya sendiri. Mengungkap keraguan menjadi mahal secara sosial—tidak ada yang ingin menjadi pembawa alarm di ruangan penuh teman berkuasa, karena biayanya sangat besar.
Titik buta terbentuk melalui kenyamanan. Sosok yang memiliki koneksi luas menjadi jembatan; jembatan jarang dipertanyakan karena mempertanyakannya mengancam semua orang yang melintasinya. Sistem melindungi jembatan itu sampai runtuh—baru kemudian semua orang bertanya bagaimana ia bisa berdiri begitu lama.
Mekanisme Pembusukan
Kemerosotan elite dimulai dengan sebuah narasi yang diceritakan elite—dan mereka yang ingin menjadi bagian darinya—kepada diri mereka sendiri. Setiap kelas penguasa yang stabil mengembangkan pembagian mental: mereka yang berada di dalam lingkaran dan semua orang di luar. Tidak dikodifikasi, tidak diumumkan, tetapi terlihat dalam perilaku. Lingkaran itu menjadi titik acuan realitas. Masalah dibahas dan risiko dinilai di dalamnya. Kewajiban moral menyusut hingga batas lingkaran itu, dan penderitaan di luar menjadi abstrak.
Ini bukan hal modern. Ini adalah salah satu tanda peringatan paling konsisten dalam sejarah sebuah masyarakat.
Di Roma akhir, keluarga aristokrat memerintah provinsi melalui sistem pajak yang tidak lagi mereka alami secara pribadi; para senator memperdebatkan kebijakan fiskal sementara infrastruktur membusuk. Kekaisaran melemah bukan karena elite adalah penjahat karikatur, tetapi karena mereka berhenti merasakan konsekuensi keputusan mereka. Ekstraksi berlanjut sementara timbal balik memudar.
Pasukan Prancis menyerbu Bastille selama Revolusi Prancis. Penjara tersebut melambangkan monarki Bourbon yang dibenci, dan Hari Bastille kini diperingati sebagai awal revolusi. Foto oleh Rischgitz/Getty Images.
Di Prancis Bourbon, Versailles menjadi alam sosial yang terpisah. Kaum bangsawan bersaing untuk kedekatan dengan raja sementara kekurangan gandum melanda wilayah-wilayah. Kerusuhan roti hanyalah gangguan di pinggiran dunia mereka, bukan peringatan sistemik. Ungkapan apokrif “biarkan mereka makan kue” bertahan karena menangkap kebenaran psikologis yang lebih dalam: elite tidak lagi memahami kondisi orang-orang yang mereka perintah.
Di Rusia sebelum 1917, aristokrasi bersifat Eropa secara budaya, berbahasa Prancis, dan terisolasi secara sosial—hidup di salon sementara penderitaan industri memburuk di kota-kota yang jarang mereka masuki. Keruntuhan mengejutkan mereka bukan karena tanda-tandanya tidak ada, tetapi karena mereka hidup di dunia yang berbeda.
Di Tiongkok Dinasti Qing akhir, kehidupan berputar di sekitar ritual istana dan manuver faksi sementara tekanan asing dan kerusuhan domestik meningkat. Korupsi sering kali merupakan bentuk pelestarian diri institusional—melindungi jaringan, bukan mereformasi sistem. Negara menjadi kosong dari dalam.
Pergeseran Rasa Berhak
Pergeseran rasa berhak memperburuk keadaan. Elite jarang bangun sebagai penjahat. Mereka bangun dengan keyakinan bahwa mereka diperlukan: politisi memikul tanggung jawab nasional, ilmuwan memajukan umat manusia, dan seniman mempertahankan budaya. Keyakinan ini sering benar. Bahaya muncul ketika pentingnya peran itu diam-diam berubah menjadi pengecualian—“imbalan saya harus luar biasa,” “batas normal tidak sepenuhnya berlaku bagi saya.”
Perubahan ini jarang disadari. Ini adalah rasionalisasi lambat—pujian dari patron, akses dari jaringan, kemewahan yang dibingkai ulang sebagai hal yang pantas. Tanda peringatan menjadi kabur. Batas menjadi lunak. Lingkungan yang akan mengkhawatirkan orang luar terasa normal bagi orang dalam, yang yakin bahwa mereka memang pantas berada di sana.
Korupsi tidak selalu bersifat finansial. Kadang bersifat moral. Ia jarang mengumumkan dirinya saat terjadi. Elite terbangun dalam narasi yang nyaman namun mematikan: sistem stabil, lingkaran kompeten, gangguan berasal dari luar. Begitu kelas penguasa melihat dirinya terpisah, akuntabilitas menjadi opsional. Reputasi di dalam lingkaran mengalahkan legitimasi di luar. Peta moral menyusut. Korupsi mulai tampak seperti administrasi normal.
Situasi di Bawah Tekanan
Ketika kelas penguasa terlalu jauh terpisah, kebencian menumpuk. Lembaga menyerap tekanan untuk sementara waktu. Lalu, tiba-tiba, tidak lagi.
Waktu Revolusi Prancis lebih penting daripada slogannya. Reformasi mungkin dilakukan selama beberapa dekade sebelum 1789—restrukturisasi fiskal, konsesi, dan modernisasi pajak dibahas tetapi tertunda oleh keengganan elite menyerahkan hak istimewa. Ketika perubahan datang, itu berupa pembalasan, bukan reformasi. Guillotine tanpa henti Maximilien Robespierre adalah tekanan yang berubah menjadi mesin.
Lintasan Rusia 1917 serupa: keresahan terlihat, reformasi diusulkan tetapi ditunda atau dilemahkan. Keruntuhan menghasilkan bukan penyesuaian liberal, tetapi mesin pembunuh. Jutaan orang tewas karena perubahan bertahap ditunda sampai perpecahan radikal tampak sebagai satu-satunya jalan yang kredibel.
Dalam kedua kasus, generasi berikutnya bertanya: Bisakah ini dihindari? Bukan dengan menghapus elite, tetapi dengan mengambil tanggung jawab lebih awal, menunjukkan pengendalian diri, dan memastikan akuntabilitas. Ketika reformasi datang lebih awal, masyarakat melentur. Ketika terlambat, mereka patah. Koreksi yang tertunda menghasilkan ekstremitas, bukan keseimbangan. Ia menghancurkan sistem tanpa pandang bulu. Orang biasa—bukan hanya arsitek kemerosotan—berada dalam radius ledakan.
Namun sejarah juga mencatat hampir-terjadi. Inggris abad ke-19 menghadapi keresahan industri, kemiskinan, dan eksklusi yang dapat memicu keruntuhan seperti Prancis. Reformasi bertahap—perluasan representasi dan perbaikan kondisi buruh—menegosiasikan ulang kontrak sosial dan mencegah keruntuhan. Eropa Barat pasca-1945, yang terguncang oleh dua perang hampir bunuh diri, membangun sistem dan pengawasan bukan dari amal, tetapi sebagai bentuk pelestarian diri.
Perlindungan elite modern terlihat berbeda—tanpa kemegahan Versailles, tetapi dengan penyimpangan institusional. Kebijakan era pandemi menciptakan persepsi standar yang berubah-ubah dan perbedaan pendapat yang diabaikan. Globalisasi menghasilkan kekayaan tingkat atas sementara mengosongkan komunitas industri—dirasakan sebagai pengabaian.
Kesimpulan
Ketika warga menyimpulkan bahwa elite mendapat keuntungan sementara yang lain menanggung risiko, timbal balik retak. Kontrak sosial tidak memperbaiki dirinya sendiri.
Elite tidak terhindarkan, dan mungkin diinginkan, dalam peradaban. Pertanyaannya adalah apakah mereka mengingat fungsi mereka. Kekuasaan tanpa kewajiban merusak legitimasi; kekuasaan dengan kewajiban mempertahankannya. Akuntabilitas memerlukan menghadapi kesalahan—tanpa siklus balas dendam. Tanpa akuntabilitas, kepercayaan mati. Tanpa pengampunan (atau setidaknya penahanan diri), politik menjadi perang saudara permanen.
Peringatan sejarah brutal, dan pelajarannya sederhana: Ketika elite tetap membumi, koreksi berlangsung damai. Ketika mereka terlepas, koreksi bisa menjadi kekerasan. Pilihan itu muncul dalam keputusan kecil—transparansi, pengendalian diri, kerendahan hati, tanggung jawab. Keputusan-keputusan itu dapat menentukan apakah masyarakat melentur atau patah.
Berkas Epstein adalah cermin. Ia memaksa pertanyaan yang tak terhindarkan di setiap zaman: Apakah mereka yang paling dekat dengan kekuasaan akan memperlakukan kedekatan sebagai hak istimewa—atau sebagai kewajiban?
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Tamuz Itai adalah seorang jurnalis dan kolumnis yang tinggal di Tel Aviv, Israel.
Departemen Kehakiman AS menerbitkan lebih dari 3,5 juta dokumen pada akhir Januari sesuai dengan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein.
oleh Jacki Thrapp
Pengunduran diri tokoh-tokoh terkemuka mulai terjadi setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis 3 juta dokumen terkait pelaku kejahatan seks yang telah divonis, Jeffrey Epstein, seorang pemodal Amerika yang ditemukan tewas pada Agustus 2019 di sel penjara Manhattan saat menghadapi tuduhan perdagangan seks.
Casey Wasserman, seorang eksekutif bakat dan ketua komite penyelenggara Olimpiade Los Angeles 2028, mengumumkan pada 13 Februari rencana untuk menjual agensi bakatnya setelah namanya muncul dalam berkas Epstein.
Nama Wasserman disebut dalam 87 dokumen, termasuk sejumlah pesan kepada mantan pacar dan rekan Epstein, Ghislaine Maxwell.
Maxwell adalah seorang sosialita dengan jaringan luas yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah membantu memancing gadis-gadis remaja untuk dilecehkan secara seksual oleh Epstein.
Klien agensi bakat olahraga, musik, dan budaya milik Wasserman termasuk Emma Stone, Nikki Glaser, dan komedian Nate Bargatze.
Penyanyi “Pink Pony Club,” Chappell Roan, mengumumkan bahwa ia meninggalkan agensi tersebut setelah Wasserman muncul dalam email dengan Maxwell.
Kathy Ruemmler mengumumkan pada 12 Februari bahwa ia akan mengundurkan diri sebagai kepala petugas hukum dan penasihat umum Goldman Sachs pada akhir Juni 2026.
Ruemmler, yang sebelumnya menjabat sebagai penasihat Gedung Putih untuk Presiden Barack Obama, berulang kali berusaha menjauhkan diri dari email-email yang tampaknya menunjukkan hubungan dekat dengan Epstein.
Salah satu email menunjukkan ia menyebut Epstein sebagai “Paman Jeffrey” hanya beberapa bulan sebelum Epstein ditangkap pada Juli 2019.
Sultan Ahmed bin Sulayem digantikan sebagai ketua DP World, salah satu perusahaan logistik terbesar di dunia, setelah berkas Epstein menunjukkan ia memiliki percakapan cabul dengan pemodal tersebut.
Salah satu email yang dikirim Epstein kepada Sulayem pada April 2016 berbunyi: “tidak ada gadis di Dubai yang aman malam ini.”
Peter Mandelson dipecat oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada September 2025 dari jabatannya sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat setelah hubungannya dengan pelaku kejahatan seks yang telah divonis itu terungkap lebih dekat dari yang sebelumnya diketahui.
Mandelson kini menghadapi penyelidikan kriminal setelah dokumen terbaru menunjukkan bahwa ia diduga membagikan informasi sensitif pasar kepada Epstein sekitar satu setengah dekade lalu.
Brad Karp mengundurkan diri sebagai ketua Paul, Weiss, Rifkind, Wharton & Garrison, salah satu firma hukum paling bergengsi di Amerika Serikat, pada 4 Februari.
Keputusan Karp untuk mundur dari jabatan yang dipegangnya sejak 2008 terjadi setelah ia disebut ratusan kali dalam berkas Epstein.
Pengacara tersebut menyatakan bahwa “pemberitaan terbaru telah menciptakan gangguan dan menempatkan fokus pada diri saya yang bukan merupakan kepentingan terbaik” bagi Paul Weiss.
Ia akan tetap bekerja di firma tersebut.
The Epoch Times telah menghubungi Casey Wasserman, Brad Karp, Kathy Ruemmler, dan DP World untuk memberikan komentar. Informasi Peter Mandelson tidak tersedia.
The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.
Jacki Thrapp adalah jurnalis pemenang Penghargaan Emmy® yang berbasis di Nashville. Ia sebelumnya bekerja di The New York Post, Fox News Channel, dan telah menulis serangkaian musikal Off-Broadway di New York City. Ia dapat dihubungi di [email protected]
Artikel ini awalnya diterbitkan dalam bahasa Inggris.