Maduro Ditangkap, Warganet Tiongkok Berharap Militer AS Menangkap Xi Jinping: “Sudah Antre Lama Sampai Kaki Mati Rasa”

EtIndonesia. Pada 3 Januari waktu setempat, kabar serangan mendadak militer Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan hidup-hidup Presiden Nicolás Maduro mengguncang dunia. Di saat yang sama, banyak warganet Tiongkok ikut bereaksi keras, bahkan berharap militer AS segera menangkap pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping.

Sejumlah komentar bernada satir bermunculan, di antaranya:“Rakyat Tiongkok sudah antre begitu lama sampai kaki mati rasa. Amerika, cepatlah bergerak!”

Masih pada 3 Januari, Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah berhasil melancarkan operasi terhadap Venezuela, menangkap Maduro beserta istrinya, dan membawa mereka keluar dari wilayah Venezuela.

Pada hari yang sama, Maduro dan istrinya diterbangkan ke New York. Dalam tayangan yang beredar, Maduro terlihat mengenakan borgol kaki saat turun dari pesawat, sebelum kemudian diangkut menggunakan helikopter ke Metropolitan Detention Center di Brooklyn untuk menjalani penahanan.

Hal yang menjadi sorotan adalah bahwa sebelum penangkapan terjadi, delegasi resmi Tiongkok sempat melakukan pertemuan tertutup selama berjam-jam dengan Maduro. Pemerintah Tiongkok sendiri kerap menyebut para pemimpin otoriter seperti Maduro sebagai “sahabat lama”. Setelah kabar penangkapan itu tersebar, reaksi di kalangan diaspora dan komunitas Tionghoa di dalam maupun luar negeri pun langsung meledak.

Di platform Douyin, banyak warganet Tiongkok memuji kekuatan militer AS, dengan komentar seperti: “Menangkap seorang presiden lebih cepat daripada menangkap anak ayam. Luar biasa!”

Sebagian lainnya menyindir pendekatan militer AS yang dinilai berbeda jauh dengan gaya Beijing, dengan mengatakan bahwa Amerika tidak mengandalkan latihan pamer kekuatan atau retorika kosong, melainkan bertindak cepat dan tegas:

  • “Tidak ada latihan, tidak ada peribahasa—langsung ditangkap.”
  • “Setiap hari menertawakan orang lain, eh ternyata kuatnya mengerikan.”

Ada pula warganet yang mendorong Trump agar ‘lebih murah hati’, dengan komentar bernada sarkas: “Pak Trump, sekalian saja tangkap beberapa diktator lagi. Kalau sudah cukup satu meja, barulah dunia benar-benar damai!”

Di komunitas berbahasa Mandarin di platform X, komentar bernada satir dan provokatif semakin ramai, antara lain:

  • “Rakyat Tiongkok sudah antre lama, kaki sampai mati rasa. Amerika, cepatlah!”
  • “Bukankah ‘200 jin’ (julukan Xi Jinping) dagingnya lebih banyak? Kapan ditangkap?”
  • “Menunggu adegan ini terjadi di Tiongkok! Tangkap hidup-hidup Xi Jinping, adili Xi Jinping!”
  • “Inilah suara hati mayoritas rakyat Tiongkok.”

Pada 4 Januari, seorang pengusaha asal Shanghai, Hu Liren, menulis di platform X bahwa penangkapan Maduro membuat Xi Jinping memasuki fase ketakutan ekstrem.

Dia mengklaim: “Hari ini beredar kabar di Beijing bahwa Xi Jinping mulai memperketat sistem pengamanan pribadinya. Basis-basis militer di sekitar Beijing menunjukkan pergerakan pasukan dengan frekuensi tinggi, dan kemungkinan besar banyak sistem bunker bawah tanah di sekitar ibu kota juga mulai diaktifkan.”(jhn/yn)

Hanya 2,5 Jam! 150 Pesawat dan Heli AS Dikerahkan dan Maduro Berhasil Ditangkap Hidup–hidup

Dalam konferensi pers pada 3 Januar 2026, militer Amerika Serikat memaparkan secara rinci operasi penyerbuan mendadak ke Venezuela pada dini hari hari itu, yang berujung pada penangkapan diktator negara tersebut, Nicolás Maduro.

EtIndonesia. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Dan Razin Caine, menjelaskan berbagai detail operasi militer yang mengejutkan dunia ini. Ia menyatakan bahwa lebih dari 150 pesawat militer terlibat dalam operasi yang diberi nama sandi “Operation Absolute Resolve.” Pasukan militer tiba di kediaman Maduro pada pukul 02.01 waktu setempat, dan seluruh operasi hanya berlangsung sekitar dua setengah jam.

Jenderal Caine mengatakan, ini adalah operasi berskala besar yang melibatkan kerja sama semua matra militer dan lembaga intelijen, yang telah direncanakan dengan sangat matang dan memerlukan persiapan selama berbulan-bulan. Persiapan tersebut mencakup penguntitan terhadap Maduro untuk “memahami pola pergerakannya, tempat tinggal, tujuan perjalanan, kebiasaan makan, serta cara berpakaian.”

Sebelumnya, media melaporkan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) telah menempatkan sebuah tim kecil di wilayah Venezuela sejak musim panas, guna memantau aktivitas Maduro secara ketat.

Menurut penjelasan Jenderal Caine, Presiden Trump pada pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS 2 Januari 2026 memberikan perintah final untuk memulai operasi Venezuela. Pada malam itu, lebih dari 150 pesawat lepas landas dari 20 pangkalan berbeda di darat dan laut di belahan bumi barat. Pesawat-pesawat tersebut termasuk helikopter yang membawa pasukan penangkap, yang terbang memasuki wilayah Venezuela pada ketinggian hanya sekitar 100 kaki di atas permukaan laut.

Donald Trump mengunggah sebuah foto di platform media sosial Truth Social yang memperlihatkan Maduro ditangkap di atas kapal induk USS Iwo Jima. (Akun Verified Truth Social Donald Trump)

Dengan perlindungan dari serangkaian serangan udara AS di kawasan tersebut, helikopter-helikopter itu tiba di kediaman Maduro pada pukul 01.01 waktu Pantai Timur AS  3 Januari, atau pukul 02.01 dini hari waktu setempat Caracas. Setelah itu, pasukan penangkap mendarat di kompleks kediaman Maduro dan bergerak maju menuju target dengan cepat, presisi, dan terkoordinasi.

Helikopter-helikopter terbang melintas di tengah kepulan asap yang membubung dari ledakan-ledakan di Caracas, Venezuela, 3 Januari 2026, dalam cuplikan layar yang diperoleh dari rekaman video milik Reuters.
Video diperoleh dari Reuters/via REUTERS

Caine merinci bahwa selain helikopter yang membawa pasukan penyerbu untuk menangkap Maduro, jet tempur siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, jet tempur F-18 Super Hornet, serta pesawat pengebom B-1B Lancer juga dilibatkan dalam operasi tersebut.

Pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler turut membantu dalam penekanan dan pelumpuhan sistem pertahanan udara Venezuela.

Caine mengatakan bahwa pesawat pendukung lainnya, termasuk banyak drone yang dikendalikan dari jarak jauh, juga ikut membantu misi ini.

“Ketika pasukan mulai mendekati Caracas, komponen udara gabungan mulai membongkar dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela, dengan menggunakan persenjataan untuk memastikan jalur aman bagi helikopter agar dapat masuk ke wilayah target,” ujar Caine.

Di tengah kekacauan yang mengguyur sistem pertahanan udara Venezuela, Caine mengatakan bahwa para perencana misi menilai pasukan penyerbu yang diangkut dengan helikopter berhasil tetap nyaris tidak terdeteksi, sehingga mereka dapat melanjutkan pergerakan menuju sasaran.

Caine juga menyebutkan bahwa ketika pasukan penyerbu semakin mendekati target, sebuah tim intelijen darat terus memberikan pembaruan situasi secara real time mengenai kondisi di lokasi Maduro.

Ia menambahkan bahwa Maduro dan istrinya kemudian menyerah dan ditahan. Meskipun sempat terjadi baku tembak, tidak ada korban di pihak militer AS.

 Setelah target berhasil diamankan, helikopter dipanggil untuk mengevakuasi mereka, sementara pesawat tempur memberikan perlindungan udara dan tembakan penekan.

Jenderal Caine menyatakan bahwa pada pukul 03.29 waktu Pantai Timur AS—kurang dari dua setengah jam setelah memasuki kediaman Maduro—Maduro dan istrinya telah dibawa ke kapal induk Amerika Serikat USS Iwo Jima. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju New York untuk menghadapi proses pengadilan. (Hui)

Maduro Digiring ke Amerika Serikat dengan Sandal, Video Memalukan Terungkap

EtIndonesia.  Pada 3 Januari, beredar luas video pengawalan Presiden Venezuela yang telah dilengserkan, Nicolás Maduro, dan istrinya ke Markas Besar Badan Pemberantasan Narkoba Amerika Serikat (DEA) di New York. Dalam video tersebut, Maduro terlihat mengenakan sandal jepit dan tampak sangat terhina serta kacau.

Setelah tiba di New York, rekaman pertama saat Maduro turun dari pesawat muncul di platform X. Dia terlihat mengenakan hoodie abu-abu, berjalan dengan langkah tertatih, sementara puluhan agen Amerika Serikat mengelilinginya dari berbagai sisi.

Video tersebut pertama kali disebarkan oleh seorang jurnalis bernama Nick Soto, yang menyindir keras kondisi Maduro: “Maduro benar-benar kehilangan muka, dan keadaannya hanya akan menjadi semakin buruk.”

Selain itu, video lain yang menunjukkan Maduro dan istrinya dikawal ketat oleh pasukan bersenjata AS menuju Markas Besar DEA di New York juga beredar luas di X. Dalam rekaman tersebut, keduanya tampak kebingungan dan tak berdaya, sementara Maduro digiring melewati gedung markas DEA oleh para agen.

Nick Soto kembali melontarkan komentar pedas:“Kalian tahu, ini jelas merupakan penghinaan besar baginya (Maduro). Sepertinya dia bukan lagi sosok ‘jagoan keras’ seperti yang selama ini dia pamerkan, bukan?”

Berbagai video penangkapan dan pengawalan Maduro ke New York memicu ledakan reaksi warganet.

 Seorang netizen menyindir: “Nah, sekarang urusan visa sudah tak perlu dipikirkan lagi.”

Ada pula warganet yang menyinggung pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, dengan komentar: “Di mana sekarang sahabat baiknya?”

Bahkan, sebagian komentar lain berbunyi lebih tajam: “Kalau yang ditangkap ‘Baozi’ (Xi Jinping), para pengkhianat dan mata-mata internal pasti tidak sedikit. Bisa jadi malah jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Soalnya terlalu banyak orang yang dia sakiti dan sudah lama kehilangan dukungan rakyat.” (jhn/yn)

Kumpulan Foto: Maduro Ditangkap Hidup-hidup dan Diterbangkan ke New York

EtIndonesia. Pada sore hari waktu setempat, 3 Januari, setelah militer Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya, keduanya diterbangkan ke New York.

Setibanya di sana, Maduro terlebih dahulu dibawa ke Markas Besar Badan Pemberantasan Narkoba Amerika Serikat (DEA) untuk menjalani prosedur administrasi dan hukum terkait penahanan, sebelum akhirnya diangkut dengan helikopter ke Metropolitan Detention Center di Brooklyn untuk ditahan.

Sejumlah besar wartawan media internasional tampak menunggu di bandara serta di sekitar pusat penahanan. Di saat yang sama, banyak warga Venezuela berkumpul di lokasi tersebut untuk merayakan runtuhnya rezim diktator Maduro.

Keterangan Foto Rinci:

Keterangan foto: Pesawat yang membawa Maduro tiba di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart, Newburgh, Negara Bagian New York. (Leonardo Munoz / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Sebuah kendaraan lapis baja tiba di Markas Besar DEA di Lower Manhattan, tempat Presiden Venezuela Nicolás Maduro dipindahkan untuk menjalani proses hukum. (Bryan R. Smith / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Kendaraan lapis baja memasuki Markas Besar DEA di Lower Manhattan, membawa Maduro ke dalam gedung tersebut. (Bryan R. Smith / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Warga berkumpul di luar Markas Besar DEA di New York, saat Maduro yang telah ditangkap dipindahkan ke lokasi ini.
(Bryan R. Smith / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Kendaraan lapis baja mundur memasuki Markas Besar DEA di Lower Manhattan, tempat Maduro akan diproses secara hukum. (Bryan R. Smith / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Konvoi kendaraan bersenjata yang membawa Maduro meninggalkan kawasan Manhattan, New York. (Ryan Murphy / Getty Images)
Keterangan foto : Sebelum kedatangan Maduro, kendaraan lapis baja milik aparat penegak hukum AS telah disiagakan di Helipad West Side, New York.(ANGELA WEISS / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Helikopter yang membawa Presiden Venezuela yang telah dilengserkan, Nicolás Maduro, tiba di Helipad West Side, New York. (Andres Kudacki / Getty Images)
Keterangan foto :Helikopter yang membawa Maduro berputar di atas Metropolitan Detention Center, Brooklyn, tempat ia akan ditahan. (John Lamparski / AFP via Getty Images)
Keterangan foto :Konvoi kendaraan bersenjata yang membawa Maduro meninggalkan Helipad West Side, New York, dengan puluhan wartawan berkumpul di seberang lokasi. (TIMOTHY A. CLARY / AFP via Getty Images)
Keterangan foto : Tampak Metropolitan Detention Center di Brooklyn, lokasi penahanan Presiden Venezuela yang telah ditangkap, Nicolás Maduro. (John Lamparski / AFP via Getty Images)
Keterangan foto :Di luar Metropolitan Detention Center, Brooklyn, seorang warga Venezuela terlihat merayakan penangkapan Maduro oleh militer AS. (John Lamparski / AFP via Getty Images)
Keterangan foto :Polisi bersenjata berjaga di depan Metropolitan Detention Center, Brooklyn, tempat Maduro akan ditahan. (John Lamparski / AFP via Getty Images)
Keterangan foto :Sebuah mobil polisi menutup akses jalan menuju Metropolitan Detention Center, Brooklyn, lokasi penahanan Maduro. (John Lamparski / AFP via Getty Images)
Keterangan foto :Di luar Metropolitan Detention Center, Brooklyn, warga mengibarkan bendera Venezuela untuk merayakan, sementara Maduro akan ditahan di dalam fasilitas tersebut.  (John Lamparski / AFP via Getty Images)

Trump Umumkan Pengambilalihan Venezuela dengan Batas Waktu yang Belum Ditentukan?

ETIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengambilalihan Venezuela dengan batas waktu yang belum ditentukan? Maduro ditangkap, rakyat Venezuela bersorak, warganet Tiongkok ramai menulis “terima keberuntungan”; daratan Tiongkok muncul “revolusi toilet”, menyerukan militer AS membebaskan rakyat Tiongkok; Trump “sekali panah dua sasaran”, poros kejahatan baru terguncang!

Konferensi pers di Mar-a-Lago mengungkap lebih banyak rincian operasi militer AS 

Rakyat Venezuela Bersorak, Warganet Tiongkok Menyerukan Militer AS

Li Yu: Pemirsa sekalian, Berikut kami lanjutkan pembaruan terkait penangkapan kilat Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS. Dalam program sebelumnya, kami telah membahas sebagian detail penangkapan Maduro. Bagi yang tertarik, silakan menontonnya kembali.

Zheng Zhi:
Tepat siang hari ini, Presiden Trump menggelar konferensi pers di Mar-a-Lago terkait peristiwa tersebut, secara resmi mengumumkan bahwa dalam operasi kilat militer AS, Maduro dan istrinya telah ditangkap.

Li Yu:
Wow, meskipun kabar ini sudah kita lihat sejak pagi, mendengar Trump sendiri mengkonfirmasikannya secara terbuka tetap memberikan kesan yang berbeda. Kekuatan dan daya gentar militer AS benar-benar terasa nyata.

Zheng Zhi:
Benar. Kita melihat dalam konferensi pers di Mar-a-Lago ini hadir pula Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Li Yu:
Sebelum konferensi pers dimulai, Trump lebih dulu mengunggah di Truth Social sebuah foto penangkapan Maduro di kapal serbu amfibi USS Iwo Jima. Setelah itu, dalam konferensi pers, Trump mengungkap lebih banyak detail operasi tersebut.

Zheng Zhi:
Pertama, operasi rahasia yang menargetkan Maduro ini secara internal dinamai Operation Absolute Resolve atau Operasi Tekad Mutlak. Operasi tersebut dilakukan oleh sebuah tim kecil yang terdiri dari agen Amerika dan pasukan khusus militer AS, yang bergerak cepat di tengah malam dan menangkap pasangan Maduro di dekat ibu kota Venezuela. Tidak ada korban jiwa dalam operasi ini, dan seluruh pesawat militer kembali ke Amerika dengan selamat.

Li Yu:
Detail yang diumumkan juga mencakup bahwa Presiden Trump mengeluarkan perintah akhir pada pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS untuk memulai operasi ini. Pada pukul 01.01 dini hari keesokan harinya, militer AS tiba di kediaman Maduro. Pada pukul 03.29 waktu Pantai Timur, pasangan Maduro dibawa naik pesawat dan kembali ke Amerika Serikat.

Zheng Zhi:
Trump mengatakan bahwa jika diperlukan, militer AS sebenarnya bisa saja langsung membunuh Maduro dalam operasi malam tersebut. Trump kembali menegaskan proses “menghancurkan kekuatan musuh dengan cepat”, seraya menunjukkan bahwa saat itu terdapat banyak kekuatan musuh di lokasi.

Li Yu:
Trump berkata, “Orang-orang ingin tahu apakah kami mengejutkan mereka? Dalam tingkat tertentu memang mendadak, tetapi mereka juga telah menunggu sesuatu terjadi. Saat itu ada banyak kekuatan musuh, dan terjadi baku tembak yang sengit.”

Zheng Zhi:
Selain itu, operasi malam tersebut hampir sepenuhnya dilakukan dalam kondisi gelap gulita. Trump mengungkapkan bahwa ini adalah “salah satu demonstrasi kekuatan dan kemampuan militer AS yang paling menakjubkan, paling efektif, dan paling mengguncang dalam sejarah Amerika”. Ia juga menyebut bahwa militer AS memadamkan sebagian besar lampu di ibu kota Caracas selama operasi berlangsung.

Li Yu:
Ini benar-benar seperti adegan film aksi Hollywood—pasukan khusus AS bergerak cepat dalam kegelapan dan menangkap target secara kilat. Jujur saja, ini lebih seru daripada semua film yang pernah saya tonton!

Zheng Zhi:
Betul. Trump juga menambahkan bahwa saat itu “seluruh kekuatan militer Venezuela sudah kehilangan kemampuan tempur”, dan bahwa tentara AS bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS untuk menangkapnya. Pada saat operasi berlangsung, “seluruh lokasi benar-benar gelap, hampir semua lampu di Caracas padam”.

Li Yu:
Lalu bagaimana Presiden bisa mengetahui detail operasi sedemikian rinci dan menggambarkannya dengan sangat hidup kepada publik? Jawabannya sederhana: saat militer AS menjalankan operasi tersebut, Trump sedang menonton siaran langsung.

Zheng Zhi:
Bahkan penangkapan kepala negara pun bisa disiarkan langsung—benar-benar pantas disebut Amerika. Setelah konferensi pers berakhir, Trump segera mengunggah serangkaian foto di Truth Social yang menunjukkan dirinya bersama Direktur CIA, Menlu Rubio, dan Menhan Hegseth sedang menyaksikan operasi terhadap Venezuela.

Li Yu:
Rangkaian foto ini tanpa diragukan lagi menjadi materi promosi terbaik bagi kekuatan nasional Amerika. Setelah operasi ini, popularitas Trump pasti akan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Zheng Zhi:
Kita bisa melihat bahwa semua yang hadir tampak serius dan rapi dengan setelan jas. Jika dibandingkan dengan Maduro yang ditangkap mengenakan setelan olahraga abu-abu merek Nike, kontrasnya sungguh kejam.

Li Yu:
Berbicara soal itu, saya melihat ada warganet yang menelusuri pakaian yang dikenakan Maduro saat ditangkap—ternyata itu adalah setelan olahraga abu-abu Nike senilai 100 euro. Ada yang bercanda bahwa salah satu “pemenang” dari penangkapan ini mungkin Nike, karena banyak orang akan mengikuti tren dan membeli “versi Maduro”.

Zheng Zhi:
Haha, itu memang lucu. Nah, setelah penangkapan Maduro, Venezuela kini memasuki masa tanpa pemerintahan yang jelas. Lalu ke mana arah masa depan negara itu?

Li Yu:
Pertama, Trump mengumumkan bahwa Wakil Presiden pemerintahan Maduro, Delcy Rodríguez, telah menyatakan diri menjabat sebagai presiden setelah penangkapan Maduro. Trump juga mengatakan bahwa presiden baru ini menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Zheng Zhi:
Namun, klaim Trump ini untuk sementara belum mendapat konfirmasi dari pihak Venezuela. Terlepas dari apakah presiden sementara ini akan bekerja sama dengan AS atau tidak, jelas Amerika ingin mengendalikan arah perkembangan situasi. Dalam konferensi pers hari ini, Trump mengumumkan sebuah kabar besar: Amerika Serikat akan mengambil alih Venezuela hingga terjadi “transisi kekuasaan yang aman”.

Li Yu:
Trump berkata, “Kami akan mengambil alih negara ini sampai kami dapat melakukan serah terima kekuasaan yang aman, layak, dan berhati-hati.”

Zheng Zhi:
Untuk mewujudkan hal ini, Trump mengumumkan bahwa AS akan membentuk sebuah tim untuk mengelola Venezuela, dan saat ini sedang menunjuk personel. Tim awal kemungkinan akan mencakup Menlu Rubio dan Menhan Hegseth.

Li Yu:
Dengan demikian, Rubio yang sudah memegang banyak jabatan akan bertambah satu lagi. Selain di tingkat pemerintahan, di sektor energi—yang paling diperhatikan dunia—Amerika juga memiliki rencana tersendiri. Trump mengatakan akan mengizinkan perusahaan minyak AS masuk ke Venezuela.

Zheng Zhi:
Trump menyatakan, “Kami akan mengirim perusahaan minyak Amerika kami yang besar—yang terbesar di dunia—ke Venezuela, menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, khususnya infrastruktur minyak, dan mulai menciptakan keuntungan bagi negara ini.”

Li Yu:
Selain pengambilalihan oleh Amerika, satu tokoh lain yang banyak diperkirakan publik adalah pemimpin oposisi María Corina Machado, yang sebelumnya dengan bantuan AS berhasil melarikan diri dari Venezuela. Kisah pelariannya juga penuh ketegangan, tidak kalah dramatis dibanding penangkapan Maduro, dan telah kami bahas secara rinci dalam program sebelumnya.

Zheng Zhi:
Setelah Maduro ditangkap, Machado menyebut ini sebagai “momen bersejarah” dari perjuangannya selama bertahun-tahun melawan kediktatoran dan memperjuangkan demokrasi. Ia juga menyerukan bahwa ini menandai “datangnya saat kebebasan”, serta menyatakan bahwa oposisi seharusnya mengambil alih kepemimpinan Venezuela dalam kerangka konstitusi dan pemilu untuk memulihkan kedaulatan dan ketertiban negara.

Li Yu:
Namun, seperti yang telah kami sebutkan, Amerika telah siap mengambil alih Venezuela, dan presiden sementara yang ada tampaknya juga bekerja sama dengan AS. Apakah pemimpin oposisi yang kini berada di pengasingan itu bisa kembali ke Venezuela dan memegang kekuasaan masih menjadi tanda tanya.

Zheng Zhi:
Apa pun perkembangan selanjutnya, yang jelas Amerika Serikat pasti akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk jangka waktu tertentu. Rakyat Venezuela kemungkinan besar akan menyambut pemerintahan demokratis yang sesungguhnya, dan kehidupan mereka akan mengalami perubahan besar. Karena itu, hanya suara rakyatlah yang dapat benar-benar mencerminkan makna sejati dari operasi ini.

Li Yu:
Benar. Maka mari kita lihat reaksi masyarakat Venezuela setelah penangkapan Maduro oleh militer AS.

Zheng Zhi:
Pertama, kita melihat ibu kota Caracas relatif tenang, dengan hanya sedikit kendaraan dan pejalan kaki di jalan. Dari gambar terlihat tidak ada kerusuhan atau gejolak besar.

Li Yu:
Ini menunjukkan bahwa operasi militer AS tidak terlalu mempengaruhi kehidupan sehari-hari rakyat Venezuela. Dalam masa genting seperti ini, orang-orang mungkin lebih memilih mencari tempat aman dan mengutamakan keselamatan diri. Namun mari kita dengarkan suara warga Caracas.

Zheng Zhi:
Berbeda dengan ketenangan di Caracas, komunitas diaspora Venezuela yang tinggal di negara-negara demokratis tampak jauh lebih gembira dan emosional.

Li Yu:
Ya. Pertama kita lihat Spanyol, negara dengan populasi imigran Venezuela terbesar di luar Amerika Latin dan Amerika Serikat.

Zheng Zhi:
Benar. Setelah penangkapan Maduro, warga Venezuela di Madrid berkumpul di pusat kota, saling berpelukan, mengibarkan bendera Venezuela, dan meneriakkan “kebebasan”. Beberapa bahkan menangis terharu—pemandangan yang sangat menyentuh.

Li Yu:
Ini benar-benar seperti hujan di tengah kemarau panjang!

Zheng Zhi:
Ya, terlihat jelas bahwa rakyat Venezuela telah lama menantikan hari ini.

Li Yu:
Bukan hanya di Madrid. Warga Venezuela yang mengungsi ke berbagai belahan dunia turut merayakan runtuhnya rezim diktator Maduro. Di perbatasan Kolombia pun, orang-orang mengibarkan bendera dan menangis haru.

Zheng Zhi:
Di luar Kedutaan Besar Venezuela di Lima, Peru, seorang perawat asal Venezuela meneteskan air mata, berharap bisa kembali ke tanah air untuk merawat orang tuanya yang sakit parah.

Li Yu:
Apa yang kita lihat hanyalah puncak gunung es. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB, sejak tahun 2000, sekitar 7,7 juta warga Venezuela telah meninggalkan tanah air mereka.

Zheng Zhi:
Di komunitas Venezuela di Doral, Florida, Amerika Serikat, orang-orang juga bersukacita dan merayakan runtuhnya pemerintahan Maduro.

Li Yu:
Kita tahu Venezuela selama ini memiliki ikatan politik yang sangat erat dengan PKT (Partai Komunis Tiongkok). PKT juga terus mendukung Maduro, termasuk memberikan pinjaman lebih dari 100 miliar dolar AS, yang mencakup lebih dari 40% dari total pinjaman Tiongkok ke Amerika Latin.

Zheng Zhi:
Dengan demikian, runtuhnya rezim Maduro juga menjadi pukulan besar bagi PKT. Terlebih di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok, pinjaman ini praktis lenyap dalam semalam, dan kemungkinan akan terus berdampak pada ekonomi Tiongkok.

Li Yu:
Pada saat yang sama, sebagai sesama rezim otoriter, penangkapan Maduro juga berdampak besar secara psikologis bagi rakyat Tiongkok daratan—ditambah dengan gelombang revolusi di Iran baru-baru ini, perasaan masyarakat Tiongkok pun semakin kuat.

Zheng Zhi:
Benar. Kita melihat di internet Tiongkok muncul fenomena yang menarik dan sarat makna tersembunyi.

Li Yu:
Di platform media sosial Tiongkok, Douyin, pada video-video terkait Presiden Trump, kolom komentar dan teks berjalan tiba-tiba dipenuhi tulisan “接好运” (menerima keberuntungan). Ada pula warganet yang langsung menulis “SOS”, mencerminkan luapan emosi yang semakin sulit dibendung.

Zheng Zhi:
Komentar-komentar ini tampak ringan di permukaan, namun sebenarnya penuh makna tersirat—lebih seperti saluran pelampiasan emosi kolektif rakyat Tiongkok.

Li Yu:
Yang lebih menarik lagi, sebuah foto kini viral di internet. Foto tersebut diduga diambil di dinding toilet umum di Tiongkok, bertuliskan:
“Selamat datang Presiden Trump untuk menangkap Xi, bebaskan 1,4 miliar rakyat Tiongkok.”

Zheng Zhi:
Tentu saja, keaslian foto ini masih perlu diverifikasi, namun sudah menyebar luas di media sosial dan memicu banyak diskusi.

Li Yu:
Apakah emosi rakyat Tiongkok ini hanya fenomena sesaat, atau justru arus bawah yang terus menguat, masih perlu kita amati lebih lanjut.

“Perisai Dewa” Buatan Tiongkok di Venezuela Tak Berdaya — Poros Kejahatan Terancam!

Zheng Zhi:
Selanjutnya mari kita bahas secara mendalam mengapa militer AS mampu berhasil melaksanakan operasi penangkapan kilat ini, khususnya bagaimana Amerika Serikat melakukan serangan udara. Kita tahu bahwa dalam beberapa bulan terakhir, militer AS telah mengerahkan kekuatan besar di kawasan Karibia Amerika Latin, termasuk kapal induk USS Ford, berbagai kapal perang, dan pesawat tempur—praktis memblokade wilayah laut Venezuela.

Li Yu:
Benar. Cadangan kekuatan militer yang sangat besar ini menjadi penopang paling kuat dan andal bagi pasukan AS yang terlibat dalam operasi tersebut. Namun dari sudut pandang militer, meskipun wilayah laut Venezuela telah diblokade, pemerintahan dan militer Maduro seharusnya masih menguasai superioritas udara di wilayah Venezuela.

Zheng Zhi:
Lalu bagaimana militer AS bisa menerobos masuk dengan satu armada pesawat secara langsung ke wilayah udara Venezuela?

Li Yu:
Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa Venezuela sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa persiapan dalam hal penguasaan udara dan pertahanan udara. Selama bertahun-tahun, militer Venezuela telah mengeluarkan dana besar untuk mengimpor peralatan militer dari Tiongkok, membangun sistem pertahanan yang diklaim sebagai “yang paling modern di Amerika Selatan”.

Zheng Zhi:
Di antaranya, jaringan pertahanan udara Venezuela yang berpusat pada radar anti-siluman JY-27, yang sebelumnya diklaim mampu “secara efektif menangkal” pesawat siluman AS seperti F-22. Selain itu, Korps Marinir Venezuela yang dilengkapi kendaraan tempur VN-16 dan VN-18 juga dianggap sebagai “pasukan lapis baja elite” di kawasan Amerika Latin.

Li Yu:
Namun dalam operasi militer AS kali ini, sistem buatan Tiongkok tersebut justru mengalami “kelumpuhan yang menghancurkan”. Sistem radar yang diklaim mampu melawan militer AS itu langsung “dibutakan” dalam gelombang pertama perang elektronik AS.

Zheng Zhi:
Dalam beberapa jam pertama operasi, militer AS melancarkan serangan perang elektronik yang sangat kuat. Berdasarkan penilaian di lapangan, layar radar Venezuela langsung dipenuhi “gangguan sinyal” besar-besaran, lalu satu per satu “ditandai” dan dihancurkan secara presisi oleh rudal anti-radiasi AS.

Li Yu:
Artinya, kemampuan “anti-siluman” yang digembar-gemborkan sama sekali tidak dapat digunakan. Seluruh sistem komando dan kendali pertahanan udara langsung menjadi “buta” sejak awal perang. Karena sistem pertahanan udara tidak merespons serangan udara yang datang, militer Venezuela pun tidak mampu mengorganisir pertahanan apa pun, bahkan pesawat tempur mereka tidak sempat lepas landas.

Zheng Zhi:
Dengan kata lain, superioritas udara Venezuela direbut sepenuhnya hanya dalam hitungan “kontak pertama”. Sementara itu, peralatan berat di darat, tanpa perlindungan udara, bahkan belum sempat menunjukkan daya tempurnya, sudah langsung dihancurkan—bahkan ada yang ditinggalkan oleh para prajurit.

Li Yu:
Sejumlah pakar militer menganalisis bahwa hal ini menunjukkan adanya kesenjangan teknologi yang sangat besar antara sistem senjata Tiongkok dan militer AS, terutama ketika menghadapi lingkungan elektromagnetik yang kompleks dan serangan presisi tingkat tinggi.

Zheng Zhi:
Sederhananya, teknologi yang oleh PKT dianggap “maju” ternyata masih tertinggal jauh dibanding teknologi AS, sehingga runtuh seperti “terbuat dari kertas” dan sama sekali tidak tahan serangan.

Li Yu:
Garis pertahanan baja Amerika Selatan yang sebelumnya diperkirakan akan melawan militer AS dengan sengit, runtuh total dalam waktu singkat. Konflik ini bukan hanya membentuk ulang situasi Venezuela, tetapi juga menyeret pemasok senjata utamanya—PKT—ke dalam sorotan tajam atas kemampuan teknologinya.

Zheng Zhi:
Selama bertahun-tahun, Venezuela dianggap sebagai “etalase pameran” senjata PKT di Amerika Latin. Namun hasil pertempuran nyata tidak bisa berbohong: sistem yang dipromosikan sebagai “mampu menandingi Barat” ternyata sangat rapuh di bawah serangan terpadu militer AS.

Li Yu:
Sementara itu, PKT masih terus menyalurkan senjata buatan Tiongkok ke anggota lain dari poros kejahatan, termasuk Rusia, Korea Utara, Kamboja, serta Iran yang kini tengah dilanda revolusi.

Zheng Zhi:
Selama ini, senjata buatan Tiongkok di berbagai medan perang dunia kerap dilaporkan bermasalah—mulai dari “meledak di dalam laras” di medan perang Thailand–Kamboja, dihantam habis-habisan oleh drone Ukraina di Rusia, hingga kegagalan peluncuran roket di dalam negeri Tiongkok sendiri. Namun, senjata Tiongkok yang langsung berhadapan dengan serangan militer AS—ini adalah yang pertama kalinya.

Li Yu:
Tampaknya hanya melalui ujian pertempuran nyata, barulah terlihat siapa yang “bermain curang”. Senjata buatan Tiongkok yang selama ini diklaim sangat kuat, ketika benar-benar berhadapan dengan musuh hipotetisnya—militer AS—ternyata hancur seketika. Ke depan, prospek penjualan senjata Tiongkok di pasar internasional tampaknya tidak akan mulus.

Zheng Zhi:
Hal ini juga menjadi peringatan keras bagi para diktator poros kejahatan: terus bersekutu dengan PKT bukan hanya berisiko memicu “operasi pemenggalan kepala” oleh militer AS, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata buatan Tiongkok ternyata sama sekali tidak memberikan perlindungan nyata.

Li Yu:
Karena itu, kita perlu menganalisis dampak berantai dari peristiwa besar yang mengguncang dunia ini terhadap situasi global. Yang pertama tentu saja Tiongkok dan Rusia—dua negara poros yang memiliki kepentingan mendalam dengan rezim Maduro. Dalam episode sebelumnya, kita juga menyebutkan bahwa sebelum ditangkap, Maduro baru saja bertemu dengan utusan khusus PKT.

Zheng Zhi:
Dari kegagalan sistem pertahanan “Perisai Dewa”, hingga dugaan utusan yang “menunjukkan jalan” bagi militer AS, PKT kali ini seperti tanpa sengaja mengirim sekutunya sendiri ke jurang. Entah bagaimana perasaan mereka sekarang.

Li Yu:
Mungkin delegasi PKT kini sudah kembali ke dalam negeri, membawa rincian kabar eksplosif ini kepada Xi Jinping. Ada warganet yang berspekulasi bahwa Zhongnanhai kini gemetar ketakutan, khawatir giliran mereka akan tiba.

Zheng Zhi:
Namun secara resmi, PKT tetap mengutuk keras tindakan AS, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara lain—narasi lama yang diulang kembali. Yang patut dicatat, PKT tidak menuntut pembebasan Maduro, hanya meminta AS menjamin keselamatannya.

Li Yu:
Ini menunjukkan PKT juga menyadari bahwa keadaan sudah tak bisa dibalikkan. Maduro yang telah dibawa ke daratan AS praktis “tak mungkin diselamatkan”, sehingga yang tersisa hanyalah kecaman simbolis.

Zheng Zhi:
Dibanding PKT, reaksi Rusia terlihat lebih keras. Putin sendiri berkali-kali menyatakan dukungan kepada Maduro. Menurut laporan TASS, Rusia menuntut AS segera membebaskan Maduro dan menjamin keselamatannya.

Li Yu:
Namun permintaan itu ibarat “meminta palu lalu dipalu”. Meski AS tentu tak akan membebaskan Maduro, setidaknya mereka bisa membuktikan bahwa ia masih hidup. Maka muncullah foto yang dirilis Trump—Maduro ditahan di atas kapal.

Zheng Zhi:
Melihat reaksi Tiongkok dan Rusia, respons mereka tampak tidak sekeras yang dibayangkan. Namun ini tidak berarti dampaknya kecil. Justru sebaliknya, jatuhnya Maduro akan langsung mengguncang tatanan PKT di Amerika Latin—karena bahkan perwakilan terbesarnya pun telah lepas dari kendali.

Li Yu:
Selain itu, selama ini PKT telah membangun struktur energi dan utang di Venezuela. Kini dengan penangkapan Maduro dan pengumuman AS untuk “terlibat secara mendalam” dalam rekonstruksi energi—terutama industri minyak—akses PKT terhadap minyak murah Amerika Selatan akan menjadi sejarah.

Zheng Zhi:
Lebih jauh lagi, rezim Maduro sebagai salah satu kelompok kriminal militer terbesar di Amerika Selatan selama ini menjadi payung bagi aktivitas gelap PKT di kawasan tersebut. Kini payung itu telah disingkirkan AS, dan jaringan produksi narkoba, perdagangan narkoba, perdagangan manusia, bahkan perdagangan organ yang terkait PKT terancam dibongkar total.

Li Yu:
Pusat penipuan daring PKT di Kamboja telah dihancurkan, industri narkoba di Venezuela ikut runtuh. Jaringan bisnis gelap PKT di luar negeri kini nyaris habis.

Zheng Zhi:
Dari sudut pandang hubungan internasional, jaringan “kekuatan abu-abu” PKT di Amerika Latin—termasuk Meksiko, Kolombia, Kuba—sedang dibongkar satu per satu.

Li Yu:
Seperti yang disebutkan, pengaruh PKT di Amerika Latin bukan dibangun lewat ideologi, melainkan uang, infrastruktur, energi pasar gelap, dan industri abu-abu. Secara permukaan tampak sebagai hubungan antarnegara, namun sebenarnya merupakan simpul penting penyelundupan narkoba dan pencucian uang.

Zheng Zhi:
Venezuela adalah “pusat kunci” dalam rantai ini—penyelundupan minyak untuk uang tunai, produksi dan distribusi narkoba, pencucian uang, lalu dana dialirkan kembali ke sistem lepas pantai PKT. Model ini telah berjalan bertahun-tahun dan menopang pengaruh gelap PKT di luar negeri.

Li Yu:
Kini simpul-simpul ini diputus secara bersamaan. Kecepatan aksi militer AS menunjukkan bahwa yang mereka bidik bukan satu negara atau satu rezim, melainkan seluruh jaringan lintas benua.

Zheng Zhi:
Inilah sebabnya reaksi diplomatik PKT belakangan terlihat pasif dan gelisah. Hilangnya jaringan bisnis gelap ini bukan hanya soal uang, tetapi soal kendali. Tanpa dana dan jalur abu-abu, sulit memelihara proksi dan membeli loyalitas politik.

Li Yu:
Terus terang, yang dihadapi PKT bukan sekadar “jatuhnya satu sekutu”, melainkan runtuhnya seluruh perangkat kekuasaan informal yang selama ini diandalkan di luar negeri. Inilah yang paling membuat Beijing resah.

Zheng Zhi:
Bagi Rusia di Eropa, dampaknya lebih bersifat strategis. Rusia kini terlibat tarik-ulur perundingan damai dengan Ukraina dan Eropa. Meski ada mediasi AS, sikap Rusia tetap ambigu.

Li Yu:
Seperti yang telah kami analisis sebelumnya, Rusia sebenarnya bukan ingin damai, melainkan memanfaatkan perundingan untuk mengulur waktu dan menguasai wilayah timur Ukraina.

Zheng Zhi:
Strategi “mengulur waktu” Rusia juga bertujuan mengalihkan perhatian AS. Dukungan terbuka Putin kepada Maduro sebenarnya dimaksudkan untuk menahan AS di “halaman belakangnya” sendiri.

Li Yu:
Namun tak ada yang menyangka militer AS akan bertindak secepat ini—tebasan tajam tanpa memberi waktu reaksi. Pedang Damokles yang menggantung di atas kepala Maduro dan para sekutunya pun jatuh tanpa peringatan.

Zheng Zhi:
Di antara poros kejahatan baru—Tiongkok, Rusia, Korea Utara, dan Iran—Tiongkok dan Rusia jelas terpukul keras. Korea Utara hingga kini belum memberi respons resmi. Tinggal Iran.

Li Yu:
Iran belakangan ini “panas”. Di tengah Tahun Baru, gelombang revolusi besar meletus, bermula dari masalah ekonomi dan berujung pada perlawanan terhadap rezim.

Zheng Zhi:
Hari ini, setelah penangkapan Maduro, Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan keras mengecam AS, menyebutnya pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.

Li Yu:
Nada ini sangat familiar—retorika resmi yang dipelajari dari diplomasi PKT. Pemimpin tertinggi Iran, Khamenei, juga menyatakan Iran tidak akan tunduk kepada “musuh”.

Zheng Zhi:
Meski tidak secara langsung menyinggung Maduro, sikap keras ini mencerminkan posisinya. Namun menurut laporan HAM, lebih dari 10 demonstran telah tewas dalam bentrokan dengan militer Iran—bertentangan langsung dengan peringatan Trump agar kekerasan dihentikan, atau AS akan turun tangan.

Li Yu:
Dengan contoh Maduro di depan mata, seberapa lama Khamenei dan rezim teokratisnya bisa bertahan, apalagi jika hanya mengandalkan senjata buatan Tiongkok yang “sekali sentuh langsung hancur”?

Zheng Zhi:
Situasinya jelas tidak optimis. Sejumlah pengamat menilai bahwa Trump memperingatkan Iran, lalu langsung menghantam Maduro—ini bukan hanya intimidasi terhadap Iran, tetapi terhadap semua diktator poros kejahatan.

Li Yu:
Ada pula warganet yang menyebut Trump “sekali panah dua sasaran”, memangkas dua sekutu PKT sekaligus. Baik di Amerika Latin maupun Timur Tengah, PKT terancam kalah total.

Zheng Zhi:
Bahkan jika Iran benar-benar mengalami revolusi, Rusia juga akan menanggung kerugian besar. Pasalnya, lebih dari 90% drone yang digunakan Rusia di medan perang Ukraina berasal dari Iran.

Li Yu:
Jika jalur Iran terputus—entah karena gangguan produksi, embargo, atau perubahan rezim—itu akan menjadi mimpi buruk bagi Rusia di medan perang.

Zheng Zhi:
Dari sudut ini, “sekali panah dua sasaran” bahkan memiliki lapisan ketiga: AS tidak hanya menghantam jaringan luar negeri PKT, tetapi juga mengguncang fondasi logistik perang Rusia.

Li Yu:
Jika Venezuela di Amerika Latin dan Iran di Timur Tengah sama-sama mengalami perubahan struktural, rantai “aset–bisnis gelap–militer” Tiongkok–Rusia bisa runtuh berantai.

Zheng Zhi:
Apa pun pilihan Khamenei—melawan hingga akhir atau berpaling ke Barat—hasilnya sama: poros kejahatan akan terpecah.

Li Yu:
Mungkin inilah yang disebut orang sebagai “kejahatan tak pernah menang atas kebenaran”. Dengan Maduro dipenjara di AS, seluruh poros kejahatan kini berada dalam kondisi genting.

Zheng Zhi:
Demikianlah episode kali ini. Kami akan terus mengikuti perkembangan terbaru dan analisis mendalam. Jangan lewatkan. (Hui)

Detik-detik Maduro dan Istrinya Dibawa ke New York dan Menjalani Sidang Perdana

EtIndonesia. Pada  3 Januari 2026 dini hari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dideportasi keluar dari Venezuela. Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan bahwa pasangan Maduro telah didakwa di Distrik Selatan New York.

Maduro Diperkirakan Hadir di Sidang Perdana pada 5 Januari

Seorang pejabat Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa Maduro dan istrinya telah dikawal ke New York untuk diadili. Ia akan menghadapi dakwaan terkait narkotika dan kepemilikan senjata, dan diperkirakan akan menjalani sidang perdana pada 5 Januari.

Departemen Kehakiman menyebutkan bahwa Maduro menghadapi tuduhan konspirasi narkoterorisme, kepemilikan senapan mesin, dan kejahatan lain yang ditujukan terhadap Amerika Serikat. Pasangan Maduro telah didakwa oleh Pengadilan Distrik Federal Distrik Selatan New York.

Pada 3 Januari 2026, sebuah kendaraan berlapis baja tiba di markas besar Badan Pengendalian Narkotika (DEA) di Lower Manhattan, tempat Presiden Venezuela Maduro akan dipindahkan. (Bryan R. SMITH / AFP via Getty Images)
Pada 3 Januari 2026, petugas polisi bersenjata tiba di Pusat Penahanan Metropolitan di Brooklyn, Kota New York, tempat Presiden yang digulingkan Nicolás Maduro diperkirakan akan ditahan. (John Lamparski / AFP via Getty Images)

FAA Menutup Sementara Wilayah Udara Karibia

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan dalam pemberitahuan penerbangan bahwa, karena “risiko keselamatan penerbangan akibat operasi militer yang sedang berlangsung”, wilayah udara Karibia ditutup sementara dan maskapai AS dilarang masuk. FAA juga mengeluarkan peringatan keselamatan kepada maskapai non-AS agar menghindari wilayah udara Venezuela.

Maduro Turun dari Pesawat dengan Borgol Kaki

Pada 3 Januari sore waktu setempat, pesawat yang membawa Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya tiba di New York. Maduro terlihat turun dari pesawat dengan borgol kaki. Pada malam harinya, ia dibawa dengan helikopter ke Metropolitan Detention Center di Brooklyn untuk ditahan.

Militer AS Menangkap Maduro: Reaksi Domestik dan Internasional

Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan “serangan besar-besaran” terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Maduro beserta istrinya. Langkah ini mengguncang dunia—sejumlah negara mengecam, sementara sekutu Washington secara terbuka menyatakan dukungan.

Wakil Presiden Venezuela “Membela” Negara, Trump: Tidak Ada Pilihan

Trump menulis di media sosial Truth Social bahwa AS akan bekerja bersama sekelompok pihak untuk mengelola Venezuela hingga negara itu kembali ke jalur yang benar.

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah siap “membela” negara, menuntut AS segera membebaskan Maduro dan istrinya, serta menegaskan bahwa Maduro adalah “satu-satunya presiden Venezuela”.

Trump mengatakan Rodríguez belum lama ini telah bersumpah sebagai presiden. Menurut Trump, Rodríguez melakukan pembicaraan panjang dengan Menlu AS Marco Rubio dan berkata, “Apa pun yang Anda butuhkan, kami akan bekerja sama.” Trump menilai sikap Rodríguez cukup pantas, “namun pada kenyataannya ia tidak memiliki pilihan.”

Maduro Ditangkap Hidup-hidup, Bukan Dieksekusi — Analisis: Satu Langkah, Banyak Tujuan

Maduro ditangkap hidup-hidup, bukan dieksekusi; analisis menyebut langkah ini ‘sekali pukul, banyak sasaran’, sekaligus memberi efek kejut.

Pasangan Maduro Tiba di New York

【3 Januari 2026 pukul 17:10】 Pesawat yang membawa Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya mendarat di Stewart Air National Guard Base di Newburgh, New York.

Pasangan Maduro ditangkap 3 Januari dini hari di istana presiden Venezuela, kemudian dibawa ke kapal perang USS Iwo Jima, lalu diterbangkan ke New York. Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada CBS bahwa mereka diperkirakan akan ditahan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn.

Mereka dituduh melakukan konspirasi narkoterorisme, konspirasi impor kokain, dan kejahatan terkait senjata.

Trump Merilis Foto Ruang Komando

【3 Januari 13:20】 Sekitar pukul 13.20, Trump memposting 17 foto berturut-turut di Truth Social, memperlihatkan dirinya bersama sejumlah pejabat tinggi—termasuk Menlu, Menteri Pertahanan, dan Ketua Kepala Staf Gabungan—berkumpul di sebuah ruangan dengan tirai tertutup. Wajah mereka tampak serius dan tegang, duduk atau berdiri, berdiskusi atau menatap layar. Foto-foto tersebut diduga diambil di ruang komando saat serangan malam ke Venezuela berlangsung, ketika mereka memantau dan mengarahkan operasi secara real time.

Pada 3 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump mengunggah lebih dari selusin foto dari Ruang Situasi di akun ‘Truth Social’-nya, seolah-olah memantau situasi secara real time. (Akun ‘Truth Social’ Donald Trump)
Pada 3 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump mengunggah lebih dari selusin foto dari Ruang Situasi di akun ‘Truth Social’-nya, seolah-olah memantau situasi secara real time. (Akun ‘Truth Social’ Donald Trump)

Trump Merilis Foto Penangkapan Maduro

【3 Januari 11:30】 Trump mempublikasikan foto Maduro setelah ditangkap di kapal induk USS Iwo Jima.

【3 Januari 11:40】 Trump mengumumkan akan menggelar konferensi pers untuk memberikan informasi lebih lanjut.

Donald Trump mengunggah sebuah foto di platform media sosial Verified Social yang memperlihatkan Maduro ditangkap di atas kapal induk USS Iwo Jima. (Akun Verified Social Donald Trump)

Jaksa Agung AS Merilis Surat Dakwaan

【3 Januari 10:52】 Jaksa Agung Pam Bondi mempublikasikan surat dakwaan setebal 25 halaman terhadap Maduro di platform X, seraya mengucapkan terima kasih kepada Jaksa Distrik Selatan New York Jay Clayton yang menangani perkara ini.

Selain Maduro dan istrinya, beberapa pejabat tinggi Venezuela juga didakwa, termasuk Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, mantan Menteri Dalam Negeri Ramón Rodríguez Chacín, pemimpin kartel narkoba “Tren de Aragua” Héctor Rusthenfond Guerrero Flores, serta putra Maduro, Nicolás Ernesto Maduro Guerra.

Trump: Pertimbangkan Dukung Machado Pimpin Venezuela

【3 Januari 10:11】 Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan pemerintah AS akan mempertimbangkan mendukung pemimpin oposisi Venezuela dan peraih Nobel Perdamaian, María Corina Machado, yang saat ini berada di Norwegia, untuk memimpin Venezuela.

Trump: Kediaman Maduro Seperti Benteng, Ada Tentara AS Terluka

【3 Januari 9:50】 Trump mengatakan beberapa personel militer AS terluka dalam operasi tersebut, namun tidak ada korban jiwa. Ia juga menyebut telah menelepon Maduro sepekan sebelumnya dan menuntutnya menyerah. Operasi sempat ditunda karena cuaca, hingga akhirnya kondisi “sempurna”.

Vance: Penangkapan Maduro Buktikan ‘Trump Menepati Janji’

【3 Januari 9:27】 Wakil Presiden JD Vance menulis di X bahwa Presiden menawarkan banyak opsi, namun menegaskan penyelundupan narkoba harus dihentikan dan minyak curian harus dikembalikan kepada AS. Maduro disebut sebagai contoh terbaru bahwa Trump menepati kata-katanya.

Warga Venezuela di Chile Rayakan Penangkapan

【3 Januari 9:05】 Warga Venezuela yang tinggal di Santiago, Chile, merayakan penangkapan Maduro oleh pemerintah AS.

Warga Venezuela yang tinggal di Chile merayakan di Santiago pada 3 Januari 2026, setelah pasukan AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro setelah melancarkan serangan besar-besaran di Venezuela. Pemerintahan Trump pada 3 Desember menyatakan bahwa Maduro dan istrinya yang ditangkap akan menghadapi “kemarahan penuh sistem peradilan Amerika” atas tuduhan narkoba dan terorisme. (Foto oleh Javier TORRES / AFP)

Anggota DPR AS Keturunan Kuba: Penangkapan Maduro Seperti Runtuhnya Tembok Berlin

【3 Januari 8:57】 Anggota DPR AS asal Florida Carlos Giménez memuji langkah pemerintah Trump, menyebutnya peristiwa bersejarah bagi belahan bumi barat, sebanding dengan runtuhnya Tembok Berlin.

Warga Venezuela Bersorak Saat Terbangun

【3 Januari 8:21】 Ribuan warga Venezuela bersorak merayakan kabar penangkapan diktator komunis Maduro oleh militer AS.

Maduro ditangkap hidup-hidup, memicu perayaan meriah di kalangan ribuan warga Venezuela saat mereka bangun pagi. (Komposisi tangkapan layar video X)

Jaksa Agung AS Pam Bondi: Pasangan Maduro Telah Didakwa

【3 Januari 8:13】 Pam Bondi menyatakan bahwa pasangan Maduro telah didakwa di Distrik Selatan New York atas konspirasi narkoterorisme, penyelundupan kokain, serta kepemilikan ilegal senapan mesin dan bahan peledak.

Pasukan Delta Menangkap Maduro

【3 Januari 7:53】 Pejabat AS mengatakan kepada CBS News bahwa Maduro ditangkap oleh pasukan elite Delta Force, unit yang sebelumnya juga terlibat dalam operasi penewasan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi pada 2019.

Trump Konfirmasi Penangkapan dan Deportasi

【3 Januari 4:21】 Trump mengkonfirmasi melalui Truth Social bahwa AS telah melancarkan serangan besar terhadap Venezuela dan menangkap Maduro serta istrinya Cilia Flores, lalu mendeportasi mereka keluar negeri.

Sebelumnya, Maduro mengumumkan status darurat nasional. Reuters melaporkan bahwa Wakil Presiden Delcy Rodríguez mengaku pemerintah Venezuela belum mengetahui keberadaan pasangan tersebut dan meminta bukti bahwa mereka masih hidup.

Pada 3 Januari dini hari, ledakan pertama dilaporkan terjadi di Caracas, ibu kota Venezuela. Menurut pemerintah Venezuela, serangan tersebut terjadi di Caracas, serta negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.

Pada 3 Januari dini hari, ledakan terdengar di Caracas dan sejumlah wilayah lainnya. Trump menuduh Maduro membangun “negara narkoba” dan pada Oktober lalu telah memberi wewenang kepada CIA untuk melakukan operasi rahasia di Venezuela.

Jin Hong / Yue Yuan – NTDTV.com

Seluruh Matra Militer AS Dikerahkan, 150 Pesawat Terlibat dalam Operasi Gabungan untuk Menangkap Maduro

EtIndonesia. Pada Sabtu dini hari (3 Januari), Amerika Serikat berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya dalam sebuah operasi gabungan yang sangat rahasia dan belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi ini disetujui langsung oleh Presiden AS, Donald Trump dan dipimpin oleh Departemen Perang Amerika Serikat. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, untuk pertama kalinya membeberkan detail operasi tersebut kepada publik.

Jenderal Dan Caine menyatakan: “Ini adalah sebuah operasi berani yang hanya bisa dilakukan oleh Amerika Serikat. Operasi ini menuntut tingkat presisi dan integrasi tertinggi di dalam pasukan gabungan kami. Bahkan kata ‘integrasi’ saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa besar dan kompleksnya misi ini.”

Dia menegaskan bahwa seluruh cabang militer AS dikerahkan, dengan tetap menjaga kerahasiaan taktis. Selain itu, operasi ini melibatkan koordinasi yang belum pernah ada sebelumnya antara militer, badan intelijen, dan lembaga penegak hukum.

Jenderal Caine menjelaskan: “Sepanjang operasi malam hari tersebut, pesawat-pesawat lepas landas secara bergelombang dari 20 pangkalan berbeda, baik di darat maupun di laut, yang tersebar di seluruh belahan bumi barat. Total lebih dari 150 pesawat berada di udara, termasuk pembom, pesawat tempur, pesawat intelijen, pengintaian, pengawasan, serta helikopter.”

Menurutnya, angkatan udara AS sepenuhnya menekan dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela, guna memastikan helikopter dapat memasuki wilayah target dengan aman. F-22, F-35, F-18, pembom B-1, serta drone memberikan perlindungan penuh sepanjang operasi.

Operasi dimulai pada pukul 01:01 dini hari waktu Pantai Timur AS, saat tim penangkap tiba di kediaman Maduro di pusat kota Caracas.

Setelah misi selesai, pasukan AS berhasil mundur dengan selamat meskipun sempat terjadi beberapa kontak tembak defensif. Mereka meninggalkan wilayah udara Venezuela pada pukul 03:29 dini hari.

Jenderal Caine menambahkan:“Pasukan berhasil dievakuasi dan kembali ke pangkalan laut asal. Pada pukul 03: 29 waktu Pantai Timur, seluruh unsur telah meninggalkan wilayah udara perairan, dengan tersangka berada di dalam pesawat. Maduro dan istrinya kemudian dipindahkan ke kapal serbu amfibi milik Angkatan Laut AS, USS Iwo Jima.”

Menurut informasi yang beredar, badan intelijen dan militer AS telah mempersiapkan operasi ini secara rahasia selama berbulan-bulan. Bahkan, Pasukan Delta membangun replika kediaman Maduro dalam skala penuh untuk latihan intensif. CIA sudah menempatkan personel di dalam wilayah Venezuela sejak Agustus tahun lalu, serta menanamkan sumber intelijen kunci guna memantau pergerakan Maduro secara real time.

Seorang pengulas militer dan pembuat konten berita internasional, Zhou Ziding, mengatakan: “Operasi militer ini memiliki persiapan awal yang sangat besar. CIA telah lama beroperasi di Venezuela, begitu pula Badan Keamanan Nasional AS dan Badan Intelijen Geospasial. Amerika kemungkinan sudah merencanakan penangkapan Maduro sejak beberapa bulan lalu, dengan pengaturan dan latihan yang sangat panjang.”

Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa setelah 150 pesawat berbagai tipe lepas landas, militer AS melakukan penekanan besar-besaran terhadap target darat, termasuk basis pertahanan udara dan fasilitas militer penting Venezuela.  Helikopter CH-47 Chinook bertugas mengangkut pasukan, sementara helikopter serang Cobra memberikan dukungan tembakan darat. Pasukan helikopter kemudian langsung memasuki kediaman Maduro untuk menjalankan misi penangkapan.

“Maduro benar-benar tertangkap basah. Dari foto-foto yang muncul setelahnya, terlihat bahwa dia bahkan masih mengenakan pakaian tidur saat ditangkap. Apa pun penilaiannya, operasi Amerika kali ini benar-benar bersih, cepat, dan penuh kejutan. Saya beri nilai sempurna.”(jhn/yn)

Pasukan Rusia Percepat Pergerakan Maju, Ukraina Evakuasi Penduduk di Garis Depan

Di tengah terus berlanjutnya kemajuan pasukan Rusia, Ukraina pada Jumat (2 Januari) memerintahkan evakuasi paksa ribuan anak-anak beserta orangtua mereka dari wilayah garis depan di Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk

EtIndonesia. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, pasukan Rusia terus bergerak perlahan di kawasan industri utama Dnipro. Di wilayah selatan Zaporizhzhia, meskipun intensitas pertempuran tidak setinggi di Ukraina timur, laju kemajuan pasukan Rusia dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan tren percepatan.

 “Karena situasi keamanan yang sangat serius, pihak berwenang memutuskan untuk melakukan evakuasi wajib terhadap lebih dari 3.000 anak-anak beserta orang tua mereka dari 44 permukiman garis depan di wilayah Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk,” demikian menurut laporan AFP, Wakil Perdana Menteri Ukraina yang bertanggung jawab atas rekonstruksi, Oleksiy Kuleba, menulis di Telegram. 

Kuleba menambahkan bahwa operasi evakuasi juga terus berlangsung di wilayah utara Chernihiv, yang berbatasan langsung dengan Belarus dan dalam beberapa waktu terakhir juga menjadi sasaran tembakan artileri Rusia.

Ia menyatakan:  “Sejak 1 Juni, sekitar 150.000 orang telah dievakuasi dari wilayah garis depan ke daerah yang lebih aman, termasuk hampir 18.000 anak-anak serta lebih dari 5.000 penyandang disabilitas atau warga dengan keterbatasan mobilitas.”

Pada September 2022, Rusia mengklaim telah secara resmi mencaplok wilayah Zaporizhzhia, Donetsk, Luhansk, dan Kherson. Namun pada kenyataannya, Rusia belum sepenuhnya menguasai seluruh wilayah tersebut. (Hui)

BAWA SENTUHAN BARU ESTETIKA MEDIS, THE MAPLE’S BEAUTY CLINIC RESMI HADIR DI SURABAYA

0

Menawarkan Kualitas Premium, Teknologi Terkini, dan Pendekatan Anti-Aging Berbasis Medis

Surabaya, 4 Januari 2026 – The Maples Beauty Clinic setelah sukses di kota Malang dan Cibubur, hari ini Minggu (4/1) secara resmi memperluas jangkauannya dengan membuka cabang terbaru di Kota Surabaya. Berlokasi di Komplek Ruko Perkantoran Permata, HR Muhammad II Blok B 8–9, Dukuh Pakis, kehadiran cabang ini menandai komitmen The Maples Beauty Clinic dalam menghadirkan layanan estetika medis berkualitas tinggi yang aman, modern, dan terjangkau bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Didirikan sejak November 2021, The Maples Beauty Clinic telah melayani lebih dari 40.000 kunjungan pasien dalam kurun waktu empat tahun. Klinik ini dikenal unggul dalam perawatan skin quality dan facial contouring, dengan pendekatan estetika yang menitikberatkan pada hasil natural, presisi tindakan, serta kualitas kulit jangka panjang.

“Kami adalah klinik estetika yang sangat fokus pada kualitas. Mulai dari pemilihan obat, teknologi alat, hingga teknik tindakan, semuanya kami pastikan selalu yang paling terbaru dan ter-update. Dengan standar yang setara klinik besar, kami tetap berusaha memberikan harga yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan mutu,” ujar dr. Widiah Indra Arsanti, M.Biomed, Founder The Maple’s Beauty Clinic.

Fokus pada Skin Quality & Anti-Aging

The Maples Beauty Clinic mengusung konsep klinik estetika medis yang berfokus pada anti-aging, perbaikan kualitas kulit, serta pembentukan kontur wajah yang proporsional. Seluruh tindakan dilakukan langsung oleh dokter berizin dengan jam terbang tinggi, mengedepankan keterampilan tangan (artistry touch) yang menjadi salah satu keunggulan utama klinik ini.

Dengan rentang usia pasien mulai dari 20 hingga 55 tahun, The Maples menghadirkan perawatan yang disesuaikan secara personal. Pasien usia 20-an difokuskan pada peningkatan kualitas kulit dan pencegahan dini, sementara pasien usia 30 tahun ke atas diarahkan pada perawatan anti-aging yang komprehensif.

“Saat ini, kecantikan bukan lagi kebutuhan tersier. Pasien semakin cerdas dan selektif—mereka melihat legalitas klinik, kompetensi dokter, hingga standar keamanan tindakan. Itulah mengapa kami selalu memastikan seluruh layanan berjalan sesuai SOP dan standar medis,” tambah dr. Widiah.

Surabaya, Kota Strategis dengan Potensi Besar

Keputusan membuka cabang di Surabaya didasarkan pada data dan permintaan pasien yang terus meningkat. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya perawatan estetika sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Menariknya, banyak pasien The Maples Beauty Clinic sebelumnya berasal dari Surabaya dan wilayah sekitarnya seperti Sidoarjo, Madura, Banyuwangi, Probolinggo, hingga Lumajang, yang rela bepergian ke luar kota untuk mendapatkan perawatan.

“Dari data kunjungan pasien, kami melihat potensi yang sangat besar di Surabaya. Antusiasme masyarakat terhadap perawatan seperti skin booster dan contouring sangat tinggi. Ini menjadi dasar kuat bagi kami untuk hadir lebih dekat,” jelas dr. Widiah.

Kolaborasi untuk Pelayanan Optimal

Cabang Surabaya dihadirkan melalui kolaborasi tiga dokter, yakni dr. Widiah Indra Arsanti, M.Biomed, dr. Rani, dan dr. Tryas, sebagai strategi untuk menjaga kualitas layanan tetap optimal.

“Filosofi kami sederhana—pelayanan terbaik hanya bisa diberikan jika dokter dapat fokus dan tidak terbebani. Dengan kolaborasi ini, kami memastikan setiap pasien mendapatkan perhatian maksimal dan hasil terbaik,” ungkap dr. Widiah.

Filosofi Nama The Maples

Nama The Maples terinspirasi dari pohon maple—simbol keindahan, ketangguhan, dan proses alami penuaan yang tetap elegan. Daun maple yang memiliki lima ruas menyerupai jari manusia melambangkan keseimbangan, kedewasaan, dan keindahan yang tetap utuh seiring waktu.

“Kami ingin setiap pasien tetap tampil versi terbaik dari dirinya, di setiap fase usia. Seperti daun maple, menua bukan berarti kehilangan keindahan,” tutup dr. Widiah.

The Maples Beauty Clinic adalah jaringan klinik estetika medis yang berkomitmen menghadirkan perawatan kecantikan berbasis medis dengan standar keamanan tinggi, teknologi terkini, dan pendekatan personal. Hingga kini, The Maples telah hadir di Malang, Cibubur, dan Surabaya, dengan visi menjadi klinik pilihan utama bagi masyarakat Indonesia dalam mempercayakan kesehatan dan kecantikan kulitnya.

Serangan Udara Koalisi Pimpinan Saudi ke Kelompok Separatis Yaman Tewaskan 7 Orang dan Melukai Lebih dari 20 Orang

EtIndonesia. Seorang pejabat tinggi kelompok separatis Yaman yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), Mohammed Abdulmalik, menyatakan bahwa koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi pada Jumat (2 Januari) melancarkan serangan udara terhadap sebuah kamp militer milik kelompok tersebut, menewaskan tujuh orang. Secara tradisional, Arab Saudi dan UEA merupakan sekutu dekat, namun perbedaan pandangan terkait perang saudara Yaman semakin memperlebar keretakan di antara kedua negara.

Menurut laporan AFP, Abdulmalik mengatakan bahwa sebuah kamp militer menjadi sasaran tujuh kali serangan udara. Selain tujuh orang tewas, lebih dari 20 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Arab Saudi dan UEA sebelumnya bekerja sama melawan kelompok pemberontak Houthi (Ansar Allah). Namun seiring berjalannya perang, pemerintah Yaman yang didukung Saudi terlibat bentrokan internal dengan kekuatan separatis yang didukung UEA, sehingga memperdalam perselisihan antara kedua sekutu tersebut.

Pada 30 Desember lalu, Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Pelabuhan Mukalla di Yaman, dengan mengklaim bahwa sejumlah senjata dari UEA telah tiba di lokasi tersebut untuk memasok kelompok separatis Yaman. Saudi juga kemudian mengeluarkan peringatan kepada otoritas UEA.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan secara daring oleh Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Riyadh menegaskan pentingnya UEA menanggapi permintaan Republik Yaman, yakni menarik seluruh pasukannya dari Yaman dalam waktu 24 jam serta menghentikan segala bentuk dukungan militer dan finansial kepada pihak mana pun di dalam Yaman.

Perang saudara Yaman pecah pada 2014, ketika pemberontak Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa. Koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada 2015, dengan tujuan memulihkan kekuasaan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Dewan Transisi Selatan (STC) bulan lalu berhasil menguasai sebagian besar wilayah selatan Yaman, termasuk sebagian besar Provinsi Hadramawt yang kaya sumber daya, serta wilayah luas di provinsi tetangga Mahrah.

Serangan Arab Saudi pada 30 Desember lalu menandai meningkatnya ketegangan antara Riyadh dan kelompok Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA, sekaligus memperburuk hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. (Hui)

Malam Pergantian Tahun Dunia Tak Tenang, Laporan Gabungan Bencana dari Berbagai Negara

EtIndonesia. Malam pergantian tahun seharusnya dipenuhi suasana perayaan dan menjadi simbol harapan. Namun di banyak tempat, malam tersebut justru diselimuti bayang-bayang kecelakaan kembang api, cuaca ekstrem, dan tragedi migran. Dari Eropa hingga Asia, dari Timur Tengah hingga Afrika, berbagai tragedi terjadi secara beruntun menjelang dan saat Tahun Baru. Berikut rangkuman peristiwanya.

Di Eropa, Belanda mengalami sejumlah insiden terkait kembang api pada malam tahun baru. Polisi menyatakan bahwa di banyak daerah, aksi kekerasan yang dipicu oleh pembakaran dan penyalaan kembang api menyebabkan sekitar 250 orang ditangkap. Selain itu, kecelakaan kembang api menewaskan sedikitnya dua orang.

Pada saat yang sama, di pusat kota Amsterdam, sebuah bangunan bergaya Neo-Gotik bernama Gereja Vondel (Vondelkerk) yang dibangun pada tahun 1872, dilalap api tak lama setelah tengah malam dan hancur total. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Di Asia Tenggara, Filipina juga mengawali tahun baru dengan duka. Menurut data Departemen Kesehatan Filipina (DOH), secara nasional terdapat 235 orang yang terluka atau meninggal akibat insiden kembang api dan petasan. Sekitar 69% korban berusia di bawah 19 tahun, dengan Manila sebagai wilayah terdampak paling parah.

Sementara itu, Afghanistan dilanda cuaca ekstrem selama pergantian tahun. Gelombang pertama hujan lebat dan salju memang mengakhiri kekeringan berkepanjangan, namun memicu banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 11 lainnya. Bencana ini melanda sejumlah provinsi, menewaskan banyak ternak, dan berdampak pada sekitar 1.800 keluarga.

Di Afrika, tragedi terjadi di Gambia. Sebuah kapal migran yang diduga membawa lebih dari 200 orang terbalik di perairan barat laut negara tersebut. Hingga kini, tujuh jenazah telah ditemukan, 96 orang berhasil diselamatkan, sementara banyak lainnya masih dinyatakan hilang. Jalur penyelundupan laut menuju Spanyol ini telah lama dikenal sebagai salah satu rute migrasi paling berbahaya di dunia. Badan Penjaga Perbatasan Uni Eropa (Frontex) menyebutkan bahwa meskipun jumlah migran ilegal di rute Afrika Barat menurun hingga 60%, kecelakaan fatal tetap terus terjadi.

Dari kecelakaan kembang api hingga bencana alam dan tragedi kemanusiaan, berbagai insiden pada malam pergantian tahun ini kembali mengingatkan masyarakat dunia bahwa keselamatan publik, pencegahan bencana, dan kepedulian kemanusiaan tetap menjadi tantangan berat yang tak terhindarkan di tahun yang baru. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tian Xin.

Finlandia Sita Kapal Kargo yang Membawa Baja Impor dari Rusia, Diduga Akan Menghancurkan Kabel Bawah Laut  

Polisi Finlandia pada 31 Desember 2025 menyita sebuah kapal bernama Fitburg yang berangkat dari Rusia. Otoritas bea cukai mengonfirmasi pada tanggal 2 bahwa kapal tersebut mengangkut hampir 9.000 ton baja struktural asal Rusia, yang melanggar larangan perdagangan Uni Eropa terhadap Rusia. Dua awak kapal telah resmi ditangkap untuk diperiksa. Penyelidikan juga menunjukkan bahwa kapal kargo ini diduga terlibat dalam tindakan perusakan di wilayah laut yang sensitif.

EtIndonesia. Menurut data situs pelacakan kapal MarineTraffic, kapal Fitburg berangkat dari St. Petersburg, Rusia, dan semula dijadwalkan menuju Pelabuhan Haifa, Israel, dengan mengibarkan bendera kemudahan (flag of convenience) Saint Vincent dan Grenadines. 

Kini, kapal tersebut diselidiki atas dugaan tindak pidana perusakan berat dan gangguan serius terhadap telekomunikasi. Kapal telah diarahkan ke Pelabuhan Kantvik di Kirkkonummi untuk penggeledahan mendalam.

Harian Helsingin Sanomat pada tanggal 1 melaporkan bahwa Kepala Inspektur Biro Investigasi Kriminal Nasional (KRP), Risto Lohi, menyatakan pihaknya telah menyelesaikan pengumpulan bukti awal terkait jejak kerusakan pada jangkar kapal. 

Pemeriksaan awak kapal telah memasuki tahap resmi untuk mengklarifikasi kemungkinan adanya perusakan yang disengaja. Otoritas juga mengerahkan robot bawah air dan sonar pemindai samping di area dasar laut tempat kabel terputus, guna mengumpulkan barang bukti dan mencari keterkaitan dengan kapal tersebut.

Menurut laporan Penyiaran Nasional Finlandia (Yle) pada 2 Januari, dari total 14 awak kapal, terdapat warga negara Rusia, Georgia, Azerbaijan, dan Kazakhstan. Dua awak yang bertanggung jawab atas pengoperasian jangkar telah ditangkap, sementara dua lainnya dikenai larangan meninggalkan negara tersebut.

Otoritas bea cukai kini telah memulai penyelidikan pidana terkait pelanggaran sanksi, serta melakukan pengawasan ketat terhadap ruang muatan dan catatan pelayaran untuk mencegah masuknya barang-barang yang dikenai sanksi ke pasar.

Kasus ini mencuat setelah kabel laut milik operator telekomunikasi Finlandia Elisa, yang menghubungkan Finlandia dengan ibu kota Estonia, Tallinn, mengalami kerusakan pada dini hari 31 Desember 2025. Pada waktu yang hampir bersamaan, kabel data milik perusahaan Swedia Arelion juga terputus di lokasi yang berdekatan. Kedua insiden tersebut terjadi hampir bersamaan, dan titik kerusakannya berada di jalur pelayaran menuju Estonia.

Sejak tahun 2023, sedikitnya 10 kabel bawah laut di Laut Baltik telah terputus atau rusak. Banyak pakar dan politisi menilai bahwa insiden-insiden ini merupakan bagian dari strategi perang asimetris Rusia terhadap Barat, meskipun Rusia dengan tegas membantah keterlibatan dalam aksi perusakan tersebut.

Direktur Jaringan Pusat Keunggulan Penanggulangan Ancaman Hibrida Eropa (Hybrid CoE), Jukka Savolainen, memperingatkan bahwa kasus Fitburg mungkin merupakan jebakan yang dirancang Rusia. Ia menganalisis bahwa pola pencegatan kapal oleh Finlandia kemungkinan sudah diperhitungkan pihak Rusia, yang bisa memanfaatkan insiden ini untuk menuduh Finlandia melakukan pencegatan ilegal dan meningkatkan eskalasi menjadi konflik politik serta hukum.

Savolainen menekankan bahwa Finlandia saja sulit menghadapi gangguan maritim Rusia. Ia menyerukan penguatan operasi patroli dan pengawasan NATO “Baltic Sentry”, serta peningkatan penegakan hukum bersama antarnegara guna memperkuat perlindungan. (Hui)

PACIFIC CAESAR SURABAYA RESMI MELUNCURKAN TIM IBL 2026

Mengusung Semangat Baru, Siap Kembali Mengguncang Kota Pahlawan

SURABAYA – Klub basket kebanggaan Kota Pahlawan, Pacific Caesar Surabaya, secara resmi meluncurkan skuat dan jajaran mitra strategis untuk menghadapi kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) 2026. Peluncuran ini menandai babak baru perjalanan Pacific Caesar dengan semangat kebangkitan, kolektivitas, dan tekad kuat untuk kembali bersaing di papan atas bola basket nasional.

Menghadapi musim 2026, Pacific Caesar tampil dengan komposisi tim yang lebih solid, terstruktur, dan kompetitif. Komitmen tersebut diperkuat oleh dukungan sponsor utama FINNA, BRI, dan SYB, yang menjadi bukti nyata kepercayaan dunia industri terhadap visi dan arah pengembangan Pacific Caesar Surabaya.

Kesiapan Teknis dan Manajerial

Di bawah kepemimpinan Coach Bedu sebagai Head Coach, Pacific Caesar Surabaya telah menjalani rangkaian program persiapan intensif yang menitikberatkan pada peningkatan kondisi fisik, kedalaman strategi, serta ketangguhan mental para pemain.

“Kami membangun fondasi tim yang mengedepankan tempo permainan cepat, disiplin, dan kekuatan mental. Dengan komposisi pemain yang ada serta dukungan penuh dari manajemen dan sponsor, kami optimistis Pacific Caesar dapat tampil lebih kompetitif dan konsisten sepanjang musim,” ujar Coach Bedu.

Sementara itu, Dean Julyanto selaku Manajer Tim menegaskan bahwa kekuatan Pacific Caesar tidak hanya terletak pada lapangan, tetapi juga pada sinergi seluruh elemen pendukung.

“Musim ini terasa sangat istimewa karena dukungan yang kami terima begitu luas, mulai dari mitra kesehatan, teknologi, hingga brand lokal. Target kami bukan sekadar berkompetisi, tetapi menghadirkan kembali rasa bangga bagi Surabaya. Terima kasih kepada seluruh partner yang telah mempercayai Pacific Caesar di IBL 2026,” ungkap Dean Julyanto.

Ekosistem Pendukung dan Mitra Strategis

Untuk menunjang performa tim secara menyeluruh, Pacific Caesar Surabaya didukung oleh jajaran mitra resmi yang berperan penting dalam aspek profesionalisme klub, baik di dalam maupun di luar lapangan:

Official Apparel: Terra

Official Casual Wear: Illest

Official Broadband Provider: Wownet

Official Lighting Partner: HWG

Official Running Shoes: Enkai

Official Crew’s T-Shirt: Printkainmu.com

Official Hospital Partner: RS Darmo

Selain itu, Pacific Caesar Surabaya juga mendapat dukungan dari berbagai mitra lokal dan nasional, antara lain Bakso Sapi Srengege, Penyetan Cok, U8, Comunale, Hotel Dafam Pacific Caesar, TMtak, X-Eight, Stayhoops, SweatX Training, 4G Apparel, Emosijiwaku.com, dan JJ Promotion.

Dengan dukungan ekosistem yang kuat serta loyalitas para pendukung setia Kaesar Family, Pacific Caesar Surabaya optimistis dapat menampilkan performa terbaik dan mengukir prestasi membanggakan bagi Kota Surabaya di ajang IBL 2026.

Tentang Pacific Caesar Surabaya

Didirikan pada tahun 1968, Pacific Caesar Surabaya merupakan salah satu klub basket tertua dan paling bersejarah di Indonesia. Berbasis di Surabaya, klub ini memiliki komitmen kuat terhadap pembinaan atlet muda serta konsistensi berkompetisi di level tertinggi bola basket profesional nasional. Didukung fasilitas mandiri seperti GOR Pacific Caesar, klub terus berinovasi untuk menjadi pusat pengembangan basket yang inklusif, profesional, dan berprestasi di Jawa Timur.

Iran Terjebak Gelombang Protes, Trump Peringatkan Agar Tidak Menindas Demonstran Damai

Gelombang besar protes rakyat Iran telah menyebar ke seluruh negeri. Banyak demonstran meneriakkan slogan “Kembalinya Pahlavi” sebagai bentuk penolakan terhadap rezim Khamenei. Aksi protes ini dipicu oleh anjloknya nilai mata uang dan melonjaknya inflasi, dan sejauh ini telah menyebabkan sedikitnya enam orang tewas serta puluhan lainnya luka-luka. Presiden Trump pada Jumat (2 Januari) mengunggah pernyataan yang memperingatkan otoritas Iran agar tidak membantai para demonstran damai, serta menegaskan bahwa Amerika Serikat siap meluncurkan operasi penyelamatan. Sementara itu, pemerintah Iran berupaya meredakan ketegangan.

EtIndonesia. Aksi protes besar-besaran yang telah berlangsung hampir sepekan di Iran terus meningkat dan kini telah meluas ke seluruh negeri, bersamaan dengan semakin kerasnya tindakan penindasan oleh pihak berwenang.

Sebuah video yang beredar pada Kamis (1 Januari) menunjukkan bahwa di luar kantor polisi di Kota Azna, Provinsi Lorestan, Iran barat, kendaraan polisi dibalikkan, api berkobar di beberapa lokasi, dan suara tembakan terdengar sesekali.

Para demonstran meneriakkan: “Memalukan! Memalukan!” sebagai kecaman terhadap otoritas Iran di bawah Khamenei.

Sebagian massa juga berteriak:  “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali!”

Slogan tersebut merujuk pada Dinasti Pahlavi, kerajaan Iran yang dipimpin oleh Raja Reza Pahlavi dan digulingkan oleh Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Khomeini. Sejak itu, putra mahkota terakhir Dinasti Pahlavi telah hidup di pengasingan di luar negeri selama lebih dari 40 tahun. Pasca-revolusi tersebut, pemerintahan Islam totaliter Iran secara resmi berkuasa.

Media resmi Iran dan organisasi hak asasi manusia mengonfirmasi bahwa sejak Rabu (31 Desember 2025), tindakan penindasan keras oleh aparat telah menyebabkan sedikitnya enam orang tewas.

Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, insiden penyerangan kantor polisi di Provinsi Lorestan mengakibatkan tiga demonstran tewas dan 17 orang terluka.

Organisasi HAM “Hengaw” juga mengonfirmasi bahwa dalam aksi protes di Kota Lordegan, Iran barat daya, dua demonstran tewas; sementara di Kota Kuhdasht, satu orang lainnya meninggal dunia. Hingga kini, sedikitnya 29 demonstran telah ditangkap.

Pada Jumat, Presiden Trump mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan rezim Iran agar tidak menindas demonstran damai.

Dalam unggahannya, Presiden Trump menulis:  “Jika Iran menembak dan dengan kekerasan menindas para demonstran damai—seperti yang sudah menjadi kebiasaan mereka—Amerika Serikat pasti akan turun tangan untuk menyelamatkan. Kami telah siap dan dapat bergerak kapan saja.”

Pada hari yang sama, penasihat senior Khamenei, Ali Larijani, menyatakan bahwa campur tangan Amerika Serikat dalam aksi protes Iran akan menyebabkan kekacauan regional, serta secara tersirat menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik gelombang protes ini.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil sikap lebih lunak dan mengirimkan sinyal rekonsiliasi untuk meredakan krisis politik ini. Pada Kamis, ia mengakui bahwa kelalaian pemerintah merupakan akar penyebab munculnya gelombang protes nasional tersebut. Ia juga menyatakan tidak ingin mengarahkan tudingan kepada Amerika Serikat.

Pemerintahan Pezeshkian saat ini tengah mendorong program liberalisasi ekonomi, namun salah satu kebijakannya—pelonggaran sebagian kontrol devisa—justru menyebabkan nilai tukar mata uang Iran, rial, anjlok tajam.

Gelombang protes besar yang dipicu oleh depresiasi mata uang dan lonjakan inflasi ini kini telah meluas ke kalangan pedagang kecil, pemilik usaha, mahasiswa, serta lapisan masyarakat lainnya. Aksi demonstrasi terus meningkat dan menyebabkan sebagian besar wilayah di Iran lumpuh.

Pada akhir tahun 2025, nilai tukar rial Iran terhadap dolar AS hampir terpangkas setengah, sementara tingkat inflasi melonjak hingga 42,5% pada Desember tahun lalu. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.