Iran Terjebak Gelombang Protes, Trump Peringatkan Agar Tidak Menindas Demonstran Damai

Gelombang besar protes rakyat Iran telah menyebar ke seluruh negeri. Banyak demonstran meneriakkan slogan “Kembalinya Pahlavi” sebagai bentuk penolakan terhadap rezim Khamenei. Aksi protes ini dipicu oleh anjloknya nilai mata uang dan melonjaknya inflasi, dan sejauh ini telah menyebabkan sedikitnya enam orang tewas serta puluhan lainnya luka-luka. Presiden Trump pada Jumat (2 Januari) mengunggah pernyataan yang memperingatkan otoritas Iran agar tidak membantai para demonstran damai, serta menegaskan bahwa Amerika Serikat siap meluncurkan operasi penyelamatan. Sementara itu, pemerintah Iran berupaya meredakan ketegangan.

EtIndonesia. Aksi protes besar-besaran yang telah berlangsung hampir sepekan di Iran terus meningkat dan kini telah meluas ke seluruh negeri, bersamaan dengan semakin kerasnya tindakan penindasan oleh pihak berwenang.

Sebuah video yang beredar pada Kamis (1 Januari) menunjukkan bahwa di luar kantor polisi di Kota Azna, Provinsi Lorestan, Iran barat, kendaraan polisi dibalikkan, api berkobar di beberapa lokasi, dan suara tembakan terdengar sesekali.

Para demonstran meneriakkan: “Memalukan! Memalukan!” sebagai kecaman terhadap otoritas Iran di bawah Khamenei.

Sebagian massa juga berteriak:  “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali!”

Slogan tersebut merujuk pada Dinasti Pahlavi, kerajaan Iran yang dipimpin oleh Raja Reza Pahlavi dan digulingkan oleh Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Khomeini. Sejak itu, putra mahkota terakhir Dinasti Pahlavi telah hidup di pengasingan di luar negeri selama lebih dari 40 tahun. Pasca-revolusi tersebut, pemerintahan Islam totaliter Iran secara resmi berkuasa.

Media resmi Iran dan organisasi hak asasi manusia mengonfirmasi bahwa sejak Rabu (31 Desember 2025), tindakan penindasan keras oleh aparat telah menyebabkan sedikitnya enam orang tewas.

Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, insiden penyerangan kantor polisi di Provinsi Lorestan mengakibatkan tiga demonstran tewas dan 17 orang terluka.

Organisasi HAM “Hengaw” juga mengonfirmasi bahwa dalam aksi protes di Kota Lordegan, Iran barat daya, dua demonstran tewas; sementara di Kota Kuhdasht, satu orang lainnya meninggal dunia. Hingga kini, sedikitnya 29 demonstran telah ditangkap.

Pada Jumat, Presiden Trump mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan rezim Iran agar tidak menindas demonstran damai.

Dalam unggahannya, Presiden Trump menulis:  “Jika Iran menembak dan dengan kekerasan menindas para demonstran damai—seperti yang sudah menjadi kebiasaan mereka—Amerika Serikat pasti akan turun tangan untuk menyelamatkan. Kami telah siap dan dapat bergerak kapan saja.”

Pada hari yang sama, penasihat senior Khamenei, Ali Larijani, menyatakan bahwa campur tangan Amerika Serikat dalam aksi protes Iran akan menyebabkan kekacauan regional, serta secara tersirat menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik gelombang protes ini.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil sikap lebih lunak dan mengirimkan sinyal rekonsiliasi untuk meredakan krisis politik ini. Pada Kamis, ia mengakui bahwa kelalaian pemerintah merupakan akar penyebab munculnya gelombang protes nasional tersebut. Ia juga menyatakan tidak ingin mengarahkan tudingan kepada Amerika Serikat.

Pemerintahan Pezeshkian saat ini tengah mendorong program liberalisasi ekonomi, namun salah satu kebijakannya—pelonggaran sebagian kontrol devisa—justru menyebabkan nilai tukar mata uang Iran, rial, anjlok tajam.

Gelombang protes besar yang dipicu oleh depresiasi mata uang dan lonjakan inflasi ini kini telah meluas ke kalangan pedagang kecil, pemilik usaha, mahasiswa, serta lapisan masyarakat lainnya. Aksi demonstrasi terus meningkat dan menyebabkan sebagian besar wilayah di Iran lumpuh.

Pada akhir tahun 2025, nilai tukar rial Iran terhadap dolar AS hampir terpangkas setengah, sementara tingkat inflasi melonjak hingga 42,5% pada Desember tahun lalu. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine