Tragedi Perundungan di Shandong, Tiongkok : Siswa Yatim Piatu Tewas Usai Jatuh dari Gedung, Pihak Keluarga Hadang Sekolah dengan Peti Mati

EtIndonesia. Pada Desember 2025, keluarga seorang siswa kelas 12 di Kabupaten Tancheng, Kota Linyi, Provinsi Shandong, Tiongkok, yang tewas akibat perundungan, membawa peti mati ke depan gerbang sekolah untuk memprotes dan menuntut keadilan. Lokasi tersebut dijaga ketat oleh pasukan khusus rezim partai komunis Tiongkok (PKT)  untuk melakukan “stabilitas”.

Peristiwa ini terjadi di SMA Tancheng No.1 di Kota Linyi. Video yang beredar menunjukkan keluarga korban membawa peti mati dengan mobil ke gerbang sekolah, menata deretan karangan bunga, memasang spanduk, membakar uang kertas ritual, serta menggunakan pengeras suara untuk memutar tuntutan mereka secara berulang. 

Pihak keluarga menuntut pihak sekolah memberikan penjelasan dan meminta pertanggungjawaban. Banyak polisi khusus terlihat berjaga untuk menjaga “ketertiban”.

Menurut unggahan di internet, korban bernama Xu Yang, seorang siswa kelas 12 berusia 17 tahun. Sejak kecil, orang tuanya menghilang dan ia dibesarkan oleh nenek dan pamannya. 

Setelah menahan perundungan selama enam bulan, ia akhirnya melompat dari lantai 18 sebuah apartemen di seberang sekolah. Ia meninggalkan pesan terakhir kepada nenek dan pamannya:  “Terima kasih sudah merawatku selama 17 tahun, tapi aku ingin pergi mencari ibuku.”

Siswa di daerah tersebut mengatakan bahwa Xu Yang memiliki prestasi akademik sangat baik untuk seluruh Kota Linyi dan berpeluang besar masuk universitas unggulan tahun depan. Namun, ia memilih mengakhiri hidup karena tidak sanggup lagi menahan perundungan.

Dugaan pelaku utama perundungan adalah anak seorang pejabat lokal. Ia disebut telah lama menindas Xu Yang, yang kemudian membuat siswa lain mengejek Xu sebagai “yatim piatu”, mengucilkannya, dan terus-menerus membully dirinya. Beredar pula video yang menunjukkan seorang siswa laki-laki menyeret Xu Yang ke sebuah gang di luar sekolah dan memimpin pengeroyokan.

Menurut paman korban, Xu telah lama menjadi sasaran intimidasi oleh kelompok kecil yang dipimpin ketua kelas. Pihak sekolah dan wali kelas disebut mengetahui hal tersebut tetapi membiarkan pelaku tanpa hukuman. 

Setelah Xu meninggal, sekolah bahkan menutupi informasi dari keluarga. Paman korban baru mengetahui kejadian itu ketika Xu tidak pulang hingga larut malam dan datang ke sekolah untuk mencari, namun dicegah oleh penjaga untuk masuk. Setelah didesak, baru sekolah mengatakan bahwa ia harus pergi ke kantor polisi untuk mencari informasi.

Setelah mengetahui penyebab kematian anak tersebut, keluarga menanyakan kebenaran di grup chat orang tua murid. Namun wali kelas menolak menjawab dan malah membubarkan grup tersebut. Kantor polisi juga menolak membuka penyelidikan.

Saat kejadian ramai diperbincangkan, para siswa dan warganet mulai bersuara untuk membela Xu Yang, mengecam perundungan, serta mengkritik gelapnya sistem sekolah. Namun banyak unggahan mereka segera dihapus dan akun mereka diblokir. Seorang teman sekelas Xu menulis:  “Akun diblokir, postingan dihapus… kenyataan lebih gelap daripada novel.”

Dalam menghadapi tekanan publik, SMA Tancheng No.1 merilis pernyataan yang membantah bahwa Xu tewas karena perundungan dan hanya menyatakan bahwa pihak sekolah “akan bekerja sama dengan penyelidikan polisi”.

Video dan foto yang beredar menunjukkan bahwa warganet masih terus membantu keluarga menuntut keadilan, dan beberapa orang datang ke sekolah untuk meletakkan bunga sebagai penghormatan terakhir. (Hui)

Catatan : Bunuh diri atau mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar. Hargailah kehidupan.

Detik-detik Zelenskyy Hampir Tewas di Dublin: Empat Drone Maut Muncul dari Arah Tak Terduga!

EtIndonesia.  Sebuah insiden berbahaya nyaris menimpa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy pada 4 Desember. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pesawat kepresidenan Ukraina hampir diserang oleh drone militer berukuran besar ketika hendak meninggalkan Irlandia.

Menurut laporan keamanan Irlandia, empat hingga lima drone raksasa terdeteksi lepas landas dari wilayah sekitar Teluk Dublin dan bergerak menuju jalur penerbangan pesawat Zelenskyy. Drone tersebut memasuki zona larangan terbang dan mendekati jalur pendaratan Bandara Dublin.

Keberuntungan berpihak pada Zelenskyy: pesawatnya mendarat lebih cepat dari jadwal, sehingga lolos dari potensi tabrakan. Angkatan Laut Irlandia mengonfirmasi bahwa drone yang terlihat memiliki karakteristik militer dan berada di ketinggian abnormal untuk area sipil.

Otoritas keamanan Irlandia menetapkan insiden ini sebagai upaya pembunuhan berbasis serangan hibrida. Investigasi lintas lembaga kini berlangsung untuk melacak asal dan operator drone tersebut.

Negosiasi AS–Rusia Buntu, Putin Ancam Eropa dan Tegaskan Syarat Baru

Putaran terbaru negosiasi Amerika Serikat dan Rusia kembali gagal mencapai titik temu. Dua proposal utama—rencana perdamaian AS–Rusia 28 poin dan rancangan perdamaian AS–UE 20 poin—dinyatakan sepenuhnya tidak berhasil.

Presiden Vladimir Putin kemudian melontarkan peringatan keras kepada Eropa bahwa Rusia “siap kapan saja” menghadapi eskalasi baru bila konflik kembali melebar. Di Moskow, Putin juga mengumumkan syarat politik yang tidak dapat dinegosiasikan: Ukraina harus menarik seluruh pasukan dari wilayah Donbas, atau Rusia akan “mengambil seluruh wilayah tersebut dengan kekuatan militer atau melalui cara lain”.

Tekanan terhadap Rusia meningkat setelah Parlemen Eropa dan seluruh 27 negara anggota Uni Eropa pada 4 Desember resmi menyetujui kebijakan untuk melarang total impor gas alam Rusia mulai musim gugur 2027, sebagai langkah memutus pendanaan mesin perang Kremlin.

Kebijakan ini menjadi salah satu embargo energi terbesar yang pernah diberlakukan UE terhadap Moskow.

Macron dan Xi Jinping Terlibat Ketegangan Diplomatik di Beijing

Kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron ke Beijing yang semula dijadwalkan sebagai pertemuan kerja sama, berakhir dengan suasana diplomatik yang jauh lebih panas dari perkiraan.

Meski Xi Jinping menyambut Macron dengan upacara megah, media internasional menilai kedua pemimpin sedang “bermain keras” dalam isu perdagangan dan perang Ukraina.

Tiga Agenda Macron kepada Xi:

  1. Stabilitas geopolitik global
  2. Keseimbangan perdagangan antara Prancis–Tiongkok dan UE–Tiongkok
  3. Kerja sama lingkungan dan iklim

Macron menegaskan bahwa perang Rusia–Ukraina telah mengancam keamanan Eropa dan meminta Tiongkok berperan lebih aktif menekan Moskow demi gencatan senjata.

Xi menanggapi dengan pernyataan bernada defensif:

  • Tiongkok menginginkan hubungan ekonomi yang lebih seimbang,
  • akan berperan konstruktif dalam perdamaian,
  • tetapi menolak upaya pihak luar yang ingin “menyalahkan Tiongkok” atas jalannya perang.

Kunjungan Dagang 35 Perusahaan Besar Prancis

Macron membawa delegasi besar—termasuk Airbus, EDF, Danone, hingga merek mewah Prancis—untuk menandatangani sejumlah kontrak besar dengan Tiongkok.

Namun analis menilai strategi Macron belum tentu efektif, karena Beijing dinilai memiliki kepentingan geopolitik agar perang Ukraina tetap berlarut-larut, guna melemahkan aliansi Barat.

Dokumen Bocor: Terungkap Kerja Sama Militer Rahasia Tiongkok–Rusia

Media Kyiv Independent pada 3 Desember merilis dokumen rahasia yang menunjukkan bahwa militer Tiongkok telah melakukan koordinasi tingkat tinggi dengan Rusia untuk memperdalam kerja sama militer.

Temuan mencakup:

  • kontrak pembelian pesawat tempur,
  • kendaraan tempur lapis baja,
  • amunisi,
  • perangkat militer lainnya,

yang ditandatangani secara diam-diam sepanjang 2023–2024, dengan masa berlaku hingga 2027.

Dokumen tersebut juga mengungkap bahwa puluhan pejabat militer Tiongkok telah melakukan serangkaian kunjungan rahasia ke Moskow selama dua tahun terakhir.

Bocoran ini semakin memperkuat dugaan bahwa Beijing mendukung kemampuan militer Rusia, meskipun di hadapan publik Tiongkok mengklaim “netral”.

Hari Pertama Bebas Visa Tiongkok–Rusia Diwarnai Pemerasan Polisi

Hari pertama kebijakan bebas visa antara Tiongkok dan Rusia pada 3 Desember justru diwarnai laporan pemerasan terhadap turis Tiongkok.

Seorang wisatawan Tiongkok mengunggah video yang memperlihatkan polisi imigrasi Rusia memeriksa dokumennya lalu meminta pembayaran 5.000 rubel tanpa alasan jelas. Video tersebut langsung viral di platform Tiongkok.

Warganet Tiongkok mengecam kebijakan pemerintah Beijing yang dianggap “mendorong warganya berwisata ke negara yang sedang berperang”, sementara aparat Rusia memperlakukan mereka sebagai target pemerasan.

Insiden ini menambah ketegangan baru dalam hubungan kedua negara, justru pada hari ketika kebijakan bebas visa mereka mulai berlaku.

 Kota yang Mengubah Perang: Pokrovsk Belum Jatuh, Dunia Tertipu Propaganda

EtIndonesia. Pokrovsk, Donetsk Oblast kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah serangkaian klaim tak berdasar menyebut kota itu sepenuhnya jatuh ke tangan Rusia. Dalam narasi yang berkembang sejak 4 Desember 2025, pendukung Kremlin menggembar-gemborkan “kejatuhan Kota Tentara Merah” dan bahkan menghubungkannya dengan isu geopolitik Tiongkok. Namun laporan resmi dari Ukraina—disampaikan langsung oleh Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrskyi pada 5 Desember 2025—menegaskan situasi sebenarnya jauh dari gambaran propaganda.

Pokrovsk Belum Jatuh: Klarifikasi Resmi Panglima Ukraina 

Dalam pernyataan resminya, Syrskyi menyebut: “Di Pokrovsk dan Myrnohrad, kami secara aktif menggagalkan upaya musuh membentuk kelompok serbu dan mengepung permukiman. Pasukan kami tetap bertahan di zona pertahanan yang ditetapkan.”

Peta pertempuran terbaru yang dirilis Ukraina menunjukkan:

  • Zona merah: area yang berhasil ditembus Rusia
  • Zona biru: area pertahanan Ukraina
  • Pertempuran aktif: di sektor utara Pokrovsk

Hasilnya jelas: tidak ada pihak yang menguasai kota secara penuh.

Jika Rusia benar-benar menguasai Pokrovsk, mereka cukup mengirim satu kendaraan lapis baja untuk memasang bendera dan mempublikasikan videonya—standar propagandanya selama ini. Tetapi hingga kini tidak ada bukti visual dari salah satu pihak. Itu sebabnya klaim kemenangan Rusia dipandang sebagai informasi prematur.

Brigade Serbu Udara ke-7 Ukraina yang bertempur di sektor tersebut melaporkan: “Musuh berupaya mendekati jalur logistik, tetapi jumlah pasukan Rusia yang dihancurkan jauh lebih besar dibanding kemajuan mereka.”

Pokrovsk: Kota Kecil, Harga Terlalu Mahal

Sumber militer Ukraina melaporkan bahwa di satu kota ini saja, korban jiwa Rusia dalam beberapa bulan terakhir melampaui seluruh korban Uni Soviet selama 10 tahun perang Afghanistan (1979–1989).

  • Korban Uni Soviet di Afghanistan: ±15.000 orang
  • Korban Rusia di Pokrovsk: ±15.000 orang setiap bulan

Angka ini mencerminkan bobroknya strategi Kremlin dalam pertempuran perkotaan jarak dekat—yang kini menjadi kuburan bagi ribuan prajurit muda Rusia.

Mengapa Rusia Gagal? “Mitos Tiga Hari Kuasai Kyiv” Dibongkar (Wawancara 1 Desember 2025)

Dalam wawancara radio pada 1 Desember 2025, mantan Panglima Angkatan Darat Rusia, Jenderal Vladimir Chirkin, membeberkan kesalahan fatal Kremlin sebelum invasi 2022.

Menurutnya, intelijen Rusia:

  • Secara keliru percaya 70% warga Ukraina pro-Rusia
  • Meyakini Kyiv akan menyambut kedatangan pasukan
  • Menganggap perlawanan Ukraina akan minimal

Chirkin mengatakan: “Kenyataannya kebalikannya. Hampir 70% warga Ukraina menentang kita. Intelijen memberi laporan ilusi, bukan fakta.”

Dia menambahkan bahwa Rusia kembali terjebak kesalahan historis: meremehkan musuh, melebih-lebihkan diri sendiri, dan tidak siap menghadapi perang jangka panjang.

Ia juga menyinggung Menteri Pertahanan saat itu, Sergei Shoigu, yang berdalih bahwa penarikan pasukan dari Kyiv dan Kharkiv pada 2022 adalah “gestur niat baik.” 

Chirkin membantah: “Itu bukan gestur. Itu kekalahan.”

Perkiraan NATO: Rusia Hanya Mampu Berperang Sampai Akhir 2026

Seorang pejabat senior NATO menyatakan:

  • Rusia kehilangan ±1.100 tentara per hari
  • Total korban (tewas + luka berat) telah mendekati 1,2 juta jiwa
  • Beban finansial membuat Rusia diprediksi tidak dapat melanjutkan perang setelah 2026

Dampak Kemanusiaan: Luka yang Tak Akan Sembuh

Foto-foto perbandingan Natal 2021 di Mariupol—sebelum dihancurkan Rusia—dengan Maret 2022 memperlihatkan kehancuran yang tak terbayangkan. Kota bisa dibangun kembali, tetapi trauma kolektif tidak.

Data Jerman menunjukkan:

  • Tahun 2024, Rusia mengimpor prostetik dan alat bantu tubuh senilai 50 juta euro
  • Pada 2023–2024, terdapat 290.000 penyandang disabilitas baru di Rusia
  • Total penyandang disabilitas kini mencapai 11,12 juta orang

Warganet pun menyindir: “Operasi militer khusus membuat jutaan pria Rusia kini membutuhkan operasi pada tubuh mereka sendiri.”

Putri Tidak Resmi Putin Dihadang Jurnalis Ukraina di Paris 

Peristiwa yang terjadi pada 4 Desember 2025 di sebuah galeri seni Paris menjadi viral. Liza Krivonogikh (22)—yang diakui banyak lembaga riset sebagai putri tidak resmi Putin—dihadang jurnalis Ukraina.

Jurnalis itu berkata: “Tiga minggu lalu, ayahmu membunuh saudaraku.”

Dia menambahkan secara sinis: “Pergilah ke Kyiv, kau lebih efektif daripada rudal Patriot.”

Liza menjawab: “Aku tidak berdaya. Aku tidak bertanggung jawab atas situasi ini.”

Uni Eropa Resmi Larang Gas Rusia Mulai 2027 

Pada 3 Desember 2025, Uni Eropa mengumumkan kebijakan besar:

  • Semua impor gas alam dari Rusia dihentikan mulai 31 Desember 2027

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengakui:

  • Sejak 2022, negara-negara Eropa masih membeli energi Rusia dalam jumlah besar
  • Dana itu secara tidak langsung membiayai perang Putin

Ironisnya:

  • Beberapa pemimpin Eropa menuding Trump “tidak membantu Ukraina”
  • Tetapi negara-negara yang sama terus membayar miliaran euro kepada Rusia sampai 2027

Seorang analis menyamakan ini seperti pertandingan tinju: “Zelenskyy dan Putin bertarung di atas ring. Eropa berdiri di belakang Zelenskyy sambil berkata ‘Hajar!’, tetapi mereka yang membeli sarung tinju dan handuk untuk Putin.”

Kesimpulan: Perang Memasuki Fase Baru yang Paling Berdarah

Perang Ukraina kini memasuki periode yang paling brutal sejak 2022:

  • Rusia mengalami kerugian besar di Pokrovsk
  • Moril pasukan runtuh
  • Ekonomi tertekan
  • Hubungan internasional memburuk
  • UE mulai memutus aliran uang energi ke Kremlin
  • NATO memperkirakan kemampuan perang Rusia hanya tersisa setahun lagi

Sementara itu, Ukraina meski terpukul keras tetap mempertahankan kota kunci seperti Pokrovsk—menjadikannya simbol ketahanan yang mahal, namun menentukan.

Perang Tak Bisa Dihentikan: Bantuan Dunia Melonjak, Kremlin Justru Makin Terjebak

EtIndonesia. Dukungan global terhadap Ukraina memasuki babak baru. Tidak hanya meningkat dari sisi nilai bantuan, tetapi juga berubah struktur, mekanisme, serta kecepatan distribusinya. Para analis menilai bahwa fase bantuan saat ini merupakan yang paling terkoordinasi sejak invasi besar Rusia dimulai pada 24 Februari 2022.

Gelombang Bantuan Baru dari Negara-negara Barat

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara mengumumkan paket bantuan baru yang nilainya signifikan:

Kanada 

Kanada mengalokasikan 200 juta dolar melalui mekanisme pembelian senjata dari Amerika Serikat. Total bantuan militer Kanada untuk Ukraina kini telah mencapai 890 juta dolar. Skema baru ini mempercepat transfer senjata karena tidak perlu melalui mekanisme birokrasi multinasional.

Norwegia

Pemerintah Norwegia menyetujui paket bantuan 500 juta dolar untuk pembelian senjata langsung dari AS tanpa perantara. Langkah ini memperkuat rantai suplai NATO yang semakin saling terhubung.

Jerman 

Jerman memberikan 200 juta dolar tambahan untuk peralatan militer serta EUR 25 juta untuk perlengkapan musim dingin dan dukungan medis bagi pasukan Ukraina. Hingga awal Desember, Jerman juga telah menyerahkan total 9 sistem pertahanan udara IRIS-T SLM, salah satu aset pertahanan paling penting menghadapi serangan drone dan rudal Rusia.

Irlandia

Dublin mengumumkan bantuan EUR 125 juta, termasuk EUR 25 juta khusus untuk pemulihan infrastruktur energi sipil Ukraina yang hancur akibat serangan rudal Rusia selama musim dingin.

Dengan rangkaian komitmen baru ini, NATO kini memiliki rantai suplai persenjataan yang saling melengkapi antarnegara, memungkinkan Ukraina mendapatkan senjata lebih cepat, lebih tepat sasaran, dan dalam jumlah yang lebih besar.

Uni Eropa Tetapkan Tenggat: 1 November 2027, Kontrak Gas dengan Rusia Dilarang Total

Pada 1 Desember 2025, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan perubahan strategis jangka panjang Eropa: pemutusan total ketergantungan energi dari Rusia.

Kebijakan baru ini menetapkan bahwa mulai 1 November 2027, seluruh negara anggota Uni Eropa dilarang menandatangani kontrak gas jangka panjang dengan Rusia.

Sejak 2022, impor minyak, batu bara, dan gas Rusia ke Eropa merosot tajam—sebuah pukulan finansial besar bagi Moskow. Keputusan terbaru ini dipandang sebagai langkah penutup terhadap sumber pendapatan terbesar Kremlin.

Proyek Ambisius Rusia Bernilai 50 Triliun Rubel Resmi Dihentikan

Pada akhir November 2025, pemerintah Rusia menghentikan proyek mega-jalur kereta Siberia–Tiongkok utara senilai 50 triliun rubel, yang sebelumnya diproyeksikan menjadi jalur ekonomi baru menuju Asia.

Laporan anggaran menunjukkan bahwa dana tersisa hingga 2026 hanya 1 triliun rubel, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memulai tahap konstruksi awal.
Penghentian ini mempersempit jalan Rusia keluar dari tekanan ekonomi global dan memperkuat ketergantungan politik Kremlin pada kelanjutan perang.

Mengapa Kremlin Tidak Mau—Dan Tidak Bisa—Menghentikan Perang

Menurut laporan NBC pada 3 Desember 2025, Rusia tetap mempertahankan tiga tuntutan utama dalam proses perjanjian perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump:

  1. Pengakuan penuh atas kendali Rusia di Donbas
  2. Pembatasan kekuatan militer Ukraina
  3. Pengakuan internasional atas wilayah Ukraina yang kini diduduki Rusia

Syarat-syarat ini sama sekali tidak dapat diterima oleh Kyiv maupun Eropa, sehingga proses negosiasi praktis mandek.

Risiko Politik Jika Putin Mengakhiri Perang

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Kremlin sebenarnya tidak mampu menghentikan perang. Mengakhiri perang berarti membuka “kotak Pandora” yang sangat berbahaya:

  • Mengungkap alasan perang yang tidak terbukti
  • Pertanyaan publik terkait jumlah korban
  • Tuntutan transparansi ekonomi
  • Kekecewaan elite politik terhadap hasil perang

Semua itu dapat menggoyahkan legitimasi Putin secara langsung.

Karena itulah analis Barat menyimpulkan:

  • Rusia tidak lagi mengejar “kemenangan militer klasik”.
  • Memperpanjang perang = bentuk kemenangan politik bagi Kremlin.
  • Bahkan jika Rusia menguasai seluruh Ukraina, mereka tetap tidak bisa mengklaim kemenangan final.
  • Konflik bahkan dapat dialihkan ke wilayah Eropa demi mempertahankan simetri politik dalam negeri.

Sejarawan Mark Galeotti menegaskan bahwa Putin kini terjebak dalam ketakutan strategis. Seluruh tujuan operasi awal—denazifikasi, demiliterisasi, dan menghentikan ekspansi NATO—hampir semuanya gagal, namun narasi itu tetap dipertahankan demi stabilitas kontrol sosial.

Zaluzhny: Perang Bisa Berakhir dengan “Beku Panjang”

Pada 4 Desember 2025, mantan Panglima Tertinggi Ukraina, Valerii Zaluzhny, yang kini menjabat sebagai Duta Besar di Inggris, menyampaikan analisis yang dianggap paling realistis sejauh ini.

Menurutnya, perang tidak harus berakhir dengan kemenangan mutlak salah satu pihak. Justru skenario yang paling mungkin adalah perang beku jangka panjang, mirip konflik Korea 1953 yang berhenti tanpa perjanjian damai formal.

Ia menambahkan:

  • Sejarah menunjukkan sebagian besar perang tidak berakhir dengan pemenang jelas.
  • Jika jalur diplomasi tidak bergerak, konflik dapat berhenti dalam kondisi status quo yang membeku.
  • Tantangan utama Ukraina adalah menjaga daya tempur dan dukungan Barat dalam jangka panjang.

KESIMPULAN

Dengan fase baru bantuan internasional, tekanan ekonomi terhadap Rusia, dan kebuntuan diplomatik yang terus berlanjut, perang Rusia–Ukraina memasuki titik krusial pada Desember 2025. Alih-alih menuju akhir, dinamika terbaru justru mengarah pada konflik berkepanjangan yang membentuk ulang politik Eropa, keamanan global, dan ketahanan ekonomi kedua negara.

Ledakan Berantai Guncang Moskow—Apakah Ini Awal Keruntuhan Rusia?

EtIndonesia. Ibukota Rusia kembali diguncang. Dalam tiga hari berturut-turut, kawasan timur Moskow dilanda serangkaian ledakan misterius yang memicu kepanikan publik.

Malam 3 Desember 2025, warga di distrik Ramensky melaporkan terdengar tiga dentuman keras diikuti padamnya listrik secara luas. Video yang beredar menunjukkan seluruh blok perumahan tenggelam dalam kegelapan—lampu jalan padam, gedung-gedung gelap gulita, dan hampir tidak ada cahaya dari jendela penghuni.

Media pemerintah Rusia awalnya bungkam. Menyusul kepanikan warganet, mereka buru-buru mengeluarkan pernyataan bahwa pasokan listrik telah “dipulihkan” dan tidak ada serangan yang terjadi. Pernyataan itu langsung menuai keraguan publik.

Dalam konteks perang saat ini, penyangkalan tersebut justru semakin memperkuat dugaan bahwa Moskow kini berada dalam jangkauan operasi deep strike Ukraina yang dalam beberapa bulan terakhir telah menyasar puluhan target di jauh dalam wilayah Rusia.

Serangan ke Kilang dan Pelabuhan Minyak Rusia 

Rentetan gangguan terhadap sistem energi Rusia meluas ke wilayah selatan.

Pada malam 2 Desember, terminal minyak Tuapse dan kilang Ilyskiy di Krasnodar dilaporkan menjadi sasaran serangan drone jarak jauh. Ini adalah operasi pertama Ukraina pada bulan Desember yang menargetkan infrastruktur minyak Rusia.

Menurut data Bloomberg:

  • Selama November 2025, Ukraina melancarkan 14 serangan ke kilang Rusia—jumlah tertinggi sejak perang dimulai.
  • Kapasitas pengolahan minyak Rusia turun ke sekitar 5 juta barel per hari dan diperkirakan masih dapat merosot.

Ukraina juga menggempur pelabuhan di Laut Hitam dan mengenai dua kapal dari “armada bayangan” Rusia—kapal komersial yang dipakai Moskow untuk menyamarkan pergerakan minyak dan menghindari sanksi.

Salah satu pemilik kapal berbasis di Mersin, Turki, langsung menghentikan seluruh bisnisnya dengan Rusia setelah serangan tersebut.

Putin menanggapi dengan ancaman akan memutus jalur laut Ukraina. Namun publik internasional mengingat bahwa Rusia gagal merealisasikan ancaman serupa saat membatalkan perjanjian gandum pada Juli 2023.

Jalur Kereta Rusia Mulai Rapuh: Sabotase Sistematis 

Jaringan kereta Rusia—urat nadi logistik perang—mengalami kerusakan paling serius sejak invasi dimulai.

20 November 2025 – Novosibirsk

Sebuah ledakan merusak rel di Barishovo, Novosibirsk. Operasional kereta barang terganggu dan suplai militer tersendat. Laporan internal menyebut serangan ini menargetkan node mobilisasi—bukan kerusakan acak.

28 November 2025 – Bryansk

Stasiun Unetcha di Bryansk meledak hebat pada malam hari:

  • Kereta pengangkut bahan bakar terbakar
  • Beberapa tangki hancur
  • Ledakan sekunder merusak rel secara meluas

Serangan ini memotong salah satu jalur logistik utama Rusia menuju front timur dan selatan.

Masuk akhir 2025, operasi sabotase Ukraina terbukti bergerak lebih dalam ke wilayah Rusia, mengincar:

  • jalur kereta strategis,
  • depot barang,
  • titik mobilisasi militer,
  • bahkan jalur menuju Moskow.

Krisis logistik ini membuat Russian Railways mengajukan permohonan “bantuan darurat” ke Kremlin, mengakui defisit hingga 200 miliar rubel.

Rusia kini menghadapi dilema besar:
Mempertahankan front, atau menyelamatkan infrastruktur domestik yang kian kolaps?

Eropa Percepat Pemutusan Energi dari Rusia 

Polandia dan Jerman menandatangani sebuah deklarasi pertahanan baru pada akhir November 2025 yang menegaskan percepatan penghentian total impor energi dari Rusia.

Bagi Moskow, langkah ini adalah pukulan ganda:

  1. Kekalahan strategis dalam perang energi, dan
  2. Tekanan ekonomi yang terus memperdalam krisis fiskal nasional.

Drone Ukraina Serang Chechnya – Penetrasi 1.000 km 

Dalam salah satu serangan terdalam sepanjang perang, drone Ukraina menembus lebih dari 1.000 km dari garis depan.

Target utamanya:

  • Pangkalan pasukan Akhmat di Gudermes
  • Gedung FSB di Achkhoi-Martan, yang atapnya ambruk

Pertahanan udara Rusia mengklaim menembak jatuh 45 drone, tetapi tidak ada bantahan resmi dari pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov—keheningan yang justru memperkuat dugaan bahwa kerusakan lebih besar dari laporan resmi.

Serangan ultra-deep ini menegaskan bahwa Ukraina kini mampu menekan jantung pertahanan Rusia sambil tetap mempertahankan garis depan.

Andriy Yermak Turun ke Medan Perang 

Dalam perkembangan politik domestik Ukraina, Andriy Yermak, mantan Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina, secara mengejutkan bergabung dengan unit tempur pada 2 Desember 2025.

Meski tuduhan korupsi terhadapnya belum terbukti, keputusannya turun langsung ke garis depan dipandang sebagai upaya:

  • mengembalikan kepercayaan publik,
  • menunjukkan loyalitas terhadap negara,
  • dan memperkuat moral pasukan.

Kehadiran Yermak menambah dimensi politik baru di tengah pembicaraan damai AS–Rusia yang semakin intens.

Pertempuran Sengit di Kupyansk, Vovchansk, dan Pokrovsk 

Kupyansk: Ukraina Rebut Keunggulan

Pada 3 Desember, Komando Gabungan Ukraina menyatakan mayoritas Kupyansk kini berada di bawah kontrol Kyiv.  Jenderal Oleksandr Syrskyi membantah klaim Rusia yang menyebut telah “menduduki penuh” kota tersebut.

Ukraina melaksanakan:

  • pertahanan fleksibel dengan manuver cepat,
  • pemutusan jalur infiltrasi,
  • operasi pembersihan intensif,
  • serangan udara presisi menggunakan bom luncur ASM-250 Hammer.

Pasukan Ukraina kini mendorong garis tempur hingga tepi Sungai Oskil.

Vovchansk: Bendera Rusia Berkibar Sesaat

Rusia sempat mengibarkan bendera di beberapa gedung untuk merekam “kemenangan visual” pada 3 Desember, namun unit tersebut langsung dihancurkan drone FPV Ukraina.

Syrskyi menyebut aksi itu sebagai psyops murahan untuk memperkuat posisi diplomasi Rusia.

Pokrovsk: Bertahan di Tengah 72 Serangan Rusia

Ukraina menyatakan Pokrovsk belum jatuh.

Situasi:

  • Ukraina mempertahankan sektor utara dekat jalur kereta api
  • Desa Lozhynske dan Rivne berhasil direbut kembali
  • Rusia melancarkan 72 serangan dan lebih dari 150 bom luncur dalam 24 jam

Namun sebagian besar serangan tidak efektif akibat pertahanan elektronik dan mobilitas Ukraina.

Garis Pertahanan Donbas Tetap Solid 

Analisis terbaru dari militer Prancis menunjukkan Ukraina berhasil mempertahankan garis pertahanan kunci di Donetsk dan sekitarnya.

Jika wilayah ini runtuh, Rusia berpotensi menembus hingga Ukraina barat—sebuah skenario yang ingin dihindari Kyiv dan NATO.

Tekanan Putin di Donbas dinilai sebagai upaya memperoleh minimal gains sebelum memasuki fase negosiasi gencatan senjata.

Kesimpulan

Dalam rentang 20 November hingga 3 Desember 2025, perang Rusia–Ukraina memasuki babak baru:

  • Moskow tidak lagi menjadi zona aman,
  • infrastruktur energi Rusia lumpuh,
  • logistik kereta terganggu,
  • Chechnya kini ikut menjadi target,
  • garis depan Ukraina tetap stabil,
  • dan Eropa kian menjauh dari energi Rusia.

Konflik ini bukan lagi sekadar perang darat—ini adalah perang industri, perang logistik, dan perang stamina nasional. Siapa yang lebih dulu kehabisan suplai, dialah yang akan tersungkur.

MARATON 10 MILIAR: Jeritan Korban Terisolasi dan Janji Kedermawanan Kontroversial

EtIndonesia. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sebuah upaya penggalangan dana daring yang dipimpin oleh influencer Ferry Irwandi berhasil mengumpulkan jumlah yang fantastis: Rp 10 Miliar. Jumlah ini, yang melampaui ekspektasi awal, menjadi sorotan bukan hanya karena besarnya, tetapi juga karena mendesaknya kebutuhan untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi di Sumatera yang terancam jatuh ke dalam krisis sosial.

Ferry Irwandi, yang pada mulanya memperkirakan hanya bisa mengumpulkan sekitar Rp500 juta dalam 24 jam, terkejut dengan respons publik. “gua enggak expect bakal sebesar ini awalnya dalam 24 jam itu gua perkirakan Rp500 juta,” ujarnya.

Faktanya, dalam 12 jam sesi streaming maraton, donasi berhasil melonjak 5 miliar, mencapai angka akhir Rp 10.375.287.479. Yang lebih luar biasa dari angka tersebut adalah partisipasi masyarakat: “keterlibatan publiknya mencapai 71.000 orang Teman-teman,” tutur Ferry.

Representasi Follower dan Bencana Nasional

Kontribusi terbesar dalam penggalangan dana ini datang dari Rizki Rizarwi, CEO dan founder Malaka (parfum Humans), yang menyumbang hampir setengah miliar Rupiah, tepatnya Rp493 juta.

Saat ditanya Ferry mengenai alasan di balik angka donasi yang besar itu, Rizki menegaskan bahwa Humans melihat tragedi ini sebagai krisis yang memerlukan respons ekstraordinary. 

“sebenarnya humans tuh emang selalu ada selalu ada dana CSR kan kita enggak kita enggak selalu bilang tapi tiap bulan tuh emang kita nyisihin dana CSR enggak segede ini emang cuman ini kita ngerasakan ini adalah bencana nasional ya jadi kita ngerasa kayak kita harus pakai beberapa bulan budget kita untuk ini gitu,” ungkap Rizki.

Keputusan ini juga didasari oleh janji yang ia pegang sejak mendirikan perusahaannya. “humans tuh dari awal emang itu udah ini gue lah janji gue ketika gue ngebangun perusahaan ini humans tuh harus bisa berdampak bukan cuma buat bukan cuma buat kita gitu,” katanya.

Rizki juga melihat donasi besar ini sebagai representasi dari komunitasnya sendiri. “Kalau lihat angka followers kita angka orang yang angka orang yang ngikutin kita di sosial media jadi gua ngerasa kayak itu representah iya angka itu jadi kayak gua ngerasa si tu enggak akan ada kalau enggak ada orang-orang ini yang ngikutin perjalanan kita dan gua pengin use back ke mereka gitu,” jelas Rizki, memandang sumbangan tersebut sebagai bentuk timbal balik kepada para pengikut Humans.

Mengatasi Keputusasaan di Daerah Terisolasi

Setelah berhasil mengumpulkan dana, tantangan terbesar adalah memastikan uang tersebut “sampai ke tangan para korban”. Ferry Irwandi menekankan bahwa prioritas utama adalah daerah-daerah yang terisolasi.

Kondisi di daerah tersebut dilaporkan “di luar akal sehat” karena mode bertahan hidup (survival mode). Rizki Rizarwi, sebagai donatur utama, setuju dan menuntut agar dana fokus pada kebutuhan paling kritis, yaitu “food and shelter”.

Rizki menyoroti dampak psikologis dari isolasi tersebut, yang dikhawatirkan dapat memicu krisis sosial. “gua ngelihat kemarin kemarin ada ada sampai ada penjarahan gitu-gitu gua ngerasa itu juga bentuk kemarahan dan ke apa ya bukan kemarahan ya bentuk keputusasaan mereka gitu merasa ditinggalkan gitu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa banyak korban yang berguguran karena masalah food and shelter di daerah terpencil yang terputus aksesnya ke pusat kota utama.

Ferry Irwandi juga menyuarakan kekhawatiran yang sama: “karena kalau dibiarkan lebih lambat lagi akan lebih banyak korban lagi gitu dari yang bencana bencana karena faktor fenomena alam jadi bisa bencana sosial dan lain sebagainya itu yang kita hindari”.

Oleh karena itu, Ferry berjanji akan mengoordinasikan secara darurat agar bantuan bisa disalurkan ke wilayah yang paling membutuhkan.

Tanggung Jawab dan Keputusan Turun ke Lapangan

Dana sebesar Rp10 Miliar ini membawa serta tanggung jawab yang besar. Ferry berjanji bahwa laporan penggunaan dan pencairan dana akan terperinci di halaman KitaBisa.

Meskipun awalnya sempat bimbang karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan (harus mendapatkan clearance dari dokter), di penutupan live streaming, Ferry membuat keputusan penting.

“gua bilang ‘Oke sekarang gua bisa putuskan dananya besar tanggung jawabnya besar dan gua harus ada di lapangan.’ That’s it jadi gua pasti ke Sumatera nanti kita cari daerah yang emang paling butuh bantuan yang paling perlu kita awasi gitu dan mungkin kita bakal keliling di situ jadi itu teman-teman buat yang nanya lu berangkat ke Sumatera juga Bang atau enggak gua berangkat gitu,” tegasnya. (yud)

Tiga Menteri dan Jejak Korporasi di Balik Ratusan Korban Jiwa Longsor-Banjir Sumatera 

EtIndonesia. Tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatera, merenggut ratusan jiwa dan menyebabkan ribuan pengungsi, bukan hanya disikapi sebagai takdir alam. Bagi pegiat lingkungan, musibah ini adalah akumulasi dari kegagalan kebijakan dan buruknya pengawasan, yang puncaknya terlihat dari gelondongan kayu hutan yang ikut hanyut bersama air bah.

Iqbal Damanik, Koordinator Kampanye Greenpeace, yang diwawancarai khusus, menyebut peristiwa ini sebagai ironi di mana bencana yang seharusnya bisa dicegah malah terjadi karena mengabaikan peringatan.

“Ini adalah peristiwa yang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar supaya pemerintah bisa bertindak lebih cepat untuk menanggulangi peristiwa yang sangat mengharukan bagi kita semua,” ujar Damanik.

Dua Pemicu Utama Bencana yang Sudah Terprediksi

Damanik menegaskan bahwa tragedi di Sumatera ini memiliki dua akar masalah utama: cuaca ekstrem dan kondisi ekologis yang hancur. Ia menyoroti bahwa krisis iklim yang memicu anomali cuaca telah lama diprediksi oleh para ahli.

“Kalau kita lihat ada dua sebenarnya penyebab utamanya di sini. Pertama cuaca ekstrem itu memang harus kita iyakan… tapi harus kita ketahui bahwa cuaca ekstrem ini terjadi adalah akibat kebijakan pemerintah yang gagal,” tegas Damanik.

Prediksi tentang potensi bencana di wilayah-wilayah esensial seperti Batang Toru, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan sudah ada bahkan sejak sepuluh tahun lalu. Ironisnya, peringatan dari para ahli dan aktivis lingkungan ini tak pernah diindahkan.

“Yang dia prediksi menjadi kebenaran, Pak. Itu menyedihkan sekali bagi kami sebenarnya karena kita selalu berpikir bencana dan pasti bencana itu pasti ada korban,” kenang Damanik.

Kondisi diperparah oleh kerusakan lingkungan yang masif. Damanik menyebut deforestasi di Sumatera sudah “bukan masif lagi ya sangat masif sekali”. Di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kini terdampak banjir, hampir 30% hutannya sudah gundul.

Jaring Tiga Sektor Biang Keladi Deforestasi

Laporan menunjukkan bahwa tragedi banjir bandang yang membawa kayu gelondongan memperkuat dugaan adanya pembalakan liar atau penebangan tak terkendali. Damanik menyebut bahwa deforestasi besar di Indonesia didorong oleh korporasi, bukan sekadar rakyat kecil yang mencari kayu bakar.

Tiga sektor ekstraktif berbasis lahan menjadi penyumbang utama deforestasi di Sumatera:

1.    Perkebunan (Sawit): Perubahan lahan masif untuk sawit menjadi salah satu penyebab utama deforestasi. Damanik menolak argumentasi bahwa sawit bisa menggantikan fungsi hutan. “Kan enggak begitu teorinya… wilayah-wilayah Sumatera yang kalau kita lihat beberapa video di drone itu wilayah yang pertama kali banjir itu wilayah-wilayah sawit,” jelasnya.

2.    HTI (Hutan Tanaman Industri): Sektor ini mengikuti jejak HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang kemudian berubah dan berkontribusi besar pada hilangnya kawasan hutan.

3.    Pertambangan: Sektor ini juga menjadi penyebab utama deforestasi, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.

Bahkan, ia menduga banyak perkebunan sawit yang masuk dalam kawasan hutan seharusnya tidak diizinkan dan harus dikembalikan ke ekosistem awalnya (rehabilitasi), bukan dilepas karena dianggap “keterlanjuran”. “Harusnya dikembalikan, harus dikembalikan dan harusnya Pak Raja Juli [Menteri ATR/BPN]… harus dikembalikan karena itu kan kawasan hutan dan itu pidana loh Pak,” tandas Damanik.

Tuntutan Mundur dan Peluang Hukum Internasional

Damanik mendesak agar pemerintah berhenti menyebut bencana ini sebagai takdir tanpa mencari pihak yang bertanggung jawab, khususnya pemangku kebijakan.

“Kita harus cari siapa yang salah gitu. Harus dicari siapa penyebabnya. Menteri harus ada yang mundur nih Pak. Harus ada menteri yang mundur harus ada menteri yang minta maaf,” serunya.

Ia mengidentifikasi setidaknya tiga menteri yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kegagalan pengawasan dan kebijakan (policy failure):

1.    Raja Juli (Menteri ATR/BPN): Karena ia berurusan dengan pemberian izin kehutanan dan pengawasan di bidang kehutanan.

2.    Bahlil Lahadalia (Menteri ESDM): Karena berwenang memberikan izin pertambangan di dalam maupun di luar kawasan hutan, dan pengawasan melekat pada izin tersebut.

3.    Hanif Faisal (Kementerian Lingkungan Hidup): Karena menerbitkan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) untuk menganalisis kelayakan izin diterbitkan.

Damanik menganggap bahwa bencana ini terjadi karena ada fungsi menteri yang tidak bekerja, baik fungsi pengawasan maupun pengendalian, atau bahkan melakukan “pembiaran” (by omission).

“Ini sangat mungkin sebenarnya diajukan, diajukan baik itu ke Mahkamah Internasional gitu maupun ee dalam negeri gitu ya untuk meminta ee pertanggungjawaban mereka,” ungkap Damanik.

Peluang tuntutan ini semakin kuat setelah Mahkamah Internasional (ICG) pada Juli 2025 memberikan keputusan penafsiran bahwa negara yang gagal mengendalikan perubahan iklim sehingga menyebabkan bencana dapat dituntut di Mahkamah Internasional.

Greenpeace, melalui unit climate litigation mereka, siap mendukung upaya hukum ini, meskipun legal standing harus diajukan oleh korban langsung.

“Kita punya hak loh untuk melakukan meminta paling tidak pertanggungjawaban kepada para pemerintah,” tutup Damanik. Bencana ini, menurutnya, akan terus berulang jika para pemangku kepentingan tidak merevisi kebijakan yang telah mereka biarkan selama ini.

Menimbang Tanggung Jawab: Apabila kebijakan lingkungan diibaratkan sebagai benteng yang harus melindungi masyarakat dari badai (krisis iklim), maka kegagalan di Sumatera menunjukkan bahwa benteng tersebut bukan hanya rapuh, melainkan sudah lama dirobohkan dari dalam. Tiga menteri yang memiliki kunci pengawasan dan perizinan, menurut Damanik, adalah penjaga benteng yang alih-alih memperkuat, justru membiarkan korporasi membawa gergaji mesin untuk menambal benteng dengan uang, hingga akhirnya benteng itu ambruk total saat badai sesungguhnya datang. (Yud)

Pohon Anggur Tertua di Dunia yang Masih Hidup Telah Ada Selama Lebih dari 400 Tahun

EtIndonesia. Sebuah pohon anggur liar berusia 416 tahun di pegunungan Tibet timur baru-baru ini diakui oleh Guinness World Records sebagai pohon anggur tertua di dunia yang masih hidup.

Deretan pohon anggur Methuselah ini ditemukan di Desa Zuoba, Kabupaten Zogang, Tibet, secara tidak sengaja, saat survei pohon-pohon kuno dan terkenal di Kota Changdu. Para ilmuwan dari Laboratorium Penelitian Ilmu Kayu di Universitas Kehutanan Barat Daya di Tiongkok kemudian mengonfirmasi usianya yang mengesankan (416 tahun) melalui analisis lingkaran dan pengukuran fisik.

Dengan tinggi sekitar delapan meter, dengan lingkar batang 209 sentimeter dan diameter batang 67 sentimeter, pohon anggur tertua di dunia yang baru ini merupakan spesimen yang tampak mengesankan. Yang lebih mengesankan lagi adalah fakta bahwa, meskipun kebanyakan pohon anggur jarang hidup lebih dari 50 tahun, 64 pohon anggur berusia lebih dari seratus tahun telah diidentifikasi di Kabupaten Zogang. Tradisi pembuatan anggur di wilayah ini telah berlangsung lebih dari 1.000 tahun, dan ada sesuatu tentang lingkungan setempat yang membantu tanaman tersebut tumbuh subur.

Menemukan pohon anggur liar yang tumbuh subur di pegunungan Tibet, pada ketinggian lebih dari 2.400 meter, memang tak terduga, tetapi juga merupakan bukti ketangguhan dan kesabaran alam.

Menariknya, gelar pohon anggur tertua yang masih berbuah adalah milik The Old Vine of Maribor, di Slovenia. Pohon itu diperkirakan berusia antara 350 dan 400 tahun ketika diteliti pada tahun 1972, tetapi usianya tidak pernah ditentukan secara akurat, karena alasnya telah lapuk.(yn)

Rencana Pembangunan Gedung Pencakar Langit di Jantung Pegunungan Alpen Swiss Picu Kontroversi di Kalangan Warga

EtIndonesia. Seorang pengusaha hotel dan arsitek Swiss baru-baru ini mengungkapkan rencana pembangunan gedung pencakar langit 65 lantai yang menghadap Matterhorn di Pegunungan Alpen Swiss, sebagai cara untuk menyediakan hunian terjangkau.

Pariwisata sedang berkembang pesat di Zermatt, sebuah komune kecil di Pegunungan Alpen Swiss di mana populasi penduduknya yang hanya sekitar 6.000 jiwa membengkak menjadi 40.000 jiwa di bulan-bulan musim dingin, sehingga hampir mustahil untuk menemukan akomodasi terjangkau. Hal ini memberikan tekanan yang besar bagi pengunjung dan pengusaha lokal yang kesulitan menemukan tempat tinggal bagi karyawan mereka. Kini, seorang pengusaha hotel lokal mencoba memecahkan masalah ini dengan membangun gedung pencakar langit setinggi 260 meter tepat di dekat Matterhorn yang ikonis.

Heinz Julen, seorang pengusaha hotel dan arsitek berusia 61 tahun, mengungkap rencana ambisiusnya untuk membangun gedung pencakar langit di luar Zermatt bulan lalu, di hadapan sekelompok anak muda yang tampak sangat antusias dengan gagasan tersebut. Hal yang sama tidak berlaku bagi penduduk setempat, yang sebagian besar menganggap ide itu gila dan mengancam daya tarik Zermatt.

“Mengapa tidak mengukir Matterhorn, membangun apartemen di dalamnya, dan memasang lift ke puncak?” tanya seorang penduduk setempat dengan nada sarkastis. “Jika gedungnya cukup tinggi untuk menghalangi pemandangan gunung, wisatawan mungkin akan berhenti datang, dan harga rumah bisa turun.”

Pencakar langit Julen, yang dijuluki Puncak Lina, sungguh ambisius. Lantai 2 hingga 32 akan diperuntukkan bagi penduduk lokal, serta ratusan warga asing yang bekerja musiman di hotel, restoran, dan perusahaan taksi listrik di Zermatt. 30 lantai teratas akan diperuntukkan bagi apartemen mewah yang menyasar investor asing kaya.

“Saya sudah lama memikirkannya, dan saya telah menghabiskan banyak waktu, bahkan mungkin banyak uang,” kata Julen kepada penyiar publik Swiss, SRF. “Kelangkaan perumahan adalah masalah serius. Banyak penduduk terpaksa pindah karena kurangnya ruang yang terjangkau.”

Harga properti di Zermatt meroket selama pandemi, dan belum turun sejak saat itu, tetapi Heinz Julen berhasil mengamankan sebidang tanah di dekat Matterhorn dan, jika idenya berhasil meraih 500 juta euro, dia berharap dapat mewujudkannya pada tahun 2034.

Memerangi kekurangan perumahan di resor Pegunungan Alpen Swiss dengan membangun gedung pencakar langit tepat di sebelah salah satu puncak gunung paling terkenal di dunia merupakan langkah yang berani, dan agak aneh, tetapi Julen terkenal karena sikapnya yang tidak konvensional.

Arsitek kelahiran Zermatt yang berusia 61 tahun ini telah mulai mengumpulkan tanda tangan dari penduduk setempat, dan para ahli menganggap realisasi Puncak Lina cukup realistis.(yn)

Kumpulan Renungan Sanubari dari Linimasa Teman-teman

EtIndonesia. Usaha dan hasil selalu dipisahkan oleh jarak tertentu. Perbedaan antara sukses dan gagal hanyalah satu: mampukah kamu bertahan melewati jarak yang tak pasti itu.

Kuasailah buku—jangan biarkan buku menguasai dirimu. Bacalah demi hidup, jangan hidup demi membaca.

Jangan pernah membicarakan orang-orang dalam lingkaran yang sama kepada seseorang yang juga berada di lingkaran itu—tidak peduli seberapa dapat dipercaya orang tersebut.

Hidup seseorang adalah perjalanan perjuangan. Untuk meraih keberhasilan, manusia harus terus berupaya, karena keberhasilan hanyalah hasil dari perjuangan, dan perjuangan adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan.

Disiksa oleh hidup itu kadang sebuah kenikmatan, kadang sebuah kebahagiaan— namun lebih sering merupakan bentuk ketidakberdayaan.

Kadang dengan sedikit menunduk, hidup kita justru menjadi lebih indah, dan kemampuan kita pun ikut bertumbuh.

Cinta boleh tanpa materi, tapi hidup tidak bisa.

Orang yang positif melihat peluang di setiap kesulitan. Orang yang negatif melihat kesulitan di setiap peluang.

Harapan adalah ibu susu dari kehidupan.

Hidup manusia singkat— tapi jika dijalani dengan kehinaan dan keburukan, dia terasa terlalu panjang. Hanya mencipta barulah kenikmatan sejati; hanya berjuang barulah hidup terasa penuh.

Syukurilah setiap tantangan baru, karena merekalah yang menempa kemauan dan membentuk karakter kita.

Orang yang hanya berkhayal tanpa bertindak tidak akan pernah merasakan indahnya memetik buah usaha.

Setiap orang memiliki energi tersembunyi dalam dirinya— yang mudah tertutupi oleh kebiasaan, kacau oleh waktu, dan terkikis oleh rasa malas.

Setiap orang memiliki dunianya sendiri, sunyi dan kesepian.Teman itu seperti gunung, seperti air— tanpa teman, ke mana pun kita pergi rasanya seperti mengembara tanpa rumah.

Hidup bukan sekadar bernapas; hidup adalah bergerak dan bertindak.

Siapa yang bekerja sekeras aku, akan meraih keberhasilan seperti aku.

Jika kehendak menyerah, sekecil apa pun, itu sama saja membantu kekuatan yang menindasmu.

Bukan orang lain yang membuatmu menderita— tapi karena ketabahan dan kedewasaanmu belum cukup.

Tidak ada “simpul mati” dalam hidup. Begitu kau memahami, hidup hanya sesederhana — lapar makan, lelah tidur.

Yang menentukan keberhasilan bukan kemampuan, tetapi pilihan.

Langkah tercepat bukanlah lompatan besar, melainkan terus melangkah. Langkah terlambat bukan langkah kecil, melainkan ragu-ragu. Jalan terbaik bukan jalan raya, melainkan jalan yang kau tempuh dengan hati-hati.  Jalan paling berbahaya bukan tebing curam, melainkan lubang perangkap yang tak terlihat.

Awan gelap menutupi bulan, tak ada jejak manusia— betapa dalamnya kesepian itu.

Tidak memikirkan sesuatu tiga kali akan membawa kegagalan; orang yang mampu seratus kali menahan diri tidak akan punya keresahan.

Dalam hidup, jangan menuntut kesempurnaan mutlak— sisakan sedikit ketidaksempurnaan, maka akan muncul keindahan yang tak terbatas.

Belajar tanpa berpikir akan membuatmu tersesat; berpikir tanpa belajar akan membuatmu celaka.

Seorang pedagang yang penuh semangat harus memiliki kebiasaan berhati-hati, cekatan, dan tidak menggampangkan sesuatu.

Jika ingin disukai orang lain, ubah dulu sikapmu terhadap orang lain— bersikap ringan, ekspresi alami, selalu tersenyum— maka orang pun akan menyukaimu.

Untuk meningkatkan diri, kamu harus berusaha lebih keras dan memberi lebih banyak dari yang lain. Saat itu mungkin terasa berat dan melelahkan, tapi dalam jangka panjang kamu pasti mendapat hasilnya.

Tidak ada awal yang bisa selesai sekali kerja. Tidak ada akhir yang tidak bisa diselamatkan.

 Dalam hidup, yang perlu kamu genggam adalah: yang harus dimulai, mulailah tanpa ragu;
yang harus diakhiri, akhirilah dengan tegas.

Banyak orang terus-menerus membuat kesalahan karena mengira meminta maaf setelahnya lebih mudah daripada menahan diri sebelumnya.

Menyadari dan memperbaiki kesalahan tidak pernah terlambat.

Memiliki seseorang yang peka membaca kesedihanmu dan berusaha membuatmu tersenyum— itu sudah sangat cukup.

Hidup adalah proses perubahan— kadang menyakitkan, kadang indah, tapi lebih sering… keduanya sekaligus. (jhn/yn)

Fakta Mengejutkan Terkuak dari Siaran Radio  : Hiasan Natal Ternyata Buatan Tangan Para Tahanan di Tiongkok

Memasuki Desember, suasana Natal mulai terasa di mana-mana. Setiap rumah mulai menghias pohon Natal dan memasang berbagai ornamen. Namun, berapa banyak orang yang pernah berpikir dari mana sebenarnya dekorasi “Made in China” itu berasal? Huang Kui, seorang doktor yang pernah dipenjara karena berlatih Falun Gong, mengungkap dalam sebuah acara radio di Amerika bahwa selama ditahan, ia dipaksa melakukan kerja paksa berjam-jam setiap hari—seperti hidup di “neraka dunia”. Salah satu produk yang ia buat adalah dekorasi Natal yang diekspor ke Amerika Serikat.

EtIndonesia. Pada Senin (1 Desember), host radio WGMD 92-7 di Delaware, Amerika Serikat, Kevin Wade, mengundang Huang Kui untuk menceritakan pengalamannya selama lima tahun di penjara Tiongkok, ketika ia dipaksa bekerja 18 jam per hari.

Huang Kui sebelumnya adalah mahasiswa doktoral di Universitas Tsinghua. Hanya karena berlatih Falun Gong dan berusaha hidup sesuai prinsip “Sejati, Baik, Sabar”, studi doktornya terhenti dan ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara. 

Di penjara, ia mengalami berbagai bentuk penyiksaan, termasuk kerja paksa, sengatan listrik, tidak diberi tidur, dan indoktrinasi. Beruntung, pada tahun 2008 ia berhasil melarikan diri ke Amerika Serikat dan kemudian meraih gelar doktornya di sana.

Logo stasiun radio WGMD 92-7 di Negara Bagian Delaware, Amerika Serikat. (Situs resmi WGMD 92-7)”

Huang mengingat bahwa dari akhir 2000 hingga akhir 2005, ia ditahan di sebuah penjara di Guangdong. Setiap hari ia harus mengerjakan pekerjaan kasar membuat berbagai barang kerajinan, sebagian besar berupa dekorasi perayaan, seperti bunga plastik, pohon Natal, dan lampu hias.

Intensitas kerja sangat berat, tanpa hari libur. Lebih buruk lagi, sekitar 20 orang dipaksa tinggal di satu sel kecil—makan, tidur, ke toilet, dan bekerja semuanya dilakukan dalam ruang sempit itu. Hidup benar-benar seperti “neraka dunia”.

Huang berkata bahwa bunga plastik yang mereka buat diberi label berbahasa Inggris dengan harga dalam dolar AS. Para sipir mengatakan bahwa barang-barang itu akan diekspor ke Amerika Serikat.

Pada 29 Oktober 2025, dalam konferensi pers Hari Klarifikasi Fakta Falun Dafa yang digelar di Gedung Parlemen Negara Bagian Pennsylvania, Huang Kui, mantan mahasiswa doktoral Universitas Tsinghua, menceritakan pengalamannya yang ditahan dan dianiaya secara ilegal oleh Partai Komunis Tiongkok selama lima tahun karena berlatih Falun Gong.” (Wen Shengyuan / The Epoch Times)

Selain kerajinan tangan, mereka juga dipaksa mengolah makanan. Ia mengatakan bahwa memproses kacang pistachio adalah pekerjaan paling menjijikkan karena harus mengupas cangkang kerasnya dengan tangan. Keringat, air mata, darah, bahkan nanah dari luka melepuh para tahanan semuanya menempel pada kacang-kacang itu. Ada juga yang memakai air kencing untuk melunakkan cangkangnya. Menurut sipir, kacang-kacang itu dikirim dari AS ke Tiongkok untuk diproses, kemudian dikirim kembali ke AS untuk dijual.

Huang mengungkapkan bahwa setelah ia tiba di Amerika dan melihat produk yang pernah ia buat secara paksa di penjara justru terpajang di rak toko-toko Amerika, ia tidak bisa menggambarkan perasaannya.

Faktanya, selama 26 tahun terakhir, tak terhitung praktisi Falun Gong yang ditangkap, dipenjara, atau bahkan menjadi korban pengambilan organ secara paksa oleh rezim Tiongkok. Mendengar cerita ini, pembawa acara Wade berkata, “Ini benar-benar mengejutkan!”

Falun Gong—juga dikenal sebagai Falun Dafa—adalah sebuah praktik spiritual yang damai dan berlandaskan nilai-nilai universal Sejati, Baik, dan Sabar. Sejak 1999, PKT telah berupaya melenyapkan kelompok keyakinan ini melalui pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis dan sangat kejam.”

Meskipun disiplin ini saat ini dipraktikkan di lebih dari 100 negara di seluruh dunia, Falun Gong justru menjadi sasaran penindasan berat di Tiongkok komunis. Para praktisinya terus menghadapi penganiayaan parah, dengan laporan mengenai penyiksaan, kerja paksa, pembunuhan, serta praktik pemaksaan pengambilan organ hidup-hidup. (hui)

Mimpi yang Tak Bisa Digenggam, Mengapa Tak Kamu Lepaskan Saja

EtIndonesia. Manusia… selalu akan melalui berbagai pengalaman dalam hidup— entah itu tentang cinta, persahabatan, ataupun keluarga.

Tak ada seorang pun yang bisa bahagia setiap hari tanpa pernah merasakan sedih. Tak ada seorang pun yang bisa selamanya kuat tanpa pernah menunjukkan kelemahan.

Kamu Tidak Bisa Mengubah Fakta, Tapi Kamu Bisa Mengubah Sikap

Entah mengapa, ada hal—ada mimpi—yang memang tidak bisa kita ubah. Mungkin karena kita belum menemukan mimpi sejati yang benar-benar untuk kita. Mungkin karena kita masih mengejar kesempurnaan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Kita pernah sombong, pernah berfantasi, pernah berjuang keras untuk sebuah mimpi yang ternyata terlalu sempit untuk hidup kita.

Namun saat kita menoleh kembali, kita menyadari… banyak hal yang dulu terlihat penting, kini sudah menjadi ringan seperti angin.

Kamu Tidak Bisa Mengubah Masa Lalu, Tapi Kamu Bisa Mengubah Hari Ini

Biarlah masa lalu pergi— karena hanya dengan begitu kita bisa melangkah lebih baik ke masa depan.

Ketika beban yang tidak perlu kamu lepaskan, hidup justru terasa lebih indah.

Ada mimpi yang memang harus dilepaskan… tapi ada pula mimpi yang justru menguatkan langkah kita.

Dan bagiku— mimpi yang kumiliki di Parfit (帕菲特) bukanlah sesuatu yang bisa kutinggalkan begitu saja.

Lepaskan Beban yang Tidak Perlu, Barulah Hidup Menjadi Lebih Indah

Banyak hal dalam hidup hanya bisa kita pahami setelah kita benar-benar mengalaminya. Misalnya tentang cinta—setelah merasakan sakit, barulah kita tahu bagaimana melindungi hati. Pernah bertindak bodoh, barulah kita tahu kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan.

Dalam proses mendapat dan kehilangan, sedikit demi sedikit kita mengenal diri sendiri. Sesungguhnya, hidup tidak membutuhkan begitu banyak keterikatan yang melelahkan— selama kita tidak terus-menerus melukai diri kita sendiri.

Kita tidak bisa mengubah lingkungan, tapi kita bisa mengubah diri sendiri.

Karena muda, kita pasti pernah melalui banyak kejadian— tak ada seorang pun yang bisa bahagia setiap hari, tak ada seorang pun yang bisa sepenuhnya tegar tanpa pernah rapuh.

Yang membuat kita dewasa adalah pengalaman dan luka yang kita lewati. Yang membuat kita bahagia adalah kelapangan hati dan kasih sayang. Yang membuat hati kita tenang adalah pengertian dan kepercayaan.

Kita tidak bisa mengubah fakta, tapi kita bisa mengubah sikap.

Ada hal-hal yang memang tidak bisa diubah. Mungkin karena kita belum menemukan mimpi yang benar-benar milik kita. Mungkin karena kita masih mengejar kesempurnaan yang sebenarnya tidak akan pernah ada.

Kita pernah berbangga diri, pernah berangan-angan, pernah mati-matian mengejar tujuan yang sempit.

Namun ketika suatu hari kita menoleh ke belakang, kita sadar— banyak hal ternyata bisa dilepaskan begitu saja, ringan seperti awan.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah hari ini.

Biarkan masa lalu berlalu. Justru dengan begitu, kita bisa melangkah lebih baik ke masa depan.

Karena ketika beban yang tidak perlu kita lepaskan, hidup terasa jauh lebih indah.

Hidup ini begitu singkat— untuk apa menyia-nyiakannya?

Masih banyak hal yang perlu kita lakukan, masih ada orang-orang penting yang menunggu untuk kita cintai dan hargai.

Jangan lagi menoleh ke belakang— karena dunia di depan jauh lebih luas dan jauh lebih indah. (jhn/yn)

Kebanyakan Orang Hidup dengan Cara Seperti Ini

EtIndonesia. Sebagian besar dari kita lahir di keluarga pekerja biasa—hidup yang kita jalani sering kali jauh lebih berat daripada yang disadari banyak orang. Kita punya pekerjaan, tapi tidak selalu punya jaminan pekerjaan. Kita tinggal di rumah kontrakan dan pusing tiap bulan memikirkan uang sewa, listrik, dan air. Kalau pun punya rumah sendiri, pikiran masih terus dikejar cicilan yang seolah tak ada habisnya.

Sebenarnya kita saling tahu: kamu bekerja siang malam, aku tahu kamu sudah berusaha sekuat tenaga, dan aku paham betapa kerasnya kehidupan ini menekan kita.

Bersempit-sempitan di bus sampai tubuh seperti mau gepeng, makan fast food sampai bosan, pulang kerja lelah sampai tak punya tenaga untuk bicara, sementara rumah masih penuh urusan kecil besar yang menunggu.

Kadang rasanya pengin meledak di tempat.

Dan deskripsi sederhana itu, entah sudah menyentuh hati berapa banyak orang biasa—termasuk diriku sendiri.

Karena itu kita berlari, bekerja keras, berharap, berjuang… semua demi hari ketika kita bisa “naik kelas” dan terbebas dari label orang biasa. Siapa sih yang tidak ingin menjadi “pemenang hidup”?

Tapi pernahkah kamu bertanya: Kalau seumur hidup ini kita tetap menjadi orang biasa, bagaimana?

Mungkin kita berjuang belasan tahun, tapi tetap tidak menjadi luar biasa. Masih bekerja di pekerjaan yang biasa, menjalani hidup yang biasa.

Bisakah kita menerima kenyataan itu?

Pada suatu masa, aku sempat merasa hidup ini tidak adil. Setiap hari berdesakan di bus, bekerja sekuat tenaga, tapi hidup tetap berat. Gajiku bahkan tidak sebanding dengan harga secangkir kopi atau seporsi pasta di restoran elit.

Aku bisa menelan ketidakadilan itu, tapi tetap tidak mengerti: mengapa sudah begitu berusaha, tapi hidup yang kuinginkan tetap terasa jauh?

Lalu aku membaca dua paragraf yang sangat aku suka, yang membuatku perlahan paham bahwa menjadi orang biasa tidak selalu buruk. Kadang, justru di sanalah letak kebahagiaan terbesar.

Karena “biasa” bukan alat pembanding, dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan diri.

Benar, kita harus punya keinginan untuk berkembang. Tidak salah ingin sukses.

Namun kita juga harus jujur dan realistis melihat diri sendiri.

Seorang yang kemampuannya biasa, bakatnya biasa, keluarga biasa, dan keberuntungannya pun biasa— dalam hidup yang terbatas, ia pasti punya banyak ketidakbebasan:

  • banyak hal ingin dilakukan tapi tidak mampu,
  • banyak mimpi ingin dikejar tapi tidak terjangkau.

Namun, sering kali hakikat kehidupan memang sederhana dan membutuhkan kesetiaan. Dalam kesederhanaan itulah kebahagiaan kecil bertahan lama.

Kalau tidak, mengapa kita merasa bahagia ketika:

  • pulang kerja lelah lalu melihat senyum polos anak kita,
  • duduk makan hotpot bersama sahabat di malam yang dingin,
  • melihat tubuh sendiri berubah karena disiplin berolahraga,
  • menerima dukungan saat menghadapi masalah,
  • dikuatkan oleh orang tua dan pasangan saat berada pada titik terendah?

Semua kebahagiaan itu tidak ada hubungannya dengan luar biasa atau tidaknya diri kita.

Manusia perlu punya mimpi, iya. Perlu punya semangat untuk maju, benar.

Tapi kita juga perlu keberanian untuk mengakui bahwa kita adalah orang biasa—dan itu tidak apa-apa.

Akhirnya, aku mulai mengerti. Hidup yang bahagia bukan tentang seberapa hebat kita terlihat, tapi seberapa nyaman hati kita menjalani hidup.

Aku belajar bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang biasa, tetapi tetap menciptakan hidup yang unik, penuh warna, dan bermakna.

Lebih mencintai hidup, mengisi hari dengan hal-hal yang membuat jiwa kaya menumbuhkan kebijaksanaan, dan menjaga batin tetap puas.

Tanpa membandingkan diri dengan siapa pun. Karena memang tidak ada gunanya dan tidak ada perlunya.

Hidup orang lain adalah hidup mereka. Hidup kita adalah hidup kita.

Dan bagi sebagian besar orang, yang terpenting bukan hidup orang lain— tetapi hidup yang sedang kita jalani saat ini, hidup yang sepenuhnya milik kita sendiri.(jhn/yn)

Staf Umum Ukraina Mengonfirmasi Serangan Terhadap Pabrik Kimia di Dekat Stavropol, Rusia

EtIndonesia. Pada malam 4 Desember, pasukan Ukraina menyerang sebuah fasilitas industri di wilayah Stavropol, Rusia, yang beroperasi sebagai bagian dari kompleks industri militer Rusia. Targetnya adalah pabrik Nevinnomyssk Azot, menurut Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina.

“Sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi potensi ofensif musuh dan kemampuannya melancarkan serangan rudal dan bom, pada malam 4 Desember, unit-unit Angkatan Pertahanan Ukraina menyerang salah satu pabrik kimia terbesar milik agresor — Nevinnomyssk Azot di wilayah Stavropol, Rusia,” demikian pernyataan tersebut.

Pabrik tersebut merupakan komponen yang sangat penting dari kompleks industri militer Rusia. Pabrik ini memproduksi lebih dari 1 juta ton amonia dan hingga 1,4 juta ton amonium nitrat setiap tahunnya, menjadikannya salah satu pemasok utama komponen dasar untuk produksi bahan peledak.

“Salah satu bengkel produksi terkena serangan, dan kebakaran di lokasi tersebut terkonfirmasi,” tambah Staf Umum.

Selain pabrik, pasukan Ukraina mengonfirmasi serangan terhadap personel Rusia di tempat latihan dekat Dokuchaievsk di wilayah Donetsk yang diduduki sementara. Rusia kehilangan hingga 60 tentara tewas dan terluka.

“Pasukan Pertahanan terus mengambil semua langkah untuk melemahkan potensi militer dan ekonomi penjajah Rusia dan memaksa Federasi Rusia untuk mengakhiri agresi bersenjatanya terhadap Ukraina,” pungkas Staf Umum.

Pada malam 4 Desember, Rusia melaporkan ledakan di kota Oryol dan di Wilayah Stavropol. Di salah satu kota, pesawat tanpa awak menyerang pabrik kimia besar — ​​Nevinnomyssk Azot.

Sebelumnya, pada malam 3 Desember, pemadaman listrik terjadi di wilayah Donetsk yang diduduki sementara menyusul serangan pesawat tanpa awak di Donetsk dan Makiivka. Pemadaman listrik sebelumnya di wilayah Donetsk yang diduduki terjadi pada 22 November, juga akibat serangan pesawat tanpa awak yang tidak dikenal.(yn)