Apa yang Terjadi pada MH370? Pencarian Baru Segera Dimulai, Berusaha Mengungkap Misteri

EtIndonesia. Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 yang membawa 239 orang hampir 12 tahun lalu masih menjadi salah satu misteri penerbangan terbesar di dunia.

Boeing 777 hilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing pada 8 Maret 2014. Lebih dari 150 penumpang Tiongkok dan 50 warga Malaysia berada di dalam pesawat tersebut, serta warga negara Prancis, Australia, Indonesia, India, Amerika Serikat, Ukraina, dan Kanada, di antara negara-negara lainnya.

Analisis data satelit menunjukkan pesawat tersebut kemungkinan jatuh di suatu tempat di Samudra Hindia bagian selatan, di lepas pantai Australia barat. Namun, dua pencarian besar gagal menghasilkan temuan yang signifikan.

Pencarian baru untuk pesawat yang hilang ini akan dimulai pada 30 Desember 2025.

Apa yang Diketahui?

Transmisi terakhir dari pesawat tersebut sekitar 40 menit setelah lepas landas dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Kapten Zaharie Ahmad Shah mengakhiri panggilannya dengan “Selamat malam, Malaysia tiga tujuh nol”, saat pesawat memasuki wilayah udara Vietnam.

Tak lama kemudian, transpondernya dimatikan, yang berarti pesawat tidak dapat dilacak dengan mudah.

Radar militer menunjukkan pesawat meninggalkan jalur penerbangannya untuk terbang kembali di atas Malaysia utara dan Pulau Penang, lalu ke Laut Andaman menuju ujung Pulau Sumatra, Indonesia. Pesawat kemudian berbelok ke selatan dan kehilangan kontak.

Pencarian Bawah Air

Malaysia, Australia, dan Tiongkok meluncurkan pencarian bawah air di area seluas 120.000 km persegi (46.332 mil persegi) di Samudra Hindia bagian selatan, berdasarkan data koneksi otomatis antara satelit Inmarsat dan pesawat tersebut.

Pencarian, yang menghabiskan biaya sekitar 200 juta dolar, dihentikan setelah dua tahun pada Januari 2017, tanpa jejak pesawat yang ditemukan.

Pada tahun 2018, Malaysia menerima tawaran “No cure, no-fee” dari perusahaan eksplorasi AS, Ocean Infinity, untuk pencarian selama tiga bulan. Ini berarti perusahaan hanya akan dibayar jika menemukan pesawat tersebut.

Pencarian tersebut mencakup area seluas 112.000 km persegi (43.243 mil persegi) di utara area target awal dan juga terbukti sia-sia, berakhir pada Mei 2018.

Puing 

Lebih dari 30 keping puing pesawat yang diduga telah dikumpulkan di sepanjang pantai Afrika dan di pulau-pulau di Samudra Hindia, tetapi hanya tiga fragmen sayap yang dipastikan berasal dari MH370.

Sebagian besar puing digunakan dalam analisis pola drift dengan harapan dapat mempersempit kemungkinan lokasi pesawat.

Laporan Investigasi 

Sebuah laporan setebal 495 halaman tentang hilangnya MH370, yang diterbitkan pada Juli 2018, menyatakan bahwa kontrol Boeing 777 kemungkinan sengaja dimanipulasi untuk mengalihkannya dari jalur, tetapi para penyelidik tidak dapat menentukan siapa yang bertanggung jawab.

Laporan tersebut juga menyoroti kesalahan yang dibuat oleh pusat kendali lalu lintas udara Kuala Lumpur dan Kota Ho Chi Minh serta mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari insiden terulang.

Para penyelidik belum memberikan kesimpulan apa pun tentang apa yang terjadi pada MH370, dengan mengatakan bahwa hal itu bergantung pada penemuan puing-puing pesawat.

Teori Konspirasi 

Ketidakmampuan menemukan lokasi jatuhnya MH370 telah memicu berbagai teori konspirasi, mulai dari kesalahan mekanis atau kecelakaan yang dikendalikan dari jarak jauh, hingga penjelasan yang lebih aneh seperti penculikan alien atau plot Rusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa pakar penerbangan mengatakan bahwa penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa pesawat itu sengaja dibelokkan dari jalurnya oleh seorang pilot berpengalaman. Namun, para penyelidik mengatakan tidak ada yang mencurigakan dalam latar belakang, urusan keuangan, pelatihan, dan kesehatan mental kapten dan kopilot.

Pencarian Dimulai Kembali 

Pemerintah Malaysia pada Desember 2024 mengumumkan akan melanjutkan pencarian puing-puing pesawat menyusul proposal baru dari Ocean Infinity, yang akan menerima 70 juta dolar jika puing-puing substansial ditemukan. Pencarian dimulai pada Maret tahun ini tetapi ditangguhkan setelah beberapa minggu karena cuaca buruk.

Pencarian baru yang dimulai pada 30 Desember akan sesuai dengan syarat dan ketentuan yang sama yang disepakati antara Malaysia dan Ocean Infinity pada tahun 2024 dan akan dilakukan di wilayah seluas 15.000 km persegi (5.790 mil persegi) di Samudra Hindia bagian selatan. Lokasi tepatnya belum disebutkan.

Ocean Infinity telah mengonfirmasi akan memulai kembali operasi dasar laut selama 55 hari, yang dilakukan secara berkala, kata Kementerian Perhubungan Malaysia, seraya menambahkan bahwa pencarian yang dilanjutkan akan berada di “area target yang dinilai memiliki probabilitas tertinggi untuk menemukan pesawat tersebut.” (yn)

Putin Menyatakan Rusia Siap Berperang dengan Eropa

EtIndonesia. Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia tidak menginginkan perang dengan Eropa tetapi siap menyerang kapan saja. Pernyataan ini disampaikan Putin saat berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan dengan utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff.

“Rusia tidak pernah dan tidak berniat untuk melawan Eropa,” kata Putin, mengulangi narasi Kremlin yang biasa tentang “niat damai” Moskow.

Namun, segera setelah itu, Presiden Rusia secara efektif mengancam negara-negara Eropa, dengan menyatakan bahwa Rusia “siap sekarang juga” untuk berperang jika Eropa memulainya.

Pernyataan ini muncul di tengah agresi Rusia yang sedang berlangsung terhadap Ukraina dan meningkatnya ancaman Kremlin terhadap negara-negara Uni Eropa dan NATO. Para komentator mencatat bahwa kata-kata Putin, seperti biasa, menggabungkan pesan-pesan yang kontradiktif tentang “tidak ingin berperang” dengan upaya terang-terangan untuk mengintimidasi Barat.

Hubungan Putin dan Rusia dengan Uni Eropa

Sejak 2022, kontak resmi antara Vladimir Putin dan para pemimpin Uni Eropa hampir berakhir. Tidak mengherankan, Uni Eropa mendukung Ukraina secara politik, finansial, dan militer, yang bertentangan dengan posisi Kremlin.

Lebih lanjut, Rusia sering menuduh Uni Eropa memiliki “kebijakan yang bermusuhan” sekaligus mengancam Eropa secara militer. Putin secara teratur mengklaim bahwa Rusia siap mengambil tindakan tegas jika Uni Eropa “memprovokasi” Moskow.

Menanggapi agresi Rusia terhadap Ukraina, Uni Eropa telah memberlakukan beberapa putaran sanksi terhadap bank, perusahaan, oligarki, dan sektor energi Rusia. Misalnya, pada bulan Oktober, Uni Eropa secara resmi menyetujui paket sanksi ke-19 terhadap Rusia.

Akibat sanksi ini dan kekurangan kapasitas armada yang tersedia, Rusia tidak dapat sepenuhnya mengangkut LNG, yang secara drastis mengurangi kemampuan ekspornya.

Selain itu, Uni Eropa sedang mempersiapkan sanksi terhadap Belarus karena serangan terhadap Lituania.(yn)

Badai Salju Lumpuhkan Wilayah Bagian Tengah-Barat AS, Minggu Ini Pusaran Kutub Turun ke Selatan dan Berdampak pada 200 Juta Orang

Sejak akhir pekan lalu, badai musim dingin yang kuat melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat. Di banyak daerah di Midwest atau wilayah bagian Tengah-Barat dan sekitar danau-danau Besar, curah salju mencapai 30,48 cm dan sejumlah besar penerbangan dibatalkan. Ini  mengacaukan rencana perjalanan pulang liburan banyak warga Amerika. 

Hal yang paling mengejutkan para ahli cuaca, tahun ini sama sekali tidak ada badai topan (hurricane) yang mendarat di daratan utama AS—hal ini merupakan yang pertama kali dalam lebih dari satu dekade. Selain itu, dengan turunnya pusaran kutub ke selatan dalam minggu mendatang, lebih dari 200 juta penduduk di wilayah tenggara AS diperkirakan akan mengalami cuaca sangat dingin

EtIndonesia. Sejak Sabtu lalu, wilayah di sepanjang Danau Michigan telah mencatat akumulasi salju lebih dari satu kaki. Di seluruh Midwest, salju terus turun sepanjang malam, dan hingga Minggu, banyak daerah telah menerima 6–12 inci salju.

Pada Minggu pagi, Chicago mengalami badai salju dengan ketebalan lebih dari 8,5 inci. Kecepatan angin sempat mencapai 35 mil per jam, membuat jarak pandang sangat terbatas dan kondisi berkendara menjadi sangat berbahaya.

Lalu lintas udara juga terdampak parah. Menurut data FlightAware, pada Minggu lebih dari 1.600 penerbangan di seluruh AS mengalami keterlambatan, dan 488 penerbangan lainnya dibatalkan. Bandara Internasional O’Hare di Chicago menjadi yang paling terdampak.

Di Des Moines, ibu kota negara bagian Iowa, terjadi insiden sebuah pesawat Delta Air Lines tergelincir keluar dari landasan karena landasan yang membeku. Beruntung tidak ada korban luka.

Di seluruh wilayah Midwest, terjadi banyak kecelakaan lalu lintas terkait cuaca buruk. Polisi negara bagian Indiana melaporkan bahwa pada Sabtu, di Interstate 70 wilayah selatan Indianapolis, terjadi tabrakan beruntun melibatkan 45 kendaraan, sehingga jalan tersebut sempat ditutup.

Setelah badai salju ini mulai menjauh dari daratan AS, sistem badai baru diperkirakan terbentuk pada Senin (1 Desember), dan pada Selasa (2 Desember) akan menyapu Pantai Timur AS, membawa salju lebat ke wilayah Atlantik Utara dan New England, serta hujan deras ke wilayah tenggara.

Ahli cuaca memperkirakan bahwa di wilayah Lower Hudson Valley, New York, pada Selasa akan turun 3–5 inci salju. Di bagian barat laut New Jersey, kemungkinan turun 1–3 inci salju. Pada saat yang sama, pusaran kutub diperkirakan mulai bergerak ke selatan minggu ini, sehingga sekitar 235 juta penduduk AS akan mengalami suhu di bawah titik beku.

Secara keseluruhan, jumlah badai tahun ini jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu. Meskipun tidak ada badai topan yang mendarat di daratan AS, beberapa badai hebat dan banjir besar tetap terjadi tahun ini, memaksa ribuan keluarga mengungsi. (Hui/asr)

Laporan dari Jurnalis Liu Jiajia, NTD Amerika Serikat

Video Seorang Wanita Bertemu dengan Harimau Siberia Saat Mengoperasikan Ekskavator di Pegunungan Pada Malam Hari 

EtIndonesia. Pada 30 November 2025, seorang wanita di Yanbian, Jilin, Tiongkok, sedang mengoperasikan ekskavator untuk bekerja di pegunungan pada malam hari ketika ia tanpa sengaja berhadapan dengan seekor harimau Siberia. Jarak keduanya hanya beberapa meter. Harimau itu mengitari ekskavator, melihat ke arahnya, lalu berjalan kembali masuk ke hutan pegunungan. Sang wanita merekam seluruh kejadian dan berkata, “Saya bahkan tidak berani bernapas.”

Seorang netizen Tiongkok bernama Liu membagikan video tersebut di akun media sosialnya. Ia mengatakan bahwa pada 30 November malam, ia dan seorang pekerja sedang mengemudikan ekskavator di Taman Nasional Harimau dan Macan Tutul Timur Laut, di Kabupaten Wangqing, Yanbian, ketika tiba-tiba muncul seekor harimau Siberia.

Dalam video tampak salju turun dari langit, dan seekor harimau Siberia dewasa tiba-tiba masuk ke dalam sorotan kamera. Sang wanita dan pekerjanya mengendalikan ekskavator sambil berhadapan dengan harimau tersebut, yang jaraknya hanya beberapa meter.

Harimau itu sempat melompat ke dalam parit yang digali ekskavator, lalu perlahan mendekat. Di bawah sorotan lampu ekskavator, harimau itu kemudian naik kembali ke permukaan, mengitari ekskavator hampir setengah putaran, lalu berhenti sejenak untuk melihat ke arah kamera, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju hutan.

Liu menuliskan, “Saat bertatapan dengan harimau Siberia itu, saya benar-benar tidak berani bernapas. Detak jantung saya melonjak sampai 180. Harimau itu melirik saya dengan langkah bak bos besar, mungkin merasa saya bahkan tidak cukup buat jadi ‘pengganjal gigi’, lalu mengibaskan ekornya dan kembali ke gunung.”

Ia mengaku bahwa setelah kejadian itu, ia masih merasa takut saat mengingatnya kembali. “Saya sangat gugup, tidak berani membuka mulut untuk bernapas. Rasanya jantung mau melompat keluar.”

Liu mengatakan bahwa saat mereka bekerja, lampu ekskavator menyala terang. Harimau itu berdiri lama di bawah cahaya sambil mengamati, lalu berbalik menuju hutan tanpa melukai siapa pun.

Video yang menunjukkan wanita mengoperasikan ekskavator pada malam hari dan bertemu harimau Siberia tersebut viral di internet. Banyak netizen yang berkomentar dengan nada bercanda:

“Harimau: Malam-malam masih kerja begini… cari makan memang susah, tidak boleh saya sakiti.”

“Harimau: Ini kerbau atau kuda ya? Tidak enak, keras, tidak cocok dimakan.”

“Harimau: Kasihan juga, malam-malam masih kerja. Lihat saya malah jalan-jalan setelah kenyang.” (Hui)

Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Zhu Xinrui

Aksi Heroik di Tengah Neraka Api: ART Asal Filipina Menggendong Bayi Lari dengan Menuruni Apartemen 23 Lantai di Hong Kong

EtIndonesia. Kebakaran di Wang Fuk Court, Hong Kong, telah menewaskan 151 orang, termasuk anak perempuan asal Indonesia dan Filipina. Namun, dua kisah keberanian dari pekerja rumah tangga Filipina juga menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah seorang ART yang berlari menuruni 23 lantai sambil menggendong bayi majikannya, bahkan sambil melakukan siaran langsung untuk memperingatkan rekan senegaranya.

ART Filipina Gendong Bayi dan Lari turun 23 Lantai

Menurut laporan Hong Kong 01,  ART Nerissa Catabay, yang telah bekerja sekitar enam bulan di Wang Fuk Court, mengunggah video siaran langsung yang menunjukkan dirinya menggendong bayi sambil berlari dan berteriak meminta pertolongan, sambil meneriakkan bahwa gedung sedang terbakar.

Nerissa berkata, “Saat itu ada angin, api menyebar sangat cepat.” Dalam upayanya melarikan diri, ia mendengar suara teriakan. Ia menggendong bayi majikannya seorang diri, tetapi alarm kebakaran tidak berbunyi dan lift tidak merespons. Ia harus berlari dari lantai 23 hingga lantai 11, di mana ia sempat berhenti karena tubuhnya gemetar dan hampir pingsan karena ketakutan.

Meski berhasil selamat, Nerissa dan majikannya kehilangan seluruh harta benda. Saat ini mereka tinggal sementara di rumah kerabat majikan.

Senator Filipina Imee R. Marcos mengunjungi Rhodora. (Facebook Senator Imee R. Marcos)

Setelah kebakaran, Nerissa mengalami trauma berat, menangis terus-menerus dan sulit tidur selama beberapa hari. Ia berkata:  “Sangat mengerikan, seperti neraka!”

Namun ia tetap bersyukur karena berhasil keluar dari kobaran api.

Kisah Nerissa mendapat banyak pujian dari warga Hong Kong, seperti:

  • “Bertanggung jawab.”
  • “Tetap tenang dalam keadaan genting.”
  • “Superwoman.”
  • “Menggendong bayi sambil live streaming dan berlari — salut!”

Ada pula yang berkata bahwa keluarga majikan “sangat beruntung” memiliki PRT seperti Nerissa.

ART Filipina Lainnya Juga Disebut Pahlawan

Selain Nerissa, ART Filipina lainnya, Rhodora Alcaraz, yang baru tiba di Hong Kong hanya satu hari sebelum kebakaran, juga dipuji sebagai pahlawan. Saat kebakaran terjadi, ia menemani majikannya dan memeluk bayi berusia tiga bulan sambil melindunginya hingga petugas pemadam kebakaran datang menyelamatkan mereka.

Menurut keluarga Alcaraz, perempuan berusia 28 tahun itu datang ke Hong Kong untuk membantu keuangan keluarga. “Keluarga kami sangat miskin, ayah kami hanya seorang nelayan. Karena itu ia memilih bekerja di luar negeri,” kata adiknya kepada Reuters. “Kami sangat bangga padanya.”

Mendapat Penghargaan dari Pemerintah Filipina

Badan Kesejahteraan Pekerja Migran Filipina (OWWA) mengunjungi Alcaraz di rumah sakit dan memuji tindakannya yang memilih tidak kabur sendiri, tetapi tetap melindungi bayi majikannya. OWWA menyebutnya pahlawan sejati masa kini.

Senator Filipina Imee Marcos, kakak dari Presiden Ferdinand Marcos Jr., juga menjenguk Alcaraz di rumah sakit. Ia menulis di Facebook:

“Aku salut padamu, Rhodora, dan kepada semua pekerja migran yang berkorban demi keluarga mereka.”

Ia juga membagikan foto Alcaraz di ranjang rumah sakit sambil mengacungkan jempol, meski masih mengenakan masker.

Banyak ART asal Indonesia dan Filipina Jadi Korban

Menurut data, terdapat sekitar 230 ART asal Indonesia dan Filipina yang tinggal di Wang Fuk Court. Setidaknya delapan orang telah dikonfirmasi tewas dan puluhan lainnya masih hilang. (Hui)

Trump Konfirmasi Telah Berbicara dengan Maduro, Memintanya Segera Tinggalkan Venezuela

Pada Minggu (30 November), Presiden Amerika Serikat Donald Trump di dalam pesawat Air Force One mengkonfirmasi kepada media bahwa ia telah melakukan pembicaraan telepon dengan diktator Venezuela, Nicolás Maduro. Trump juga meminta Maduro untuk meninggalkan Venezuela. Menanggapi laporan sebelumnya yang menyebut bahwa Amerika Serikat pada September menewaskan “penyintas” dalam serangan terhadap sebuah kapal penyelundup narkoba, Presiden Trump mengatakan bahwa ia percaya pada penanganan kasus tersebut oleh Menteri Perang Pete Hegseth dan meyakini legalitas operasi.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Minggu mengkonfirmasi bahwa ia telah berbicara melalui telepon dengan Nicolás Maduro, namun tidak mengungkapkan isi pembicaraan tersebut.

Wartawan: “New York Times melaporkan bahwa Anda berbicara lewat telepon dengan Maduro. Betulkah?”

Presiden Trump: “Saya tidak ingin mengomentarinya. Jawabannya ya.”

Wartawan: “Bisakah Anda memberikan sedikit gambaran?”

Trump: “Tidak, tidak bisa.”

Wartawan: “Pak Presiden, apakah Anda rasa pembicaraannya berjalan baik?”

Trump: “Saya tidak akan mengatakan apakah pembicaraannya baik atau buruk. Itu hanya sebuah pembicaraan.”

Kabar mengenai panggilan telepon tersebut muncul ketika tekanan Amerika terhadap rezim Maduro terus meningkat. Miami Herald melaporkan bahwa menurut sumber, Trump dalam pembicaraan itu meminta Maduro segera mengundurkan diri dan meninggalkan Venezuela, dengan janji memberikan jalur aman bagi dirinya dan keluarganya. Sementara itu, Maduro disebut meminta mempertahankan kendali atas militer.

Pada Sabtu (29 November), Trump menulis bahwa wilayah udara Venezuela dan sekitarnya harus dianggap “sepenuhnya ditutup”. Ketika ditanya apakah itu berarti serangan udara akan segera dimulai, Trump mengatakan pada Minggu agar tidak menafsirkan pernyataannya secara berlebihan.

Menurut laporan The Washington Post pada Jumat (28 November), setelah Amerika Serikat menyerang sebuah kapal yang diduga kapal penyelundup narkoba Venezuela pada 2 September, AS melakukan serangan kedua dengan tujuan melaksanakan perintah Menteri Perang Pete Hegseth untuk “membunuh semua orang di kapal”.

Menanggapi laporan itu, Hegseth menulis klarifikasi bahwa “operasi militer AS saat ini di wilayah Karibia sepenuhnya sesuai dengan hukum AS dan hukum internasional”, dan bahwa laporan tersebut adalah “rekayasa, provokatif, serta fitnah”.

Anggota Kongres dari kedua partai pada 30 November menyatakan dukungan untuk peninjauan Kongres terhadap serangan-serangan militer AS terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di wilayah Karibia dan Pasifik Timur.

Presiden Trump mengatakan bahwa ia seratus persen percaya kepada Hegseth.

Trump: “Pertama, saya tidak tahu apakah hal itu benar-benar terjadi. Pete mengatakan ia tidak berniat melakukan itu, bahkan ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan banyak orang. Jadi kami akan menyelidikinya, tetapi tidak, saya tidak menginginkan hal-hal seperti itu terjadi. Tidak akan ada serangan kedua. Serangan pertama saja sudah sangat mematikan dan sangat efektif. Meski saat itu ada dua orang di sana, Pete mengatakan hal itu tidak pernah terjadi. Saya percaya pada hal tersebut.”

Wartawan: “Apakah Anda mengatakan tidak ada serangan kedua?”

Trump: “Saya tidak tahu, saya akan mencari tahu. Namun Pete mengatakan ia tidak pernah memerintahkan eksekusi dua orang itu.”

Trump juga mengatakan pekan lalu bahwa Amerika Serikat “segera” akan menggunakan jalur darat dan laut untuk menghentikan aktivitas penyelundupan narkoba Venezuela. (Hui)

Laporan oleh jurnalis NTD, Guo Yuexi, Amerika Serikat

[Berita Terlarang] Banyak Praktisi Falun Gong di Berbagai Daerah Tiongkok Mengalami Penangkapan Massal

Sejak awal tahun ini, banyak departemen kepolisian di berbagai provinsi dan kota di Tiongkok daratan telah mengerahkan sejumlah besar aparat untuk mengganggu warga, melakukan pemantauan ilegal, pelecehan, dan penculikan terhadap praktisi Falun Gong yang tetap berpegang pada prinsip Sejati–Baik–Sabar. Pengamat luar menilai bahwa penindasan terhadap keyakinan benar hanya akan mempercepat runtuhnya rezim diktator tersebut.

EtIndonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) menggunakan dalih seperti “Parade 3 September” dan kebutuhan “menjaga stabilitas selama Hari Nasional 1 Oktober” untuk terus melakukan pelecehan, pembuntutan, pemantauan, serta penangkapan dan penggeledahan besar-besaran terhadap praktisi Falun Gong.

Penangkapan Massal di Berbagai Daerah

  • 2 November, di Kota Yinchuan, Ningxia, kepolisian dan aparat keamanan menggerebek rumah dan menangkap sedikitnya 32 praktisi Falun Gong.
  • 29 September, di Kota Jinan, Shandong, aparat yang dikendalikan oleh Komite Urusan Politik dan Hukum serta Kantor 610 menangkap hampir 40 praktisi.
  • Selama periode Parade 3 September, sedikitnya 43 praktisi di Shenyang, Liaoning ditangkap. Polisi yang terlibat tidak mengenakan seragam dan tidak menunjukkan identitas, langsung menggerebek dan menggeledah rumah.

 “Saya pikir ini berasal dari rasa ketidakamanan rezim itu sendiri. Dengan ekonomi yang terus merosot, keuangan negara yang mulai runtuh, dan pengangguran di mana-mana, mereka tahu kekuasaan mereka makin tidak stabil. Karena itu mereka meningkatkan penindasan terhadap masyarakat. Penindasan Falun Gong adalah bentuk kontrol sosial akibat ketakutan mereka terhadap kelangsungan kekuasaan,” kata Ketua Aliansi Pengacara HAM Tionghoa di luar negeri, Wu Shaoping. 

Menurut statistik Minghui.org, dalam periode September–Oktober, sedikitnya 851 praktisi mengalami penculikan atau pelecehan.

Mengapa Rezim Khawatir?

Editor Antologi Puisi 4 Juni dan penulis di Perpustakaan Kongres AS, Jiang Pinchao, mengatakan:  “Falun Gong telah mengungkap sejarah gelap pemerintahan PKT selama bertahun-tahun kepada dunia. Hal ini menggoyahkan legitimasi kekuasaan mereka. Tantangan seperti itu bersifat mendasar dan sangat mengancam keberlangsungan rezim. Mereka takut rakyat yang telah dibodohi selama ini mengetahui kebenaran.”

Pada 20 Agustus, di Kabupaten Mengyin, Kota Linyi (Shandong), terjadi penangkapan massal. Lebih dari sepuluh praktisi, sebagian besar berusia lebih dari 70-an tahun, ditangkap secara paksa setelah polisi mendobrak masuk ke rumah mereka.

Jiang Pinchao berkata:  “Falun Gong berpegang pada prinsip Sejati–Baik–Sabar—berlawanan dengan budaya kebohongan dan kepalsuan PKT. Ketika keduanya bersinggungan, kedok kebohongan mereka akan tersingkap. Karena itu, para praktisi adalah sekelompok pejuang keberanian.”

Penangkapan Terus Berlanjut

  • 21 Agustus, di Kota Harbin, daerah Acheng dan Shuangcheng, 26 praktisi dan 1 anggota keluarga ditangkap.
  • 18 Juli, di Kota Dongning, 9 praktisi ditangkap dan rumah mereka digeledah.
  • 20 Juli, di Kabupaten Fuyu, polisi mengintai sejak dini hari, menunggu praktisi membuka pintu, lalu menerobos masuk dan menangkap semua orang di dalam rumah. Menurut sumber internal kepolisian, 21 praktisi ditangkap hari itu.

Wu Shaoping berkata:  “Falun Gong bukan hanya tetap bertahan di Tiongkok, tetapi juga menjadi kekuatan anti-PKT terbesar di luar negeri. Inilah penyebab ketakutan rezim dan alasan mereka terus menindas.”

Di Shenyang, 14 Agustus, sedikitnya 10 praktisi ditangkap dan rumah mereka digeledah.

Wu Shaoping menambahkan:  “Kebebasan beragama adalah hak asasi paling dasar dalam masyarakat beradab. Tindakan PKT bukan hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga menghina nilai-nilai ilahi. Mereka akan menanggung akibat atas kejahatan-kejahatan itu.”

Kecaman Internasional

Senator AS Jeff Merkley menyerukan pemerintah AS untuk terus menekan PKT, guna menjamin kebebasan dan hak dasar praktisi Falun Gong serta semua penganut agama lainnya.

Wu Shaoping:  “Ini adalah pertarungan antara kekuatan kebaikan dan kejahatan. Keyakinan Falun Gong membawa manfaat bagi umat manusia. Para pemimpin dunia yang mendukung mereka pada dasarnya berdiri di sisi keadilan.”

Rezim Semakin Rapuh

Pengamat berpendapat bahwa penindasan terhadap keyakinan benar justru mempercepat keruntuhan rezim.

Gerakan global “Tiga Pengunduran Diri” (mundur dari Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda PKT) terus tumbuh. Menurut Pusat Global Pengunduran Diri dari PKT, jumlah total yang telah menyatakan mundur mencapai sekitar 455 juta orang, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Hui)

Diedit oleh Meng Xinqi; Diwawancarai oleh Yi Ru dan Tony

Nak, Saat Kami Sudah Tua… Bisakah Mengandalkanmu?

EtIndonesia. Minggu lalu, di sebuah kedai kopi di Stasiun Kereta Paddington, London, Inggris,  aku bertanya kepada seorang perempuan yang sedang membaca koran apakah aku boleh duduk di meja yang sama. Ketika dia menurunkan korannya, kami saling mengenali— kami pernah bekerja bersama di sebuah organisasi bernama “Nineties Programme”.

Organisasi itu khusus membantu para ibu remaja yang ingin mengejar pendidikan menengah agar tidak tertinggal dari teman-teman sebayanya. Di sana, aku mengajar bahasa Inggris, dan Sally mengajar matematika. Dalam sekejap, ternyata sudah berlalu dua puluh tahun.

Kami pun mulai mengobrol. Dan dari sisi mana pun kita melihatnya, hidup Sally tampak sangat bahagia dan sukses.

Usianya kini 52 tahun, dia adalah seorang pembicara publik yang dihormati, memiliki pernikahan yang harmonis, dua anak yang telah dewasa dan sehat, serta sebuah rumah yang indah.

Aku bertanya tentang putranya:  “Sekarang Sam sibuk apa?”

Seketika wajahnya berubah muram. Air matanya mulai jatuh. Dia berusaha menghapusnya dengan canggung—namun percuma.

Dia menangis bukan karena putra sulungnya meninggal, melainkan karena hubungan antara dia dan putranya terasa seperti sudah mati.

Sam, yang kini berusia 23 tahun, sedang magang di sebuah perusahaan rintisan digital.
Tidak bergaji.  Seperti kebanyakan lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mencari kerja,
Sam tinggal kembali bersama orangtuanya.

Awalnya, Sally, suaminya, dan adik perempuan Sam yang berusia 18 tahun menyambut gembira kepulangan Sam setelah wisuda.  Namun, segera setelah itu, permintaan-permintaan Sam secara perlahan mulai mengambil alih kehidupan keluarga.

Sally bercerita: “Awalnya dia meminta uang saku—£150 per minggu. Kami memberikannya, anggap saja seperti biaya magang. Tapi semakin lama, permintaannya semakin tidak masuk akal— pakaian bermerek, smartphone terbaru, makan-makan di luar. Minggu lalu, dia bahkan meminta £1000 untuk pergi ski dengan teman-teman kuliahnya.”

Suami Sally yang seorang pengacara sebenarnya rela membiayai perjalanan itu, tetapi Sally menolak.  Sam marah besar—dia merusak furnitur kamarnya, memecahkan piring, bahkan menakut-nakuti adik perempuannya.

Sally berkata: “Dia berteriak bahwa kami berutang padanya, bahwa dia tidak pernah meminta untuk lahir ke dunia ini, dan dia berharap kami mati. Dia bilang jika hidupnya kacau, itu salah pemerintah, salah negara, dan salah kami—karena kami punya segalanya dan dia tidak punya apa-apa. Dia menghina aku dengan kata-kata yang sangat kotor.”

Sejak hari itu, situasi semakin buruk. Sally bahkan takut tinggal sendirian bersama Sam di rumah.

Orangtua selalu ingin memberi anak kehidupan yang lebih baik— tetapi sering kali, berakhir dengan memanjakan mereka sampai rusak.

Kisah Sally memang mengerikan, tapi apakah itu jarang terjadi?

Sepertinya tidak.  

Aku melihatnya di mana-mana: anak-anak muda yang egois, manja, dan menuntut— layaknya raja kecil yang ingin semuanya dipenuhi.

Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan mereka, mereka menyalahkan dunia.

Lalu, siapa yang harus disalahkan?

Sally sendiri tahu—  sebagian besar ini akibat cara dia membesarkan Sam.

Sam tumbuh di rumah besar yang nyaman di Oxfordshire, sekolah di sekolah swasta,
berlibur ke tempat-tempat indah,  dan kedua orangtuanya mengabulkan semua keinginannya.

Cara tumbuhnya Sam benar-benar berbeda dengan masa kecil Sally. Sally dibesarkan oleh ibu tunggal, pakaiannya dan hadiah Natalnya sering berasal dari toko amal.

Sally berkata: “Hidup sangat sulit waktu itu. Aku sering diejek oleh anak-anak kaya di sekolah. Aku ingin memiliki apa yang mereka punya.  Jadi ketika aku punya anak sendiri, aku bekerja keras, siang malam,  agar mereka punya hidup yang tidak pernah aku punya. Aku mencintai anak-anakku…  mungkin aku mencintai mereka dengan cara yang terlalu memanjakan.”

Jika meminta para orangtua jujur bercerita tentang anak-anak mereka yang usia 20-an, kita akan sering mendengar kisah penuh kebingungan dan rasa bersalah. Aku mengenal sepasang suami istri, keduanya pengacara,  yang baru mengetahui bahwa anak mereka bolos kuliah selama satu semester penuh.

Sepasang suami istri lain yang memiliki perusahaan event planner menemukan bahwa putri mereka—yang sedang menganggur dan bekerja sementara di perusahaan itu— telah mencuri uang perusahaan.

Semua orangtua itu mencintai anak mereka.  Semua merasa gagal. Dan mungkin mereka memang gagal.

Banyak orangtua kelas menengah yang mulai memiliki anak di akhir tahun 1970-an sebenarnya sudah menyadari bahaya memberi terlalu banyak.  Memang benar, banyak anak tumbuh dengan baik. Tapi banyak sekali yang tumbuh menjadi anak yang serakah, manja, dan tidak pernah dewasa.

Secara naluriah, setiap orangtua ingin memberi anak kehidupan yang lebih baik— seperti induk burung yang rela kelaparan demi memberi makan anaknya. Itu naluri alamiah.

Namun puluhan tahun budaya materialistis telah memelintir naluri itu. Kita melakukan sesuatu dengan alasan benar— tapi dengan cara yang salah.

Aku adalah anak ketiga dalam keluarga. Rumah kami sering terlilit utang, keadaan ekonomi sangat buruk. Aku lahir di Uganda, lalu pindah ke Inggris bersama keluarga pada tahun 1972. Karena ayahku berpenghasilan sedikit, ibuku harus bekerja siang di sebuah taman kanak-kanak sebagai juru masak, dan malam hari mengerjakan pekerjaan jahit rumahan.

Boneka-bonekaku dan pakaian boneka itu dijahit dari potongan kain sisa—bahkan menggunakan batang korek api bekas sebagai rangkanya. Jika ada kerabat yang memberiku pakaian buatan Inggris, aku akan memakainya selama bertahun-tahun. Ketika benangnya mulai terlepas, ibuku akan diam-diam menjahitkannya kembali saat aku tidur.

Pengalaman masa kecil itu membuatku menjadi pribadi yang kuat dan mudah beradaptasi— namun juga menanamkan satu keinginan besar dalam diriku: memberikan kepada anak-anakku segala hal yang dulu tidak mampu kumiliki.

Bagiku—dan bagi banyak orang dengan latar belakang sepertiku— impian tidak lagi tampak mustahil. Masyarakat berubah, daya beli meningkat, bahkan banyak keluarga memiliki dua penghasilan sehingga bisa memberikan lebih banyak kepada anak-anak mereka.

Ketika anak-anakku masih kecil, setiap kali melihat para ibu berusaha memenuhi permintaan anak-anak mereka, aku pun sering mengikuti— membelikan sepatu olahraga paling modis, atau papan seluncur yang sedang populer.

Kini anakku laki-laki sudah berusia tiga puluhan, dan putriku berusia dua puluh satu tahun.

Namun, banyak orangtua yang tidak menyadari  bahwa terlalu sering mengalah justru berakibat buruk bagi anak.

Ketika kita menjejali mereka dengan barang yang cukup untuk tiga generasi, ketika kita mengantarkan mereka dari satu pesta sosial ke pesta lainnya tanpa meminta mereka berkorban sedikit pun, mereka tumbuh dengan perasaan berhak atas segalanya—  dan keyakinan itu sangat jauh dari kenyataan.

Hari ini, jutaan anak muda yang egois itu sedang menghadapi masalah sesungguhnya: lapangan kerja yang sedikit, kesulitan menemukan rumah, dan tekanan hidup di era globalisasi yang semakin cepat. Dalam kesulitan itu, reaksi alamiah mereka adalah menyalahkan orang lain— terutama orangtua mereka.

Yang menyedihkan, kebanyakan orangtua justru semakin memanjakan mereka. Jika keadaan ini terus berlanjut, generasi anak-anak yang egois akan terus bertambah.

Kita harus membantu anak-anak kita— tetapi pada saat yang diperlukan, kita juga harus berani berkata tidak.

Untungnya, kedua anakku tumbuh menjadi pribadi yang baik, tidak pernah memanfaatkan kami. Untuk itu, aku sangat berterima kasih kepada ibuku. Tanpa pengaruhnya sepanjang hidupku, mungkin aku sudah lama menuruti keinginanku dan memanjakan anak-anak tanpa batas.

Ya, anak-anakku memiliki lebih banyak dari yang pernah kumiliki— mereka bersekolah di sekolah swasta, sering makan di luar, memiliki ponsel mahal, bahkan bisa pergi liburan ke tempat-tempat eksotis. Namun mereka tahu batas. Mereka tahu bersyukur.

Bahkan sampai hari ini, aku masih mendengar suara ibuku berkata: “Ajari mereka merasa cukup.”

Dulu, ibuku tinggal di sebuah kamar kecil bantuan pemerintah. Kedua anakku sangat suka mengunjunginya. Ibuku mengajarkan kepada kami tentang kerendahan hati, kebaikan, dan integritas.

Dia selalu berkata: “Jangan meminta terlalu banyak. Jika kalian meminta berlebihan, bahkan Tuhan pun akan lelah mendengarnya.”

Mendengar kisah Sally dan para orangtua lain yang bernasib sama, aku semakin memahami bahwa nasihat ibuku-lah  yang mencegahku merusak anak-anakku dengan kasih sayang yang salah arah.

Kisah seperti Sally sebenarnya sangat banyak.

Ada seorang kenalan yang putranya berusia 32 tahun, masih tinggal di rumah, menolak mencari pekerjaan,  mengonsumsi ganja, dan setiap hari hanya memakai pakaian olahraga longgar untuk makan–tidur–bangun–makan lagi. Dia kuliah jurusan manajemen bisnis, namun setelah ditolak tiga perusahaan, dia menyerah total dan berhenti mencari pekerjaan.

Ibunya berkata dia depresi.

Pacarnya lebih jujur: “Dia hanya anak manja yang rusak.”

Contoh lain: Heather, lulusan kimia, ditawari pekerjaan oleh beberapa perusahaan, tetapi dia menolak semuanya dengan alasan gaji yang diberikan “terlalu rendah”.

Ayahnya—seorang pengusaha yang sukses dari nol—menghela napas panjang: “Bisnis saya sedang sulit, tapi dia tidak punya simpati sedikit pun. Yang ia marahi justru kenyataan bahwa kami tak lagi mampu berlibur tiga kali setahun.”

Aku sendiri adalah profesor jurnalisme.  Beberapa mahasiswa berkata dengan yakin bahwa mereka tidak mau memulai dari bawah; mereka ingin langsung menjadi penulis lepas terkenal atau kolumnis di media besar. Orangtua mereka—karena terbiasa menuruti semua permintaan anak— mendukung keyakinan yang tidak realistis itu.

Di dunia media yang sangat kompetitif, anak-anak muda seperti itu hanya akan semakin frustrasi, semakin mudah mengasihani diri sendiri, dan hanya peduli pada kebutuhan mereka. Itu sebabnya banyak orang dewasa melihat mereka sebagai pecundang atau parasit yang menghabiskan harta orang tua.

Melihat semua itu,  masa depan tampak semakin suram. Dan yang paling menakutkan adalah—
ketika kita sendiri menua, kita akan sangat bergantung pada generasi yang manja, egois, dan serakah ini.

Ya Tuhan… Tolonglah kami. (jhn/yn)

Negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan  Terendam Longsor-Banjir, Ratusan Ribu Jiwa Mengungsi

EtIndonesia. Tanah yang tertutup lumpur tebal, deretan rumah yang roboh menjadi puing—sebuah badai tropis ganas membawa hujan deras dan banjir mematikan yang dalam satu minggu terakhir telah melanda berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Hingga Senin (1/12/2025), bencana banjir ini telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas, 800 lebih dinyatakan hilang, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Lumpur yang menumpuk, rumah yang hancur, dan pemandangan setelah banjir surut tampak sangat memilukan.

Selama seminggu terakhir, badai tropis menyapu beberapa negara Asia Tenggara. Angin kencang dan hujan deras memicu banjir mematikan di banyak wilayah.

Banyak korban mengatakan bahwa bencana ini terjadi begitu tiba-tiba.

Warga Indonesia, Andri Walmi:  “Awalnya hanya hujan, lalu banjir datang menerjang seperti pesawat yang melintas.”

Saat cuaca mulai membaik, tim penyelamat Indonesia mulai mencari jasad para korban.

Hingga Rabu (3/12/2025), banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera telah menewaskan 770  orang, 463 orang masih hilang, 2.600 orang terluka serta  746,200 orang mengungsi. Secara keseluruhan 3,2  juta jiwa yang terdampak. Bencana ini menimpa 50 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. 

Warga Indonesia, Afrianti:  “Rumah dan usaha saya hilang, toko saya juga hilang, tidak ada yang tersisa. Saya hanya tinggal dekat satu-satunya dinding yang masih berdiri.”

Karena bencana merusak jalan dan memutus jaringan komunikasi, beberapa daerah di Indonesia sempat terisolasi. Tim penyelamat hanya bisa menjatuhkan bantuan dari udara menggunakan pesawat.

Sri Lanka juga mengalami dampak serupa. Hujan deras berhari-hari menyebabkan banyak tanah longsor. Sungai yang meluap menenggelamkan desa dan lahan pertanian. 

Hingga kini, jumlah korban tewas di negara tersebut telah meningkat menjadi 366 orang, sekitar 218.000 orang mengungsi ke tempat penampungan sementara, dan lebih dari 24.000 polisi dikerahkan untuk menyelamatkan warga yang terjebak.

Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake berkata :  “Kita sedang menghadapi bencana alam terbesar dan paling menantang dalam sejarah kita. Kita juga sadar bahwa operasi penyelamatan yang sedang berlangsung ini adalah yang paling sulit yang pernah kami lakukan.”

Pemerintah Sri Lanka mengatakan 25 distrik di seluruh negeri terdampak. Listrik, air bersih, dan komunikasi diperkirakan akan dipulihkan secara bertahap dalam tiga hari mendatang.

Selain itu, Thailand dan Malaysia juga mengalami kerusakan parah, dengan ratusan korban jiwa.

Di Kota Hat Yai, Thailand, sebuah kuil yang dulunya megah kini tertutup lumpur dan puing. Para biksu sibuk membersihkan reruntuhan dan membangun kembali kuil tersebut.

Di pasar yang terendam banjir, banyak pedagang menjual barang-barang yang terendam air dengan harga sangat murah, berharap warga dapat saling membantu menghadapi masa sulit ini.

Pedagang Thailand, Phukit:  “Orang-orang tidak punya pakaian untuk dipakai, bukan? Jadi saya menjual dengan harga murah, berharap bisa membantu mereka.” (Hui)

Laporan gabungan oleh Yi Jing – NTDTV

Pasca Diterjang Banjir-Longsor, Upaya Pentahelix Buka Jalur Putus di Bener Meriah, Aceh

EtIndonesia. BANDA ACEH – Upaya penanganan terus dilakukan oleh tim gabungan dalam operasi pembukaan jalur darat di wilayah Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. 

Data sementara per Minggu (1/12) tim gabungan sudah berhasil membersihkan empat titik longsor di ruas jalan KKA-Bener Meriah. Lokasi ini letaknya persis di kawasan Gunung Salak. Proses pembersihan ini sudah mencapai kilometer (KM) 31. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan proses pembersihan menggunakan tiga alat berat milik Dinas PUPR. Untuk mempercepat pengerjaan, rencananya Dinas PUPR akan mendatangkan satu loader agar pekerjaan lebih efisien. 

Sebagai informasi, Gunung Salak merupakan jalur vital yang menghubungkan Kabupaten Aceh Utara dan Bener Meriah. Sejak bencana terjadi, jalur ini mengalami sejumlah longsoran besar yang menutup akses sepenuhnya dan menghambat mobilitas masyarakat serta distribusi logistik.

Saat ini, Tim PUPR Bener Meriah bersama Tim PUPR Provinsi Aceh terus melakukan pengerjaan tanpa henti, siang dan malam, untuk membuka seluruh titik longsor yang tersisa. Upaya percepatan ini menjadi prioritas pemerintah daerah guna memastikan konektivitas Aceh Utara–Bener Meriah.

Tim PUPR Bener Meriah dan TIM PUPR Provinsi Aceh melakukan pembersihan jalan terdampak longsor di ruas jalan KKA-Bener Meriah, Provinsi Aceh pada Senin (1/12). Sumber foto : Tim PUPR Provinsi Aceh
Tim PUPR Bener Meriah dan TIM PUPR Provinsi Aceh melakukan pembersihan jalan terdampak longsor di ruas jalan KKA-Bener Meriah, Provinsi Aceh pada Senin (1/12). Sumber foto : Tim PUPR Provinsi Aceh
Tim PUPR Bener Meriah dan TIM PUPR Provinsi Aceh melakukan pembersihan jalan terdampak longsor di ruas jalan KKA-Bener Meriah, Provinsi Aceh pada Senin (1/12). Sumber foto : Tim PUPR Provinsi Aceh
Tim PUPR Bener Meriah dan TIM PUPR Provinsi Aceh melakukan pembersihan jalan terdampak longsor di ruas jalan KKA-Bener Meriah, Provinsi Aceh pada Senin (1/12). Sumber foto : Tim PUPR Provinsi Aceh

Pasca Diterjang Longsor-Banjir, Penanganan Darurat Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan Dipastikan Dipercepat

EtIndonesia – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno bertolak ke Kabupaten Tapanuli Tengah pada Minggu (30/11/2025) untuk memastikan penanganan darurat bencana banjir dan longsor di Tapanuli Tengah berjalan dengan baik. 

Setibanya di Tapanuli Tengah, Kepala BNPB bersama Menko PMK menuju GOR Pandan di Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah untuk berkoordinasi terkait percepatan penanganan darurat banjir dan longsor dengan Pemerintah Daerah setempat. Pada kesempatan itu, hadir Sekda Tapanuli Tengah dan Walikota Sibolga. 

Kepala BNPB dan Menko PMK tiba di Tapanuli Tengah dan diterima oleh Gubernur Sumatera Utara pada Minggu (30/11) – Dok BNPB

Kepada Suharyanto dan Praktikno, Pemerintah Daerah Tapanuli Tengah melaporkan kendala yang dihadapi dalam upaya penanganan darurat saat ini berupa matinya jaringan listrik. Ketiadaan jaringan listrik ini yang membuat kontak masyarakat kepada sanak saudara terputus. Pemulihan jaringan listrik di Tapanuli Tengah membutuhkan sarana helikopter untuk menjangkau kerusakan-kerusakan di daerah terpencil.

Merespon hal tersebut, Suharyanto langsung menghubungi Direktur Utama PLN dan berkomitmen untuk memfasilitasi tim teknisi PLN dengan helikopter untuk menuju ke titik kerusakan di lokasi yang jauh.

Personil BNPB dibantu warga saat menurunkan muatan bantuan logistik permakanan dan peralatan di Tapanuli Tengah – Dok BNPB

“Kami ada heli di bandara Pinangsori dan bandara Silangit, nanti silakan sampaikan kepada timnya, BNPB akan siapkan helinya untuk kegiatan perbaikan listrik”, kata Suharyanto dalam sambungan telepon bersama Direktur Utama PLN.

Personil BNPB dibantu warga saat menurunkan muatan bantuan logistik permakanan dan peralatan di Tapanuli Tengah – Dok BNPB

“Yang penting, perbaikan jaringan listrik ini harus segera karena ketiadaan listrik sangat berpengaruh pada suplai air bersih, internet, hingga distribusi BBM”, tegas Suharyanto.

Usai berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,  Kepala BNPB dan Menko PMK melanjutkan perjalanan ke wilayah terdampak di Tapanuli Selatan.

Suharyanto dan Pratikno menyaksikan sendiri, kerusakan rumah-rumah, peralatan, dan kendaraan akibat banjir di Desa Hotagodang, Batangtoru, Tapanuli Selatan. Tampaknya kondisi pascabanjir di wilayah ini cukup masif. Arus deras air membawa material lumpur dan batang kayu ke wilayah permukiman warga.

Di posko lapangan, Kepala BNPB menyampaikan agar tim darurat memprioritaskan wilayah tersebut untuk melakukan pembersihan dengan menurunkan alat berat khusus untuk membersihkan kayu-kayu besar.

Kondisi pascabanjir wilayah di Desa Hotagodang , Batangtoru, Tapanuli Selatan pada Minggu (30/11). – Dok BNPB

Situasi lokasi terdampak

Tapanuli Tengah merupakan wilayah terdampak banjir dan longsor yang cukup parah. Data yang dihimpun oleh BNPB per Minggu (30/11) pukul 17.00 WIB, jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor di sini yaitu 73 orang meninggal dunia, 104 orang dalam pencarian, dan 508 orang mengalami luka-luka.

Saat ini, Tapanuli Tengah telah dapat dijangkau melalui akses udara dari Tapanuli Utara. Jalur darat menuju Tapanuli Tengah melalui Terutung-Sibolga belum dapat diakses karena di beberapa titik, material longsor masih menutupi badan jalan.

Sementara itu, pemutakhiran data korban pada wilayah terdampak banjir dai Tapanuli Selatan yaitu  52 jiwa meninggal dunia, 48 orang dilaporkan hilang, dan 58 orang butuh perawatan.

Suharyanto mejelaskan, meskipun dampak bencana di Tapanuli Selatan cukup besar namun situasi telah kondusif. Akses jalan darat dapat dilewati. Jaringan listrik, internet, air masih berjalan.

Kepala BNPB memprioritaskan wilayah tersebut untuk melakukan pembersihan dengan menurunkan alat berat khusus untuk membersihkan kayu-kayu besar.

Dukungan Operasional Penanganan Darurat

Percepatan penanganan darurat, baik operasi pencarian dan pertolongan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemulihan akses transportasi dan komunikasi menjadi fokus BNPB saat ini.

Hari ini (30/11), BNPB kembali mendistribusi bantuan logistik dan permakanan untuk masyarakat di wilayah terdampak banjir dan longsor. 

Untuk Tapanuli Tengah, sembilan unit genset dan starlink telah diterbangkan dari bandara Silangit ke Pinansori. Bantuan permakanan di-drop dari udara. Perlatan ini guna mendukung percepatan pemulihan jalur komunikasi yang sempat terputus saat itu.

Untuk Tapanuli Selatan, selain logistik permakanan, BNPB akan mengirimkan 100 chainshow. Hal ini berdasarkan permintaan Bupati Tapanuli Selatan yang membutuhkan alat pemotong kayu untuk kegiatan pembersihan lingkungan pascabanjir. (***)

Di Mana Sayapmu Berhenti Berkepak?

EtIndonesia. Sejak kecil aku suka sekali makan sayap ayam.  Ibu bilang, orang yang suka makan sayap ayam itu karena ingin terbang.

Aku menunjuk induk ayam di halaman, yang sedang menunduk mematuk beras, lalu tertawa dan berkata:  “Kalau aku benar-benar ingin terbang, aku harus makan sayap elang.  Makan sayap ayam paling-paling cuma bisa terbang melewati tembok rumah.”

Itu kejadian bertahun-tahun lalu. Ibuku berdiri di dapur, mengenakan celemek, tangan memegang spatula yang terus membolak-balik potongan ayam di dalam wajan. Setengah matang, dia menambahkan air, kentang, bumbu, lalu menutup panci. Satu jam berlalu, seluruh halaman dipenuhi aroma ayam rebus yang empuk, gurih, dan hangat.

Seekor ayam hanya punya dua sayap— dan pada akhirnya, keduanya pasti akan berada di dalam mangkukku.

Aku adalah anak sulung di rumah. Di bawahku ada adik-adik. Segala hal enak dan menarik biasanya harus diberikan dulu untuk adik-adik—itu sudah tradisi.

Tetapi satu hal ini berbeda: sayap ayam selalu disisihkan khusus untukku.

Bahkan adik bungsuku yang saat itu baru berusia 12 tahun, kalau sedang mengambil lauk, pasti akan menyeret satu sayap ayam ke mangkukku sambil berkata: “Kata Mama, Kakak paling suka sayap ayam.”

Ke mana sayapmu pergi?

Saat usia 18 tahun dan menghadapi ujian masuk universitas,  aku benar-benar ingin pergi jauh.

Setelah makan sayap ayam selama bertahun-tahun, bercanda ingin terbang mungkin tidak sungguhan— tapi keinginan untuk pergi, untuk meninggalkan, itu sangat nyata.

Masa depan masih samar. Aku belum tahu akan menjadi apa, atau ingin hidup bagaimana. Yang kutahu hanyalah: aku harus pergi dari sini.

Waktu itu aku masih sangat muda— naif, penuh jiwa seni, romantis, sedikit dramatis. Aku mendambakan tempat yang jauh, mencintai perantauan, dipenuhi semangat dan mimpi-mimpi besar yang membuatku yakin: aku harus keluar dan menantang dunia.

Saat mengisi formulir pilihan universitas, semua sekolah yang direkomendasikan orangtuaku berada di dalam provinsi. Aku bahkan tidak meliriknya. Di sekolah, aku langsung mengisi jurusan dan kampus yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah.

Ibuku marah besar— marah karena aku tidak berdiskusi dengannya.

Aku bertanya balik:  “Andai aku diskusi sekarang, Ibu akan setuju?”

Ibu menjawab:  “Tidak.”

Aku berkata: “Kalau begitu, apa gunanya diskusi?”

Dia memalingkan wajah, marah tapi juga cemas kalau-kalau aku tidak diterima. Dia sulit tidur berhari-hari.

Ketika akhirnya aku benar-benar diterima, dia senang bukan main— tapi begitu teringat bahwa aku akan kuliah sejauh itu, dia langsung marah lagi. Setiap hari emosinya naik turun, senang lalu sedih, sedih lalu marah, seperti tokoh Fan Jin yang baru saja lulus ujian kerajaan dalam cerita klasik.

Aku diam saja. Aku menulis daftar perlengkapan kuliah sendiri, pergi ke kota membeli barang-barang satu per satu,  mengepak koper, membeli tiket kereta. Hari keberangkatan tinggal menghitung waktu,  tapi ibuku masih saja marah.

Pagi itu, saat aku membuka mata, kulihat dia duduk diam tidak jauh dariku. Dia menatapku lama, lalu pelan-pelan mengusap air mata sambil bergumam : “Pergi sejauh itu untuk apa… pulang saja susah.”

Cinta yang takut kehilangan

Saat semester tiga, aku mulai berpacaran dengan seseorang bermarga Zhang.

 Ketika kuberitahu ibu, pertanyaan pertamanya adalah: “Keluarganya dari mana?”

Mendengar “Dalian”, dia langsung terdiam. Lalu marah lagi. Berhari-hari dia tidak bicara denganku.

Saat menelponnya lagi, aku pura-pura tidak mengingat kejadian itu. Dia pun tidak mengungkit,
tetapi pelan-pelan mencoba memengaruhiku: “Kamu lihat anaknya Bu Li, tetangga depan rumah itu— sebaya denganmu, kuliahnya bagus, orangnya baik… Mama punya nomor teleponnya, mau kenalan tidak?”

Kemudian dia menambahkan:  “Kalau perempuan menikah jauh, nanti kalau disakiti suaminya, keluarga sendiri tidak bisa menolong.”

Aku mulai kesal.  Kutanya: “Ibu sebenarnya mau bicara apa?”

Dia menjawab :“Ibu cuma berharap kamu menikah dengan keluarga yang tidak jauh dari kita. Supaya kalau Lebaran atau Tahun Baru,  kamu bisa naik motor balik sebentar lihat Ibu.”

Aku berkata satu per satu, dengan tegas: “Pertama, bahkan kalau aku tidak pacaran, setelah lulus aku tetap tidak akan kembali ke kampung. Kedua, meskipun kalian tidak setuju, aku tidak akan berubah pikiran. Ketiga, aku sekolah bertahun-tahun bukan untuk menikah dengan ‘anak tetangga’.  Aku akan menikah dengan Zhang dari Dalian.”

Dia terpaksa menerima kenyataan itu, meski sesekali masih menggerutu lirih : “Apa sih yang kurang dari kampung halaman… kenapa tidak bisa tinggal?”

Apa yang salah dengan tempat asal kita?

Aku tidak tahu.

Belasan tahun lalu, setelah ayah pensiun dari militer, kami sekeluarga pindah dari timur laut Tiongkok ke selatan Henan.

Ayah berkata:  “Daun jatuh harus kembali ke akar. Orang tidak bisa seumur hidup mengembara.”

Tapi aku tidak mau.  Aku masih ingin pergi lebih jauh.

Selama bertahun-tahun, aku mengingat dengan jelas— setiap musim dingin yang panjang dan dingin menusuk,  angin yang menerobos rumah seperti tidak ada dinding, rasa dingin yang merayap dari tulang hingga ujung jari.  Kuretakan kembali ingatan tentang tangan penuh chilblains, tentang selimut dan seprai yang selalu basah seperti bisa diperas airnya.

Di hari-hari yang miskin dan keras itu, waktu seolah berhenti. Orang-orang memakai pakaian lusuh, tidak punya pekerjaan yang pasti,  hanya duduk di halaman menunggu sedikit sinar matahari yang hangat.

Manusia seperti terikat pada tanah—  dipenjarakan dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Ketika dunia luar berubah dengan cepat, tempat itu masih hidup dengan ritme zaman pertanian.

Sejak hari aku kembali ke rumah waktu itu, aku hanya punya satu pikiran: aku harus pergi — aku harus pergi jauh dari sini.

Tahun 2014, tepat lima tahun sejak aku meninggalkan rumah, aku akhirnya benar-benar berakar di sebuah kota baru seperti yang kuimpikan. Dalam lima tahun itu, aku hanya pulang empat kali.

Terakhir kali pulang adalah bulan Juni tahun lalu, ketika aku membawa Zhang pulang untuk bertemu keluarga. Segalanya tampak sama seperti dulu, kecuali satu hal: rambut ayah dan ibu kini jauh lebih putih,  dan di lemari obat ada banyak sekali botol baru— obat radang sendi, obat lambung, dan berbagai macam obat lainnya. Saat itu barulah aku sadar, selama aku tidak ada di rumah,  mereka telah menambah begitu banyak penyakit baru.

Ayah dan ibu membawa kami melihat rumah baru. Saat hendak naik tangga,
ayah tiba-tiba berkata santai:  “Ibumu jatuh dari tangga ini bulan Maret. Kakinya baru sembuh.”

Aku terkejut. Kenapa aku tidak tahu?  Kenapa tidak ada yang bilang?

Dengan suara datar ibu berkata:  “Bilang ke kamu buat apa? Kamu juga tidak bisa pulang. Hanya akan bikin kamu khawatir, mengganggu kamu cari kerja.”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Sekejap saja air mata langsung mengalir.
Untuk pertama kalinya, aku sadar:  keputusan meninggalkan rumah dengan begitu tegas
bagi diriku adalah sebuah tekad nekat— tapi bagi orang tuaku, itu adalah luka yang menusuk hati.

Kami hanya tinggal dua hari.  Saat mau berangkat kembali, ibuku sedih lama sekali.
Matanya memerah, dia menyelipkan sekantong telur rebus ke tasku sambil berkata: “Entah kapan kamu bisa pulang lagi.”

Dengan enteng aku menjawab: “Sekarang transportasi maju, tidak sesulit dulu.”

Namun setelah lulus kuliah barulah aku paham: memang sesulit itu.

Anak muda yang baru menapak dunia kerja, tidak punya apa-apa: waktu tidak ada, uang pun tidak ada.

Saat aku membawa Zhang pulang waktu itu, aku harus meminta izin khusus selama tujuh hari. Perjalanan pulang-pergi saja memakan waktu empat hari. Sesampainya kembali di Dalian, saldo di rekeningku hampir habis.

Banyak orang menikah jauh dan hidup di luar kota bertahun-tahun, walau punya uang dan waktu, kunjungan pulang tetap bisa dihitung dengan jari. Pada akhirnya kami semua hanyalah orang biasa— ada suami, anak, rumah tangga baru, dan belitan tanggung jawab yang membuat langkah semakin berat.

Baru setelah memikul beban tiga keluarga—  keluarga sendiri, keluarga pasangan, keluarga anak— aku benar-benar mengerti: cinta atau tidak cinta, bakti atau tidak bakti, semuanya mudah diucapkan,  tapi sulit dijalankan.

Entah dalam beberapa tahun ke depan,  berapa hari sebenarnya yang bisa kuhabiskan bersama mereka.

Waktu berjalan, lagi-lagi setahun berlalu.

Nenek Zhang jatuh sakit dan dirawat lama di rumah sakit. Beberapa tante Zhang bergiliran menjaga tanpa tidur, dari pagi sampai malam, mengurus makan, memandikan, membersihkan, mencari dokter, hingga tubuh mereka semakin kurus dari hari ke hari.

Aku berdiri di samping, menyaksikan mereka mengurus sang nenek penuh perhatian.

Dan tiba-tiba aku berpikir: Jika suatu hari ayah dan ibuku sakit seperti ini, dan aku tidak bisa berada di sisi mereka—  siapa yang akan merawat mereka?

Memikirkan itu, aku sadar: telepon bulanan, kiriman uang tepat waktu, atau hadiah saat hari raya— semuanya tidak cukup.

Dalam sakit, mereka butuh ditemani.  Dalam sepi, mereka butuh ditemani. Bagi orangtua, kehadiran anak di hari tua adalah kebutuhan yang lebih penting daripada semua benda.

Barulah aku benar-benar memahami pepatah kuno: “Saat orang tua masih ada, jangan pergi jauh;  kalau pun harus pergi, harus tahu arah untuk pulang.”

Dulu, di usia muda, aku menganggap rumah sebagai belenggu, sebagai rantai. Aku ingin melepas semuanya, lari sejauh mungkin untuk mengejar dunia yang luas.

Setiap kali berpisah di stasiun, melihat wajah ayah dan ibu yang penuh kerinduan, aku hanya melambaikan tangan sambil berkata: “Tidak usah mengantar.”

Aku tidak pernah melihat air mata mereka. Tidak pernah melihat hati mereka yang berlumur luka tapi tetap memaksakan senyum, khawatir aku terbebani.

Lalu ketika aku melihat begitu banyak pemandangan baru, bertemu orang-orang baru, menjalani hidup baru yang berbeda, dan ketika ayah-ibuku perlahan bukan lagi seluruh hidupku, dan ketika aku akhirnya bertemu orang yang akan menemaniku seumur hidup… saat itu aku baru sadar sudah terlambat untuk pulang. Sudah terlambat untuk membagi diri menjadi dua.

Di dunia ini, mana ada cara untuk “tidak mengecewakan orangtua dan tidak mengecewakan pasangan” sekaligus?

Aku hanya menyesal satu hal: manusia tidak bisa membelah diri. Tidak bisa berada di dua tempat pada waktu yang sama.

Yang paling kutakutkan bukanlah kesibukan, tetapi: ketika angin belum berhenti pohon sudah tumbang;  ketika anak ingin berbakti, orangtua sudah tiada.

Yang kupanjatkan hanya satu harapan: semoga mereka diberi waktu yang panjang— cukup lama hingga suatu hari sayapku cukup kuat untuk membawa mereka terbang bersamaku. (jhn/yn)

Dari Pelosok Papua ke Panggung Dunia, MJEthnic Craft Angkat Keindahan Budaya Indonesia Timur

Papua – MJEthnic Craft Indonesia, sebuah perusahaan kewirausahaan sosial, terus menunjukkan komitmennya dalam mengangkat produk lokal Indonesia Timur ke pasar global. Didirikan pada tahun 2022 oleh Sukma Ayu Mayangsari, S.Sos (lulusan Unair 2011 Fakultas Sosiologi) atau yang akrab disapa Mbak Ayu, perusahaan ini berawal dari toko daring yang fokus memasarkan kerajinan tangan Papua, sebelum berkembang menjadi eksportir yang menjangkau berbagai belahan dunia.

“Kami bangga dapat memperkenalkan serta mendistribusikan beragam produk unggulan karya anak bangsa, khususnya yang berasal dari tanah Papua,” ujar Mbak Ayu. Produk yang dipasarkan melalui situs web www.mjethnicraftindo.com ini tidak hanya menawarkan keunikan estetika, tetapi juga menyimpan cerita budaya yang mendalam dari berbagai daerah di Indonesia.

Visi Pemberdayaan Perempuan dan Ekonomi Lokal

Mbak Ayu menegaskan bahwa visi utama MJEthnic Craft adalah memberdayakan perempuan sebagai pelaku utama UMKM dan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal di daerah pelosok. “Melalui setiap produk, kami secara aktif membuka peluang ekonomi serta memberikan dampak sosial yang positif dan berkelanjutan bagi para pengrajin,” jelasnya.

Perusahaan ini berfokus pada produk kerajinan tangan dan kuliner khas nusantara yang dibuat dari bahan tradisional dan alami, sekaligus mencerminkan komitmen terhadap bisnis yang berkelanjutan dan autentik.

Langkah Berani di Panggung Internasional

Kiprah MJEthnic Craft di kancah global mulai terlihat ketika berpartisipasi dalam event Fashion Week Melbourne dan Indonesia By The Harbour di Sydney, Australia. Dalam kesempatan tersebut, Mbak Ayu memperkenalkan keindahan Noken Papua dan Batik Cendrawasih Papua, membuka mata dunia bahwa wastra nusantara tidak hanya terbatas pada batik Jawa atau tenun.

“Kami ingin mendobrak pandangan umum bahwa kekayaan budaya Indonesia juga berasal dari Timur, seperti Batik Cendrawasih Papua yang masih jarang dikenal,” tambahnya.

Perjalanan tersebut berlanjut ke berbagai negara, termasuk Uzbekistan, di mana ia memamerkan pakaian adat Papua lengkap dengan aksesoris tradisional. “Kami bangga baju adat Papua digemari oleh pejabat-pejabat di negara sahabat,” kenang Mbak Ayu.

Dampak Nyata Melalui Kemitraan Strategis

Melalui kemitraan dengan pemasok dan produsen lokal, MJEthnic Craft tidak hanya berperan sebagai distributor, tetapi juga berupaya meningkatkan kesejahteraan pengrajin lokal dan menjembatani mereka dengan pasar global.

“Kami bertransformasi menjadi perusahaan ekspor karena melihat besarnya potensi produk Indonesia di mata dunia. Banyaknya pesanan dari berbagai negara memicu kami untuk serius mengembangkan bisnis ini,” tutup Mbak Ayu.

Dengan semangat memberdayakan dan memperkenalkan warisan budaya Indonesia, MJEthnic Craft Indonesia terus berkomitmen untuk menjadi jembatan antara keindahan lokal dan apresiasi dunia internasional.

Grand Whiz Hotel Trawas Siap Sambut Nataru dengan Paket Liburan Keluarga di Kaki Gunung

Trawas, 2 Desember 2025 – Menyambut musim liburan Natal dan Tahun Baru 2026, Grand Whiz Hotel Trawas meluncurkan serangkaian program spesial yang dirancang untuk mempererat kebersamaan keluarga. Hotel bintang empat yang terletak di kawasan pegunungan sejuk Trawas, Mojokerto ini menawarkan pengalaman menginap lengkap dengan aktivitas ramah anak serta perayaan malam tahun baru yang meriah.

General Manager Grand Whiz Hotel Trawas, Indra Purwono, menyatakan bahwa hotel selalu menjadi destinasi favorit setiap akhir tahun. “Libur Nataru identik dengan momen berkumpul keluarga. Kami menghadirkan suasana akrab dan menyenangkan agar tamu dapat menikmati waktu bersama dengan nyaman,” ujarnya.

Paket Menginap dengan Fasilitas Lengkap

Hotel menawarkan dua pilihan paket liburan:

  1. Paket Natal: Rp 850.000 nett per malam, sudah termasuk sarapan dan makan untuk dua orang.
  2. Paket Tahun Baru: Rp 1.350.000 nett per malam, mencakup sarapan, makan malam, dan akses ke seluruh rangkaian New Year’s Eve Party.

Aktivitas Seru untuk Seluruh Keluarga

Selain akomodasi, Grand Whiz Hotel Trawas menyiapkan beragam kegiatan yang melibatkan anak-anak. Riyya Izza, Marketing Communication hotel, menjelaskan, “Kami menyiapkan kegiatan agar anak-anak tetap bisa bermain dan berkreasi selama liburan.”

Pada malam pergantian tahun, hotel akan menggelar pesta kembang api di area outdoor yang menjadi daya tarik utama, dipadukan dengan hiburan spesial dan sajian makan malam istimewa. Suasana pegunungan yang sejuk diharapkan semakin melengkapi pengalaman merayakan akhir tahun.

Komitmen Kenyamanan dan Keramahan

Sebagai bagian dari Intiwhiz Hospitality Management, Grand Whiz Hotel Trawas berkomitmen memberikan pelayanan ramah dan pengalaman menginap yang menyenangkan. Hotel dengan 152 kamar ini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti restoran, spa, ruang pertemuan, dan area rekreasi keluarga.

Untuk informasi dan reservasi, masyarakat dapat menghubungi:

  • Telepon: (0345) 880015
  • WhatsApp: 0878 5552 9842
  • Instagram: @grandwhiztrawas

Dengan kombinasi kesejukan alam Trawas, paket liburan lengkap, dan atmosfer kebersamaan, Grand Whiz Hotel Trawas siap menjadi pilihan ideal bagi keluarga yang ingin menghabiskan liburan akhir tahun di pegunungan.

Pintu Perang Terbuka: Venezuela Diambang Serangan, Siapa Negara Berikutnya?

EtIndonesia. Situasi geopolitik Amerika Serikat–Venezuela kini berada pada ambang titik balik paling genting dalam dua dekade terakhir. Setelah kembali ke Gedung Putih pada malam 1 Desember, Presiden AS, Donald Trump langsung memasuki Situation Room, ruang komando krisis yang setiap kali pintunya ditutup, dunia serasa ikut menahan napas.

Di ruangan penuh anggota kabinet, jenderal, dan pimpinan intelijen itu, sebuah keputusan bersejarah mulai dibentuk—keputusan yang bukan hanya menyangkut nasib Venezuela, tetapi juga arah masa depan politik global.

Ultimatum Satu Minggu: Kronologi Awal Ledakan Krisis

21 November 2025 (Jumat). Trump melakukan percakapan telepon rahasia dengan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Dalam panggilan itu, Trump memberikan ultimatum: Satu minggu untuk mundur, berkemas, dan meninggalkan Venezuela.

Namun ultimatum itu diabaikan. Selama sepekan berikutnya, Maduro justru tampil di depan publik dengan sikap yang meremehkan:

  • memeriksa pasukan,
  • menyanyi dan menari di acara publik,
  • bahkan mengajar bahasa Inggris kepada para pendukungnya.

28 November 2025 (Jumat). Tepat satu minggu setelah ultimatum, Maduro masih beraktivitas normal, seolah tantangan Trump tidak pernah ada.

29 November 2025 (Sabtu pagi).Trump membalas sikap tersebut dengan tindakan keras: Amerika Serikat menetapkan zona larangan terbang (no-fly zone) di seluruh wilayah udara Venezuela, menandai dimulainya tahap akhir persiapan perang penuh.

Maduro Tidak Melarikan Diri — Bukti dan Motifnya

30 November 2025. Maduro muncul di acara publik bersama aparat, pegawai negeri, dan massa pendukungnya. Yang ditampilkan bukan pidato serius, melainkan penampilan nyanyian dan tarian “lagu anti-perang” ciptaannya sendiri—lengkap dengan gaya rap.

Aksi ini memunculkan kritik luas. Di balik panggung penuh tawa itu, rakyat Venezuela telah mengalami:

  • 8 juta warganya meninggalkan negara akibat kelaparan dan krisis ekonomi,
  • kartel narkoba negara menjalankan penyelundupan besar-besaran ke AS,
  • inflasi ekstrem menghancurkan seluruh kelas pekerja,
  • kekayaan minyak terbesar di dunia justru tidak dinikmati rakyat.

Propaganda pemerintah bahkan menayangkan video keluarga “bahagia” yang makan hidangan Natal—yang ternyata terbuat dari plastik.

Venezuela: “Laboratorium Eksperimen” Komunisme Modern

Pengamat internasional menyebut Venezuela sebagai studi kasus global:

  • demokrasi bebas dihancurkan,
  • oposisi ditumpas,
  • media dikontrol,
  • rakyat dipiskinkan agar bergantung pada negara.

Model pemerintahan ini kemudian dipromosikan ke dunia sebagai “sosialisme progresif”. Tidak mengherankan jika empat negara pendukung terbesar Maduro adalah “empat ekstremisme global”:

  1. Rusia – neo-ekspansionisme,
  2. Tiongkok – “sosialisme berkarakter Tiongkok”,
  3. Iran – ekstremisme agama,
  4. Kuba – sosialisme klasik.

Keempatnya membentuk payung perlindungan bagi Maduro.

2 Desember 2025: Trump Resmi Menyatakan Maduro “Pembunuh Rakyat Amerika”

Pada 2 Desember 2025 sore, Trump mengumpulkan seluruh kabinet dan menyampaikan kecaman keras: “Maduro telah membunuh ribuan warga Amerika melalui peredaran narkoba.”

Trump menggunakan ungkapan militer yang sangat eksplisit kepada para jenderalnya sebagai persetujuan operasi: “Habisi mereka.”

Kalimat itu menandai berlanjutnya operasi militer terbesar AS di kawasan Karibia sejak 1989 (Operasi Just Cause).

Kekuatan Tempur AS Siap Menghantam Venezuela

Kelompok Tempur USS Gerald R. Ford (11 kapal)

  • kapal induk USS Ford,
  • kapal perusak AEGIS,
  • kapal penyerang amfibi,
  • kapal selam nuklir.

Kekuatan Serangan Udara

  • puluhan F-16 dan F-35 dari Puerto Riko,
  • jet dan helikopter dari USS Ford,
  • pembom strategis jarak jauh (kemungkinan B-1B atau B-52H),
  • rudal Tomahawk dari destroyer.

Operasi awal diperkirakan meliputi:

  • penghancuran sistem radar Venezuela,
  • penekanan pertahanan udara,
  • serangan ke pusat komando Caracas,
  • pemutusan jalur komunikasi militer.

Operasi Rahasia CIA dan Pasukan Khusus

Agen CIA dan unit operasi khusus yang sudah bertahun-tahun berada di lapangan kini bergerak ke fase akhir:  melenyapkan gembong narkoba dan pejabat elite yang menjadi target prioritas.

Satu unit khusus telah ditugaskan untuk target inti: Nicolás Maduro.

Gerak Misterius Pesawat AS: Mode “Hantu” di Langit Karibia

Data penerbangan pada 2 Desember 2025 menunjukkan:

  • enam pesawat patroli P-8A Poseidon memasuki selatan Laut Karibia,
  • seluruh transponder dimatikan,
  • sistem elektronik dipadamkan,
  • terbang dalam pola militer stealth tracking.

Ini menandakan operasi pengintaian intensif menjelang serangan besar.

Perang Narasi: Sayap Kiri AS Melawan Trump

Kelompok kiri di AS melakukan perlawanan besar-besaran melalui media. Narasi utama mereka: “Trump menyerang Venezuela demi minyak.”

Namun narasi ini runtuh ketika bukti muncul bahwa:

  • Maduro berulang kali menawarkan minyak dan sumber daya kepada Trump agar operasi dibatalkan,
  • Trump menolak seluruh tawaran itu.

Trump menyatakan satu alasan utama: Peredaran narkoba Venezuela telah menghancurkan generasi muda Amerika.

Kontroversi Hukum Perang dan Jawaban Keras Pentagon

Kelompok kiri juga menuduh AS melanggar hukum internasional setelah:

  • kapal cepat narkoba diserang dan tenggelam,
  • “awak yang masih hidup” menjadi korban gelombang serangan kedua.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth menanggapi keras: “Berita palsu tidak akan menghentikan kami menenggelamkan para teroris pengedar narkoba.”

Ketika ditanya kenapa operasi sempat jeda: “Sekarang semakin sulit menemukan kapal narkoba yang tersisa.”

Pernyataan Trump yang Mengguncang Amerika Latin

Dalam konferensi pers pada 2 Desember 2025, seorang wartawan bertanya: “Apakah Venezuela menjadi operasi militer satu-satunya?”

Trump menjawab pendek—tetapi membuat seluruh ruangan terdiam: “Venezuela adalah yang pertama.”

Pernyataan itu memicu gelombang kekhawatiran di:

  • Kolombia,
  • Brasil,
  • Kuba,
  • Meksiko, bahwa operasi militer AS mungkin akan diperluas ke negara lain yang terlibat dalam kartel narkoba atau operasi geopolitik anti-AS.

Kesimpulan: Perang Ini Bukan Perang Biasa

Dari seluruh rangkaian peristiwa sejak 21 November hingga 2 Desember 2025, satu hal menjadi jelas: Operasi AS di Venezuela bukanlah operasi anti-narkoba regional. Bukan pula perebutan minyak.

Ini adalah:

  • operasi penghancuran kartel narkoba negara,
  • pemutusan jaringan ekstremisme global,
  • tindakan geopolitik menahan pengaruh Rusia–Tiongkok–Iran di Amerika Latin,
  • perang untuk mencegah penyebaran model sosialisme otoriter.

Dan kini, dunia menunggu: Kapan tembakan pertama dilepaskan — dan negara mana yang akan menjadi sasaran berikutnya?