Para ahli penyakit menular menjelaskan risiko hantavirus, gejalanya, dan seberapa jarang sebenarnya penularan antarmanusia terjadi
George Citroner
Kini, semua orang telah mendengar tentang hantavirus, virus langka dan mematikan yang menyebar di antara para penumpang kapal pesiar MV Hondius, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar mengetahui tentang virus itu sendiri.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengonfirmasi bahwa varian tersebut adalah Andes, satu-satunya jenis hantavirus yang mampu menular dari manusia ke manusia. Namun, hingga 7 Mei, risiko kesehatan masyarakat masih tetap rendah.
Apa itu hantavirus, dan bagaimana dampaknya terhadap manusia?
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah virus kecil berbentuk bulat dengan lebar sekitar 100 nanometer—begitu kecil sehingga seribu virus dapat muat melintang pada sehelai rambut manusia.
Hantavirus merupakan genus virus yang termasuk dalam keluarga Hantaviridae (sebelumnya bagian dari keluarga Bunyaviridae), dan terutama dibawa oleh hewan pengerat, khususnya tikus. Di Amerika Utara, pembawa hantavirus yang paling umum adalah tikus rusa (deer mice).
Virus ini menular kepada manusia melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi, atau melalui penghirupan partikel udara yang terkontaminasi oleh cairan-cairan tersebut.
Lebih dari 50 spesies yang telah dikenali ada di seluruh dunia, dan infeksi dapat menyebabkan dua sindrom berbeda: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang menyebabkan gangguan paru-paru dan jantung yang mengancam jiwa, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), penyakit berat yang menyerang ginjal.
Belum ada pengobatan khusus atau obat penyembuh untuk infeksi hantavirus, meskipun obat antivirus ribavirin telah menunjukkan efektivitas terhadap varian yang menyebabkan gagal ginjal, tetapi belum terbukti efektif terhadap keterlibatan paru-paru dan jantung yang terlihat pada HPS.
Varian Andes
Dari semua jenis yang dikenal, hanya virus Andes yang terdokumentasi berpotensi menyebar dari manusia ke manusia, dan bahkan dalam kasus tersebut, penularan umumnya memerlukan kontak dekat dan berkepanjangan serta tetap jarang terjadi.
Sebelum wabah baru ini, virus Andes terbatas di beberapa wilayah Amerika Latin, terutama Argentina.
Salah satu wabah virus Andes terbesar yang pernah dilaporkan menyebabkan 29 kasus terkonfirmasi, termasuk 11 kematian, antara akhir tahun 2018 hingga awal 2019 di Epuyén, sebuah desa berpenduduk sekitar 2.000 orang di Patagonia, Argentina. Hingga kini, itu merupakan wabah paling terkenal yang melibatkan penularan antarmanusia.
Dalam kasus MV Hondius, para ahli WHO memperkirakan penumpang pertama yang diduga meninggal akibat hantavirus kemungkinan tertular di Argentina. Ketika ia naik ke kapal, virus kemudian menyebar ke penumpang lain.
Di Argentina, HPS memiliki tingkat kematian hingga 50 persen. Otoritas berhasil mengendalikan penyebaran melalui karantina ketat, pelacakan kontak, isolasi kontak dekat, dan pemantauan aktif—langkah-langkah yang mengingatkan pada respons kesehatan masyarakat selama COVID-19.
Dr. Tyler B. Evans, dokter penyakit menular dan kesehatan masyarakat sekaligus kepala petugas medis pertama Kota New York selama COVID-19, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa bahaya kapal seperti MV Hondius adalah karena kapal tersebut merupakan kapal ekspedisi kecil yang beroperasi di beberapa perairan paling terpencil di dunia.
Dengan hanya satu dokter di atas kapal dan persinggahan di lokasi terpencil dengan infrastruktur medis yang minim, ketika seseorang menjadi sakit kritis, responsnya bukanlah pengalihan cepat ke pelabuhan terdekat dengan fasilitas modern, katanya.
“Itu adalah evakuasi berhari-hari yang mungkin tidak dapat membuat pasien bertahan hidup.”
Gejala yang Perlu Diwaspadai
HPS biasanya dimulai dengan gejala mirip flu. Masa inkubasi—waktu dari paparan hingga munculnya gejala—dapat mencapai delapan minggu, dengan sebagian besar gejala muncul sekitar dua hingga empat minggu setelah paparan.
Yang membuat penyakit ini sangat berbahaya adalah seberapa cepat kondisinya dapat memburuk.
“Begitu gejala dimulai … gejalanya dapat mencakup demam, sakit kepala, nyeri otot, dan mungkin batuk, dan itu dapat berlangsung beberapa hari atau seminggu,” kata Dr. Andrew Handel, spesialis penyakit infeksi anak di Stony Brook Children’s Hospital di New York, kepada The Epoch Times. “Tetapi kekhawatiran sebenarnya terhadap hantavirus adalah sindrom kardiopulmoner, di mana dapat terjadi kolaps secara cepat.”
Ketika kolaps tersebut terjadi, kata Handel, tingkat kematian dalam 24 jam pertama sangat tinggi.
Seiring perkembangan penyakit, kondisi ini dapat dengan cepat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru, yang mengakibatkan gagal napas jika tidak segera ditangani.
Sementara itu, HFRS muncul dengan gejala seperti demam, wajah kemerahan, sakit kepala, gangguan ginjal, perdarahan di bawah kulit atau dari lubang tubuh lainnya, dan dalam kasus berat dapat menyebabkan syok.
Risiko Rendah bagi Kebanyakan Orang
Bagi populasi umum, hantavirus tergolong berisiko rendah. Amerika Serikat mencatat antara 15 hingga 50 kasus setiap tahun.
Di Asia dan Eropa, kasus HFRS lebih banyak ditemukan, terutama di negara-negara seperti Tiongkok, Korea, dan Rusia, dengan ribuan kasus dilaporkan setiap tahun.
Virus ini memerlukan kondisi tertentu untuk menginfeksi manusia, seperti penghirupan partikel udara yang terkontaminasi dalam waktu lama. Selain itu, sebagian besar populasi hewan pengerat tidak membawa virus ini, dan kebanyakan orang tidak pernah terpapar hewan tersebut, sehingga semakin mengurangi risiko keseluruhan.
Namun, mereka yang tinggal atau sering mengunjungi daerah pedesaan, pertanian, kabin, atau wilayah dengan populasi tikus tinggi menghadapi kemungkinan paparan yang jauh lebih besar.
Anak-anak dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah juga mungkin menghadapi risiko penyakit berat yang lebih tinggi jika terpapar.
Cara Pencegahan
Kunci pencegahan adalah meminimalkan kontak dengan hewan pengerat.
Langkah pencegahan utama meliputi menjauhkan hewan pengerat dari rumah dan tempat kerja dengan menutup lubang dan celah, menyimpan makanan dalam wadah kedap udara, serta membersihkan barang-barang atau puing yang dapat menjadi tempat bersarang.
Saat membersihkan area yang terkontaminasi kotoran hewan pengerat, sangat penting untuk tidak menyapu atau menggunakan penyedot debu, karena tindakan tersebut dapat membuat virus beterbangan di udara. Sebagai gantinya, pertama-tama buka jendela untuk mengalirkan udara segar, gunakan disinfektan dan kain basah, serta kenakan sarung tangan dan masker untuk mencegah penghirupan atau kontak langsung.