Kisahnya Pendek, Tapi Mencerahlan


EtIndonesia. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Bill Gates — orang yang dijuluki sebagai salah satu manusia terkaya di dunia: “Apakah ada orang yang lebih kaya dari Anda?”

Bill Gates menjawab dengan tenang: “Ada. Bahkan dia jauh lebih kaya dari saya.”

Lalu dia menceritakan sebuah kisah —

“Pada masa muda, saya belum punya uang, belum terkenal.  Di sebuah bandara di New York, saya ingin membeli koran, tapi menyadari uang receh saya tidak cukup. Maka saya mengembalikan koran itu pada pedagang kecil di sana.

Saya berkata: ‘Maaf, uang saya tidak cukup.’

 Namun pria itu tersenyum dan berkata :‘Ambil saja, ini saya berikan gratis untuk Anda.’

Karena dia bersikeras, saya pun menerimanya.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali berada di bandara yang sama — dan kejadian yang sama terulang. Uang receh saya tetap tidak cukup untuk membeli koran.

Dan pria yang sama itu kembali berkata:‘Ambillah, saya bagikan dari keuntungan saya. Tidak rugi kok.’

Lalu saya pun menerimanya untuk kedua kalinya.”

“ 19 tahun berlalu.  Saya kini dikenal dunia. Tiba-tiba, saya teringat pria penjual koran itu — dan mulai mencarinya.

Setelah sekitar enam minggu, akhirnya saya menemukannya.

Saya bertanya : ‘Apa kamu ingat saya?’

Dia menjawab: ‘Tentu. Anda Bill Gates.’

Saya melanjutkan :‘Apa kamu ingat dulu kamu memberikan saya dua koran secara cuma-cuma?’

Dia mengangguk : ‘Tentu saya ingat. Dua kali, bukan?’

Saya berkata : ‘Sekarang saya ingin membalas kebaikanmu. Mintalah apa saja — akan saya wujudkan.’

Namun jawaban pria itu membuat saya terdiam.

‘Tuan, apakah Anda tidak merasa bantuan Anda pada saya sekarang — tidak bisa dibandingkan dengan bantuan kecil saya pada Anda saat itu?’

Saya penasaran : ‘Apa maksud Anda?’

Dia berkata dengan tenang : ‘Saat saya tak punya apa-apa, saya tetap mau berbagi.
Sedangkan Anda baru ingin berbagi setelah menjadi orang terkaya di dunia.
Lalu, siapa yang sebenarnya lebih kaya?’

Dan pada saat itulah, saya benar-benar sadar…

Bahwa pria itu jauh lebih kaya dari saya —  karena dia memiliki hati yang kaya, jauh sebelum dia memiliki harta.”

“Orang yang benar-benar kaya, bukanlah yang paling banyak uangnya — melainkan yang paling banyak ketulusan dalam memberi.”

Pandora Mundur dari Pasar Tiongkok: Runtuhnya Impian Kelas Menengah

 Ketika konsumen Tiongkok makin berhati-hati dalam berbelanja dan impian kelas menengah mulai pudar, toko-toko Pandora yang kosong menjadi simbol berakhirnya sebuah era penuh harapan.

Oleh Xiao Yi

Pandora A/S adalah merek perhiasan asal Denmark yang pernah menjadi bintang di pasar affordable luxury global, pada Agustus lalu mengumumkan bahwa mereka akan menggandakan jumlah toko yang akan ditutup di Tiongkok—dari 50 menjadi 100 gerai. Keputusan ini berarti memangkas lebih dari separuh jaringan tokonya dan menjadi langkah penarikan terbesar sejak Pandora masuk ke pasar Tiongkok satu dekade silam.

Kemerosotan Pandora di Tiongkok bukan sekadar kegagalan bisnis. Ia mencerminkan pudar­nya aspirasi kelas menengah yang dulu begitu percaya diri, sekaligus menandai pergeseran mendasar dalam lanskap konsumsi di negara itu.

Kisah Pandora berawal pada 1982, ketika seorang pandai emas Denmark, Per Enevoldsen, dan istrinya, Winnie, membuka toko perhiasan kecil di Kopenhagen.

Kesuksesan global merek ini lahir dari konsep sederhana namun kuat: charm bracelet — gelang dengan gantungan kecil yang bisa dipersonalisasi. Diperkenalkan pada tahun 2000, setiap gantungan Pandora dirancang untuk mewakili kenangan pribadi, memungkinkan pelanggan “menceritakan kisah mereka sendiri” lewat perhiasan. Koneksi emosional itu, dipadukan dengan model bisnis terintegrasi—desain dari Denmark, produksi di Thailand, dan jaringan ritel global—membuat Pandora efisien sekaligus menarik. Pada awal 2010-an, Pandora telah menjadi salah satu dari tiga perusahaan perhiasan terbesar di dunia, menjual lebih dari 100 juta produk setiap tahun.

Ketika Pandora memasuki pasar Tiongkok pada 2015, waktunya sangat tepat. Ekonomi Tiongkok masih tumbuh cepat, dan kelas menengah yang penuh percaya diri ingin mengekspresikan selera serta individualitas lewat konsumsi. 

Gantungan Pandora menjadi jembatan antara kemewahan dan fesyen cepat; tampil elegan namun tetap terjangkau. Slogan pemasarannya, “One charm, one story” (Satu gantungan, satu cerita), bergema kuat di kalangan generasi muda yang ingin menunjukkan jati diri.

Gantungan itu pun sarat makna emosional—tentang persahabatan, cinta, perjalanan, dan mimpi—menjadi simbol kenangan yang abadi.

Antara 2016 hingga 2019, Pandora meraih sukses luar biasa di Tiongkok. Penjualan naik 175 persen pada 2016 dan mencapai rekor 1,97 miliar kroner Denmark pada 2019.
Pada puncaknya, Pandora memiliki lebih dari 240 toko dan pasar Tiongkok menyumbang sekitar 9 persen dari total pendapatan global perusahaan.

Kebangkitan merek ini didorong oleh semangat zaman: optimisme. Kelas menengah Tiongkok meyakini bahwa kenaikan ekonomi mereka bersifat stabil dan permanen. Membeli gelang Pandora bukan hanya konsumsi, tapi juga bagian dari mimpi kolektif tentang kemajuan dan pemenuhan diri.

Namun fondasi itu rapuh, karena keberhasilan Pandora lebih bergantung pada ledakan konsumsi ketimbang integrasi budaya yang mendalam. Ketika ekonomi melambat, pondasinya pun runtuh.

Titik balik terjadi setelah 2020, ketika pandemi COVID-19 mempercepat penurunan. Penjualan di Tiongkok anjlok dari 1,9 miliar kroner pada 2019 menjadi hanya 416 juta kroner pada 2024. Pada kuartal pertama 2025, pendapatan kembali turun 11 persen dibanding tahun sebelumnya, meskipun penjualan global Pandora masih tumbuh sedikit.

Banyak faktor menjelaskan kemerosotan ini. Perubahan paling mendasar adalah psikologi konsumen. Jika pada pertengahan 2010-an pembeli Tiongkok digerakkan oleh emosi dan aspirasi, maka pada pertengahan 2020-an mereka menjadi jauh lebih realistis dan berhati-hati. Perlambatan ekonomi, tingginya pengangguran muda, serta jatuhnya harga properti menghancurkan ilusi pertumbuhan tanpa batas.

Konsumsi kini menjadi lebih praktis dan penuh perhitungan. Perhiasan tak lagi tentang makna atau simbol, melainkan soal nilai dan keamanan. Emas, yang dulu dianggap kuno, kembali diminati karena nilainya stabil dan bisa dijual kembali. Gantungan perak Pandora tak mampu bersaing dengan tren itu.

Kualitas produk juga menjadi masalah besar. Gantungan Pandora—yang dibuat terutama dari perak sterling dan enamel—mudah kusam seiring waktu. Konsumen Tiongkok mengeluh soal proses pembersihan yang merepotkan. Di pasar barang bekas, perhiasan Pandora hampir tak bernilai. Begitu pembeli sadar bahwa citra “mewah tapi terjangkau” tak sebanding dengan kualitas sebenarnya, kepercayaan pun runtuh.

Di saat bersamaan, persaingan makin ketat. Di segmen atas, merek-merek besar seperti Tiffany dan Bulgari meluncurkan koleksi bergaya muda yang menargetkan konsumen milenial—pasar yang dulu dikuasai Pandora. Di tingkat domestik, merek lokal seperti Chow Tai Fook dan Chow Sang Sang menghidupkan kembali perhiasan emas dengan desain modern yang memadukan keindahan dan nilai investasi. Desainer muda seperti HEFANG Jewelry juga menarik minat generasi muda lewat pemasaran digital dan kolaborasi budaya pop.

Sebaliknya, Pandora terlambat beradaptasi dengan era digital. Perusahaan masih bergantung pada toko fisik dan iklan konvensional. Hingga Agustus 2025, penjualan daring hanya menyumbang kurang dari 20 persen pendapatan di Tiongkok—terlalu kecil untuk menjangkau konsumen muda yang lebih suka berbelanja secara online.

Kenaikan biaya produksi memperburuk keadaan. Harga perak pada tahun ini mencapai titik tertinggi dalam lebih dari empat dekade. 

Selama setahun terakhir, Pandora terpaksa menaikkan harga global beberapa kali demi menjaga keuntungan, namun hal itu justru membuat produknya semakin tidak menarik. Keputusan untuk mengelola sebagian besar toko secara langsung juga membebani biaya sewa dan tenaga kerja, yang makin sulit ditanggung ketika penjualan terus merosot.

Dalam upaya memulihkan diri, Pandora mencoba berbagai strategi baru—membuka gerai di mal kelas atas, menggandeng selebritas muda sebagai duta merek, serta bekerja sama dengan Disney dan Marvel. Namun langkah-langkah ini tak mampu membalikkan keadaan. Strategi itu hanya memicu sensasi sesaat tanpa menghasilkan loyalitas atau penjualan berkelanjutan.

Menariknya, kisah Pandora di pasar global justru berbeda. Pada kuartal kedua 2025, pendapatan globalnya naik 4,5 persen, terutama berkat pasar Amerika Serikat yang tumbuh 8 persen. Konsumen AS masih menyukai fleksibilitas gelang Pandora, bahkan mengubah gantungan menjadi aksesori rambut atau sabuk.

Kontras ini mencerminkan realitas yang lebih dalam: di masyarakat dengan ekonomi stabil, ekspresi diri tetap menjadi inti identitas konsumen; sementara di wilayah yang pertumbuhannya melambat dan penuh ketidakpastian, konsumen cenderung lebih berhati-hati dan fokus pada keamanan finansial.

Karena itu, mundurnya Pandora dari Tiongkok membawa makna simbolis yang lebih luas daripada sekadar bisnis perhiasan. Ia menandai berakhirnya era light luxury di Tiongkok—masa keemasan selama satu dekade yang bertumpu pada optimisme dan aspirasi kelas menengah.

Banyak merek asing yang menyasar kelompok konsumen serupa kini juga tersendat atau keluar dari pasar Tiongkok, seperti MUJI, Zara, dan Carrefour.

Toko-toko Pandora yang kosong di pusat perbelanjaan Tiongkok kini menjadi pengingat akan mimpi yang telah hilang. Dalam kisah kemunduran ini, kita tak hanya melihat kesalahan satu perusahaan, tetapi juga perubahan mendasar dalam masyarakat Tiongkok setelah ilusi kemakmuran tanpa akhir memudar.

 Xiao Yi adalah pengamat urusan Tiongkok dan pakar keuangan dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di Tiongkok, Korea Selatan, Thailand, dan negara-negara Asia Tenggara. Ia kini berbasis di London.

Benturan Kepala Tingkatkan Risiko Demensia: Bagaimana Pijat, Makanan, dan Alam Bisa Membantu

Pijat kepala secara rutin dapat membantu memulihkan cedera kepala lama

oleh Leo Cheung & JoJo Novaes

Sebagai anak-anak, Kuo Yu-cheng, direktur Klinik Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) Kontemporer, memiliki bakat musik luar biasa. Ia dapat mengingat melodi apa pun hanya setelah mendengarnya sekali. Namun, suatu hari saat bermain di sekolah, ia terbentur di bagian belakang kepalanya pada bingkai pintu, dan sejak saat itu, kemampuannya mengingat musik hilang.

“Pengalaman itu mengubah hidup saya,” kenang Kuo. “Saya menyadari betapa cedera kepala dapat memengaruhi otak dan memori secara mendalam.”

Melalui bertahun-tahun praktik, Kuo mengamati bahwa banyak anak dengan cerebral palsy memiliki riwayat trauma kepala. Konsekuensinya, menurutnya, bisa jauh lebih serius pada orang dewasa. 

“Ahli bedah jantung terkenal Taiwan, Dr. Lin Fang-yu, mengalami demensia setelah cedera kepala akibat jatuh,” ujarnya.


Bagaimana Trauma Kepala Memicu Penurunan Kognitif

Meskipun gejala tidak selalu muncul segera, trauma kepala dapat menyebabkan kerusakan neurologis jangka panjang. Kuo menjelaskan bahwa cedera ini dapat mengganggu aliran darah otak, yang memburuk seiring bertambahnya usia karena fungsi jantung menurun, sehingga pasokan oksigen ke jaringan otak berkurang. Kekurangan oksigen kronis mempercepat kehilangan neuron, memicu penurunan memori, dan meningkatkan risiko demensia.

Dalam PTT, kepala adalah titik pertemuan semua meridian “yang”, tempat energi vital atau qi dan darah berkumpul untuk memberi nutrisi pada otak dan organ sensorik. Cedera kepala, kata Kuo, mengganggu aliran energi ini—qi dan darah menjadi stagnan, meridian tersumbat, dan otak tidak mendapat asupan nutrisi. Seiring waktu, stagnasi energi ini muncul sebagai penurunan kognitif, pusing, kesulitan berkonsentrasi, dan insomnia.

Bukti ilmiah semakin mendukung pengamatan Kuo. Studi 2021 menunjukkan bahwa mantan pemain sepak bola profesional Skotlandia menghadapi risiko 3,66 kali lebih tinggi mengalami penyakit neurodegeneratif dibanding populasi umum. Pemain bertahan, yang sering menyundul bola, memiliki risiko 4,98 kali lebih tinggi, sementara kiper—yang jarang terkena benturan kepala—mengalami risiko 1,83 kali lebih tinggi. Pemain dengan karier lebih dari 15 tahun sangat rentan, dengan kemungkinan 5,2 kali lebih tinggi mengalami kondisi tersebut.


Pijat untuk Pemulihan Cedera Kepala Lama

Sepanjang hidup, banyak orang mengalami benturan ringan atau cedera kepala. Menurut Kuo, pijat rutin pada kulit kepala dapat membantu pemulihan cedera lama dengan meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi hambatan energi.

Teknik ini melibatkan identifikasi area di kepala yang pernah mengalami benturan—misalnya area yang terasa menonjol, cekung, atau nyeri saat disentuh. Area tersebut sering menandakan ketegangan atau stagnasi di bawahnya. Setelah ditemukan, Kuo menyarankan memijat titik-titik ini setidaknya tiga kali sehari selama lima menit per sesi.

Ia juga menyarankan menggunakan pijatan lembut dengan tangan, tanpa alat, karena otot kulit kepala tipis dan mudah cedera. Tekanan ringan dan durasi pijat lebih lama dapat meningkatkan sirkulasi darah. Salah satu tanda aliran darah kepala membaik adalah munculnya sensasi mata lebih cerah dan jelas.

Pijat kepala dan leher juga meningkatkan sirkulasi limfatik, mendukung detoksifikasi dan perbaikan otak. Cairan serebrospinal, yang penting untuk detoksifikasi otak, mengalir ke sistem limfatik leher; pijat rutin kepala dan leher dapat meningkatkan aliran cairan ini dan mendukung kesehatan otak optimal.

Insomnia sering menjadi tanda awal melemahnya fungsi otak. Gejala kekurangan oksigen otak lainnya termasuk gangguan penglihatan, tinnitus, atau sakit kepala. Pijat kepala secara rutin membantu mengurangi gejala ini dan mendukung vitalitas otak.


Menutrisi Otak melalui Makanan

Otak membutuhkan pasokan glukosa dan oksigen yang stabil untuk berfungsi optimal. Pola makan yang mendukung energi dan sirkulasi stabil penting untuk kesehatan otak dan pencegahan demensia.

Kuo memberikan beberapa saran diet kunci:

  • Makanan hangat dan matang: Makanan hangat membantu sirkulasi stabil dan mengarahkan lebih banyak aliran darah ke otak, bukan ke sistem pencernaan.
  • Tiga kali makan seimbang sehari: Menjamin otak mendapat nutrisi cukup. Puasa intermiten lama dapat menurunkan gula darah dan “menyiksa” sel otak, sementara makan sering dalam porsi kecil dapat mengalihkan aliran darah dari otak.
  • Makanan pokok: Glukosa dari nasi atau karbohidrat lain adalah sumber energi utama otak, meski beberapa orang khawatir gula darah naik.

Menyatu Kembali dengan Alam

Kuo mendorong orang untuk kembali ke alam untuk memulihkan kemampuan penyembuhan tubuh. Praktik seperti earthing atau grounding—berjalan tanpa alas kaki di tanah atau rumput—membantu menyeimbangkan potensi listrik tubuh, mengurangi peradangan dan stres.

Beberapa studi menunjukkan earthing meningkatkan keseimbangan sistem saraf otonom menuju dominasi parasimpatis, memperbaiki kualitas tidur, dan mengurangi rasa sakit serta biomarker peradangan.

“Berdiri di bawah pohon tinggi seperti pinus atau cemara dapat menyelaraskan energi tubuh,” kata Kuo. “Ketika meridian mengalir lancar, otak menjadi tenang dan jernih.”

Ledakan di Kilang Minyak di Bashkortostan, Rusia Setelah Serangan Drone Tak Dikenal

EtIndonesia. Sebuah ledakan merusak pabrik petrokimia lokal di Kota Sterlitamak, Bashkortostan, Rusia, setelah adanya laporan “bahaya drone” pada malam sebelumnya, menurut media Rusia dan gubernur daerah tersebut.

Pada pagi hari tanggal 4 November, peringatan “ancaman udara tak berawak” dikeluarkan di Bashkortostan.

Warga Sterlitamak melaporkan mendengar setidaknya dua ledakan, sekitar pukul 06 : 20 dan 07: 00 waktu setempat.

Video yang menunjukkan kilatan dan ledakan segera beredar di media sosial.

Kemudian, wali kota mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi di bengkel pengolahan air Pabrik Petrokimia Sterlitamak JSC, yang menyebabkan sebagian fasilitas tersebut runtuh. Tidak ada korban luka yang dilaporkan, dan penyebab ledakan sedang diselidiki.

Selanjutnya, Kepala Bashkortostan, Radiy Khabirov, menyatakan bahwa dua drone tak dikenal telah menyerang kompleks industri Sterlitamak. Kedua drone tersebut ditembak jatuh, dan puing-puingnya jatuh di dalam kawasan industri dekat bengkel tambahan.

Tidak ada korban jiwa, dan pabrik tetap beroperasi seperti biasa, tambah pejabat tersebut.

Pabrik Petrokimia Sterlitamak JSC adalah bagian dari perusahaan induk perusahaan kimia Rusia, Roshim. Menurut situs web perusahaan, produk-produknya digunakan dalam industri penyulingan minyak, makanan, medis, dan kosmetik, serta dalam produksi plastik dan barang-barang karet.

Insiden lain di wilayah Rusia pada 4 November

Warga di wilayah Lipetsk dan Nizhny Novgorod di Rusia mendengar ledakan semalaman, dengan pertahanan udara setempat diaktifkan.

Bandara di Volgograd, Tambov, Penza, Saratov, dan Samara menghentikan sementara operasinya.

Pada malam 3 November, pemadaman listrik dilaporkan di beberapa kota di Rusia. Di Frolovo, wilayah Volgograd, kebakaran terjadi di gardu induk setempat setelah dugaan serangan drone.

Listrik juga padam di beberapa distrik di wilayah Kursk, di mana Gubernur Alexander Khinshtein mengatakan lebih dari 16.000 penduduk tidak mendapatkan aliran listrik di area yang terhubung dengan gardu induk Rylsk. (yn)

Bagaimana Screen Time Memengaruhi Berbagai Organ Tubuh

Inilah alasan ilmiah yang mana barangkali dilakukan untuk mengurangi penggunaan ponsel

Oleh Arsh Sarao

Ditinjau secara medis oleh Jimmy Almond

Kita begitu terpaku pada smartphone hingga sering kehilangan jejak waktu saat ibu jari terus menggulir konten yang tampak tak ada habisnya. Sementara itu, layar beberapa inci tersebut diam-diam memancarkan cahaya biru dan gelombang medan elektromagnetik (EMF). Mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi tubuh dan otak kita merasakannya.

Bukti ilmiah yang berkembang menunjukkan bahwa Screen Time atau waktu layar yang berlebihan memengaruhi hampir seluruh bagian tubuh—dimulai dari mata, jantung, tulang belakang, hingga organ lainnya.


Cahaya Terang, Mata Lelah

Layar digital memancarkan kombinasi cahaya merah, hijau, dan biru. Di spektrum ini, terdapat lonjakan cahaya biru (blue light spike) pada rentang 400–490 nanometer, dikenal sebagai cahaya tampak energi tinggi (HEV).

Mata kita tidak sepenuhnya dapat menyaring cahaya HEV, sehingga cahaya ini menembus retina—lapisan sensitif cahaya di belakang mata. Studi laboratorium menunjukkan bahwa paparan cahaya biru yang intens atau berkepanjangan dapat merusak kornea, lensa, dan retina, baik sementara maupun permanen. Kerusakan ini dapat menyebabkan lensa menjadi keruh dan kerusakan kornea, memicu berbagai gangguan mata.

Dr. Savleen Kaur, dokter spesialis mata anak, mengatakan bahwa cahaya biru dari smartphone terkait dengan munculnya digital eye strain, dan anak-anak yang terlalu lama menatap layar berisiko tinggi mengalami rabun jauh (miopia). Studi sistematis yang melibatkan lebih dari 335.000 peserta menemukan bahwa tambahan satu jam waktu layar setiap hari meningkatkan kemungkinan terkena miopia sebesar 21 persen.

Selain miopia, penggunaan smartphone lebih dari dua jam per hari juga dikaitkan dengan gejala mata lain, seperti penglihatan kabur, mata merah, peradangan, dan mata kering. Namun mata hanyalah korban pertama dari paparan perangkat digital.


EMF Berlebihan, Telinga Lelah

Penggunaan ponsel sejak usia muda dapat menyebabkan gangguan pendengaran setara dengan orang berusia 70-an, kata Dr. Naresh Kumar Panda, spesialis THT. Radiasi frekuensi radio (RF-EMR) dari ponsel diserap telinga, saraf pendengaran, dan sebagian lobus temporal, bahkan tanpa suara.

Paparan jangka panjang dapat merusak sel rambut telinga bagian dalam, yang mengubah suara menjadi sinyal saraf agar otak dapat menafsirkannya—mengakibatkan gangguan pendengaran ringan hingga sedang. Penggunaan headset Bluetooth juga berpotensi merusak telinga secara serupa.

Beberapa studi menunjukkan hubungan antara RF-EMR dan tinnitus (telinga berdenging), terutama pada orang sensitif terhadap medan elektromagnetik. Panda menekankan bahwa tinnitus bisa menjadi peringatan awal gangguan pendengaran bagi pengguna ponsel jangka panjang.


Metabolit Berbeda, Jantung Tertekan

Perangkat genggam memengaruhi lebih dari kepala. Studi di Journal of the American Heart Association menemukan bahwa peningkatan waktu layar terkait dengan perubahan metabolit darah yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan resistensi insulin.

Dr. David Horner, penulis utama studi, menyebut pola metabolit darah ini sebagai “sidik jari biologis” dari waktu layar. Setiap tambahan satu jam penggunaan layar rekreasional per hari meningkatkan skor risiko kardiometabolik secara terukur. Jika dihitung pada populasi luas, ini bisa menimbulkan pergeseran risiko kardiometabolik dini yang berlanjut hingga dewasa.

Paparan EMF juga dapat menurunkan variabilitas detak jantung, tanda stres jantung dan prediktor masalah kardiovaskular. Menggunakan ponsel dekat dada dapat memengaruhi ECG, memicu palpitasi, nyeri dada, dan mengganggu alat jantung implantable seperti pacemaker. Selain efek fisik langsung, layar juga meningkatkan risiko kardiovaskular secara tidak langsung—dengan mengganggu tidur.


Postur Salah, Tulang dan Punggung Tertekan

Terlena menatap layar membuat kita cenderung membungkuk, menyebabkan postur leher maju (text neck), nyeri leher, bahu, dan punggung atas. Penggunaan layar berlebihan juga menimbulkan texting thumb, akibat ketegangan berulang di ibu jari dan pergelangan tangan.

Kasus seorang YouTuber berusia 24 tahun yang menggunakan smartphone 16 jam sehari menunjukkan gejala klasik text neck: nyeri kepala, leher, punggung atas, mati rasa di lengan kanan. Setelah lebih dari tiga bulan mengurangi waktu layar dan latihan koreksi postur, gejalanya membaik.


Gelombang Digital, Kesuburan Terganggu

Paparan radiasi dari ponsel dan laptop terkait dengan penurunan motilitas dan kualitas sperma, faktor penting kesuburan pria. Menyimpan perangkat di saku celana dapat meningkatkan suhu skrotum, mengganggu pembentukan sperma.

Pada wanita, studi California terhadap lebih dari 900 ibu hamil menunjukkan bahwa paparan radiasi tinggi hampir tiga kali lebih berisiko menyebabkan keguguran dibanding paparan rendah. Penggunaan ponsel lebih dari 30 menit per hari saat hamil juga dapat mengganggu pertumbuhan janin.


Risiko Kanker

Kaitan radiasi ponsel dengan kanker masih kontroversial. WHO menilai radiasi frekuensi radio “mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia”, meski bukti masih terbatas. Studi hewan terbaru menunjukkan peningkatan risiko tumor ganas akibat paparan EMF ponsel.


Dampak Mental

Waktu layar berlebihan dapat menurunkan fungsi otak, mengurangi volume materi abu-abu, dan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, ADHD, hingga perilaku bunuh diri.

Studi 2024 pada 982 remaja menemukan bahwa 4–6 jam waktu layar per hari meningkatkan stres 25%, depresi 35%, dan kecemasan 23% dibanding remaja dengan waktu layar <2 jam.


Solusi dan Pencegahan

Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Gunakan filter cahaya biru, meski efektivitasnya terbatas.
  • Ikuti aturan 20-20-20: setiap 20 menit, lihat objek sejauh 6 meter selama 20 detik.
  • Jaga jarak ponsel dari tubuh, gunakan speaker saat panggilan panjang.
  • Untuk anak-anak, tunda pemberian perangkat digital, atau gunakan ponsel sederhana.
  • Ganti waktu layar dengan aktivitas fisik, meditasi, membaca buku fisik, atau bermain alat musik.

Kesimpulan : Kurangi screen Time demi melindungi mata, telinga, jantung, tulang, reproduksi, dan kesehatan mental.

Sumber : Theepochtimes.com

Ilmuwan Temukan 5 Jenis Pola Tidur — Masing-Masing Mempengaruhi Otak dengan Cara Berbeda

 Memahami gaya tidur Anda bisa membantu melindungi kesehatan mental dan fisik


Rachel Ann T. Melegrito

Tidur yang buruk adalah masalah umum, tetapi setiap orang mengalaminya dengan cara berbeda. Ada yang terjaga di jam tiga dini hari sambil memikirkan berbagai hal, sementara yang lain kerap terbangun berulang kali sepanjang malam.

Riset terbaru menunjukkan bahwa perbedaan ini bukan sekadar variasi dari “tidur yang buruk,” melainkan mencerminkan lima profil tidur yang berbeda—masing-masing meninggalkan jejak tersendiri pada otak dan tubuh.

“Tidur Anda tidak sama dengan tidur tetangga Anda, begitu pula dampaknya terhadap kesehatan dan fungsi tubuh,” kata Aurore Perrault, ahli saraf dan peneliti pascadoktoral di Woolcock Institute of Medical Research di Sydney, sekaligus salah satu penulis studi tersebut, kepada The Epoch Times.

Lima Profil Tidur

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology ini mengidentifikasi lima pola tidur berbeda pada orang dewasa sehat, masing-masing dikaitkan dengan aktivitas otak, efek kognitif, dan risiko kesehatan yang khas. Temuan ini menantang pandangan umum bahwa tidur hanya bisa dikategorikan sebagai “baik” atau “buruk.”

Para peneliti menganalisis data dari 770 orang dewasa muda yang sehat melalui pemindaian otak dan kuesioner rinci mengenai kebiasaan tidur, kesehatan, serta gaya hidup selama sebulan terakhir.

Sekitar 88 persen hubungan antara tidur dan kesehatan dijelaskan oleh satu pola dominan yang mengaitkan tidur buruk dengan kesehatan mental yang lebih rendah. Empat pola lainnya menyumbang 4, 3, 2, dan 1 persen dari total variasi.


Profil 1: Si Pemikir Berlebihan (The Ruminators)

Pola paling dominan ini mengaitkan gangguan tidur umum—seperti sulit tertidur, sering terbangun di malam hari, dan rasa lelah di siang hari—dengan kesehatan mental yang buruk. Kelompok ini menunjukkan tingkat depresi, kecemasan, gejala stres fisik, dan kesulitan mengelola emosi negatif seperti takut, marah, dan frustrasi yang lebih tinggi.

Profil 2: Si Tangguh yang Tertekan (The Resilient Distressed)

Kelompok ini tidak memiliki masalah tidur yang nyata, kecuali sulit berkonsentrasi di siang hari. Mereka juga cenderung mengalami stres dan tekanan psikologis tinggi serta kesulitan mengelola emosi negatif, mirip dengan Profil 1.

Profil 3: Pengguna Obat Tidur (The Medicated Sleepers)

Kelompok ini mengandalkan obat tidur. Para pengguna obat tidur cenderung memiliki kinerja lebih rendah dalam tes memori visual dan pengenalan emosi—menunjukkan bahwa obat bisa menimbulkan dampak kognitif halus. Namun, mereka justru melaporkan tingkat kepuasan sosial yang lebih tinggi.

Profil 4: Si Kurang Tidur (The Sleep-Deprived)

Tidur kurang dari enam hingga tujuh jam setiap malam, kelompok ini menunjukkan penurunan kecepatan berpikir di berbagai aspek kognitif, termasuk membaca dan merespons emosi, menahan dorongan impulsif, memproses bahasa, memecahkan masalah baru, dan memahami isyarat sosial.

Profil 5: Tidur Terfragmentasi (The Fragmented Sleepers)

Sering terbangun karena nyeri, perubahan suhu, gangguan pernapasan, atau ke kamar mandi, kelompok ini menunjukkan tingkat penggunaan zat adiktif yang lebih tinggi, mudah tersinggung, serta kesehatan mental yang lebih buruk secara keseluruhan.


Pola Otak yang Berbeda untuk Setiap Jenis Tidur

Setiap profil tidur memiliki pola aktivitas otak yang unik.

“Kami tidak menyangka akan menemukan perbedaan pola otak yang jelas pada sampel muda dan sehat,” ujar Perrault. “Ini menunjukkan bahwa pengalaman tidur tercermin bukan hanya pada perilaku dan kesehatan, tapi juga dalam struktur dan aktivitas otak.”

Profil 1 dan 2 sama-sama menunjukkan aktivitas tinggi pada jaringan otak yang menjaga kewaspadaan—tanda hyperarousal yang sering dikaitkan dengan stres. Namun keduanya berbeda secara penting.

Pada Profil 1, keseimbangan antara jaringan internal otak—yang aktif saat pikiran berfokus pada diri sendiri, melamun, atau berpikir berulang—dan jaringan perhatian eksternal terganggu. “Obrolan batin” di otak tidak berhenti ketika seharusnya, menjebak seseorang dalam lingkaran pikiran yang berulang.

Profil 2 menunjukkan tingkat kewaspadaan tinggi yang sama, tetapi tanpa pikiran berulang berlebihan, yang mungkin membantu mereka tetap bisa tidur dengan lebih baik.

Profil 3 memperlihatkan gangguan pada jaringan visual, memori, dan pemrosesan emosi—kemungkinan akibat efek sedatif obat tidur yang mengganggu cara otak memadukan persepsi dan isyarat emosional.

Profil 4 menunjukkan tanda-tanda “utang tidur,” di mana otak tampak bekerja lembur untuk tetap berfungsi.

Profil 5 memperlihatkan komunikasi yang lebih lemah antara wilayah otak yang mengatur perhatian, gerakan, dan kesadaran tubuh—kemungkinan karena tidur mereka sering terputus.


Mengapa Temuan Ini Penting

Tidur yang terganggu bukan hanya membuat seseorang lelah, tapi juga dapat mengacaukan sistem otak yang mengatur emosi dan respons terhadap stres.

Perrault menekankan bahwa temuan ini berasal dari orang muda yang sehat tanpa gangguan tidur terdiagnosis, sehingga perubahan otak akibat tidur tampak memengaruhi siapa pun, bukan hanya mereka yang memiliki masalah klinis.

Menurutnya, penelitian ini menunjukkan pentingnya menilai tidur seseorang secara menyeluruh—termasuk kualitas, waktu, dan kontinuitasnya—agar dokter dapat memberikan evaluasi dan penanganan yang lebih tepat.

Sebagian besar intervensi tidur, baik berbasis obat maupun perilaku, masih memperlakukan “tidur buruk” sebagai satu masalah tunggal, tanpa membedakan jenis kesulitannya. Padahal, beberapa gangguan membutuhkan pendekatan berbeda—misalnya melatonin untuk kesulitan tidur jangka pendek, atau tempat tidur goyang untuk mengatasi tidur yang mudah terputus.

Terapi perilaku kognitif untuk insomnia (Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia atau CBT-I) dapat membantu mereka yang sulit menenangkan pikiran sebelum tidur, sedangkan tidur terfragmentasi sering kali terkait masalah lain seperti sleep apnea atau gangguan lingkungan saat malam hari yang perlu diatasi.

Secara umum, menjaga kebersihan tidur (sleep hygiene)—seperti menjaga waktu tidur dan bangun yang konsisten, serta menghindari kafein dan gula setidaknya dua jam sebelum tidur—dapat membantu memperbaiki kualitas dan durasi tidur.

Perrault menegaskan pentingnya tidak menunggu hingga gangguan tidur menjadi parah. Ia menyarankan agar siapa pun yang merasa mudah lelah di siang hari atau kesulitan berfungsi dengan baik segera berkonsultasi ke dokter atau klinik tidur.

 “Masalahnya tidak selalu pada lamanya tidur, tetapi pada kualitasnya,” ujarnya.

Hidup Baru Dimulai Ketika Menemui Jalan Buntu : Saat Tak Lagi Takut, Hidup Justru Mulai Berbuah

EtIndonesia. Ada yang berkata: “Dalam hidup, seseorang harus melewati beberapa kali jalan buntu, barulah dia akan benar-benar tumbuh.”

Tetapi menurutku, kalimat yang lebih tepat adalah: hidup justru benar-benar dimulai setelah kamu merasa tak ada jalan keluar. Karena saat itu, kamu akan tersadar sepenuhnya… dan setelah kesadaran itu muncul, ketakutan pun hilang — dan pada saat itulah, takdir mulai berbalik.

Ini bukan sekadar kata-kata motivasi. Ini adalah kebenaran yang sejak dulu sudah diungkapkan para leluhur.

Dalam Tao Te Ching, Laozi menulis: “Fan zhe dao zhi dong.” Artinya, semua hal di alam semesta bergerak dalam pola berbalik dan berputar.

Malam yang paling gelap adalah pertanda fajar akan segera datang. Sungai yang berkelok adalah jalan menuju lautan. Manusia yang terjerembab di titik terendah sering kali justru sedang berada di titik kebangkitan.

Jadi jika saat ini kamu merasa hidupmu terjebak, buntu, atau seakan tidak ada jalan keluar — tenanglah. Bisa jadi ini bukan akhir, tapi titik balik.

1. Saat Tak Ada Jalan, Kamu Dipaksa Melihat Dirimu yang Sebenarnya

Mengapa seseorang bisa sampai pada titik “jalan buntu”? Sering kali bukan karena dunia menghancurkan kita — tapi karena kita sendiri yang terlalu keras memeluk sesuatu yang seharusnya dilepaskan.

  • Ada yang di dunia kerja enggan berubah, lalu pelan-pelan tergeser zaman.
  • Ada yang dalam hubungan, mempertahankan yang salah sampai habis tenaga batin.
  • Ada yang di bisnis terlalu ingin cepat kaya, lalu hancur oleh utang dan harapan palsu.

Jalan buntu bukan kejam — Dia jujur. Dia membuka topeng, mencopot semua ilusi, dan memaksamu melihat dirimu yang telanjang apa adanya.

Itulah saat kau mulai introspeksi: Apa aku selama ini berada di jalan yang salah? Yang kupertahankan… pantaskah untuk kupertahankan? Hal yang dulu sangat kutakuti hilang — apakah sebenarnya tak sepenting itu?

Jalan buntu bukan hukuman. Dia adalah alarm: “Bangunlah. Saatnya hidup dengan cara yang berbeda.”

2. Pencerahan Besar: Ketika Kamu Sadar Bahwa Melepaskan Jauh Lebih Kuat daripada Mendapatkan

Pencerahan bukan berarti mendadak jadi bijak atau suci. Pencerahan adalah momen ketika kamu benar-benar mengerti bahwa “melepaskan” sering kali lebih kuat daripada “menggenggam.”

Ketika rasa sakit sudah mencapai puncaknya, kita akhirnya paham:

  • Uang sebanyak apapun tak bisa membeli kedamaian.
  • Jabatan setinggi apapun tak bisa menukar kebebasan batin.
  • Obsesi yang paling keras pun pada akhirnya hanyalah rantai pengikat jiwa.

Seperti kata leluhur: “Orang yang tak diperbudak keinginan — dialah yang benar-benar kuat.”

 Saat kamu berhenti takut kehilangan, sesuatu dalam hidupmu tiba-tiba menjadi ringan.

 Kamu baru sadar bahwa:

·         Kehilangan tidak selalu berarti kehancuran.

·         Titik terendah kadang justru perlindungan dari langit.

·         Hidup bukan garis lurus — ini perjalanan berkelok penuh kejutan.

Pada titik ini, kamu tak lagi dikuasai dunia — tapi mulai menguasai dirimu sendiri.

3. Ketika Tak Ada Lagi Rasa Takut — Di Sanalah Kebebasan Dimulai

Ketakutan adalah belenggu paling halus — sering tak terlihat, tapi sangat kuat.

Takut gagal. Takut berubah. Takut dinilai orang lain. Takut sendirian.

Namun setelah pencerahan itu muncul, kau berkata:

·         “Gagal? Aku masih hidup.”

·         “Ditolak? Setidaknya aku mencoba.”

·         “Bangkrut? Tanganku masih bisa bekerja.”

Tidak ada yang bisa menakuti seseorang yang sudah berdamai dengan kemungkinan terburuk. Dan justru itulah awal dari keberanian sejati.

Saat kamu tidak lagi takut memulai ulang, dunia tiba-tiba terasa luas. Kamu mulai bergerak lagi — bukan karena yakin akan berhasil, tapi karena kamu tak lagi gentar meski harus jatuh sekali lagi.

4. Dan Saat Itulah — Angin Berbalik Arah

Ketika rasa takut hilang, jalan-jalan baru akan terbuka.

 Inilah hukum alam. Irama semesta. “Fan zhe dao zhi dong.”

Lihatlah mereka yang pernah tumbang:

  • Liu Chuanzhi hampir hancur saat memutuskan terjun ke bisnis — sebelum akhirnya membangun Lenovo.
  • Shi Yuzhu bangkrut total, tapi kembali bangkit dan menjadi legenda bisnis Tiongkok.
  • Steve Jobs dipecat dari Apple, lalu kembali sebagai penyelamat perusahaan yang ia dirikan.

Mereka semua punya satu kesamaan: jalan buntu mengubah mereka — bukan menjadi lemah, tapi menjadi tak terkalahkan.

Inilah yang disebut angin mulai berbalik — “feng sheng shui qi” — hidup mulai bertiup ke arahmu.

Kesimpulan: Kearifan Para Leluhur

Hidup bergerak dalam siklus.
– “Ketika sesuatu sampai ke ujung, ia akan berbalik”.
– “Setelah semuanya runtuh, baru terlihat langit yang luas”.

Jadi ingatlah:

Jika kau merasa hidupmu gelap — jangan takut.
Justru itu berarti fajar sudah sangat dekat.

Karena yang berhenti, kalah. Yang runtuh, boleh berdiri lagi. Tapi yang tidak lagi takut — dialah yang akhirnya menang. (jhn/yn)

Video Menyayat Hati Menunjukkan Jasad Anak Digali dari Reruntuhan Pasca Gempa Afghanistan

EtIndonesia. Setidaknya 20 orang, termasuk wanita dan anak-anak, tewas, dan lebih dari 320 lainnya luka-luka setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,3 mengguncang Afghanistan utara sebelum fajar pada hari Senin (3/11). Sebagian besar kematian dan cedera tercatat di Provinsi Balkh dan Samangan, yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa tengah malam tersebut, menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Afghanistan, Sharafat Zaman.

Video menyayat hati yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Afghanistan menunjukkan petugas darurat dan penduduk setempat menggali jasad korban dari reruntuhan sementara upaya penyelamatan dan bantuan terus berlanjut di daerah terdampak.

Sebuah video juga muncul yang menunjukkan kerusakan pada tempat suci Mazar-e-Sharif di Afghanistan, yang juga dikenal sebagai Masjid Biru — sebuah landmark abad ke-15 yang terkenal dengan ubin-ubinnya yang berwarna-warni. Rekaman tersebut menunjukkan beberapa batu bata jatuh dari dinding, tetapi masjid tersebut tetap utuh. Situs berusia berabad-abad ini merupakan salah satu landmark keagamaan paling dihormati di Afghanistan dan tempat berkumpul utama selama festival Islam dan budaya.

Kementerian Pertahanan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa longsoran batu sempat memblokir jalan raya pegunungan utama yang menghubungkan Kabul dengan Mazar-e-Sharif, tetapi jalan tersebut kemudian dibuka kembali. Kementerian tersebut menyatakan bahwa beberapa orang yang terluka dan terjebak di sepanjang jalan raya telah dibawa ke rumah sakit.

Gempa tersebut terasa di Kabul dan beberapa provinsi lain di Afghanistan.

Menurut Survei Geologi AS, episentrum gempa terletak 22 kilometer (14 mil) di barat daya Kota Khulm, dan terjadi pada pukul 12.59 dini hari pada kedalaman 28 kilometer (17 mil).

Yousaf Hammad, juru bicara badan penanggulangan bencana Afghanistan, mengatakan sebagian besar korban luka mengalami luka ringan dan telah dipulangkan setelah menerima perawatan awal.

Bencana ini menambah daftar panjang gempa bumi mematikan yang melanda Afghanistan dan menewaskan rata-rata sekitar 560 orang setiap tahun, menyebabkan kerusakan tahunan yang diperkirakan mencapai 80 juta dolar. Afghanistan dikelilingi oleh pegunungan terjal dan rentan terhadap berbagai bencana alam, tetapi gempa buminya menyebabkan korban jiwa terbanyak.

Studi menunjukkan setidaknya 355 gempa bumi dengan magnitudo lebih tinggi dari 5,0 telah melanda Afghanistan sejak tahun 1990. (yn)

Kesadaran yang Dibawa oleh Pandemi

EtIndonesia. Sebuah pandemi yang datang tanpa peringatan mengajarkan kita kenyataan pahit: uang tidak bisa membeli nyawa, keuntungan tidak bisa menukar kesehatan. Bahwa harta terbesar adalah kesehatan, dan kebahagiaan tertinggi adalah hidup dalam keadaan aman dan selamat.

Pandemi yang mengamuk mengingatkan kita:

  • tempat tidur termahal di dunia adalah ranjang rumah sakit,
  • dan obat terbaik di dunia adalah tubuh yang sehat.

Pandemi yang menghancurkan memberi kita kesadaran: tanpa tenaga medis yang berjaga di garis depan, kita tidak akan merasakan rasa aman seperti hari ini.

Pandemi yang tanpa belas kasihan membuat kita tersadar: bisa tetap bernapas dengan tenang adalah sebuah keberuntungan; dapat menjalani hari ini dengan selamat adalah sebuah anugerah.

Kebenaran Besar Bernama “Ketidakpastian”

Pandemi juga mengajarkan kita tentang ketidakpastian hidup. Kita tidak pernah tahu kapan badai datang. Ketika ketidakpastian tiba, bahkan pahlawan terkuat pun tidak berdaya.

Saat kamu benar-benar memahami “ketidakpastian”,

  • Kamu tidak akan terlalu sombong — karena keindahan hari ini bisa runtuh esok hari.
  • Kau tidak akan terlalu bersedih —  karena awan suram hari ini bisa berubah menjadi langit cerah besok pagi.

Saat kamu memahami ketidakpastian:

  • Mendapat, tidak terlalu gembira;
  • Kehilangan, tidak terlalu menderita. Karena dalam hidup — segala sesuatu terus berubah dan berputar.

Saat kamu memahami ketidakpastian, kamu akan membiarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya — tak peduli kamu resah atau gelisah, tidak ada yang bertambah, dan tidak ada yang berkurang.

Ketidakpastian selalu ada — tidak pergi, tidak datang. Menyadarinya adalah pelajaran hidup yang wajib kita lalui.

Hidup ini akan dilalui setiap orang — lahir, tua, sakit, dan mati — sebagaimana pergantian musim yang wajar: musim semi, panas, gugur, lalu dingin. Itu semua adalah hukum alam, bukan tragedi.

Hanya setelah memahami ketidakpastian, barulah kita bisa melepaskan kelekatan yang tak perlu, belajar menerima, belajar menghargai, belajar bersyukur.

Dalam perjalanan hidup ini, pada akhirnya, kita akan tahu — dari semua hal yang indah, yang paling bernilai adalah: hidup dengan tenang dan aman. (jhn/yn)

Damai di Depan, Perang di Belakang: Hamas Patuh Kesepakatan, Israel Perang Teknologi Lawan Tiongkok

EtIndonesia. Pada hari Minggu 2 November 2025 malam, militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah menerima tiga jenazah sandera yang diserahkan oleh Hamas melalui organisasi kemanusiaan internasional, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Secara terpisah, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menyatakan bahwa Hamas tampaknya “cukup bertekad” untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata di Gaza, dan menekankan bahwa negara-negara Muslim harus mengambil peran utama dalam proses rekonstruksi wilayah tersebut.

Namun di balik peristiwa ini, terdapat dua “dinamika panas” yang secara simultan mengguncang medan diplomasi dan keamanan: satu, pertukaran jenazah / sandera yang berjalan lambat dan penuh ketegangan; dua, langkah mendadak Israel menarik sekitar 700 kendaraan buatan Tiongkok dari para perwira militer karena kekhawatiran kebocoran intelijen.

Kronologi dan Fakta Utama

1. Penyerahan Jenazah Sandera

  • Menurut laporan media internasional, tiga jenazah sandera dikembalikan ke Israel pada malam 2 November 2025.
  • Israel mencatat bahwa masih terdapat sejumlah jenazah dan sandera yang belum dikembalikan dalam kerangka gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober lalu.
  • Presiden Erdoğan dalam pidatonya di Istanbul menyebut bahwa “tampak bahwa Hamas cukup bertekad untuk menepati perjanjian.”
  • Namun, dia juga memperingatkan bahwa gencatan senjata hanyalah tahap awal dan bukan solusi akhir bagi Palestina.

2. Penarikan Mobil Buatan Tiongkok oleh Israel

  • Pada tanggal 2 November 2025, media Israel melaporkan bahwa Israel Defense Forces (IDF) mulai menarik kembali sekitar 700 kendaraan buatan Tiongkok yang selama ini dipakai oleh para perwira senior militer Israel—khususnya model seperti Chery Tiggo 8 Pro.
  • Alasan penarikan: aparat keamanan Israel melakukan penilaian bahwa sistem-elektronik dalam kendaraan tersebut dapat mengirim data sensitif secara otomatis tanpa kontrol pengguna, sehingga dianggap sebagai risiko kebocoran intelijen.
  • Sebelumnya, kendaraan buatan Tiongkok telah dilarang memasuki markas militer Israel karena kekhawatiran serupa.

Analisis: Apa Artinya Semua Ini?

Dari sisi kemanusiaan dan diplomasi:

  • Penyerahan jenazah sandera menunjukkan bahwa aspek paling tragis dari konflik (kehilangan nyawa, keluarga yang menunggu kepastian) masih terus berlangsung dan menjadi elemen penting untuk memperkuat gencatan senjata.
  • Pernyataan Erdoğan memberi sinyal bahwa Hamas — setidaknya dalam pandangan Turki — ingin memegang komitmen dalam kesepakatan gencatan senjata, yang dapat membantu stabilitas jangka pendek di Gaza.
  • Namun, fakta bahwa masih banyak jenazah dan sandera yang belum dikembalikan menunjukkan fragilitas proses dan risiko kebangkitan kembali konflik.

Dari sisi keamanan dan geopolitik:

  • Tindakan Israel menarik kendaraan Tiongkok menggarisbawahi bagaimana masalah intelijen dan teknologi kini menjadi bagian penting dari persaingan geopolitik. Bukan hanya soal senjata konvensional atau teritori—melainkan “kendaraan” yang bisa membawa sensor dan sistem telemetri bisa menjadi risiko besar.
  • Langkah ini juga menegaskan bahwa Israel memperlakukan hubungan teknis dan rantai pasok kendaraan sebagai bagian dari domain keamanan nasional, terutama dalam konteks militer.
  • Hubungan Israel-Tiongkok serta Israel dengan negara-lain yang menggunakan teknologi Tiongkok bisa mendapat dampak; juga memberi gambaran bahwa negara-negara sekutu (seperti AS dan Inggris) yang sebelumnya membatasi kendaraan Tiongkok di wilayah sensitif kini memiliki pendukung tambahan dalam praktek Israel. 

Tantangan & Pertanyaan ke Depan

  • Apakah penyerahan jenazah dan sandera akan berlanjut secara penuh sesuai target gencatan senjata? Keterlambatan bisa memicu kekecewaan dan kekerasan kembali.
  • Sejauh mana implementasi gencatan senjata dapat dipastikan apabila satu pihak (Hamas) dinilai patuh oleh Turki, namun pihak lain (Israel) menunjukkan tindakan keamanan keras terhadap teknologi asing—apakah ini menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar terhadap ancaman teknologi dibanding konflik langsung?
  • Apakah langkah Israel terhadap kendaraan Tiongkok akan menimbulkan efek domino—misalnya negara-lain meninjau ulang penggunaan kendaraan buatan Tiongkok dalam militer atau unit sensitif mereka?
  • Bagaimana proses rekonstruksi Gaza akan berjalan—Erdoğan menekankan keterlibatan negara-Muslim dalam pemulihan Gaza. Namun Iran, Mesir, Qatar, serta Israel punya kepentingan sendiri—akan terjalin bagaimana keseimbangan kekuatan diplomasi ini?

Kesimpulan

Pada 2 November 2025, momen ini memperlihatkan betapa kompleksnya situasi di Timur Tengah: satu sisi ada nyawa manusia yang dikembalikan sebagai simbol kemanusiaan, sisi lain ada ancaman baru dari risiko teknologi dan data dalam konflik besar. Pernyataan Erdogan bahwa Hamas tampak patuh menatap gencatan senjata memberi sedikit harapan, namun langkah Israel terhadap kendaraan Tiongkok menyiratkan bahwa meskipun senjata besar mungkin berhenti berbulan‐bulan, perang teknologi dan intelijen terus berjalan.

Jangan Membesarkan Anak Menjadi “Pengemis”



EtIndonesia. Seorang gelandangan datang ke depan rumah kami. Dia meminta sedikit makanan kepada ibu. Kondisinya menyayat hati: lengan kanannya—beserta seluruh tangan—telah putus; lengan baju kosongnya terayun-ayun tertiup angin.

Aku mengira ibu akan langsung memberi sedekah. Namun ibu justru menunjuk tumpukan batu bata di halaman depan dan berkata lembut: “Bisa tolong pindahkan bata-bata ini ke belakang rumah dulu?”

Gelandangan itu marah:  “Saya hanya punya satu tangan. Bagaimana mungkin Anda menyuruh saya angkat bata? Kalau tak bisa menolong, tak apa—mengapa harus mempersulit?”

Ibu tidak tersinggung. Dia tersenyum, menyelipkan satu tangannya ke belakang punggung, lalu menunduk dan—dengan satu tangan—mengangkat dua bata. 

Setelah satu kali bolak-balik, dia berkata pelan: “Lihat, dengan satu tangan pun bisa bekerja. Saya bisa, mengapa kamu tidak?”

Gelandangan itu tertegun. Dia menatap ibu, jakunnya tampak naik-turun menahan emosi. Akhirnya dia menunduk, lalu mulai mengangkat bata dengan satu tangan. Sekali angkat hanya dua bata. Dia bekerja dua jam penuh sampai tumpukan bata berpindah semua.

Dia terengah-engah, wajah belepotan debu; beberapa helai rambutnya basah oleh keringat, menempel di kening.

Ibu menyerahkan sehelai handuk putih. Dia mengelap wajah dan lehernya dengan teliti—handuk putih pun berubah menjadi hitam. Ibu memberi segelas air, sepotong roti, lalu—saat dia hendak pergi—menyodorkan 20 dolar. 

Gelandangan itu terharu: “Terima kasih, Nyonya.”

Ibu tersenyum: “Kamu tak perlu berterima kasih. Itu upah kerja yang kamu dapat dengan tenagamu sendiri.”

Dia membungkuk dalam: “Saya takkan melupakan Anda.” 

Lalu melangkah pergi dengan kepala tegak.

Beberapa hari kemudian, gelandangan lain datang meminta sedekah. Ibu kembali “memainkan sandiwara” yang sama: kali ini meminta memindahkan bata dari belakang ke depan, lalu memberi air, roti, dan 20 dolar.

Aku protes: “Bu, kemarin suruh orang pindahkan bata dari depan ke belakang, hari ini dari belakang ke depan. Sebenarnya Ibu mau bata itu di mana?”

Ibu mengusap kepalaku: “Di depan atau di belakang sama saja untuk kita. Tapi bagi gelandangan itu, ‘memindahkan’ dan ‘tidak memindahkan’— bedanya besar sekali.”

Sejak saat itu, tiap kali ada gelandangan datang, ibu selalu mengulangi “ritual” yang sama. Bata-bata kami berpindah dari depan ke belakang, dari belakang ke depan.

Beberapa tahun lewat, seorang pria berpenampilan sangat rapi datang ke rumah. Jasnya necis, wibawanya seperti pebisnis sukses di televisi. Hanya satu yang berbeda: dia hanya memiliki tangan kiri—lengan kanan bajunya kosong, terayun-ayun.

Dia menggenggam tangan ibu: “Kalau bukan karena Anda, saya mungkin tetap sebagai gelandangan. Karena hari itu Anda menyuruh saya memindahkan bata, hari ini saya bisa menjadi seorang direktur perusahaan.”

Ibu berkata: “Itu usaha Anda sendiri—bukan karena saya.”

Dia menatap ibu: “Anda yang mengembalikan harga diri dan kepercayaan diri saya. Hari itu, barulah saya tahu: saya masih mampu melakukan sesuatu.”

Sebagai ungkapan terima kasih, dia hendak menghadiahkan sebuah rumah yang jauh lebih baik daripada rumah kami sekarang.

Ibu menolak: “Kami tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena kami masih punya dua tangan.”

Dia memaksa: “Saya sudah membelikannya.”

Ibu tersenyum: “Kalau begitu, berikanlah kepada mereka yang bahkan tidak punya satu tangan pun.”

Kami empat bersaudara. Meski keluarga kami tidak berkecukupan, kami semua tumbuh mandiri. Dua kakakku meraih gelar doktor, kakak perempuanku menjadi manajer sebuah swalayan, dan aku pengacara—bersiap maju sebagai calon anggota parlemen negara bagian. Ibu sudah menua, namun bata-bata itu kadang masih berpindah tempat—sesuai “komando” ibu.

Cerita selesai. Diamlah dua menit… lalu renungkan.

Bukan Kisah Sedekah — Ini Rahasia Pendidikan

Jangan salah paham: ini bukan sekadar cerita berbuat baik. Ini pelajaran mendidik anak.

Pernahkah terpikir, saat seorang anak hadir dalam hidup kita, betapa miripnya dia dengan gelandangan itu? Dia lemah, belum mampu, perlu bantuan. Pertanyaannya: bagaimana kita menolong?

Sebagian orangtua justru membuat anak jadi “pengemis”:

  • Baju dipakaikan, sendok disuapkan, uang diselipkan—lalu berkata: “Lihat, kami susah payah membesarkanmu!”
  • Lama-lama, anak kehilangan kepercayaan diri, hilang harga diri, hilang keterampilan hidup.
  • Lalu kita marah: “Kok kamu nggak bisa apa-apa? Masa nanti minta kami tanggung terus?”

Padahal jawabannya ada pada metode sang ibu:

  • Beri kesempatan, bukan belas kasihan.
  • Latih kemandirian sejak kecil—tugas kecil, tanggung jawab kecil, lalu meningkat.
  • Bangun rasa bangga lewat kerja nyata; bangun harga diri dari hasil jerih payahnya.

Anak memang kecil, tapi bukan lemah.  Mereka perlu kasih sayang, tapi bukan belas kasihan. Selain cinta, mereka butuh harapan dan mimpi—serta ruang untuk berjuang.

Mulailah hari ini: audit pola asuh kita. Kita sedang menumbuhkan pejuang—atau membiasakan “pengemis”?

5 Langkah Praktis (ringkas)

  1. Tugas harian bertingkat: sesuai usia (rapikan tempat tidur, cuci piring, belanja kecil).
  2. Upah/konsekuensi jelas: hargai usaha, bukan sekadar hasil.
  3. Satu tangan dulu: biarkan mereka mencoba dengan keterbatasan, baru bantu seperlunya.
  4. Bahasa penghargaan: “Kamu berhasil karena usahamu,” bukan “Untung ada Mama/Papa.”
  5. Sedekah keterampilan: bantu orang dengan pekerjaan, bukan hanya uang—teladan nyata di rumah.(jhn/yn)

(Video) Dua Kerbau Tiba-tiba Menyeruduk Penonton dalam Lomba Adu Kerbau di Tiongkok 

EtIndonesia. Pada 1 November 2025, di sebuah ajang adu kerbau di kota Jiuyang, Kabupaten Jianhe, Provinsi Guizhou, Tiongkok, dua ekor kerbau tiba-tiba kehilangan kendali dan menyeruduk kerumunan penonton, menyebabkan beberapa orang terjatuh dan terguling ke bawah lereng.

Video yang beredar menunjukkan arena adu kerbau penuh sesak dengan warga yang datang menonton, bahkan ada yang memanjat pohon untuk melihat dari atas.

Dalam rekaman tersebut, seekor kerbau yang baru saja dibawa ke arena tiba-tiba lepas kendali, berbalik arah dan lari menuju kerumunan penonton. Seekor kerbau lain yang sudah menunggu di tengah lapangan langsung mengejar dari belakang, dan saat keduanya saling berkejaran, mereka menyeruduk ke arah orang-orang, membuat beberapa penonton terjungkal hingga tergelincir menuruni tebing kecil.

Video lain menunjukkan bahwa di bawah arena, sejumlah sepeda motor milik warga yang diparkir di pinggir jalan juga tertabrak dan roboh. Dua kerbau tersebut kemudian lari menyusuri jalan beton desa, sementara beberapa pemuda yang kuat berusaha mengejar dan menghentikan mereka.

Menurut keterangan pihak pemerintah setempat, kegiatan tersebut merupakan acara adu kerbau yang diadakan secara swadaya oleh masyarakat, dan insiden itu terjadi karena tali penuntun kerbau terlepas saat ditarik ke arena. Pejabat menyatakan bahwa tidak ada korban luka dalam kejadian itu.

Video dua kerbau yang menyeruduk penonton ini kemudian menjadi viral dan menuai perdebatan di media sosial.

Seorang netizen berkomentar dengan nada bercanda menggunakan bahasa gaul internet:

“Harusnya santai dan tenang, eh malah jadi panik sampai lari pontang-panting.”

Ada pula yang menulis:

“Kerbau ini masih tergolong baik hati, setidaknya tidak dengan sengaja menyerang orang.”

Sementara warganet lain berpendapat:

“Sebaiknya acara seperti ini dihentikan saja. Kerbau itu juga punya perasaan.”

Diketahui bahwa adu kerbau merupakan tradisi turun-temurun masyarakat etnis Miao dan Dong di Qiandongnan, Guizhou. Dalam pertandingan, para pemilik sering memberi minum arak kepada kerbau untuk membangkitkan semangat bertarung, namun kadang kerbau yang mabuk justru menjadi sulit dikendalikan, seperti yang terjadi kali ini. (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting /Wen Hui

Umat Kristen Diserang, Trump Peringatkan: “Siap Lakukan Serangan Penuh” ke Nigeria

EtIndonesia. Pada 1 November 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, bahwa pemerintah Nigeria telah membiarkan pembunuhan terhadap umat Kristen terus terjadi. Ia memperingatkan bahwa jika hal itu berlanjut, AS akan segera menghentikan seluruh bantuan kepada Nigeria, dan menginstruksikan Departemen Perang AS untuk menyiapkan rencana aksi militer “dengan kekuatan penuh” untuk memasuki negara tersebut.

Trump menulis: “Jika pemerintah Nigeria terus membiarkan umat Kristen dibunuh, Amerika Serikat akan segera menghentikan semua bentuk bantuannya kepada Nigeria, dan sangat mungkin akan melancarkan serangan dengan kekuatan penuh terhadap negara yang kini tercoreng reputasinya ini — untuk melenyapkan para teroris  yang melakukan kekejaman tersebut.”

Trump melanjutkan:“Saya telah memerintahkan Departemen Perang AS untuk siap melaksanakan operasi kapan pun diperlukan. Jika kami menyerang, serangannya akan cepat, brutal, dan memuaskan, sebagaimana para teroris telah menyerang umat Kristen kita yang tercinta.”

Kepala Pentagon, Pete Hegseth, membagikan ulang unggahan Trump dan menulis, “Siap, Tuan.”

Hegseth menambahkan, “Departemen Perang sedang mempersiapkan langkah-langkah operasi. Pemerintah Nigeria harus melindungi umat Kristen, atau kami yang akan menghancurkan para teroris  yang melakukan kekejaman ini.”

Trump menutup unggahannya dengan peringatan keras: “Pemerintah Nigeria sebaiknya bertindak cepat!”

Beberapa minggu sebelumnya, senator AS Ted Cruz mendesak Kongres agar menempatkan Nigeria, negara dengan populasi terbesar di Afrika, ke dalam daftar negara pelanggar kebebasan beragama, dengan menuduh terjadinya “pembantaian besar-besaran terhadap umat Kristen.”

Pada bulan Maret lalu, anggota Kongres Chris Smith juga menyerukan agar Nigeria dimasukkan ke dalam kategori “negara dengan perhatian khusus” (Country of Particular Concern – CPC).

Pada 31 Oktober, Trump secara resmi menetapkan Nigeria sebagai “negara dengan perhatian khusus”, dengan alasan bahwa “ribuan umat Kristen dibunuh di sana.”

Nigeria, yang memiliki sekitar 220 juta penduduk, terdiri hampir seimbang antara penganut Kristen dan Islam. Menurut laporan The Guardian, negara itu telah lama menghadapi berbagai ancaman keamanan, termasuk dari kelompok ekstremis Boko Haram, yang berupaya memberlakukan tafsir radikal atas hukum Islam dan menyerang Muslim yang dianggap tidak cukup taat.

Di Nigeria, serangan bernuansa agama terhadap umat Kristen dan Muslim sering terjadi. Konflik juga muncul antara petani dan penggembala akibat perebutan sumber daya, serta pertikaian antar-komunitas, gerakan separatis, dan konflik etnis.

Amerika Serikat pertama kali memasukkan Nigeria ke dalam daftar “negara dengan perhatian khusus” pada tahun 2020, setelah Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Nigeria “secara sistematis melanggar kebebasan beragama.”

Kini, Nigeria berada dalam daftar yang sama dengan Korea Utara, Rusia, Arab Saudi, Iran, Pakistan, dan Tiongkok.

Menurut laporan Komisi AS untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) tahun 2021, berbagai kelompok ekstremis di Nigeria telah melakukan pelanggaran berat terhadap kebebasan beragama. Sejak tahun 2011, diperkirakan lebih dari 37.000 orang telah dibunuh oleh kelompok ekstremis di negara itu. (Hui/asr)

Laporan oleh Jin Hong / Lin Qing

Tiongkok Bantu Iran Bangun Rudal, Picu Resolusi PBB

Saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran, Teheran segera memperluas impor bahan utama rudal dari Beijing untuk membangun kembali persenjataannya. Pengamat menilai, Partai Komunis Tiongkok (PKT) memanfaatkan “zona abu-abu” untuk melanggar resolusi PBB, yang semakin memperkuat citranya sebagai bagian dari “Poros Kejahatan”, merusak tatanan internasional, dan berpotensi memicu eskalasi konfrontasi antara dua blok besar dunia.

EtIndonesia.  Menurut laporan CNN pada 29 Oktober, yang mengutip sumber intelijen Eropa, setelah konflik militer antara Iran dan Israel pada Juni, Teheran membeli 2.000 ton natrium perklorat — bahan utama untuk bahan bakar padat rudal jarak menengah — dari pemasok di Tiongkok untuk menambah persediaan rudalnya. Pengiriman itu mulai tiba di Pelabuhan Abbas sejak 29 September.

Setelah perundingan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat gagal, PBB memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran pada 27 September. Teheran dilarang melakukan aktivitas apa pun yang terkait dengan pengembangan rudal balistik yang dapat membawa hulu ledak nuklir. Negara-negara anggota PBB juga diwajibkan untuk mencegah pengiriman material apa pun yang dapat membantu Iran mengembangkan sistem pengangkut senjata nuklir — termasuk natrium perklorat.

Su Tzu-yun, Direktur Institut Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan (INDSR), mengatakan tindakan PKT secara terang-terangan menantang keputusan sanksi PBB.

“Ini adalah bentuk pertukaran kepentingan antara Beijing dan Teheran. Negara-negara Barat pasti akan terus memantau. Zat kimia seperti ini memiliki banyak kegunaan dan bersifat ganda — sipil sekaligus militer. Ketika Iran memesan, mungkin disebut untuk keperluan pertanian, namun kemudian dialihkan untuk militer. Inilah cara Beijing memanfaatkan celah regulasi internasional — zona abu-abu, yang merupakan taktik khas PKT,” ujarnya.

Sumber lain menyebutkan, sejak akhir April, jumlah kapal milik perusahaan pelayaran nasional Iran yang berlayar antara Tiongkok dan Iran meningkat tajam.

Sebagai contoh, kapal kargo MV Basht, yang masuk dalam daftar sanksi AS, berangkat dari Zhuhai, Tiongkok pada 15 September dan tiba di Pelabuhan Abbas pada 29 September, kemudian kembali ke Tiongkok. Kapal lain, MV Artavand, berangkat dari Pelabuhan Liuheng pada 12 Oktober dan juga menuju Pelabuhan Abbas. Untuk menyembunyikan pergerakannya, sistem pelacakan AIS kapal-kapal tersebut sengaja dimatikan.

Departemen keamanan Eropa mengungkapkan, ada “armada gelap” yang beroperasi menggunakan berbagai perusahaan cangkang dan beberapa perusahaan legal sebagai kedok, membentuk jaringan yang secara terus-menerus mengirimkan natrium perklorat ke Iran. Sebagian besar perusahaan terlibat berlokasi di Dalian, Tiongkok.

Su Tzu-yun menambahkan: “Bahkan Israel kini mendapat dukungan diam-diam dari negara-negara Arab moderat utama. Jadi hubungan antara Beijing dan Teheran sebenarnya sudah mulai rapuh. Beijing ingin mempertahankan pijakan di Timur Tengah, tapi akibatnya justru sebaliknya — Eropa kini semakin memperhatikan bahwa Tiongkok terus memasok bahan dan peralatan semi-militer ke Iran, yang justru merugikan Beijing sendiri.”

Selama ini, PKT merupakan sekutu utama Iran dalam melawan Barat. Pada tahun 2021, kedua negara menandatangani “Perjanjian Kerja Sama Komprehensif 25 Tahun”, di mana Beijing berjanji akan menginvestasikan 400 miliar dolar AS dalam 25 tahun ke depan di berbagai sektor — mulai dari perbankan, telekomunikasi, pelabuhan, hingga teknologi informasi — dengan imbalan pasokan minyak Iran yang stabil.

Sebelumnya, The Wall Street Journal mengungkap bentuk kerja sama “barter” antara kedua pihak yang menghindari sistem pembayaran berbasis dolar AS: Iran menjual minyak mentah ke Tiongkok, uang hasil penjualan itu mengalir ke lembaga keuangan Tiongkok, lalu dibayarkan kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok yang mengerjakan proyek infrastruktur di Iran.

Tahun lalu, sekitar 8,4 miliar dolar AS hasil penjualan minyak disalurkan lewat mekanisme ini untuk mendanai proyek-proyek besar Tiongkok di Teheran.

Namun pada Juni tahun ini, setelah fasilitas nuklir utama Iran dihancurkan oleh Amerika Serikat, Teheran praktis kehilangan posisi tawarnya terhadap Barat.

Dr. Hsieh Pei-hsueh, peneliti di INDSR Taiwan, menilai bahwa demi mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah dan menyaingi Amerika Serikat, PKT tak ingin melihat Iran melemah.

“Beijing justru memilih memperkuat investasinya saat Teheran berada di titik paling rapuh, demi mempertahankan pengaruh jangka panjang di kawasan. Selain itu, ada faktor lain: karena AS menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok dan Iran, kedua negara ini kini menjadi semacam ‘komunitas yang sama-sama disanksi’. Iran membutuhkan Tiongkok untuk menopang ekonomi dan diplomasi, sementara Tiongkok memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan sumber daya strategis seperti minyak dengan harga sangat murah,” jelasnya.

Su Tzu-yun menegaskan, dengan sebagian besar negara Arab kini berpihak ke Amerika Serikat, PKT yang terus mendukung Iran — baik secara terbuka maupun terselubung — justru semakin menegaskan citranya sebagai bagian dari “blok poros”, menciptakan siklus jahat yang makin memperdalam perpecahan global. (Hui)

Li Mingfei / Luo Ya / Gao Yu)

UPDATE Gempa Dahsyat Magnitudo 6,3 di Afghanistan : Lebih dari 20 Tewas, 320 Luka, Masjid Biru Rusak

EtIndonesia. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa pada  Senin (3 November) dini hari, telah terjadi gempa bumi berkekuatan 6,3 magnitudo di dekat kota Mazar-e Sharif, Afghanistan utara, dengan kedalaman 28 kilometer. Hingga kini, lebih dari 20 orang tewas dan sekitar 320 orang luka-luka.

Pusat gempa berada di sekitar kota Mazar-e Sharif, yang berpenduduk sekitar 523.000 jiwa. USGS sebelumnya telah mengeluarkan peringatan oranye, memperingatkan potensi korban besar dan kerusakan meluas.

Seorang reporter AFP di lokasi melaporkan bahwa gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada menara salah satu sisi Masjid Biru (Blue Mosque), landmark abad ke-15 yang terkenal dengan ubin-ubinnya yang berwarna-warni. Puing-puing bangunan jatuh berserakan di halaman masjid. Masjid megah ini merupakan salah satu dari sedikit objek wisata terkenal di Afghanistan.

Juru bicara Kementerian Kesehatan, Sharafat Zaman Amar, mengatakan bahwa operasi penyelamatan masih berlangsung dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
“Tim medis telah tiba di daerah terdampak, dan semua rumah sakit di sekitarnya telah siaga penuh,” ujarnya.

Tim militer dan unit tanggap darurat segera dikerahkan ke lokasi untuk membantu evakuasi korban dan penanganan pengungsi.

)Foto ini menunjukkan pemandangan panorama Makam Hazrat Ali (juga dikenal sebagai Masjid Biru) di Mazar-i-Sharif pada 21 Juni 2025. (WAKIL KOHSAR/AFP via Getty Images)

Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan bahwa Provinsi Balkh dan Samangan adalah wilayah yang paling terdampak, dan telah dilaporkan sejumlah korban jiwa.

Data sementara dari otoritas setempat:

  • Sedikitnya 7 orang tewas dan sekitar 150 orang luka-luka.

Seorang petugas kesehatan di Provinsi Samangan mengatakan kepada Reuters:
“Berdasarkan laporan rumah sakit, hingga pagi ini ada 150 korban luka yang dirawat dan 7 korban meninggal dunia.”

Menurut laporan gabungan AFP dan Reuters, USGS menyebutkan bahwa gempa terjadi di Kholm, dekat kota Mazar-e Sharif, dengan kedalaman 28 km.

Dalam sistem penilaian cepat gempa global PAGER, USGS mengeluarkan peringatan oranye, menandakan potensi kerusakan dan korban besar.

Pihak berwenang setempat telah membuka jalur darurat untuk warga yang membutuhkan bantuan, namun laporan lengkap mengenai korban masih dalam proses pengumpulan.

Riwayat gempa di Afghanistan:

Pada 31 Agustus tahun ini, Afghanistan timur baru saja diguncang gempa dangkal berkekuatan 6,0 magnitudo yang menewaskan lebih dari 2.200 orang, menjadikannya gempa paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Afghanistan merupakan daerah yang sering dilanda gempa, terutama di wilayah pegunungan Hindu Kush, yang terletak di perbatasan antara lempeng Eurasia dan lempeng India.

Ahli seismologi dari British Geological Survey, Brian Baptie, menyebutkan bahwa sejak tahun 1900, Afghanistan timur laut telah mengalami sedikitnya 12 gempa berkekuatan di atas magnitudo 7.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada 2021, pemerintahan Taliban telah menghadapi tiga gempa besar mematikan, sementara bantuan luar negeri yang menopang ekonomi negara itu semakin menurun.

Pada Agustus lalu, gempa di timur Afghanistan menghancurkan desa-desa pegunungan dan menewaskan lebih dari 2.200 orang.
Selain itu, pada 2023, gempa besar juga mengguncang wilayah Herat di barat, dekat perbatasan Iran, serta Provinsi Nangarhar di timur pada 2022, menewaskan ratusan orang dan merusak ribuan rumah.

Catatan: Jenis-jenis kedalaman gempa

Berdasarkan kedalaman pusat gempa di bawah permukaan tanah, gempa diklasifikasikan sebagai:

  • Gempa sangat dangkal: 0–30 km
  • Gempa dangkal: >30–70 km
  • Gempa menengah: >70–300 km
  • Gempa dalam: >300–700 km

Secara umum, semakin dangkal pusat gempa, semakin besar kerusakan di permukaan bumi, meskipun dengan kekuatan yang sama.

Sumber: Central Weather Administration (Badan Meteorologi Taiwan)

 Diterjemahkan dari Central News Agency /Lu Yongxin