Peralihan Tiongkok Menjadi Debt Collector di Negara-Negara Berkembang — Dari Pemberi Pinjaman Menjadi Rentenir

 Bagi negara-negara termiskin di dunia, Beijing telah berubah dari mitra investasi menjadi debt collector yang keras kepala

oleh James Gorrie 

Pada awal tahun 2000-an, Tiongkok memainkan peran yang relatif kecil sebagai pemberi pinjaman global. Namun, melalui Belt and Road Initiative (Inisiatif Sabuk dan Jalan), Beijing mulai membiayai pembangunan jembatan, pelabuhan, dan rel kereta api di negara-negara Selatan Global, sambil menyebutnya sebagai kerja sama “win-win”.

Namun, jika kita melompat ke tahun 2025, bagi banyak negara termiskin, Beijing kini tak lagi terasa seperti mitra—melainkan seperti penagih utang yang tak kenal ampun sedang mengetuk pintu.


Dari Pemberi Pinjaman Menjadi Kreditor Dominan

Kebangkitan Tiongkok menjadi kekuatan keuangan pembangunan global terjadi dengan sangat cepat. Pada pertengahan 2010-an, jumlah pinjaman bilateral baru ke negara-negara berkembang meningkat tajam, menjadikan Tiongkok sumber kredit terbesar di dunia. Pada puncaknya, pinjaman luar negeri Tiongkok bahkan melampaui gabungan pinjaman resmi dari IMF, Bank Dunia, dan para kreditor Paris Club.

Hingga tahun 2023, Tiongkok telah menjadi kreditor bilateral terbesar di lebih dari 50 negara dan memegang sekitar 26 persen dari seluruh utang luar negeri bilateral negara-negara berkembang. 

Di negara-negara dengan ekonomi paling rapuh, proporsi itu bahkan lebih tinggi. Kini, Tiongkok tetap menjadi salah satu dari lima pemegang utang terbesar di sekitar tiga perempat negara berkembang.


2025: “Gelombang Utang” yang Harus Dibayar

Namun, seiring kemerosotan ekonomi domestiknya akibat dampak jangka panjang dari kebijakan lockdown pandemi, menurunnya investasi asing langsung, dan kebijakan tarif perdagangan yang diberlakukan pemerintahan Trump, sikap Tiongkok terhadap para debiturnya menjadi jauh lebih keras. Dampaknya terhadap negara-negara berkembang sangat besar.

Pada tahun 2025, negara-negara berkembang diperkirakan akan membayar utang sebesar 35 miliar dolar AS (Rp542,5 triliun) kepada Tiongkok. Dari jumlah itu, sekitar 22 miliar dolar AS berasal dari 75 negara termiskin di dunia.

Yang krusial, kewajiban pembayaran ini kini telah melampaui jumlah pinjaman baru. 

Negara-negara berkembang kini membayar lebih banyak kepada kreditor Tiongkok dibandingkan jumlah pinjaman baru yang mereka terima. Sebuah studi terbaru memperkirakan adanya arus negatif bersih sebesar 3,9 miliar dolar AS per tahun ke kreditor Tiongkok.

Singkatnya, Tiongkok telah berubah dari penyedia modal bagi negara miskin menjadi penyedot modal dari mereka, membuat negara-negara peminjam terjebak dalam kesulitan fiskal.

Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung membengkak sekitar 7,27 miliar dollar AS atau Rp 120,38 triliun, 75 persen dibiayai melalui utang dari Tiongkok dengan bunga sebesar 2 persen per tahun. Ini sudah termasuk cost overrun yang mencapai 1,2 miliar dollar AS. PT KCIC, mayoritas sahamnya dimiliki BUMN Indonesia harus menanggung cicilan utang pokok dan bunga. Laporan keuangan per 30 Juni 2025 yang dipublikasikan PT KAI, PT PSBI merugi Rp 4,195 triliun sepanjang 2024 dan 2025. Hitungan enam bulan pertama 2025, kerugian PSBI mencapai Rp 1,625 triliun. Utang harus dibayar hingga 40 tahun ke depan (PT KCIC)

Syarat Pinjaman Ala Rentenir

Kunci dari setiap pinjaman adalah syaratnya—dan struktur pinjaman Tiongkok memang menguntungkan pihak Beijing. Menurut penelitian terbaru dari Lowy Institute, pinjaman Tiongkok umumnya memiliki masa tenggang yang singkat (3–5 tahun) dan jangka waktu pelunasan 15–20 tahun. Kini masa tenggang itu telah berakhir, dan banyak negara mulai memasuki masa pembayaran kembali, tepat ketika suku bunga global dan harga komoditas meningkat tajam.

Yang memperburuk keadaan, komitmen pinjaman baru dari Tiongkok telah anjlok. Akibatnya, aliran dana baru untuk pembangunan berkurang drastis, sementara kewajiban pembayaran justru menumpuk. 

Lebih parah lagi, lembaga pemberi pinjaman milik negara Tiongkok sering mendapatkan hak prioritas atas arus kas negara peminjam—misalnya dengan mengalihkan pendapatan ekspor komoditas ke rekening escrow, atau menuntut jaminan agar mereka menjadi pihak pertama yang menerima pembayaran dalam valuta asing.

Faktanya, sekitar 60 persen dari portofolio pinjaman luar negeri Tiongkok kini dimiliki oleh negara-negara yang sedang kesulitan keuangan—yang sudah menghadapi gagal bayar, penundaan, atau restrukturisasi utang. 

Artinya, “bantuan luar negeri” Tiongkok kini lebih menyerupai proses penagihan yang bersifat eksploitasi daripada model pembangunan yang mendukung. Akibatnya, kendali Tiongkok atas arus kas negara debitur menjadikan “bantuan” itu sebagai mekanisme penegakan dan penagihan terhadap negara-negara paling rentan.

BACA JUGA : 12 Tahun Data Membuktikan Proyek  Belt and Road Initiative Tiongkok Adalah Perangkap Utang

BACA JUGA : Perangkap Belt and Road: Utang Tinggi Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Butuh 40 Tahun untuk Balik Modal


Biaya Nyata dari Pinjaman Tiongkok

Bagi banyak negara tersebut, bebannya sangat berat. Beberapa negara membayar Tiongkok hingga seperempat dari total anggaran pembayaran utang mereka, bahkan lebih tinggi daripada pembayaran kepada lembaga multilateral atau kreditor swasta. 

Dalam perspektif sejarah, selama 50 tahun terakhir, belum pernah ada kreditor bilateral yang memiliki pengaruh sebesar itu atas keuangan begitu banyak negara.

Dengan syarat sekeras itu, Beijing secara efektif memegang kendali atas aset negara-negara tersebut. Seiring meningkatnya pembayaran kepada Tiongkok, banyak negara terpaksa melakukan pengorbanan berat: memangkas anggaran kesehatan, pendidikan, dan program iklim, bahkan menaikkan pajak untuk menanggung beban.

Hal ini melemahkan momentum pembangunan dan memperburuk kerentanan fiskal.


Menguasai Sumber Daya dari Negara Miskin

Fokus Tiongkok pada negara-negara berkembang yang kaya sumber daya tentu bukan kebetulan. Negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo, Indonesia, dan Brasil, yang ekspornya sangat bergantung pada siklus perdagangan global, memiliki utang besar kepada Tiongkok. Negara lain yang merupakan tetangga atau mitra strategis—seperti Pakistan, Mongolia, dan Kazakhstan—terus menerima investasi dan pinjaman terarah dari Tiongkok, meskipun pinjaman secara umum menurun.

Negara-negara kecil dan miskin yang banyak berutang pada pertengahan 2010-an, ketika kredit Tiongkok masih mudah diperoleh, kini praktis menjadi tawanan utang Beijing—terutama ketika bantuan dan dukungan perdagangan dari Barat ikut menurun.

BACA JUGA : Maju Mundur Mega Proyek Kereta Api Cepat, Jebakan Utang Tiongkok Semakin Terlihat


Mundurnya Bantuan Barat dan Dunia yang Tak Seimbang

Masalah ini diperparah dengan perubahan kebijakan banyak negara Barat yang kini lebih berfokus ke dalam negeri, mengurangi bantuan luar negeri, atau mengalihkan prioritas ke sektor pertahanan. Pergeseran tersebut membuat semakin sedikit pemberi pinjaman alternatif yang menawarkan syarat lunak. Akibatnya, meski ada perlawanan, negara-negara debitur tetap terpaksa menerima syarat yang sangat menguntungkan Tiongkok.

Menurut Lowy Institute, dampak geopolitiknya adalah melemahnya kemampuan Barat untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok—membiarkan Beijing mengisi kekosongan tersebut.
Jika tren ini berlanjut, dunia bisa terjebak dalam situasi di mana banyak negara miskin secara permanen berada dalam orbit keuangan satu kekuatan besar.

Bayangkan jika BRICS atau blok keuangan yang dipimpin rezim Tiongkok perlahan menggeser perdagangan dan penyelesaian utang global ke dalam mata uang yuan, maka negara-negara lemah tak akan punya pilihan lain selain berutang atau bergantung pada Tiongkok.

Bagi negara-negara itu, Beijing akan menjadi semacam tuan feodal de facto, yang mengikis kekuatan tawar dan kedaulatan mereka.

Ke depan, upaya negara-negara itu untuk mencari keringanan atau restrukturisasi utang dari Tiongkok akan lebih menyerupai permohonan belas kasihan kepada penagih utang, bukan diplomasi sejajar—sebuah skenario yang kecil kemungkinan terjadi ketika ekonomi Tiongkok sendiri sedang lesu.

Dalam konteks global, dengan rezim Tiongkok mendominasi pemberian pinjaman dan mata uang, prospek masa depan pun tampak suram.


James Gorrie adalah penulis buku tahun 2013 berjudul “The China Crisis” dan membahas isu-isu terkini serta topik seputar Tiongkok di podcast YouTube-nya, The Banana Republican.

Program ‘Made in China 2025’ Gagal dalam Industri Manufaktur Canggih

oleh: Antonio Graceffo

Visi Xi Jinping dalam program “Made in China 2025” dan ambisinya untuk menjadikan Tiongkok sebagai pemimpin global pada tahun 2040 menargetkan dominasi dalam industri manufaktur canggih. Namun sejauh ini, hanya sebagian kecil pabrik di Tiongkok yang benar-benar memenuhi standar “manufaktur canggih” menurut definisi yang paling umum diterima.

Partai Komunis Tiongkok (PKT) memandang investasi besar-besaran dalam manufaktur canggih sebagai kunci untuk memperkuat kekuatan nasional dan menegakkan posisi Tiongkok sebagai pemimpin teknologi global. Tujuan ini, yang sejalan dengan Rencana Lima Tahun ke-14, dijalankan melalui program Manufacturing Innovation Centers (MIC). Program ini diluncurkan pada tahun 2015, meniru jaringan “Manufacturing USA” di Amerika Serikat dan “Industrie 4.0” di Jerman, untuk menjadi pusat penelitian dan inovasi yang menghubungkan industri, lembaga riset, dan pemerintah.

Selama sembilan tahun, PKT telah menggelontorkan lebih dari 300 miliar dolar AS untuk mendirikan 33 pusat inovasi, dengan target 40 pusat pada tahun 2025. Setiap pusat dihubungkan dengan laboratorium utama nasional dan mitra regional untuk membentuk ekosistem manufaktur di sektor-sektor prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT), termasuk robotika, semikonduktor, kedirgantaraan, biofarmasi, dan kendaraan listrik.

 Tujuannya adalah untuk mencapai hingga 80 persen produksi domestik di sektor-sektor tersebut pada tahun 2025, guna memperkuat kemandirian dan mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

Program MIC menjadi mekanisme utama dari Made in China 2025, yang bertujuan mengubah Tiongkok dari produsen barang murah menjadi negara berbasis inovasi dengan produk bernilai tinggi. Fungsinya antara lain mempromosikan standar dan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), mendukung komersialisasi teknologi baru, serta mempercepat adopsi manufaktur canggih di seluruh basis industri.

Rencana Lima Tahun ke-14 (2021–2025) memperkuat investasi ini, dengan menekankan pengurangan ketergantungan pada pemasok asing untuk komponen penting seperti sirkuit terpadu, dan mendorong integrasi MIC ke dalam rencana pembangunan nasional maupun daerah.

Namun, terlepas dari investasi masif tersebut, hasilnya masih campuran. Produksi industri Tiongkok memang tumbuh pesat, tetapi fondasi industrinya tetap tidak merata. Mayoritas pabrik masih beroperasi pada tingkat teknologi rendah hingga menengah—minim otomatisasi, digitalisasi, dan riset yang kuat. Hanya sebagian kecil yang memenuhi kriteria “manufaktur canggih.”

 Kajian dari NIST dan MERICS memang menunjukkan Tiongkok mulai mempersempit “kesenjangan manufaktur tingkat tinggi,” namun output industri canggihnya tetap merupakan bagian kecil dari total produksi. Banyak perusahaan meningkatkan anggaran R&D, tetapi tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas atau inovasi yang setara.

Pada saat yang sama, strategi Tiongkok justru menciptakan kelebihan kapasitas industri besar-besaran. Kapasitas produksi panel surya kini mencapai dua hingga tiga kali lipat dari permintaan global. Pabrik mobil beroperasi hanya sekitar 59 persen dari kapasitasnya, sementara kendaraan listrik sering dijual dengan margin keuntungan negatif. Kerugian ini ditutupi dengan subsidi negara, memungkinkan Tiongkok menjual produk di bawah harga biaya di pasar global dan menyingkirkan pesaing.

Strategi jangka panjangnya tampak jelas: memproduksi berlebihan, membanjiri pasar dunia, menghancurkan pesaing, lalu menjadi pemasok dominan.

Dalam tujuan itu, Tiongkok memang berhasil merebut pangsa pasar, tetapi tetap tertinggal jauh dalam hal inovasi sejati. Sebaliknya, Amerika Serikat hanya menginvestasikan sekitar 160 juta dolar AS dalam sejumlah institut manufaktur canggih, namun masih memimpin dalam pengembangan teknologi. Perbedaannya bukan pada skala investasi, melainkan pada efisiensi, orisinalitas, dan hasil inovasi nyata.

Sistem Tiongkok juga sangat bergantung pada pencurian hak kekayaan intelektual. Menurut Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), Tiongkok tetap menjadi salah satu pelaku terburuk dalam pencurian HKI melalui spionase dan serangan siber. Perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok juga sering dipaksa melakukan transfer teknologi paksa sebagai syarat untuk mendapatkan akses pasar. Praktik-praktik ini memang mempercepat akumulasi teknologi di Tiongkok, tetapi tidak meningkatkan kemampuan inovasi mandiri.

Kebijakan tarif Presiden Donald Trump terhadap produk Tiongkok mulai mengganggu pola ini. Investasi asing langsung ke Tiongkok menurun, karena semakin banyak perusahaan Amerika dan asing enggan memproduksi di sana—membatasi akses Beijing terhadap teknologi maju. Efek samping ini—membatasi pencurian teknologi—dapat memperlambat kemajuan teknologi Tiongkok sambil mendorong kebangkitan riset, investasi, dan pengembangan industri di Amerika Serikat.

Langkah-langkah ini berpotensi memulihkan basis industri Amerika dan mempertahankan keunggulan teknologinya. Namun, jika Partai Republik kehilangan Gedung Putih pada tahun 2028, Amerika mungkin akan kembali ke kebijakan lama yang gagal—kebijakan yang pernah membuat Tiongkok “mengambil alih makan siang kita,” seperti yang dulu dikatakan mantan Presiden Joe Biden bahwa hal itu “tidak akan pernah terjadi.”


Antonio Graceffo, Ph.D., adalah analis ekonomi Tiongkok yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Asia. Ia lulusan Shanghai University of Sport, meraih gelar MBA dari Shanghai Jiaotong University, dan mempelajari keamanan nasional di American Military University.

Minum Lebih dari 1 Kaleng Soda Setiap Hari Dapat Sebabkan Penyakit Hati

Minum lebih dari satu kaleng soda apa pun per hari meningkatkan risiko penyakit hati hingga 50 persen

Oleh: George Citroner

Jika Anda berpikir memilih soda diet daripada soda biasa lebih baik bagi tubuh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hati Anda mungkin tidak setuju.

Sebuah studi terhadap hampir 124.000 orang menemukan bahwa hanya dengan satu porsi minuman berpemanis buatan per hari sudah dapat meningkatkan risiko penyakit hati yang dikenal sebagai nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau kini disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) — yaitu kondisi penumpukan lemak di hati yang dapat menyebabkan peradangan, nyeri, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.

Penyakit MASLD kini menjadi penyakit hati kronis paling umum di dunia, memengaruhi lebih dari 30 persen populasi global, dan menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit hati.

Temuan ini, yang dipresentasikan pada United European Gastroenterology Week 2025, menantang anggapan umum bahwa minuman berpemanis buatan merupakan alternatif yang “aman” dibandingkan minuman bergula biasa.


Gula atau Pemanis Buatan, Keduanya Tingkatkan Risiko

Penelitian yang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ini melibatkan 123.788 peserta dari UK Biobank yang tidak memiliki masalah hati pada awal penelitian. Dengan menggunakan kuesioner diet berulang selama rata-rata 10,3 tahun, para peneliti menelusuri hubungan antara konsumsi minuman dan perkembangan penyakit hati.

Hasilnya menunjukkan bahwa mengonsumsi lebih dari 250 gram (sekitar satu cangkir) minuman berpemanis gula maupun berpemanis buatan setiap hari berkaitan dengan risiko MASLD yang meningkat masing-masing sebesar 50 persen dan 60 persen.

Selama periode studi, 1.178 peserta mengembangkan penyakit hati, dan 108 orang meninggal akibat penyakit hati.

Minuman berpemanis buatan atau rendah kalori dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit hati yang lebih tinggi, sementara minuman bergula hanya terkait dengan peningkatan risiko terkena penyakit hati—bukan kematian akibatnya.


Mengapa Soda Diet Bisa Lebih Berbahaya

Penulis utama studi, Lihe Liu, mengakui bahwa temuan ini tampak berlawanan dengan logika umum.

 “Minuman berpemanis gula sudah lama dikritik, sedangkan versi ‘diet’-nya sering dianggap lebih sehat. Namun keduanya sangat populer, dan dampaknya terhadap kesehatan hati belum sepenuhnya dipahami,” katanya dalam pernyataan pers.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa minuman rendah atau berpemanis buatan justru berkaitan dengan risiko MASLD yang lebih tinggi, bahkan pada orang yang hanya mengonsumsi sedikit—misalnya satu kaleng per hari,” kata Liu.

Menurutnya, mekanisme dampak buruk dari kedua jenis minuman ini berbeda:

  • Minuman berpemanis gula menyebabkan lonjakan cepat glukosa dan insulin darah, mendorong penambahan berat badan, dan meningkatkan kadar asam urat—semuanya berkontribusi terhadap penumpukan lemak di hati.
  • Sedangkan minuman berpemanis buatan dapat merusak kesehatan hati melalui jalur berbeda: mengubah mikrobioma usus, mengacaukan rasa kenyang, meningkatkan keinginan akan rasa manis, dan bahkan merangsang sekresi insulin meskipun tanpa gula.

Hubungan dengan Kesehatan Usus

Dampak buruk minuman berpemanis gula—termasuk soda berkarbonasi, minuman energi, dan jus dengan tambahan gula—telah lama diketahui, seperti penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Namun, produk yang mengandung pemanis buatan juga mulai dikaitkan dengan peningkatan risiko kesehatan.

Kekhawatiran meluas hingga pada kesehatan usus, di mana pemanis buatan seperti saccharin terbukti berhubungan dengan penyakit radang usus dan gangguan keseimbangan bakteri usus.

Gangguan ini dapat meningkatkan permeabilitas usus dan menyebabkan ketidakseimbangan mikrobiota usus (disbiosis), yang pada gilirannya dapat memicu gangguan metabolik seperti resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, dan peradangan sistemik.

Masalah pada usus juga dapat mengurangi produksi asam lemak rantai pendek oleh bakteri usus, yang penting bagi sensitivitas insulin—sehingga memperburuk risiko gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2.


Pilihan Teraman: Air Putih

Para peneliti menekankan bahwa mengurangi konsumsi minuman bergula maupun berpemanis buatan dapat membantu mencegah penyakit hati dan meningkatkan kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Menurut studi tersebut, mengganti minuman ini dengan air putih dapat menurunkan risiko MASLD hingga 15 persen.

“Minum air sebagai pengganti kedua jenis minuman tersebut adalah cara paling aman,” kata Liu, “karena menghindari beban metabolik yang dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati.”

Liu dan timnya berencana melanjutkan penelitian jangka panjang untuk memahami bagaimana gula dan pemanis buatan memengaruhi mikrobioma usus serta kesehatan hati melalui studi acak dan genetik.


Pandangan Ahli: Fokus pada Pola Makan Secara Keseluruhan

Studi ini memperkuat temuan penelitian lain, kata Madison Reeder, ahli gizi terdaftar dan wakil presiden operasi klinis di ModifyHealth, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Baik gula tambahan maupun beberapa pemanis buatan dapat memberikan tekanan ekstra pada hati bila dikonsumsi secara rutin—meski dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

“Kita tahu terlalu banyak gula mendorong hati untuk memproduksi dan menyimpan lemak, sementara pemanis buatan tertentu dapat memengaruhi bakteri usus dan respons insulin dengan cara yang belum sepenuhnya kita pahami.”

Pesan utamanya, kata Reeder, bukan untuk takut pada satu bahan atau minuman tertentu, tetapi untuk memperhatikan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Ia menyarankan untuk mengonsumsi makanan seimbang dari bahan alami, disertai aktivitas fisik dan perawatan diri agar hati dapat berfungsi dengan optimal.

“Nutrisi sehari-hari memiliki kekuatan untuk memulihkan keseimbangan, memperkuat metabolisme, dan melindungi kesehatan jangka panjang,” kata Reeder.

Daripada memilih minuman bergula atau berpemanis buatan, orang sebaiknya memilih makanan manis alami yang dikombinasikan dengan sumber protein, kata Helen Tieu, ahli gizi di Diet Redefined.

Contohnya seperti yogurt Yunani dengan buah beri segar atau beku, keju cottage dengan buah, smoothie protein dengan buah utuh, buah dengan kacang, atau air soda dengan potongan lemon, jeruk nipis, atau jeruk.


Serat dan Daging Rendah Lemak Juga Dapat Membantu

Meski tidak disarankan setiap hari, daging merah dalam jumlah terbatas tetap bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang untuk mengurangi risiko penyakit hati, kata Samantha Coogan, dosen senior di Departemen Kinesiologi dan Ilmu Gizi, Universitas Nevada, yang juga tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Ia menyoroti penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein tanpa lemak dapat membantu mengurangi lemak berbahaya di hati.

Selain itu, serat makanan larut juga bermanfaat dalam mencegah penyakit hati.
Sumber serat larut termasuk biji rami, apel, aprikot, oatmeal, dan ubi jalar.

Coogan menegaskan bahwa kunci kesehatan hati adalah menjaga keseimbangan yang baik.

Patung-patung Paling Dibenci di Tiongkok Ditampar Ratusan Kali Sehari

EtIndonesia. Selama lebih dari lima abad, patung Qin Hui, mantan kanselir Dinasti Song, dan istrinya telah ditampar, ditendang, dan diludahi oleh jutaan orang.

Di jantung Kota Hangzhou, yang selalu berhadapan dengan makam megah seorang jenderal pemberani yang pernah mereka jebak dan eksekusi, terdapat patung Qin Hui dan istrinya, dua tokoh paling dibenci dan dibenci dalam sejarah Tiongkok. Mereka digambarkan berlutut, dengan kepala tertunduk dan tangan terikat di belakang punggung, dipermalukan selamanya atas pengkhianatan mereka.
Namun, hukuman itu belum cukup bagi patung-patung besi cor tersebut, karena mereka juga harus menanggung tamparan, pukulan, dan tendangan dari ratusan, terkadang ribuan, orang setiap hari.

Untuk mendapatkan gambaran tentang seberapa besar penyiksaan yang diterima Qin Hui dan istrinya, perlu diketahui bahwa patung-patung mereka telah diganti 11 kali sejak patung aslinya dipasang pada akhir abad ke-15, dengan yang terakhir diganti pada tahun 1979.

Qin Hui adalah seorang kanselir Dinasti Song pada abad ke-12 yang terbukti berperan penting dalam mengatur perdamaian antara Dinasti Song dan Jin. Namun, dia bukanlah pahlawan nasional, justru sebaliknya.

Menurut sejarawan modern, untuk membuka perundingan damai dengan Dinasti Jin yang dipimpin Jurchen, Qin Hui menjebak Jenderal Yue Fei atas ketidakpatuhan dan pengkhianatan, dan mengeksekusinya di penjara.

Jenderal Yue telah meraih kemenangan besar melawan Jurchen, dengan berani membela Dinasti Song dari penjajah, dan dia secara anumerta menjadi martir dan simbol kesetiaan di Tiongkok. Di sisi lain, Qin Hui menjadi salah satu tokoh politik paling dibenci dalam sejarah negara itu.

Sulit untuk menggambarkan betapa dibencinya Qin Hui dan istrinya di Tiongkok. Salah satu camilan goreng terpopuler di Tiongkok, yóutiáo, yang berarti “setan goreng minyak”, terdiri dari dua lembar adonan yang disambung dan digoreng dalam minyak panas, konon terinspirasi oleh pasangan tersebut. Orang-orang memang senang menghukum mereka dengan cara apa pun, tetapi patung merekalah yang paling sering dilecehkan.

Sejarah Tiongkok memang kompleks dan rumit, dan pendapat mengenai pengkhianatan Qin Hui beragam. Namun, hal itu tidak terlalu berarti setelah berabad-abad berlalu. Dia dan istrinya akan selamanya menanggung perlakuan kejam dari rakyat yang hanya menghargai kesetiaan, keadilan, dan tidak membiarkan pengkhianat lolos.(yn)

Petani Kehilangan 150 Ton Kentang Setelah Unggahan Media Sosial yang Mengaku Akan Membagi-Bagikannya

EtIndonesia. Seorang petani Polandia terkejut melihat panen kentang tahun ini lenyap dalam semalam setelah sebuah unggahan viral di media sosial mengklaim bahwa ia menghadiahkan kentang-kentang tersebut karena tidak bisa menjualnya.

Seorang petani dari Dąbrowica, di wilayah Podkarpacie, Polandia, kehilangan 150 ton kentang akibat unggahan palsu di media sosial yang mendorong orang-orang untuk pergi ke ladangnya dan mengambil kentangnya sendiri karena dia tidak bisa menjualnya dan memutuskan untuk menghadiahkannya.

Banyak yang datang ke ladangnya untuk mengisi karung mereka dengan kentang, tetapi beberapa mengambil puluhan ton umbi, pada dasarnya mencuri hasil jerih payah petani tersebut demi keuntungan, entah mereka sadari atau tidak.

Ketika petani itu datang untuk memeriksa kentangnya Senin malam, dia terkejut karena sebagian besar tumpukan kentang yang dipanen telah hilang.

“Saya terkejut. Saya berusia 68 tahun dan saya belum pernah mengalami hal seperti ini seumur hidup saya,” kata Piotr. “Ini seperti mimpi buruk yang langsung muncul di film Bareja. Saya harap mereka yang ada di sana akan menghubungi saya, menjelaskan situasinya, dan kita bisa menyelesaikan masalah ini secara damai. Jika tidak, masalah ini mungkin akan dirujuk ke kejaksaan. Seseorang mencuri kentang-kentang ini dari saya!”

Tidak ada yang tahu siapa yang memulai rumor bahwa Piotr memberikan kentangnya karena tidak bisa menjualnya, tetapi rumor itu telah beredar di media sosial Polandia pada akhir pekan ketika 150 ton kentangnya hilang, dan dalam sebuah video yang diunggah oleh portal Nowiny24, seseorang yang merekam dari lahan Piotr terdengar berkata: “Seorang petani membuang 150 ton kentang yang tidak bisa dijualnya. Dia membuangnya dan menyuruh siapa pun untuk mengambilnya. Gratis!”

Piotr mengatakan bahwa berbagai macam orang, termasuk petani dari desa-desa sekitar, berdatangan ke ladang. Dia mengatakan beberapa orang memuat hingga enam trailer, sekitar 60 ton kentang. Jadi mengapa dia tidak menghentikan mereka? Rupanya, dia tidak tinggal di Dąbrowica, dan akhir pekan itu dia sedang mengadakan pesta keluarga. Dia tidak menyangka bahwa pada hari Senin dia akan kembali ke ladang yang sudah kosong.

“Seorang pria datang dan bilang dia mengambil dua karung karena dia ‘gila’ saat melihat kerumunan. Dia meminta maaf, menjelaskan dirinya sendiri, dan semuanya baik-baik saja. Tapi ada juga yang mengambil puluhan ton,” kata petani itu. “Saya belum tahu bagaimana masalah ini akan berakhir. Saya sedang kacau sekarang. Saya sudah menerima sekitar 70 panggilan, termasuk 15 dari wartawan.”

Menurut sebuah media berita lokal, Piotr telah menggarap lahannya di Dąbrowica selama 25 tahun. Dia belum mengajukan laporan polisi, karena dia masih berharap orang-orang akan mengembalikan apa yang mereka ambil ketika mereka tahu kentang yang dia berikan palsu. (yn)

Menghadapi Kritik — Cara Orang Berkelas Menjawab Kebencian


EtIndonesia.
Orang yang berbicara buruk tentangmu — sangat mungkin melakukannya karena mereka iri. Dengan kata lain, setiap serangan yang mereka lontarkan sebenarnya adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaanmu.

Saat kita dikritik atau disalahkan — benar atau tidak, sering kali reaksi pertama manusia adalah marah, defensif, atau ingin membalas.

Sangat jarang yang tenang sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Kenapa dia sampai mengatakan itu?”

Padahal sering kali jawabannya sederhana:
– Mereka menyerangmu karena kamu menjadi ancaman.
– Karena kehadiranmu membuat mereka tertekan.
– Karena kamu berdiri di tempat yang diam-diam ingin mereka capai.

Maka — orang yang mencacimu hampir selalu adalah orang yang diam-diam mengakui nilai dirimu.

Artinya:
– Semakin tenang kamu — semakin tinggi martabatmu.
– Semakin tidak terguncang — semakin jelas wibawamu.

Di zaman Dinasti Song Utara, ada seorang cendekiawan bernama Lu Mengzheng. Dia tidak hanya lulus sebagai juara pertama ujian negara (zhuangyuan), tetapi juga menjabat sebagai Pejabat Tinggi Negara — setingkat Perdana Menteri.

Suatu hari, saat hendak memasuki istana untuk menghadap Kaisar, dia mendengar seorang pejabat di balik jendela berbisik: “Orang seperti dia pun bisa jadi pejabat tinggi negara?!”

Lu Mengzheng pura-pura tidak mendengar. Namun teman-temannya yang ikut mendengar merasa panas hati — dan ingin mencari tahu siapa si pengejek itu.

Lu Mengzheng segera mengangkat tangan melarang mereka.

Lalu berkata dengan sangat tenang: “Biarlah.  Perkataannya tidak merugikan aku sedikit pun. Tapi jika aku sengaja mencari tahu siapa dia — aku akan mengingatnya seumur hidup. Dan selama aku mengingatnya, batinku tidak akan tenang. Kalaupun aku menghukumnya —  apa keuntungan yang sungguh aku dapat?”

Dia menambahkan: “Laut yang semakin tinggi permukaannya — akan menenggelamkan permukaan bumi yang bergelombang di bawahnya. Demikian pula manusia. bila kita memilih membalas dengan cara yang sama seperti mereka, kita hanya menjatuhkan diri ke level mereka.  Bukankah itu sama saja menurunkan derajat diri?” (jhn/yn)

Membahas Perbedaan Pandangan Timur & Barat dalam Mengubah Nasib

EtIndonesia. Dalam pandangan ajaran Buddha, hidup manusia dikendalikan oleh hukum karma — kekuatan tak kasatmata dari perbuatan masa lalu dan masa kini yang menentukan arah nasib seseorang. 

Seorang teman saya yang cukup sukses di dunia bisnis pernah berkata, dia merasa pepatah “tiga bagian ditentukan takdir, tujuh bagian ditentukan usaha” sebenarnya harus dibalik menjadi: “tujuh bagian ditentukan takdir, hanya tiga bagian ditentukan usaha.”

Dia sangat percaya bahwa besar kecilnya berkat/kebajikan seseoranglah yang menentukan pencapaian hidupnya. Ada ungkapan terkenal: “bisa menghasilkan uang adalah berkah, tetapi mampu menggunakan uang dengan bijak adalah kebijaksanaan.” 

Banyak orang bekerja keras — namun ada yang jalannya mulus, ada pula yang akhirnya terlilit utang. 

Menurut pengamatan teman saya di dunia bisnis, hanya sekitar 20% yang benar-benar sukses, dan 80% lainnya berakhir gagal. Artinya, yang berhasil tetaplah minoritas.

Ajaran Buddha menekankan hukum sebab-akibat dan menganjurkan agar kita menjalani hidup dengan “membangun kebajikan dan kebijaksanaan secara seimbang”. Sebab hanya jika seseorang memiliki keduanya, dia akan secara alami mampu membuat keputusan yang tepat tanpa disadari. Jika tidak, dia sangat mudah salah langkah — memilih jalan hidup yang keliru dan sulit meraih keberhasilan. 

Ungkapan “kepribadian menentukan nasib” pun ada benarnya. Setiap orang lahir dengan tabiat berbeda, namun jika seseorang rajin menumbuhkan kebajikan dan kebijaksanaan, kepribadiannya bisa berubah menjadi lebih baik — pengendalian emosi meningkat, tidak mudah goyah oleh keadaan, tetap tenang kapan pun, dan kebijaksanaannya tumbuh dari dalam. Idealnya, logika dan akal sehat harus sedikit lebih tinggi daripada emosi.

Di dunia Barat, meski topik karma jarang dibahas secara eksplisit, para peneliti juga penasaran mengapa ada orang yang seperti “selalu beruntung”, sementara yang lain seolah “sial terus-menerus”. 

Kesimpulan mereka: orang yang sering bernasib mujur memiliki sifat mental yang berbeda. Mereka memiliki pandangan unik tentang bagaimana “mengundang keberuntungan”.

Contohnya, mereka suka mencoba hal baru, bergabung dengan komunitas yang beragam, dan aktif memperluas jaringan pertemanan — sehingga peluang bertemu orang baik atau kesempatan emas lebih besar.

Ciri-ciri utama “orang beruntung”:

1. Memiliki keyakinan positif dan menantikan hal baik terjadi.

Jika seseorang mampu “melawan takdir” dan mengubah hidupnya — itu adalah hal yang sangat indah. Salah satu caranya adalah dengan melakukan satu kebaikan setiap hari. 

Para ahli Barat mengatakan: “ketika seseorang menantikan hal baik, timbangan keberuntungan akan condong kepada orang yang berpikir positif.” 

Maka, optimisme sangatlah penting. Jika kita percaya pada kekuatan pikiran, kita dapat setiap hari berkata kepada diri sendiri:
— “Setiap hari aku makin membaik.”
— “Aku semakin beruntung dan penuh rasa syukur.

 Karena alam semesta seluruhnya adalah energi. Maka, sebisa mungkin hindarilah tempat yang penuh energi negatif. Hidup adalah proses latihan batin, dan setiap orang membawa kebiasaan buruk masing-masing. Namun jika seseorang rajin berbuat baik dan menjauhi kejahatan, auranya akan lebih bersinar dan keberuntungannya ikut berubah. Sebaliknya, perbuatan buruk dan ucapan yang merugikan orang lain hanya akan mengikis habis berkah yang dimilikinya.

Tokoh peramal wajah terkenal di Taiwan, Siau Siang, pernah berkata: “Secara ilmu fisiognomi, wajah Wang Yung-ching (konglomerat legendaris Taiwan) layak mendapat nilai seratus.” 

Hal ini mungkin berkaitan dengan fakta bahwa ia bukan hanya kaya raya, tetapi juga gemar membangun sekolah dan beramal.

2. Orang yang beruntung pandai membangun hubungan & jaringan.

Mereka tahu bahwa semakin banyak membantu orang lain, semakin besar pula peluang mendapat pertolongan orang. Meski pada dasarnya manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk sekaligus, orang yang mau menempuh jalan kebajikan akan selalu berusaha menampilkan sisi terbaik dirinya. Zaman sekarang, orang jahat memang banyak — di dunia Timur maupun Barat — maka penting untuk tetap waspada dan sekaligus tetap berbuat baik.

3. Para peneliti Barat menemukan bahwa orang yang merasa dirinya “beruntung” cenderung:

·         suka berbicara dengan orang baru

·         aktif memperluas pergaulan

·         mempercayai intuisi mereka

·         meluangkan waktu untuk mendengar suara batin, misalnya lewat meditasi atau berjalan santai

Pada akhirnya…
Pengalaman hidup setiap orang berbeda. Mendengar pandangan orang lain adalah hal yang berharga — bisa membantu kita menghindari titik buta dalam pemikiran kita sendiri. Namun, jika seseorang memang secara alami nyaman menyendiri dan merenung — itu pun bukan masalah. Tidak perlu memaksakan diri untuk jadi orang yang bukan dirinya. Jika tidak suka bersosialisasi, memaksakan diri justru bisa membuat tidak bahagia.

Pada akhirnya, yang terbaik tetaplah hidup mengikuti “aliran takdir yang positif” dengan hati yang tenang. Sebab banyak hal memang berkaitan erat dengan karma dari kehidupan terdahulu — dan karmalah yang menentukan besar kecilnya berkah, karakter, hingga peluang hidup seseorang. (jhn/yn)

Pengorbanan yang Tulus 



EtIndonesia. Di India, ada seorang wanita kaya raya yang ingin menyumbangkan sejumlah besar uang kepada Bunda Teresa, yang saat itu sedang melayani kaum miskin dan terlantar. Namun Bunda Teresa tidak langsung menerimanya.

Sebaliknya, beliau berkata dengan lembut: “Setiap kali kamu ingin membeli pakaian baru — tahanlah diri untuk tidak membeli. Ambil uang yang seharusnya engkau pakai itu, dan donasikanlah.”

Wanita itu tidak mengerti — mengapa harus sampai merepotkan dirinya begitu. Meskipun heran, dia tetap mencoba menuruti.

Sejak hari itu, setiap kali dia ingin membeli sesuatu, dia teringat pesan Bunda Teresa. Dia menahan diri — dan menyumbangkan uang yang seharusnya dia pakai untuk barang itu.

Perlahan-lahan dia merasakan sesuatu yang berubah. Setiap kali dia berhasil mengalahkan keinginannya — rasa damai dan kebahagiaan mulai bertumbuh dari dalam hatinya.

Hingga suatu hari, Bunda Teresa kembali berkata kepadanya: “Pengorbanan sejati bukan tentang memberi — tetapi tentang merelakan sesuatu yang sebenarnya kita cintai.”

“Berbuat baik tidak menunggu hari esok. Hari ini ada orang yang menderita.
Hari ini ada orang yang tidur di jalanan.  Hari ini ada orang yang kelaparan.
Tugas kita adalah hari ini.  Kemarin sudah berlalu. Esok belum tentu datang.
Jika kita tidak bertindak hari ini — mungkin besok mereka sudah tiada.” (jhn/yn)

Badai Melissa, Badai Terkuat Jamaika dalam 174 Tahun, Mendarat

EtIndonesia. Badai Melissa menguat pada hari Selasa (18/10) sebelum menerjang Jamaika, di mana para pejabat dan penduduk bersiap menghadapi angin kencang, banjir bandang, dan tanah longsor akibat badai Kategori 5, salah satu badai Atlantik terkuat dalam sejarah.

Jalan-jalan di ibu kota, Kingston, sebagian besar masih kosong saat Melissa mendekat dengan kecepatan angin 295 km/jam, kecuali seekor anjing liar yang menyeberangi genangan air dan segelintir orang yang berjalan cepat di bawah dahan pohon sambil melambai-lambai diterpa angin kencang.

Desmond McKenzie, wakil ketua Dewan Manajemen Risiko Bencana Jamaika, mengimbau masyarakat untuk mencari perlindungan dan tetap di dalam rumah saat badai melintasi pulau tersebut.

“Jamaika, ini bukan saatnya untuk berani,” katanya.

Pemerintah Jamaika mengatakan telah melakukan semua yang dapat dilakukan untuk bersiap seraya memperingatkan kerusakan dahsyat akibat badai terkuat yang melanda pulau itu sejak pencatatan dimulai 174 tahun yang lalu.

“Tidak ada infrastruktur di wilayah ini yang mampu menahan Badai Kategori 5,” kata Perdana Menteri Andrew Holness. “Pertanyaannya sekarang adalah kecepatan pemulihan. Itulah tantangannya.”

Kerusakan akibat angin kencang diperkirakan terjadi di inti Melissa dan pegunungan tertinggi di Jamaika dapat mengalami hembusan angin berkecepatan hingga 322 km/jam, kata Michael Brennan, direktur Pusat Badai Nasional AS di Miami.

“Ini akan menjadi skenario yang sangat berbahaya,” katanya, memperingatkan bahwa akan ada “kehancuran bangunan total.”

Melissa adalah badai terdahsyat kelima di cekungan Atlantik yang pernah tercatat berdasarkan tekanan dan yang terkuat yang mencapai daratan sejak Badai Dorian pada tahun 2019, menurut spesialis badai dan pakar gelombang badai Michael Lowry.

Ini adalah “skenario terburuk yang akan terjadi bagi Jamaika,” katanya.

Tanah longsor, pohon tumbang, dan banyak pemadaman listrik dilaporkan terjadi saat Melissa mencapai daratan, dengan para pejabat di Jamaika memperingatkan bahwa pembersihan dan penilaian kerusakan bisa berlangsung lambat. Badai diperkirakan akan membelah pulau secara diagonal dan menuju Kuba.

Melissa mendarat di Jamaika barat daya dekat New Hope dan bergerak ke utara-timur laut dengan kecepatan 15 km/jam, menurut Pusat Badai Nasional. Badai tersebut berpusat sekitar 40 kilometer di tenggara Negril, Jamaika, dan sekitar 235 kilometer di barat daya Guantanamo, Kuba.

Gelombang badai yang mengancam jiwa hingga 4 meter diperkirakan akan melanda Jamaika selatan, dan para pejabat khawatir tentang dampaknya terhadap beberapa rumah sakit di sepanjang garis pantai. Menteri Kesehatan Christopher Tufton mengatakan beberapa pasien dipindahkan dari lantai dasar ke lantai dua, “dan (kami) berharap itu akan cukup untuk mengantisipasi lonjakan pasien yang mungkin terjadi.”

Seorang pria menelepon stasiun radio lokal dan mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan pertolongan seorang wanita di Jamaika barat yang akan melahirkan saat badai bersiap untuk mendarat. Pembawa acara tersebut memohon kepada para pendengar untuk memberi tahu pria tersebut rumah sakit teraman bagi wanita tersebut. Seorang dokter kandungan datang dan memberikan arahan terperinci tentang cara membantu persalinan, jika diperlukan.

Colin Bogle, penasihat Mercy Corps yang berbasis di dekat Kingston, mengatakan sebagian besar keluarga berlindung di tempat meskipun pemerintah telah memerintahkan evakuasi di komunitas rawan banjir.

“Banyak yang belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, dan ketidakpastian ini menakutkan,” katanya. “Ada ketakutan yang mendalam akan kehilangan rumah dan mata pencaharian, cedera, dan pengungsian.”

McKenzie mengatakan pemerintah siap untuk melakukan penyelamatan segera setelah badai: “Kami memiliki kapal, helikopter, apa pun yang dibutuhkan.”

Badai tersebut telah dituding sebagai penyebab tujuh kematian di Karibia, termasuk tiga di Jamaika, tiga di Haiti, dan satu di Republik Dominika, di mana satu orang lainnya masih hilang.

Necephor Mghendi, kepala delegasi regional Palang Merah Internasional untuk Karibia yang berbahasa Inggris dan Belanda, mengatakan sekitar 1,5 juta orang di jalur badai akan terdampak, tetapi “seluruh penduduk mungkin akan merasakan dampaknya dengan satu atau lain cara.”

Lebih dari 240.000 pelanggan tanpa listrik sebelum badai menerjang dan sekitar seperempat sistem telekomunikasi terputus, kata Darryl Vaz, menteri transportasi dan energi. Dia mengatakan para kru akan membersihkan dan menjalankan uji coba di dua bandara internasional utama di pulau itu pada hari Rabu dengan harapan dapat menerima penerbangan bantuan darurat paling cepat hari Kamis.

Badan-badan PBB dan puluhan lembaga nirlaba telah menyiapkan makanan, obat-obatan, dan pasokan penting lainnya sambil menunggu distribusi cepat setelah badai.

Matthew Samuda, menteri air dan lingkungan Jamaika, mengatakan dia memiliki lebih dari 50 generator yang tersedia untuk digunakan setelah badai, tetapi memperingatkan masyarakat untuk menyisihkan air bersih dan menggunakannya dengan hemat.

“Setiap tetes akan dihitung,” katanya.

Badai Melissa diperkirakan akan menerjang Kuba timur pada Selasa malam atau Rabu dini hari. Hujan hingga 51 sentimeter diperkirakan akan turun di beberapa wilayah, bersamaan dengan gelombang badai yang signifikan di sepanjang pantai.

Pihak berwenang di Provinsi Holguín bagian timur bersiap mengevakuasi lebih dari 200.000 orang pada hari Selasa dan sebelumnya telah mengevakuasi jumlah yang sama dari kota Banes.

Laporan di media sosial dan televisi pemerintah menunjukkan bus-bus biru putih mengangkut para pengungsi ke tempat penampungan pada Selasa pagi. Keluarga-keluarga menggendong bayi dan barang-barang mereka, sementara para lansia membantu mereka berdiri dengan tongkat saat turun.

“Fenomena ini sangat berbahaya,” kata Wakil Perdana Menteri Eduardo Martínez dalam sebuah pernyataan dari Banes, tempat ia berada di tempat yang tampak seperti tempat penampungan. “Ini belum pernah terjadi sebelumnya.”

Badai Melissa juga telah mengguyur wilayah selatan Haiti dan Republik Dominika, dengan peringatan badai tropis masih berlaku untuk Haiti. Badai tersebut diperkirakan akan berbelok ke timur laut dan menghantam Bahama bagian tenggara pada Rabu malam.(yn)

Kecerdasan Tak Akan Pernah Mampu Menyelamatkan Kekosongan Moral  

EtIndonesia. Seorang gadis muda baru saja lulus dan berangkat ke Prancis untuk memulai hidup sebagai mahasiswa perantauan—sambil kuliah, sambil bekerja paruh waktu. Di sana dia mendapati bahwa sistem transportasi umum Prancis menggunakan sistem tiket self-service: penumpang cukup membeli tiket sendiri sesuai tujuan. Stasiunnya pun rata-rata berbentuk terbuka—tanpa pintu pemeriksaan, tanpa petugas tiket, dan bahkan hampir tak pernah ada razia acak.

Dia menyadari ini sebagai sebuah “celah sistem”.

Merasa cerdik atas penemuannya, dia pun mulai rutin naik kereta tanpa bayar. Dalam benaknya dia memaklumi sendiri tindakannya: “Aku kan mahasiswa miskin, hemat itu wajar.”

Empat tahun berlalu. Gelar dari universitas ternama dan nilai akademiknya yang gemilang membuatnya penuh percaya diri. Dia mulai melamar ke perusahaan-perusahaan multinasional di Paris — dengan ambisi besar membangun karier global.

Namun hasilnya mengejutkan — semua perusahaan awalnya antusias, tetapi berakhir dengan penolakan halus. Berkali-kali. Tanpa penjelasan jelas.

Dia marah. Dia menuduh perusahaan-perusahaan itu rasis dan anti-orang asing. Hingga suatu hari, dia menerobos masuk ke ruang HRD sebuah perusahaan besar dan meminta penjelasan secara langsung.

Dan jawaban yang dia terima membuatnya terdiam membeku.

“Nona, kami sama sekali tidak mendiskriminasi Anda. Sebaliknya, kami sangat menghargai Anda. Kami sangat tertarik dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi Anda. Sejujurnya, secara kemampuan kerja — Anda adalah tipe kandidat yang kami cari.”

“Kalau begitu, mengapa Anda menolak saya?”

“Karena kami mengecek riwayat Anda — dan menemukan Anda tiga kali didenda karena ketahuan tidak membayar tiket bus.”

Gadis itu mencoba membela diri:  “Benar, itu memang terjadi. Tapi karena hal sepele seperti itu kalian menolak seorang kandidat yang sudah berkali-kali menerbitkan jurnal akademik?”

“Hal sepele? Kami tidak menganggap itu sepele.”

“Pertama kali Anda ketahuan, petugas percaya pada Anda. Anda bilang tidak paham sistem tiket otomatis — Anda hanya diminta membayar denda. Namun setelah itu… Anda masih mengulanginya dua kali lagi.”

“Waktu itu saya tidak punya uang receh —”

“Tidak. Jangan anggap kami bodoh. Kami sangat yakin — sebelum Anda tertangkap tiga kali, Anda sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali melakukannya.”

“Ya ampun, masa gara-gara itu saya tidak bisa diterima kerja? Lain kali saya tidak akan mengulanginya, kan bisa diperbaiki?”

“Tidak bisa, Nona.  Kesalahan Anda menunjukkan dua hal : Pertama — Anda tidak menghargai aturan. Anda pandai menemukan celah, lalu menyalahgunakannya. Kedua — Anda tidak layak dipercaya.  Pekerjaan kami dibangun atas pondasi kepercayaan, bukan pengawasan.”

Perusahaan tidak bisa membuat sistem pengawas untuk semua hal, sama seperti transportasi publik kami. Karena itu — kami tidak bisa mempekerjakan Anda. Bahkan di seluruh Uni Eropa, kemungkinan besar tidak ada perusahaan yang mau merekrut Anda.

Baru pada saat itu, gadis muda itu terhenyak — tersadar, dan menyesal.

Namun kalimat terakhir sang manajer HR-lah  yang benar-benar menghantam batinnya:

“Moralitas sering kali bisa menutupi kekurangan kecerdasan,  tapi kecerdasan tidak akan pernah bisa menutupi kekosongan moral.” (jhn/yn)

Tas Mewah Lokal PM Jepang Seharga Rp 14 Juta Viral, Kini Semua Orang Ingin Membelinya

EtIndonesia. Tas yang dibawa oleh perdana menteri wanita pertama Jepang, Sanae Takaichi, telah menjadi viral, melambungkan nama seorang produsen barang-barang kulit lokal berusia 145 tahun.

Para pengguna media sosial mengidentifikasi tas tangan yang sering dibawa Takaichi ketika memasuki kediaman perdana menteri sebagai “Grace Delight Tote” yang dibuat oleh Hamano Inc., produsen barang-barang kulit Jepang berusia 145 tahun, yang produknya telah lama digemari oleh anggota keluarga kekaisaran Jepang.

Dengan harga 895 dolar (sekitar Rp 14,8 juta) , tas ini telah menjadi viral, memicu banjir pesanan ke produsen yang berbasis di Nagano, Jepang bagian tengah. Meskipun seluruhnya terbuat dari kulit, beratnya hanya 700 gram, dan dirancang untuk “menyeimbangkan keanggunan dengan kepraktisan,” menurut situs web tersebut.

Hamano menerima “jumlah pesanan yang sangat banyak” setelah foto-foto perdana menteri dengan tas tersebut ditampilkan di media sosial dan berita, baik di Jepang maupun di luar negeri, demikian pernyataan perusahaan tersebut di situs webnya. Pengiriman ditunda hingga akhir April dan perusahaan meminta maaf atas keterlambatan dalam menanggapi pertanyaan, demikian pernyataan situs webnya.

Takaichi bukanlah politisi perempuan pertama yang pilihan busananya telah mendongkrak penjualan merek-merek yang relatif kurang dikenal. Para pembuat kebijakan perempuan cenderung berpegang teguh pada merek-merek mewah tradisional, tetapi pilihan yang tidak ortodoks sesekali – seperti Anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez yang mempromosikan tas jinjingnya dari Telfar pada tahun 2020 – dapat menjadi transformatif bagi peritel yang lebih kecil.

Takaichi yang berusia 64 tahun ini terkenal sebagai pengagum mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, yang juga dikenal dengan tas tangan terstrukturnya dari merek Inggris Launer. Minat mereka berbeda di bidang lain – Takaichi telah berbicara tentang kecintaannya pada musik heavy metal, mobil, dan sepeda motor.

Meskipun jajak pendapat menunjukkan Takaichi sangat populer di kalangan generasi muda, belum jelas kelompok usia mana yang meniru pilihan aksesorinya.

Tas jinjing Hamano menarik bagi beragam wanita profesional yang mencari pilihan tas yang praktis untuk menampung laptop dan perlengkapan sehari-hari, tanpa menarik perhatian yang tidak perlu, kata Kaori Nakano, seorang spesialis kemewahan dan budaya sekaligus profesor tamu di Universitas Aoyama Gakuin di Tokyo.

“Ini pilihan yang solid dan dapat diandalkan bagi wanita di posisi manajerial,” kata Nakano. “Harganya relatif terjangkau dibandingkan merek luar negeri dengan kualitas serupa.”

Selain tas tersebut, Takaichi juga sering mengenakan pakaian rancangan desainer Jepang Jun Ashida, kata Nakano.

“Dengan mengenakan pakaian desainer Jepang secara mencolok dan membawa tas buatan Jepang, dia menunjukkan patriotisme dan dukungannya terhadap industri Jepang,” tambah Nakano. “Ini sudah terbukti berhasil.” (yn)

Jika Anak Lebih Hebat dari Kita, untuk Apa Uang itu? Jika Anak Lebih Lemah dari Kita, Apa Gunanya Mewariskan Harta?

EtIndonesia. Seorang teman, suatu hari setelah mabuk, berkata kepadaku : “Percaya tidak? Tabunganku bahkan cukup untuk dipakai sampai anak-cucu-cicitku nanti — dan tetap tidak akan habis.”

 Aku menjawab : “Aku percaya. Tapi ada pepatah: anak cucu punya nasib sendiri. Kamu sebenarnya tak perlu meninggalkan harta yang melimpah.”

Dia tertawa dan berkata :  “Apa itu yang disebut nasib? Aku lahir dari keluarga miskin. Aku pernah takut lapar. Aku tidak mau anak-anakku mengulang nasibku. Aku ingin mereka hidup menjaga gunung emas.”

Apa yang dia katakan — bukan kepura-puraan.  Kita mengenal banyak orang seperti itu. Merasa semakin banyak uang ditinggalkan untuk anak cucu, maka semakin cerah masa depan mereka.

Namun Lin Zexu, tokoh besar dalam sejarah Tiongkok, pernah berkata: “Jika anak cucuku sehebat diriku — untuk apa aku tinggalkan harta?  Terlalu banyak uang hanya akan melemahkan semangat juangnya. Jika anak cucuku lebih lemah dari diriku — untuk apa aku tinggalkan harta? Memberi terlalu banyak uang hanya akan memperbesar kesalahannya.”

Betapa jernih. Betapa tinggi pandangan hidup ini.

Anak yang berbakat dan berprinsip, jika diberi terlalu banyak uang — semangatnya akan luntur.  Anak yang lemah dan tidak dewasa, jika diberi terlalu banyak uang — justru akan semakin cepat rusak.

Sayangnya — ada berapa banyak orangtua hari ini yang benar-benar mengerti ini?

Dalam psikologi, ada istilah terkenal: “Prinsip Tidak Layak Diperjuangkan”

 Artinya: Sesuatu yang tidak layak dilakukan dengan sepenuh hati — pada dasarnya tidak layak dilakukan sama sekali.

Bayangkan: Jika seseorang sudah memiliki gunung emas, apakah dia masih mau bersusah payah menggali pasir mencari serpihan emas kecil?

 Dan jika seseorang menjalani hidup dengan pikiran “ah… buat apa” — maka hidup yang dia jalani pun pasti akan menjadi “ah… begini saja.”

Banyak orang sulit memahami para miliarder dunia yang menyumbangkan hampir seluruh hartanya.

Saat mendengar Warren Buffett ingin menyumbangkan 99% kekayaannya, seorang rekan kerjaku berkata:  “Waduh… anak-anaknya nggak ngamuk tuh?”

Mungkin dia tidak pernah mendengar kisah ini:

Putra bungsu Buffett, Peter, sangat mencintai musik.

 Ketika hendak pindah ke Milwaukee — dia meminta pinjaman uang kepada ayahnya (dan itu satu-satunya permintaan uang seumur hidupnya).  Buffett menolak.

Peter akhirnya pinjam uang ke bank.

Dia berkata kemudian: “Dalam proses melunasi utang itu, aku belajar jauh lebih banyak daripada jika ayahku memberiku pinjaman tanpa bunga.  Sekarang aku sadar — ayahku benar.”

Jika engkau sungguh mencintai anakmu — jangan terlalu murah hati dalam hal uang. Jangan biarkan “pisau emas” yang kau hadiahkan, malah menikam masa depannya.

Jika engkau sudah memberinya hidup — maka hormatilah martabatnya. 

  • Biarkan ia memiliki hak untuk mencipta takdirnya sendiri.
  • Biarkan dia berkeringat.  
  • Biarkan dia menangis. Biarkan ia luka dan berdiri lagi.
  • Biarkan dia berlari kencang dalam hujan tanpa payung.
    – Biarkan dia berjuang habis-habisan demi menjadi versi terbaik dirinya.
    – Biarkan dia membuat “sendok emasnya sendiri” — lalu meminum kuah terbaik dalam hidup… dengan penuh kebanggaan.(jhn/yn)

64 Tewas, 81 Ditangkap di Brasil dalam Penggerebekan Geng Narkoba Rio de Janeiro

EtIndonesia. Sekitar 2.500 polisi dan tentara Brasil melancarkan penggerebekan besar-besaran terhadap geng pengedar narkoba di Rio de Janeiro pada hari Selasa (28/10), menangkap 81 tersangka dan memicu baku tembak yang menewaskan sedikitnya 60 tersangka dan empat petugas polisi, kata para pejabat.

Operasi tersebut melibatkan petugas dengan helikopter dan kendaraan lapis baja dan menargetkan Komando Merah yang terkenal kejam di favela berpenghasilan rendah yang luas di Complexo de Alemao dan Penha, kata polisi.

Operasi polisi tersebut merupakan salah satu yang paling brutal dalam sejarah Brasil baru-baru ini, dengan organisasi-organisasi hak asasi manusia menyerukan penyelidikan atas kematian tersebut.

Gubernur negara bagian Rio, Claudio Castro, mengatakan dalam sebuah video yang diunggah di X bahwa 60 tersangka kriminal “dinetralkan” dalam penggerebekan besar-besaran yang disebutnya sebagai operasi terbesar dalam sejarah kota tersebut. Sekitar 81 tersangka ditangkap, sementara 93 senapan dan lebih dari setengah ton narkoba disita, kata pemerintah negara bagian, seraya menambahkan bahwa mereka yang tewas “melawan tindakan polisi.”

Polisi sipil Rio mengatakan di X bahwa empat petugas tewas dalam operasi hari Selasa.

“Serangan pengecut oleh penjahat terhadap agen kami tidak akan dibiarkan begitu saja,” katanya.

Jumlah orang yang terluka tidak diketahui.

Badan hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan mereka “ngeri” oleh operasi polisi yang mematikan itu, menyerukan penyelidikan yang efektif, dan mengingatkan pihak berwenang akan kewajiban mereka berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional.

César Muñoz, direktur Human Rights Watch di Brasil, menyebut peristiwa hari Selasa sebagai “tragedi besar” dan “bencana.”

“Kejaksaan harus membuka penyelidikannya sendiri dan mengklarifikasi keadaan setiap kematian,” kata Muñoz dalam sebuah pernyataan.

Rekaman di media sosial menunjukkan api dan asap mengepul dari kedua favela tersebut saat tembakan terdengar. Departemen Pendidikan kota mengatakan 46 sekolah di kedua lingkungan tersebut ditutup, dan Universitas Federal Rio de Janeiro yang terletak di dekatnya membatalkan kelas malam dan meminta warga di kampus untuk mencari perlindungan.

Terduga anggota geng memblokir jalan-jalan di Rio bagian utara dan tenggara sebagai tanggapan atas penggerebekan tersebut, lapor media lokal. Setidaknya 70 bus disita untuk digunakan dalam blokade tersebut, yang menyebabkan kerusakan signifikan, kata organisasi bus kota Rio Onibus.

Operasi pada hari Selasa tersebut menyusul penyelidikan selama setahun terhadap kelompok kriminal tersebut, kata polisi.

Gubernur Castro, dari Partai Liberal yang beroposisi konservatif, mengatakan pemerintah federal seharusnya memberikan lebih banyak dukungan untuk memerangi kejahatan — sebuah sindiran terhadap pemerintahan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva yang berhaluan kiri.

Gleisi Hoffmann, penghubung pemerintahan Lula dengan parlemen, setuju bahwa tindakan terkoordinasi diperlukan tetapi menunjuk pada tindakan keras baru-baru ini terhadap pencucian uang sebagai contoh tindakan pemerintah federal terhadap kejahatan terorganisir.

Wakil Presiden Geraldo Alckmin dan sejumlah menteri bertemu untuk menanggapi operasi tersebut pada Selasa sore. Kepala Staf Rui Costa meminta pertemuan darurat di Rio pada hari Rabu, yang dihadiri oleh dirinya dan Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski.

Setelah keluar dari penjara-penjara Rio, geng kriminal Komando Merah telah memperluas kendalinya di favela-favela dalam beberapa tahun terakhir.

Rio telah menjadi lokasi penggerebekan mematikan oleh polisi selama beberapa dekade. Pada Maret 2005, sekitar 29 orang tewas di wilayah Baixada Fluminense, Rio, sementara pada Mei 2021, 28 orang tewas di favela Jacarezinho.

Meskipun operasi polisi pada hari Selasa serupa dengan operasi-operasi sebelumnya, skalanya belum pernah terjadi sebelumnya, kata Luis Flavio Sapori, seorang sosiolog dan pakar keamanan publik di Universitas Katolik Kepausan Minas Gerais.

“Yang berbeda dari operasi hari ini adalah besarnya jumlah korban. Ini adalah angka perang,” ujarnya.

Dia berpendapat bahwa operasi semacam ini tidak efisien karena tidak cenderung menangkap dalangnya, melainkan menyasar bawahan yang nantinya dapat digantikan.

“Tidak cukup hanya masuk, saling tembak, lalu pergi. Ada kekurangan strategi dalam kebijakan keamanan publik Rio de Janeiro,” kata Sapori. “Beberapa anggota berpangkat rendah dari faksi-faksi ini terbunuh, tetapi orang-orang tersebut dengan cepat digantikan oleh yang lain.”

Institut Marielle Franco, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh keluarga anggota dewan yang terbunuh untuk melanjutkan warisannya dalam memperjuangkan hak-hak warga yang tinggal di favela, juga mengkritik operasi tersebut.

“Ini bukan kebijakan keamanan publik. Ini adalah kebijakan pemusnahan, yang membuat kehidupan sehari-hari orang kulit hitam dan miskin seperti rolet Rusia,” katanya dalam sebuah pernyataan.(yn)

Mengapa Tetap Lelah Meski Sudah Tidur Selama 8 Jam? 

Kualitas tidur, ritme sirkadian, dan kondisi kesehatan tersembunyi sering kali lebih penting daripada lamanya waktu di tempat tidur.

Oleh: Sarah Campise Hallier

Selama bertahun-tahun, Patty Schmidt merasa sudah melakukan segalanya dengan benar. Ia tidur pukul 22.00 malam, bangun pukul 06.00 pagi, tidak minum kopi setelah makan siang, dan menjauh dari layar sebelum tidur. Namun hampir setiap pagi ia bangun dengan rasa lelah.

 “Aku pikir aku disiplin soal tidur, tapi tubuhku berkata lain,” ujarnya. “Setiap pagi bangun terasa berat, lalu berusaha bertahan sepanjang hari, dan sore hari aku kembali tumbang.”

Pengalaman Schmidt mencerminkan apa yang dialami jutaan orang: tidur tujuh hingga sembilan jam tidak selalu membuat tubuh benar-benar segar. Riset terbaru menunjukkan bahwa masalah sebenarnya bukan hanya soal durasi tidur, melainkan kualitasnya, proses biologis tubuh di malam hari, serta apakah kita tidur pada waktu yang sesuai dengan jam biologis tubuh.


Ketika Durasi Tidur Tidak Sama dengan Istirahat

Selama sebagian besar abad ke-20, rasa lelah dianggap sebagai tanda kurang tidur. Solusinya sederhana: tidur lebih awal. Namun pandangan itu mulai berubah ketika para dokter mendapati pasien yang tidur cukup lama tetap bangun dalam keadaan lesu. Masalahnya bukan pada lamanya tidur, tetapi pada gangguan kualitas tidur.

“Yang lebih penting adalah kualitas, bukan kuantitas,” ujar Daniella Marchetti, psikolog klinis dan pakar perilaku tidur bersertifikat. 

“Tidur tidak akan terasa menyegarkan jika seseorang tidak mendapatkan cukup tidur dalam tahap dalam (deep sleep) atau REM, atau jika tidurnya terputus-putus. Kadang kita ingat terbangun di malam hari, kadang tidak, tapi gangguan kecil itu tetap mengacaukan siklus tidur.”

Setiap orang memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Yang paling penting bukan berapa lama tidur, melainkan bagaimana waktu tidur terbagi di setiap tahapnya.

Menurut Marchetti, “Tidur yang dalam adalah soal struktur tidur seseorang, bukan sekadar jumlah jamnya.”

Dampaknya tidak bisa disepelekan. Sebuah meta-analisis di BMC Public Health menemukan bahwa kualitas tidur yang buruk, meskipun dengan durasi normal, berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, dan penurunan fungsi kognitif.


Apa yang Bisa Dilakukan

Jika kamu sudah mencoba menjaga “kebersihan tidur” — seperti tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari, mengurangi kafein, dan menjauh dari layar sebelum tidur — namun belum berhasil, Marchetti menyarankan untuk konsultasi dengan ahli tidur.

“Jika kamu kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun lebih awal dari yang diinginkan setidaknya tiga kali seminggu selama tiga bulan atau lebih, pertimbangkan terapi kognitif perilaku untuk insomnia,” jelasnya. 

“Dan jika muncul gejala seperti mendengkur keras, tersedak, atau terbangun karena sesak napas, lakukan pemeriksaan tidur agar bisa mendapat diagnosis dan perawatan yang tepat.”


Saat Jam Biologis Tubuh Tidak Selaras

Waktu tidur sama pentingnya dengan tidur yang dalam. Tidur harus terjadi pada waktu biologis yang tepat.

Ritme sirkadian mengatur pelepasan hormon, tingkat kewaspadaan, dan suhu tubuh. Ketika jam biologis ini tidak selaras dengan jadwal harian, walau jam tidur cukup, tubuh tetap merasa kekurangan.

Dalam sebuah studi tahun 2018 di Scientific Reports, ketika jam biologis seseorang tidak sejalan dengan aktivitas hariannya, mereka melaporkan kesulitan fokus, berpikir lambat, dan rasa lelah berlebihan di siang hari.

Menurut Alexandra Wharton, perwakilan pasien gangguan ritme sirkadian dari American Academy of Sleep Medicine, “Jika seseorang cenderung tidur dan bangun jauh lebih lambat dari jadwal normal, mungkin ia mengalami delayed sleep-wake phase disorder (gangguan fase tidur-bangun yang tertunda).”

Marchetti menambahkan, “Ketidaksesuaian ritme ini sering menimbulkan masalah, apalagi jika bertabrakan dengan tuntutan pekerjaan. Jika hal ini terjadi, sebaiknya berkonsultasi langsung dengan spesialis tidur.”

Dr. Clay Lowder, dokter keluarga di Carolina Selatan, menekankan bahwa cahaya dan aktivitas fisik adalah faktor penting yang membantu tubuh mengatur tidur. 

“Seratus tahun lalu, kita terbiasa dengan aktivitas fisik berat untuk bertahan hidup. Sekarang kita harus kembali ke sana — kurangi layar, lebih banyak jalan kaki, atau angkat beban. Tidur yang baik dimulai dari tubuh yang aktif di siang hari,” ujarnya.


Apa yang Bisa Kamu Coba

  • Dapatkan paparan cahaya alami di pagi hari dalam satu jam setelah bangun tidur.
  • Pertahankan jam bangun yang konsisten, termasuk di akhir pekan.
  • Jika jam tidurmu sudah bergeser terlalu malam, geser perlahan — tidur 15 menit lebih awal setiap beberapa hari.

Bagi yang mencurigai adanya gangguan ritme sirkadian, catat pola tidur selama dua minggu dan bawa ke dokter atau spesialis tidur, bersama riwayat kesehatan pribadi dan keluarga.


Saat Kebiasaan Sehari-hari Justru Mengganggu Istirahat

Selain gangguan medis, kebiasaan kecil sehari-hari juga bisa mengurangi kualitas tidur tanpa disadari.

“Saya selalu menyarankan untuk tidak makan dua jam sebelum tidur, karena pencernaan dan tidur tidak cocok berjalan bersamaan,” kata Dr. Lowder. “Hindari stimulan di malam hari — termasuk kafein, beberapa obat, dan waktu layar. Olahraga di siang hari bagus, tapi hindari latihan berat terlalu dekat waktu tidur.”

Ia juga menyinggung sisi mental dari rasa lelah: “Banyak orang menyalahkan diri sendiri, padahal kelelahan adalah sinyal tubuh, bukan kelemahan karakter.”

Yang bisa dilakukan:

Bangun rutinitas relaksasi menjelang malam. Hentikan konsumsi kafein setelah tengah hari, selesaikan makan minimal dua jam sebelum tidur, dan ganti waktu scrolling ponsel dengan membaca buku atau meditasi. Jika terbangun di malam hari, jangan panik. Lakukan pernapasan tenang, baca sesuatu yang ringan, dan sadari bahwa terbangun sebentar adalah hal normal.


Saat Tidur Mengungkap Masalah Lebih Dalam

Tidur tidak berdiri sendiri — ia mencerminkan keseimbangan seluruh sistem tubuh.
Menurut Peter Mansbach, presiden Circadian Sleep Disorders Network, “Tidur yang baik mencakup tahap tidur dalam, REM, dan tahapan di antaranya. Ketika ritme ini terganggu, tubuh bekerja di malam hari bukannya memulihkan diri.”

Penelitian menunjukkan bahwa tidur lama tapi tetap lelah bisa menjadi tanda adanya masalah metabolik atau neurologis yang tersembunyi. Sebuah studi di The Journals of Gerontology menemukan risiko demensia lebih tinggi pada orang yang tidur lama namun tidak merasa segar.

Masalah tersembunyi juga bisa tampak dari gejala yang sering diabaikan. World Journal of Men’s Health mencatat bahwa sering buang air kecil di malam hari dapat terkait dengan gangguan hormon atau fungsi ginjal, dan berdampak pada kualitas tidur serta kesehatan jangka panjang.

Bahkan pada pasien sleep apnea yang sudah menggunakan alat bantu pernapasan (CPAP), sebuah studi tahun 2024 di Sleep Medicine menemukan bahwa banyak yang masih merasa lelah di siang hari. Artinya, terapi saluran napas saja tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan tubuh yang mendasar.

Kesimpulannya: tidur yang tidak menyegarkan bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih dalam, bukan sekadar butuh waktu tidur lebih lama.


Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Malam

Para dokter menyarankan memperhatikan pola-pola berikut:

  • Tidur terfragmentasi: sering terbangun di malam hari atau bangun terasa gelisah.
  • Gangguan pernapasan: mendengkur keras, terbangun karena tersedak, atau sakit kepala pagi hari — bisa jadi tanda sleep apnea.
  • Ketidaksesuaian ritme sirkadian: merasa paling bugar di malam hari tapi lesu di pagi hari.
  • Kelelahan terus-menerus: tidur lama tapi tetap mengantuk seharian — mungkin ada gangguan metabolik atau saraf.
  • Sering buang air malam (nokturia): bisa menjadi tanda gangguan hormonal atau fungsi ginjal.

Jika rasa kantuk berlebih tidak membaik meski kebiasaan tidur sudah sehat, perlu evaluasi lebih lanjut.


Apa yang Ingin Disampaikan Tubuh Lewat Rasa Lelah

Meski studi-studi besar memberi gambaran umum, efek tidur yang tidak berkualitas nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Schmidt, perubahan terjadi saat ia berhenti fokus pada jumlah jam tidur dan mulai memperhatikan hal-hal lain: paparan cahaya pagi, peregangan ringan sebelum tidur, serta jam bangun yang konsisten.

Dalam beberapa minggu, tidur malamnya lebih tenang dan pagi hari terasa lebih ringan.
“Perubahannya cepat terasa,” ujarnya. “Aku akhirnya bisa bangun tanpa tiga cangkir kopi. Aku merasa punya harapan lagi — ternyata tidur yang baik memang mungkin.”

Para dokter menegaskan, kelelahan bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal tubuh.
“Rasa kantuk adalah gejala, bukan cacat karakter,” kata Marchetti. “Anggap itu sebagai umpan balik. Dengan begitu, kita bisa mencegah masalah kesehatan yang lebih serius.”

Kelelahan bisa jadi cara tubuh memberi tahu bahwa ada yang perlu diperbaiki. Dengan memahami ritme alami tubuh, menjaga kebiasaan tidur, dan menangani penyebab tersembunyi, pagi yang segar bukanlah hal mustahil. Tidur yang lebih baik selalu bisa dicapai—asal tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.