EtIndonesia. Orang yang berbicara buruk tentangmu — sangat mungkin melakukannya karena mereka iri. Dengan kata lain, setiap serangan yang mereka lontarkan sebenarnya adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaanmu.
Saat kita dikritik atau disalahkan — benar atau tidak, sering kali reaksi pertama manusia adalah marah, defensif, atau ingin membalas.
Sangat jarang yang tenang sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Kenapa dia sampai mengatakan itu?”
Padahal sering kali jawabannya sederhana:
– Mereka menyerangmu karena kamu menjadi ancaman.
– Karena kehadiranmu membuat mereka tertekan.
– Karena kamu berdiri di tempat yang diam-diam ingin mereka capai.
Maka — orang yang mencacimu hampir selalu adalah orang yang diam-diam mengakui nilai dirimu.
Artinya:
– Semakin tenang kamu — semakin tinggi martabatmu.
– Semakin tidak terguncang — semakin jelas wibawamu.
Di zaman Dinasti Song Utara, ada seorang cendekiawan bernama Lu Mengzheng. Dia tidak hanya lulus sebagai juara pertama ujian negara (zhuangyuan), tetapi juga menjabat sebagai Pejabat Tinggi Negara — setingkat Perdana Menteri.
Suatu hari, saat hendak memasuki istana untuk menghadap Kaisar, dia mendengar seorang pejabat di balik jendela berbisik: “Orang seperti dia pun bisa jadi pejabat tinggi negara?!”
Lu Mengzheng pura-pura tidak mendengar. Namun teman-temannya yang ikut mendengar merasa panas hati — dan ingin mencari tahu siapa si pengejek itu.
Lu Mengzheng segera mengangkat tangan melarang mereka.
Lalu berkata dengan sangat tenang: “Biarlah. Perkataannya tidak merugikan aku sedikit pun. Tapi jika aku sengaja mencari tahu siapa dia — aku akan mengingatnya seumur hidup. Dan selama aku mengingatnya, batinku tidak akan tenang. Kalaupun aku menghukumnya — apa keuntungan yang sungguh aku dapat?”
Dia menambahkan: “Laut yang semakin tinggi permukaannya — akan menenggelamkan permukaan bumi yang bergelombang di bawahnya. Demikian pula manusia. bila kita memilih membalas dengan cara yang sama seperti mereka, kita hanya menjatuhkan diri ke level mereka. Bukankah itu sama saja menurunkan derajat diri?” (jhn/yn)


