Minum Lebih dari 1 Kaleng Soda Setiap Hari Dapat Sebabkan Penyakit Hati

Minum lebih dari satu kaleng soda apa pun per hari meningkatkan risiko penyakit hati hingga 50 persen

Oleh: George Citroner

Jika Anda berpikir memilih soda diet daripada soda biasa lebih baik bagi tubuh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hati Anda mungkin tidak setuju.

Sebuah studi terhadap hampir 124.000 orang menemukan bahwa hanya dengan satu porsi minuman berpemanis buatan per hari sudah dapat meningkatkan risiko penyakit hati yang dikenal sebagai nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau kini disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) — yaitu kondisi penumpukan lemak di hati yang dapat menyebabkan peradangan, nyeri, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.

Penyakit MASLD kini menjadi penyakit hati kronis paling umum di dunia, memengaruhi lebih dari 30 persen populasi global, dan menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit hati.

Temuan ini, yang dipresentasikan pada United European Gastroenterology Week 2025, menantang anggapan umum bahwa minuman berpemanis buatan merupakan alternatif yang “aman” dibandingkan minuman bergula biasa.


Gula atau Pemanis Buatan, Keduanya Tingkatkan Risiko

Penelitian yang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ini melibatkan 123.788 peserta dari UK Biobank yang tidak memiliki masalah hati pada awal penelitian. Dengan menggunakan kuesioner diet berulang selama rata-rata 10,3 tahun, para peneliti menelusuri hubungan antara konsumsi minuman dan perkembangan penyakit hati.

Hasilnya menunjukkan bahwa mengonsumsi lebih dari 250 gram (sekitar satu cangkir) minuman berpemanis gula maupun berpemanis buatan setiap hari berkaitan dengan risiko MASLD yang meningkat masing-masing sebesar 50 persen dan 60 persen.

Selama periode studi, 1.178 peserta mengembangkan penyakit hati, dan 108 orang meninggal akibat penyakit hati.

Minuman berpemanis buatan atau rendah kalori dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit hati yang lebih tinggi, sementara minuman bergula hanya terkait dengan peningkatan risiko terkena penyakit hati—bukan kematian akibatnya.


Mengapa Soda Diet Bisa Lebih Berbahaya

Penulis utama studi, Lihe Liu, mengakui bahwa temuan ini tampak berlawanan dengan logika umum.

 “Minuman berpemanis gula sudah lama dikritik, sedangkan versi ‘diet’-nya sering dianggap lebih sehat. Namun keduanya sangat populer, dan dampaknya terhadap kesehatan hati belum sepenuhnya dipahami,” katanya dalam pernyataan pers.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa minuman rendah atau berpemanis buatan justru berkaitan dengan risiko MASLD yang lebih tinggi, bahkan pada orang yang hanya mengonsumsi sedikit—misalnya satu kaleng per hari,” kata Liu.

Menurutnya, mekanisme dampak buruk dari kedua jenis minuman ini berbeda:

  • Minuman berpemanis gula menyebabkan lonjakan cepat glukosa dan insulin darah, mendorong penambahan berat badan, dan meningkatkan kadar asam urat—semuanya berkontribusi terhadap penumpukan lemak di hati.
  • Sedangkan minuman berpemanis buatan dapat merusak kesehatan hati melalui jalur berbeda: mengubah mikrobioma usus, mengacaukan rasa kenyang, meningkatkan keinginan akan rasa manis, dan bahkan merangsang sekresi insulin meskipun tanpa gula.

Hubungan dengan Kesehatan Usus

Dampak buruk minuman berpemanis gula—termasuk soda berkarbonasi, minuman energi, dan jus dengan tambahan gula—telah lama diketahui, seperti penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Namun, produk yang mengandung pemanis buatan juga mulai dikaitkan dengan peningkatan risiko kesehatan.

Kekhawatiran meluas hingga pada kesehatan usus, di mana pemanis buatan seperti saccharin terbukti berhubungan dengan penyakit radang usus dan gangguan keseimbangan bakteri usus.

Gangguan ini dapat meningkatkan permeabilitas usus dan menyebabkan ketidakseimbangan mikrobiota usus (disbiosis), yang pada gilirannya dapat memicu gangguan metabolik seperti resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, dan peradangan sistemik.

Masalah pada usus juga dapat mengurangi produksi asam lemak rantai pendek oleh bakteri usus, yang penting bagi sensitivitas insulin—sehingga memperburuk risiko gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2.


Pilihan Teraman: Air Putih

Para peneliti menekankan bahwa mengurangi konsumsi minuman bergula maupun berpemanis buatan dapat membantu mencegah penyakit hati dan meningkatkan kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Menurut studi tersebut, mengganti minuman ini dengan air putih dapat menurunkan risiko MASLD hingga 15 persen.

“Minum air sebagai pengganti kedua jenis minuman tersebut adalah cara paling aman,” kata Liu, “karena menghindari beban metabolik yang dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati.”

Liu dan timnya berencana melanjutkan penelitian jangka panjang untuk memahami bagaimana gula dan pemanis buatan memengaruhi mikrobioma usus serta kesehatan hati melalui studi acak dan genetik.


Pandangan Ahli: Fokus pada Pola Makan Secara Keseluruhan

Studi ini memperkuat temuan penelitian lain, kata Madison Reeder, ahli gizi terdaftar dan wakil presiden operasi klinis di ModifyHealth, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Baik gula tambahan maupun beberapa pemanis buatan dapat memberikan tekanan ekstra pada hati bila dikonsumsi secara rutin—meski dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

“Kita tahu terlalu banyak gula mendorong hati untuk memproduksi dan menyimpan lemak, sementara pemanis buatan tertentu dapat memengaruhi bakteri usus dan respons insulin dengan cara yang belum sepenuhnya kita pahami.”

Pesan utamanya, kata Reeder, bukan untuk takut pada satu bahan atau minuman tertentu, tetapi untuk memperhatikan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Ia menyarankan untuk mengonsumsi makanan seimbang dari bahan alami, disertai aktivitas fisik dan perawatan diri agar hati dapat berfungsi dengan optimal.

“Nutrisi sehari-hari memiliki kekuatan untuk memulihkan keseimbangan, memperkuat metabolisme, dan melindungi kesehatan jangka panjang,” kata Reeder.

Daripada memilih minuman bergula atau berpemanis buatan, orang sebaiknya memilih makanan manis alami yang dikombinasikan dengan sumber protein, kata Helen Tieu, ahli gizi di Diet Redefined.

Contohnya seperti yogurt Yunani dengan buah beri segar atau beku, keju cottage dengan buah, smoothie protein dengan buah utuh, buah dengan kacang, atau air soda dengan potongan lemon, jeruk nipis, atau jeruk.


Serat dan Daging Rendah Lemak Juga Dapat Membantu

Meski tidak disarankan setiap hari, daging merah dalam jumlah terbatas tetap bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang untuk mengurangi risiko penyakit hati, kata Samantha Coogan, dosen senior di Departemen Kinesiologi dan Ilmu Gizi, Universitas Nevada, yang juga tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Ia menyoroti penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein tanpa lemak dapat membantu mengurangi lemak berbahaya di hati.

Selain itu, serat makanan larut juga bermanfaat dalam mencegah penyakit hati.
Sumber serat larut termasuk biji rami, apel, aprikot, oatmeal, dan ubi jalar.

Coogan menegaskan bahwa kunci kesehatan hati adalah menjaga keseimbangan yang baik.

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine