Filsafat Hidup: Kepingan Emas di Bawah Pohon

EtIndonesia. Dahulu kala, di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang pria miskin. Dia hanya memiliki sebidang tanah kecil untuk ditanami. Suatu tahun, hasil panennya sangat buruk. Akhirnya, dia hanya tersisa satu kantung kecil berisi benih.

Ketika musim tanam tiba, saat fajar baru menyingsing, dia segera bangun dari tempat tidur dan pergi ke ladang untuk menabur benih. Dia menabur dengan sangat hati-hati, takut kehilangan satu butir pun.

Menjelang siang, matahari terasa sangat terik, tubuhnya letih, maka dia berhenti sejenak dan duduk beristirahat di bawah sebatang pohon. Saat itu, tanpa sengaja segenggam benih jatuh dari kantungnya dan masuk ke dalam lubang kecil di bawah pohon.

Meskipun jumlahnya hanya sedikit, si petani miskin tetap merasa sayang. 

Dia bergumam dalam hati: “Benihku sudah sedikit sekali. Bagi orang seperti aku, setiap butir benih sangat berharga. Jika hilang satu saja, itu sudah kerugian besar.”

Dengan pikiran itu, dia mengambil sekop dan mulai menggali di sekitar akar pohon untuk mengambil benihnya kembali. Cuaca begitu panas hingga keringat menetes deras dari dahi dan punggungnya, namun dia tidak berhenti menggali.

Akhirnya, ketika benih itu berhasil ditemukan, dia justru melihat bahwa benih-benih itu jatuh di atas sebuah kotak kecil yang terkubur di bawah tanah. Ketika dia membukanya, ternyata di dalam kotak itu terdapat emas murni.

Sejak hari itu, kehidupan si petani berubah total. Dia menjadi orang kaya.

 Orang-orang di desanya berkata kepadanya: “Kamu benar-benar orang paling beruntung di dunia!”

Dia tersenyum dan menjawab: “Ya, aku memang beruntung. Tapi semua ini datang dari kerja keras dan rasa menghargai yang kecil.”

Makna Hidup:

Setiap usaha tidak pernah sia-sia. Orang yang tidak takut kesulitan, yang terus bekerja dengan tekun dan menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya, akhirnya akan menuai hasil yang melampaui dugaan — bahkan menemukan “emas” di bawah pohon kehidupan mereka sendiri. (jhn/yn)

Pria Dirawat di Rumah Sakit Setelah Mengonsumsi 2,8 Kg Permen Jeli dalam Tiga Hari

EtIndonesia. Seorang pengemudi truk berusia 33 tahun di Inggris membutuhkan perawatan darurat setelah mengonsumsi permen jeli dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat.

Nathan Rimington, seorang pengemudi truk asal Yorkshire, Inggris, dilaporkan memesan Haribo Cola Jelly kemasan 3 kg (2,8 kg) dari Amazon setelah mengidam permen jeli. Dia kemudian mengonsumsi permen jeli berkalori 10.461 kkal tersebut hanya dalam tiga hari, dan mulai mengalami gejala fisik yang serius tak lama kemudian. 

Dia dibawa ke unit gawat darurat dengan nyeri perut yang parah, berkeringat, tekanan darah tinggi, dan keringat dingin. Awalnya, staf medis menduga pria tersebut mengalami keracunan makanan, tetapi pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan kadar gelatin yang sangat tinggi di saluran pencernaannya. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Rimington didiagnosis menderita divertikulitis akut.

Divertikulitis adalah suatu kondisi di mana tonjolan kecil, yang disebut divertikula, terbentuk di dinding usus besar, yang menyebabkan infeksi atau peradangan. 

Para ahli medis menjelaskan bahwa mengonsumsi bahan-bahan tertentu dalam jumlah besar, seperti gelatin, dapat meningkatkan risiko buang air besar dan obstruksi usus. Gejala sistemik seperti demam, menggigil, gangguan pencernaan, dan muntah juga dapat terjadi.

Menurut para ahli medis, gejala divertikulitis yang paling umum adalah nyeri perut kiri bawah yang parah dan terus-menerus. Nyeri ini sangat berbeda dari gangguan pencernaan atau sembelit pada umumnya, biasanya berlangsung lebih dari satu hari dan berangsur-angsur memburuk. Beberapa pasien mungkin mengalami feses berdarah atau berlendir, dan jika gejalanya memburuk, terdapat risiko perforasi usus besar, yang dapat berkembang menjadi peritonitis.

Dalam kasus Rimington, dokter segera menghentikan semua asupan oral dan memulai terapi cairan intravena. Dia dirawat di rumah sakit selama enam hari di unit perawatan intensif dengan demam tinggi dan nyeri perut yang parah. Untungnya, dia pulih sepenuhnya, tetapi kemungkinan besar dia tidak akan mengonsumsi permen karet dalam waktu yang lama.(yn)

Peretas Tiongkok yang Menyamar Sebagai Epoch Times Tebar Surat Ancaman, FBI Meluncurkan Penyelidikan

EtIndonesia. Baru-baru ini, peretas yang diduga berasal dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyamar sebagai pemimpin redaksi situs The Epoch Times dan mengirimkan pesan ancaman kepada Gedung Putih. Terbaru, mengancam Istana Kepresidenan Taiwan. Isi pesannya bersifat menantang dan provokatif. Bahkan secara terang-terangan mencoba menuduh Falun Gong sebagai pelaku. 

Pemimpin redaksi The Epoch Times edisi bahasa Mandarin, Huang Wanqing, menegaskan bahwa ini bukanlah tindakan individu, melainkan operasi yang terorganisir. FBI telah turun tangan untuk menyelidiki kasus ini.

Markas Besar Biro Investigasi Federal (FBI) di Washington pada 12 Agustus 2024. Madalina Vasiliu/The Epoch Times

Email yang dikirim oleh pelaku dengan subjek  “Kau Tak Bisa Menyentuhku” itu mengatasnamakan Huang Wanqing dan meninggalkan pesan di kanal media independen Wei Yu Kan Shijian yang berbunyi, “Sejumlah besar bahan peledak telah ditempatkan di Istana Kepresidenan Taiwan.” 

Ini merupakan salah satu dari serangkaian surat ancaman palsu yang mengatasnamakan The Epoch Times dan pihak-pihak yang terkait dengannya.

Nada dalam surat tersebut sangat provokatif, disertai sejumlah foto dan salinan kartu identitas, serta menyatakan, “Baik Amerika Serikat maupun Taiwan tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku.”

“Email yang dikirim kepada kami bukan ancaman terhadap The Epoch Times, tapi ancaman terhadap Gedung Putih, FBI, dan pihak berwenang Taiwan. Mereka bahkan mengirimkan tangkapan layar dan ‘bukti’ kepada kami, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa mereka telah melakukan kejahatan ini. Jelas ini bukan pekerjaan satu orang, tapi operasi yang terorganisir di balik layar,” ujar Huang Wanqing. 

Koran Epoch Times edisi Hong Kong dipajang di kios-kios koran di Hong Kong pada 17 September 2024. Kiri Choy/The Epoch Times

Wei Yu,  konten kreator Wei Yu Kan Shijian, juga mengatakan: “Saya lihat isinya penuh dengan ancaman dan intimidasi. Yang lebih aneh, email ini dikirim ke penerima yang sangat tidak masuk akal — bahkan sampai ke Presiden Taiwan, Lai Ching-te.”

Pengirim surat tersebut secara terang-terangan mengaku sebagai “anggota Falun Gong” untuk menyebarkan pesan ancaman, dengan tujuan memfitnah dan menjelekkan kelompok keagamaan itu serta media independen seperti The Epoch Times.

Wei Yu menambahkan: “Kalau kita lihat waktu pengirimannya, selalu bertepatan dengan momen-momen sensitif. Misalnya, sekitar tanggal 4 Juni (peringatan Tiananmen), saya menerima email serupa. Sekarang, menjelang Hari Nasional Taiwan (10 Oktober), dia kembali mengirim pesan ancaman.”

Menurut catatan The Epoch Times, sejak tahun lalu mereka telah menerima lebih dari seratus email ancaman serupa, dengan isi yang menyebutkan bom, penembakan, atau penculikan. Saat ini, FBI di Amerika Serikat dan kepolisian Taiwan telah membuka penyelidikan resmi.

“Apalagi setelah peristiwa pembunuhan terhadap Kirk (pejabat AS yang baru-baru ini tewas), pemerintah AS menjadi sangat waspada terhadap insiden semacam ini. Kami sudah bekerja sama dengan lembaga resmi AS dan memberikan banyak informasi agar mereka bisa menelusuri siapa dalang di balik aksi ini,” jelas Huang Wanqing.

Jurnalis senior Tang Hao menilai bahwa metode “penyamaran dan fitnah” ini merupakan strategi khas PKT dalam melakukan represi lintas negara.

“Taktik PKT yang berpura-pura dan menyebar fitnah seperti ini adalah bentuk nyata dari represi lintas negara. Hal ini menunjukkan bahwa PKT sedang menekan media seperti The Epoch Times dan NTD di AS dan Taiwan sekaligus. Tapi pada saat yang sama, ini juga membuktikan bahwa PKT sangat takut pada media-media ini, karena mereka tidak bisa dibeli atau diancam, dan terus mengungkap infiltrasi serta perebutan kekuasaan internal PKT. Itulah titik lemah mereka,” katanya. 

The Epoch Times menegaskan bahwa intimidasi semacam ini tidak akan menggoyahkan komitmen mereka terhadap profesionalisme jurnalistik dan prinsip kepercayaan. Mereka juga menyerukan agar masyarakat internasional waspada terhadap upaya PKT menggunakan peretasan dan disinformasi untuk melakukan represi lintas negara. (***)

Bersyukurlah atas Orang-orang yang Kita Temui dalam Hidup

EtIndonesia. Seseorang pernah bertanya kepadaku: “Berapa panjang usia manusia?”

Aku menjawab, “Panjang itu seperti malam yang penuh gelisah dan sulit menunggu datangnya fajar; Pendek itu seperti pasir di sela jari — sekejap, hilang begitu saja.”

Bagaimanapun juga, masa depan selalu penuh misteri.

Orang lain bertanya lagi : “Apa yang kamu cari dalam hidup ini?”

Aku menjawab : “Ada hal-hal yang tak bisa didapat meski kita berusaha, dan ada hal-hal yang tak bisa dilepas meski kita ingin. Kadang kita harus memilih — memberi untuk menerima, karena tak mungkin memiliki segalanya.”

Hidup, sejatinya, adalah perjalanan antara memiliki dan kehilangan. Hanya dengan belajar melepaskan, barulah hati bisa merasa damai. Daripada menganggap ‘untung dan rugi’ sebagai permainan, lebih baik melihatnya sebagai pilihan.

Dalam hidup, kita akan bertemu dengan banyak orang dan mengalami banyak hal. Kita bertemu, juga berpisah; kita menemukan, juga kehilangan. Suka dan duka yang tertinggal di hati bukanlah awan yang berlalu, melainkan perasaan yang melekat dan membentuk diri kita.

Di antara lautan manusia, setiap pertemuan adalah sebuah takdir. Entah takdir itu berakhir dengan senyum atau air mata, kita tetap harus bersyukur — bersyukur atas semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita.

Mereka yang Memberi Kita Kehidupan dan Kasih Sayang

Sejak kita lahir ke dunia, kita sudah seharusnya belajar bersyukur. Tidak peduli apakah kita lahir di keluarga kaya atau miskin, tinggi atau rendah status orangtua kita — mereka selalu layak kita hormati.

Jangan mencela orangtua karena hidup mereka sederhana, jangan menyalahkan mereka karena tak punya kekuasaan atau kekayaan. Darah mereka mengalir di tubuh kita — merekalah yang memberi kita kehidupan.

Seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, mengasuh dan mencintai kita tanpa henti selama puluhan tahun. Dalam waktu hidupnya yang terbatas, dia memberikan kasih sayang yang tak terbatas.

Mereka memberi kita dunia dan mimpi, namun hanya menginginkan satu hal: anak yang sehat dan bahagia.

Cinta seorang ayah dan ibu tak ternilai; tak ada cara untuk membalasnya, selain meneruskan kasih itu kepada generasi berikutnya, dan mengajarkan arti cinta yang sejati.

Ingatlah —

  • Kita boleh tidak sukses, tapi kita tidak boleh tidak berbakti.
  •  Kita boleh jarang pulang, tapi tidak boleh lupa rumah.
  • Kita boleh sibuk, tapi tidak boleh berhenti menyayangi diri sendiri.

Mereka yang Mengajarkan Kita Arti Cinta

Ada orang yang datang seperti malaikat, muncul di masa muda kita yang paling indah.

Kita pernah berdebar untuknya, bahkan rela memberikan segalanya demi membuktikan ketulusan cinta.

Apa pun akhirnya — bersama atau berpisah — kita seharusnya bersyukur.

Tak perlu menanyakan apakah dia benar-benar mencintai kita; yang penting, dia pernah membuat hati kita bergetar, pernah membuat kita belajar tentang cinta, bahkan melalui luka.

Jangan karena sekali terluka, kita menutup hati selamanya. Hidup ini panjang — selalu ada seseorang yang akan menemani perjalanan kita sampai akhir.

Biarkan waktu mengalir, biarkan kesedihan berlalu, dan percayalah akan ada satu orang yang dunianya memang disiapkan untukmu,  dan dia sedang menunggumu untuk datang.

Mereka yang Memberi Kita Kesempatan dan Harapan

Kadang kita merasa sukses karena kita pintar membaca peluang, padahal sesungguhnya, karena ada orang yang memberi kita kesempatan.

Tidak semua orang diberi kesempatan yang sama, dan tidak semua kesempatan bisa diciptakan sendiri.

Di dunia ini, ada tiga jenis “manusia berbakat”:

  1. Mereka yang memang berbakat sejak awal.
  2. Mereka yang ditemukan dan dihargai orang lain.
  3. Mereka yang mampu memimpin dan mengembangkan bakat orang lain.

Ketika seseorang menghargai kita, memberi kita ruang untuk tumbuh, itulah saatnya kita harus belajar berterima kasih.

Mimpi memang penting, tapi jauh lebih berharga adalah orang yang memberi kita kesempatan untuk mewujudkannya.

Kita semua ingin hidup untuk mengejar mimpi kita sendiri, bukan sekadar membantu orang lain mewujudkan mimpi mereka.

Karena itu, bersyukurlah kepada orang-orang seperti “Sang Penemu Bakat” dalam hidup kita —  mereka yang memberi kita panggung untuk bersinar. Bukan karena suara kita luar biasa indah, tapi karena panggung itu membuat dunia mendengar suara kita.

Penutup

Sepanjang hidup, kita akan kehilangan banyak hal, dan juga mendapatkan banyak hal. Namun yang paling penting — jangan pernah melupakan orang-orang yang kita temui dalam perjalanan itu.

Merekalah yang membuat hidup kita bermakna,  yang mengajari kita mencintai, berjuang, dan bersyukur.  Merekalah harta paling berharga dalam perjalanan hidup kita.(jhn/yn)

Pertahanan Udara Ukraina Menembak Jatuh 420 Target dalam Serangan Rusia di Sektor Energi

EtIndonesia. Pada malam 10 Oktober, Rusia melancarkan serangan gabungan berskala besar di wilayah Ukraina, menggunakan drone serang dan berbagai jenis rudal, demikian dilaporkan Angkatan Udara Ukraina.

Menurut Angkatan Udara Ukraina, pasukan radio-teknis mendeteksi dan melacak 497 target udara.

Di antaranya:

  • 465 drone tipe Shahed dan Gerbera;
  • 2 rudal balistik Kh-47M2 Kinzhal;
  • 14 rudal balistik Iskander-M/KN-23;
  • 12 rudal jelajah Iskander-K;
  • 4 rudal udara berpemandu Kh-59/69.

Peluncuran dilakukan dari wilayah Federasi Rusia — dari wilayah Kursk, Millerovo, Shatalovo, Oryol, Shakhty, Primorsko-Akhtarsk, serta dari Krimea yang diduduki sementara.

Serangan udara tersebut berhasil digagalkan oleh pasukan udara Ukraina, pasukan rudal antipesawat, unit peperangan elektronik dan drone, serta kelompok penembakan bergerak dari Pasukan Pertahanan Ukraina.

Menurut data awal, hingga pukul 10 : 00 waktu setempat, pertahanan udara Ukraina telah menembak jatuh atau melumpuhkan 420 target udara:

  • 405 Shahed, Gerbera, dan jenis UAV musuh lainnya;
  • 1 rudal balistik Kh-47M2 Kinzhal;
  • 4 rudal balistik Iskander-M/KN-23;
  • 9 rudal jelajah Iskander-K;
  • 1 rudal udara berpemandu Kh-59/69.

Selain itu, empat rudal Rusia gagal mencapai targetnya. Serangan langsung tercatat dari 13 rudal dan 60 drone di 19 lokasi, serta dampak puing pada tujuh objek.

Hingga pukul 10 : 40 pagi, drone musuh masih terdeteksi di wilayah udara Ukraina.

Serangan 10 Oktober

Pada Jumat malam, 10 Oktober, Rusia melakukan pemboman besar-besaran di wilayah Ukraina, menggunakan drone serang dan berbagai jenis rudal.

Selama penembakan di Kyiv, 12 orang terluka. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan bahwa serangan tersebut menyebabkan pemadaman listrik total di tepi kiri kota.

Zaporizhzhia juga menjadi sasaran tembakan musuh — kebakaran terjadi di sana, dan warga sipil terluka. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun tewas di Zaporizhzhia.

Menurut informasi awal, target utama serangan adalah fasilitas infrastruktur energi.

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa pada malam hari, musuh menggunakan lebih dari 450 drone dan lebih dari tiga lusin rudal. Serangan itu ditujukan pada fasilitas yang menjamin kehidupan normal warga Ukraina. (yn)

Setiap Hembusan Napas adalah Awal yang Baru, Setiap Tantangan adalah Kesempatan untuk Tumbuh

EtIndonesia. Di dunia ini, setiap orang membawa kisah hidupnya masing-masing. Mungkin kamu sedang berada di titik terendah, mungkin kamu sedang berjuang meraih mimpi yang sering membuatmu tersandung, atau mungkin kamu tengah bergulat dengan ketidakpastian hidup.

Ketika rasa lelah, cemas, dan keraguan mulai menyelimuti hati, ingatlah satu hal sederhana namun sangat dalam maknanya: Setiap hembusan napas adalah awal yang baru; setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh.

Napas: Irama Kehidupan yang Membawa Harapan

Bernapas adalah ritme paling mendasar dari kehidupan. Saat kita menarik napas, kita membawa oksigen baru ke dalam tubuh; saat kita menghembuskannya, kita melepaskan kelelahan dan beban yang menyesakkan.

Siklus yang tampak begitu biasa ini sesungguhnya menyimpan makna yang mendalam —  apa pun yang telah terjadi, berapa pun banyaknya penyesalan dan luka kemarin, selama kita masih bernapas, berarti selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.

Hidup tidak menunggu sampai besok untuk berubah; setiap tarikan dan hembusan napas yang kita ambil adalah momen kebangkitan itu sendiri.

Kehidupan Ada di “Sekarang”

Sering kali kita terjebak dalam penyesalan masa lalu atau kecemasan akan masa depan, hingga melupakan sesuatu yang paling berharga — saat ini.

Padahal, ketika kita menyadari setiap tarikan napas dengan penuh kesadaran, kita diingatkan bahwa “sekarang” adalah satu-satunya kenyataan yang benar-benar ada.

Kamu bisa memilih, di detik ini juga, untuk melepaskan kekhawatiran yang menekan dada, dan memberi dirimu kesempatan untuk memulai dari awal lagi.

Sebab seperti malam yang panjang pun akhirnya akan berakhir dengan fajar,  selama napas masih mengalir, selalu ada harapan untuk berbalik arah.

Tantangan: Wajah Lain dari Pertumbuhan

Tantangan sesungguhnya adalah nama lain dari pertumbuhan. Kita sering takut menghadapi tantangan karena dia membawa ketidakpastian, risiko, dan kemungkinan gagal.

Namun, tanpa badai, bagaimana kapal bisa berlayar menuju samudra yang lebih luas?  Tanpa ujian, bagaimana kita tahu seberapa jauh kemampuan kita dapat melangkah?

Tantangan memang bisa menyakitkan, tetapi ia juga seperti cermin — memantulkan ketangguhan dan potensi yang tersembunyi di dalam diri kita.

Dari Luka Menjadi Kekuatan

Coba ingat kembali masa-masa tersulit dalam hidupmu. Mungkin saat itu kamu merasa tak mampu bertahan, bahkan ingin menyerah. Namun ketika kamu berhasil melewatinya dan menoleh ke belakang, kamu akan menyadari: justru dari penderitaan itulah kamu tumbuh — menjadi lebih berani, lebih kuat, dan lebih dewasa.

Setiap tantangan adalah “pelajaran pertumbuhan” yang dikirim oleh kehidupan. Mungkin terasa berat, tetapi pada akhirnya, dialah yang membentuk kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Berhenti Sejenak, Bernapas, dan Mulai Lagi

Ketika jalan terasa kabur dan hati penuh kebingungan, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam… lalu hembuskan perlahan.

Katakan pada dirimu sendiri: “Saat ini adalah awal yang baru.”

Tak peduli bagaimana kemarin berlalu, hari ini masih bisa menjadi titik balik. Tak peduli seberapa sulit keadaan sekarang, bisa jadi inilah awal dari masa pertumbuhanmu yang berikutnya.

Hidup: Perjalanan Panjang Penuh Warna

Hidup bukanlah jalan lurus yang tenang dan mudah, melainkan perjalanan panjang yang penuh tanjakan dan turunan. Kadang hari terasa cerah, kadang badai datang tanpa diduga.
Namun justru karena itulah, kita bisa menemukan makna, keteguhan, dan kebijaksanaan di setiap langkah.

Ketika kita belajar menganggap tantangan sebagai hadiah dan napas sebagai sumber kekuatan, hidup tidak lagi sekadar tentang bertahan, melainkan tentang lahir kembali — berulang kali, dengan hati yang semakin matang dan bijak.

Kekuatan untuk Bangkit Kembali

Sahabatku, mungkin saat ini kamu merasa lelah, atau sedang berhadapan dengan masalah yang belum tahu ujungnya. Namun percayalah — tidak ada satu pun tantangan yang hadir tanpa makna. Di baliknya, selalu tersembunyi peluang untuk tumbuh.

Ingatlah juga: setiap kali kamu bernapas, itu adalah pesan lembut dari kehidupan yang berkata, “Kamu masih punya kekuatan untuk memulai lagi.”

Semoga di setiap momen letih, kamu menemukan ritme napas yang menenangkan dan menyalakan harapan. Semoga di setiap tantangan, kamu menemukan keberanian yang terpendam dan memeluk proses pertumbuhanmu.

Karena sesungguhnya, keindahan hidup lahir dari keberanian untuk bangkit — lagi dan lagi. (jhn/yn)

Internet Diblokir di Islamabad dan Rawalpindi Menjelang Protes Anti-Israel di Pakistan

EtIndonesia. Pemerintah Shehbaz Sharif di Pakistan telah memblokir internet di ibu kota, Islamabad, dan di Rawalpindi menjelang protes anti-Israel yang diserukan oleh partai politik Islam Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP). Kelompok Islamis tersebut dilaporkan kesal dengan pemerintah Sharif dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir karena “menyerah secara memalukan” kepada Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dengan mendukung kesepakatan damai Gaza.

Menurut laporan media Pakistan, keamanan juga telah diperketat di kota kembar tersebut menjelang “Pawai Sejuta Aqsa” kelompok Islamis tersebut dari Faizabad ke Kedutaan Besar Amerika di Islamabad pada hari Jumat.

Pihak berwenang berencana untuk memblokir persimpangan utama dan jalan-jalan utama di kedua kota tersebut untuk menjaga keamanan dan ketertiban, menurut laporan dari publikasi Pakistan, The National.

Laporan tersebut menyatakan bahwa di Rawalpindi, polisi telah mulai menahan kontainer dan trailer sebagai bagian dari persiapan untuk mengendalikan kerusuhan. Pihak berwenang menempatkan kendaraan-kendaraan ini di sepanjang jalan dan akan menggunakannya untuk memblokir jalan jika diperlukan.

Di Islamabad, kontainer telah ditempatkan di dekat Persimpangan Faizabad untuk mengantisipasi protes. Kepolisian ibu kota juga telah mulai menahan para pemimpin TLP setempat dan telah menangkap 280 orang, lapor Dawn.

Selain itu, Kementerian Dalam Negeri Pakistan telah menginstruksikan Otoritas Telekomunikasi Pakistan (PTA) untuk menangguhkan layanan seluler dan internet di kedua kota tersebut mulai tengah malam pada hari Jumat untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Beberapa lembaga pendidikan juga telah mengumumkan penutupan mengingat demonstrasi tersebut dan persiapan negara untuk mengatasinya.

Di sisi lain, TLP telah meminta kepolisian Islamabad untuk menjaga keamanan demonstrasinya, yang menurut partai tersebut, bertujuan untuk mengekspresikan solidaritas dengan rakyat Palestina di Gaza. (yn)

Grand Mercure Malang Mirama Rayakan 4 Tahun Berkarya dengan Harmoni Budaya Jawa-Tionghoa

0

Malang, 10 Oktober 2025 – Genap empat tahun sejak pertama kali dibuka pada 10 Oktober 2021, Grand Mercure Malang Mirama terus mengukuhkan posisinya sebagai hotel premium perdana terkemuka di Malang Raya dari Accor Group. Perayaan ulang tahun ke-4 ini mengusung tema spesial “Harmoni dalam Perpaduan Budaya”, yang mengangkat akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa sebagai wujud kekayaan identitas lokal.

🎎 Perpaduan Budaya yang Elegan dan Bermakna

Perayaan ini menghadirkan nuansa unik melalui:

  • 👘 Dress code beskap dan kebaya untuk tamu undangan
  • 🦁 Pertunjukan barongsai dari Klenteng Eng An Kiong
  • 🧧 Ritual Cai Qing Bao tradisi simbolis budaya Tionghoa
  • 🎶 Nuansa tradisional Jawa yang anggun dan berkelas

💬 Sambutan Penuh Makna dari Pimpinan

Bapak Yohan Setia Putra, Direktur Utama PT. Mirama Wisata, menyampaikan: “Selamat kepada seluruh tim di usia yang ke-4 Grand Mercure Malang Mirama. Tetap konsisten dan tidak boleh cepat puas dalam memberikan pelayanan yang prima dan berkualitas sesuai dengan brand Grand Mercure sebagai premium hotel.”

Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, menambahkan: “Empat tahun bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari kerja keras, dedikasi, dan kepercayaan dari para karyawan kami. Kami semakin berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan pengalaman menginap terbaik.”

🌟 Pencapaian Empat Tahun Grand Mercure Malang Mirama

AspekPencapaian
Perioperasi10 Oktober 2021 – 10 Oktober 2025
JaringanBagian dari Accor Group
PositioningHotel premium perdana di Malang Raya
KontribusiPusat kegiatan bisnis, budaya, & pariwisata

🎊 Kemeriahan Acara Perayaan

Acara perayaan berlangsung dengan:

  • ✨ Suasana hangat penuh semangat kebersamaan
  • 🎭 Pertunjukan budaya yang memukau
  • 🥂 Momentum kebersamaan dengan seluruh tim dan mitra
  • 🏨 Tur keliling lobby dengan barongsai

Program Kuliner Lokal dengan Sentuhan Modern

Surabaya, 9 Oktober 2025 – ARTOTEL TS Suites Surabaya kembali menghadirkan program kuliner spesial “Dine Like A Local Vol. 4 – Embrace the Local Flavor” sebagai bagian dari kampanye nasional ARTOTEL Group bertema “Wondrous Rasa”. Acara peluncuran berlangsung pada Kamis, 9 Oktober 2025 di One Deck Gastropub, lantai UG hotel.

🎯 Hidangan Autentik Jawa Timur dengan Harga Terjangkau

Program ini menawarkan ragam hidangan khas Surabaya dan Jawa Timur yang dikreasikan dengan cita rasa autentik namun mudah dinikmati berbagai kalangan. Semua sajian dapat dinikmati mulai dari Rp35.000 saja.

🍛 Menu Spesial “Embrace The Local Flavor”

KategoriPilihan Menu
Hidangan UtamaAyam Lodho, Nasi Bebek, Nasi Babat, Nasi Goreng Dukduk, Soto Daging
Minuman TradisionalAngsle, Ronde, Teh Talua, Es Cendol Dawet, Es Doger

💬 Komitmen Menghadirkan Rasa Nusantara

Teddy Patrick, S.E., M.Par., CHA., General Manager ARTOTEL TS Suites Surabaya, menyatakan: “Melalui program Dine Like A Local, kami ingin mengajak para tamu untuk mengenal lebih dekat kekayaan kuliner Indonesia, khususnya hidangan khas Jawa Timur, dengan cita rasa yang autentik namun tetap terjangkau.”

📅 Periode Program & Lokasi

  • 🕐 Waktu: Oktober – Desember 2025
  • 📍 Tempat: One Deck Gastropub, Lantai UG
  • ⏰ Jam Operasional: Buka 24 jam dengan live music harian

Setia Hingga Akhir: Pasangan Lansia yang Telah Bersama 70 Tahun Memilih Eutanasia Bersama

EtIndonesia. Cinta sejati tidak selalu berawal dengan cerita yang panjang, tetapi kadang dimulai hanya dengan sebuah tatapan yang tak bisa dilupakan. Di Kanada, sepasang suami istri — George dan Shirley Brickenden — membuktikan arti sejati dari kalimat “hingga maut memisahkan.”

Mereka bertemu pada tahun 1944, jatuh cinta dalam enam hari, menikah, dan hidup berdampingan selama 73 tahun penuh cinta dan kebersamaan. 

Ketika usia mereka telah mencapai sembilan puluh tahun dan tubuh mulai rapuh oleh penyakit, pasangan ini mengambil keputusan yang mengguncang banyak hati:  mereka memilih untuk meninggalkan dunia ini bersama, melalui eutanasia sukarela.

Cinta yang Berawal dari Takdir

Menurut laporan media, pertemuan mereka benar-benar seperti takdir yang telah diatur. George, seorang perwira angkatan laut yang tampan dan karismatik, kala itu dikelilingi banyak pengagum. Namun, atas permintaan ibunya, dia tetap menghadiri sebuah perjodohan yang semula dia anggap membosankan.

Di pertemuan itulah dia bertemu Shirley, seorang wanita berusia 21 tahun yang saat itu bertugas di angkatan udara. Begitu melihatnya, George langsung terpesona. Dia tahu, di hadapannya berdiri wanita yang ingin dia cintai seumur hidupnya.

Hanya enam hari setelah pertemuan pertama, George melamar Shirley — dan tanpa ragu, Shirley berkata: “Ya.”

Cinta pada pandangan pertama ternyata bukan hanya milik film, karena sejak hari itu, mereka benar-benar berjalan bersama dari rambut hitam hingga memutih.

Tujuh Puluh Tiga Tahun Cinta Tanpa Jarak

Selama lebih dari tujuh dekade, rumah tangga mereka penuh kasih dan saling pengertian.

Mereka membesarkan empat orang anak, dan dalam setiap tahap kehidupan, mereka selalu berjalan beriringan.

Shirley mencintai seni lukis — George akan menemaninya ke pameran. George menyukai musik — Shirley akan ikut duduk di sisinya menikmati konser.

Anak kedua mereka pernah berkata dalam wawancara: “Ayah dan Ibu benar-benar saling mencintai. Selama bertahun-tahun, mereka hampir tak pernah terpisah. Bahkan ketika Ibu hanya ingin membeli sepasang kaus kaki, Ayah akan ikut menemaninya. Mereka selalu berjalan bersama — kemana pun, kapan pun.”

Janji yang Tak Pernah Terucap Palsu

Namun, waktu tidak bisa dibendung. Memasuki usia lanjut, keduanya mulai menderita berbagai penyakit. Pada tahun 2016, Shirley sempat dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. George menunggu di luar ruang operasi dengan wajah tegang dan mata yang tak berhenti berkaca-kaca.

Ketika operasi selesai dan Dia diizinkan menjenguk istrinya, George memegang tangan Shirley erat-erat dan berkata dengan suara bergetar: “Jangan pergi, ya. Kalau AKU kehilangan kamu… aku tak tahu bagaimana harus hidup.”

Shirley menatapnya lembut dan menjawab: “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”

Keputusan yang Menggetarkan Banyak Hati

Ketika kondisi fisik mereka semakin melemah dan rasa sakit makin tak tertahankan, pasangan ini menyadari bahwa cepat atau lambat, salah satu dari mereka akan lebih dulu pergi — meninggalkan yang lain dalam kesepian panjang.

Mereka tidak ingin itu terjadi. Mereka ingin mengakhiri hidup bersama, seperti halnya mereka menjalani hidup bersama.

Ketika mengungkapkan keputusan itu kepada anak-anak mereka, pada awalnya keluarga merasa sulit untuk menerima. Namun setelah berdiskusi panjang, anak-anak mereka akhirnya memilih menghormati keinginan kedua orangtuanya.

Hari Terakhir Bersama

Tanggal 27 Maret 2018, seluruh keluarga berkumpul di rumah George dan Shirley. Mereka mengadakan perjamuan terakhir yang penuh kehangatan — makan malam bersama, tertawa, bernostalgia, dan berfoto keluarga.

Setelah malam yang indah itu, George dan Shirley masuk ke kamar mereka, berbaring berdampingan di ranjang, saling menggenggam tangan dan saling menatap dengan senyum.

Dengan suara lembut, mereka berkata kepada anak-anak yang berdiri di sisi ranjang: “Kami mencintai kalian semua.”

Beberapa menit kemudian, di bawah pengawasan dua dokter, pasangan ini pergi bersama dengan tenang.

Tentang Eutanasia di Kanada

Kanada melegalkan eutanasia pada tahun 2016. Namun hukum ini sangat ketat: hanya diperbolehkan jika kematian pasien sudah “dapat diperkirakan secara wajar”, dan jika pasien menderita rasa sakit yang tak tertahankan serta penurunan fungsi tubuh yang tak bisa dipulihkan.

George dan Shirley memenuhi semua syarat itu, tetapi lebih dari sekadar kondisi medis, mereka menunjukkan bahwa keputusan mereka adalah tentang cinta yang setia hingga akhir.

Cinta yang Tidak Mati

Kisah mereka menyebar ke seluruh dunia, menjadi simbol dari kesetiaan yang melampaui waktu dan tubuh.  Mereka telah mengajarkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang bertahan hidup bersama, tetapi juga berani menghadapi kematian bersama, tanpa ketakutan, tanpa penyesalan.

Mereka datang ke dunia ini sebagai dua orang asing, bertemu, saling jatuh cinta, membangun keluarga, dan akhirnya meninggalkan dunia dengan tangan masih saling menggenggam.

“Cinta sejati bukanlah tentang seberapa lama kamu bisa bertahan hidup tanpa kehilangan seseorang, tetapi tentang bagaimana kamu memilih untuk tidak pernah berpisah — bahkan dalam kematian.”

George & Shirley Brickenden (1910s–2018)
Setia hingga akhir, cinta mereka tak lekang oleh waktu.(jhn/yn)

AS Kerahkan 200 Personel untuk Satgas Gaza, Namun Tidak Akan Terlibat Operasi di Wilayah Gaza

EtIndonesia. Amerika Serikat akan menugaskan 200 personel militer dari Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk bergabung dalam satuan tugas gabungan yang mengawasi stabilitas Gaza, tanpa mengerahkan pasukan ke wilayah kantong Palestina tersebut, demikian diumumkan pemerintahan Trump pada 9 Oktober.

Dua pejabat senior pemerintahan AS mengonfirmasi langkah itu kepada wartawan, sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok Hamas telah menyetujui rencana perdamaian yang disusun oleh Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut mencakup pembebasan seluruh sandera yang tersisa serta penerapan gencatan senjata antara kedua pihak.

Menurut Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, pasukan itu akan bertugas memantau pelaksanaan perjanjian damai di Israel dan bekerja sama dengan pasukan internasional lainnya di lapangan.

Leavitt menjelaskan bahwa para prajurit tersebut sudah berada di bawah komando CENTCOM, salah satu komando tempur terpadu Departemen Pertahanan AS yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, Afrika Utara, serta sebagian Asia Selatan dan Tengah.

Markas utama CENTCOM terletak di Pangkalan Angkatan Udara MacDill, Tampa, Florida.

Pejabat senior AS menambahkan, satuan tugas gabungan itu akan melibatkan perwakilan militer dari Mesir, Qatar, Turki, dan kemungkinan juga Uni Emirat Arab.

Seorang pejabat mengatakan, komandan CENTCOM akan bertugas mengawasi dan memastikan tidak terjadi pelanggaran atau serangan apa pun di lapangan.

“Tidak ada pasukan AS yang akan masuk ke Gaza,” tegas pejabat tersebut. “Peran mereka hanyalah membantu membentuk pusat kendali gabungan dan mengoordinasikan kehadiran pasukan keamanan internasional lainnya yang akan ditempatkan di sana untuk menghindari benturan dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) serta membangun struktur komando yang tepat untuk menjalankan misi sebagaimana ditetapkan.”

Lokasi pasti penempatan pasukan AS masih belum diputuskan, namun pejabat tersebut mengatakan informasi lebih lanjut akan diumumkan dalam waktu dekat.

Pejabat lainnya menjelaskan bahwa terobosan utama dalam negosiasi Israel–Hamas terjadi ketika kedua pihak sepakat membagi kesepakatan menjadi dua tahap, dengan pembebasan sandera sebagai langkah pertama.

“Kami menyadari bahwa Hamas tidak membutuhkan para sandera untuk mempertahankan posisi politiknya. Justru dengan membebaskan mereka, hal itu bisa membawa dampak positif dan membuka jalan bagi langkah berikutnya. Tapi proses ini memerlukan banyak pembangunan kepercayaan,” ujar salah satu pejabat.

“Saya kira kesepakatan ini sangat komprehensif—interaksi antar pihak sangat intens—sehingga akhirnya semua pihak bisa melihat garis akhir yang sama, dan mereka siap melangkah ke sana,” tambahnya.

Tak lama setelah pernyataan itu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa kabinetnya telah menyetujui kerangka kesepakatan dengan Hamas untuk pembebasan sandera serta pelaksanaan gencatan senjata di Gaza.

Sumber : The Epoch Times

‘Nobel untuk Trump’: Dukungan Petani Israel Menjelang Pengumuman Hadiah Nobel Perdamaian

EtIndonesia. Beberapa jam sebelum pengumuman Hadiah Nobel Perdamaian, Presiden AS, Donald Trump menerima dukungan dari para petani Israel yang menggunakan traktor untuk membajak pesan di lahan pertanian. Pesan itu bertuliskan, “Nobel untuk Trump.”

Sebuah video yang diunggah ke X menunjukkan traktor membajak pesan tersebut di ladang yang luas. Klip tersebut diakhiri dengan foto udara yang memperlihatkan teks lengkapnya.

“Sekelompok veteran Perang Yom Kippur membajak pesan ucapan terima kasih kepada Presiden Trump di ladang-ladang di lembah,” demikian bunyi keterangan video.

Penghormatan ini muncul setelah Trump menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Perjanjian tersebut merupakan bagian dari Rencana Perdamaian Gaza Trump, yang diumumkan pada 29 September, untuk menghentikan perang dan menyusun rencana untuk membangun kembali dan mengelola jalur sempit tersebut.

Berdasarkan rencana tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata, penarikan pasukan Israel, dan pertukaran sandera-tahanan. Proposal tersebut juga menyerukan pelucutan senjata Hamas, dan agar Gaza diperintah oleh para pemimpin Palestina yang independen di bawah pengawasan internasional.

Pasukan penjaga perdamaian dan rekonstruksi multinasional akan mengawasi bantuan kemanusiaan dan upaya pembangunan kembali.

Israel dan Hamas menyetujui tahap pertama rencana tersebut pada 8 Oktober, dengan fokus pada gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Kabinet Israel menyetujui perjanjian tersebut keesokan harinya, dan ditandatangani secara resmi di Mesir pada 9 Oktober. Diskusi mengenai tahap-tahap selanjutnya, termasuk masa depan politik Gaza, masih berlangsung.

Dalam rapat Kabinet pada Kamis pagi, Trump merayakan kesepakatan tersebut sebagai bagian dari catatan pencapaian perdamaian selama masa kepresidenannya.

“Kami telah menyelesaikan tujuh perang, atau konflik besar, dan ini adalah yang kedelapan,” ujarnya kepada para wartawan. “Yang saya pikir akan menjadi yang tercepat adalah Rusia-Ukraina dan saya pikir itu juga akan terjadi.”

Sebelumnya, dalam pidatonya pada 23 September di sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Trump membanggakan bahwa dalam tujuh bulan setelah menjabat, pemerintahannya telah mengakhiri tujuh “perang yang tak berkesudahan”.

Dia menyebutkan konflik-konflik yang diklaimnya telah diselesaikan, termasuk yang melibatkan Kamboja dan Thailand, Serbia, Kongo dan Rwanda, Pakistan dan India, Israel dan Iran, Mesir dan Etiopia, serta Armenia dan Azerbaijan.

Trump secara terbuka mengatakan bahwa dia pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian, dengan mengatakan bahwa karyanya dalam perjanjian perdamaian seperti Perjanjian Abraham dan gencatan senjata baru-baru ini patut mendapat pengakuan. Pemerintahannya secara aktif mempromosikan pencalonannya, dengan dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Anggota Kongres AS Buddy Carter.(yn)