Tabrakan Antar Kapal Militer Tiongkok Tewaskan 2 Personil, Analis: Ambisi Hegemoni Mengungkap Kekacauan di Tubuh Militer

Tahun lalu, sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok bertabrakan dengan kapal perusak Angkatan Laut Tiongkok sendiri saat mengejar kapal patroli Filipina di Laut Tiongkok Selatan. Rekaman insiden tersebut sempat mengejutkan dunia internasional, tetapi otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghapus seluruh video dan diskusi terkait. Baru setahun kemudian, ketika menganugerahkan gelar yang disebut sebagai “martir”, PKT secara tidak langsung mengakui bahwa dua personel Penjaga Pantai Tiongkok tewas dalam insiden tersebut. Sejumlah analis menilai tujuan PKT adalah menutupi kegagalan operasi gabungan antara angkatan laut dan penjaga pantai serta kekacauan dalam sistem komando militernya.

EtIndonesia.com Media resmi PKT, Yangguang Junshi, pada 5 Agustus mengumumkan bahwa empat orang dianugerahi gelar “Penjaga Setia Polisi Bersenjata” secara anumerta. Di antaranya, dua anggota Penjaga Pantai Tiongkok, Yi Xinyu dan Cheng Long, dilaporkan meninggal saat menjalankan apa yang disebut sebagai “operasi perlindungan hak” di Laut Tiongkok Selatan pada 11 Agustus 2025.

Karena tanggal kematian mereka sama persis dengan tanggal insiden tabrakan antara kapal Penjaga Pantai Tiongkok bernomor 3104 dan kapal perusak berpeluru kendali Guilin milik Angkatan Laut Tiongkok tahun lalu, hal ini dianggap sebagai pengakuan tidak langsung bahwa kecelakaan tabrakan antar kapal milik sendiri tersebut setidaknya menewaskan dua orang, setelah fakta itu ditutup-tutupi selama satu tahun.

“Ini benar-benar memalukan. Entah disebabkan intrik politik, pelatihan yang buruk, konflik antara penjaga pantai dan angkatan laut, atau kemampuan operasi gabungan yang sangat lemah, semuanya merupakan hal yang memalukan. Karena itulah, meskipun para prajurit yang tewas saat bertugas harus diberi gelar martir atau penghargaan, pengumuman dan pemberian penghargaan itu baru dilakukan satu tahun kemudian,” ujar peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi.  

Setelah tabrakan terjadi, Penjaga Pantai Filipina segera menyampaikan melalui radio bahwa mereka siap memberikan obat-obatan dan bantuan medis. Namun, pihak PKT tidak memberikan tanggapan apa pun dan tetap melanjutkan pengejaran terhadap kapal Filipina. Operasi pencarian dan penyelamatan baru dilakukan sendiri sekitar satu jam kemudian.

Insiden tersebut menuai kecaman karena PKT dinilai mengambil tindakan berisiko tinggi yang justru mengakibatkan jatuhnya korban di pihak sendiri. Yang lebih memicu kontroversi adalah media-media PKT memilih bungkam mengenai kecelakaan fatal tersebut, sementara video, foto, dan pembahasan terkait dihapus dalam skala besar.

“Kemungkinan penjaga pantai dan angkatan laut sama-sama berusaha menjadi yang pertama mencegat atau memaksa kapal patroli Filipina mengubah arah. Namun, karena komunikasi dan koordinasi antara kedua kapal tidak memadai, akhirnya terjadilah tabrakan tersebut,” tambah Shen Mingshi. 

Para analis menilai bahwa pendekatan PKT yang bersifat hegemonik dalam mendorong ekspansi di Laut Tiongkok Selatan tidak hanya meningkatkan ketegangan di kawasan, tetapi juga memperlihatkan kelemahan dan kekacauan dalam sistem militernya sendiri. 

Para pengamat mengkritik bahwa di satu sisi PKT berupaya menunjukkan kekuatan militernya kepada dunia, tetapi di sisi lain menghindari pengakuan atas kesalahan sendiri. Kurangnya transparansi ini kembali memicu kecaman dari masyarakat internasional.

Laporan oleh reporter NTD Television, Yi Xin dan Qiu Yue

PKT Dituduh Melancarkan Perang Opini untuk Menyerang Shen Yun, Mantan Pejabat CIA Serukan Penyelidikan

EtIndonesia.com Dalam beberapa tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok (PKT) dituduh memanfaatkan media Amerika Serikat, termasuk The New York Times, sebagai alat untuk melancarkan perang opini yang ditujukan terhadap Shen Yun Performing Arts dan kelompok Falun Gong. Mantan pejabat antiterorisme Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Tony Sapia, baru-baru ini menyatakan bahwa CIA dan Biro Investigasi Federal (FBI) seharusnya melakukan penyelidikan dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak terkait sesuai hukum.

Dalam wawancara dengan The Epoch Times, Sapia mengatakan bahwa Amerika Serikat menjamin kebebasan pers. Namun, jika persoalan tersebut berkaitan dengan PKT, maka situasinya berbeda. 

Menurutnya, apabila tindakan tersebut berasal dari negara asing yang dianggap bermusuhan dan berupaya menjalankan operasi pengaruh melalui media Amerika Serikat, maka hal itu bukan lagi sekadar persoalan kebebasan pers, melainkan menyangkut keamanan nasional. Karena itu, CIA dan FBI perlu bekerja sama untuk mengungkap fakta dan menghentikan operasi tersebut.

Sejak Maret 2024, The New York Times telah menerbitkan sejumlah artikel yang mengkritik Shen Yun Performing Arts dan Falun Gong. Setelah itu, artikel-artikel tersebut disebarluaskan secara luas oleh banyak akun bot di platform media sosial X. Pihak X kemudian mengkonfirmasi bahwa sebagian akun tersebut terlibat dalam aktivitas terkoordinasi yang tidak autentik dan berkaitan dengan jaringan propaganda PKT, sehingga ribuan akun palsu dihapus.

Akademisi hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, sebelumnya mengungkap kepada The Epoch Times bahwa pemimpin PKT Xi Jinping dalam sebuah pertemuan rahasia pada tahun 2022 memerintahkan penggunaan “perang opini” dan “perang hukum” serta berbagai cara lainnya untuk meningkatkan tekanan terhadap Shen Yun Performing Arts dan Falun Gong di luar negeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai dugaan mengenai upaya PKT memengaruhi narasi media Amerika Serikat juga terus bermunculan.

Sebelumnya, koresponden Gedung Putih Natalie Winters mengungkap di platform X bahwa China-United States Exchange Foundation pernah mengorganisasi dan mendanai sejumlah tokoh media arus utama Amerika Serikat untuk berkunjung ke Tiongkok, bahkan mengunjungi pangkalan militer. Setelah kembali, mereka disebut menerbitkan pernyataan dan laporan yang dianggap bersimpati kepada PKT.

Sapia mengatakan bahwa karena pernah bertugas sebagai pejabat kontra intelijen CIA, ia memahami operasi pengaruh PKT di luar negeri. 

Menurutnya, tindakan PKT yang disebut melakukan infiltrasi, propaganda, dan penindasan lintas negara terhadap Shen Yun Performing Arts serta Falun Gong mengancam kedaulatan dan keamanan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat seharusnya melakukan penyelidikan sesuai hukum, membersihkan pengaruh tersebut, dan meminta pertanggungjawaban para pelanggar.

Laporan gabungan oleh Xiao Chang, NTD Television.

Jangkau Pulau Terluar, BI Jatim dan TNI AL Perkuat Kedaulatan Rupiah lewat Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026

SURABAYA – Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kembali memperkuat kehadiran layanan Rupiah hingga wilayah kepulauan. Melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) Mandiri Jawa Timur 2026, BI akan menjangkau tiga wilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep, yakni Pulau Sapudi, Pulau Raas, dan Pulau Tanjung Kiaok.

Ekspedisi yang berlangsung 6–10 Agustus 2026 tersebut bukan sekadar kegiatan distribusi uang tunai. BI menempatkan ERB sebagai bagian dari upaya memastikan masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil memperoleh akses terhadap uang Rupiah yang berkualitas dan layak edar, sekaligus memperkuat literasi masyarakat mengenai Rupiah.

Pelepasan tim ERB Mandiri Jawa Timur 2026 dilakukan di Dermaga Komando Armada II TNI Angkatan Laut, Surabaya, Kamis (6/8/2026). Seremonial tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur, pimpinan Komando Armada II TNI AL, pimpinan wilayah perbankan, serta mitra strategis Bank Indonesia.

Rupiah Bukan Sekadar Alat Pembayaran

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menegaskan, ekspedisi tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar membawa uang Rupiah menuju wilayah kepulauan.

Menurutnya, ERB merupakan bagian dari upaya menghadirkan negara melalui pemerataan pelayanan uang Rupiah kepada masyarakat.

“Ekspedisi Rupiah Berdaulat bukan sekadar perjalanan membawa uang Rupiah. Kegiatan ini merupakan perjalanan menghadirkan negara, memperluas jangkauan pelayanan, dan memastikan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan memperoleh hak yang sama untuk menggunakan uang Rupiah yang berkualitas dan layak edar,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa distribusi uang Rupiah memiliki dimensi ekonomi sekaligus kebangsaan. Di wilayah kepulauan yang secara geografis memiliki tantangan akses lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan, ketersediaan uang tunai yang layak edar menjadi bagian penting dari kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.

Terlebih, transaksi ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah kepulauan masih membutuhkan uang tunai. Karena itu, memastikan ketersediaan Rupiah dalam kondisi baik menjadi salah satu bagian penting dari layanan sistem pembayaran.

Tiga Fokus ERB Jawa Timur

Dalam pelaksanaan ERB Mandiri Jawa Timur 2026, BI membawa tiga agenda utama.

Pertama, memperkuat Rupiah sebagai simbol kedaulatan dan pemersatu bangsa.

Kedua, memperluas pemerataan layanan uang Rupiah sekaligus meningkatkan literasi masyarakat.

Ketiga, memperkuat sinergi antar lembaga untuk memperluas akses keuangan dan mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah kepulauan.

Ketiga agenda tersebut menjadi penting karena pemerataan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan akses terhadap barang dan jasa, tetapi juga mencakup akses terhadap sistem pembayaran dan layanan keuangan.

Kehadiran BI bersama TNI AL, pemerintah daerah, perbankan dan mitra strategis diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat di wilayah yang menjadi tujuan ekspedisi.

Dari Penukaran Uang hingga Edukasi Rupiah

Salah satu kegiatan utama ERB 2026 adalah memberikan layanan penukaran uang Rupiah kepada masyarakat.

Layanan tersebut merupakan bagian dari penerapan kebijakan clean money policy, yaitu upaya menjaga agar uang yang beredar di masyarakat tetap dalam kondisi layak edar.

Bagi masyarakat, program penukaran uang memiliki manfaat praktis. Uang yang lusuh, rusak, atau tidak layak edar dapat ditukarkan sehingga masyarakat memperoleh uang dengan kondisi yang lebih baik untuk digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Namun, ERB tidak berhenti pada aspek layanan penukaran uang.

Tim ekspedisi juga akan memberikan edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah kepada masyarakat di wilayah yang dikunjungi.

Edukasi tersebut mencakup pemahaman mengenai ciri keaslian Rupiah, cara memperlakukan dan merawat uang Rupiah, penggunaan Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta peran Rupiah dalam perekonomian nasional.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh akses terhadap uang yang layak edar, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana memperlakukan Rupiah secara benar.

Sinergi BI dan TNI AL

Pemilihan wilayah kepulauan sebagai sasaran ERB juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam memberikan pelayanan publik.

Secara geografis, menjangkau pulau-pulau yang terpisah dari pusat pemerintahan membutuhkan dukungan transportasi dan logistik. Dalam konteks inilah sinergi antara BI dan TNI AL menjadi strategis.

TNI AL memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas menuju wilayah kepulauan, sementara BI membawa mandat dalam pengelolaan dan pengedaran Rupiah.

Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa menjaga kedaulatan Rupiah membutuhkan kerja bersama, bukan hanya tugas satu lembaga.

Menjaga Uang, Menjaga Aktivitas Ekonomi

Dari perspektif ekonomi, keberadaan Rupiah yang layak edar merupakan bagian dari infrastruktur dasar sistem pembayaran.

Uang tunai masih memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi kelompok masyarakat dan wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan pembayaran digital.

Karena itu, pemerataan kualitas dan ketersediaan uang Rupiah menjadi salah satu faktor pendukung agar transaksi ekonomi dapat berlangsung dengan lancar.

Di sisi lain, edukasi mengenai Rupiah juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengenali uang asli dan memperlakukannya dengan baik. Pengetahuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan aktivitas ekonomi dan sistem pembayaran yang semakin beragam.

ERB kemudian menjadi jembatan antara kebijakan nasional dengan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal.

Membawa Semangat Inklusivitas ke Wilayah Kepulauan

Ekspedisi Rupiah Berdaulat Jawa Timur 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai uang yang dibawa dari pusat ke daerah. Lebih jauh, kegiatan tersebut membawa pesan mengenai pemerataan akses ekonomi.

Masyarakat Pulau Sapudi, Pulau Raas, dan Pulau Tanjung Kiaok menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Jawa Timur dan Indonesia. Karena itu, akses terhadap layanan Rupiah dan edukasi keuangan juga perlu diberikan secara merata.

BI Jawa Timur bersama Pemprov Jatim, TNI AL, perbankan, pemerintah daerah, dan berbagai mitra strategis berkomitmen memperluas jangkauan layanan Rupiah sekaligus meningkatkan literasi masyarakat.

Bagi BI, Rupiah bukan hanya alat untuk membayar barang dan jasa. Rupiah merupakan simbol kedaulatan, identitas bangsa, sekaligus pemersatu masyarakat Indonesia dari pusat hingga wilayah kepulauan.

Melalui ERB 2026, pesan tersebut dibawa langsung ke tengah masyarakat: semakin jauh jangkauan layanan Rupiah, semakin kuat pula kehadiran negara dalam memastikan seluruh masyarakat memiliki akses yang setara terhadap sistem ekonomi dan pembayaran nasional.

Roket SpaceX Menghantam Bulan dengan Kecepatan Tinggi, NASA Merilis Rekaman yang Mengesankan

EtIndonesia.com Sebuah roket bekas milik SpaceX seberat sekitar 4 ton, yang telah melayang di luar angkasa selama lebih dari satu tahun, menghantam permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026) dengan kecepatan hampir 9.000 kilometer per jam. NASA pada Jumat (7/8/2026) merilis rekaman yang mengesankan dari peristiwa tersebut, sekaligus menegaskan bahwa tabrakan semacam ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.

Dalam rekaman terbaru yang dipublikasikan pada Kamis, terlihat jejak yang ditinggalkan setelah roket Falcon 9 menghantam permukaan Bulan.

Benda yang ukurannya kira-kira sebesar sebuah bus sekolah itu merupakan pendorong tahap kedua roket Falcon 9. Benda tersebut menabrak wilayah dekat Kawah Einstein di Bulan pada pukul 02.35 dini hari waktu Amerika Serikat bagian timur, dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam. NASA memperkirakan tabrakan itu menghasilkan kawah berdiameter sekitar 18 meter dan kedalaman sekitar 3,6 meter di permukaan Bulan.

Pada Januari 2025, roket tersebut diluncurkan untuk mengirim dua wahana pendarat Bulan milik perusahaan swasta. Setelah misinya selesai, roket secara bertahap menyimpang dari orbit akibat aktivitas Matahari dan pengaruh gravitasi, lalu melayang di luar angkasa selama lebih dari satu tahun.

NASA sebelumnya telah memperkirakan bahwa puing-puing roket sepanjang sekitar 12 meter dengan berat sekitar 4.000 kilogram itu akan menghantam Bulan pada Rabu dini hari.

Tim peneliti dari Universitas Boston menyatakan bahwa meskipun mereka tidak berhasil merekam momen tabrakan secara langsung, sebuah teleskop di Chili mengamati semburan material yang mengandung unsur logam menyebar ke luar angkasa selama sekitar 5 hingga 10 menit. Para peneliti meyakini bahwa itulah awan puing yang terbentuk akibat benturan tersebut.

“Para ilmuwan sebenarnya sangat menantikan untuk mempelajari tabrakan ini karena dapat membantu kita memahami dengan lebih baik bagaimana cara melacak objek-objek semacam ini di masa depan,” ujar olmuwan Bulan NASA, Kelsey Young. 

Peristiwa ini juga kembali memicu perhatian terhadap masalah sampah antariksa.

Administrator NASA, Isaacman, mengatakan bahwa seiring berkembangnya teknologi roket yang dapat digunakan kembali, insiden serupa yang melibatkan tabrakan dengan Bulan di masa depan diharapkan akan semakin berkurang.

Dilaporkan oleh Liu Jiajia, reporter NTD Television dari Amerika Serikat.

Penembakan di Sekolah Ternama Thailand Tewaskan 7 Orang, Pelaku Diduga Membunuh Kakek dan Neneknya Sebelum Beraksi

EtIndonesia.com  Sebuah sekolah menengah ternama di Provinsi Nonthaburi, Thailand, mengalami serangan penembakan pada Jumat (7/8/2026). Seorang pelaku yang diduga merupakan siswa melepaskan tembakan di lingkungan sekolah. Jumlah korban tewas telah meningkat menjadi tujuh orang, terdiri dari tiga guru, tiga siswa, dan pelaku yang juga merupakan seorang siswa.

Pelaku adalah siswa kelas 9. Ia diduga terlebih dahulu menembak mati kakek dan neneknya sebelum menuju sekolah dan menembak tiga guru serta tiga siswa. Tidak lama kemudian, pelaku juga dilaporkan meninggal dunia.

Menurut media Thailand, penembakan terjadi sekitar pukul 10.00 waktu setempat di sebuah sekolah ternama di Provinsi Nonthaburi, pinggiran utara Bangkok. Laporan awal menyebutkan empat hingga lima orang terluka, namun kemudian jumlah korban tewas dan luka terus bertambah.

Saat penembakan berlangsung, polisi segera menutup area sekolah, sementara para guru mengevakuasi siswa dan staf keluar dari lingkungan sekolah.

Amarin TV melaporkan bahwa Kepala Kepolisian Provinsi Nonthaburi telah mengonfirmasi insiden tersebut kepada media. Polisi saat ini sedang melakukan penyelidikan intensif dan untuk sementara mengidentifikasi pelaku sebagai seorang siswa.

Kemudian, Thai Enquirer melaporkan bahwa polisi telah memastikan pelaku adalah siswa di sekolah tersebut. Polisi juga menemukan puluhan butir amunisi di dalam tas pelaku. Tim medis sempat berusaha menyelamatkannya, namun akhirnya pelaku dinyatakan meninggal dunia.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa daftar korban tewas terdiri dari tiga guru, tiga siswa, serta pelaku yang merupakan siswa kelas 9. Pelaku awalnya bersembunyi di dalam area sekolah. Seorang siswa mengatakan kepada media bahwa pelaku mengenakan seragam olahraga dan melepaskan puluhan tembakan sebelum melarikan diri dari sekolah.

Pihak berwenang menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan meminta masyarakat menunggu informasi resmi. Polisi masih menyelidiki apakah pelaku meninggal karena bundir atau ditembak oleh aparat.

Provinsi Nonthaburi terletak di sebelah barat laut Bangkok dan merupakan bagian dari kawasan metropolitan Bangkok.

Insiden penembakan sekolah terbaru sebelumnya di Thailand terjadi di sebuah sekolah di Hat Yai, Provinsi Songkhla. Pada Februari lalui, seorang pria bersenjata memasuki sekolah dan menembak hingga menewaskan kepala sekolah serta melukai dua orang lainnya. Pelaku yang ditangkap polisi adalah seorang pria berusia 18 tahun.

Sumber : NTDTV.com

BREAKING! Korea Utara Turun Tangan Langsung di Perang Ukraina, Rudal Balistik Siap Hantam Kyiv!

EtIndonesia.com — Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Meskipun pertempuran di garis depan masih berlangsung dalam pola saling tarik-ulur tanpa ada pihak yang mampu meraih keunggulan mutlak, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa eskalasi konflik kini tidak lagi hanya terjadi di medan tempur. 

Persaingan di bidang intelijen, diplomasi, serta penggunaan senjata jarak jauh justru berkembang jauh lebih cepat dan berpotensi mengubah dinamika perang dalam waktu dekat.

Salah satu perkembangan paling penting datang dari laporan badan intelijen Ukraina yang mengungkap keterlibatan militer Korea Utara dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Informasi tersebut menyebutkan bahwa Pyongyang kini tidak lagi sekadar memasok amunisi atau mengirim pasukan infanteri, tetapi mulai mengerahkan sebuah unit rudal balistik lengkap untuk mendukung operasi militer Rusia.

Menurut keterangan yang disampaikan pihak intelijen Ukraina, sebuah unit pasukan rudal balistik Korea Utara telah ditempatkan secara strategis di Oblast Voronezh, wilayah Rusia bagian barat yang berlokasi relatif dekat dengan garis depan perang di Ukraina. Penempatan tersebut dinilai sebagai langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya sejak kerja sama militer kedua negara semakin erat.

Unit tersebut dilaporkan terdiri atas sekitar 90 personel militer Korea Utara yang kini berada di bawah komando Brigade Rudal ke-112 Angkatan Darat Rusia. Penempatan ini menunjukkan bahwa personel Korea Utara tidak lagi hanya berperan sebagai pasukan pendukung, tetapi mulai terlibat langsung dalam pengoperasian sistem persenjataan strategis Rusia.

Selain mengirim personel, Korea Utara juga disebut menyerahkan bantuan persenjataan dalam jumlah besar. Dalam satu paket bantuan militer, Pyongyang dilaporkan memasok 120 rudal balistik beserta enam unit kendaraan peluncur rudal kepada Rusia.

Di antara rudal yang dikirim terdapat KN-23 dan KN-24, dua rudal balistik jarak pendek yang juga dikenal dengan nama Hwasong-11A dan Hwasong-11B. Kedua rudal tersebut memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan rudal Iskander milik Rusia, baik dari sisi kemampuan manuver maupun pola lintasan terbangnya.

Rudal-rudal tersebut memiliki jangkauan operasional sekitar 400 hingga 800 kilometer dan mampu membawa hulu ledak peledak berkekuatan tinggi dengan bobot mencapai sekitar satu ton. Dengan spesifikasi tersebut, senjata ini dinilai mampu menghantam berbagai sasaran strategis, mulai dari fasilitas militer hingga infrastruktur penting di wilayah Ukraina.

Perkembangan ini merupakan kelanjutan dari hubungan militer yang semakin erat antara Moskow dan Pyongyang sejak kedua negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama pada tahun 2024.

Sejak penandatanganan perjanjian tersebut, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un diketahui telah mengirim jutaan butir amunisi artileri untuk mendukung operasi militer Rusia. Selain itu, Korea Utara juga telah mengirim sekitar 14.000 personel militer dalam beberapa gelombang ke wilayah Rusia.

Namun, para pengamat menilai langkah terbaru ini memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan bantuan sebelumnya. Jika sebelumnya Korea Utara hanya mengirimkan pasukan infanteri dan logistik militer, kini negara tersebut mulai mengirimkan satu unit pasukan rudal balistik lengkap beserta sistem persenjataannya. Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk peningkatan kerja sama militer yang sangat signifikan antara kedua negara.

Para analis dari Institute for the Study of War (ISW) di Washington menilai bahwa pengerahan rudal Korea Utara merupakan upaya Rusia untuk memperkuat kemampuan serangan jarak jauhnya dalam waktu singkat.

Menurut ISW, selama ini salah satu kelemahan terbesar Ukraina adalah keterbatasan kemampuan mencegat rudal balistik. Dengan bertambahnya jumlah rudal yang dapat diluncurkan Rusia, Moskow berpotensi meningkatkan intensitas serangan jenuh (saturation attack), yaitu serangan yang dilakukan secara bersamaan dalam jumlah besar dengan tujuan membebani sistem pertahanan udara lawan hingga tidak mampu mencegat seluruh rudal yang datang.

Walaupun rudal-rudal buatan Korea Utara dikenal memiliki tingkat akurasi yang relatif lebih rendah dibandingkan sistem persenjataan modern Rusia serta memiliki tingkat kegagalan teknis yang lebih tinggi, daya ledaknya tetap sangat besar. Dalam kondisi serangan massal, rudal-rudal tersebut dinilai masih mampu menyebabkan kerusakan luas terhadap kawasan perkotaan, fasilitas energi, jaringan transportasi, maupun infrastruktur strategis lainnya, sekaligus meningkatkan risiko jatuhnya korban sipil.

Tidak hanya rudal yang terus berdatangan. Berdasarkan informasi terbaru, gelombang baru personel militer Korea Utara juga dilaporkan terus dikirim ke Rusia.

Sebuah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan para instruktur militer Rusia sedang memberikan pelatihan kepada kelompok baru tentara Korea Utara yang baru tiba. Setelah menyelesaikan pelatihan tersebut, mereka dilaporkan akan ditempatkan di kawasan Donbas, Ukraina timur, untuk memperkuat operasi tempur Rusia di garis depan.

Menanggapi perkembangan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengeluarkan peringatan keras kepada Rusia maupun Korea Utara.

Zelenskyy menegaskan bahwa setiap sistem persenjataan maupun personel militer Korea Utara yang ditempatkan di wilayah Rusia dan digunakan untuk menyerang Ukraina akan dianggap sebagai sasaran militer yang sah. Oleh karena itu, menurutnya, seluruh aset tersebut berpotensi menjadi target serangan presisi Angkatan Bersenjata Ukraina.

Di tengah meningkatnya kerja sama militer Rusia dan Korea Utara, Ukraina juga kembali menghadapi tekanan besar akibat gelombang serangan udara Rusia.

Menurut keterangan Presiden Zelenskyy, pada malam 4 Agustus hingga dini hari 5 Agustus 2026, Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak ke ibu kota Kyiv beserta sejumlah wilayah di sekitarnya.

Serangan tersebut menjadi salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah Ukraina menyatakan bahwa 17 orang meninggal dunia, sementara 44 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang berlangsung sepanjang malam.

Namun, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya besarnya jumlah korban, melainkan kondisi pertahanan udara Ukraina yang semakin tertekan.

Zelenskyy mengungkapkan bahwa persediaan rudal pencegat yang digunakan untuk menghadapi rudal balistik Rusia telah habis. Akibat kekurangan amunisi tersebut, sistem pertahanan udara Ukraina tidak berhasil mencegat satu pun rudal balistik yang diluncurkan Rusia dalam gelombang serangan kali ini.

Menurut Presiden Ukraina, keterbatasan stok amunisi pertahanan udara telah mengurangi kemampuan negaranya dalam melindungi kota-kota besar dari serangan rudal jarak jauh.

Karena itu, Zelenskyy kembali mendesak negara-negara mitra Barat agar segera mempercepat pengiriman amunisi dan sistem pertahanan udara tambahan sebelum Rusia mampu memanfaatkan kondisi tersebut untuk melancarkan serangan dengan skala yang lebih besar.

Saat ini, sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat masih menjadi tulang punggung utama Ukraina dalam menghadapi ancaman rudal balistik Rusia. Sistem ini merupakan salah satu dari sedikit perangkat yang memiliki kemampuan untuk mencegat rudal balistik dengan tingkat keberhasilan tinggi.

Namun, apabila pasokan rudal pencegat Patriot tidak segera dipulihkan, kemampuan Ukraina dalam mempertahankan wilayah udara dari serangan rudal balistik diperkirakan akan semakin melemah. Di sisi lain, masuknya tambahan rudal dan personel dari Korea Utara berpotensi memberikan keuntungan operasional baru bagi Rusia, sehingga dapat meningkatkan intensitas serangan terhadap kota-kota dan infrastruktur strategis Ukraina dalam beberapa pekan mendatang.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina kini telah berkembang menjadi konflik yang semakin kompleks dengan keterlibatan negara-negara lain secara lebih nyata. 

Jika tren peningkatan kerja sama militer Rusia dan Korea Utara terus berlanjut, sementara kemampuan pertahanan udara Ukraina belum berhasil dipulihkan, maka keseimbangan kekuatan di medan perang berpotensi kembali berubah dan membuka babak baru dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun tersebut. (***)

Netanyahu Mengamuk! Israel Siap Serang Iran Lagi, Mossad Dikabarkan Diguncang Krisis Besar

EtIndonesia.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya tidak akan ragu mengambil tindakan militer apabila Iran kembali melanjutkan program pengembangan senjata nuklir. 

Pernyataan tersebut muncul di tengah berbagai perkembangan penting, mulai dari operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan hingga klaim Iran mengenai keberhasilan membongkar jaringan yang diduga terkait dengan badan intelijen Israel, Mossad.

Dalam pernyataannya pada 6 Agustus 2026, Netanyahu mengatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) masih menunjukkan tekad untuk terus mengembangkan kemampuan nuklir Iran. Menurutnya, sikap tersebut menjadi alasan utama mengapa Israel tidak akan mengendurkan kewaspadaannya terhadap Teheran.

Netanyahu menegaskan bahwa pemerintah Israel memiliki komitmen penuh untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dalam bentuk apa pun. Ia menekankan bahwa Israel akan menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya apabila ancaman tersebut kembali meningkat.

Pernyataan itu juga mengandung pesan yang cukup jelas mengenai arah kebijakan keamanan Israel pada masa mendatang. Dengan kata lain, sekalipun Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir melalui jalur diplomasi, Israel tetap membuka kemungkinan melakukan aksi militer secara sepihak apabila menilai Iran melanggar kesepakatan atau diam-diam kembali mengembangkan program persenjataan nuklir.

Para pengamat menilai sikap Netanyahu tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Israel tidak sepenuhnya menggantungkan keamanan nasionalnya pada hasil negosiasi antara Washington dan Teheran. Sebaliknya, Israel tetap mempertahankan doktrin bahwa ancaman nuklir Iran harus dicegah sedini mungkin, bahkan apabila tindakan tersebut harus dilakukan melalui operasi militer langsung.

Pernyataan tersebut juga dipandang sebagai sinyal bahwa strategi Israel pada fase berikutnya akan tetap berfokus pada pengawasan ketat terhadap seluruh aktivitas nuklir Iran. Jika ditemukan indikasi bahwa Iran kembali meningkatkan pengayaan uranium atau mempercepat pengembangan fasilitas nuklirnya, maka kemungkinan operasi militer lanjutan tetap terbuka.

Sementara itu, situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon juga masih memanas. Setelah serangan Hizbullah beberapa hari sebelumnya menewaskan dua personel Pasukan Pertahanan Israel (IDF), militer Israel terus meningkatkan operasi balasan di wilayah Lebanon selatan.

Sejak 5 Agustus hingga 6 Agustus 2026, IDF melaksanakan rangkaian operasi militer berskala besar yang melibatkan berbagai matra tempur. Serangan udara menggunakan pesawat tempur diarahkan ke sejumlah lokasi yang diduga menjadi basis Hizbullah, sementara pesawat nirawak atau drone digunakan untuk melakukan pengintaian sekaligus menyerang sasaran secara presisi.

Selain serangan udara, artileri Israel juga terus menghantam sejumlah titik yang dianggap sebagai lokasi peluncuran roket dan tempat penyimpanan persenjataan Hizbullah. Di saat yang sama, pasukan darat Israel dilaporkan masih menjalankan operasi penyisiran di beberapa sektor perbatasan untuk menghancurkan infrastruktur militer kelompok tersebut.

Militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan yang berasal dari Lebanon selatan. Menurut pihak Israel, keberadaan fasilitas militer Hizbullah di dekat kawasan permukiman menjadi salah satu faktor yang memperumit situasi keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara.

Di sisi lain, perkembangan penting juga terjadi di Iran. Pada 6 Agustus 2026, badan intelijen Iran mengumumkan bahwa mereka berhasil membongkar sebuah jaringan yang diduga memiliki hubungan dengan Mossad, badan intelijen luar negeri Israel.

Menurut pernyataan resmi otoritas Iran, operasi kontraintelijen tersebut dilakukan di salah satu provinsi di kawasan tenggara negara itu. Sebanyak 21 orang tersangka dilaporkan telah ditangkap.

Iran menuduh para tersangka tersebut melakukan kegiatan pengumpulan informasi sensitif mengenai posisi instalasi militer, pangkalan strategis, serta lokasi sistem pertahanan udara Iran. Informasi tersebut diduga akan disalurkan kepada Mossad untuk mendukung berbagai operasi intelijen maupun operasi sabotase terhadap fasilitas strategis Iran.

Meski demikian, hingga kini belum terdapat bukti independen yang dapat memverifikasi kebenaran klaim tersebut. Pemerintah Israel juga belum memberikan tanggapan resmi mengenai pengumuman yang disampaikan oleh otoritas Iran.

Karena itu, informasi mengenai penangkapan jaringan yang disebut terkait Mossad masih perlu diperlakukan secara hati-hati sampai terdapat konfirmasi lebih lanjut dari sumber-sumber independen.

Menariknya, hampir bersamaan dengan pengumuman dari Iran tersebut, muncul pula berbagai laporan yang menyebutkan adanya perubahan besar di tubuh Mossad sendiri.

Sejumlah media regional melaporkan bahwa Direktur Mossad tengah melakukan restrukturisasi internal dengan memberhentikan dua pejabat senior yang selama ini memegang posisi sangat strategis di lembaga intelijen tersebut.

Salah satu pejabat yang disebut diberhentikan merupakan tokoh senior di bidang intelijen operasional, sementara pejabat lainnya selama ini bertanggung jawab menangani berbagai urusan yang berkaitan langsung dengan Iran.

Menurut sejumlah sumber yang belum dapat diverifikasi secara independen, keputusan tersebut diduga berkaitan dengan evaluasi terhadap kegagalan sejumlah operasi rahasia yang bertujuan melemahkan stabilitas pemerintahan Iran.

Beberapa laporan bahkan menyebut bahwa rencana operasi untuk mendorong perubahan politik di Iran dinilai tidak mencapai target yang diharapkan. Kondisi itulah yang kemudian memicu dilakukannya evaluasi besar-besaran di lingkungan Mossad.

Walaupun demikian, informasi yang beredar juga menyebut bahwa kedua pejabat tersebut bukan diberhentikan secara permanen dari institusi intelijen Israel. Mereka dikabarkan hanya dipindahkan ke departemen lain sebagai bagian dari reorganisasi internal.

Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun Mossad mengenai laporan tersebut. Kebijakan internal lembaga intelijen Israel memang selama ini sangat tertutup sehingga informasi mengenai pergantian pejabat tinggi jarang diumumkan secara terbuka.

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan antara Israel dan Iran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga terus berlanjut dalam ranah intelijen dan operasi rahasia. 

Di satu sisi, Israel menegaskan kesiapannya untuk kembali menggunakan kekuatan militer apabila Iran dianggap menghidupkan kembali program senjata nuklir. Di sisi lain, Iran berupaya menunjukkan keberhasilan aparat keamanannya dalam menghadapi dugaan aktivitas intelijen asing di dalam negeri.

Dengan situasi yang masih sangat dinamis, kawasan Timur Tengah diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Negosiasi diplomatik mengenai program nuklir Iran memang masih terus menjadi perhatian dunia, tetapi perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa baik Israel maupun Iran tetap mempersiapkan berbagai skenario strategis apabila ketegangan kembali meningkat. (***)

Dunia Geger! Iran Tetapkan “Tarif Selat Hormuz”, Kapal Bisa Bayar Rp 160 Miliar Sekali Lewat!

EtIndonesia.com — Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali meningkat ketika perundingan antara Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz memasuki babak yang semakin rumit. Di tengah harapan dunia agar jalur pelayaran energi terpenting tersebut segera kembali beroperasi secara normal, Teheran justru mengajukan serangkaian persyaratan yang dinilai sangat berat dan berpotensi mengubah tata kelola pelayaran internasional di kawasan itu.

Berdasarkan laporan Reuters pada 6 Agustus 2026, dalam perundingan dengan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, Iran mengusulkan agar setiap kapal yang memasuki Teluk Persia dikenakan pungutan sebesar 5 hingga 7 persen dari nilai barang atau muatan yang diangkut.

Usulan tersebut langsung menjadi perhatian dunia pelayaran karena akan menambah biaya operasional kapal dalam jumlah yang sangat besar. Tidak hanya itu, Oman juga dikabarkan tengah mempertimbangkan penerapan biaya tambahan sekitar 3 persen sebagai bagian dari mekanisme pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

Apabila kedua skema itu benar-benar diberlakukan secara bersamaan, total beban biaya yang harus ditanggung sebuah kapal dagang dapat mencapai lebih dari 10 juta dolar Amerika Serikat untuk sekali pelayaran, tergantung pada nilai kargo yang dibawa.

Besarnya angka tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa biaya logistik global akan meningkat drastis. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Iran Siapkan Undang-Undang Pengendalian Strategis Selat Hormuz

Di saat proses negosiasi masih berlangsung, Iran juga dilaporkan tengah menyiapkan sebuah rancangan undang-undang baru yang diberi nama Undang-Undang Pengendalian Strategis Selat Hormuz.

Menurut laporan kantor berita Fars, rancangan aturan tersebut tidak hanya mengatur mengenai pungutan terhadap kapal yang melintas, tetapi juga memberikan kewenangan kepada Iran untuk menentukan kapal mana saja yang diperbolehkan menggunakan jalur pelayaran tersebut.

Dalam rancangan tersebut disebutkan bahwa kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, maupun negara-negara lain yang dianggap sebagai negara bermusuhan tidak akan diizinkan melewati Selat Hormuz.

Selain itu, larangan serupa juga akan diberlakukan terhadap kapal dari negara-negara yang menolak memberikan kompensasi kepada Iran atas kerugian yang diklaim dialaminya selama berbagai konflik yang terjadi di kawasan.

Lebih jauh lagi, rancangan undang-undang tersebut juga mengatur sanksi yang sangat berat. Setiap kapal yang dianggap melanggar ketentuan berpotensi dikenakan denda hingga 20 persen dari nilai seluruh muatan atau kargo yang diangkutnya.

Meski demikian, hingga 6 Agustus 2026, rancangan undang-undang tersebut masih berada dalam tahap pembahasan dan belum resmi diberlakukan.

Industri Pelayaran Khawatir Selat Hormuz Tetap Sulit Dilintasi

Kalangan pelaku industri pelayaran internasional menilai bahwa apabila seluruh ketentuan tersebut benar-benar diterapkan, pembukaan kembali Selat Hormuz hanya akan bersifat formalitas.

Secara hukum jalur pelayaran mungkin dinyatakan telah dibuka kembali, tetapi dalam praktiknya jumlah kapal yang benar-benar dapat melintasi kawasan tersebut diperkirakan akan sangat terbatas.

Kapal-kapal berbendera Amerika Serikat dan Israel dipastikan tidak dapat melintas apabila aturan itu berlaku.

Di sisi lain, sejumlah negara Teluk yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Washington juga diperkirakan akan menghadapi pembatasan.

Pengamat menilai situasi tersebut berkaitan dengan posisi politik berbagai negara di kawasan selama konflik beberapa bulan terakhir.

Sebagai contoh, Uni Emirat Arab disebut pernah memberikan dukungan terhadap opsi Presiden Donald Trump untuk melakukan operasi militer darat terhadap Iran. Sementara itu, Arab Saudi sebelumnya juga diketahui melancarkan serangan udara terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran.

Dengan latar belakang tersebut, sejumlah negara Teluk lainnya dikhawatirkan juga akan mengalami kesulitan memperoleh izin melintasi Selat Hormuz apabila rancangan undang-undang Iran benar-benar diterapkan.

Tidak hanya itu, kapal-kapal dari negara yang menolak membayar kompensasi kepada Iran juga disebut tidak akan memperoleh izin melintas.

Kapal Tiongkok dan Rusia Tetap Diizinkan

Di tengah berbagai pembatasan tersebut, Iran secara terbuka menyatakan bahwa kapal-kapal milik Tiongkok dan Rusia tetap diperbolehkan melewati Selat Hormuz.

Namun demikian, kapal-kapal yang diizinkan melintas itu tetap diwajibkan membayar pungutan atau biaya transit yang pada praktiknya menyerupai tarif tol internasional.

Dengan mekanisme tersebut, Iran tidak hanya memperoleh pemasukan dalam jumlah besar, tetapi juga mempertahankan kendali penuh terhadap lalu lintas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Kebijakan seperti itu dinilai berpotensi memberikan pengaruh politik sekaligus ekonomi yang sangat besar kepada Teheran.

Bertolak Belakang dengan Tuntutan Amerika Serikat

Persyaratan yang diajukan Iran dinilai bertolak belakang dengan posisi Amerika Serikat.

Washington sejak awal menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz harus menjamin kebebasan pelayaran internasional tanpa adanya pungutan tambahan maupun pembatasan terhadap kapal dari negara tertentu.

Amerika Serikat juga menolak penerapan biaya transit dalam bentuk apa pun terhadap kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut.

Perbedaan pandangan inilah yang kemudian memunculkan keraguan di kalangan pengamat mengenai peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Sebagian analis bahkan menilai bahwa persyaratan yang diajukan Teheran begitu berat sehingga memunculkan dugaan bahwa Iran sebenarnya belum memiliki keinginan politik yang kuat untuk segera mencapai kompromi.

Dugaan Serangan terhadap Dua Kapal di Selat Hormuz

Di tengah berlangsungnya proses diplomasi, situasi keamanan di kawasan juga kembali memanas.

Pada 6 Agustus 2026, beredar laporan bahwa Iran diduga melakukan tindakan terhadap dua kapal yang sedang melintasi jalur pelayaran bagian selatan Selat Hormuz di bawah pengawalan militer Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, Iran menyebut kedua kapal tersebut sebagai “kapal bermusuhan.”

Apabila informasi tersebut terbukti benar, insiden itu dinilai dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan sekaligus melemahkan optimisme mengenai keberhasilan perundingan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Peristiwa tersebut juga dianggap bertolak belakang dengan narasi yang sebelumnya disampaikan Presiden Donald Trump mengenai semakin dekatnya tercapai kesepakatan antara Iran dan Oman.

Ketua Parlemen Iran Sindir Strategi Diplomasi Amerika

Di tengah perkembangan tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyampaikan pernyataan yang menarik perhatian.

Dalam komentarnya, Ghalibaf mengkritik pendekatan Amerika Serikat yang menurutnya selalu kembali mengajukan perundingan ketika situasi militer mulai memanas.

Ia menyatakan bahwa setiap kali sebuah operasi besar tampak akan terjadi, Washington justru kembali membuka jalur diplomasi.

Menurut Ghalibaf, pola tersebut bukanlah strategi baru, melainkan sebuah “drama diplomasi yang diputar berulang kali.”

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa para pemimpin Iran merasa telah memahami pola kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang mengombinasikan tekanan militer dengan ruang negosiasi sebagai instrumen diplomasi.

Prospek Negosiasi Masih Penuh Ketidakpastian

Hingga 6 Agustus 2026, perundingan antara Iran dan Oman masih terus berlangsung tanpa adanya pengumuman resmi mengenai tercapainya kesepakatan akhir.

Di satu sisi, dunia berharap Selat Hormuz segera kembali beroperasi secara normal demi menjaga stabilitas pasokan energi global.

Namun di sisi lain, usulan pungutan bernilai miliaran dolar, pembatasan terhadap kapal negara tertentu, serta meningkatnya ketegangan militer di kawasan menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih dipenuhi tantangan.

Apabila Iran tetap mempertahankan seluruh persyaratan tersebut, sementara Amerika Serikat tetap menolak segala bentuk pembatasan maupun pungutan terhadap pelayaran internasional, maka proses negosiasi diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan berpotensi kembali memicu ketegangan geopolitik di salah satu jalur laut paling strategis di dunia. (***)

Trump Bongkar Fakta Persediaan Senjata AS, Presiden Iran Bahkan Tak Kenali Pemimpin Tertingginya?

EtIndonesia.com Setelah konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya yang berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan mulai mereda, perhatian dunia kini bergeser dari medan perang menuju pertarungan lain yang tidak kalah sengit. Jika sebelumnya dentuman rudal, drone, dan serangan udara mendominasi pemberitaan internasional, kini perang informasi, propaganda, serta saling bantah antara berbagai pihak menjadi babak baru yang menyita perhatian publik.

Di satu sisi, pemerintah Amerika Serikat berupaya membantah berbagai laporan yang mempertanyakan kesiapan militernya setelah konflik panjang di Timur Tengah. Di sisi lain, dari dalam pemerintahan Iran justru muncul berbagai indikasi mengenai semakin rumitnya dinamika politik internal, termasuk hubungan antara Presiden Masoud Pezeshkian dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Trump Bantah Kabar Persediaan Amunisi Amerika Menipis

Pada Rabu dini hari, 6 Agustus 2026 (waktu Amerika Serikat), Presiden Donald Trump secara tegas membantah berbagai rumor yang beredar di sejumlah media mengenai kondisi persediaan amunisi militer Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kabar yang menyebut stok amunisi Amerika hampir habis merupakan informasi yang tidak benar. Ia memastikan bahwa militer Amerika Serikat masih memiliki cadangan amunisi dalam jumlah yang sangat besar, khususnya berbagai jenis amunisi strategis yang menjadi tulang punggung kemampuan tempur Angkatan Bersenjata Amerika.

Menurut Trump, pemerintah tidak hanya memiliki stok yang memadai, tetapi juga terus meningkatkan kapasitas produksi melalui industri pertahanan nasional.

Ia menjelaskan bahwa jalur produksi amunisi saat ini berjalan tanpa henti selama 24 jam penuh. Berbagai jenis persenjataan dan amunisi terus diproduksi sesuai kebutuhan operasional, kemudian didistribusikan secara bertahap ke berbagai pangkalan militer Amerika Serikat maupun lokasi strategis lainnya.

Trump juga menyampaikan bahwa pemerintahannya tengah menjalankan proyek besar untuk memperluas kemampuan industri pertahanan nasional. Ia mengatakan perusahaan-perusahaan pertahanan Amerika sedang membangun berbagai fasilitas produksi baru yang disebut-sebut sebagai kompleks industri militer terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Langkah tersebut, menurut Trump, bertujuan memastikan Amerika tetap memiliki keunggulan militer sekaligus menjamin kesiapan apabila sewaktu-waktu menghadapi konflik berskala besar di masa depan.

Trump Ancam Pembocor Informasi Rahasia

Selain membantah isu mengenai stok amunisi, Trump juga menyoroti berbagai informasi rahasia yang belakangan bocor ke media massa.

Presiden Amerika itu mengambil sikap yang sangat keras terhadap para pihak yang diduga membocorkan dokumen maupun informasi sensitif dari lingkungan pemerintahan.

Menurut Trump, tindakan tersebut tidak sekadar merupakan pelanggaran disiplin birokrasi, tetapi berpotensi masuk dalam kategori pengkhianatan terhadap negara.

Ia mengatakan aparat penegak hukum kini tengah melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku yang diduga bertanggung jawab atas kebocoran informasi tersebut.

Trump menegaskan bahwa siapa pun yang nantinya terbukti bersalah akan diproses sesuai hukum dan berpotensi menghadapi hukuman penjara dalam jangka waktu yang sangat lama.

Pernyataan itu dipandang sebagai sinyal bahwa pemerintah Amerika akan semakin memperketat pengamanan informasi strategis, terutama setelah berbagai laporan mengenai kondisi militer Amerika menjadi perhatian media internasional selama beberapa pekan terakhir.

Gedung Putih Bantah Laporan The Washington Post

Pada saat yang sama, Gedung Putih juga bergerak cepat membantah laporan media yang dinilai tidak sesuai fakta.

Sebelumnya, The Washington Post melaporkan bahwa pada pekan sebelumnya ketika Presiden Trump berada di Camp David, ia disebut sempat memarahi Menteri Pertahanan Pete Hegseth karena kekurangan persediaan amunisi.

Laporan tersebut langsung dibantah oleh Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Dalam pernyataan resminya, Leavitt menegaskan bahwa dirinya berada langsung di Camp David bersama Presiden Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth ketika pertemuan itu berlangsung.

Menurutnya, peristiwa sebagaimana diberitakan media tersebut sama sekali tidak pernah terjadi.

Leavitt juga mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah berulang kali menyampaikan kepada The Washington Post bahwa isi pemberitaan tersebut tidak memiliki dasar fakta yang kuat.

Ia menilai laporan itu hanya bertujuan mencoreng nama baik Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Namun, menurut Leavitt, upaya tersebut justru tidak berhasil karena Presiden Trump tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Hegseth dan menilai kinerjanya sangat baik selama memimpin Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

“Semua itu hanyalah berita palsu,” tegas Leavitt dalam pernyataannya.

Iran Hadapi Drama Politik Internal

Sementara Washington disibukkan dengan bantahan terhadap berbagai pemberitaan media, perkembangan menarik justru terjadi di tingkat elite pemerintahan Iran.

Pada 5 Agustus 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam sebuah wawancara khusus bersama televisi pemerintah secara terbuka mengakui bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk berkomunikasi secara langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas karena menunjukkan adanya hambatan komunikasi di tingkat tertinggi pemerintahan Iran.

Namun, sejumlah laporan media oposisi Iran menyebut situasi yang sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan komunikasi.

Laporan Iran International Ungkap Pertemuan Rahasia

Menurut laporan eksklusif yang diterbitkan Iran International pada 4 Agustus 2026, setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut semakin memperkuat pengaruhnya terhadap struktur pemerintahan, ruang gerak Presiden Pezeshkian dilaporkan menjadi semakin terbatas.

Media tersebut mengklaim bahwa Presiden Iran telah berkali-kali mengajukan permohonan untuk bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei.

Namun, setiap permohonan itu disebut selalu ditolak ataupun terus mengalami penundaan.

Baru setelah Pezeshkian dikabarkan mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden, permohonan tersebut akhirnya disetujui.

Meski demikian, cara pertemuan itu dilaksanakan disebut sangat tidak biasa.

Pertemuan di Dalam Mobil Gelap

Menurut laporan tersebut, Pezeshkian terlebih dahulu dibawa menuju sebuah lokasi rahasia di Teheran.

Setelah tiba di lokasi, ia diminta meninggalkan kendaraan pribadinya.

Selanjutnya, ia dipindahkan ke kursi belakang sebuah mobil komersial yang seluruh jendelanya dilapisi kaca film hitam pekat.

Suasana di dalam kendaraan itu disebut sangat gelap sehingga kedua orang yang berada di dalamnya tidak dapat saling melihat wajah.

Bahkan, mereka dilaporkan tidak diperbolehkan berjabat tangan.

Seluruh komunikasi hanya dilakukan melalui percakapan suara.

Pertemuan tersebut dikabarkan berlangsung sangat singkat, hanya beberapa menit, sebelum akhirnya Presiden Iran kembali meninggalkan lokasi.

“Apakah Itu Benar Pemimpin Tertinggi?”

Bagian yang paling mengejutkan dari laporan tersebut muncul setelah pertemuan selesai.

Menurut Iran International, Pezeshkian dikabarkan sempat bertanya kepada salah seorang asistennya,

“Orang yang tadi berbicara… apakah benar itu Pemimpin Tertinggi?”

Apabila laporan tersebut akurat, peristiwa itu menggambarkan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi di lingkungan kepemimpinan Iran.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa informasi mengenai rincian pertemuan tersebut berasal dari media oposisi Iran dan hingga kini belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun kantor Pemimpin Tertinggi.

Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh detail laporan tersebut, perkembangan ini menunjukkan bahwa setelah konflik militer mulai mereda, persaingan kini bergeser ke ranah politik dan informasi. Amerika Serikat menghadapi perang narasi mengenai kesiapan militernya, sementara Iran menghadapi sorotan terhadap dinamika internal pemerintahannya. Kedua perkembangan tersebut menjadi gambaran bahwa berakhirnya pertempuran di medan perang tidak selalu berarti berakhirnya persaingan di panggung geopolitik. (***)

Milisi Houthi Lancarkan Serangan Terbesar, Arab Saudi Diterpa Ancaman Baru

EtIndonesia.com  – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Di tengah masih rapuhnya kondisi pascaperang Iran dan Amerika Serikat, kelompok syiah Houthi di Yaman dilaporkan melancarkan operasi militer berskala besar terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Arab Saudi. Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik regional dapat kembali meluas dan melibatkan lebih banyak pihak.

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar pada 7 Agustus 2026, pasukan Houthi mengerahkan kombinasi puluhan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik untuk menggempur sejumlah kamp milik faksi-faksi pro-Saudi yang berada di wilayah Yaman. Operasi tersebut disebut berlangsung secara terkoordinasi dan menyasar beberapa lokasi strategis yang selama ini menjadi basis kekuatan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan Houthi.

Menurut informasi awal yang beredar, serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya lebih dari 60 orang dilaporkan tewas akibat rentetan serangan tersebut, sementara jumlah korban luka diperkirakan masih terus bertambah seiring proses evakuasi dan pendataan yang dilakukan di lapangan. Hingga berita ini disusun, belum terdapat konfirmasi resmi yang sepenuhnya memverifikasi jumlah korban tersebut dari seluruh pihak yang terlibat.

Serangan besar ini menjadi salah satu operasi paling signifikan yang dilakukan Houthi dalam beberapa waktu terakhir. Penggunaan drone dalam jumlah besar yang dipadukan dengan rudal balistik menunjukkan bahwa kelompok tersebut masih memiliki kemampuan untuk melaksanakan serangan jarak jauh secara simultan, meskipun sebelumnya kawasan tersebut terus berada di bawah tekanan militer.

Di saat yang sama, muncul perkembangan lain yang tidak kalah mengejutkan. Seorang pejabat senior Arab Saudi mengungkapkan bahwa pihaknya menerima sejumlah laporan intelijen yang dinilai memiliki tingkat kredibilitas tinggi. Laporan tersebut menyebut adanya dugaan koordinasi antara kelompok Houthi, sejumlah milisi pro-Iran di Irak, serta Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menurut pejabat tersebut, ketiga kekuatan itu diduga tengah mempersiapkan sebuah operasi yang berpotensi diarahkan terhadap kepentingan Arab Saudi. Meski rincian mengenai bentuk maupun waktu pelaksanaan operasi tersebut belum dipublikasikan, informasi intelijen tersebut segera meningkatkan kewaspadaan aparat keamanan dan militer Saudi.

Sumber-sumber yang mengetahui isi laporan intelijen tersebut menggambarkan informasi itu sebagai sesuatu yang sangat mengejutkan. Pasalnya, perkembangan ini muncul hanya beberapa waktu setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebelumnya, berbagai laporan menyebut bahwa keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan sementara operasi militer terhadap Iran tidak terlepas dari upaya diplomatik yang dilakukan Arab Saudi. Riyadh disebut berusaha meyakinkan Washington agar menahan diri dan memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi guna mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Karena itu, apabila dugaan koordinasi antara Houthi, milisi pro-Iran di Irak, dan IRGC benar-benar terjadi, situasi tersebut berpotensi mengubah secara signifikan kalkulasi keamanan di Timur Tengah. Arab Saudi diperkirakan akan meningkatkan kesiagaan militernya, sementara negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan juga kemungkinan akan memperketat pengamanan terhadap berbagai fasilitas strategis.

Di sisi lain, aktivitas Houthi terhadap jalur pelayaran internasional juga kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut tercatat telah beberapa kali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang dikaitkan dengan kepentingan Arab Saudi. Serangan-serangan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa jalur perdagangan laut di kawasan masih menghadapi risiko keamanan yang tinggi.

Perkembangan menarik juga terjadi pada 4 Agustus 2026, ketika kapal-kapal tanker berukuran sangat besar asal Tiongkok mulai kembali mengangkut minyak mentah dari Arab Saudi. Namun, pola pelayaran yang mereka gunakan justru memunculkan berbagai pertanyaan.

Alih-alih melintasi Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, sebagaimana rute perdagangan energi internasional pada umumnya, kapal-kapal tersebut dilaporkan memilih jalur yang jauh lebih panjang dengan memutar mengelilingi Benua Afrika sebelum menuju Asia.

Keputusan tersebut dinilai tidak lazim karena akan memperpanjang waktu pelayaran hingga beberapa hari bahkan lebih dari satu minggu, sekaligus meningkatkan biaya operasional kapal, konsumsi bahan bakar, serta ongkos logistik.

Yang membuat situasi semakin menarik adalah fakta bahwa sebelumnya kelompok Houthi secara terbuka menyatakan kapal-kapal Tiongkok diperbolehkan melewati Selat Bab el-Mandeb tanpa menjadi sasaran serangan. Pernyataan tersebut sempat dipandang sebagai sinyal bahwa kapal-kapal berbendera Tiongkok akan memperoleh jaminan keamanan selama melewati kawasan tersebut.

Namun kenyataannya, perusahaan-perusahaan pelayaran Tiongkok tetap memilih menghindari Laut Merah dan mengambil rute alternatif yang jauh lebih panjang.

Langkah tersebut memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat keamanan maritim. Sebagian analis menilai keputusan itu menunjukkan bahwa operator pelayaran kemungkinan memiliki penilaian risiko tersendiri terhadap situasi keamanan di kawasan. Meski memperoleh jaminan secara terbuka, mereka tampaknya masih menganggap ancaman terhadap keselamatan kapal belum sepenuhnya hilang.

Selain itu, terdapat pula dugaan bahwa perusahaan pelayaran telah memperoleh informasi mengenai potensi meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Bab el-Mandeb dalam waktu dekat sehingga memilih mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko.

Sementara itu, beredar pula laporan lain yang hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen. Laporan tersebut menyebut bahwa Partai Komunis Tiongkok diduga telah mengirim personel militer ke Yaman guna membantu mengarahkan operasi tempur kelompok Houthi.

Hingga saat ini belum terdapat bukti resmi yang dapat mengonfirmasi klaim tersebut. Pemerintah Tiongkok juga belum memberikan pernyataan resmi mengenai laporan yang beredar tersebut. Oleh karena itu, informasi tersebut masih perlu diperlakukan sebagai laporan yang belum terverifikasi.

Meskipun demikian, rangkaian perkembangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa dinamika keamanan di Timur Tengah masih sangat rapuh. Serangan Houthi terhadap kelompok pro-Saudi, munculnya dugaan koordinasi antara Houthi, milisi pro-Iran di Irak, dan IRGC, serta perubahan rute pelayaran kapal-kapal tanker Tiongkok memperlihatkan bahwa kawasan ini masih berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Para analis menilai bahwa apabila eskalasi terus berlanjut, bukan hanya keamanan Arab Saudi yang akan terdampak, tetapi juga stabilitas jalur perdagangan energi dunia. Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah merupakan salah satu koridor pelayaran terpenting bagi distribusi minyak global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok internasional, meningkatkan biaya pengiriman, serta mendorong kenaikan harga energi di pasar dunia.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, perhatian dunia kini kembali tertuju ke Yaman dan kawasan Laut Merah. Langkah-langkah yang diambil negara-negara kawasan dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah ketegangan ini dapat diredam melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih luas. (***)

Kekuatan Bermain: Mengapa Orang Dewasa Membutuhkan Bermain Sama Seperti Anak-Anak

Dari meningkatkan daya pikir dan kreativitas hingga meredakan stres, menghidupkan kembali sisi kanak-kanak dalam diri kita ternyata penting untuk menjalani hidup yang sehat, bermakna, dan memuaskan di setiap tahap usia.

Anak-anak menghabiskan sebagian besar masa kecil mereka dengan bermain. Dan memang seharusnya demikian.

Menurut National Institute for Play (NIP), “bermain merupakan bagian penting dari cara manusia dan spesies lainnya berkembang, berfungsi, serta berinovasi.”

NIP menjelaskan bahwa bermain telah tertanam kuat dalam sistem saraf manusia dan berakar dalam biologi kita. Para ahli saraf afektif telah mengidentifikasi tujuh sistem emosi utama yang dibawa manusia sejak lahir—dan bermain merupakan salah satunya.

Sirkuit bermain di otak tengah mengaktifkan jaringan saraf yang luas, sekaligus memperkuat koneksi yang berkaitan dengan kemampuan bersosialisasi, gerakan tubuh, dan pengaturan emosi.

Otak Memang Dirancang untuk Bermain: Bagaimana Bermain Membentuk Otak yang Sedang Berkembang

Bagi anak-anak, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Bermain merupakan bagian penting dari proses tumbuh dan belajar, mulai dari bayi, balita, anak-anak, hingga remaja dan seterusnya.

Bermain membantu bayi mengembangkan koordinasi tubuh dan kemampuan mengikuti gerakan dengan mata. Pada usia balita, bermain membantu membangun ketangguhan fisik sekaligus emosional.

Anak-anak yang diberi kebebasan yang wajar untuk bermain juga memiliki peluang lebih besar mengembangkan kreativitas. Imajinasi mereka tidak dibatasi dan dapat menjelajah tanpa batas, menciptakan permainan dari apa pun yang ada di sekitar mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa mendorong rasa ingin tahu melalui aktivitas bermain dapat meningkatkan hasil belajar. Sebaliknya, kekurangan kesempatan bermain berkaitan dengan munculnya berbagai persoalan emosional dan perilaku.

Melalui imajinasi dan permainan, anak mulai memahami dunia, bermimpi, menciptakan sesuatu, dan bereksperimen.

Mereka belajar bahwa sebagian aktivitas manusia yang paling penting dilakukan bukan semata-mata demi hasil praktis, melainkan karena aktivitas itu sendiri menyenangkan dan memberikan kepuasan.

Bermain juga dapat memunculkan minat yang kemudian membentuk karakter dan berkembang menjadi kegemaran seumur hidup, bahkan karier.

Anak yang tergila-gila bermain sebagai ksatria mungkin kelak tertarik mempelajari sejarah. Anak yang tidak bisa lepas dari Lego mungkin suatu hari menapaki jalan menuju dunia teknik.

Dengan demikian, bermain dapat menjadi pintu gerbang menuju panggilan hidup seseorang.

Namun, kebutuhan untuk bermain tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan masa kanak-kanak.

Kecenderungan biologis untuk bermain tidak menghilang begitu saja seiring bertambahnya usia. Kita semua tetap membutuhkan kesenangan dalam kadar tertentu.

NIP menyatakan bahwa bermain merupakan mekanisme biologis, psikologis, dan sosial yang mendasar dalam membentuk cara manusia belajar, beradaptasi, terhubung, dan berkembang sepanjang hidup.

Ketika bermain tidak ada atau terus-menerus ditekan, penelitian mengaitkan kekurangan tersebut dengan depresi, gangguan perkembangan sosial, serta kesulitan mengatur emosi dan belajar.

Bermain Bukan Kekanak-kanakan: Manfaat Besarnya bagi Orang Dewasa

Manfaat bermain bagi orang dewasa sangat beragam.

Bermain dapat:

  • merangsang kreativitas;
  • meredakan ketegangan akibat stres;
  • meningkatkan fungsi otak;
  • memperkuat hubungan dengan orang lain.

Dalam bukunya Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less, Greg McKeown menganjurkan agar orang dewasa—terutama mereka yang sibuk dengan karier—menjadwalkan waktu khusus untuk bermain secara rutin.

Untuk melakukannya, kita harus terlebih dahulu menyingkirkan anggapan bahwa bermain adalah kegiatan remeh dan tidak produktif—sebuah pandangan yang sering tertanam ketika kita mulai meninggalkan masa kanak-kanak.

Mengapa McKeown begitu menekankan pentingnya bermain?

Salah satu alasannya adalah karena bermain membantu kita berpikir dengan cara yang berbeda. Kemampuan tersebut dapat membantu kita memecahkan masalah dan bekerja lebih baik dalam berbagai bidang.

McKeown mengutip sebuah penelitian mengenai beruang grizzly yang menemukan bahwa beruang yang paling sering bermain cenderung bertahan hidup lebih lama.

Mengapa?

Karena bermain melatih mereka untuk berpikir kreatif dan mencari solusi ketika menghadapi masalah.

Hal yang sama berlaku bagi manusia.

Seperti ditulis McKeown, bermain memperluas pikiran sehingga kita mampu mengeksplorasi, melahirkan gagasan baru, atau melihat gagasan lama dari sudut pandang yang berbeda.

Bermain membuat kita lebih ingin tahu, lebih peka terhadap hal-hal baru, dan lebih terlibat dalam kehidupan.

Melampaui Taman Bermain: Menjadikan Bermain sebagai Bagian dari Hidup Orang Dewasa

Aristoteles pernah mengatakan bahwa “kita bekerja agar memiliki waktu luang.”

Bermain dan waktu luang memang bukan hal yang sepenuhnya sama. Namun, keduanya memiliki hubungan erat karena keduanya dapat dipandang sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui pekerjaan, bukan sekadar jeda dari pekerjaan.

Aristoteles berpendapat bahwa hal-hal paling penting dan paling memanusiakan dalam kehidupan—seperti merenungkan kebenaran, membangun hubungan dengan orang lain, dan menikmati keindahan—tidak secara langsung berkaitan dengan tuntutan praktis pekerjaan.

Sebaliknya, kita bekerja agar memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang membebaskan dan memanusiakan tersebut.

Bermain—meskipun tidak seserius apa yang dimaksud Aristoteles dengan “waktu luang”—tetap mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar masuk kerja, pulang kerja, lalu menjatuhkan diri ke sofa karena kelelahan.

Ketika bermain, kita sering memasuki kondisi yang disebut “flow”, yaitu keadaan ketika waktu seolah menghilang dan kekhawatiran, tuntutan, serta target praktis kehidupan sehari-hari menghilang ke latar belakang.

Untuk sesaat, kita hanya hidup dan menikmati keberadaan kita, seperti seorang anak.

Bermain Mempererat Hubungan

Aspek sosial dalam bermain juga tidak boleh diremehkan.

Aktivitas yang ringan, menyenangkan, dan dilakukan secara interaktif memberi keluarga maupun kelompok sahabat sesuatu yang dapat dinikmati bersama.

Karena melibatkan interaksi secara langsung, ikatan emosional lebih mudah terbentuk melalui bermain dibandingkan sekadar duduk bersama menatap layar—atau yang lebih sering terjadi, masing-masing sibuk dengan layar sendiri.

Bagaimana Memulai Bermain Lagi?

Seperti apa penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut beberapa ide sederhana:

  • Adakan malam permainan bersama keluarga atau teman.
  • Jangan hanya menonton anak atau cucu bermain. Ikut bermain bersama mereka.
  • Kembali melakukan olahraga yang pernah Anda sukai ketika muda, atau coba olahraga baru.
  • Luangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama orang yang Anda cintai tanpa agenda yang sudah ditentukan. Lihat apa yang bisa Anda lakukan bersama secara spontan.
  • Coba hobi atau kerajinan baru.
  • Bermain musik atau sekadar mendengarkan musik.
  • Habiskan waktu menjelajahi alam terbuka.
  • Ceritakan kisah-kisah lucu dan tertawalah bersama.

Bermain adalah dunia liar tempat kita menikmati hal-hal yang tampaknya tidak perlu, tidak produktif, bahkan kadang terasa konyol.

Namun, justru di situlah letak paradoksnya:

Hal-hal yang tampaknya tidak perlu itu ternyata sangat diperlukan untuk menjaga kesejahteraan kita.

Menikmati sesuatu bukan karena menghasilkan uang, meningkatkan status, atau mencapai target tertentu, melainkan semata-mata karena aktivitas itu menyenangkan, merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.

Sepanjang hidup, kita tetap membutuhkan kesempatan untuk berhenti mengejar sesuatu dan sekadar menikmati kenyataan bahwa kita masih hidup.


Walker Larson pernah mengajar sastra dan sejarah di sebuah akademi swasta di Wisconsin sebelum menjadi jurnalis lepas dan penulis budaya. Ia tinggal di Wisconsin bersama istri dan putrinya. Ia meraih gelar magister dalam bidang sastra dan bahasa Inggris. Tulisannya telah diterbitkan di The Hemingway Review, Intellectual Takeout, dan Substack miliknya, The Hazelnut. Ia juga merupakan penulis dua novel, “Hologram” dan “Song of Spheres.”

Sebelum Ingatan Memudar, Cara Berjalan Anda Bisa Mengungkap 5 Gangguan Otak Tersembunyi

Kaki Anda mungkin mendeteksi masalah otak sebelum ingatan menyadarinya


Ellen Wan

Sebelum ingatan mulai memudar, otak mungkin sebenarnya sudah mengirimkan sinyal adanya masalah melalui sesuatu yang tak terduga: cara Anda berjalan.

Banyak orang menganggap langkah yang semakin lambat atau tubuh yang semakin sulit menjaga keseimbangan sebagai konsekuensi wajar dari penuaan. Namun, para ahli saraf mengatakan bahwa berjalan merupakan salah satu aktivitas paling kompleks yang dilakukan otak. Perubahan kecil pada kecepatan, keseimbangan, atau koordinasi gerak bahkan dapat muncul bertahun-tahun sebelum gangguan ingatan menjadi jelas.

“Berjalan adalah cermin kesehatan otak,” kata Dr. Hsieh Ping-Hsien, ahli bedah saraf di National Chiao Tung University Hospital, Taiwan, kepada The Epoch Times. “Perubahan pola berjalan bahkan dapat menjadi tanda peringatan paling awal dari sejumlah penyakit neurologis.”

Mengapa Cara Berjalan Berkaitan dengan Otak?

Berjalan mungkin terasa seperti aktivitas otomatis. Namun, setiap langkah sebenarnya mengharuskan berbagai bagian otak bekerja secara bersamaan dalam hitungan sepersekian detik.

Otak tidak sekadar memerintahkan kaki untuk bergerak. Otak terus-menerus merencanakan gerakan, menjaga keseimbangan, memantau lingkungan sekitar, serta menyesuaikan posisi tubuh.

Menurut Hsieh, proses tersebut melibatkan:

  • Perintah motorik: Lobus frontal mengirimkan sinyal untuk “melangkah”.
  • Pengendalian keseimbangan: Otak kecil atau serebelum menyesuaikan pusat gravitasi tubuh secara real time.
  • Persepsi ruang: Lobus parietal memperkirakan jarak terhadap benda-benda di sekitar.
  • Pembagian perhatian: Korteks prefrontal membantu mencegah Anda tersandung atau menabrak sesuatu.

Jika salah satu mata rantai dalam sistem kompleks tersebut terganggu, kecepatan berjalan dapat melambat, kata Hsieh.

5 Gangguan Otak yang Bisa Pertama Kali Terlihat dari Cara Berjalan

Ketika tubuh menua, mengalami stroke ringan, atau terserang penyakit neurologis degeneratif seperti Parkinson atau demensia, salah satu tanda awal yang muncul dapat berupa ketidakstabilan saat berjalan.

1. Demensia Tahap Awal

Orang dengan gangguan kognitif ringan sering mengalami perlambatan langkah secara bertahap sebelum penurunan daya ingat menjadi signifikan.

Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam Scientific Reports menganalisis kecepatan berjalan hampir 2.000 orang lanjut usia. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang memiliki fungsi kognitif lebih buruk cenderung berjalan lebih lambat dalam aktivitas sehari-hari.

Bahkan, orang dengan gangguan kognitif ringan dapat mengalami penurunan kecepatan berjalan pada waktu-waktu tertentu sebelum penurunan daya ingat yang signifikan terjadi.

2. Penyakit Parkinson

Pada penderita Parkinson, kemampuan otak menghasilkan dopamin secara bertahap menurun. Akibatnya, langkah menjadi lebih pendek, cara berjalan seperti menyeret kaki, dan ayunan lengan berkurang.

Banyak orang keliru menganggap perubahan tersebut hanya sebagai tanda penuaan biasa. Padahal, mengabaikannya dapat membuat kesempatan untuk mendeteksi dan menangani penyakit sejak dini terlewatkan.

3. Penyakit Pembuluh Darah Kecil Otak

Stroke yang menyerang pembuluh darah kecil di bagian dalam otak dapat merusak jalur materi putih yang bertugas menghantarkan sinyal saraf.

Gangguan tersebut dapat memperlambat transmisi sinyal dan menyebabkan seseorang berjalan lebih lambat serta tidak stabil.

Karena biasanya tidak disertai gejala jelas seperti kelumpuhan pada satu sisi tubuh, kondisi ini sering luput dari perhatian.

4. Hidrosefalus Tekanan Normal

Ketika cairan serebrospinal menumpuk secara berlebihan di dalam ventrikel otak, jaringan otak dapat tertekan dan fungsi saraf yang mengendalikan gerakan berjalan ikut terganggu.

Penderita sering mengalami apa yang disebut “magnetic gait” atau gaya berjalan magnetik—seolah-olah telapak kaki melekat pada lantai.

Langkah menjadi sangat sempit dan penderita kesulitan mengangkat kaki dari permukaan lantai.

5. Hematoma Subdural Kronis

Sebagian orang lanjut usia dapat mengalami perdarahan ringan setelah kepala terbentur benda ketika berjalan atau terjatuh.

Namun, beberapa minggu kemudian, darah dapat perlahan menumpuk di bawah lapisan dura mater dan menekan otak.

Gejalanya dapat meliputi gangguan keseimbangan saat berjalan, rasa mengantuk, reaksi yang melambat, hingga kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

Peradangan Kronis Juga Dapat Mengganggu Cara Berjalan

Selain penyakit otak seperti demensia dan Parkinson, peradangan kronis juga dapat secara perlahan merusak otak, kata Hsieh.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang lanjut usia dengan kadar faktor peradangan yang lebih tinggi dalam darah cenderung berjalan lebih lambat dan memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan motorik di kemudian hari.

Peradangan kronis tingkat rendah ibarat api kecil yang terus menyala di dalam otak. Mungkin tidak terasa secara langsung, tetapi kerusakannya dapat terakumulasi dari hari ke hari.

Beberapa dampaknya antara lain:

  • Kerusakan neuron: Faktor peradangan seperti sitokin proinflamasi IL-6 dan TNF-α dapat menyerang sel saraf dan memperlambat transmisi sinyal saraf.
  • Kerusakan materi putih: “Kabel” dalam otak yang membawa perintah gerakan dapat mengalami kerusakan sehingga mengganggu pengendalian langkah.
  • Kekurangan dopamin: Peradangan kronis dapat menghambat produksi dopamin sehingga memulai gerakan menjadi lebih lambat dan membutuhkan lebih banyak tenaga.
  • Gangguan koordinasi otot: Sinyal dari otak yang terlambat dapat mengacaukan waktu kontraksi otot sehingga langkah menjadi lambat dan tidak stabil.

Menurut Hsieh, sejumlah faktor dapat memicu peradangan kronis, termasuk kurang tidur berkepanjangan, sindrom metabolik, ketidakseimbangan mikrobiota usus, serta stres psikologis jangka panjang.

Tanpa disadari, kondisi-kondisi tersebut dapat mempercepat degenerasi otak sekaligus penurunan kemampuan motorik.

5 Perubahan Cara Berjalan yang Tak Boleh Diabaikan

Perlambatan cara berjalan biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, kata Hsieh. Otak sering kali memberikan sejumlah sinyal peringatan jauh sebelum masalah menjadi serius.

1. Sering Menunduk Melihat Tanah Saat Berjalan

Secara normal, pandangan akan mengarah ke depan ketika berjalan.

Jika Anda mulai terbiasa menunduk dan terus melihat lantai, hal tersebut mungkin menunjukkan adanya penurunan kemampuan menjaga keseimbangan dan memperkirakan posisi dalam ruang.

2. Membutuhkan Lebih Banyak Langkah Saat Berbelok

Ketika respons otak terhadap perubahan arah melambat, tubuh mungkin kesulitan melakukan gerakan berbelok dalam satu langkah yang lancar.

Akibatnya, seseorang memecah gerakan tersebut menjadi beberapa langkah kecil.

3. Sulit Menjaga Keseimbangan Saat Berjalan dan Berbicara

Jika Anda mudah kehilangan keseimbangan ketika berjalan sambil berbicara, kondisi tersebut disebut “gangguan tugas ganda” (dual-task disorder).

Hal ini dapat menunjukkan menurunnya kemampuan otak memproses dua aktivitas secara bersamaan dan menjadi salah satu tanda peringatan penting adanya penurunan fungsi kognitif.

4. Langkah Semakin Pendek

Jika langkah Anda semakin pendek dan lambat secara nyata, terutama pada pagi hari atau ketika berada di lingkungan yang tidak familiar, kondisi tersebut patut diperhatikan.

5. Ayunan Lengan Tidak Simetris

Jika satu lengan masih mengayun secara normal sementara lengan lainnya jauh lebih sedikit bergerak, hal tersebut dapat mengindikasikan adanya gangguan pada penghantaran saraf di salah satu sisi tubuh.

Menurut Hsieh, jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut—terutama setelah mengalami cedera kepala, terjatuh, atau guncangan keras—sebaiknya segera menjalani pemeriksaan oleh ahli bedah saraf.

Menjaga Kesehatan Otak Melalui Gaya Hidup

Tidak semua penyakit neurologis dapat dicegah. Namun, kebiasaan hidup sehat yang membantu mengurangi peradangan dan mendukung fungsi otak dapat membantu mempertahankan kemampuan bergerak seiring bertambahnya usia.

Ahli saraf Jepang Nobusada Shinoura merekomendasikan minyak bawang putih sebagai salah satu pilihan makanan yang menurutnya dapat mendukung kesehatan kognitif dan perlindungan saraf.

Sebuah ulasan yang diterbitkan dalam ACS Chemical Neuroscience menemukan bahwa berbagai senyawa kimia dalam bawang putih, terutama senyawa organosulfur, memiliki potensi terapeutik terhadap penyakit Parkinson.

Senyawa tersebut dapat membantu mengurangi stres oksidatif, memperbaiki fungsi mitokondria, serta meredam respons neuroinflamasi yang dapat merusak sel-sel saraf otak.

Minyak bawang putih dapat ditambahkan ke salad sayuran, sup miso, natto, tahu dingin, atau disantap bersama roti.

Shinoura mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ia memiliki kebiasaan mengonsumsi minyak bawang putih sebelum menjalani operasi. Menurut pengalamannya, setelah mengonsumsinya, aktivitas saraf terasa lebih hidup dan tubuh secara keseluruhan terasa lebih berenergi.

Namun, perlindungan otak tidak dapat bergantung pada satu jenis makanan saja.

Shinoura menekankan bahwa pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting. Menu sebaiknya didominasi sayuran dan biji-bijian utuh, disertai makanan fermentasi, makanan laut, dan jamur.

Ia secara khusus merekomendasikan ikan seperti bream sirip biru, saury, dan sarden, yang kaya akan asam lemak omega-3 DHA dan EPA yang bermanfaat bagi kesehatan otak.

Selain pola makan, Shinoura juga menyarankan olahraga aerobik seperti tai chi dan jalan cepat.

Intensitas olahraga cukup sampai tubuh mengeluarkan sedikit keringat dengan denyut nadi sekitar 110–120 kali per menit. Tidak perlu memaksakan diri melakukan olahraga yang terlalu berat.

Jangan Tunggu Ingatan Hilang untuk Menyadari Ada Masalah

Kehilangan ingatan bukan selalu menjadi jeritan pertama otak ketika meminta pertolongan.

Terkadang, tanda paling awal justru muncul dari sesuatu yang selama ini kita anggap sepele: langkah kaki.

Jika Anda mulai berjalan lebih lambat, mengambil langkah yang tidak biasa pendeknya, kesulitan berbelok, atau lebih sering kehilangan keseimbangan, jangan buru-buru menganggapnya sekadar bagian dari proses penuaan.

Perubahan kecil dalam cara berjalan bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam otak—dan semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang masalah tersebut dikenali lebih dini.

Aturan Baru Keluar-Masuk PKT Perluas Kontrol Perbatasan, Akademisi Ungkap Reaksi Kepanikan Pemerintahan Xi

Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah mengumumkan peraturan baru mengenai pengelolaan keluar-masuk wilayah Tiongkok yang memicu kritik luas dari berbagai kalangan. Menanggapi hal ini, Wang Hao, doktor hubungan internasional dari Universitas Oxford sekaligus penulis, menyatakan bahwa aturan tersebut merupakan undang-undang yang memberi kewenangan untuk menutup negara dengan menurunkan “Tirai Besi baru” bagi seluruh masyarakat. 

Menurutnya, langkah ini mencerminkan reaksi kepanikan akibat krisis kepercayaan terhadap pemerintahan, sedangkan slogan “reformasi dan keterbukaan” hanyalah kebohongan untuk menenangkan dunia luar.

EtIndonesia.com Pada 31 Juli, Dewan Negara Tiongkok mengumumkan “Peraturan Dewan Negara tentang Pengelolaan Keluar dan Masuk Wilayah Tiongkok” yang akan mulai berlaku pada 15 September. Dengan alasan “menjaga kedaulatan negara, keamanan, dan kepentingan pembangunan”, pemerintah memperluas kewenangan untuk membatasi warga negara Tiongkok bepergian ke luar negeri. 

Selain itu, warga Tiongkok yang dianggap melakukan “tindakan yang membahayakan keamanan atau kepentingan negara” di luar negeri dapat dilarang kembali meninggalkan Tiongkok selama enam bulan hingga tiga tahun setelah pulang.

Karena aturan baru tersebut menambah berbagai pembatasan terhadap perjalanan ke luar negeri serta memberikan kewenangan yang lebih besar kepada petugas pemeriksaan perbatasan, berbagai kalangan mengecamnya dan menyebutnya sebagai undang-undang yang membawa Tiongkok kembali pada kebijakan “menutup diri dari dunia luar”.

Pada 4 Agustus, Wang Hao menulis di Facebook bahwa aturan tersebut, dengan dalih “mendahulukan kebutuhan mendesak”, telah menanggalkan topeng terakhir klaim PKT tentang “keterbukaan terhadap dunia luar”. Sekilas tampak sebagai aturan administratif, tetapi pada hakikatnya merupakan dasar hukum untuk membangun “Tirai Besi baru” bagi seluruh masyarakat.

Menurut Wang Hao, bahaya utama aturan baru ini adalah meningkatnya kekuasaan kontrol perbatasan yang sangat luas dan dapat diterapkan secara sewenang-wenang. Pemerintah tingkat provinsi bahkan hingga tingkat kabupaten dapat melarang seseorang meninggalkan negara dengan alasan “berpotensi mengancam keamanan nasional”. Penahanan paksa terhadap tenaga ahli di bidang teknologi dan industri juga mencerminkan kecemasan Beijing yang mendalam menghadapi arus keluarnya talenta dan modal.

Mengenai ketentuan tentang kontrol perbatasan secara rahasia dan pemeriksaan data elektronik pribadi, Wang Hao mengatakan bahwa aturan tersebut menghilangkan hak masyarakat untuk mengetahui sebelumnya serta menghapus peluang memperoleh perlindungan hukum setelahnya. Akibatnya, kebebasan untuk bepergian ke luar negeri berubah dari hak asasi menjadi “hak istimewa” yang dapat diberikan atau dicabut sewaktu-waktu oleh pemerintah.

Wang Hao menegaskan bahwa hal ini bukanlah tanda kepercayaan diri pemerintah, melainkan reaksi kepanikan akibat krisis dalam pemerintahan. Menurutnya, pemerintahan yang benar-benar memiliki kemampuan tata kelola dan kepercayaan terhadap sistem akan memilih mengelola masalah, bukan mengunci pintu keluar. Ia juga mengingatkan bahwa pemegang Kartu Perjalanan Taiwan (Taiwan Compatriot Permit) juga akan terdampak sehingga risiko keluar-masuk wilayah Tiongkok meningkat tajam.

Wang Hao mengatakan bahwa pemerintahan Xi Jinping kini sedang melegalkan kontrol perbatasan sebagai praktik yang bersifat permanen. Fakta ini menunjukkan bahwa slogan “reformasi dan keterbukaan” yang dikumandangkan Beijing hanyalah kebohongan untuk konsumsi luar negeri, sedangkan “menutup diri dari dunia luar” merupakan strategi sebenarnya untuk mempertahankan kekuasaan.

Peraturan baru mengenai pengelolaan keluar-masuk Tiongkok terdiri dari 19 pasal. Salah satu ketentuan yang paling menimbulkan kekhawatiran publik adalah pemberian kewenangan kepada petugas perbatasan untuk “membujuk” seseorang agar tidak meninggalkan negara. Selain itu, untuk memverifikasi identitas dan alasan perjalanan, petugas imigrasi juga berhak meminta seseorang “menunjukkan atau menyerahkan dokumen, data, serta informasi elektronik yang relevan”.

Direktur Eksekutif Pusat Hukum Asia Universitas Georgetown, Profesor Tom Kellogg, mengatakan kepada BBC bahwa setelah aturan ini berlaku, siapa pun yang mengkritik pemerintah Tiongkok saat berada di luar negeri—bahkan mereka yang sebelumnya tidak menjadi perhatian pemerintah—dapat dilarang keluar negeri karena kini telah memiliki dasar hukum.

Ia juga mengatakan bahwa para aktivis hak asasi manusia, pengacara, dan intelektual liberal di Tiongkok pernah mengungkapkan bahwa sebelum memperoleh paspor atau diizinkan bepergian ke luar negeri, mereka harus berjanji kepada pejabat pemerintah yang mengawasi mereka bahwa mereka “tidak akan mengkritik Partai Komunis Tiongkok di luar negeri dan tidak akan bertemu dengan orang-orang yang dianggap sensitif”.

Profesor Henry Gao dari Fakultas Hukum Universitas Manajemen Singapura mengatakan kepada BBC bahwa para pembangkang politik akan menjadi kelompok pertama yang terkena dampaknya. Namun, ia mengingatkan bahwa karena definisi “kepentingan keamanan nasional” sangat luas dan kewenangan pelaksanaannya diserahkan hingga tingkat pemerintah provinsi, aturan tersebut pada masa mendatang dapat diterapkan kepada kelompok masyarakat yang jauh lebih luas.

Baru-baru ini, Henry Gao menulis di platform X, memperingatkan, “Seperti yang telah saya katakan selama bertahun-tahun, jika Anda masih bisa pergi, pergilah sekarang. Lebih tepatnya, sebelum peraturan ini mulai berlaku dalam 45 hari.”

Sumber : NTDTV.com 

Belanja Naik Helikopter! Pria Lansia 69 Tahun Mendarat Gagah di Area Parkir Pasar

EtIndonesia.com Seorang pria lanjut usia berusia 69 tahun di Amerika Serikat diduga tinggal di daerah yang cukup terpencil. Karena merasa terlalu lama jika harus berkendara untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, ia memutuskan pergi ke pasar dengan mengendarai helikopter.

Sabtu (1/8/2026) lalu, sebuah helikopter tampak terparkir di area parkir depan toko perlengkapan luar ruang Cabela’s di negara bagian Wisconsin.

Ternyata, pria berusia 69 tahun tersebut tinggal cukup jauh dari pusat kota sehingga perjalanan untuk membeli barang-barang kebutuhan memakan waktu lama. Akhirnya, ia menerbangkan helikopternya sendiri dan mendarat langsung di lokasi.

Kedatangannya tentu saja menarik perhatian polisi setempat.

Menurut keterangan kepolisian, pria tersebut memiliki lisensi pilot yang sah, mendarat dengan aman, serta mematuhi seluruh peraturan Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Karena itu, menggunakan helikopter untuk berbelanja tidak melanggar hukum.

Adapun mengenai apa saja yang dibelinya, pihak kepolisian tidak mengungkapkan.

Namun, para warganet mulai berimajinasi dengan berbagai tebakan lucu, seperti: dua bungkus dendeng sapi, satu kantong kentang, satu buah bawang bombay, satu potong ikan salmon, dan tentu saja sekotak kue es krim!

Laporan disusun oleh Ren Hao, NTD Television.

Produksi Emas Tiongkok Turun Hampir 15%, Konsumsi Perhiasan Emas Anjlok 34% 

Data terbaru dari Asosiasi Emas Tiongkok menunjukkan bahwa pada paruh pertama tahun 2026, produksi emas Tiongkok turun hampir 15% secara tahunan, sementara konsumsi perhiasan emas anjlok hampir 34%, mencatat salah satu penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir

EtIndonesia.com  Pada 6 Agustus, Asosiasi Emas Tiongkok merilis data statistik terbaru yang menunjukkan bahwa produksi emas Tiongkok pada semester pertama tahun ini mencapai 152,908 ton, turun 14,62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Mengenai penyebab penurunan produksi emas, Asosiasi Emas Tiongkok menyatakan bahwa pada paruh pertama tahun ini, sejumlah provinsi penghasil emas utama melaksanakan inspeksi menyeluruh terhadap keselamatan tambang, penertiban besar-besaran, dan program pengawasan khusus. Sebagian tambang menghentikan operasinya untuk melakukan pemeriksaan mandiri, sehingga mempengaruhi produksi emas sampai batas tertentu.

Di sisi konsumsi, total konsumsi emas Tiongkok pada semester pertama mencapai 511,412 ton, meningkat 1,23% dibandingkan tahun lalu. Rinciannya, konsumsi perhiasan emas mencapai 132,133 ton, turun 33,88%; konsumsi emas batangan dan koin emas mencapai 339,336 ton, naik 28,42%; sedangkan penggunaan emas untuk industri dan keperluan lainnya mencapai 39,943 ton, turun 2,9%.

Asosiasi Emas Tiongkok menyatakan bahwa fluktuasi harga emas yang tinggi, ditambah penerapan aturan baru perpajakan emas, menyebabkan struktur konsumsi emas terus berubah. Emas batangan dan koin emas menjadi produk yang paling diminati pasar. Sementara itu, tingginya harga emas juga meningkatkan biaya penggunaan emas bagi perusahaan industri, sehingga permintaan emas untuk keperluan industri menurun.

Selain itu, data Asosiasi Emas Tiongkok menunjukkan bahwa pada paruh pertama tahun 2026, penambahan kepemilikan ETF emas domestik di Tiongkok mencapai 28,677 ton, turun 66,17% dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Selama paruh pertama tahun 2026, Tiongkok menambah cadangan emas sebesar 40,12 ton. Hingga akhir Juni, total cadangan emas negara mencapai 2.346,45 ton, menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Sejak November 2024 hingga Juni 2026, Tiongkok telah menambah cadangan emas selama 20 bulan berturut-turut.

Sejumlah analis berpendapat bahwa salah satu tujuan utama Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus menambah cadangan emas adalah membangun pasar perdagangan emas di Hong Kong yang setara dengan Bursa Emas London, menjadikan Hong Kong sebagai pusat perdagangan emas di Asia, serta berupaya bersaing dengan London dan New York dalam pasar emas. 

Melalui langkah tersebut, PKT berupaya memperoleh pengaruh lebih besar terhadap penetapan harga komoditas global sekaligus mendorong internasionalisasi mata uang Renminbi (RMB).

Sumber : NTDTV.com