Anjing di Tiongkok Mempertaruhkan Nyawa demi Menyelamatkan Pemiliknya dari Ular, Digigit, dan Pulih dalam Kondisi Stabil

EtIndonesia. Seekor anjing peliharaan di Tiongkok hampir mengorbankan nyawanya sendiri setelah digigit ular berbisa saat menyelamatkan pemiliknya.

Pemiliknya, Meng, dan keluarganya pindah ke sebuah desa di Provinsi Hebei, Tiongkok utara, pada bulan Juni.

Mereka pindah agar dua anjing Shiba Inu peliharaannya, Hetao yang berusia dua tahun dan Duoduo yang berusia satu tahun, memiliki lebih banyak ruang bermain.

Pada pagi hari tanggal 29 Agustus, Meng mendengar Duoduo menggonggong di halaman depan.

Dia mengira Duoduo menggonggong pada orang asing, tetapi ketika dia dan Hetao keluar, dia melihat seekor ular.

Meng segera memanggil Duoduo kembali, tetapi ular itu juga menghampirinya. Hetao segera melesat maju untuk melindungi Meng.

Meng mengatakan Hetao selalu menjadi yang pertama melindungi keluarganya.

Dia memanggil kembali kedua anjing peliharaannya dan menelepon suaminya, yang sedang tidak ada di rumah.

Namun, lima menit kemudian, dia kembali dan menemukan ular itu.

Itu adalah Mamushi berekor pendek, sejenis ular beludak berbisa.

Saat itulah Meng dan suaminya menyadari bahwa Hetao telah digigit ular beludak tersebut, lukanya sudah bengkak dan tubuhnya menegang.

Meng segera membawanya ke klinik hewan tempat dokter hewan membersihkan lukanya. Tidak ada penawar racun yang tersedia.

Dia tetap di sisi Hetao sementara suaminya berkendara berjam-jam ke Beijing untuk membeli obat gigitan ular.

Meng membawa Hetao pulang dari klinik malam itu, dan begadang untuk memberinya air setiap 30 menit. Dia mengatakan dia menangis setiap kali Hetao melolong kesakitan. Seluruh kepala Hetao bengkak.

Dia membawa anjing itu kembali ke klinik keesokan paginya untuk melanjutkan perawatan.

Mereka lega karena Hetao perlahan pulih dan bisa makan dan minum.

Seminggu kemudian, Hetao sudah tidak dalam bahaya, dan setelah tiga minggu, lukanya telah tertutup keropeng.

Meng mengatakan dia akan mengerahkan segenap upaya untuk menyelamatkan nyawa anjing-anjing peliharaannya karena mereka adalah keluarganya.

“Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan saya. Saya melakukan segalanya untuk menyelamatkannya. Semua yang kami lakukan adalah agar kami dapat saling menemani di masa depan,” kata Meng.

Dia mengingatkan orang-orang untuk menjaga hewan peliharaan mereka di tempat yang aman dan tidak membawanya ke hutan dan padang rumput setelah hujan.

“Saya akan menghabiskan semua uang saya untuk menyelamatkan hewan peliharaan saya,” kata seorang pengamat daring.

“Saya harap dia panjang umur dan bahagia,” kata yang lain. (yn)

Wanita Telan Delapan Katak Hidup untuk Sembuhkan Sakit Punggungnya

EtIndonesia. Seorang wanita tua di Tiongkok baru-baru ini dirawat di rumah sakit setelah menelan delapan katak hidup untuk mengobati sakit punggung yang disebabkan oleh herniasi diskus tulang belakang.

Saat menderita sakit punggung, kebanyakan orang akan mengonsumsi obat pereda nyeri, mungkin menggunakan salep, atau berkonsultasi dengan dokter. Namun, seorang wanita tua dari Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, memutuskan bahwa tindakan terbaik adalah menelan katak.

Setelah mendengar desas-desus bahwa menelan katak hidup dapat membantu meredakan sakit punggung, wanita bermarga Zhang ini meminta beberapa kerabatnya untuk menangkap beberapa amfibi berukuran sedang, tetapi tidak memberi tahu mereka apa yang akan dia lakukan dengan katak-katak tersebut.

Dia kemudian menelan lima katak hidup pada suatu hari, dan kemudian tiga katak lagi keesokan harinya. Tak lama kemudian, dia mulai mengalami sakit perut yang luar biasa.

Awalnya, Zhang hanya merasakan sedikit ketidaknyamanan di perutnya, tetapi intensitas rasa sakitnya meningkat di hari-hari berikutnya. Baru setelah tak sanggup lagi menahannya, dia mengaku kepada keluarganya bahwa dia telah menelan delapan katak hidup.

Ketika dilarikan ke Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhejiang, dokter melakukan tes dan menyingkirkan kemungkinan tumor, tetapi menemukan jumlah sel oksifil yang sangat tinggi di dalam tubuhnya – sebuah tanda penyakit tertentu seperti infeksi parasit atau kelainan darah.

“Menelan katak hidup merusak sistem pencernaan pasien dan memungkinkan parasit masuk ke dalam tubuhnya,” kata seorang dokter kepada wartawan, menambahkan bahwa pasien tersebut telah terinfeksi cacing pita Sparganum, parasit yang umum ditemukan pada orang yang memakan atau bersentuhan dengan katak dan ular hidup.

Setelah dua minggu di rumah sakit, Nyonya Zhang pulih sepenuhnya dan diperbolehkan pulang, tetapi dokter ingin menggunakan kasusnya sebagai peringatan tentang risiko pengobatan tradisional.

“Selain menelan katak, banyak orang juga memakan empedu ular, empedu ikan mentah, atau melapisi tubuh mereka dengan kulit katak,” kata seorang dokter. “Sebagian besar dari mereka sudah lanjut usia dan jarang membicarakan kesehatan mereka dengan anak dan cucu mereka, dan hanya pergi ke rumah sakit ketika mereka sakit parah.” (yn)

Masih Ada Banyak Orang di Dunia Ini yang Peduli dengan ‘Uang’ Recehan

EtIndonesia. Aku pernah melihat seorang nenek tua di dalam bus.  Dia salah memasukkan uang ke kotak tiket — seharusnya satu yuan, tapi yang terjatuh ke dalam kotak justru lima yuan. Sejak bus melaju, dia terus memohon kepada sopir agar uangnya dikembalikan. Namun karena bus penuh sesak, sang sopir hanya menjawab dingin: “Saya tidak lihat,” dan mengabaikannya sepanjang jalan.

Nenek itu terus memohon selama lebih dari sepuluh menit, tapi sopir tetap tak bergeming. Akhirnya, dia menutupi wajahnya dan menangis diam-diam di pojok kursi.

Seorang gadis muda yang duduk tak jauh darinya tampak tak tega. 

Dia lalu mengambil selembar uang lima yuan dari tasnya, dan berkata dengan lembut: “Nenek, uang nenek nggak hilang kok, ini tadi jatuh di lantai.”

Nenek itu menatap gadis itu sejenak, lalu menggenggam tangannya dan berucap lirih : “Terima kasih, Nak… tapi uangku tidak sebaru ini.”

Aku juga pernah melihat sepasang suami istri yang berjualan cakwe dan susu kedelai di pinggir jalan. Suatu pagi, ketika pelanggan sedang ramai, mereka salah memberikan uang kembalian — entah kelebihan sepuluh yuan atau dua puluh.

Mereka panik dan berlari mengejar pelanggan yang sudah pergi naik motor. Namun, entah orang itu pura-pura tidak dengar atau memang tidak peduli,  dia malah menambah gas dan menghilang di tikungan.

Sang istri tersungkur di jalan, lututnya berdarah. Sambil menangis, dia memaki suaminya: “Kamu buta, ya?! Lihat uang saja salah!”

Suaminya hanya terdiam dengan wajah merah padam. Dia berjalan mendekat, membantu istrinya berdiri, lalu menampar dirinya sendiri dengan keras.

Pernah juga aku bertemu seorang gadis kecil. Dia membawa tas sekolah yang sudah robek dan mengenakan celana jeans lusuh.  Malam itu sudah sangat dingin — udara musim dingin menusuk tulang, dan dia berjalan bolak-balik di jalan yang gelap tanpa lampu.

Kami menghentikan mobil di dekatnya.

 Pacarku menurunkan kaca dan bertanya: “Adik, kamu ngapain malam-malam di sini?”

Gadis itu menunduk, matanya memerah : “Uangku hilang…”

Pacarku berkata lembut: “Pulanglah, Nak. Sudah malam, nanti orangtua kamu khawatir.”

Tapi gadis kecil itu menjawab dengan suara bergetar : “Kak, kamu nggak tahu… uang itu buat beli buku pelajaran. Nenekku ngumpulin uang itu sebulan penuh dari hasil memungut botol bekas…”

Bagi sebagian orang, mungkin mereka akan bertanya :  “Demi uang segitu kecil, memangnya pantas menangis begitu?”

Lima yuan hanya cukup untuk segelas minuman ringan. Sepuluh yuan cuma bisa bayar dua jam di warnet. Tiga puluh yuan hanyalah harga sebungkus rokok.

Namun bagi sebagian orang lain, uang itu adalah harapan hidup. Dalam tekanan dan kesempitan hidup yang berat,  uang sekecil itu bisa menjadi tangkai jerami terakhir yang mereka genggam di tengah lautan kehidupan yang menenggelamkan.

Dunia ini terlalu sering menilai segalanya dari sudut pandang sendiri. Kita yang terbiasa melihat gemerlap kehidupan selebritas, berjalan di jalanan kota yang penuh cahaya dan gedung tinggi, berbelanja di toko-toko mahal, kadang lupa bahwa di sudut lain dunia ini, masih banyak orang yang hidup dengan sangat sederhana.

Kita sering mengira kemiskinan itu cuma kisah menyedihkan di berita, atau sekadar bahan lelucon untuk menarik simpati.  Padahal, itu nyata.

Kita memang harus belajar menatap langit,  namun juga harus belajar menunduk memandang debu di bawah kaki kita.

Orang yang berkata bahwa uang itu tidak penting, biasanya adalah orang yang belum benar-benar mengenal hidup.

Aku pun pernah begitu. Waktu SMA, aku sangat boros — uang jajan bulanan lebih dari seribu yuan, dan sebagian besar kuhabiskan untuk beli baju dan isi saldo game. Ketika uang habis, aku meminjam sana-sini. Kalau tak ada yang mau meminjamkan, aku pulang diam-diam ke rumah dan mengambil uang dari lemari ayahku.

Suatu hari, aku kembali ke rumah untuk mencuri seribu yuan lagi, dan ketika sedang bersemangat memasukkannya ke saku, ayah tiba-tiba masuk ke kamar. Aku benar-benar tak sempat beralasan — wajahnya datar, tapi matanya tajam.

Dia hanya bertanya pelan : “Uangmu sudah habis, ya?”

Aku menunduk, wajahku panas, siap menerima kemarahan.

Tapi tak kuduga, dia hanya berkata :“Di sekolah, belajarlah yang benar. Jangan main terus.”

Aku melihat dia sedang membawa kantong plastik — isinya hanya empat buah roti kukus. Di meja makan cuma ada dua piring sayur hijau sederhana. Itulah makan siangnya hari itu.

Di saat itu, aku merasa malu luar biasa. Aku baru sadar, kenyamanan hidupku ada karena ada seseorang yang menanggung beratnya untukku.

Aku bertanya pelan : “Ayah… makan siangnya cuma ini?”

Dia tersenyum kecil : “Nggak apa-apa. Rumah cuma kita berdua, seadanya saja cukup.”

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. 

Lalu ayah menepuk bahuku, dan dengan suara tenang dia berkata sesuatu yang membuat air mataku tak bisa dibendung: “Oh iya, kamu belum makan kan? Ayo, kita makan di luar saja.”

Makna di Balik Uang “Kecil” Receh

Sejak hari itu, aku mengerti — setiap uang kecil punya cerita besar. Bagi sebagian orang, lima atau sepuluh yuan mungkin tak berarti apa-apa, tapi bagi yang hidup dari jerih payahnya, uang itu adalah hasil keringat, air mata, dan perjuangan.

Kita tak pernah tahu, berapa banyak pengorbanan yang tersembunyi di balik setiap lembar uang lusuh di tangan seseorang.

Jadi sebelum menertawakan orang yang “terlalu peduli pada uang kecil,” ingatlah:
bagi mereka, itulah bukti bahwa mereka masih berjuang untuk hidup dengan bermartabat. (jhn/yn)

Keterikatan Adalah Belenggu, Melepaskannya Adalah Kebebasan

EtIndonesia. Dalam perjalanan hidup, setiap orang — cepat atau lambat — pernah terjerat oleh sesuatu yang disebut “keterikatan”.  Keterikatan itu bisa berupa penyesalan terhadap masa lalu, ketakutan akan masa depan, atau rasa enggan melepaskan sesuatu atau seseorang di masa kini. Dia seperti rantai tak kasat mata yang membelit hati, membuat napas terasa sesak dan jiwa sulit bebas.

Ada yang berkata: “Manusia menderita karena pikirannya terlalu dalam, dan keinginannya terlalu berat.”

Jika kita renungkan, memang benar demikian. Ketika kita terus mengurung diri dalam bayang-bayang masa lalu, atau menggenggam erat apa yang telah pergi, tanpa sadar — kita sendirilah penjaga penjara hati kita sendiri.

Hakikat dari Keterikatan

Hakikat keterikatan adalah ketidakmauan untuk melepaskan. Kadang kita masih menyimpan harapan kosong terhadap cinta yang telah berlalu, atau belum bisa berdamai dengan mimpi yang gagal kita wujudkan.

Ada kalanya pula kita terjebak dalam penilaian terhadap seseorang, atau terus memutar ulang peristiwa yang telah lewat — hingga akhirnya terperangkap dalam siklus penderitaan yang kita ciptakan sendiri.

Keadaan itu seperti seseorang yang terus membuka pintu yang sama di tengah malam, namun setiap kali dibuka, yang ditemui tetaplah kegelapan — karena memang tidak ada jalan keluar di sana.

Kekuatan Melepaskan

Namun, sedalam apa pun keterikatan itu, dia bukanlah sesuatu yang tak bisa dilepaskan. Kuncinya ada pada satu hal: melepaskan.

Melepaskan bukan berarti lari dari kenyataan, bukan pula menyangkal atau mengabaikan, melainkan tanda dari pemahaman yang lebih tinggi —  sebuah bentuk penerimaan yang matang terhadap hidup.

Ketika kita mulai memahami hakikat dari segala sesuatu, bahwa “memiliki dan kehilangan” hanyalah bagian alami dari perjalanan manusia, perlahan-lahan genggaman tangan itu akan melonggar dengan sendirinya.

Seperti menggenggam ranting berduri — semakin kuat kita mencengkeramnya, semakin dalam duri itu melukai tangan.  Namun begitu kita belajar untuk melepaskannya, rasa sakit pun mulai reda, dan ruang baru terbuka untuk penyembuhan dan harapan.

Melepaskan Butuh Keberanian dan Kebijaksanaan

Untuk benar-benar bisa melepaskan, kita butuh dua hal: keberanian dan kebijaksanaan.

Keberanian — untuk menatap luka di dalam diri tanpa lagi berpura-pura atau menghindar Kebijaksanaan — untuk menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar bisa kita miliki selamanya;  hidup adalah tentang aliran dan perubahan.

Sering kali, apa yang kita anggap sebagai “kehilangan”, sesungguhnya adalah cara lain dari kehidupan untuk menyempurnakan kita.

 Orang yang pergi mengajarkan kita arti menghargai, kesempatan yang terlewat mengingatkan kita untuk belajar, dan akhir yang tak sempurna membuat kita tumbuh lebih dewasa.

Jika kita mampu mengambil pelajaran dari setiap kehilangan, kita akan sadar — bahwa setiap pengalaman pahit pun adalah sebuah hadiah.

Kebebasan yang Sebenarnya Ada di Dalam Diri

Kebebasan sejati bukan berarti hidup tanpa batas dari luar, melainkan hati yang lapang dari dalam. Ketika kita sungguh-sungguh melepaskan keterikatan, hati akan terasa luas seperti langit biru tanpa awan.

Kita pun mulai menyadari, bahwa dunia ini sejak awal sudah begitu indah dan luas — hanya saja, dulu kita terlalu fokus pada satu sudut kecil, hingga tidak mampu melihat keindahan yang lain.

Kisah Si Pengemban Batu

Ada sebuah kisah sederhana:

 Seorang biksu melihat seseorang berjalan dengan susah payah sambil memikul batu besar di punggungnya.

 Biksu itu bertanya, “Mengapa kamu tidak menurunkannya?”

Orang itu menjawab :  “Batu-batu ini aku kumpulkan selama bertahun-tahun. Meski berat, aku tak tega membuangnya.”

Biksu itu tersenyum dan berkata : “Kalau kamu tidak meletakkannya, bagaimana bisa berjalan lebih jauh?”

Begitulah hidup — sering kali kita berpikir harus membawa semua beban, kenangan, tanggung jawab, dan harapan bersama kita, tanpa sadar, beban itu justru membuat langkah tak lagi maju Hanya dengan melepaskan, barulah kita bisa melihat pemandangan yang lebih jauh dan indah.

Kebebasan Ada di Tanganmu Sendiri

Keterikatan itu seperti gembok yang mengurung hati, namun kuncinya selalu berada di tangan kita sendiri. Kebebasan tidak datang dari orang lain, melainkan dari keputusan kita untuk membuka hati.

Melepaskan bukan berarti melupakan, melainkan melangkah maju dengan rasa syukur dan pemahaman. Ketika kita mampu melakukan itu, hidup menjadi lebih ringan, dan jiwa pun menjadi tenang.

Akhir yang Penuh Harapan

Semoga suatu hari nanti, kita semua mampu berkata pada diri sendiri: “Sudah cukup. Aku siap melepaskan.”

Karena hanya dengan melepaskan, kita bisa menyambut keindahan yang baru. Dan hanya dengan kebebasan, kita bisa menemukan versi diri kita yang paling utuh dan damai. (jhn/yn)

Australia dan Papua Nugini Teken Pakta Pertahanan Bersama, Saling Bantu Jika Diserang

 Albanese sebut PNG sebagai ‘sekutu terbaru’ Australia, Marape tegaskan kepercayaan tanpa syarat dalam kemitraan.

oleh Naziya Alvi Rahman

Australia dan Papua Nugini (PNG) secara resmi menandatangani Pukpuk Treaty yang telah lama dinantikan di Canberra pada 6 Oktober, menegaskan kedua negara sebagai sekutu resmi.

Perjanjian itu ditandatangani di hadapan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Perdana Menteri PNG James Marape, dan Menteri Pertahanan Richard Marles—dua minggu setelah upacara semula ditunda akibat kebingungan internal di Port Moresby dan tekanan dari Beijing.

Kedua pemimpin menyebut penandatanganan perjanjian itu sebagai momen bersejarah.
“Perjanjian ini meningkatkan hubungan antara kedua negara kita ke tingkat aliansi. Ini adalah aliansi baru pertama Australia dalam lebih dari 70 tahun, dan hanya yang ketiga dalam sejarah kami,” ujar Albanese, merujuk pada aliansi Australia dengan Amerika Serikat dan Selandia Baru.

“Atas nama pemerintah dan rakyat Australia, kami menganggapnya sebagai kehormatan besar bahwa tetangga terdekat kami kini menjadi sekutu terbaru kami,” tambahnya.

Marape mengatakan Australia telah lama menjadi mitra pilihan PNG.

 “Kami membuat keputusan strategis, pilihan sadar, bahwa Australia akan menjadi mitra keamanan utama kami—dan saya tidak akan pernah menyesali keputusan itu,” katanya.

 “Ini tidak ada hubungannya dengan rugby league atau geopolitik … tetapi murni berasal dari hati dan jiwa PNG, untuk hidup berdampingan dengan Australia di kawasan ini menuju masa depan.”

Makna dari Pukpuk Treaty

Pukpuk Treaty menetapkan komitmen kedua negara untuk “bertindak menghadapi bahaya bersama” jika salah satu diserang, yang secara efektif menempatkan PNG sebagai sekutu resmi setara dengan mitra keamanan tertua Australia.

Pakta ini juga memungkinkan warga Papua Nugini untuk bergabung dengan Angkatan Pertahanan Australia (ADF) serta mewajibkan Australia untuk menanamkan investasi bernilai miliaran dolar guna memperkuat kemampuan pertahanan PNG.

Perjanjian tersebut bertujuan menjadikan kedua angkatan bersenjata saling terintegrasi dan memperdalam kerja sama pertahanan melalui latihan gabungan, pertukaran intelijen, dan koordinasi keamanan regional.

Finalisasi kesepakatan ini dipandang sebagai kemenangan diplomatik bagi Canberra setelah bertahun-tahun negosiasi yang rumit.

Kabinet PNG menyetujui perjanjian itu dengan “mayoritas mutlak” pada September, setelah Albanese terbang ke Port Moresby untuk menghadiri perayaan ulang tahun kemerdekaan ke-50 PNG.

Penandatanganan awalnya dijadwalkan berlangsung pada saat itu, namun ditunda setelah beberapa menteri PNG kembali ke provinsi masing-masing sehingga kuorum kabinet tidak terpenuhi.

Meski sempat tertunda—dan disertai momen canggung ketika pena emas disiapkan untuk penandatanganan yang ternyata hanya pernyataan bersama—kedua pemerintah tetap melanjutkan prosesnya.

Kesepakatan ini kini menjadi pilar utama strategi keterlibatan Australia di kawasan Pasifik.

Peringatan Beijing dan Upaya Seimbang PNG

Penandatanganan ini terjadi di tengah meningkatnya persaingan strategis di Pasifik, di mana Beijing secara terbuka memperingatkan PNG agar tidak menandatangani perjanjian apa pun yang dapat “membatasi atau menghalangi” kerja samanya dengan negara lain.

Kedutaan Besar Tiongkok di Port Moresby mengeluarkan peringatan itu pada 18 September, menunjukkan kekhawatiran terhadap meningkatnya pengaruh pertahanan Australia di kawasan.

Ketika ditanya apakah Pukpuk Treaty merupakan pesan bagi Tiongkok, kedua pemimpin menepis anggapan tersebut.

 “Perjanjian ini tentang hubungan kami dengan tetangga terdekat kami,” ujar Albanese.

Marape menekankan sifat kolaboratif dari kesepakatan itu.
“Perjanjian ini tidak membentuk musuh, tetapi memperkuat persahabatan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa PNG telah memberi tahu Tiongkok mengenai keputusan tersebut.
“Mereka memahami aliansi kami di sini,” kata Marape. “Australia tetap menjaga hubungan mereka dengan Tiongkok dan negara lainnya. Kami pun tetap menjaga hubungan kami dengan Tiongkok dan negara lain. Setiap hubungan luar negeri kami tetap dipertahankan dalam konteks perjanjian keamanan ini.”

Kendati demikian, pengaruh Tiongkok masih kuat di PNG—negara Pasifik pertama yang menandatangani Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) dan kini menjadi penerima bantuan Tiongkok terbesar di kawasan.

Menteri Pertahanan PNG Billy Joseph dilaporkan akan mengunjungi Beijing sebagai bagian dari “tur regional” untuk menjelaskan tujuan perjanjian ini dan menenangkan kekhawatiran para mitra kawasan.

Dampak Lebih Luas bagi Kawasan

Bagi Australia, Pukpuk Treaty menandai langkah yang lebih luas untuk menahan pengaruh  komunis Tiongkok  yang terus meluas di Pasifik dengan memperkuat kemitraan keamanan dengan negara-negara tetangga terdekatnya.

Canberra kini juga tengah berupaya mencapai perjanjian serupa dengan Vanuatu, meski prosesnya berjalan lambat.

Pembicaraan terkait kesepakatan senilai 500 juta dolar Australia yang dikenal sebagai “Nakamal Agreement” di Port Vila gagal bulan lalu akibat penolakan dalam negeri.

Menteri Dalam Negeri Vanuatu Andrew Napuat menyatakan kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut dapat membatasi kemampuan negaranya menerima pendanaan infrastruktur dari pihak ketiga.

Beberapa minggu kemudian, pemerintahan Perdana Menteri Jotham Napat mengumumkan rencana untuk menandatangani nota kesepahaman dengan Beijing guna memperluas kerja sama kepolisian—langkah yang dianggap sebagai kemunduran bagi diplomasi regional Australia.

Ketika Menteri Urusan Pasifik Australia Pat Conroy menyebut kesepakatan itu sebagai “aspiratif,” Napuat menuduhnya “arogan dan tidak paham,” sambil menegaskan bahwa kedaulatan Vanuatu harus dihormati.

Ukraina Akan Menerima Puluhan Jet Tempur F-16 dari Belgia, Lapor Defense Express

EtIndonesia. Ukraina akan menerima tambahan jet tempur F-16 dari Belgia. Negara ini sudah mulai menerima pesawat F-35 generasi kelima pertamanya sebagai pengganti, lapor Defense Express.

F-35 baru, yang telah ditunggu Belgia selama tujuh tahun, telah tiba di Pangkalan Udara Florennes, tempat mereka akan ditugaskan ke Skuadron 1. Mereka diharapkan siap untuk operasi tanggap cepat pada tahun 2027.

Pada saat yang sama, Belgia akan tetap mengoperasikan F-16-nya hingga tahun 2028, ketika mereka akan sepenuhnya digantikan oleh pesawat tempur generasi kelima.

Pesawat yang lebih tua akan secara bertahap ditarik dari angkatan udara negara itu dan kemudian ditransfer ke Ukraina.

Pengiriman F-35 ke Belgia sedang dilakukan oleh perusahaan AS Lockheed Martin. Berdasarkan perjanjian awal, pesawat pertama diperkirakan tiba pada tahun 2023, tetapi pesawat tersebut baru siap pada tahun 2024 dan digunakan untuk pelatihan pilot di Amerika Serikat.

F-35 pertama yang khusus ditujukan untuk Belgia baru diluncurkan dari jalur produksi pada awal Juni tahun ini, dengan nomor FL009. Batch pertama yang ditransfer ke Belgia terdiri dari empat pesawat.

Sumber berita tersebut menyatakan bahwa hal ini akan memungkinkan Belgia untuk mengirimkan F-16 pertamanya ke Ukraina pada tahun 2026. Ini akan memperkuat armada udara Ukraina dan memberikan kapasitas operasional tambahan bagi para pembelanya.

Secara total, Belgia memesan 34 jet F-35A berdasarkan kontrak yang ditandatangani tujuh tahun lalu, pada Oktober 2018. Baru-baru ini, negara tersebut memutuskan bahwa jumlah ini tidak akan mencukupi dan berencana untuk memesan 11 unit tambahan.

Ukraina juga mungkin akan menerima pesawat tempur Gripen multi-peran Swedia. Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal Ivan Havryliuk mengonfirmasi hal ini tetapi tidak merinci kapan atau berapa banyak pesawat yang akan dikirimkan. (yn)

Trump Pertimbangkan Kunjungan ke Timur Tengah Dalam Lanjutan Pembicaraan Damai Gaza

 “Saya mungkin akan ke sana pada akhir pekan, mungkin Minggu … negosiasi berjalan sangat baik,” kata Trump.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Oktober mengatakan bahwa ia mungkin akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada hari Minggu untuk mengikuti pembicaraan perdamaian guna mengakhiri perang antara Israel dan Hamas di Gaza serta memastikan pemulangan sandera yang tersisa.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat meja bundar dengan sejumlah anggota kabinet pada Rabu waktu setempat, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok Hamas telah menandatangani kesepakatan pembebasan sandera yang dirancang oleh Amerika Serikat, sementara pembicaraan damai tahap akhir untuk mengakhiri perang masih berlangsung.

Dalam rapat tersebut, Trump mengatakan bahwa ia baru saja kembali setelah membahas potensi kesepakatan damai Gaza dengan beberapa delegasi Timur Tengah, anggota timnya, dan pihak terkait lainnya. Ia mengisyaratkan bahwa dirinya mungkin akan terbang ke Timur Tengah akhir pekan ini untuk melakukan perundingan langsung guna memantapkan kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri perang tersebut.

“Kesepakatan ini sudah sangat dekat, dan semuanya berjalan dengan baik. Kami memiliki tim hebat di sana, para negosiator yang luar biasa … dan di pihak lain juga ada negosiator yang hebat. Saya rasa hal ini punya peluang besar untuk terjadi,” ujar Trump.
“Saya mungkin akan ke sana pada akhir pekan, mungkin Minggu. Kita lihat nanti, tapi peluangnya sangat baik … negosiasi berjalan dengan sangat baik.”

Trump menambahkan bahwa banyak pihak terlibat dalam pembicaraan tersebut, termasuk Hamas serta negara-negara Muslim dan Arab lainnya.

“Negosiasi terakhir kami, seperti yang Anda tahu, adalah dengan Hamas, dan sepertinya berjalan baik,” katanya. “Kami mungkin akan berangkat pada hari Minggu, atau Sabtu, mungkin agak malam sedikit, tapi itu jadwal kami.”

Sekitar satu jam setelah pertemuan tersebut dimulai, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan secarik catatan kepada Trump. “Kami sudah sangat dekat dengan kesepakatan di Timur Tengah,” kata Trump, mengutip isi catatan itu, “dan mereka mungkin segera membutuhkan saya.”

Bulan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan rencana perdamaian multi-tahap untuk Timur Tengah guna mengakhiri perang tersebut.
Rencana dari Washington itu mencakup:

  • Pemulangan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal;
  • Penghentian serangan Israel terhadap Qatar;
  • Gencatan senjata segera;
  • Peningkatan besar bantuan kemanusiaan ke Gaza;
  • Program rekonstruksi berskala besar;
  • Serta dialog baru antara Palestina dan Israel untuk mencapai “koeksistensi damai.”

Pada 29 September, Trump menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, di mana Netanyahu menyetujui rencana perdamaian Gaza yang diusulkan AS.

Sementara itu, pada 8 Oktober, Hamas mengatakan telah menukar daftar sandera Palestina dan Israel yang akan dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran.

Perkembangan ini terjadi pada hari ketiga negosiasi antara Hamas dan Israel, dengan delegasi Mesir, Amerika Serikat, dan Qatar bertindak sebagai mediator untuk mengakhiri perang dan memantapkan rencana perdamaian rancangan AS.

“Para mediator berupaya keras untuk menghapus segala hambatan menuju pelaksanaan gencatan senjata, dan semua pihak merasa optimistis,” kata Hamas, seperti dikutip oleh Al Aqsa TV, media yang berafiliasi dengan kelompok tersebut.

Laporan ini turut disusun oleh Emel Akan, Evgenia Filimianova, dan Reuters.

Taliban Blokir Instagram, Facebook, dan X di Tengah Tindakan Keras Baru Media Sosial

EtIndonesia. Seminggu setelah pemadaman dua hari, Taliban mengumumkan pembatasan media sosial baru, memblokir akses ke platform populer seperti Instagram, Facebook, dan X di seluruh Afghanistan.

NetBlocks, yang memantau akses web, mengonfirmasi larangan media sosial tersebut, dan menambahkan bahwa hal itu merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Taliban untuk mengendalikan internet.

Selain pembatasan media sosial, data jaringan menunjukkan Afghanistan pada hari Selasa memberlakukan penutupan internet putaran ketiga di Kandahar, dengan hanya layanan terbatas yang tersedia untuk beberapa lembaga negara.

Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi mengatakan bahwa filter telah diterapkan untuk membatasi jenis konten tertentu di platform media sosial, menurut BBC.

Taliban memblokir atau mengendalikan unggahan dan aplikasi media sosial tertentu, tetapi mereka belum menjelaskan konten apa yang diizinkan atau dilarang.

Warga di Kabul mengatakan mereka tidak dapat lagi menonton video di akun Facebook mereka, dan akses ke Instagram juga dibatasi.

Seorang juru bicara Taliban mengatakan: “Kami berharap kali ini tidak akan ada larangan internet sepenuhnya. Penyaringan hampir diterapkan di seluruh wilayah, dan sebagian besar provinsi kini telah tercakup.”

Seorang pria yang bekerja di kantor pemerintah di Provinsi Nangarhar bagian timur mengatakan dia dapat membuka Facebook, tetapi tidak dapat melihat gambar atau memutar video dan juga menyebutkan bahwa internetnya sangat lambat.

Seorang warga lain di Kandahar selatan, yang memiliki bisnis swasta, mengatakan internet serat optiknya telah terputus sejak Selasa. Data seluler dari ponsel berfungsi, tetapi Facebook dan Instagram sangat lambat, menurut laporan tersebut.

Pekan lalu, Pemerintah Taliban mematikan jaringan telekomunikasi negara itu tanpa penjelasan apa pun. Internet terputus selama hampir 48 jam. Selama periode ini, orang-orang tidak dapat melakukan panggilan telepon, mengirim pesan, atau menggunakan layanan daring.

Layanan dipulihkan pada 1 Oktober.

Afghanistan berpenduduk sekitar 43,8 juta jiwa, dan sebagian besar penduduknya bergantung pada internet untuk bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Sejak pengambilalihan Taliban pada tahun 2021, negara tersebut telah menghadapi pembatasan pada pendidikan dan kebebasan berbicara, menurut media lokal. (yn)

Keajaiban Medis dan Keteguhan Hati: Pria Islandia Berhasil Jalani Transplantasi Lengan Pertama di Dunia Setelah 24 Tahun Tanpa Tangan

EtIndonesia. Dalam hidup, sering kali ada peristiwa yang membuat kita menangis sekaligus tersenyum — momen yang menggoreskan bekas dalam ingatan kita selamanya.

Bagi Felix Gretarsson, pria asal Islandia, kisah hidupnya adalah bukti bahwa harapan dan cinta bisa mengalahkan segala keterbatasan.

Dua puluh empat tahun lalu, dia kehilangan kedua lengannya dan sebagian bahunya dalam kecelakaan kerja yang mengerikan.  Namun pada akhirnya, sebuah telepon dari seorang dokter di Prancis mengubah segalanya — dan membawa keajaiban yang bahkan dunia medis belum pernah saksikan sebelumnya.

Kecelakaan Tragis yang Mengubah Hidup Selamanya

Pada tahun 1998, Felix — saat itu masih berusia muda — tengah bekerja di perusahaan listrik. Sebuah kesalahan kecil membuatnya tersengat arus listrik bertegangan tinggi, menyebabkan luka bakar parah dan kerusakan berat di kedua lengannya. Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter terpaksa mengamputasi kedua lengan hingga ke bahu.

Sejak hari itu, hidupnya berubah total. Dia kehilangan kemampuan untuk bekerja, untuk menyentuh, untuk memeluk anaknya yang baru lahir. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan fisik — melainkan perasaan tak berdaya dan kehilangan makna hidup.

Perjuangan Panjang Mencari Harapan

Bertahun-tahun lamanya Felix berkeliling dunia mencari dokter yang berani melakukan transplantasi lengan, tapi jawabannya selalu sama: “Itu mustahil.”

Hingga akhirnya, dia bertemu Profesor Jean-Michel Dubernard, ahli transplantasi ternama asal Prancis — orang yang juga pernah melakukan transplantasi wajah pertama di dunia. Felix memohon kesempatan.

Setelah serangkaian evaluasi medis dan psikologis yang panjang, tim medis akhirnya menyetujui operasi eksperimental tersebut.

Pada awal 2021, di rumah sakit Édouard-Herriot di Lyon, Prancis, Felix menjalani operasi selama 15 jam, melibatkan lebih dari 50 tenaga medis.

Menyentuh Keajaiban — Transplantasi Berhasil

Operasi itu berjalan sukses! Felix menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menjalani transplantasi dua lengan sekaligus sampai ke bahu.

Dokter yang menanganinya pun mengakui : “Sebelumnya belum pernah ada pasien yang berhasil dalam prosedur seperti ini.”

Pemulihan Felix berjalan menakjubkan. Kini dia bisa menggerakkan bahu, siku, dan pergelangan tangan kanannya.

Dia sudah bisa mengemudi, menyikat gigi, bermain lempar tangkap dengan anjing peliharaannya, dan yang paling menyentuh — dia akhirnya bisa memeluk kembali keluarganya setelah 24 tahun.

Dari Putus Asa Menuju Kebangkitan

Felix mengenang masa kelam pasca kecelakaan itu. Dia kehilangan pekerjaan, kesehatan, dan kepercayaan diri. Bahkan sempat membutuhkan transplantasi hati dua kali, karena komplikasi parah akibat luka bakar dan pengobatan jangka panjang.

Namun di titik terendah itu, dia menyadari sesuatu: “Yang membuatku menderita bukan karena kehilangan tangan, tapi karena aku tak bisa menerima kenyataan itu.”

Kesadaran itu menjadi titik balik spiritual dalam hidupnya. Dia belajar menerima, berdamai, dan percaya bahwa setiap penderitaan memiliki makna.

Cinta yang Menjadi Sayap Baru

Pada tahun 2015, Felix bertemu Sylwia, seorang wanita Polandia yang bekerja di rumah sakit tempatnya menjalani pengobatan. Sylwia menjadi penopang terbesarnya, menemani dalam setiap operasi, rehabilitasi, dan malam penuh rasa sakit.

“Dia adalah alasanku untuk terus hidup,” kata Felix.  “Dia selalu meyakinkan aku bahwa tak ada yang mustahil.”

Kini, dengan kedua tangan barunya, Felix berkata sambil tersenyum : “Tangan-tangan ini seperti sayap bagi seekor burung. Kini aku bisa terbang lagi.”

Perjalanan Adaptasi yang Ajaib

Felix mengaku, saat pertama kali melihat tangan barunya, dia merasa aneh.

“Rasanya seperti ada dua truk menempel di bahuku,” katanya sambil tertawa.  “Sakit sekali, tapi juga luar biasa. Lambat laun aku mulai merasa ini adalah bagian dari diriku sendiri.”

Seiring waktu, warna kulit dan rambut pada tangan donor menyesuaikan dengan tubuhnya sendiri. Kini, tangan itu benar-benar tampak seperti miliknya.

Meskipun fungsi dari jari-jarinya belum sepenuhnya pulih, dia terus menjalani terapi setiap hari dengan tekun dan penuh harapan.

Pelajaran Hidup dari Seorang Pejuang

Felix mengatakan, dalam hidup, rasa sakit adalah pilihan. Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi, tapi kita bisa memilih bagaimana kita bereaksi terhadapnya.

“Aku belajar bahwa dengan kesabaran, kamu akan mendapatkan apa yang memang pantas kamu dapatkan,” ujarnya.

Kini, setiap kali dia memegang tangan istrinya, mengemudi mobilnya sendiri, atau memeluk anak dan cucunya dengan kedua lengannya, dia tahu — keajaiban benar-benar nyata bagi mereka yang tidak menyerah.

Penutup

Kisah Felix Gretarsson bukan sekadar pencapaian medis, tapi juga sebuah kisah tentang keteguhan, iman, dan cinta yang menyembuhkan.

Dia kehilangan segalanya — namun menemukan kembali makna hidupnya. Dan di balik kedua tangan barunya, terdapat bukti bahwa harapan manusia bisa lebih kuat dari batas tubuhnya.

Kadang, Tuhan tidak mengembalikan apa yang hilang, tapi memberikan kita cara baru untuk merasakan kehidupan.(jhn/yn)

WHO Peringatkan Virus Chikungunya Berpotensi Menyebar ke Lebih Banyak Negara

 Badan kesehatan di bawah PBB menyebut virus chikungunya mengalami “kebangkitan kembali” tahun ini

EtIndonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam peringatan wabah yang dirilis pekan lalu menyatakan bahwa sejumlah negara melaporkan peningkatan kembali kasus virus chikungunya, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, dan memperingatkan bahwa virus ini berpotensi menyebar lebih luas.

Dalam pemberitahuan yang dikeluarkan pada 3 Oktober, badan kesehatan di bawah naungan PBB itu menyebut bahwa virus chikungunya menunjukkan “kebangkitan kembali” pada tahun 2025, termasuk di negara-negara “yang dalam beberapa tahun terakhir tidak melaporkan jumlah kasus signifikan.”

Hingga 30 September, sedikitnya 445.271 kasus chikungunya yang diduga kuat dan 155 kematian terkait telah dilaporkan di 40 negara di seluruh dunia, menurut WHO.

“Beberapa wilayah WHO mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kasus dibandingkan tahun 2024, meskipun wilayah lainnya justru melaporkan penurunan,” demikian pernyataan WHO.

 “Distribusi kasus yang tidak merata antarwilayah membuat sulit untuk menggambarkan situasi ini sebagai peningkatan global.”

Wilayah Amerika mencatat jumlah kasus tertinggi, diikuti oleh Eropa, yang menurut WHO sebagian besar berasal dari Departemen Luar Negeri Prancis di Samudra Hindia.

Karena distribusi kasus yang tidak merata antarwilayah, WHO menyebut sulit menyimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan global, namun memperingatkan bahwa potensi penyebaran lebih lanjut masih sangat besar.

Risiko yang ditimbulkan oleh penyakit yang ditularkan melalui nyamuk ini meningkat akibat:

  • rendahnya kekebalan populasi di wilayah yang sebelumnya belum terdampak,
  • kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan vektor (nyamuk),
  • keterbatasan kapasitas pengawasan dan diagnosis, serta
  • meningkatnya mobilitas dan perdagangan manusia antarnegara, tambah badan kesehatan PBB itu.

“Memperkuat pengawasan penyakit, meningkatkan pemantauan dan pengendalian vektor, serta memperbaiki kesiapsiagaan kesehatan masyarakat sangat penting untuk mengurangi risiko penularan lebih lanjut,” ujar WHO.

Pada akhir September, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan peringatan perjalanan ke Kuba karena adanya kekhawatiran penularan virus chikungunya di negara tersebut. CDC menyebut bahwa wabah chikungunya sedang aktif di seluruh Kuba, dan karenanya mengeluarkan peringatan perjalanan Level 2.

CDC juga memperingatkan bahwa perempuan yang terinfeksi di sekitar waktu persalinan dapat menularkan virus kepada bayinya sebelum atau saat melahirkan.

“Bayi baru lahir yang terinfeksi melalui cara ini atau melalui gigitan nyamuk berisiko mengalami penyakit parah, termasuk gangguan kesehatan jangka panjang,” kata CDC pada 26 September.

Selain Kuba, CDC mencantumkan Bangladesh, Kenya, Madagaskar, Somalia, dan Provinsi Guangdong di Tiongkok sebagai negara yang sedang mengalami wabah chikungunya.
Negara lain dengan risiko tinggi antara lain Brasil, Kolombia, India, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Filipina, dan Thailand, tambahnya.

Awal tahun ini, kasus chikungunya dilaporkan menyebar cepat di wilayah selatan Tiongkok, di mana warga lokal mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) memaksa penduduk menjalani karantina.

Pada 1 Agustus, CDC juga mengeluarkan peringatan perjalanan Level 2 untuk Tiongkok terkait virus ini, dengan menyebut bahwa sebagian besar kasus dilaporkan di Kota Foshan, Provinsi Guangdong.

“Segera cari pertolongan medis jika mengalami demam, nyeri sendi, sakit kepala, nyeri otot, bengkak pada sendi, atau ruam selama atau setelah bepergian,” tulis CDC dalam peringatannya.

Virus chikungunya ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dan biasanya menimbulkan gejala ringan. Sebagian besar penderita pulih dalam satu hingga dua minggu tanpa perlu perawatan medis intensif.

Penyakit ini umumnya menyebabkan demam, nyeri otot, mual, kelelahan, dan ruam. Namun dalam kasus tertentu, nyeri sendi dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, sementara penderita dengan bentuk penyakit yang berat dapat mengalami kerusakan organ dan memerlukan perawatan di rumah sakit.

Laporan ini turut disusun oleh Associated Press.

Israel dan Hamas Mencapai Kesepakatan, Apa yang Kita Ketahui tentang Sandera yang Tersisa di Gaza

EtIndonesia. Israel dan Hamas telah sepakat untuk memasuki fase pertama kesepakatan gencatan senjata, yang ditengahi oleh Presiden AS, Donald Trump dan negara-negara regional lainnya, di Gaza, dua tahun setelah Benjamin Netanyahu melancarkan pemboman paling mematikan di abad ke-21 di jalur seluas 365 kilometer persegi tersebut.

Gencatan senjata dan kesepakatan penyanderaan ini dapat membuka jalan bagi perdamaian permanen di wilayah tersebut dan rekonstruksi wilayah Palestina.

Di Mana Para Sandera yang Tersisa?

Rencana gencatan senjata Presiden AS, Donald Trump, yang diungkapkan bulan lalu, menyerukan pembebasan semua sandera Israel, baik yang hidup maupun yang mati, dalam waktu 72 jam setelah Israel menyetujui proposal tersebut.

Beberapa sandera dibebaskan melalui pertukaran atau dibebaskan selama operasi Israel, sementara yang lain meninggal dalam penahanan, dan jenazah mereka juga dikembalikan. Israel saat ini melaporkan bahwa sekitar 20 sandera masih hidup di Gaza, bersama dengan jenazah sekitar 25 lainnya.

Berdasarkan rencana Trump, Israel akan membebaskan 250 tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup, ditambah 1.700 warga Gaza yang ditahan sejak 7 Oktober 2023. Perjanjian tersebut juga menetapkan bahwa untuk setiap sandera Israel yang dipulangkan, Israel akan membebaskan jenazah 15 warga Gaza yang tewas.

Setelah Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata, Trump mengklaim bahwa semua sandera, baik yang hidup maupun yang mati, akan dibebaskan pada hari Senin.

Apa yang Kita Ketahui Tentang Para Sandera

Video yang dirilis oleh Hamas menunjukkan para sandera tampak lemah dan kurus kering, menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan mereka untuk bertahan hidup lebih lama, menurut The NY Times. Para pejabat Hamas mengatakan bahwa pengembalian jenazah akan membutuhkan waktu, karena mereka harus diambil terlebih dahulu dari tempat pemakaman mereka.

Banyak sandera yang diculik pada 7 Oktober telah dibebaskan sebagai imbalan atas tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel selama dua gencatan senjata sebelumnya dalam perang tersebut. Setidaknya delapan orang lainnya dibebaskan melalui operasi militer Israel. Investigasi oleh The NY Times menunjukkan lebih dari tiga lusin sandera tewas dalam penyanderaan.

Beberapa dieksekusi saat pasukan Israel mendekat, yang lain tewas dalam serangan udara Israel, dan beberapa tewas dalam baku tembak atau secara keliru menjadi sasaran tentara Israel. Keadaan seputar kematian beberapa sandera yang tersisa masih belum jelas.

Hamas Mungkin Tidak Dapat Mengembalikan Jenazah

Hamas mungkin tidak dapat menemukan dan mengembalikan semua sandera yang tewas di Gaza, sebuah situasi yang dapat mempersulit upaya negosiasi gencatan senjata, tiga sumber Israel mengatakan kepada CNN.

Penilaian ini didasarkan pada laporan intelijen Israel, pesan dari Hamas, dan informasi terbaru dari para mediator selama negosiasi yang sedang berlangsung.

Israel telah menuntut pengembalian semua sandera, baik yang hidup maupun yang mati, sebagai syarat untuk mengakhiri perang. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan kabinetnya dilaporkan telah mengetahui selama berbulan-bulan bahwa Hamas mungkin tidak mengetahui lokasi beberapa sandera yang tewas. Pemerintah AS juga mengetahuinya karena beberapa sandera ditahan oleh faksi-faksi di Gaza di luar kendali penuh Hamas.

Pada 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan terhadap sebuah festival musik di Israel selatan, menyandera sekitar 250 orang. Sejak itu, perang Israel yang sedang berlangsung di Gaza telah menewaskan lebih dari 67.200 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatannya.

9 Dampak Stres Keuangan Berkepanjangan terhadap Kesehatan Anda

Mike Donghia

Jika beberapa tanda berikut terasa akrab bagi Anda, pertimbangkan untuk mencari bantuan. Kesehatan Anda adalah bagian penting dari kebahagiaan, dan karena itu penting untuk memperhatikan bagaimana stres keuangan dapat memengaruhi kondisi tubuh dan pikiran Anda.


1. Gangguan Kualitas Tidur

Stres keuangan sering membuat sulit tidur atau menyebabkan insomnia. Pikiran yang cemas bekerja seperti stimulan, membuat tubuh sulit rileks. Jika tubuh tidak bisa tenang, Anda akan sulit tidur nyenyak dan tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan energi.


2. Tekanan Darah Naik dan Risiko Penyakit Jantung

Sebuah tinjauan pada 2022 yang diterbitkan di The American Journal of Medicine menemukan bahwa stres psikologis memiliki hubungan kuat dengan penyakit jantung, terutama melalui peningkatan tekanan darah. Semakin lama stres berlangsung, semakin besar risiko gangguan jantung.


3. Sakit Kepala Akibat Stres

Ketika seseorang terus-menerus khawatir tentang masalah keuangan, salah satu gejala pertama yang muncul adalah sakit kepala. Tegangan di bahu dan leher akibat stres membuat otot menegang, sehingga memicu nyeri kepala yang terasa berat atau berdenyut.


4. Kenaikan Berat Badan

Banyak orang meredakan stres dengan makan makanan lezat dan cepat saji. Meski terasa menenangkan sejenak, kebiasaan ini justru menambah masalah baru, seperti kenaikan berat badan dan kesehatan yang menurun.


5. Konsentrasi dan Daya Ingat Melemah

Saat stres, otak dibanjiri hormon yang membuat kita waspada terhadap ancaman, tetapi juga mengganggu kemampuan berpikir jernih. Akibatnya, Anda lebih mudah lupa, sulit fokus, dan kurang efisien dalam menyelesaikan masalah keuangan yang sedang dihadapi.


6. Hubungan dengan Pasangan atau Keluarga Menegang

Masalah keuangan sering menjadi sumber pertengkaran dalam rumah tangga. Perdebatan tentang apakah suatu pengeluaran “perlu” atau “tidak perlu” dapat menimbulkan ketegangan emosional, bahkan dalam hubungan yang sebelumnya harmonis.


7. Gangguan Pencernaan

Khawatir berlebihan soal uang dapat meningkatkan produksi asam lambung. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan maag, perih ulu hati, atau bahkan tukak lambung. Penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara stres dan gangguan pencernaan.


8. Risiko Penyalahgunaan Zat atau Alkohol

Sebagian orang mencoba menenangkan diri dari stres dengan merokok, minum alkohol, atau menggunakan obat penenang. Namun, kebiasaan ini hanya memberi pelarian sesaat dan dapat memperburuk kondisi fisik maupun mental.


9. Penuaan Dini dan Umur Lebih Pendek

Selain berdampak pada kualitas hidup, stres kronis juga dapat mempercepat proses penuaan. Penelitian tahun 2020 di jurnal Biomedicines menunjukkan bahwa stres berlebihan dapat menyebabkan peradangan dan memperpendek telomer—bagian pelindung di ujung kromosom—yang berhubungan dengan umur panjang.


Kesembilan tanda ini mungkin terasa menakutkan, apalagi jika Anda sedang berada dalam tekanan finansial. Namun kabar baiknya, masih banyak yang bisa dilakukan. Cobalah menempatkan masalah keuangan dalam perspektif yang lebih sehat—uang bisa dicari, tapi kesehatan tidak ternilai.

Mulailah mengambil langkah kecil untuk memperbaiki kondisi finansial Anda, dan manfaatkan berbagai sumber daya daring atau lembaga keuangan yang dapat membantu Anda mengelola stres serta membangun kembali kestabilan hidup.

 Aksi Nyata Kepedulian Sosial Melalui Donor Darah dan Berbagi Makanan

0

Surabaya, 9 Oktober 2025 – The Southern Hotel Surabaya kembali menunjukkan komitmen sosialnya dengan menyelenggarakan Pekan CSR “Sinergi untuk Berbagi” pada Kamis, 9 Oktober 2025. Acara yang berlangsung di Ruang Pertemuan Prisma Paralel, Lantai 2 hotel ini, merupakan hasil kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya dan KJA Synergy Ultima Nobilus.

🎯 Dua Program Utama CSR

KegiatanKeterangan
Donor DarahTerbuka untuk karyawan, tamu hotel, & masyarakat umum
Makan Siang Gratis150 porsi makanan untuk masyarakat membutuhkan

💬 Komitmen Manajemen dalam Berbagi

Kencana Hardianto, General Manager The Southern Hotel Surabaya, menegaskan: “Kegiatan donor darah merupakan bagian dari komitmen kami untuk selalu hadir di tengah masyarakat. Kami percaya bahwa setiap tetes darah yang diberikan akan menjadi harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.”

Dr. Susan Sutedjo, Direktur Utama KJA Synergy Ultima Nobilus, menambahkan: “Sinergi kegiatan sosial seperti donor darah gratis ini merupakan langkah nyata untuk menciptakan dampak positif di tengah masyarakat. Kami akan terus mendukung inisiatif seperti ini karena sejalan dengan komitmen kami dalam membangun komunitas yang lebih sehat dan peduli.”

📊 Program Rutin yang Berkelanjutan

  • Donor Darah: Dilaksanakan setiap tiga bulan sekali
  • Makan Siang Gratis: Agenda rutin mingguan setiap hari Kamis

🌟 Edukasi dan Apresiasi untuk Pendonor

Acara donor darah tidak hanya berfokus pada pengumpulan darah, tetapi juga diisi dengan:

  • 🎓 Sesi edukasi dari PMI Kota Surabaya tentang manfaat donor darah
  • 🎁 Kenang-kenangan untuk semua pendonor sebagai bentuk apresiasi
  • 💝 Pemeriksaan kesehatan gratis sebelum donor darah

💝 Testimoni Positif dari Peserta

Rizky Amelia (27 tahun), salah satu pendonor, berbagi pengalamannya: “Saya sudah beberapa kali ikut donor darah di The Southern Hotel. Acaranya selalu tertata dengan baik dan suasananya hangat. Senang rasanya bisa berbuat baik sekaligus menjaga kesehatan.”

Hindari Pertikaian, Maka Hati Akan Damai

EtIndonesia. Dalam hubungan antarmanusia, perbedaan pendapat adalah hal yang tak terhindarkan. Setiap orang memiliki cara berpikir dan sudut pandangnya sendiri. Namun ketika perbedaan itu terus menumpuk tanpa diolah dengan bijak, dia dapat berubah menjadi pertengkaran — sebuah batu kecil yang dilempar ke danau hati, menimbulkan riak-riak keresahan yang mengusik ketenangan batin.

Namun, jika kita mau belajar “melepaskan pertengkaran”, maka di tengah kekacauan, kita bisa kembali menemukan ketenangan; jiwa pun kembali beristirahat dalam kedamaian yang sejati.

Pertengkaran Bukan Tentang Benar atau Salah

Hakikat dari pertengkaran sering kali bukan soal siapa yang benar atau salah, melainkan soal siapa yang paling ingin dipahami, siapa yang paling ingin diakui. Setiap orang mendambakan agar pendapatnya didengar dan dihormati. Maka, pertengkaran pun berubah menjadi panggung pembuktian diri.

Namun sayangnya, dalam keinginan untuk “menang” itu, kita justru sering kehilangan hal yang paling berharga — hubungan yang tulus dan ketenangan hati kita sendiri.

Coba renungkan: ketika kamu berhasil “menang” dalam perdebatan, apakah hatimu sungguh merasa bahagia? Ataukah masih tersisa rasa tidak puas, kesal, bahkan hampa di dalam dada?

Melepaskan Bukan Berarti Kalah

Melepaskan pertengkaran bukan berarti menyerah pada segalanya. Dia adalah bentuk kebijaksanaan — kemampuan untuk memilih diam ketika saatnya tepat,  memilih memahami daripada memaksakan, bahkan tersenyum ketika bisa saja membalas.

Ketika kita menenangkan diri sejenak, kita akan sadar: banyak sekali hal yang kita pertengkarkan sebenarnya tidak sepenting itu.  Gesekan kecil dalam kehidupan hanyalah episode sementara; jika kita terlalu menahannya, justru hal sepele itu akan tumbuh menjadi beban batin.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai “efek pembesaran emosi” —  sekali emosi tersulut, dia akan terus bergulir seperti bola salju, semakin lama semakin besar, sampai akhirnya melindas nalar dan kendali diri.

Namun begitu kita memilih melangkah mundur dan bernapas sejenak,  memindahkan fokus dari “aku harus menang” menjadi “aku ingin tenang”, api dalam hati perlahan padam. Dan di titik itu, kita menyadari: kedamaian jauh lebih berharga daripada kemenangan.

Kebijaksanaan dalam Mengalah

Dalam hidup, banyak orang menaruh harga diri pada kata “benar”.  Pasangan bertengkar karena hal sepele, teman lama saling menjauh karena satu kata yang salah tafsir,rekan kerja berselisih karena perbedaan cara pandang.

 Semua itu tampak penting saat sedang panas-panasnya, namun ketika waktu berlalu, kita sadar — yang kita pertahankan dulu hanyalah ego dan keras kepala.

Ketika kita mampu melepaskan, bukan hanya kita memberi jalan bagi orang lain untuk mundur, tetapi juga memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Langkah Mundur Bukan Kelemahan, Melainkan Kebijaksanaan

Pepatah kuno berkata: “Mundur selangkah, lautan menjadi luas dan langit menjadi terang.” 

Itu bukan tanda kelemahan, melainkan kebijaksanaan yang sejati.

Keberanian sejati bukanlah berbicara paling keras, melainkan memiliki ketenangan dalam hati saat badai datang. Ketika kita memilih untuk tidak memperpanjang pertengkaran, kita sedang membangun ruang damai bagi diri sendiri dan orang lain. Kedamaian yang kita ciptakan ini tak hanya menenangkan hati, tetapi juga menular, memperhalus hubungan dan menciptakan harmoni di sekitar kita.

Kekuatan dalam Keheningan dan Senyum

Bayangkan suatu pertengkaran di mana kamu memilih untuk melepaskan. Mungkin awalnya lawan bicaramu tetap bersikukuh, namun seiring waktu, dia akan merasakan ketulusan dan kebesaran hatimu. Pemahaman tanpa kata sering kali lebih menyentuh daripada debat tanpa akhir.

Kadang, diam dan senyum justru menjadi bahasa yang paling kuat untuk mendamaikan hati.

Melepaskan Pertengkaran Adalah Latihan Jiwa

Belajar melepaskan pertengkaran adalah sebuah latihan spiritual — latihan untuk melampaui ego,  melihat segala hal dari sudut pandang yang lebih luas.

Ketika kita tak lagi terpaku pada pertanyaan “siapa yang benar dan siapa yang salah,”melainkan fokus pada “bagaimana agar kita sama-sama baik-baik saja,”  kita akan menemukan kedamaian yang lebih dalam. Kedamaian itu membuat hati menjadi lapang, mampu menampung badai kehidupan dan menerima perbedaan tanpa cemas.

Kedamaian Adalah Kemenangan Tertinggi

Di dunia yang semakin gaduh ini, semua orang mendambakan ketenangan batin. Melepaskan pertengkaran ibarat menurunkan beban berat dari punggung kita, membuat langkah hidup terasa ringan kembali.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kemarahan dan perdebatan tanpa ujung. Ketika kita memilih kedamaian, memilih kebaikan, dunia di sekitar kita pun menjadi lebih lembut dan penuh kasih.

Akhir yang Tenang

Maka, saat kamu berada di tengah perdebatan, ingatkan dirimu dengan lembut: menang atau kalah tak penting — yang terpenting adalah kedamaian hati.

Sebab hanya ketika kita mampu melepaskan pertengkaran, barulah hati benar-benar tenang, dan dari ketenangan itulah lahir kebahagiaan sejati.

Kedamaian batin bukanlah hasil dari kemenangan, melainkan hadiah dari kebesaran hati. (jhn/yn)