EtIndonesia. Sejak perang Iran pecah, sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap konsisten: boleh membahas gencatan senjata, tetapi Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saat ini inflasi di Iran telah mencapai 67%, bahkan dalam perundingan gencatan senjata pun tidak jelas siapa yang berwenang mengambil keputusan, sementara kondisi kehidupan rakyat semakin memburuk.
Di saat yang sama, Amerika Serikat telah menyusun rencana operasi militer berikutnya. Israel menyatakan siap untuk mengikuti langkah tersebut—bahkan ada dugaan Israel mungkin sudah bertindak lebih dulu. Hal ini menyusul terjadinya ledakan besar di selatan Teheran. Tepat ketika dunia berspekulasi perang akan segera kembali pecah, Iran melalui Pakistan menyerahkan versi terbaru proposal negosiasi. Namun Presiden Trump tidak puas dengan proposal tersebut.
“Iran ingin mencapai kesepakatan, tetapi saya belum puas,” kata Trump.
Pada 30 April malam, Iran menyerahkan isi negosiasi melalui Pakistan, namun Trump menyatakan ketidakpuasannya. Ia juga mengatakan bahwa kepemimpinan Iran saat ini terpecah, sehingga belum jelas apakah kesepakatan bisa dicapai.
Saat ini AS dan Iran berada dalam masa gencatan senjata, namun berbagai perkembangan di Teluk Persia menunjukkan ketegangan yang terus meningkat.
Pada 30 April, rezim Iran mengeksekusi juara karate dari Provinsi Isfahan, Sasan Azadvar. Menurut laporan Pusat Hak Asasi Manusia Iran, dalam enam minggu terakhir rata-rata satu orang dieksekusi setiap dua hari.
Selain itu, serangkaian ledakan terjadi di Iran, Israel, dan Irak.
Pada larut malam 30 April, beberapa ledakan besar terjadi di selatan Teheran, disertai tembakan intensif dari artileri pertahanan udara. Salah satu jalur energi penting Iran, yaitu Kilang Minyak Rey, serta pusat logistik dan gudang Garda Revolusi Iran berada di wilayah tersebut. Beredar rumor bahwa Israel melakukan operasi “pemenggalan kepemimpinan” terhadap komandan Garda Revolusi Ahmad Vahidi, namun belum ada konfirmasi resmi.
Di Provinsi Zanjan, Iran barat laut, 14 orang tewas saat Garda Revolusi mencoba menjinakkan bom yang belum meledak. Ledakan besar juga terjadi di Qom, selatan Teheran, yang disebut-sebut sebagai lokasi perawatan Mojtaba.
Iran juga mencoba menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah dengan drone murah. Sementara itu, Hizbullah Lebanon meniru langkah tersebut dengan melanggar perjanjian gencatan senjata dan menyerang wilayah utara Israel, Kiryat.
Selat Hormuz—yang oleh Trump disebut sebagai “senjata nuklir ekonomi”—kembali menjadi sorotan. Dalam dua minggu terakhir, lebih dari 45 kapal telah kembali ke pelabuhan Iran.
Menurut laporan The Wall Street Journal, kapasitas penyimpanan minyak Iran sekitar 90 juta barel, dan saat ini sudah terisi lebih dari setengahnya, dengan sebagian fasilitas rusak akibat serangan. Bloomberg melaporkan bahwa di sekitar Pulau Kharg, kapal tanker besar digunakan sebagai tempat penyimpanan minyak, sementara Iran juga mengirim minyak ke Tiongkok melalui jalur kereta untuk mengatasi hambatan ekspor lewat laut.
Amerika Serikat juga mendorong pembentukan aliansi internasional “Kerangka Kebebasan Maritim” untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz melalui berbagi informasi dan koordinasi diplomatik. Lithuania telah bergabung, sementara Prancis dan Inggris berencana menunggu hingga perang Iran berakhir.
Pekan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi Rusia untuk mencari dukungan. Sementara itu, Partai Komunis Tiongkok memberikan dukungan kepada Iran dalam bidang energi, keuangan, dan teknologi.
Pada 28 April, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 35 jaringan keuangan bawah tanah Iran dan membekukan aset kripto senilai 344 juta dolar AS. Perusahaan Qingdao Haiye Oil Terminal dan kilang Hengli Petrochemical juga disebut dalam sanksi tersebut.
“Saat ini Hengli Petrochemical sudah terkena dampak langsung, tidak bisa lagi menggunakan dolar AS, dan banyak pesanan mulai hilang. Mungkin saat ini ini hanya peringatan, tetapi jika diabaikan, langkah besar kemungkinan akan terjadi saat pertemuan Trump dan Xi Jinping di pertengahan Mei,” kata pakar ekonomi Taiwan, Huang Shicong.
Militer AS telah mengajukan berbagai opsi strategi kepada Trump, termasuk pengerahan pasukan darat untuk merebut uranium yang diperkaya dan menduduki wilayah sekitar Selat Hormuz. Sambil menunggu Iran kembali ke meja perundingan, AS juga memperkuat kehadiran militernya di Teluk Persia, termasuk dua kapal induk, 15.000 tentara, serta rudal hipersonik “Dark Eagle” untuk menghadapi rudal balistik Iran.
Tanggal 1 Mei sebenarnya merupakan batas waktu 60 hari yang ditetapkan untuk mengakhiri perang. Namun sehari sebelumnya, Senat AS dengan suara 50 banding 47 menolak resolusi yang membatasi kewenangan Trump dalam perang melawan Iran.
Pekan ini, Kementerian Pertahanan Israel mengkonfirmasi telah menerima 6.500 ton perlengkapan militer dari AS, dan akan mempercepat produksi senjata dalam negeri.
Saat ini dilaporkan bahwa seluruh penerbangan dari Istanbul, Turki menuju Teheran telah dibatalkan. Para pengamat memperkirakan pekan depan bisa menjadi momen krusial untuk dimulainya kembali perang Iran.
“Israel telah siap untuk melanjutkan perang melawan Iran,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.
Laporan gabungan oleh Lin Chao dan Liu Jie, NTD News Weekly

