Trump: Iran Terpecah Belah dan Kesepakatan Mungkin Tidak Akan Pernah Tercapai

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 1 Mei menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak puas dengan proposal negosiasi terbaru dari Iran. Ia juga mengatakan bahwa Iran saat ini sudah terpecah secara internal, dengan berbagai faksi saling bersaing, sehingga kemungkinan besar tidak akan pernah bisa mengakhiri perang melalui perundingan.

“Iran ingin mencapai kesepakatan, tetapi saya tidak puas,” katanya. 

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan dialog dengan Iran, namun tidak puas dengan proposal yang diajukan saat ini.

Trump: “Mereka harus mengajukan kesepakatan yang layak. Saat ini saya tidak puas dengan syarat yang mereka ajukan. Dalam negosiasi melalui telepon memang ada kemajuan, tetapi saya tidak yakin mereka akan mencapai tujuan akhirnya.”

Ia juga menambahkan bahwa kepemimpinan Iran telah terpecah menjadi beberapa faksi yang saling bertikai.

Trump: “Kepemimpinan Iran sangat terpecah—sekitar dua hingga tiga faksi, bahkan mungkin empat. Karena perpecahan ini, meskipun semua pihak ingin mencapai kesepakatan, situasinya tetap kacau.”

Menurut laporan Iran International, sejumlah pejabat tinggi Iran sedang berupaya mencopot Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Mereka menilai bahwa Araghchi tidak bertindak sebagai perwakilan pemerintah, melainkan lebih seperti membantu Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Mantan komandan Angkatan Laut AS, Kirk Lippold, mengatakan: “IRGC telah mengambil alih pemerintah, militer, dan ekonomi—mereka mengendalikan semuanya. Ini bukan lagi negara teokrasi, melainkan rezim militer karena semua urusan kini dikendalikan oleh militer.”

Terkait proposal terbaru Iran, Trump tidak merinci bagian mana yang tidak dapat ia terima.

Menurut berbagai laporan, pada Kamis malam (30 April), Iran telah menyerahkan proposal negosiasi terbaru kepada Pakistan untuk diteruskan kepada pejabat AS, dengan harapan dapat memfasilitasi putaran kedua perundingan damai langsung antara AS dan Iran.

Berdasarkan pernyataan Trump sebelumnya, ia telah menerima laporan terbaru dari militer. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa AS mungkin akan melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk merebut uranium yang telah diperkaya, atau menguasai wilayah sekitar Selat Hormuz.

Reuters melaporkan bahwa AS berharap serangan baru dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk mengakhiri perang.

Trump mengatakan: “Pilihan yang ada adalah menghancurkan mereka sepenuhnya sekaligus, atau mencapai kesepakatan. Dari sudut pandang kemanusiaan, saya tidak cenderung memilih pengeboman.”

Situs berita Axios melaporkan bahwa AS mungkin mempertimbangkan penggunaan pasukan darat untuk mengambil alih sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka jalur pelayaran komersial. Namun, ada pejabat yang menyebutkan bahwa Trump masih mempertimbangkan untuk memperpanjang blokade atau bahkan secara sepihak menyatakan kemenangan.

Sementara itu, Reuters mengungkapkan bahwa menurut dua sumber anonim dari Iran, negara tersebut telah mengaktifkan sistem pertahanan udara dan bersiap melakukan serangan balasan besar jika diserang. Iran juga memperkirakan bahwa AS mungkin akan melancarkan serangan singkat namun intens, dan Israel kemungkinan akan ikut melakukan serangan setelahnya.

Menurut informasi terbaru dari United States Central Command (CENTCOM), dalam blokade laut yang sedang berlangsung terhadap Iran, sejauh ini sudah ada 45 kapal dagang yang diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran.

Dilaporkan oleh NTDTV, Amerika Serikat.

Wanita “Pendukung Garis Keras” Partai Komunis Tiongkok : Anaknya Dipukuli Guru, Gagal Mencari Keadilan dan Dikabarkan Ditangkap Aparat

EtIndonesia. Di tengah semakin ketatnya kontrol sosial oleh pemerintahan partai komunis Tiongkok (PKT), terus bermunculan kasus di mana para “pendukung garis keras” (disebut “little pink”) justru mengalami dampak dari sistem tersebut. Seorang ibu di Jinan, Shandong, yang mengadukan kasus anaknya dipukuli oleh guru, dilaporkan akunnya diblokir dan beredar kabar bahwa ia telah ditahan.

Pada  April, sejumlah warganet di Shandong menemukan bahwa akun Douyin bernama “Seorang Ibu yang Memperjuangkan Hak” sudah tidak dapat ditemukan, sehingga mereka menanyakan keberadaannya. Warganet lokal yang mengaku mengetahui situasi tersebut membocorkan bahwa pemilik akun telah ditangkap. Isu ini dengan cepat memicu perbincangan luas, dan banyak orang mulai memperhatikan nasibnya.

Menurut unggahan seorang netizen lokal. (Tangkapan layar)

Menurut informasi yang beredar, ibu tersebut telah ditahan selama empat bulan dan kini secara resmi telah didakwa. Putusan pengadilan disebut-sebut akan dijatuhkan sekitar libur Hari Buruh (1 Mei). Tuduhan yang dikenakan termasuk “mencari-cari masalah” dan “melanggar hak reputasi orang lain”.

Ada juga kabar lain yang menyebutkan bahwa ibu tersebut telah bunuh diri, namun kebenaran informasi ini belum dapat dipastikan.

Berdasarkan video yang sebelumnya diunggah oleh ibu tersebut, anaknya bersekolah di sebuah sekolah menengah di Jinan. Pada September tahun lalu, anaknya dipaksa oleh seorang guru bermarga Tian untuk berulang kali mengambil papan seperti anjing, dan juga ditampar secara brutal. Setelah kejadian itu, guru tersebut hanya mendapat sanksi ringan berupa peringatan dan pemindahan tugas.

Karena tidak mendapat saluran pengaduan yang efektif, ibu tersebut terus berusaha memperjuangkan keadilan melalui media sosial.

Warganet juga menemukan bahwa pada saat parade militer PKT pada September tahun lalu, ibu tersebut pernah mengunggah video dengan penuh emosi memuji kekuatan negara.

Sebagian warganet kemudian menyindir: “Sekarang dia mungkin sudah merasakan apa arti sebenarnya dari ‘negara yang kuat’.” Ada juga yang berkomentar: “Dulu berpikir ‘negara kuat, tidak ada yang berani menindas kita’, tapi kenyataannya ‘negara kuat, saat kita ditindas, tidak ada yang berani ikut campur’.”

Namun, ada pula yang menilai bahwa mengungkit kembali pernyataan pro-pemerintah ibu tersebut mungkin merupakan upaya untuk merusak reputasinya dan mengalihkan perhatian dari kasus yang sedang diperjuangkannya.

Sebagian warganet lainnya menyebut bahwa kejadian seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di Tiongkok, dan banyak masyarakat baru menyadari kenyataan setelah mengalami sendiri dampaknya.

Sumber : NTDTV.com

Trump Selamat dari Beberapa Upaya Pembunuhan, Alasan Ia Tidak Mengenakan Rompi Anti Peluru : Dia Terlihat Gemuk

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengalami percobaan pembunuhan saat menghadiri acara tahunan White House Correspondents’ Dinner pada 25 April. Pihak berwenang kini mempertimbangkan agar presiden mengenakan rompi antipeluru, namun Trump tampaknya tidak tertarik. Pada 1 Mei, ia mengatakan bahwa alasannya adalah karena khawatir rompi tersebut akan membuatnya terlihat lebih gemuk.

Trump yang kini berusia 79 tahun dilaporkan telah mengalami tiga kali dugaan percobaan pembunuhan dalam dua tahun terakhir. Insiden paling serius terjadi pada tahun 2024 di Butler saat kampanye pemilu, di mana telinganya terkena serpihan peluru, dan seorang penonton tewas.

Menurut laporan media, insiden terbaru terjadi saat Trump menghadiri jamuan makan malam di Washington. Setelah kejadian tersebut, pihak berwenang mulai mempertimbangkan penggunaan rompi antipeluru untuk presiden.

Dalam acara tersebut, ribuan tokoh politik dan bisnis menghadiri jamuan bersama presiden. Tiba-tiba, seorang tersangka membawa senapan panjang dan menerobos menuju aula, lalu melepaskan tembakan, termasuk ke arah seorang agen Dinas Rahasia AS.

Trump mengatakan pada malam kejadian bahwa rompi antipeluru memang menyelamatkan nyawa agen tersebut.

Namun, ketika ditanya apakah ia akan mempertimbangkan untuk memakainya, Trump tampak enggan. Ia mengatakan kepada wartawan: “Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima terlihat seperti bertambah 20 pon.”

Ia juga bercanda: “Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima terlihat 20 pon lebih berat. Ini memang sesuatu yang dipikirkan. Di satu sisi, Anda tidak suka melakukannya karena seolah-olah Anda menyerah pada ancaman. Jadi, saya tidak tahu, tapi memang ada yang menanyakan hal ini kepada saya.”

Sumber : NTDTV.com

Beijing Bedah Rahasia Kekuatan Senjata AS, Sisa Perang Iran Jadi Laboratorium Utama

EtIndonesia. Pada 28 April, sejumlah sumber dari dalam sistem pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengatakan kepada The Epoch Times bahwa saat ini pihak PKT sedang meneliti performa senjata Amerika Serikat, khususnya dengan menganalisis rudal dan sisa amunisi yang tertinggal di medan perang Iran, termasuk yang tidak meledak.

Menurut sumber tersebut, para analis militer PKT berfokus pada data penerbangan rudal, tingkat akurasi serangan, serta struktur internal amunisi yang gagal meledak. Tujuannya adalah untuk memahami cara kerja sistem pemandu (guidance system) serta alasan mengapa amunisi tersebut tidak meledak.

Seorang sumber yang dekat dengan militer menyebutkan bahwa data langsung seperti ini hampir tidak mungkin diperoleh dalam kondisi normal, sehingga sisa-sisa di medan perang menjadi objek penelitian yang sangat berharga dan mendapat perhatian khusus.

Namun, sumber terkait juga menambahkan bahwa pihak Iran kemungkinan tidak akan sepenuhnya membuka informasi teknologi inti. Oleh karena itu, meskipun ada kontak antara kedua pihak, ruang kerja sama tetap terbatas.

Seorang analis teknologi militer yang berbasis di Tiongkok berpendapat bahwa saat ini Amerika Serikat masih unggul dalam teknologi pemandu rudal dan serangan presisi. Selama ini, Beijing terus mencari cara untuk memperkecil kesenjangan tersebut.

Analis tersebut mengatakan:  “Teknologi militer canggih PKT mungkin tertinggal 10 hingga 20 tahun dari Amerika Serikat. Jika kesenjangan kurang dari 10 tahun, maka peniruan dapat membantu memperkecil jarak seiring waktu. Namun jika lebih dari 10 tahun, bahkan mendekati 20 tahun, maka meskipun memiliki akses ke banyak sistem, akan sulit untuk benar-benar memahaminya.”

Ia juga menambahkan bahwa kerja sama antara PKT dengan mitra seperti Rusia diliputi rasa saling curiga dan berbagai pembatasan, karena Iran dan Rusia kecil kemungkinan akan membagikan teknologi militer inti. Pada akhirnya, mereka tetap merupakan pesaing.

Sumber lain mengungkapkan bahwa pada tahap awal konflik AS–Iran, militer PKT sempat melakukan kontak dengan Iran dan menyatakan kesediaan memberikan dukungan teknis. Iran menunjukkan minat terhadap peralatan seperti ranjau laut pintar, drone, dan sistem radar, namun pihak Beijing tidak memberikan tanggapan langsung.

Israel Menambah 6.000 Ton Peralatan Militer, Bersiap untuk Putaran Serangan Baru terhadap Iran

Di bawah blokade berkelanjutan oleh militer AS, lebih dari 40 kapal dagang telah dicegat dan tidak dapat keluar masuk pelabuhan Iran. Akibatnya, rezim Teheran diperkirakan kehilangan setidaknya 6 miliar dolar AS. Sementara itu, Israel terus menambah ribuan ton persenjataan, dan pihak militer menyatakan bahwa gelombang serangan baru terhadap Iran akan segera dimulai.

EtIndonesia. Blokade pelabuhan Iran oleh militer AS telah berlangsung lebih dari dua minggu, menghantam keras ekspor minyak mentah Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya kembali mengatakan kepada media Axios bahwa blokade lebih efektif dibandingkan pemboman, karena dapat “mencekik” Iran.

Ia menyebut kekuatan blokade militer AS sebagai “senjata nuklir ekonomi”, dan mengatakan kondisi Iran akan semakin memburuk.

Selama masa gencatan senjata penuh antara AS dan Iran, militer AS mencegat kapal dagang yang bertransaksi dengan Iran, untuk menghentikan pengiriman minyak atau barang yang menguntungkan Iran.

Menurut Komando Pusat AS, sejauh ini sudah ada 44 kapal dagang yang diperintahkan berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran. Nilai transaksi produk petrokimia yang dicegat mencapai setidaknya sekitar 6 miliar dolar AS, sehingga memutus sumber pendanaan rezim Teheran.

Dalam operasi tersebut, tiga kapal induk AS yang dikerahkan di perairan Timur Tengah terus melakukan pemantauan dan pencegahan terhadap Iran secara real-time. Salah satunya, kapal induk USS Gerald R. Ford, akan segera mengakhiri penugasan sekitar 10 bulan dan diperkirakan kembali ke pangkalan pada pertengahan Mei untuk menjalani perbaikan dan pemeliharaan besar.

Menanggapi seruan Presiden Trump, sekutu AS yaitu Lithuania juga mengumumkan akan bergabung dalam operasi blokade selat. Presiden Lithuania Gitanas Nausėda menyatakan akan segera mengadakan rapat Dewan Pertahanan Nasional dan mengajukan proposal terkait untuk mendapatkan persetujuan parlemen.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan:  “Israel telah siap untuk memulai kembali perang melawan Iran.”

Ia sebelumnya menyatakan bahwa Israel sedang menunggu “lampu hijau” dari Amerika Serikat untuk memulai putaran serangan berikutnya terhadap Iran. Ia juga mengatakan bahwa meskipun Israel mendukung upaya diplomatik AS terhadap Iran, namun Israel mungkin “segera perlu bertindak kembali” untuk menghilangkan ancaman dari rezim Iran.

Di sisi lain, Israel terus menambah persenjataan. Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan bahwa sekitar 6.500 ton perlengkapan militer dari AS telah tiba di Israel, termasuk ribuan amunisi udara, amunisi darat, truk militer, kendaraan taktis ringan, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Persenjataan seberat 6.500 ton tersebut sedang didistribusikan ke berbagai pangkalan militer di seluruh negeri. Pejabat pertahanan menyatakan bahwa pengadaan senjata akan terus berlanjut dalam beberapa minggu ke depan.

Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, lebih dari 115.000 ton perlengkapan militer telah dikirim ke Israel melalui 403 penerbangan dan 10 kapal.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa kondisi ekonomi Teheran sangat parah. Pejabat Iran khawatir bahwa memburuknya situasi ekonomi dapat memicu gelombang protes baru, yang berpotensi membawa dampak bencana.

Menghadapi tekanan ekonomi tersebut, struktur kekuasaan di Teheran juga mulai melemah.

Analisis Reuters menunjukkan bahwa Iran kekurangan sistem komando yang terpadu. Meskipun pemimpin baru Mojtaba secara nominal berada di puncak kekuasaan, tekanan besar di masa perang telah membuat kekuasaan semakin terkonsentrasi pada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, kantor Pemimpin Tertinggi, dan Garda Revolusi Islam. Di antaranya, Garda Revolusi memegang peran dominan dalam strategi militer dan keputusan politik penting.

Dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, perwakilan Iran mencakup Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, pihak yang menjadi aktor utama dalam dialog adalah komandan Garda Revolusi, Ahmad Vahidi. Mojtaba lebih berperan menyetujui keputusan yang telah disepakati dalam sistem, bukan mengeluarkan perintah berdasarkan kehendak pribadi.

Sementara itu, rezim Iran juga dituduh terus melakukan penindasan terhadap rakyatnya. Laporan menyebutkan bahwa seorang atlet karate berusia 21 tahun sekaligus juara tingkat provinsi, Sasan Azadvar, dieksekusi pada Kamis (30 April) karena ikut serta dalam aksi protes nasional.

Sebuah video yang beredar di internet menunjukkan bahwa Ketua Mahkamah Agung Iran secara terbuka mengancam akan melakukan pembantaian besar-besaran dalam siaran televisi langsung, dan berjanji akan melaksanakan gelombang eksekusi baru dengan cepat dan tanpa belas kasihan.

Menurut laporan Pusat Hak Asasi Manusia Iran, dalam enam minggu terakhir, setidaknya 22 tahanan politik telah dieksekusi melalui penyiksaan dan pengakuan paksa, dengan rata-rata satu orang dieksekusi setiap dua hari.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Militer AS Menghabiskan Rp 433,7 Triliun dalam Dua Bulan: Harga Sebenarnya dari Perang Modern

EtIndonesia. Menghabiskan 25 miliar dolar AS, militer Amerika menyerang 7.000 target di Iran dengan hampir nol korban jiwa. Bagaimana secara rinci bagaimana AS menghabiskan uangnya. Dalam hal “membakar uang”, siapa yang lebih mampu bertahan, Amerika Serikat atau Iran?

Pada 29 April, dalam sidang dengar pendapat di Kongres AS, pejabat keuangan sementara Departemen Pertahanan AS, Jules Hurst, mengungkapkan bahwa operasi terhadap Iran yang disebut “Epic Rage” sejak akhir Februari hingga sekarang telah menghabiskan 25 miliar dolar AS, terutama untuk biaya persenjataan dan amunisi.

Sebagai gambaran, menurut data World Bank, jumlah 25 miliar dolar AS ini sudah melebihi PDB tahunan setidaknya 50 negara di dunia, bahkan setara dengan 1,5 kali PDB tahunan Islandia. Artinya, biaya operasi militer AS selama dua bulan setara dengan pendapatan negara Islandia selama satu setengah tahun.

Banyak orang mungkin bertanya: mengapa dalam waktu dua bulan AS bisa menghabiskan uang sebanyak itu? Digunakan untuk apa saja? Apakah angka 25 miliar ini dilebih-lebihkan atau justru konservatif?

Lebih penting lagi, mengapa AS bersedia menanggung biaya ekonomi yang sangat tinggi untuk menukar dengan korban jiwa yang sangat rendah? Logika militer dan prioritas nilai seperti apa yang ada di balik strategi ini?

Pertama, perlu dipahami bahwa operasi ini bukan serangan udara sekali saja, melainkan rangkaian operasi militer berkelanjutan lintas wilayah dan multi-platform. AS melakukan serangan, pencegatan, pertahanan, dan patroli di Suriah, Irak, Laut Merah, dan Teluk Persia. Ciri utamanya: cakupan luas, tempo cepat, presisi tinggi, banyak platform, dan biaya sangat mahal.

Bagian biaya terbesar adalah amunisi. AS tidak menggunakan bom biasa, melainkan senjata berpemandu presisi berteknologi tinggi. Misalnya, rudal jelajah Tomahawk berharga sekitar 2 hingga 3,5 juta dolar per unit; rudal pencegat Standard-6 sekitar 5 juta dolar; bom berpemandu presisi berkisar 30.000 hingga 50.000 dolar, bahkan lebih mahal untuk tipe canggih.

Mengapa begitu mahal? Karena rudal modern bukan sekadar logam dan bahan peledak, melainkan produk teknologi tinggi yang dilengkapi GPS, sistem navigasi inersia, pemandu terminal, sistem anti-jamming, sensor, chip, material siluman, paduan suhu tinggi, dan bahan bakar padat. Selain itu, produksi rudal tidak massal seperti ponsel—jumlahnya terbatas, sehingga harga per unit menjadi tinggi.

Lalu berapa banyak rudal mahal yang digunakan?

Departemen Pertahanan tidak mengungkap angka pasti, tetapi menurut analisis media seperti The Wall Street Journal dan lembaga think tank Center for Strategic and International Studies, AS telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk, lebih dari 1.000 rudal Patriot-3, sekitar 190 hingga 290 rudal THAAD, serta 130 hingga 250 rudal Standard-3.

Estimasi ini didasarkan pada jumlah target serangan. Menurut data Gedung Putih, AS telah menyerang sekitar 7.000 target, termasuk lebih dari 2.000 pusat komando, 1.500 sistem pertahanan udara, 1.450 fasilitas industri pertahanan, 800 lokasi peluncuran drone dan rudal, 600 target maritim, serta lebih dari 450 fasilitas terkait rudal balistik.

Setiap jenis rudal memiliki fungsi berbeda. Tomahawk digunakan untuk target jarak jauh dan berbenteng. Patriot-3 dan THAAD digunakan untuk mencegat rudal balistik Iran. Standard-3 melindungi kelompok kapal induk, sementara Standard-6 bersifat multifungsi.

Karena Iran melakukan serangan balasan rudal balistik secara intensif di awal konflik, konsumsi rudal pertahanan bahkan lebih cepat daripada rudal serangan.

Media memperkirakan konsumsi amunisi AS dalam dua bulan hampir setara dengan satu tahun perang di Ukraina.

Sebagai contoh, dalam serangan terhadap target di pegunungan atau bawah tanah, AS menggunakan taktik serangan berlapis. Gelombang pertama menggunakan umpan untuk membebani radar musuh. Gelombang kedua menghancurkan sistem pertahanan udara. Gelombang ketiga menggunakan pesawat pembom seperti B-52 Stratofortress untuk serangan mendalam.

Untuk bunker bawah tanah, rudal digunakan secara beruntun menembus titik yang sama dengan presisi tinggi—taktik yang juga digambarkan dalam film Top Gun: Maverick.

Diperkirakan sebelum konflik, stok Tomahawk AS sekitar 3.000–4.000 unit, dan hampir 27% telah digunakan. Rudal Patriot-3 terpakai sekitar dua pertiga stok, sementara THAAD sekitar 80%.

Masalah lain adalah distribusi stok yang tersebar di seluruh dunia—di pangkalan, kapal selam, hingga gudang. Ketika stok di Timur Tengah menipis, AS harus memindahkan dari kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, Departemen Pertahanan dilaporkan sedang mempertimbangkan peningkatan produksi bersama Raytheon.

Selain rudal, biaya besar lainnya adalah operasi angkatan udara. Biaya per jam terbang pesawat tempur AS termasuk yang tertinggi di dunia. Menurut Government Accountability Office dan Congressional Budget Office:

  • F-35: sekitar 34.000–42.000 dolar per jam
  • F-15E: sekitar 33.000–42.000 dolar per jam
  • F-22: hingga 68.000–85.000 dolar per jam

Setiap satu jam terbang F-35 membutuhkan sekitar 13 jam perawatan di darat.

Dalam satu misi, puluhan pesawat terlibat—termasuk pesawat tanker, pengintai, dan perang elektronik—yang membuat biaya tiap operasi bisa mencapai jutaan dolar.

Selain itu, komponen dan perawatan juga sangat mahal. Satu bagian mesin atau radar bisa bernilai ratusan ribu dolar. Mesin F-35 bahkan bisa memerlukan biaya perawatan jutaan dolar.

Sistem perangkat lunak F-35 juga dikelola oleh Lockheed Martin, sehingga setiap jam operasi memerlukan biaya lisensi dan dukungan teknis, yang bisa mencapai lebih dari 15% dari total biaya.

Dari sisi bahan bakar, F-35 mengonsumsi sekitar 1.350 galon (sekitar 5.000 liter) bahan bakar per jam—setara dengan konsumsi mobil biasa untuk mengelilingi bumi dua kali.

Karena itu, sejak 28 Februari hingga awal April sebelum gencatan senjata, operasi udara dilakukan secara intensif setiap hari, dengan biaya harian yang bisa mencapai ratusan juta dolar—belum termasuk biaya rudal yang digunakan.

Komponen biaya besar ketiga adalah biaya penempatan angkatan laut.

Amerika Serikat menempatkan kelompok tempur kapal induk di Timur Tengah. Kapal induk kelas Ford terbaru memiliki biaya pembangunan sekitar 13 miliar dolar AS, dan biaya pemeliharaannya sangat tinggi.

Dalam kondisi normal, untuk menjaga operasi dasar kapal induk saja membutuhkan sekitar 6,5 juta hingga 8 juta dolar per hari. Total awak kapal melebihi 5.000 orang. Biaya bahan bakar, pemeliharaan, logistik, dan pelatihan semuanya sangat mahal.

Dalam masa perang atau penugasan intensif, biaya harian kapal induk USS Ford dapat mencapai 15 juta hingga 25 juta dolar.

Namun, ini hanya biaya untuk satu kapal induk. Dalam operasi terhadap Iran, kapal ini tidak beroperasi sendiri, melainkan sebagai bagian dari kelompok tempur kapal induk. Kapal pengawalnya mencakup dua kapal penjelajah, dua hingga tiga kapal perusak kelas Burke, serta satu kapal selam nuklir serang.

Biaya kapal-kapal ini, ditambah biaya ribuan personel di dalamnya serta biaya mencegat drone dan rudal Iran, membuat total pengeluaran satu kelompok tempur kapal induk mencapai sekitar 25 juta hingga 40 juta dolar per hari.

Biaya penempatan angkatan laut bersifat berkelanjutan—selama armada berada di laut, biaya terus berjalan.

Komponen biaya besar keempat adalah biaya personel.

Gaji prajurit Amerika Serikat memang relatif tinggi. Seorang prajurit baru bisa memperoleh gaji pokok sekitar 29.000 dolar per tahun, dan dengan berbagai tunjangan bisa mencapai 45.000 hingga 55.000 dolar. Seorang bintara berpengalaman dengan masa dinas 10 tahun memiliki gaji pokok sekitar 57.000 dolar, dan dengan tunjangan totalnya bisa mencapai 85.000 hingga 100.000 dolar per tahun. Gaji perwira tentu lebih tinggi.

Prajurit AS yang ditempatkan di zona perang secara otomatis menerima berbagai tunjangan, seperti tunjangan bahaya, tunjangan zona tempur, pembebasan pajak, tunjangan perpisahan keluarga, kompensasi perpanjangan penugasan, serta tunjangan khusus lainnya.

Militer AS memiliki siklus penugasan yang jelas, misalnya Angkatan Darat biasanya 9 bulan. Jika penugasan diperpanjang karena perang, prajurit akan menerima kompensasi tambahan.

Pilot, pasukan khusus, dan personel intelijen yang menjalankan misi berisiko tinggi juga mendapatkan tunjangan ekstra.

Banyak tunjangan di zona perang juga bebas pajak.

Semakin intens perang, semakin tinggi pendapatan prajurit. Selama perang di Irak dan Afghanistan, pendapatan aktual banyak prajurit meningkat 20% hingga 40%. Ini juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya biaya perang Amerika secara cepat.

Pertanyaan terakhir: apakah angka 25 miliar dolar itu dilebih-lebihkan atau justru konservatif?

Hampir semua media berpendapat bahwa 25 miliar dolar hanyalah “biaya langsung minimum operasi militer”. Angka ini belum mencakup pengisian ulang amunisi, perbaikan pangkalan, penempatan jangka panjang, dukungan kepada sekutu, ekspansi industri pertahanan, serta tambahan anggaran di masa depan.

Semua perang Amerika—di Irak, Afghanistan, dan Suriah—memiliki pola yang sama: mengeluarkan dana awal, lalu diikuti tambahan anggaran. Operasi terhadap Iran kemungkinan juga akan demikian.

Jadi, 25 miliar dolar bukanlah total biaya akhir, melainkan hanya “tagihan pertama”. Biaya sebenarnya, tekanan, dan dampak lanjutan akan terus muncul dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan.

Meskipun 25 miliar dolar adalah angka yang sangat besar, di balik angka tersebut terlihat bahwa militer AS memilih menukar biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan jumlah korban jiwa yang sangat rendah.

Dalam program sebelumnya disebutkan bahwa untuk menyelamatkan seorang pilot F-15E yang ditembak jatuh, AS kehilangan beberapa pesawat tempur, helikopter, dan drone. Media memperkirakan biaya operasi penyelamatan tersebut mencapai hingga 400 juta dolar.

Menghabiskan 400 juta dolar demi menyelamatkan satu nyawa mendapat banyak pujian di dalam negeri AS, karena dalam budaya militer Amerika, “nyawa manusia tidak ternilai” bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang benar-benar diterapkan. Kemungkinan besar, biaya ini juga termasuk dalam total 25 miliar dolar yang diumumkan.

Di balik pendekatan ini terdapat logika penting: militer AS bersedia mengeluarkan sumber daya besar untuk menyelamatkan satu prajurit karena salah satu nilai inti mereka adalah janji bahwa negara tidak akan pernah meninggalkan tentaranya.

Janji ini bukan sekadar tulisan di dinding, melainkan tercermin dalam anggaran, dalam operasi, dan dalam setiap misi penyelamatan.

Bagi para prajurit, budaya ini menciptakan rasa kepercayaan yang kuat. Mereka tahu bahwa jika menghadapi bahaya di medan perang, negara akan mengerahkan segala sumber daya untuk menyelamatkan mereka.

Kepercayaan ini menjadi fondasi sistem tentara sukarela AS, yang membuat orang bersedia bergabung dan menjalankan misi berisiko tinggi.

Selain itu, strategi “serangan presisi” yang digunakan AS kali ini tidak hanya melindungi nyawa prajuritnya, tetapi juga mengurangi korban sipil melalui tingkat akurasi yang sangat tinggi dibandingkan pemboman besar-besaran tradisional.

Intinya, pendekatan ini adalah menukar biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan korban jiwa yang sangat rendah.

Di baliknya terdapat prioritas nilai yang jelas: uang bisa dicari kembali, tetapi nyawa tidak bisa diulang.

Sampai di sini pembahasan hari ini. Apa pendapat Anda tentang pengeluaran 25 miliar dolar oleh militer AS? 

Sumber : NTDTV.com

OPEC Mengalami Perpecahan yang Semakin Cepat! Setelah UEA Keluar, Pasar Menyebut Negara Berikutnya yang Mungkin Menyusul

Ekspor minyak mentah Amerika Serikat pekan lalu mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, menunjukkan bahwa dunia semakin beralih mencari pasokan energi dari Amerika Serikat. Namun, harga minyak tetap menunjukkan tren kenaikan.

EtIndonesia. Baru-baru ini, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang menjadi kejutan besar bagi pasar. Para analis menilai bahwa organisasi yang dulu menguasai setengah pasokan minyak dunia ini kini menghadapi percepatan perpecahan.

Perundingan antara AS dan Iran turut memengaruhi struktur pasokan energi global.

Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, UEA telah lama tidak puas dengan kuota produksi yang dianggap terlalu rendah. Negara tersebut memutuskan untuk meningkatkan produksi secara mandiri demi kepentingan nasional, dan secara resmi keluar dari OPEC pada 1 Mei 2026.

Analis geopolitik dari Rystad Energy, Jorge Leon, menyatakan bahwa langkah ini merupakan perkembangan penting yang menimbulkan tanda tanya besar atas masa depan OPEC dan OPEC+ sebagai organisasi yang solid. Ia menambahkan bahwa perhatian kini kembali tertuju pada Arab Saudi, yang selama ini berperan sebagai “bank sentral” pasar minyak. Pertanyaannya adalah apakah Arab Saudi akan tetap memimpin dan mengatur pasar, atau justru pasar akan menjadi semakin kacau setelah keluarnya UEA.

OPEC sendiri didirikan pada tahun 1960 dan mengatur batas produksi anggotanya. Pada era 1970-an, organisasi ini pernah memberlakukan embargo minyak terhadap negara-negara Barat, yang menyebabkan harga minyak melonjak empat kali lipat dalam beberapa bulan dan menjadikan minyak sebagai “senjata ekonomi” global.

Pada 2016, Rusia dan negara lain bergabung membentuk aliansi OPEC+, yang menguasai sekitar 52% pasokan minyak dunia.

Namun, pengaruh OPEC di abad ke-21 telah melemah. Revolusi minyak serpih di Amerika Serikat meningkatkan produksi secara signifikan hingga mencakup hampir 18% pasokan global, menjadikannya eksportir energi terbesar dan mengurangi kemampuan OPEC dalam menentukan harga.

Meskipun Rusia baru-baru ini menegaskan tidak akan keluar dari OPEC+, pasar mulai berspekulasi bahwa negara lain seperti Nigeria, Kazakhstan, dan Irak berpotensi mengikuti langkah UEA.

Analis senior dari Russian National Energy Security Fund, Igor Yushkov, menyebut bahwa pasar mulai memperkirakan kemungkinan runtuhnya OPEC dan OPEC+, karena keluarnya UEA bisa mendorong anggota lain untuk ikut hengkang.

Di tengah kemungkinan berlanjutnya ketegangan antara AS dan Iran, harga minyak melonjak tajam. Pada Rabu 29 April, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 5% menjadi 124,67 dolar per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,4% menjadi 109,49 dolar per barel. Keputusan UEA untuk meningkatkan produksi juga dinilai memberi keuntungan bagi Amerika Serikat.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan, “Saya pikir ini hal yang bagus. Saya sangat mengenal Sheikh Mohammed, dia sangat cerdas. Mungkin dia ingin mengambil jalannya sendiri. Ini hal yang baik, dan pada akhirnya bisa menurunkan harga gas, minyak, dan semuanya.”

Selama ini, OPEC menggunakan mekanisme kartel, yaitu negara anggota bertindak bersama untuk mengurangi produksi guna menjaga harga, atau meningkatkan produksi untuk menekan harga. Namun jika perpecahan terus berlanjut, pasar minyak bisa berubah menjadi sistem “masing-masing berjalan sendiri”. Dalam jangka panjang, peningkatan pasokan berpotensi menekan harga minyak dan membantu meredakan tekanan inflasi global.

NTD Asia Pacific Television, Kao Chien-lun dan Shen Wei-tung, Taipei, Taiwan 

Ledakan Hebat Dilaporkan di Teheran, Beredar Isu Operasi “Penargetan Pemimpin” oleh Israel

EtIndonesia. Laporan media resmi Iran seperti Mehr News Agency dan sejumlah media lainnya, pada Kamis malam (30 April), terjadi beberapa ledakan kuat di wilayah selatan Teheran, disertai rentetan tembakan sistem pertahanan udara. Seluruh kota diliputi suasana tegang seperti di ambang perang.

Beredar juga rumor bahwa Israel telah melancarkan serangan mendadak berupa operasi “decapitation” (penargetan pemimpin).

Menurut sejumlah saksi mata, sekitar pukul 23.10 waktu setempat, suara ledakan besar terdengar jelas di berbagai wilayah selatan Teheran.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan langit di pinggiran selatan kota terang oleh kilatan sistem pertahanan udara dan senjata pencegat.

Warga setempat menggambarkan getaran dari ledakan tersebut begitu kuat hingga menyebabkan pintu dan jendela beberapa bangunan bergetar hebat. Banyak warga bergegas keluar rumah atau menuju tempat perlindungan untuk memantau situasi.

Meski lokasi pasti ledakan belum dikonfirmasi secara resmi, perhatian publik tertuju pada wilayah selatan Teheran yang merupakan kawasan strategis militer dan pemerintahan. Di sana terdapat salah satu fasilitas energi penting Iran, yaitu Rey Refinery, serta sejumlah gudang militer dan pusat logistik milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Bahkan muncul spekulasi bahwa serangan tersebut merupakan operasi Israel yang menargetkan langsung komandan tertinggi IRGC, Ahmad Vahidi.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah dan militer Iran masih belum memberikan pernyataan resmi. Mereka belum menjelaskan penyebab ledakan maupun jumlah korban jiwa. Keheningan ini dinilai oleh sebagian pihak sebagai indikasi bahwa situasinya cukup serius.

Dilaporkan oleh NTDTV.

Terkait Keamanan Nasional, Perusahaan AS Seperti Airbnb Diselidiki karena Menggunakan AI Tiongkok

EtIndonesia. Komite Khusus DPR AS untuk Urusan Partai Komunis Tiongkok  bersama Komite Keamanan Dalam Negeri mengumumkan bahwa mereka secara resmi meluncurkan penyelidikan terhadap raksasa penyewaan akomodasi Airbnb serta perusahaan rintisan AI Anysphere, karena diduga menggunakan model kecerdasan buatan (AI) dari Tiongkok.

Reporter NTD Yu Liang melaporkan bahwa Kongres AS telah meminta kedua perusahaan tersebut untuk menyerahkan laporan evaluasi terkait penggunaan model AI Tiongkok dalam batas waktu tertentu. Hingga saat ini, kedua perusahaan belum memberikan tanggapan publik.

Reporter NTD Yu Liang menyampaikan laporannya

Perusahaan pertama yang disebut adalah platform penyewaan global Airbnb.

Menurut hasil penyelidikan Kongres, sistem layanan pelanggan Airbnb menggunakan model AI berbiaya rendah “Qwen” (Tongyi Qianwen) yang dikembangkan oleh perusahaan Tiongkok Alibaba. Hal ini dinilai berpotensi menempatkan data jutaan pengguna Amerika dalam risiko, termasuk kemungkinan tereksposnya informasi pribadi dan jejak aktivitas pengguna di bawah pengawasan pemerintah PKT.

Perusahaan lain yang turut diselidiki adalah startup berbasis di New York, Anysphere. Produk editor pemrograman AI populernya, Cursor, disebut memiliki teknologi dasar yang berasal dari perusahaan AI Tiongkok “Moonshot AI” (Yuezhianmian).

Moonshot AI juga dituduh terlibat dalam pengumpulan dan pencurian data kecerdasan buatan dalam skala besar dari Amerika Serikat.

Selain itu, disebutkan bahwa ketika insinyur Amerika menggunakan Cursor untuk menulis kode, informasi sensitif seperti rahasia bisnis, teknologi laboratorium, bahkan data militer AS berpotensi mengalir ke Beijing, yang dapat digunakan untuk pengembangan senjata atau sintesis bahan kimia dan biologis berbahaya.

Di sisi lain, mantan ketua Departemen Kimia Universitas Harvard, Charles Lieber, yang pada 2021 dinyatakan bersalah karena menyembunyikan hubungannya dengan pihak Tiongkok, dilaporkan kini bekerja di sebuah pusat riset di Shenzhen yang didukung pemerintah Partai Komunis Tiongkok. Ia meneliti bidang neuro-elektronika, yang kembali memicu kekhawatiran AS mengenai dugaan pencurian teknologi canggih dan talenta.

Laporan ini menegaskan bahwa penyelidikan tersebut mengirimkan sinyal jelas kepada perusahaan teknologi Amerika: di tengah tren pemisahan teknologi antara AS dan Tiongkok, perusahaan harus memilih antara “biaya rendah” dan “keamanan nasional”.

Dilaporkan oleh Yu Liang dan Ying Xiang, NTDTV New York.

Pasar Kerja yang Sulit dan Kurangnya Daya Tarik : Populasi Muda di Beijing Berkurang Hampir Setengahnya dalam Dekade Terakhir

Baru-baru ini, berbagai provinsi dan kota di Tiongkok telah merilis data kependudukan. Data menunjukkan bahwa jumlah anak muda di Beijing terus menurun. Bahkan, dalam hampir 10 tahun terakhir telah berkurang hingga setengahnya. Sebaliknya, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, sehingga tren penuaan populasi semakin serius.

EtIndonesia. Pada 27 April, 31 provinsi di Tiongkok daratan secara bertahap mengumumkan data jumlah penduduk tetap hingga akhir 2025. Data menunjukkan bahwa sekitar 80% wilayah mengalami penurunan jumlah penduduk. 

Selain itu, berbagai lembaga statistik daerah juga merilis Statistical Yearbook 2025, yang memuat data populasi berdasarkan kelompok usia. Enam wilayah—Beijing, Hebei, Henan, Jiangsu, Fujian, dan Anhui—secara konsisten mempublikasikan data ini, sehingga memberikan gambaran lebih rinci tentang perubahan struktur usia penduduk.

Data publik menunjukkan bahwa dari tahun 2015 hingga 2024, proporsi penduduk muda di Beijing mengalami penurunan paling signifikan, dari 21,3% menjadi 11,4%. Dari segi jumlah, populasi anak muda di Beijing turun dari 4,618 juta menjadi 2,489 juta, berkurang sebanyak 2,129 juta orang dalam satu dekade.

Dalam periode yang sama, jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) meningkat dari 3,405 juta menjadi 5,14 juta, bertambah sebanyak 1,735 juta orang.

Sebelumnya, proporsi anak muda di Beijing jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, laju penurunan di Beijing jauh lebih cepat dibandingkan tren nasional. Tahun 2020 menjadi titik penurunan paling drastis, di mana jumlah anak muda turun dari 3,805 juta pada 2019 menjadi 3,255 juta, berkurang 550 ribu dalam satu tahun.

Terkait penyebab penurunan jumlah anak muda di Beijing, sejumlah analisis menyebutkan bahwa sulitnya mendapatkan pekerjaan dan tingginya biaya hidup menjadi faktor utama. Selain itu, kebijakan pengelolaan kota yang semakin ketat juga turut berperan.

Sejumlah warganet berkomentar, “Sulit mencari kerja, setelah bekerja pun sulit menabung, biaya transportasi tinggi dan kondisi tempat tinggal kurang baik. Wajar saja Beijing kehilangan daya tariknya.”

Pada 30 April, akun publik WeChat “Fuchengmen Liuhayuan” menerbitkan artikel berjudul “Dalam Sepuluh Tahun Populasi Anak Muda Berkurang Setengah: Mengapa Beijing Semakin Tidak Mampu Menahan Anak Muda?” Artikel tersebut menyebutkan bahwa dalam satu dekade, Beijing yang dulunya satu-satunya kota dengan lebih dari 4 juta anak muda kini turun menjadi sekitar 2 juta lebih. Keunggulan sumber daya tenaga muda hampir habis.

Saat ini, jumlah anak muda di Beijing bahkan jauh lebih rendah dibandingkan kota-kota seperti Shenzhen, Shanghai, Guangzhou, Chengdu, dan Chongqing, bahkan mungkin lebih rendah dari kota dengan populasi sekitar 10 juta seperti Dongguan, Wuhan, dan Hangzhou.

Analisis tersebut menyebutkan bahwa pada 2015, dari setiap 100 penduduk Beijing terdapat sekitar 21 anak muda dan 16 lansia. Namun pada 2024, hanya tersisa 11 anak muda dibandingkan 24 lansia per 100 penduduk. Rata-rata, Beijing kehilangan sekitar 210 ribu anak muda setiap tahun dalam satu dekade terakhir. Jika tren ini berlanjut, pada 2030 jumlah anak muda diperkirakan hanya sekitar 1 juta orang, menjadikan Beijing sebagai kota yang sangat menua dan kehilangan vitalitas.

Penyebab utama migrasi keluar anak muda meliputi melambatnya pertumbuhan sektor teknologi dan jasa, berkurangnya peluang perkembangan bagi generasi muda, tingginya harga properti dan biaya hidup, sistem hukou (registrasi penduduk) yang kaku, serta semakin ketatnya pengelolaan kota dan meningkatnya intervensi administratif dalam ruang publik.

Namun, ada juga warganet yang berpendapat, “Apakah mungkin memang jumlah anak muda secara keseluruhan memang sudah menurun sejak awal?”

Disusun oleh reporter Li Li / Editor: Lin Qing – NTDTV.com

Pejabat Tinggi FBI Peringatkan: Peretas PKT Berisiko Ditangkap Saat Bepergian ke Luar Negeri

Pejabat tinggi Federal Bureau of Investigation (FBI), Brett Leatherman, pada 30 April menyatakan bahwa ekosistem “outsourcing peretasan” yang terkait dengan pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT)  telah “lepas kendali” dan memberikan “alasan yang tampak sah” bagi para pelaku kejahatan siber. Ia memperingatkan bahwa peretas Tiongkok berisiko ditangkap jika bepergian ke luar negeri.

EtIndonesia. Seorang warga negara Tiongkok berusia 34 tahun, Xu Zewei, baru-baru ini (25 April) diekstradisi dari Italia ke Amerika Serikat untuk diadili. Ia didakwa telah bekerja untuk kontraktor Tiongkok pada tahun 2020 dan 2021, serta terlibat dalam operasi peretasan skala besar atas perintah otoritas PKT.

Xu Zewei ditangkap di Milan pada Juli tahun lalu, dan setelah pengadilan Italia menyetujui ekstradisi, ia dikirim ke Amerika Serikat. Ia dituduh mencuri hasil penelitian virus COVID-19 dari universitas-universitas di AS pada saat dunia sangat membutuhkannya.

Disebutkan bahwa aksi peretasan tersebut dilakukan atas perintah pemerintah PKT, yang pada saat itu juga dituduh menyembunyikan informasi penting terkait virus dan asal-usulnya.

Pihak berwenang AS juga menuduh Xu Zewei sebagai anggota kunci dari kelompok peretas yang diduga terkait dengan pemerintah PKT, yang telah menyerang hampir 13.000 institusi di Amerika Serikat.

Kedutaan Besar PKT di AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. 

Sumber : NTDTV.com

Seorang Wanita Sangat Gelisah dan Merasa Gatal Hingga Hampir Putus Asa, Setelah Berobat Dia Tak Pernah Menyangka Penyebab Sebenarnya

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang wanita berusia 40 tahun di Ningbo, Zhejiang, Tiongkok  mengalami gatal pada area anus setiap hari hingga membuatnya tidak bisa duduk atau berdiri dengan nyaman, bahkan hampir membuatnya putus asa. Ia kemudian pergi ke rumah sakit untuk berobat, dan tak disangka “penyebabnya” ternyata adalah tisu basah yang ia gunakan setiap hari.

Menurut laporan Ningbo Evening News, wanita bermarga Wang tersebut datang ke klinik khusus gatal anus di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Distrik Haishu, Ningbo. Ia mengaku telah lama tersiksa oleh rasa gatal tersebut. Pada siang hari, ia tidak bisa duduk tenang, bahkan saat bekerja harus diam-diam menggeser dan menggosok tubuhnya di kursi ketika tidak ada orang. Pada malam hari, rasa gatal semakin parah hingga membuatnya tidak bisa tidur.

“Saya benar-benar tidak tahan. Saat gatal datang, rasanya ingin mencari tempat sepi untuk menggaruk sekuat-kuatnya,” ujarnya. Karena sering menggaruk, kulit di sekitar anusnya terasa sudah terluka, dan saat buang air besar terasa sakit, bahkan tisu sering terdapat darah.

Setelah pemeriksaan, dokter He Hongyan menemukan bahwa kondisi Wang jauh lebih serius dari yang ia gambarkan. Kulit di sekitar anusnya telah mengalami perubahan patologis yang jelas: terjadi depigmentasi (warna kulit memudar), tekstur kulit menebal dan kasar, garis kulit berubah, serta terdapat banyak luka terbuka. Secara keseluruhan tampak seperti perubahan “kulit seperti kulit (leathery)”.

Dokter kemudian menanyakan kebiasaan kebersihan sehari-harinya. Wang menjelaskan bahwa karena ia menderita wasir, ia merasa tidak bersih setelah buang air besar, sehingga terbiasa menggunakan tisu basah dan mengelap berulang kali hingga merasa benar-benar bersih.

Dokter menjelaskan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh kombinasi dua faktor. Pertama, pembersihan berlebihan merusak lapisan pelindung kulit. Tisu basah memang membuat terasa lebih bersih, tetapi kandungan bahan pembersih, pengawet, dan bahan kimia lainnya dapat merusak pelindung alami kulit di sekitar anus. Ketika lapisan ini rusak, kulit menjadi sangat rentan.

Kedua, adanya kebocoran cairan usus akibat melemahnya otot sfingter anus. Cairan usus dapat keluar dan terus-menerus mengiritasi kulit yang sudah kehilangan perlindungan, sehingga memperparah kondisi.

Setelah menghentikan penggunaan tisu basah dan menjalani pengobatan, gejala gatal pada Wang berangsur membaik, dan kondisi kulitnya juga perlahan pulih.

Dokter mengingatkan bahwa banyak orang menganggap “bersih” identik dengan sehat, sehingga cenderung membersihkan secara berlebihan. Padahal, mengelap berulang kali dengan tisu basah justru dapat merusak lapisan pelindung kulit dan menurunkan daya tahan kulit. Bagi orang dengan kulit sensitif atau yang memiliki masalah di area anus, penggunaan tisu basah harus dilakukan dengan hati-hati.

Dalam kehidupan sehari-hari, tisu basah memang praktis dan semakin populer, terutama saat tidak ada air. Namun, di balik manfaatnya, kandungan bahan kimia di dalamnya juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan kulit.

Dokter kulit asal AS, Caren Campbell, pernah mengatakan kepada NBC Select bahwa tisu basah tidak cocok untuk semua orang dan berisiko menyebabkan alergi kulit. Ia menjelaskan bahwa banyak tisu basah mengandung bahan pengawet yang dapat memicu dermatitis kontak (sejenis eksim), yang menyebabkan kulit gatal dan meradang.

Dr. Campbell juga menambahkan bahwa penggunaan jangka panjang tisu basah dapat meninggalkan residu bahan pada kulit. Ia menyarankan agar sisa bahan pembersih dibersihkan agar tidak meningkatkan risiko iritasi atau alergi.

Para ahli menyarankan, jika ingin menggunakan tisu basah sebagai pengganti tisu biasa, sebaiknya pilih yang tidak mengandung alkohol serta alergen seperti MCI dan MI. Alternatif lainnya adalah menggunakan tisu yang dibasahi dengan air hangat.

Sumber ; NTDTV.com

Jaksa AS Rilis Video HD Saat Penembak di Jamuan Koresponden Gedung Putih Melepaskan Tembakan

EtIndonesia. Pada 30 April, jaksa Washington DC, Jeanine Pirro, mempublikasikan secara online video definisi tinggi yang memperlihatkan momen penembak dalam jamuan Koresponden Gedung Putih melepaskan tembakan. Dalam rekaman tersebut, pelaku menembak seorang agen United States Secret Service saat menerobos pos pemeriksaan keamanan.

Pirro mengunggah video tersebut di akun resminya di platform X dan menyatakan: “Hari ini kami merilis sebuah video yang telah diajukan ke pengadilan distrik AS. Video tersebut menunjukkan Cole Allen menembak seorang agen Secret Service ketika mencoba membunuh presiden dalam jamuan Koresponden Gedung Putih. Tidak ada bukti bahwa penembakan ini merupakan salah tembak oleh pihak sendiri.”

Pirro juga menambahkan bahwa video tersebut menunjukkan Allen telah melakukan survei lokasi di sekitar Hilton Hotel Washington DC sehari sebelum serangan. Ia menegaskan bahwa kantornya akan bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk melanjutkan penyelidikan dan membawa pelaku ke pengadilan.

Rekaman pengawasan menunjukkan bahwa sebelum kejadian, Allen berkeliaran di dalam hotel untuk mengamati situasi. Saat insiden terjadi, ia mengenakan mantel panjang dan memasuki sebuah pintu sebelum area pemeriksaan keamanan, di mana terdapat beberapa polisi, petugas keamanan, serta seekor anjing pelacak (K9) beserta pawangnya.

Anjing tersebut tampak mencurigai sesuatu dan mencoba mengikuti Allen, namun ditarik kembali oleh pawangnya. Beberapa detik setelah anjing itu pergi, Allen tiba-tiba berlari keluar dari pintu, menerobos pemeriksaan keamanan, dan menembak seorang agen berpakaian sipil. Petugas keamanan di lokasi segera mengeluarkan senjata dan mengejarnya.

Suara tembakan memicu respons dari agen dan petugas keamanan lain yang berjaga di hotel, yang langsung bersiaga dengan senjata mereka.

Insiden penembakan ini terjadi pada malam 25 April di Washington DC, tepatnya di hotel Hilton, saat berlangsung jamuan tahunan White House Correspondents’ Association (WHCA). Pelaku berusaha memasuki lokasi acara, dan setelah tembakan terdengar, presiden AS Donald Trump serta pejabat tinggi lainnya segera dievakuasi.

Pelaku, Cole Allen, dengan cepat dilumpuhkan dan ditangkap oleh agen. Ia didakwa dengan berbagai tuduhan, termasuk percobaan pembunuhan terhadap presiden.

Pada 27 April, Pirro juga mengungkapkan secara rinci jalur pergerakan pelaku. Allen diketahui telah memesan kamar di hotel tersebut sejak 6 April untuk menginap selama tiga malam, yaitu pada tanggal 24, 25, dan 26 April.

Pada 21 April, ia berangkat dari kediamannya di Los Angeles, transit melalui Chicago, dan tiba di Washington pada 24 April. Ia check-in sekitar pukul 15.00 dan menginap malam itu di hotel.

Dalam wawancara dengan program America’s Newsroom di Fox News pada 30 April, Pirro menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan pembunuhan yang direncanakan matang. “Ia berniat membunuh presiden dan siapa pun yang menghalanginya,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kemungkinan akan ada dakwaan tambahan, sambil menunggu hasil resmi uji balistik.

Disusun oleh reporter Luo Tingting / Editor: Xia He – NTDTV.com

Terjadi Lagi “Wajah Mirip Pemimpin Partai” Kembali Picu Masalah! Pria di Shandong, Tiongkok Dinyatakan Melanggar Aturan karena Mirip Xi Jinping

EtIndonesia. Seorang pria di Tiongkok, yang mempromosikan dagangannya dengan mengunggah foto selfie di platform video pendek, justru dinyatakan melanggar aturan karena wajahnya dianggap mirip dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping. Ini menjadi salah satu contoh terbaru orang yang mendapat masalah karena memiliki “wajah mirip pemimpin”.

Menurut video yang beredar, pria tersebut berasal dari Shandong dan biasanya menjual kerang serta aksesoris laut melalui platform video pendek. Ia mengunggah foto selfie dan gambar profilnya di Douyin. Namun, karena wajahnya dinilai mirip Xi Jinping, unggahan tersebut bukan membawa keuntungan, melainkan dianggap melanggar aturan oleh platform, sehingga foto selfie dan profilnya dihapus.

Pihak Douyin menyatakan bahwa pengguna harus “mematuhi peraturan yang berlaku” untuk menjaga lingkungan platform, serta melarang pria tersebut mengubah profilnya selama 30 hari. Ia pun merasa bingung dan tidak berdaya, mengatakan: “Mengunggah selfie saja bisa dianggap pelanggaran?”

Seorang pengemudi bernama Luo di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, diserang oleh seorang penumpang. Beberapa netizen berkomentar bahwa penampilannya “terlalu menjijikkan” karena ia sangat mirip dengan Xi Jinping. (Tangkapan layar dari video)

Netizen menanggapi dengan sindiran, seperti: “Bukan unggahannya yang melanggar, tapi wajahnya yang ‘melanggar’.” Ada juga yang berkomentar, “Di zaman dulu, wajah mirip bisa dijadikan pengganti (body double). Di zaman sekarang, justru jadi masalah besar.”

Sebenarnya, kasus orang yang mendapat masalah karena wajahnya mirip Xi Jinping bukan yang pertama di Tiongkok.

Beberapa tahun lalu, seorang sopir taksi di Hangzhou, Zhejiang, dipukuli oleh penumpang karena perselisihan ongkos. Setelah wawancara dipublikasikan, warganet menyadari bahwa wajah sopir tersebut sangat mirip Xi Jinping, sehingga memicu berbagai komentar dan spekulasi.

Kasus paling terkenal adalah penyanyi Tiongkok yang tinggal di Eropa, Liu Keqing. Ia berulang kali mengalami pemblokiran akun media sosial karena kemiripan wajahnya dengan Xi Jinping, yang membuatnya kesulitan selama bertahun-tahun.

Penyanyi Tiongkok Liu Keqing telah berulang kali diberi peringatan oleh TikTok karena kemiripannya yang mencolok dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok. (Tangkapan layar dari video)

Pada 22 Mei tahun lalu, Liu Keqing menulis bahwa setiap kali akunnya dihapus, ia harus mengganti foto profil dengan sangat hati-hati, memilih foto yang sederhana dan biasa. Namun, setelah hampir setahun tanpa masalah, akunnya kembali dihapus dengan alasan yang sama, bahkan kali ini ia dilarang menampilkan wajah selama 30 hari.

Ia mengeluh bahwa penghasilannya sebagai penyanyi tidak besar, dan pembatasan tersebut semakin mengurangi peluangnya.

Baru pada awal tahun ini, Liu Keqing mengumumkan bahwa setelah lima tahun proses pengajuan dan peninjauan, foto profil akunnya akhirnya disetujui dan dapat ditampilkan secara normal.

Terkait fenomena ini, sejumlah komentar menilai hal tersebut mencerminkan sistem sensor internet yang sangat sensitif di Tiongkok. Di platform X (Twitter), banyak warganet mengejek bahwa “wajah mirip” telah menjadi semacam “kesalahan” tersendiri dalam lingkungan internet Tiongkok.

Sebagian komentar menyindir bahwa ini adalah fenomena absurd, seperti “punya wajah mirip jadi kesalahan”, atau “negara ini hanya boleh punya satu wajah seperti itu”, menggambarkan situasi yang dianggap berlebihan dan tidak masuk akal. 

Sumber : NTDTV.com

Ketika Blokade Atas Blokade: Saat Teheran Mengancam Selat Hormuz, AS Mencekik Pelayaran Iran

Kendali Iran atas jalur perairan ini menimbulkan dampak global, sementara perburuan global Angkatan Laut AS terhadap tanker “armada bayangan” menargetkan Iran

oleh John Haughey

Tibanya kapal USS George H.W. Bush, kini terdapat tiga kelompok tempur kapal induk, lebih dari 240 jet tempur, dan sedikitnya 16 kapal perusak di Laut Arab dan Laut Merah yang memburu kapal-kapal Iran serta tanker “armada bayangan”.

Namun satu hal yang tidak dilakukan oleh 20.000 pelaut dan marinir dalam operasi lebih dari 20 kapal ini—termasuk lebih dari 2.500 pasukan infanteri serbu di kapal amfibi USS Tripoli—adalah memblokade Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru mengendalikan kapal mana yang boleh keluar-masuk melalui jalur sempit sepanjang 21 mil yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Kapal-kapal Iran masih melintasi koridor tersebut dan keluar-masuk pelabuhan Teluk Persia—atau yang tersisa setelah 38 hari pengeboman—karena Angkatan Laut AS hampir tidak memiliki kapal perang di perairan seperti cekungan itu. Berdasarkan gencatan senjata, kapal-kapal Iran tidak ditembaki oleh pasukan AS maupun Israel.

Kekuatan laut ini—yang merupakan pengerahan terbesar Angkatan Laut AS di kawasan sejak invasi Irak 2003 dan krisis sandera Iran 1979–1981—menegakkan garis larangan sepanjang 190 mil dari Ras al-Hadd di Oman hingga Teluk Kaij-e-Gavater di perbatasan Iran–Pakistan, lebih dari 220 mil di selatan selat tersebut.

Sementara Iran menguasai selat dan pelabuhannya di Teluk Persia tidak “diblokade” karena gencatan senjata, pelayaran Iran tidak memiliki akses ke jalur laut di luar zona operasi Angkatan Laut AS di Teluk Oman (GONZO).

Ini adalah kebuntuan: IRGC memanfaatkan keunggulan geografisnya untuk menerapkan “cekikan ekonomi” pada jalur vital perdagangan dunia, sementara Amerika Serikat menggunakan jangkauan globalnya untuk secara selektif menghentikan perdagangan maritim yang penting bagi Iran.

Pada dasarnya, ini adalah blokade atas sebuah blokade.

“Kami tidak memblokade selat. Kami memblokade kapal-kapal Iran yang mencoba masuk ke Teluk Oman,” ujar Salvatore Mercogliano, profesor analis perdagangan maritim di Campbell University, Carolina Utara. “Kami bahkan tidak berada dekat Selat Hormuz. Ini yang disebut ‘blokade jarak jauh’.”


Garis GONZO

Per 27 April, Komando Pusat AS melaporkan bahwa sejak 13 April, Angkatan Laut AS telah mencegat 38 kapal setelah melintasi selat dan “mengarahkannya kembali” ke pelabuhan Teluk Persia.

Pada 19 April, pelaut USS Spruance dan marinir USS Tripoli menyita kapal berbendera Iran M/V Touska yang mencoba menembus garis GONZO.
Pada 22 April, pasukan AS menahan tanker berbendera Palau Tifani yang membawa 1,9 juta barel minyak mentah Iran di Teluk Benggala lepas Malaysia.
Pada 23 April, tanker yang dikenai sanksi Majestic X ditangkap antara Sri Lanka dan Indonesia.
Pada 25 April, Angkatan Laut AS mencegat kapal berbendera Botswana M/V Sevan di Laut Arab dan “mengawalnya” kembali ke selat.

Touska dan Tifani disita ribuan mil dari Selat Hormuz, di kawasan Samudra Hindia timur yang dikenal sebagai “pom bensin terapung,” tempat minyak dari negara yang disanksi seperti Iran dan Rusia dibeli oleh tanker “armada bayangan” dengan bendera palsu dan dijual di Asia, terutama ke pembeli Tiongkok.

Sevan termasuk dalam 19 kapal yang dikenai sanksi Departemen Keuangan AS pada 24 April karena mengangkut barang Iran. Organisasi Maritim Internasional mencatat setidaknya 17 dari kapal tersebut—bahkan mungkin lebih dari 60 di seluruh dunia—beroperasi dengan bendera Botswana, hal yang mengejutkan negara Afrika yang tidak memiliki registrasi kapal.

Operasi terhadap Iran ini mirip dengan penyitaan kapal “armada bayangan” Venezuela oleh Pentagon pada Desember 2025–Februari 2026.

Sementara AS memburu kapal Iran secara global di luar garis GONZO, IRGC membalas dengan menyita kapal berbendera Panama Francesca dan kapal berbendera Yunani Epaminondas pada 22 April dengan alasan “tidak memiliki izin” untuk melintasi selat.

Perbedaannya, menurut Gregory Copley dari International Strategic Studies Association, adalah bahwa AS bertindak selektif menargetkan Iran, sementara IRGC memaksakan kendali atas perdagangan global.

“Yang kita lihat adalah perang narasi antara Iran dan Amerika,” ujarnya. “Iran mengatakan mereka memblokade selat, Amerika mengatakan tidak bisa.”

Menurutnya, klaim blokade juga digunakan Iran untuk meraih keunggulan psikologis.


Tidak Ada Solusi Militer

Blokade biasanya merupakan strategi jangka panjang untuk “mencekik” lawan secara perlahan. Namun dengan lebih dari 20 persen minyak dan gas dunia terkurung di Teluk Persia, ratusan kapal menganggur, dan 20.000 pelaut terdampar, kebuntuan ini memicu tekanan besar.

Meski gencatan senjata masih bertahan dan komunikasi tidak langsung berlangsung melalui Pakistan, belum jelas apakah Iran akan membuka selat tanpa konsesi AS, atau apakah AS akan melunak dari tuntutannya agar Iran menghentikan program nuklir dan dukungan terhadap kelompok teroris.

Pentagon sendiri tengah menyiapkan rencana serangan besar terhadap instalasi IRGC di sepanjang pantai Hormuz.

Namun, menurut Mercogliano, pada akhirnya tidak ada solusi militer sederhana.

“Cukup satu speedboat dengan senapan mesin untuk menghentikan kapal kontainer raksasa,” katanya, menggambarkan betapa rentannya jalur tersebut.

Bahkan ancaman ranjau saja sudah cukup membuat perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko.

“Hanya ancaman ranjau sudah cukup untuk menciptakan ‘ladang ranjau’,” ujarnya.


Pada akhirnya, seperti di Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, Malaka, Dardanella, hingga Terusan Suez dan Panama, lalu lintas maritim global berjalan karena kesepakatan bersama.

Selama belum ada kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, kebuntuan ini akan terus menyakitkan.

Namun Copley meyakini tekanan global AS pada akhirnya akan memaksa Teheran untuk mengalah lebih dulu.

“Apa pun sebutannya—blokade atau bukan—itu tidak penting,” katanya.
“Tujuannya jelas: memutus perdagangan laut Iran. Yang penting adalah hasil akhirnya, bukan prosesnya.”

John Haughey adalah seorang reporter pemenang penghargaan di Epoch Times yang meliput pemilu Amerika Serikat, Kongres AS, energi, pertahanan, dan infrastruktur. Ia memiliki pengalaman lebih dari 45 tahun di bidang media. Anda dapat menghubungi John melalui email di [email protected].

Atikel ini sebelumnya terbit dalam bahasa Inggris