EtIndonesia. Menghabiskan 25 miliar dolar AS, militer Amerika menyerang 7.000 target di Iran dengan hampir nol korban jiwa. Bagaimana secara rinci bagaimana AS menghabiskan uangnya. Dalam hal “membakar uang”, siapa yang lebih mampu bertahan, Amerika Serikat atau Iran?
Pada 29 April, dalam sidang dengar pendapat di Kongres AS, pejabat keuangan sementara Departemen Pertahanan AS, Jules Hurst, mengungkapkan bahwa operasi terhadap Iran yang disebut “Epic Rage” sejak akhir Februari hingga sekarang telah menghabiskan 25 miliar dolar AS, terutama untuk biaya persenjataan dan amunisi.
Sebagai gambaran, menurut data World Bank, jumlah 25 miliar dolar AS ini sudah melebihi PDB tahunan setidaknya 50 negara di dunia, bahkan setara dengan 1,5 kali PDB tahunan Islandia. Artinya, biaya operasi militer AS selama dua bulan setara dengan pendapatan negara Islandia selama satu setengah tahun.
Banyak orang mungkin bertanya: mengapa dalam waktu dua bulan AS bisa menghabiskan uang sebanyak itu? Digunakan untuk apa saja? Apakah angka 25 miliar ini dilebih-lebihkan atau justru konservatif?
Lebih penting lagi, mengapa AS bersedia menanggung biaya ekonomi yang sangat tinggi untuk menukar dengan korban jiwa yang sangat rendah? Logika militer dan prioritas nilai seperti apa yang ada di balik strategi ini?
Pertama, perlu dipahami bahwa operasi ini bukan serangan udara sekali saja, melainkan rangkaian operasi militer berkelanjutan lintas wilayah dan multi-platform. AS melakukan serangan, pencegatan, pertahanan, dan patroli di Suriah, Irak, Laut Merah, dan Teluk Persia. Ciri utamanya: cakupan luas, tempo cepat, presisi tinggi, banyak platform, dan biaya sangat mahal.
Bagian biaya terbesar adalah amunisi. AS tidak menggunakan bom biasa, melainkan senjata berpemandu presisi berteknologi tinggi. Misalnya, rudal jelajah Tomahawk berharga sekitar 2 hingga 3,5 juta dolar per unit; rudal pencegat Standard-6 sekitar 5 juta dolar; bom berpemandu presisi berkisar 30.000 hingga 50.000 dolar, bahkan lebih mahal untuk tipe canggih.
Mengapa begitu mahal? Karena rudal modern bukan sekadar logam dan bahan peledak, melainkan produk teknologi tinggi yang dilengkapi GPS, sistem navigasi inersia, pemandu terminal, sistem anti-jamming, sensor, chip, material siluman, paduan suhu tinggi, dan bahan bakar padat. Selain itu, produksi rudal tidak massal seperti ponsel—jumlahnya terbatas, sehingga harga per unit menjadi tinggi.
Lalu berapa banyak rudal mahal yang digunakan?
Departemen Pertahanan tidak mengungkap angka pasti, tetapi menurut analisis media seperti The Wall Street Journal dan lembaga think tank Center for Strategic and International Studies, AS telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk, lebih dari 1.000 rudal Patriot-3, sekitar 190 hingga 290 rudal THAAD, serta 130 hingga 250 rudal Standard-3.
Estimasi ini didasarkan pada jumlah target serangan. Menurut data Gedung Putih, AS telah menyerang sekitar 7.000 target, termasuk lebih dari 2.000 pusat komando, 1.500 sistem pertahanan udara, 1.450 fasilitas industri pertahanan, 800 lokasi peluncuran drone dan rudal, 600 target maritim, serta lebih dari 450 fasilitas terkait rudal balistik.
Setiap jenis rudal memiliki fungsi berbeda. Tomahawk digunakan untuk target jarak jauh dan berbenteng. Patriot-3 dan THAAD digunakan untuk mencegat rudal balistik Iran. Standard-3 melindungi kelompok kapal induk, sementara Standard-6 bersifat multifungsi.
Karena Iran melakukan serangan balasan rudal balistik secara intensif di awal konflik, konsumsi rudal pertahanan bahkan lebih cepat daripada rudal serangan.
Media memperkirakan konsumsi amunisi AS dalam dua bulan hampir setara dengan satu tahun perang di Ukraina.
Sebagai contoh, dalam serangan terhadap target di pegunungan atau bawah tanah, AS menggunakan taktik serangan berlapis. Gelombang pertama menggunakan umpan untuk membebani radar musuh. Gelombang kedua menghancurkan sistem pertahanan udara. Gelombang ketiga menggunakan pesawat pembom seperti B-52 Stratofortress untuk serangan mendalam.
Untuk bunker bawah tanah, rudal digunakan secara beruntun menembus titik yang sama dengan presisi tinggi—taktik yang juga digambarkan dalam film Top Gun: Maverick.
Diperkirakan sebelum konflik, stok Tomahawk AS sekitar 3.000–4.000 unit, dan hampir 27% telah digunakan. Rudal Patriot-3 terpakai sekitar dua pertiga stok, sementara THAAD sekitar 80%.
Masalah lain adalah distribusi stok yang tersebar di seluruh dunia—di pangkalan, kapal selam, hingga gudang. Ketika stok di Timur Tengah menipis, AS harus memindahkan dari kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, Departemen Pertahanan dilaporkan sedang mempertimbangkan peningkatan produksi bersama Raytheon.
Selain rudal, biaya besar lainnya adalah operasi angkatan udara. Biaya per jam terbang pesawat tempur AS termasuk yang tertinggi di dunia. Menurut Government Accountability Office dan Congressional Budget Office:
- F-35: sekitar 34.000–42.000 dolar per jam
- F-15E: sekitar 33.000–42.000 dolar per jam
- F-22: hingga 68.000–85.000 dolar per jam
Setiap satu jam terbang F-35 membutuhkan sekitar 13 jam perawatan di darat.
Dalam satu misi, puluhan pesawat terlibat—termasuk pesawat tanker, pengintai, dan perang elektronik—yang membuat biaya tiap operasi bisa mencapai jutaan dolar.
Selain itu, komponen dan perawatan juga sangat mahal. Satu bagian mesin atau radar bisa bernilai ratusan ribu dolar. Mesin F-35 bahkan bisa memerlukan biaya perawatan jutaan dolar.
Sistem perangkat lunak F-35 juga dikelola oleh Lockheed Martin, sehingga setiap jam operasi memerlukan biaya lisensi dan dukungan teknis, yang bisa mencapai lebih dari 15% dari total biaya.
Dari sisi bahan bakar, F-35 mengonsumsi sekitar 1.350 galon (sekitar 5.000 liter) bahan bakar per jam—setara dengan konsumsi mobil biasa untuk mengelilingi bumi dua kali.
Karena itu, sejak 28 Februari hingga awal April sebelum gencatan senjata, operasi udara dilakukan secara intensif setiap hari, dengan biaya harian yang bisa mencapai ratusan juta dolar—belum termasuk biaya rudal yang digunakan.
Komponen biaya besar ketiga adalah biaya penempatan angkatan laut.
Amerika Serikat menempatkan kelompok tempur kapal induk di Timur Tengah. Kapal induk kelas Ford terbaru memiliki biaya pembangunan sekitar 13 miliar dolar AS, dan biaya pemeliharaannya sangat tinggi.
Dalam kondisi normal, untuk menjaga operasi dasar kapal induk saja membutuhkan sekitar 6,5 juta hingga 8 juta dolar per hari. Total awak kapal melebihi 5.000 orang. Biaya bahan bakar, pemeliharaan, logistik, dan pelatihan semuanya sangat mahal.
Dalam masa perang atau penugasan intensif, biaya harian kapal induk USS Ford dapat mencapai 15 juta hingga 25 juta dolar.
Namun, ini hanya biaya untuk satu kapal induk. Dalam operasi terhadap Iran, kapal ini tidak beroperasi sendiri, melainkan sebagai bagian dari kelompok tempur kapal induk. Kapal pengawalnya mencakup dua kapal penjelajah, dua hingga tiga kapal perusak kelas Burke, serta satu kapal selam nuklir serang.
Biaya kapal-kapal ini, ditambah biaya ribuan personel di dalamnya serta biaya mencegat drone dan rudal Iran, membuat total pengeluaran satu kelompok tempur kapal induk mencapai sekitar 25 juta hingga 40 juta dolar per hari.
Biaya penempatan angkatan laut bersifat berkelanjutan—selama armada berada di laut, biaya terus berjalan.
Komponen biaya besar keempat adalah biaya personel.
Gaji prajurit Amerika Serikat memang relatif tinggi. Seorang prajurit baru bisa memperoleh gaji pokok sekitar 29.000 dolar per tahun, dan dengan berbagai tunjangan bisa mencapai 45.000 hingga 55.000 dolar. Seorang bintara berpengalaman dengan masa dinas 10 tahun memiliki gaji pokok sekitar 57.000 dolar, dan dengan tunjangan totalnya bisa mencapai 85.000 hingga 100.000 dolar per tahun. Gaji perwira tentu lebih tinggi.
Prajurit AS yang ditempatkan di zona perang secara otomatis menerima berbagai tunjangan, seperti tunjangan bahaya, tunjangan zona tempur, pembebasan pajak, tunjangan perpisahan keluarga, kompensasi perpanjangan penugasan, serta tunjangan khusus lainnya.
Militer AS memiliki siklus penugasan yang jelas, misalnya Angkatan Darat biasanya 9 bulan. Jika penugasan diperpanjang karena perang, prajurit akan menerima kompensasi tambahan.
Pilot, pasukan khusus, dan personel intelijen yang menjalankan misi berisiko tinggi juga mendapatkan tunjangan ekstra.
Banyak tunjangan di zona perang juga bebas pajak.
Semakin intens perang, semakin tinggi pendapatan prajurit. Selama perang di Irak dan Afghanistan, pendapatan aktual banyak prajurit meningkat 20% hingga 40%. Ini juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya biaya perang Amerika secara cepat.
Pertanyaan terakhir: apakah angka 25 miliar dolar itu dilebih-lebihkan atau justru konservatif?
Hampir semua media berpendapat bahwa 25 miliar dolar hanyalah “biaya langsung minimum operasi militer”. Angka ini belum mencakup pengisian ulang amunisi, perbaikan pangkalan, penempatan jangka panjang, dukungan kepada sekutu, ekspansi industri pertahanan, serta tambahan anggaran di masa depan.
Semua perang Amerika—di Irak, Afghanistan, dan Suriah—memiliki pola yang sama: mengeluarkan dana awal, lalu diikuti tambahan anggaran. Operasi terhadap Iran kemungkinan juga akan demikian.
Jadi, 25 miliar dolar bukanlah total biaya akhir, melainkan hanya “tagihan pertama”. Biaya sebenarnya, tekanan, dan dampak lanjutan akan terus muncul dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan.
Meskipun 25 miliar dolar adalah angka yang sangat besar, di balik angka tersebut terlihat bahwa militer AS memilih menukar biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan jumlah korban jiwa yang sangat rendah.
Dalam program sebelumnya disebutkan bahwa untuk menyelamatkan seorang pilot F-15E yang ditembak jatuh, AS kehilangan beberapa pesawat tempur, helikopter, dan drone. Media memperkirakan biaya operasi penyelamatan tersebut mencapai hingga 400 juta dolar.
Menghabiskan 400 juta dolar demi menyelamatkan satu nyawa mendapat banyak pujian di dalam negeri AS, karena dalam budaya militer Amerika, “nyawa manusia tidak ternilai” bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang benar-benar diterapkan. Kemungkinan besar, biaya ini juga termasuk dalam total 25 miliar dolar yang diumumkan.
Di balik pendekatan ini terdapat logika penting: militer AS bersedia mengeluarkan sumber daya besar untuk menyelamatkan satu prajurit karena salah satu nilai inti mereka adalah janji bahwa negara tidak akan pernah meninggalkan tentaranya.
Janji ini bukan sekadar tulisan di dinding, melainkan tercermin dalam anggaran, dalam operasi, dan dalam setiap misi penyelamatan.
Bagi para prajurit, budaya ini menciptakan rasa kepercayaan yang kuat. Mereka tahu bahwa jika menghadapi bahaya di medan perang, negara akan mengerahkan segala sumber daya untuk menyelamatkan mereka.
Kepercayaan ini menjadi fondasi sistem tentara sukarela AS, yang membuat orang bersedia bergabung dan menjalankan misi berisiko tinggi.
Selain itu, strategi “serangan presisi” yang digunakan AS kali ini tidak hanya melindungi nyawa prajuritnya, tetapi juga mengurangi korban sipil melalui tingkat akurasi yang sangat tinggi dibandingkan pemboman besar-besaran tradisional.
Intinya, pendekatan ini adalah menukar biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan korban jiwa yang sangat rendah.
Di baliknya terdapat prioritas nilai yang jelas: uang bisa dicari kembali, tetapi nyawa tidak bisa diulang.
Sampai di sini pembahasan hari ini. Apa pendapat Anda tentang pengeluaran 25 miliar dolar oleh militer AS?
Sumber : NTDTV.com