’11 pesawat, 7 kapal perang’: Ketegangan di Selat Taiwan Meningkat Pesawat-pesawat Tempur Tiongkok Melintasi Garis Pertahanan dalam Serangan Baru

EtIndonesia. Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan (MND) mengatakan pada Jumat pagi (26/9) bahwa mereka mendeteksi 11 pesawat militer Tiongkok, tujuh kapal angkatan laut, dan satu kapal resmi yang beroperasi di dekat perairannya pada pukul 6 pagi waktu setempat. Menurut kementerian, sembilan dari 11 pesawat melintasi garis tengah Selat Taiwan dan memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) utara pulau itu.

Dalam sebuah unggahan di X, MND mengatakan: “11 pesawat PLA, 7 kapal PLAN, dan 1 kapal resmi yang beroperasi di sekitar Taiwan terdeteksi hingga pukul 6 pagi (UTC+8) hari ini. 9 dari 11 serangan melintasi garis tengah dan memasuki ADIZ utara Taiwan. Kami telah memantau situasi dan meresponsnya.”

Serangan Lain Sehari Sebelumnya

Aktivitas terbaru ini terjadi hanya sehari setelah Taiwan melaporkan satu pesawat Tiongkok dan lima kapal angkatan laut berada di dekat perairannya pada Kamis pagi.

Saat itu, Kementerian Pertahanan (MND) mengonfirmasi, “1 sorti pesawat PLA dan 5 kapal PLAN yang beroperasi di sekitar Taiwan terdeteksi hingga pukul 6 pagi (UTC+8) hari ini. 1 dari 1 sorti memasuki ADIZ utara Taiwan. #ROCArmedForces telah memantau situasi dan merespons.”

Ketegangan di Selat Taiwan

Manuver militer yang sering terjadi mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan. Kedua belah pihak telah memiliki hubungan yang tegang selama beberapa dekade. Taiwan, yang secara resmi dikenal sebagai Republik Tiongkok (ROC), memerintah dirinya sendiri dengan sistem politik dan ekonominya sendiri. Namun, Beijing mengklaim pulau itu berdasarkan prinsip “Satu Tiongkok”, dengan mengatakan hanya ada satu Tiongkok, dengan ibu kotanya di Beijing.

Perselisihan ini bermula pada tahun 1949, ketika pemerintah ROC mundur ke Taiwan setelah Partai Komunis mengambil alih kekuasaan di Tiongkok daratan. Sejak saat itu, Tiongkok telah mengupayakan reunifikasi dengan menggunakan tekanan diplomatik, ekonomi, dan militer.

Sikap Taiwan

Meskipun ada tekanan dari Beijing, Taiwan tetap mempertahankan kemerdekaan de factonya, didukung oleh dukungan publik di dalam negeri. Kementerian Pertahanan Taiwan secara berkala merilis informasi terbaru tentang aktivitas militer Tiongkok, dengan menyatakan bahwa hal ini merupakan bagian dari komitmennya terhadap transparansi dan kesadaran keamanan nasional.(yn)

Orang yang Paling Penting dalam Hidup

EtIndonesia. Kisah ini terjadi di sebuah universitas di Amerika.

Menjelang akhir kelas, seorang profesor berkata kepada para mahasiswanya: “Mari kita lakukan sebuah permainan. Siapa yang bersedia membantu saya?”

Seorang mahasiswi pun maju ke depan.

Profesor berkata:  “Tolong tuliskan di papan tulis dua puluh nama orang yang menurutmu paling penting, yang sulit kamu lepaskan.”

Mahasiswi itu menuliskan nama-nama tersebut: ada tetangganya, teman-temannya, rekan kerja, orang tua, suami, dan anaknya.

Profesor melanjutkan:  “Sekarang, coret satu nama yang menurutmu paling tidak penting.”

Mahasiswi itu pun mencoret nama salah satu tetangganya.

Profesor kembali berkata: “Tolong coret satu lagi.”

Dia mencoret nama salah satu rekannya.

“Coret satu lagi,” kata profesor.

Dia pun terus mencoret satu demi satu.

Akhirnya, hanya tersisa tiga nama di papan tulis: orang tua, suami, dan anaknya.

Suasana kelas menjadi hening. Para mahasiswa lainnya menatap serius, merasa bahwa ini bukan lagi sekadar permainan.

Profesor berkata dengan tenang: “Sekarang, coret satu nama lagi.”

Mahasiswi itu ragu, sangat sulit memilih. Dengan berat hati, dia akhirnya mencoret nama orangtuanya.

Profesor kembali berkata: “Coret satu lagi.”

Mahasiswi itu terkejut, tubuhnya bergetar. Dengan tangan gemetar, dia akhirnya mencoret nama anaknya.

Sekejap, dia menangis tersedu-sedu, menahan perasaan yang amat pedih.

Setelah dia agak tenang, profesor bertanya: “Bukankah orang yang paling dekat denganmu seharusnya adalah orangtua dan anakmu? Orangtua yang membesarkanmu, anak yang lahir dari rahimmu. Sedangkan suami, kalaupun hilang, kamu masih bisa menemukan pengganti. Mengapa justru suamimu yang paling sulit kau lepaskan?”

Seluruh kelas terdiam, menunggu jawabannya.

Dengan suara lirih, mahasiswi itu menjawab perlahan:“Seiring waktu, orangtua akan mendahuluiku. Anak-anak pun kelak akan tumbuh dewasa, lalu meninggalkan rumah untuk membangun kehidupan mereka sendiri. Satu-satunya orang yang benar-benar akan menemaniku sepanjang hidup adalah suamiku.”

Hidup, sejatinya, seperti bawang. Kulitnya kita kupas lapis demi lapis, dan selalu ada satu lapisan  yang membuat kita meneteskan air mata.(jhn/yn)

Rusia Berasumsi Trump Masih Berkomitmen Mencapai Perdamaian di Ukraina

EtIndonesia. Kremlin mengatakan pada hari Kamis (25/9) bahwa mereka berasumsi Presiden AS, Donald Trump masih berkomitmen untuk mencapai perdamaian di Ukraina, setelah pemimpin AS tersebut tiba-tiba mengubah retorikanya untuk mendukung Kyiv awal pekan ini.

Setelah bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, Trump mengatakan pada hari Selasa (24/9) bahwa dia yakin Kyiv dapat merebut kembali seluruh wilayahnya yang direbut Rusia, yang menguasai sekitar seperlima wilayah negara itu, dan bahwa Kyiv harus bertindak sekarang, mengingat Moskow menghadapi masalah ekonomi.

Wakil presiden Trump, JD Vance, mengatakan kepada wartawan pada hari Rabu bahwa Trump menjadi “sangat tidak sabar” terhadap Rusia karena mereka tidak “memberikan cukup solusi untuk mengakhiri perang.”

“Jika Rusia menolak bernegosiasi dengan itikad baik, saya pikir itu akan sangat, sangat buruk bagi negara mereka. Itulah yang ditegaskan presiden. Ini bukan perubahan posisi. Ini adalah pengakuan atas realitas di lapangan,” kata Vance.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, yang diminta mengomentari pernyataan Vance dan apakah Rusia menganggapnya bertentangan dengan keinginan Washington untuk membantu mengakhiri perang, mengatakan:

“Tidak, tidak. Faktanya, kami melihat retorika yang berbeda dari Washington. Untuk saat ini, kami berasumsi bahwa Washington memiliki kemauan politik, dan Presiden Trump memiliki kemauan politik, untuk melanjutkan upaya menuju penyelesaian damai di Ukraina.

“Kami mendukung upaya ini, dan Rusia tetap terbuka untuk memasuki perundingan damai.”

Beberapa nasionalis Rusia berpendapat bahwa pernyataan Trump menunjukkan bahwa dia akan menjauhkan diri dari upaya untuk mengakhiri perang, yang kini telah memasuki lebih dari separuh tahun keempat. Kremlin sebelumnya mengatakan bahwa mereka yakin retorika Trump dipengaruhi oleh fakta bahwa ia baru saja bertemu Zelenskyy.

Belum jelas apakah Trump akan mendukung pernyataannya dengan perubahan tindakan AS. Beberapa analis dan pejabat Eropa mengatakan kepada Reuters bahwa mereka yakin pernyataannya merupakan sinyal bagi Eropa bahwa sudah waktunya bagi para pemimpin benua itu untuk bertindak dan berbuat lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan Kyiv akan senjata dan pembiayaan.(yn)

Orang Jahat yang Tampak Baik

EtIndonesia. Suatu pagi yang sepi, saat hampir tak ada peziarah datang ke kuil, muncul seorang pria paruh baya berpakaian rapi dan bersikap ramah.

Dia menghampiri seorang biksu tua dan dengan penuh ketulusan berkata: “Shifu, bolehkah saya menyumbangkan 1 juta yuan untuk kuil ini?”

Biksu tua yang sedang membersihkan tempat lilin menoleh, lalu merangkapkan tangan: “Dermawan, apakah ada sesuatu yang sedang mengganjal hati Anda?”

Wajah pria itu sempat berubah sedikit masam, tapi dia segera mengembalikan sikap tenang dan menjawab:  “Itu… bukan urusan Anda, bukan?”

Biksu berkata lembut:  “Jangan tersinggung, saya hanya tidak ingin Anda membuang-buang uang. Mohon katakan, sebenarnya Anda ingin menyumbangkan uang itu untuk siapa?”

Pria itu tampak kaget: “Bukankah jelas untuk kuil ini?”

Biksu tersenyum:  “Lebih tepatnya, untuk saya pribadi, untuk kuil ini, atau untuk Tuhan?”

Raut wajah pria itu mulai suram, dahinya berkerut: “Shifu, apakah Anda sedang bercanda?”

Biksu menimpali:  “Segala sesuatu yang dilakukan manusia pasti punya tujuan. Apa tujuan Anda?”

Pria itu akhirnya tersinggung:  “Kalau begitu, berarti Anda tidak mau menerima sumbangan saya. Sudahlah, masih banyak kuil lain!”

Dia pun berbalik dan pergi.

Sekitar seperempat jam kemudian, pria itu kembali lagi. Kali ini sikapnya lebih lembut.

“Shifu, maafkan sikap saya yang kasar tadi. Sesungguhnya saya benar-benar ingin mendonasikan 1 juta yuan untuk kuil ini. Kalau pun Anda ingin tahu tujuan saya, anggap saja untuk pembangunan kuil,” katanya.

Biksu menjawab:  “Bangunan kuil saat ini masih cukup baik. Kalau Anda ingin uang itu segera bermanfaat, lebih baik donasikan untuk anak-anak miskin yang putus sekolah.”

Mendengar itu, pria tersebut berkata dengan gembira: “Sejujurnya, saya sudah pernah membantu 88 anak putus sekolah. Tapi sekarang, saya hanya ingin mendonasikan untuk kuil.”

Biksu bertanya lagi:  “Kalau kami menerima sumbangan itu, apa yang akan Anda rasakan?”

Pria itu menjawab: “Saya akan merasa lega.”

Biksu menatapnya dan berkata: “Kalau begitu, bolehkah saya menganggap bahwa Anda sebenarnya sedang membeli rasa lega dengan uang?”

Pria itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Biksu berkata dengan tenang: “Jangan salah paham. Sesungguhnya, memberi itu memang perbuatan baik. Tapi perbuatan baik belum tentu lahir dari hati yang baik. Jika seseorang hanya ingin menggunakan satu-dua perbuatan baik untuk menutupi dosa, maka kebaikan itu bukanlah kebaikan sejati—justru bisa menjadi sekutu dari kejahatan. Dengan begitu, meskipun Anda mendonasikan 1 juta, rasa bersalah tidak akan hilang, bahkan bisa semakin berat.”

Pria itu mulai berkeringat dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap wajahnya.

Biksu melanjutkan: “Sebagian orang datang ke kuil untuk berdonasi bukan dengan hati yang tulus, melainkan hanya dengan perbuatan baik di permukaan—mereka ingin menipu Tuhan. Orang-orang seperti itu tampak seolah-olah baik, padahal sebenarnya jahat. Atau lebih tepatnya, mereka adalah orang jahat sejati yang menyamarkan kejahatan dengan kedok kebaikan.”

Pria itu akhirnya tak sanggup lagi menahan diri. Dia berbalik dan berlari pergi.

Biksu tua menatap punggungnya yang menjauh, lalu menyatukan kedua telapak tangan sambil berdoa. (jhn/yn)

Zelenskyy Mengatakan Siap Mundur dari Kepresidenan Setelah Perdamaian

EtIndonesia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa dia siap untuk mundur setelah perang dengan Rusia berakhir. Dalam wawancara dengan Axios pada hari Kamis (25/9) , dia berkata: “Jika kita mengakhiri perang dengan Rusia, ya, saya siap untuk tidak ikut pemilu karena pemilu bukanlah tujuan saya.”

Zelenskyy menjelaskan bahwa dia ingin membantu Ukraina selama perang dan satu-satunya tujuannya saat ini adalah mengakhiri perang. Dia juga mengatakan bahwa dia akan meminta parlemen untuk mengadakan pemilu jika gencatan senjata tercapai.

Berbicara kepada Axios, dia mengatakan bahwa: “Selama gencatan senjata, saya pikir keamanan dapat memberikan kemungkinan untuk mengadakan pemilu. Hal itu bisa saja terjadi.”

Zelenskyy, seorang mantan komedian, terpilih sebagai presiden Ukraina pada tahun 2019, dan meskipun pemilihan umum dijadwalkan pada tahun 2024, pemilihan tersebut ditangguhkan karena darurat militer setelah invasi Rusia pada Februari 2022.

Akibatnya, Rusia terus-menerus mempertanyakan legitimasi pemimpin Ukraina tersebut sebagai seorang pemimpin.

Pada bulan Agustus, dalam pertemuan tingkat tinggi di Ruang Oval dengan Presiden AS, Donald Trump, Zelenskyy menegaskan kembali bahwa pemilihan umum akan diadakan di Ukraina setelah perdamaian dipulihkan.

“Kita perlu bekerja di parlemen karena selama perang kita tidak dapat mengadakan pemilihan umum,” ujranya dan mengatakan bahwa hal itu diperlukan agar rakyat dapat menyelenggarakan pemilihan umum yang demokratis, terbuka, dan sah.

Zelenskyy mengatakan bahwa Ukraina sedang mencari senjata jarak jauh dari AS dan jika Moskow tidak mengakhiri perang, para pejabat Rusia yang bekerja di Kremlin harus tahu di mana tempat perlindungan bom terdekat.

Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev menanggapi ancaman Zelenskyy di media sosial dengan mengatakan: “Rusia dapat menggunakan senjata yang tidak dapat dilindungi oleh tempat perlindungan bom. Dan Amerika harus mengingat ini.”

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada awal September oleh Institut Sosiologi Internasional Kyiv menunjukkan bahwa sekitar 59% warga Ukraina memercayai Zelenskyy. Sekitar 34% responden tidak memercayainya, menurut laporan Reuters.(yn)

Merebak Serangan Tomcat Picu Kasus Reaksi Kulit Parah  di Tiongkok Utara

Para ahli mengimbau agar tidak menepuk atau menghancurkan serangga ini, melainkan menyingkirkannya dengan hati-hati dan segera mencuci kulit jika terjadi kontak.

EtIndonesia. Kasus luka kulit parah akibat tomcat (rove beetle) bermunculan di berbagai wilayah Provinsi Shandong, Tiongkok, sehingga membuat pihak berwenang dan masyarakat setempat waspada.

Serangga yang di Tiongkok dijuluki “asam sulfat terbang” dan dikenal internasional sebagai “acid bug” ini mengeluarkan racun kuat bernama pederin, yang dapat memicu reaksi serius bila terkena kulit manusia.

Tomcat bukan serangga agresif dan tidak menggigit atau menyengat. Namun, ketika merayap di kulit, orang sering secara refleks menepuk atau menghancurkannya, sehingga cairan tubuh beracun terlepas.

Dengan tingkat keasaman pH hanya 1–2, pederin sangat asam dan bisa menyebabkan dermatitis akut. Gejalanya meliputi kemerahan, bengkak, lepuh, dan pustula. Pada kasus lebih parah, racun ini bisa menimbulkan luka borok atau perubahan warna kulit yang menetap.

Menurut Qilu Evening News, media utama di Shandong, yang dikutip oleh The Epoch Times (25/9/2025), seorang warga Jinan bernama Li (50 tahun) menemukan puluhan tomcat di rumahnya. Karena panik, ia menghancurkan beberapa dengan tangan kosong. Tanpa mencuci tangan, ia kemudian menyentuh wajah dan leher. Dalam beberapa jam, kulit di area itu memerah, bengkak, dan muncul lepuh. Ia didiagnosis dermatitis akibat tomcat di rumah sakit setempat. Gejalanya membaik setelah seminggu perawatan.

Dalam kasus lain, seorang bocah 8 tahun terluka saat tidur. Keluarganya mengaku melihat tomcat di rumah malam sebelumnya, tetapi tidak menyingkirkannya. Keesokan pagi, anak itu bangun dengan bercak merah menyakitkan, lepuh, dan pustula di leher, kelopak mata, serta pergelangan tangan. Dokter menduga ia menghancurkan serangga saat tidur. Meski kondisinya membaik setelah perawatan, kulit yang terkena masih meninggalkan noda gelap.

Wang Chuanzhen, dokter kulit di Jinan Institute of Dermatology, mengatakan kliniknya melihat peningkatan signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Kini, rata-rata dua hingga tiga pasien per hari dirawat akibat dermatitis tomcat, sebagian dengan gejala parah.

Di Tiongkok utara, serangga ini paling aktif antara Agustus–September, terutama pada malam hangat dan lembap atau setelah hujan. Wabah lebih sering muncul di daerah dengan kelembapan tinggi dan vegetasi lebat.

Sejumlah warga Jinan mengunggah foto di media sosial yang memperlihatkan kulit mereka. Ada yang menunjukkan kumpulan papula dan lepuh, sementara lainnya menampakkan bercak cokelat besar di leher, menandakan kerusakan kulit yang lebih serius daripada gigitan serangga biasa.

“Tomcat tidak menyerang manusia,” jelas Wang. “Bahaya muncul ketika serangga dihancurkan dan racunnya terkena kulit.”

Ia menyarankan, bila menemukan tomcat di tubuh, jangan ditepuk atau dibunuh. Sebaiknya ditiup pelan atau diangkat dengan tisu atau selotip. Jika kulit sudah terkena, segera cuci dengan air mengalir. Jika muncul gejala, segera cari pertolongan medis.

Tomcat berukuran kecil, sekitar 3 mm, dengan ciri khas warna tubuh: kepala hitam, toraks kuning, sayap hitam, perut depan kuning, dan ujung ekor hitam.

Serangga ini biasa bersembunyi di tempat lembap dan teduh seperti rerumputan atau kebun sayur pada siang hari. Malamnya, mereka tertarik pada cahaya lampu dan sering masuk ke rumah. Tomcat paling banyak ditemukan di iklim hangat, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, yang kerap mengalami wabah dermatitis musiman.

Trump Isyaratkan Kemungkinan Keringanan Sanksi untuk Turkiye dalam Pertemuan dengan Erdogan

EtIndonesia. WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Gedung Putih pada 25 September untuk membahas kesepakatan Boeing dan berbagai isu lain, termasuk sengketa lama terkait pembelian sistem pertahanan udara Rusia oleh Ankara.

Trump mengatakan kedua negara melakukan banyak perdagangan dan akan terus melakukannya. “Mereka membuat produk luar biasa—benar-benar produsen hebat,” ujarnya di Ruang Oval. Ia menambahkan, pembicaraan juga mencakup upaya Turki membeli pesawat F-16 dan kemungkinan kembali ke program F-35.

Keputusan Turki membeli sistem pertahanan udara Rusia S-400 pada 2019 membuat Washington menjatuhkan sanksi terhadap industri pertahanan Turki serta menendang Ankara keluar dari program F-35. Saat ditanya soal keringanan sanksi, Trump menyebut kedua pihak punya tuntutan masing-masing namun optimistis bisa tercapai kesepakatan. “Anda akan tahu pada akhir hari ini,” katanya.

Erdogan dan delegasinya berada di Gedung Putih selama sekitar dua jam. Usai pertemuan, Trump mengatakan pembicaraan berjalan “sangat baik” sambil mengacungkan jempol. Ia menambahkan bahwa pembicaraan militer berlangsung positif, namun enggan merinci lebih lanjut. Dubes AS untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah, Tom Barrack, memastikan kesepakatan pembelian pesawat Boeing sudah final.

Turkish Airlines disebut tengah mempertimbangkan pemesanan 250 unit pesawat Boeing—ekspansi besar mengingat maskapai nasional Turki itu kini mengoperasikan 485 pesawat. Trump juga mengungkap dirinya dan Erdogan berbicara dengan PM Israel Benjamin Netanyahu serta sejumlah pemimpin Timur Tengah, menyinggung adanya perkembangan signifikan terkait Gaza dan perdamaian kawasan.

Hubungan pribadi Trump dan Erdogan turut mencuat dalam pertemuan tersebut. Trump menyebut Erdogan tetap bersahabat bahkan ketika dirinya berada di luar pemerintahan. Erdogan membalas dengan menyebut pertemuan itu sebagai kesempatan membahas tuntas isu F-35, F-16, serta kasus Halkbank yang tengah diadili di AS.

Trump juga menyinggung kasus pastor Andrew Brunson, yang dibebaskan Ankara pada 2018 setelah Trump mengancam akan merusak ekonomi Turki. “Sekarang Pastor Brunson sehat dan bahagia. Kami sangat senang dengan itu,” ujarnya.

Trump menyoroti kedekatan Turki dengan Rusia dan Ukraina, menyebut peran Erdogan penting dalam meredakan konflik kawasan. Ia optimistis Turki akan mengurangi impor energi Rusia. “Saya yakin dia akan berhenti. Dia akan melakukan hal yang benar,” kata Trump.

Kunjungan Erdogan berlangsung di bawah pengamanan ketat, dengan seluruh akses jalan menuju Gedung Putih ditutup, serupa dengan pengamanan saat kunjungan Netanyahu sebelumnya. 

Erdogan sendiri menghadapi tekanan internasional setelah penangkapan dan pemberhentian Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu memicu aksi protes besar di Turki. Uni Eropa dan Jerman mengecam tindakan tersebut.

Meski Turki sekutu NATO, Kongres AS tetap kritis terhadap kedekatan Ankara dengan Moskow dan catatan HAM-nya. Hubungan Turki-Israel terkait Gaza dan Suriah juga menjadi tantangan bagi kebijakan AS. Namun pasca runtuhnya rezim Assad pada Desember 2024, Washington dan Ankara semakin selaras soal arah kebijakan di Suriah, termasuk soal integrasi Kurdi yang didukung AS ke dalam militer Suriah, meski dengan otonomi lebih besar daripada yang diinginkan Ankara.

Sumber : Theepochtimes.com

Beijing Batasi Perdagangan Perusahaan AS di Tengah Memanasnya Ketegangan

EtIndonesia. Beijing pada 25 September mengumumkan telah memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap enam perusahaan pertahanan Amerika Serikat, menandakan bahwa gesekan dagang antara Tiongkok dan Washington masih berlanjut.

Kementerian Perdagangan Tiongkok dalam pernyataannya menyebutkan bahwa tiga perusahaan dimasukkan ke dalam daftar pengendalian ekspor, yang melarang perusahaan Tiongkok mengekspor barang, jasa, maupun teknologi berfungsi ganda (sipil dan militer). Tiga perusahaan tersebut adalah Huntington Ingalls Industries, pembuat kapal militer terbesar di AS; Planate Management Group, perusahaan teknik fasilitas; serta Global Dimensions, penyedia layanan intelijen.

Selain itu, tiga perusahaan AS lainnya ditambahkan ke dalam daftar “entitas tidak dapat dipercaya”, yang pada dasarnya merupakan daftar hitam perdagangan. Mereka adalah Saronic Technologies, produsen kapal permukaan tak berawak; Aerkomm, perusahaan teknologi komunikasi satelit; serta Oceaneering International, penyedia produk dan layanan rekayasa global.

Kementerian menyebut langkah ini perlu untuk menjaga “keamanan nasional dan kepentingan Tiongkok” serta memenuhi “kewajiban non-proliferasi internasional.” Mekanisme “entitas tidak dapat dipercaya” memungkinkan Beijing membatasi kegiatan impor dan ekspor, investasi baru, hingga mencabut izin kerja karyawan.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara kementerian menuduh ketiga perusahaan tersebut menjalin “kerja sama militer dan teknis dengan Taiwan” meski telah ada penolakan keras dari Beijing. Langkah itu, klaim pihak Tiongkok, dianggap merusak “kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan nasional.”

Rezim Tiongkok  tidak pernah memerintah Taiwan, namun menganggap pulau yang memiliki pemerintahan demokratis itu sebagai wilayahnya sendiri, dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih. Sementara itu, undang-undang AS mewajibkan Washington memasok peralatan militer kepada Taiwan untuk pertahanan diri, meskipun tidak ada hubungan diplomatik resmi.

Sanksi terhadap perusahaan pertahanan AS bukanlah hal baru. Sebelumnya, sejumlah perusahaan telah dikenai hukuman akibat keterlibatan mereka dalam penjualan senjata AS ke Taiwan. 

Namun para analis menilai langkah itu sebagian besar bersifat simbolis dan lebih ditujukan untuk propaganda dalam negeri, karena perusahaan pertahanan AS memiliki aktivitas yang sangat terbatas di Tiongkok akibat pembatasan ekspor teknologi militer dari Washington.

Pengumuman terbaru ini datang di tengah negosiasi kesepakatan dagang antara Tiongkok dan AS menjelang tenggat 10 November. Dalam pertemuan terakhir di Madrid awal bulan ini, negosiator dari kedua negara menyepakati kerangka kesepakatan untuk melepaskan TikTok dari induk perusahaannya di Tiongkok, ByteDance. 

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menandatangani keputusan pada 25 September yang menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memenuhi syarat hukum AS, yaitu kepemilikan Tiongkok harus diakhiri atau aplikasi tersebut ditutup di AS.

Negosiasi di Madrid, seperti putaran sebelumnya di Stockholm, London, dan Jenewa, membahas berbagai isu perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia, termasuk keluhan AS terkait penurunan pembelian produk pertanian oleh Tiongkok dan kelebihan kapasitas produksi berbasis negara yang membanjiri pasar dunia dengan ekspor murah.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, mengatakan bahwa Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping terus berdiskusi mengenai sejumlah isu, termasuk pembelian minyak Rusia oleh Tiongkok.

 “Dibandingkan beberapa bulan lalu, kemajuan yang dicapai sangat besar, tetapi masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Laporan tambahan oleh Reuters.

Musuh Alami Sang Kobra

EtIndonesia. Seekor mongoose (musang mungil pemakan ular) tanpa sengaja berjumpa dengan seekor kobra, dan terjadilah pertarungan sengit.

Tubuh mongoose jauh lebih kecil dibanding kobra. Di awal pertempuran, dia hanya bisa menghindar dengan lincah. Namun, untuk membuat dirinya tampak lebih kuat, mongoose punya jurus khusus: dia mengembangkan bulu-bulunya hingga terlihat dua kali lebih besar dari ukuran aslinya. Cara ini juga punya keuntungan lain—jika sampai terkena gigitan kobra, paling-paling yang tergigit hanya segenggam bulu.

Dalam pertempuran itu, mongoose melompat ke sana kemari, tidak berani lengah sedikit pun. Tak lama kemudian, serangan kobra mulai melemah karena energi terkuras habis. Melihat kesempatan itu, mongoose segera mengubah strategi: dari bertahan menjadi menyerang. Sementara itu, kobra yang tadinya agresif kini hanya bisa bertahan.

Akhirnya, karena terlalu lelah, kobra melakukan kesalahan fatal. Mongoose dengan sigap menerkam dan menggigit leher kobra erat-erat. Meski kobra meronta sekuat tenaga, gigitan mongoose tak pernah dilepaskan, hingga akhirnya kobra tewas tak bergerak.

Seekor burung gagak menyaksikan peristiwa itu, dan sejak hari itu kisah kepahlawanan mongoose yang berani melawan kobra tersebar ke seluruh penjuru.

Suatu hari, seekor rubah datang jauh-jauh mencari mongoose. Dengan penuh harap dia berkata:  “Saudaraku, tolong bantu aku membalas dendam. Kerabatku mati dipatuk ular berbisa.”

Mongoose bertanya: “Apakah ular itu seekor kobra?”

Rubah menjawab: “Tidak, ular itu viper Brasil.”

Mendengar itu, mongoose langsung menggeleng: “Maaf, aku tak bisa menolongmu.”

Rubah penasaran: “Kenapa begitu?”

Mongoose menjawab dengan tenang: “Karena aku hanya ahli melawan kobra. Ular jenis lain yang lebih besar seperti king cobra atau viper Brasil sangat berbeda. Kobra meski ganas, tapi gerakannya lambat, agak bodoh, taringnya pendek, dan bukaan mulutnya kecil—itulah sebabnya aku bisa menanganinya. Tapi melawan ular besar lainnya? Hampir mustahil aku selamat. Kalau kamu sendiri, maukah kamu memecahkan telur di atas batu keras?”

Rubah terdiam, lalu pergi dengan kecewa.

Benar, mongoose memang musuh alami kobra. Tetapi itu tidak berarti ia bisa menaklukkan semua ular berbisa. Mengira bisa mengalahkan satu jenis musuh lalu merasa mampu menghadapi semuanya adalah sikap tanpa kesadaran diri. Menolak permintaan rubah adalah keputusan yang bijak. (jhn/yn)

Kanada dan Indonesia Sepakati Kerja Sama Dagang dan Pertahanan

EtIndonesia. Pemimpin Kanada dan Indonesia bertemu di Ottawa untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir. Keduanya menandatangani perjanjian terkait perdagangan, kerja sama pertahanan, dan kemitraan investasi.

Kesepakatan perdagangan yang diteken pada 24 September 2025  akan menghapus dan menurunkan tarif lebih dari 95 persen ekspor Kanada ke Indonesia dalam waktu delapan hingga 12 bulan. 

Sementara itu, perjanjian kemitraan kedua akan menyediakan hingga 825 juta dolar untuk mendorong usaha patungan dan investasi di bidang energi terbarukan, layanan digital, infrastruktur, dan manufaktur, menurut Kantor Perdana Menteri Kanada (PMO).

Perjanjian Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA) akan memberi keuntungan khusus bagi sektor teknologi ramah lingkungan, pertanian, infrastruktur, jasa keuangan, serta mineral penting di kedua negara, kata Perdana Menteri Mark Carney.

Kesepakatan bilateral itu juga meningkatkan akses pasar, menyederhanakan aturan investasi, serta memperkuat kerja sama dalam standar dan praktik regulasi, yang dapat memudahkan perusahaan Kanada beroperasi di Indonesia, begitu pula sebaliknya, menurut Global Affairs Canada.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan perjanjian yang ditandatangani pada 24 September tersebut akan memberi dukungan besar bagi usaha kecil dan menengah di kedua negara, sekaligus memberdayakan perempuan dan mendukung penanganan perubahan iklim. Indonesia menargetkan emisi nol bersih pada 2060, sementara Ottawa menargetkan pada 2050.

“Di tengah lanskap global yang terus berubah, pemerintah baru Kanada mendiversifikasi dan memperkuat kemitraan kami untuk menciptakan kemakmuran, keamanan, serta peluang kerja berkualitas tinggi bagi pekerja Kanada,” kata Carney dalam pernyataannya pada 24 September.

Kedua pemimpin juga mengumumkan rencana aksi ke depan untuk mempererat hubungan Kanada-Indonesia. “Untuk mengarahkan keterlibatan di masa depan, kedua pemimpin menugaskan menteri luar negeri masing-masing untuk segera merampungkan Rencana Aksi Kanada-Indonesia 2026–2029, guna memperkuat komitmen kedua negara sebagai demokrasi pluralistik yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakatnya,” tulis PMO dalam pernyataan 24 September.

“Rencana Aksi ini akan menjadi peta jalan untuk kerja sama strategis yang berorientasi hasil, mencakup tiga pilar utama: kemitraan ekonomi, kerja sama politik dan pertahanan, serta hubungan antar masyarakat.”

Selain itu, perjanjian tambahan yang ditandatangani pada 24 September memperbarui nota kesepahaman sebelumnya antara Kanada dan Indonesia, memperkuat kerja sama pertahanan dalam pelatihan, keamanan maritim, pertahanan siber, serta komitmen dalam aliansi penjaga perdamaian.

Saat ini, Indonesia merupakan mitra dagang barang terbesar ketiga Kanada di kawasan Asia Tenggara, menurut PMO. Perdagangan dua arah antara kedua negara mencapai 5,6 miliar dolar tahun lalu. Sebagai perbandingan, Kanada mengekspor sekitar 547 miliar dolar barang ke Amerika Serikat tahun lalu, dan mengimpor sekitar 377 miliar dolar barang dari AS, menurut Global Affairs Canada.

Jerman Anggarkan 41 Miliar Dolar untuk Pertahanan Luar Angkasa Melawan Rusia dan Tiongkok

EtIndonesia. Jerman akan menghabiskan 41 miliar dolar untuk pertahanan luar angkasa pada tahun 2030, Menteri Pertahanan Boris Pistorius mengatakan pada hari Kamis (25/9), merujuk pada ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia dan Tiongkok.

“Rusia dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir telah dengan cepat memperluas kemampuan mereka untuk melakukan peperangan di luar angkasa,” katanya.

“Mereka dapat mengganggu, mengacaukan, memanipulasi, atau bahkan menghancurkan satelit secara fisik. Di luar angkasa, tidak ada batas atau benua.”

Pistorius mengatakan “kami sedang membangun struktur di dalam Angkatan Bersenjata Jerman untuk memungkinkan kami mempertahankan diri secara efektif dan mencegah musuh potensial di luar angkasa”.

Arsitektur keamanan luar angkasa Jerman akan mencakup “sistem konstelasi satelit yang tangguh, stasiun darat, kemampuan peluncuran yang aman, dan layanan terkait” serta “keamanan siber untuk semua sistem luar angkasa”.

Jerman juga “meningkatkan kewaspadaan situasional kami di orbit melalui penggunaan radar, teleskop, dan penempatan satelit pengawasan luar angkasa di masa mendatang”.

Pistorius mengatakan bahwa “pada tahun 2030 saja, kami berencana untuk mengalokasikan dana anggaran sebesar 35 miliar euro untuk proyek-proyek relevan”.(yn)

Perdagangan Orang Marak di Tiongkok, WNI Asal Sukabumi Jadi Korban TPPO : Disekap, Dipaksa Menikah, Bisa Terancam Jual Organ

oleh: Fadjar Pratikto

Dugaan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan korban Reni Rahmawati (23), warga Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kian ramai diperbincangkan. Reni yang disebut disekap dan dipaksa menjadi “istri” seorang pria Tiongkok di Guangzhou, kini terjebak dalam dua versi keterangan berbeda.

Di satu sisi, keluarga dan kuasa hukum dari LBH Pro Ummat bersikeras bahwa Reni adalah korban sindikat perdagangan orang. Namun, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa pria Tiongkok berinisial TCC yang tinggal bersama Reni adalah suaminya secara sah.

Ada Dua Versi yang Berbeda

Reni berangkat pada Mei 2025 setelah dijanjikan pekerjaan bergaji Rp15–30 juta per bulan di Tiongkok. Tanpa sepengetahuan keluarga, ia direkrut melalui sponsor lokal di Bogor, Cianjur, dan Jakarta.

Pada Agustus 2025, keluarga mendapat kabar mengejutkan: melalui telepon, Reni mengaku disekap oleh TCC di Guangzhou, dipaksa melayani secara seksual, dan tidak diberi gaji sejak April. Ia bahkan diminta menebus dirinya dengan uang Rp200 juta bila ingin pulang.

“Korban dipaksa menikah untuk alasan administratif, agar mudah mendapat visa. Ini jelas bentuk perdagangan orang,” kata Rangga Suria Danuningrat, Direktur LBH Pro Ummat.

LBH Pro Ummat telah melaporkan empat orang perekrut berinisial Y, JA, Ab, dan La ke Polres Sukabumi Kota. “Kami minta polisi bertindak cepat, menindak perekrut lokal dan berkoordinasi dengan aparat luar negeri,” tambah Rangga.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahkan ikut turun tangan. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan polisi dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran untuk memastikan keselamatan Reni.

Namun, bantahan datang dari KJRI Guangzhou. Konsul Jenderal RI, Ben Perkasa Drajat, menyatakan tidak ada bukti perdagangan orang ataupun perbudakan seks. “Setelah kami bersama kepolisian Xiamen menelusuri kasus ini, pria yang disebut sebagai pelaku ternyata adalah suami sah dari RR,” jelas Ben.

Menurut KJRI, pihaknya sudah mendatangi  tempat Reni dan bertemu pasangan tersebut. Untuk mencegah konflik, kepolisian memindahkan TCC ke tempat lain dan melarangnya mendekati Reni. Meski begitu, KJRI mengklaim tetap memastikan perlindungan bagi Reni. “Kami tetap memantau kondisinya dan memastikan hak-haknya terlindungi,” ujar Ben.

Rekam Jejak Kasus Serupa di Tiongkok

Kasus seperti Reni bukanlah yang pertama. Sejumlah laporan menyebut ratusan perempuan Asia Tenggara menjadi korban sindikat serupa di Tiongkok.

-Indonesia: Pada 2016, puluhan perempuan asal Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur diselamatkan setelah dijual sebagai “istri pesanan” di Tiongkok. Mereka awalnya dijanjikan pekerjaan, namun akhirnya dipaksa menikah dan mengalami kekerasan.

-Vietnam: Menurut data Blue Dragon Children’s Foundation, ribuan perempuan Vietnam diperdagangkan ke Tiongkok dalam satu dekade terakhir, mayoritas untuk dijadikan istri paksa atau pekerja seks.

-Myanmar: Laporan Human Rights Watch (2019) mengungkapkan banyak perempuan etnis minoritas di Myanmar Utara yang diselundupkan ke Tiongkok untuk “dijual” kepada pria lokal dengan harga antara USD 3.000–13.000.

-Kamboja: Pemerintah Kamboja pernah memulangkan ratusan warganya yang diperdagangkan ke Tiongkok melalui modus pernikahan palsu.

Fenomena ini dipicu oleh ketidakseimbangan gender di Tiongkok akibat kebijakan satu anak yang berlangsung selama puluhan tahun. Dengan jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan, praktik “membeli istri” dari luar negeri kian marak.

Ancaman Perdagangan Organ Jika Tak Diselamatkan

Selain pernikahan paksa dan eksploitasi seksual, kasus perdagangan orang  juga kerap dikaitkan dengan praktik jual beli organ tubuh.  Dua tahun lalu, Polda Metro Jaya mengungkap sindikat jaringan luar negeri yang menghubungkan korban dengan sebuah rumah sakit di Kamboja. Bahkan, penjualan organ tubuh manusia dari  jaringan Kamboja telah memakan korban sebanyak 122 orang dari Indonesia.

Meski belum ada bukti langsung dalam kasus Reni, keluarganya khawatir ia bisa menjadi korban perdagangan organ jika tidak segera diselamatkan.  Apalagi praktek transplantasi organ dengan sumber yang tak jelas seringkali terjadi di Tiongkok. Investigasi independen yang dilakukan oleh International Coalition to End Transplant Abuse in China (ETAC) menuding bahwa industri transplantasi organ ilegal di Tiongkok yang bernilai miliaran dolar masih marak.  

Kini, Reni berada di persimpangan. Keluarga menegaskan ia korban TPPO, sementara KJRI Guangzhou menyebutnya istri sah seorang pria Tiongkok. “Yang kami tahu, Reni tidak pernah menikah secara sah di Indonesia. Pernikahan tanpa restu orang tua dan dokumen resmi jelas tidak sah,” ujar Sigit, sepupu iparnya.

Polres Sukabumi Kota tengah memproses laporan LBH Pro Ummat terkait perekrut lokal. Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian Perlindungan Pekerja Migran berjanji menindaklanjuti kasus ini.

Di tengah tarik-menarik keterangan, satu hal yang pasti: Reni adalah warga negara Indonesia yang wajib dilindungi. Keluarganya di Sukabumi menanti kepastian pemulangannya, sembari berharap kasus ini membuka mata pemerintah bahwa sindikat perdagangan orang lintas negara masih mengancam banyak perempuan muda.

“Ini bukan sekadar soal Reni. Kalau jaringan ini tidak dibongkar, akan ada korban-korban lain yang bernasib sama,” pungkas Rangga.*****

Membuat Hidupmu Menjadi Mulia

EtIndonesia. Dia seorang anak kulit hitam, lahir pada 17 Februari 1963 di daerah miskin Brooklyn, New York. Dia punya dua kakak laki-laki, seorang kakak perempuan, dan seorang adik perempuan. Upah kecil ayahnya bahkan tak cukup untuk menghidupi keluarga. Sejak kecil, dia tumbuh dalam kemiskinan dan diskriminasi. Masa depan tampak begitu gelap, hingga sering kali dia hanya bisa duduk diam di bawah atap rendah rumah mereka, memandangi matahari terbenam di kejauhan dengan hati penuh murung.

Saat dia berusia 13 tahun, ayahnya suatu hari memberinya sebuah baju bekas.

“Apa menurutmu baju ini berharga?” tanya ayahnya.

“Paling satu dolar,” jawabnya.

“Kalau begitu, sanggupkah kamu menjualnya dua dolar?” tanya ayahnya, menatap penuh harap.

“Mana ada orang bodoh mau beli?” sahutnya kesal.

Namun tatapan ayahnya penuh ketulusan dan memohon:  “Keluarga kita sedang sulit. Kalau kamu bisa menjualnya, itu sudah membantu aku dan ibumu.”

Anak itu pun mengangguk pelan: “Baiklah, aku akan coba. Tapi tak janji akan laku.”

Dia mencuci baju itu hingga bersih. Karena tak punya setrika, dia menggunakan sikat untuk merapikan serat kain lalu menjemurnya di papan kayu. Keesokan harinya, dia membawa baju itu ke stasiun kereta bawah tanah yang ramai. Setelah lebih dari enam jam berteriak menawarkan, akhirnya baju itu terjual dua dolar.

Dia berlari pulang dengan uang itu digenggam erat, wajahnya berseri-seri.

Sejak itu, dia rajin mencari baju-baju bekas dari tumpukan sampah, membersihkannya, lalu menjualnya kembali di pusat kota.

Beberapa hari kemudian, ayahnya kembali memberinya sebuah baju bekas: “Kali ini, bisakah kamu menjualnya 20 dolar?”

“Mana mungkin? Baju ini paling berharga dua dolar saja.”

“Kenapa tidak kau coba?” kata ayahnya, memberi dorongan.

Anak itu pun berpikir keras. Akhirnya, dia menemukan ide. Dia meminta sepupunya yang pandai melukis menggambar tokoh Donald Duck dan Mickey Mouse di baju itu. Dia lalu menjualnya di depan sebuah sekolah elit. Tak lama, seorang pengurus membeli baju itu untuk anak majikannya. Sang anak sangat menyukai gambar lucu di baju itu, bahkan memberi tip lima dolar. Hasilnya, dia memperoleh 25 dolar—jumlah yang setara dengan gaji sebulan ayahnya!

Beberapa waktu kemudian, ayahnya lagi-lagi memberikan tantangan: “Bisakah kamu menjual baju ini 200 dolar?”

Kali ini dia tidak ragu. Dia menerimanya dan mulai mencari cara.

Dua bulan kemudian, kesempatan datang. Saat itu, aktris terkenal dari film Charlie’s Angels, Farrah Fawcett, datang ke New York untuk promosi. Di tengah kerumunan, anak itu nekat menerobos barisan keamanan, mendekat dan meminta tanda tangan di bajunya. Farrah Fawcett sempat terkejut, namun tersenyum lalu menandatangani baju itu.

Anak itu lalu berteriak:  “Baju dengan tanda tangan Farrah Fawcett! Dijual 200 dolar!”

Dalam sekejap, para pengusaha kaya yang hadir ikut menawar. Akhirnya, seorang pengusaha minyak membeli baju itu seharga 1.200 dolar!

Malam itu, dia pulang dan seluruh keluarga merayakan dengan gembira. Ayahnya meneteskan air mata haru, memeluk erat putranya: “Aku tadinya berniat, kalau kamu tak bisa menjualnya, aku akan pura-pura membelinya. Tapi ternyata kamu berhasil sungguhan. Nak, kamu sungguh hebat!”

Di bawah sinar bulan yang lembut, ayah dan anak itu tidur berdampingan, penuh kebahagiaan.

Ayahnya lalu bertanya:  “Anakku, dari pengalaman menjual tiga baju ini, apa yang kamu pelajari?”

Dia menjawab dengan mata berbinar: “Aku mengerti, Ayah ingin mengajariku bahwa kalau kita mau berusaha, pasti selalu ada jalan.”

Ayahnya mengangguk, lalu menggeleng: “Itu benar, tapi bukan inti maksudku.Yang ingin ayah sampaikan adalah: ahkan baju bekas seharga satu dolar saja bisa menjadi sesuatu yang mulia. Lalu bagaimana dengan kita manusia? Bukankah kita jauh lebih berharga? Jadi, apa alasan kita untuk kehilangan harapan pada hidup? Kita mungkin miskin, mungkin berbeda warna kulit—tapi itu bukan alasan untuk menyerah.”

Anak itu pun menatap ayahnya dengan penuh keyakinan: “Ya, kalau sepotong baju bisa menjadi mulia, aku apalagi. Aku tidak boleh meremehkan diriku sendiri.”

Dua puluh tahun kemudian, namanya bergema di seluruh dunia. Anak itu adalah legenda bola basket dunia: Michael Jordan.

Renungan Hidup

Hidup memang tidak sempurna. Alih-alih tenggelam dalam keluhan dan rasa putus asa, lebih baik kita berpegang pada keyakinan: dengan kerja keras dan kreativitas, kita bisa membuat hidup kita menjadi lebih baik, bahkan lebih mulia.(jhn/yn)